Bocah yang mengenakan celana panjang hitam tengah duduk di sebuah kursi tunggu. Kaos lengan panjang putihnya digulung hingga hampir menyentuh siku. Selain karena sedikit kebesaran, balita itu memaksa sang bunda melakukannya agar dirinya terlihat lebih keren. Kakinya dibalut boots berwarna coklat kayu, sepatu yang dikirimkan ayahnya dari Jepang dan tiba di rumahnya dua hari yang lalu. Topi rajut berwarna hitam melindungi kepalanya sementara kacamata gelap menutupi sepasang netranya yang indah dengan sangat pas.
Melihatnya, sang ibu mau tak mau tersenyum geli. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap balita manis yang duduk di sebelahnya. "Kwonnie mengantuk?"
"Kwonnie tidak mengantuk, tapi lapar." ujar si balita menoleh ke arah ibunya. Bibirnya mengerucut sambil jari telunjuknya sesekali menyentuh perutnya sendiri. Ia bergumam kecil, "Poppa lama sekali menyetir keretanya."
Pemuda yang hanya mengenakan sweatshirt merah kebesaran dan celana panjang, juga sepatu hitam tertawa renyah. Mereka memang sedang berada di stasiun, dan tengah menunggu kedatangan poppa yang Jungkook paksa untuk naik kereta. Ia melarang keras ayah dari putra semata wayangnya untuk menyetir mobil karena tidak ingin pria Kim terlalu lelah.
"Kwonnie, poppa tidak menyetir kereta. Yang menyetir kereta namanya masinis, dan poppa tidak bekerja sebagai masinis."
Si bocah nampak berpikir saat mendengar penjelasan ibunya. Dahinya berkerut, membuat alisnya hampir bertemu. "Tapi poppa naik kereta, tapi tidak menyetir?"
"Poppa tidak menyetir. Kwonnie ingat saat kita berdua pergi naik kereta ke Seoul?" pemuda bersurai madu menunggu reaksi putranya dengan sabar. Ia menyunggingkan senyumnya saat mendapati anggukan singkat dari balita manisnya. Mereka memang beberapa kali bepergian menggunakan kereta, dan ia senang sang putra bisa mengingatnya. "Poppa naik kereta seperti kita, duduk di kursi penumpang."
"Yaahhh… tapi kalau keren seharusnya menyetir kereta yang panjang dan besaaaaaarrr."
Jeon Taekwon mendesah kecewa sambil kedua tangannya membentuk lingkaran yang ia rasa begitu besar, dan ibunya hanya terkekeh sebelum memberikan sebuah kecupan singkat di pipinya. Ia sadar betul bahwa bagi sang putra, Kim Taehyung adalah pria paling keren sejagad raya. Cara berpakaiannya, caranya berjalannya, cara bicaranya, semua ingin Kwonnie tirukan.
Taekwon tidak pernah ingin terlihat keren sebelum bertemu dengan ayahnya. Biasanya, ia akan mengenakan apapun yang disiapkan Jungkook. Namun kedatangan Kim Taehyung dalam kehidupan mereka sedikit banyak mempengaruhi keduanya. Apalagi setelah penyandang marga Kim meninggalkan mereka untuk berangkat ke Jepang, bocah berusia empat tahun itu sering melihat sang ayah dengan pakaian kerjanya walau hanya melalui video call atau foto yang dikirimkan, dan menurut si balita, itu sangat keren.
Jika tidak sedang bekerja, Taehyung biasa mengenakan kaos atau kemeja santai yang dipadukan dengan jeans atau celana bahan yang nyaman. Lagi-lagi, si balita menggemaskan menganggapnya sangat cool.
Kadang, ia akan protes jika ibunya menyiapkan pakaian dengan warna yang terlalu cerah. Pasalnya, sang ayah tidak pernah mengenakan yang seperti itu. Setidaknya, menurut pengamatannya. Otomatis, sebagai anak keren, Jeon Taekwon tidak ingin memakainya juga.
Tadi pagi, Jungkook bahkan harus menghela nafas kasar saat melihat almari di kamar sang putra berantakan. Ia tidak bisa memarahinya karena hari ini mereka berdua harus menjemput pria Kim di stasiun, dan Jeon muda tidak ingin membuat bocah kesayangannya rewel. Ketika ditanya alasan yang membuatnya mengobrak-abrik seisi almari, Kwonnie mengatakan bahwa ia sedang mencari baju yang akan dikenakannya untuk menjemput sang ayah.
"Pokoknya Kwonnie mau jadi keren. Tidak mau jadi anak kecil. Oke?"
Jungkook berakhir dengan membantunya memilih pakaian yang sangat Kim Taehyung. Untungnya sang putra tidak protes dengan pilihannya.
"Ma, poppa masih lama tidak?"
Pemuda ber-sweatshirt merah tersenyum maklum. "Sebentar lagi. Momma membawa kue, Kwonnie ingin memakannya?"
"Kwonnie tidak mau kue." rengeknya sambil menggelengkan kepala, membuat rambutnya bergerak-gerak lucu. Ia mulai menggelendot manja sambil mengerucutkan bibirnya. "Nanti kalau makan kue, terus kenyang. Nanti tidak bisa makan sama poppa lagi."
Jungkook tertawa renyah. Ia mengurungkan niatnya untuk mengambil kotak bekal dari dalam tas selempang yang ia kenakan. Kedua tangannya kini mengangkat tubuh sang putra, lalu memindahkannya ke pangkuan.
Si balita tidak protes.
"Nah, dengar suara itu?" sebelah tangan sang ibu menunjuk ke atas, tepatnya ke arah loudspeaker yang terpasang di sudut, "Katanya, kereta poppa sudah tiba."
Kwonnie berteriak girang. Ia segera melompat turun dan menarik-narik ujung baju ibunya, mengajaknya untuk menyambut sang ayah di pintu kedatangan.
"Kwonnie duduk di sini saja. Momma sudah memberi tahu poppa kalau kita di sini. Nanti kalau kita pergi, poppa akan bingung mencari kita."
Si balita cemberut, tetapi ia menurut. Lagipula ia benar-benar lapar sehingga ia merasa tidak punya cukup tenaga untuk memaksa sang bunda untuk menuruti kemauannya.
"Tapi nanti poppa lama." protesnya setelah berhasil memanjat naik ke pangkuan Jungkook.
Ini sudah lewat jam makan siangnya. Hari ini juga Taekwon bangun lebih pagi dari biasanya karena terlalu excited untuk menjemput sang ayah padahal mereka baru akan berangkat ke stasiun saat siang. Karenanya, pemuda bermata obsidian memaklumi jika saat ini putranya mulai rewel dan mudah merajuk.
"Sebentar lagi poppa tiba." Jungkook menoleh ke arah pintu kedatangan sembari mencium puncak kepala Kwonnie yang ditenggelamkan di dadanya. Ia tersenyum lebar saat bendapati figur familiar tengah berjalan ke arahnya sambil menyentuh bibirnya sendiri dengan jari telunjuk, menyampaikan isyarat supaya Jeon muda tidak memberitahukan keberadaannya kepada putra kesayangan mereka.
Pemuda bersurai madu mengangguk mengerti. Ia hanya berusaha menenangkan putranya dengan membelai punggung dan memberikan ciuman lembut. Tentu saja hal itu tidak mempan.
"Poppa lama sekali." bibir Kwonnie mencebik. Ia mendongak untuk menatap sang bunda dengan mata yang memerah. "Kalau lama, Kwonnie nanti kurus kelaparan."
Kim Taehyung yang mulanya ingin mengejutkan sang putra dengan sebuah pelukan dan ciuman malah terlanjur terbahak setelah mendengar keluhan Kwonnie yang terdengar polos.
Bocah berusia empat itu pun menoleh ke belakang saat ia menangkap suara berat yang sangat familiar baginya.
"Poppa!" air mukanya yang semula cemberut, kini berubah ceria. Ia mengulurkan kedua tangannya, tanda minta digendong, dan sang ayah tentu langsung mengabulkan keinginannya.
"Jagoan poppa semakin tampan saja." puji Taehyung saat melihat penampilan Jeon Taekwon. Sejujurnya ia sudah mendengar kerusuhan yang terjadi di kamar Kwonnie dari Jungkook. Tentu ia tidak akan mengecewakan usaha bocah kesayangannya.
"Ehehe… Kwonnie ingin keren seperti poppa." ia berujar jujur sambil menahan senyuman. Kedua tangannya memainkan resleting jaket yang dikenakan ayahnya, lalu mengalung manja saat memberikan ciuman di pipi sayng ayah. Ia tertawa geli ketika pria idolanya menghujani wajahnya dengan kecupan sebagai balasan.
Jungkook yang melihat pria Kim tengah menggendong putra mereka langsung mengambil alih tas tangan bergambar ular yang semula dibawa Taehyung. Ia ikut tersenyum melihat interaksi ayah dan anak di hadapannya. Namun wajahnya yang semula ceria langsung kehilangan ekspresinya saat dengan tiba-tiba, pria yang mengenakan jaket hitam dan celana panjang hitam itu menanyakan sesuatu.
"Nah, sekarang kita mau kemana, hm?" Taehyung menawarkan opsi. Jarak dari Seoul ke Busan hanya sekitar dua jam perjalanan menggunakan kereta. Tak masalah baginya jika tidak langsung beristirahat. "Kwonnie lapar? Mau makan apa?"
Si bocah berteriak kegirangan saat ayahnya mengatakan bahwa mereka akan makan. Sebelum ini, ia merasa hampir kurus kelaparan, dan sekarang ia akan bisa menyantap makanan. Tentu dirinya sangat-sangat senang.
"Momma ingin makan apa?" Kim muda menoleh, mencoba membawa calon istrinya yang sedari tadi diam ke dalam obrolan mereka. Sebelah tangannya terulur kasual untuk memeluk pinggang ramping pemuda yang kini berdiri di sebelahnya. Tapi ia sedikit terkejut kala mendapati wajah Jungkook yang menunduk dengan bibir terkunci rapat dan pandangan mata yang menusuk saat meliriknya. Kim Taehyung berusaha tenang dengan menanyakan baik-baik apa yang terjadi. "Kenapa, hm?"
Dan Jeon Jungkook tidak menjawab.
.
A fanfiction, the continuation of "Puzzled"
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung
Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rated: M for the language and theme, and yeah
Warning: OC for Taekwon.
Ambigu, TYPO tak tertahankan, m-preg (?)
.
.
"Painted"
Part VII: The Palette
Jeon Jungkook mengerucutkan bibirnya sambil menyantap fried chicken di hadapannya dalam diam. Ia masih merasa kesal karena suatu hal. Sebenarnya sangat sederhana, namun baginya sangat penting dan serius.
Sementara tersangka perusak mood-nya malah tertawa gemas saat melihat putranya dengan lahap membantai burger ayam yang dipegangnya. Taehyung telah membelahnya menjadi dua bagian, namun tetap terlihat besar di genggaman tangan mungil sang putra karena ukurannya yang extra large. Si bocah yang telah melepas kacamata hitamnya bahkan terlihat kewalahan saat menggigitnya.
"Pelan-pelan, Jagoan. Poppa dan momma makannya juga pelan-pelan."
Kwonnie mengangguk, walau tidak melaksanakan apa yang diperintahkan ayah yang duduk berhadapan dengannya. Pipinya yang menggembung penuh makanan bergerak-gerak lucu saat ia mengunyahnya. Persis seperti momma saat makan.
Setelahnya, yang pria bersurai gelap lakukan adalah menoleh ke arah pemuda Jeon yang duduk di samping putra mereka.
"Hei, momma kenapa cemberut?"
Jungkook tidak menjawab. Ia malah menggigit potongan ayam di tangannya dengan brutal hingga membuat pria Kim bergidik.
"Kau marah karena harus menunggu lama?" Kim Taehyung mengusap pipi Jeon yang bergerak-gerak menggemaskan saat mengunyah makanan dengan punggung tangannya yang bersih. "Aku bilang tidak usah menjemputku, kan? Aku bisa langsung naik taksi. Tapi kau dan Kwonnie memaksa."
"Kwonnie kan mau ketemu poppa cepat-cepat!" pekik balita di sana cepat. Ia menatap tajam ayahnya dengan wajah yang merengut. Ia merasa kesal karena sang ayah seperti tidak ingin segera bertemu dengannya.
Kim Taehyung hanya tertawa sambil menghucapkan terima kasih karena Kwonnie sudah menjemputnya. Tak lupa ia memberikan sebuah ciuman gemas di pipi yang belepotan saos tomat.
Pemuda Jeon menghentikan makannya, bahkan gerakan giginya yang tengah menggilas makanan pun langsung tertunda. Sepasang obsidiannya menatap tajam ke dalam iris kecoklatan pria yang sudah berhasil merenggut hatinya.
"Dasar tidak peka." gumamnya seraya melanjutkan kegiatan makan yang tertunda. Ia benar-benar mengabaikan Kim Taehyung. Bahkan untuk sekedar menyingkirkan tangan besar yang masih bertengger di pipinya pun dirinya enggan.
Pewaris Kim Enterprise berhasil dibuat bingung. Pasalnya, ia merasa tidak melakukan kesalahan sama sekali. Padahal ia berharap akan disambut dengan senyum lebar, pekikan senang, pelukan dan sebuah ciuman. Tapi ternyata, Jeon Jungkook malah cemberut semenjak mereka bertemu di stasiun. Bukannya mendapat ciuman dan pelukan, dirinya malah diacuhkan seperti ini.
Ahh… ciuman.
Kalau dipikir-pikir, ia memang sudah memberikan begitu banyak ciuman, juga sebuah pelukan hangat kepada sang putra. Namun kepada calon istrinya, penyandang marga Kim baru memberikan pelukan di pinggang, tidak lebih.
Pantas saja Jeon Jungkook nampak kesal sejak tadi.
Ia terkekeh sebelum menjauhkan punggung tangannya dari pipi mulus Jeon Jungkook. Ia lalu beralih untuk mencubit gemas bibir putranya yang bergerak-gerak lucu. "Sebentar, poppa cuci tangan dulu."
"Tapwee hati-hwatee. Anwak beshaa tidwa boweh maiw aewr banyak-bwanyak."
Taehyung tertawa renyah menanggapi pesan yang disampaikan sang putra. "Kwonnie, sayang. Telan makanannya pelan-pelan, baru mulai bicara, hm?"
Walau ia sudah mengerti apa yang coba disampaikan balita kesayangannya, pria berjaket hitam berusaha memintanya untuk mengulangi ucapan itu lagi tanpa makanan di dalam mulutnya.
Jeon Taekwon merasa kesal. Ia sudah bicara, namun sang poppa tidak mengerti juga. Tapi karena melihat ayahnya yang masih menunggu dengan sabar, ia pun menelan burger yang tengah dikunyahnya perlahan. Setelahnya, bibirnya yang belepotan saos kembali terbuka untuk mengeluarkan suara. "Tapi poppa hati-hati. Anak besar tidak boleh main air banyak-banyak."
"Siap, kapten!" ucap sang ayah tegas, membuat Taekwon tersenyum bangga sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia selalu senang setiap kali bisa mengajarkan ayahnya sesuatu; superhero landing, misalnya.
Katika sang ayah pergi mencuci tangannya. Taekwon sibuk menghabiskan kentang goreng yang sangat ia suka. Alisnya mengeryit saat menyadari sesuatu. "Uhh… momma…"
Jungkook hanya ber-hmm singkat sambil melirik Kwonnie yang kini menatapnya takut-takut. Tangan kirinya menunjuk-nunjuk noda berwarna kemerahan di ujung lengan kaosnya.
"Tidak apa-apa. Lain kali makannya hati-hati." gumamnya usai menghela nafas kasar. Tangan kanannya mengambil tissue, lalu membersihkan noda saos di sana. Tidak sampai bersih, memang. Tapi setidaknya sudah tidak sekotor tadi.
Kwonnie berterima kasih kepada ibunya, ia lalu berusaha menyuapkan separuh potong burger yang tersisa kepada pemuda yang telah mengandung dirinya. "Momma makan ini, Kwonnie kenyang."
"Hmm… burger-nya jadi terasa sangat enak karena Kwonnie yang menyuapkan." Jungkook menggigit makanan yang disodorkan dalam ukuran besar lalu mencium puncak kepala sang putra dengan hidungnya, tak mau menempelkan bibirnya yang penuh minyak dan rasa ayam goreng kepadanya.
Balita menggemaskan merasa senang, tentu saja. Ia selalu suka saat momma kesayangannya memberikan pujian. Rasanya seperti habis memenangkan lomba.
"Hei, kenapa poppa tidak disuapi juga?" Pria Kim yang baru saja tiba langsung mengangkat tubuh putranya. "Hupp!"
Ia kemudian duduk di kursi Taekwon, lalu memangku bocah yang masih memegang burger di tangannya.
"Uhuu… poppa ingin makan disuapi juga. Sudah besar tapi mau disuapi. Itu namanya bukan anak besar sungguhan." Padahal Kwonnie baru saja menyuapi sang bunda, tapi si balita menggoda ayahnya. Ia tertawa keras begitu mendapat pelototan dari pria yang menjadi role model baginya. Kelihatannya menyeramkan, sungguh. Namun putra tunggal Jeon tahu ayahnya sedang tidak benar-benar marah.
Apalagi saat ia menyodorkan makanan di tangannya, dan sang ayah langsung menggigitnya besar-besar.
Taehyung tersenyum sambil memperhatikan sang putra yang kembali menyuapi momma-nya.
"Momma habiskan burger Kwonnie, oke? Nanti kalau Kwonnie makan terus perutnya meledak kekenyangan."
Jeon Jungkook sebenarnya juga sudah kenyang, namun ia selalu mengajarkan balita tampannya untuk tidak membuang-buang makanan. Jadilah ia terpaksa menghabiskan sisa burger Kwonnie.
"Kau sama menggemaskannya dengan Kwonnie." gumam Taehyung masih memangku putra kesayangannya. Sebelah tangannya terulur untuk mengusap sudut bibir Jeon muda yang duduk di sebelahnya. Sepasang iris kecoklatannya mengamatinya lekat. "Makanmu berantakan."
Jeon Jungkook membulatkan matanya saat mendapati pria Kim mengulum jarinya sendiri yang terkena noda saos. Tentu saja, saos itu diambil dari sudut bibir Jungkook. Setengahnya, ia merasa tersipu atas perlakuan manis calon suaminya. Selebihnya, ia merasa kesal karena tingkah Kim Taehyung yang sok keren dan memperlakukannya seolah mereka berdua adalah anak muda yang baru pacaran untuk pertama kalinya.
"Pa, poppa…"
"Hmm?" Taehyung segera menghentikan aksinya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah sang putra yang kini mendongak untuk menatapnya. Bocah itu sedikit memiringkan tubuhnya.
"Kwonnie sudah bisa nyanyi lagu Pororo dengan bagus. Kata momma suaranya Kwonnie semakin bagus. Poppa mau dengar?"
"Tentu. Coba nyanyikan untuk poppa." pria bersurai gelap tersenyum lebar. Bukan karena balitanya ingin bernyanyi, melainkan karena semenjak mereka bertemu, ia tidak pernah mendengar dirinya dipanggil paman atau paman poppa oleh sang putra. Sepertinya Kwonnie benar-benar sudah terbiasa untuk memanggilnya poppa.
"Tapi Kwonnie menyanyi sambil poppa tutup matanya, ya? Nanti poppa buka kalau Kwonnie sudah selesai."
Si bocah yang sudah membuka mulutnya untuk mulai bernyanyi langsung mengurungkan niatnya. Ia mengeryitkan dahi dan memiringkan kepala, tanda kalau ia tidak tahu kenapa ayahnya meminta demikian.
Namun kalimat yang dikatakan pewaris Kim setelahnya berhasil membuatnya bersorak girang sambil mengangguk penuh semangat.
"Nanti kalau berhasil, poppa berikan hadiah." kata sang ayah.
Tentu Kwonnie langsung menutup matanya rapat dan mulai bernyanyi. Taehyung tahu putranya tidak akan mmbuka mata sebelum lagunya selesai. Namun untuk berjaga-jaga, ia menutup matanya dengan sebelah tangan.
Sementara tangannya yang lain langsung terulur untuk menarik tengkuk pemuda yang sedari tadi lebih banyak diam. Ia menolehkan wajahnya, menatap lekat iris segelap malam milik sang calon istri, kemudian tersenyum simpul.
"Jangan terlalu banyak diam. Rasanya ada yang kurang kalau momma tidak bicara." gumamnya sebelum mendaratkan sebuah ciuman di bibir Jeon muda. Setelahnya, ia terkekeh ringan. "Rasanya seperti ayam goreng."
Jeon Jungkook bahkan tak memiliki waktu untuk terpaku. Ia yang mulanya tersipu, kini langsung menunduk malu. Dan ketika ia hampir menggosok bibirnya dengan punggung tangan demi menghilangkan rasa ayam goreng yang menurutnya memalukan, bibir penuh pria Kim kembali menempel pada bibirnya. Kali ini dengan sedikit tekanan dan usapan lidah seakan Taehyung tengah mencoba untuk kembali merasakan ayam goreng dari bibir Jungkook-nya.
"Aku suka ayam goreng."
Dan yang pemuda bersurai madu rasakan setelahnya adalah lumatan menuntut pada bibir bawahnya. Ia mengerang tertahan kala tengkuknya ditekan lebih dalam. Jeon Jungkook memejamkan mata, membalas ciuman kekasihnya dengan kuluman lembut penuh perasaan.
Mereka saling memagut, mengabaikan nyanyian dengan nada seadanya yang dilantunkan sang putra, menyisihkan dunia di sekelilingnya dan hanya menikmati suasana berdua.
Taehyung menyeringai, ia melesakkan lidahnya yang langsung bergerak lincah di dalam mulut calon istrinya. Saling memagut, saling melepaskan rindu, Jeon Jungkook berusaha mati-matian untuk tidak meremat surai kelam kekasihnya dengan kedua tangan yang masih kotor.
Rasanya sedikit menyiksa saat ia tak bisa menyalurkan kerinduannya dengan kedua tangannya yang sungguh ingin memeluk erat dan membelai wajah tampan calon kepala keluarga kecilnya.
"Mmhh…" lenguhnya tertahan. Jungkook mencoba menjauhkan dirinya, namun sang dominan masih betah menikmati bibir cherry-nya yang mulai membengkak. Sejujurnya ia masih ingin merasakan lumatan di sana, namun dirinya juga butuh udara untuk bernafas. Dan suara Kwonnie yang mulai protes karena poppa-nya tak juga melepas tangan yang menutup matanya membuat Jeon muda berusaha keras menghentikan pagutan pria yang lebih tua. "Taewhh.. mmn…"
Dengan sangat terpaksa, Kim Taehyung melepaskan bibir yang telah menjadi candunya sejak lama. Ia memberi sebuah kecupan singkat sebelum benar-benar berhenti.
"Maaf karena lupa memberikan calon istriku sebuah ciuman. Putra kita terlalu menggemaskan, ia menyita seluruh perhatianku. Momma jangan marah lagi, hm?"
Dan sebuah beban yang tiba-tiba menimpa kakinya menjadi jawaban yang membuat pria Kim langsung tertawa.
"Bodoh! Ada banyak orang melihat." gerutu Jungkook berusaha kuat menahan suaranya.
Taehyung menyingkirkan tangannya dari mata Kwonnie dan menghadiahinya sebuah ciuman di pipi.
"Aaaa… poppa buka matanya lamaaaaa!" protes si balita. Ia memajukan bibir bawahnya, lalu menatap tajam sang ayah. "Kwonnie selesai nyanyi Pororo dari tadi tapi poppa lama. Pokoknya Kwonnie marah!"
"Hei hei… cuci tangan dulu." tangan Jungkook terulur untuk mencegah sang putra yang hendak melipat kedua tangannya yang masih belepotan di depan dada. "Cuci tangan sama momma, nanti baru dilanjutkan marahnya, ya?"
"Hih! Kwonnie marahnya sekarang, bukan nanti-nanti, Ma…"
Jungkook hanya meng-iya-kan. Ia tersenyum saat putra kesayangannya melompat turun dari pangkuan sang ayah dan tidak melawan ketika ia menuntunnya ke wastafel.
Pewaris Kim Enterprise terkekeh. Ia tahu betul darimana Jeon Taekwon mendapatkan aura menggemaskan ketika sedang merajuk. Tentu saja itu diturunkan langsung dari ibunya yang tak kalah menggemaskannya.
Tak sampai lima menit, pasangan ibu dan anak itu sudah kembali. Kwonnie yang masih memasang wajah cemberutnya langsung memanjat naik ke pangkuan sang ayah. Ia duduk menghadap pria Kim, lalu melipat tangannya di depan dada. Sementara Jungkook langsung duduk di sebelah calon suaminya.
"Marah!" Jeon Taekwon menggerutu. Ia menatap nyalang ayahnya selama beberapa detik sebelum memalingkan wajah ke arah sang bunda.
"Ya sudah. Hadiahnya untuk momma saja." Taehyung hanya terkekeh. Kwonnie yang mengaku marah padanya, namun masih memilih untuk duduk di pangkuannya benar-benar menggemaskan dan manis sekali. Ia menoleh ke arah Jungkook. "Momma tolong ambilkan tas poppa."
Sebenarnya, jantung pemuda Jeon tengah berdebar tak karuhan. Kim Taehyung mulai memanggilnya momma sejak lama. Namun jantungnya selalu saja berdetak lebih kencang setiap kali pria Kim melakukannya.
Ia berusaha tenang saat mengambil tas yang ada di kursi di depannya, terpisah meja. Setelahnya, ia langsung memberikan tas hitam bergambar ular itu kepada pria berpakaian hitam.
"Memangnya poppa memiliki hadiah apa? Momma mau hadiahnya." suara Jungkook pecah saking groginya. Ia tidak tahu sampai kapan ia harus membiasakan diri dengan panggilan ini. Ketika mereka terpisah jarak dan hanya melakukannya melaui video call, Jungkook lumayan bisa mengendalikan diri.
Namun ketika berhadapan seperti sekarang, sepertinya lebih sulit untuk bersikap tenang.
Taehyung tersenyum jahil saat membuka tasnya dan mengeluarkan kotak berisi mobil jeep kecil berwarna kuning dengan remote control di dalamnya. Ia melirik Kwonnie sekilas sebelum memberikannya ke pemuda bersurai madu. "Nah, mobil-mobilannya untuk momma saja."
Jungkook langsung menerimanya. Ia tersenyum manis sambil melirik sang putra.
"Terima kasih, poppa." ucapnya ceria.
Melihatnya, Kwonnie langsung cemberut. Bocah berusia empat yang memang sedikit mengantuk karena bangun terlalu pagi itu mengerang protes dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hyung…" bisik Jungkook lirih. Ia memberi isyarat kepada sang kekasih bahwa putra mereka sedang tidak dalam mood yang baik untuk digoda. Ia lalu beralih kepada sang jagoan kecil. "Hei, pangeran momma kenapa, hm?"
Pemuda ber-sweatshirt merah mengusap kepala Kwonnie lembut.
Si jagoan kecil tidak menjawab. Ia malah merangkak dari paha ayahnya untuk berpindah ke pangkuan sang ibu. Kwonnie langsung menenggelamkan wajahnya di dada Jungkook sambil memeluknya erat. "Poppa nakal."
Jeon muda terkekeh ringan. Ia maklum jika sang putra mulai rewel karena mengantuk. Diusapnya lembut kepala si bocah. "Itu karena Kwonnie marah pada poppa. Padahal poppa hanya terlambat membuka mata Kwonnie."
Jagoan kecil menggelengkan kepalanya. Ia mengusekkan wajahnya ke sweatshirt Jungkook.
"Hei… poppa minta maaf." Taehyung terkekeh ringan saat memberikan kecupan lembut di puncak kepala putranya. Ia menggeser tubuhnya supaya bisa lebih dekat dengan calon istri dan balita kesayangan mereka. Setelahnya, ia menyentuh lengan kiri Kwonnie dengan kotak berisi mainan yang sebenarnya memang dibelikan untuknya. "Poppa hanya bercanda saat bilang ini untuk momma. Poppa membelikan mobil-mobilan ini khusus untuk jagoan poppa yang keren."
Tangan Taekwon terulur untuk mengambil mainannya, lalu memeluknya di tengah-tengah tubuh kecilnya dengan badan momma kesayangannya.
"Anak yang baik, bilang apa?"
Jeon Taekwon menggeleng lemah. Ia masih menyenbunyikan wajahnya di dada Jungkook.
Sang ibu menghela nafas. Ia tersenyum tipis seolah meminta maaf kepada Taehyung di sampingnya. Melihat itu, pria Kim hanya tertawa. Diciumnya lembut pelipis pemuda miliknya sebelum berucap lirih.
"Tidak apa, ini juga salahku karena mengerjainya." gumamnya sambil merangkul bahu sempit Jungkook.
Sebelah tangan pewaris Kim Enterprise masih mengusap kepala jagoan ciliknya. Ia mendekatkan wajahnya pada telinga Taekwon. "Kwonnie, poppa minta maaf ya? Poppa hanya bercanda. Poppa akan sedih kalau Kwonnie marah seperti ini."
"Katanya ingin tidur dan bermain dengan poppa." pemuda bersurai honey menambahkan. "Apa poppa harus pergi ke Jepang lagi agar Kwonnie tidak marah, hm?"
"Tidak boleh!" pekik si bocah tiba-tiba, sukses membuat kedua orangtuanya terlonjak. Ia menoleh ke arah sang ayah, menatapnya dengan mata yang basah. "Kwonnie tidak mau poppa pergi-pergi lama."
Dan Jeon Taekwon menangis.
Ia memeluk mainan yang dibelikan ayahnya sambil menangis dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Kim Taehyung tentu langsung mengangkat tubuh putranya, menggendongnya penuh kasih sayang dan mencium pipinya lembut.
"Hei, Jagoan poppa. Poppa di sini bersama Kwonnie." Taehyung menyangga tubuh putranya dengan lengan kanan, sementara tangannya yang kiri ia gunakan untuk mengusap punggung dan kepala Taekwon bergantian.
"Hyung, sebaiknya kita pulang sekarang. Kurasa Kwonnie mengantuk." ujar sang calon istri usai menutup tas Taehyung. Ia ikut berdiri, sedikit merapikan pakaiannya lalu berjalan mengikuti pria Kim yang terlebih dahulu memberikan anggukan setuju kepadanya.
"Tapi nanti pergi-pergi terus." balita berumur empat melayangkan protes. Ia sudah tidak menangis, namun masih mengusekkan wajahnya ke dada sang ayah. Sebelah lengannya memeluk mainan, sementara satunya lagi berpegangan pada jaket Taehyung. "Kwonnie tidak suka banyak mencoret jari."
Taekwon sepertinya sudah lupa alasan yang membuatnya menangis karena yang dilakukannya kini hanyalah merengek manja kepada role model-nya.
Taehyung terkekeh. Ia mencium gemas pipi putranya. Setelah itu, ia berusaha mengusap air mata di sana. "Janji, poppa tidak akan pergi lama lagi."
Dan sebuah senyum lebar yang Kwonnie tunjukkan kepada ayahnya membuat kedua orangtuanya ikut merasa senang.
Kim Taehyung telah berjanji.
Ya, ia tidak akan pergi terlalu lama, meskipun itu untuk bekerja karena baginya, mengubah marga Jeon di depan nama Jungkook dan Taekwon berarti menjadikan mereka berdua yang terpenting dalam hidupnya.
.
.
.
Pria berpakaian hitam turun dari pintu belakang taksi setelah menyerahkan dompetnya kepada pemuda yang duduk di sebelahnya. Ia kemudian segera masuk ke kedai Jeon. Bukannya tidak ingin membukakan pintu untuk sang calon istri, namun balita yang tertidur di gendongannya mengerang protes saat ia mulai berdiri dan membawanya berjalan.
Taehyung ingin segera menidurkan sang putra di kasurnya agar bocah menggemaskannya bisa tidur lebih nyenyak.
Ia memaklumi Jeon Jungkook yang tidak memiliki kendaraan pribadi sehingga pemuda itu harus menjemputnya dengan menaiki taksi. Tidak masalah bagi pria Kim karena fakta bahwa bocah kesayangannya begitu merindukan sang ayah sampai-sampai ingin segera bertemu, sungguh membuatnya lebih dari senang.
"Ungg~~ pa, mobilnya tidak untuk momma." gumam Taekwon lirih saat Kim Taehyung meletakkannya di atas tempat tidur. Ia bicara begitu pelan, namun jelas. Kedua matanya masih terpejam erat. Ia benar-benar masih tidur.
Taehyung tertawa kecil melihatnya. "Iya, mobil-mobilannya milik Kwonnie. Poppa belikan itu untuk jagoan poppa yang keren."
Seakan dirinya tengah dalam kondisi sadar, Kwonnie merespon ucapan ayahnya dengan kekehan senang dan sebuah senyum yang begitu manis. Pewaris Kim Enterprise memberikan sebuah usapan lembut di kepala dan sebuah ciuman di pipi kanannya.
"Tidur yang nyenyak, sayang." bisiknya pelan.
"Hyung, kau juga beristirahatlah." sebuah suara dari arah pintu kamar putranya membuat pria Kim menolehkan kepala.
Ia mendapati ibu dari anaknya tengah berjalan mendekati ranjang Kwonnie. Jungkook kemudian meletakkan mobil-mobilan yang dibelikan Taehyung di atas nakas, tepat di samping kasur kecil balitanya.
"Dia terlihat manis saat tidur."
Jungkook terkekeh. Sepasang netranya mengamati bagaimana bibir pria Kim menunjukkan seulas senyum yang terlihat begitu menawan. Wajah itu nampak teduh kala memperhatikan bocah yang tengah terlelap dengan bibir setengah terbuka. Kedua tangannya memeluk guling berwarna merah.
"Ya, manis." ucap Jungkook seraya melepaskan boots yang masih terpasang di kaki putranya. Ia melirik sekilas pria Kim sebelum berujar jahil. "Sama seperti ayahnya."
Kim Taehyung mengeryitkan dahinya.
"Aku?"
Jeon Jungkook mengangguk. Senyum lebar bibirnya membuat sepasang gigi kelinci yang ia miliki menyembul lucu.
"Manis?"
Lagi-lagi pria Kim mendapatkan anggukan sebagai jawaban.
"Astaga, Kook. Kau pasti salah makan karena mengatakan bahwa aku manis." Taehyung tak habis pikir, ia sungguh bingung dengan jalan pikiran pemuda Jeon yang menganggap dirinya manis.
Selesai melepas sepatu Kwonnie, yang Jungkook lakukan hanya memberikan sebuah senyum sebagai balasan atas protes yang diterimanya. Dan sebelum meninggalkan kamar sang putra, ia menyempatkan diri untuk memberinya sebuah kecupan di dahi.
Ia menyempatkan diri untuk memberi Kim Taehyung sebuah kecupan di dahi.
"Poppa beristirahatlah, nanti momma bangunkan saat makan malam."
Pewaris Kim membeku.
Ia butuh waktu untuk meyakinkan dirinya bahwa yang barusan dialaminya adalah nyata. Pasalnya, Jeon Jungkook hanya melakukan panggilan poppa-momma di hadapan putra mereka.
Dan ketika ia tersadar, calon istrinya telah keluar dari kamar putra mereka sambil tertawa.
"Kim Jungkook…" Taehyung menggeram tertahan. Ia menyunggingkan senyuman saat menyusul penyandang marga Jeon yang sebentar lagi akan memiliki Kim sebagai nama keluarganya.
Dipeluknya erat tubuh berbalut sweatshirt merah itu dari belakang saat Jungkook menyimpan sepatu Kwonnie. Ia langsung memberikan ciuman gemas di pipi sosok bergigi kelinci, menekannya kuat-kuat hingga korbannya mengaduh minta ampun. Tentunya, sambil tertawa.
"Hyung… hentikaaaan…"
Kim muda tak mempedulikan apa yang dikatakan Jeon Jungkook. Ia malah menyeret kekasih menggemaskannya ke sofa yang ada di depan televisi, membanting tubuhnya sendiri ke sana hingga Jungkook terjatuh menimpa dirinya.
"Ugh…gendut." Taehyung mengeluh, masih dengan pemuda Jeon di dalam dekapannya. Ia memeluknya erat-erat, mengunci gerakan lawannya dengan kedua kakinya.
Tentu ia hanya bercanda karena Jeon Jungkook saat pertama kali bertemu dengannya sedikit lebih berlemak dari Jeon Jungkook sekarang.
Namun candaannya itu sukses membuat pemuda bersurai madu melayangkan cubitan-cubitan mematikan ke perutnya. Otomatis, pria Kim langsung mengaduh dan minta ampun. Walau rasanya benar-benar sakit, tapi ia tak akan sudi mengendurkan pelukannya karena itu sama saja cari mati.
"Menyebalkan! Menyebalkan! Hyung mesum menyebalkaaan!" Jungkook memekik tertahan. Bagaimanapun putranya tengah tertidur, dan ia sungguh tak mau membuatnya terbangun hanya karena suara ribut yang ia buat.
"Hei hei hei… apanya yang mesum.. aduh!" pria Kim menahan sakit di perutnya. Ia melotot sebal, lalu menggigit gemas pipi tembam kelinci manisnya. "Aku memeluk kekasihku, bagian mananya yang mesum?"
Jawabannya adalah tidak ada. Jeon muda jelas tahu itu. Tapi ia bersikeras menganggap bahwa Kim Taehyung adalah makhluk paling mesum yang pernah ditemuinya.
Taehyung terbahak.
Setelahnya Taehyung menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher yang lebih muda, menghirup dalam-dalam aroma manis yang menguar dari sana. "Aku mencintaimu, Kook. Sangat menciuntaimu. Aku berjanji akan melindungimu, melindungi putra kita, bahkan jika seluruh keluargaku yang menjadi lawannya."
"Aku percaya padamu, hyung. Kau akan melindungi Kwonnie kita." Jeon muda terkekeh. Dikecupnya puncak kepala pria yang mendekapnya, lalu kedua tangannya mulai membelai surai sekelam malam milik prianya. Bibirnya menyunggingkan senyum, menikmati suasana diam yang entah diciptakan oleh siapa. Sengaja tak ia balas pernyataan cinta Kim muda karena ia yakin, jawaban yang akan diberikannya benar-benar sudah bisa diketahui.
Entah berapa lama keduanya sibuk dengan dunia di pikirannya, namun ketika Jungkook mulai angkat bicara, Kim Taehyung tidak menjawabnya.
"Hyung, lepaskan aku…"
Awalnya, Jungkook pikir sang calon suami melakukannya dengan sengaja agar panggilan poppa meluncur dari bibir Jeon muda.
Tersenyum malu-malu, Jungkook memilih untuk mengikuti permainan pria yang dicintainya. Dengan lembut ia berkata, "Poppa, lepaskan momma. Momma harus ke depan untuk mengurus kedai."
Pemuda bersurai madu bahkan mencubit pelan lengan yang mendekapnya, tapi tidak ada reaksi yang ia dapatkan.
Dan ketika ia memundurkan wajahnya, menyangga tubuhnya dengan kedua lengan lalu menjauhkan tubuhnya, ia berhasil mendapati bahwa pewaris Kim tengah terlelap.
Taehyung benar-benar tidur karena ketika Jungkook memberikan sebuah kecupan di bibirnya, tidak ada balasan yang menyapa.
Dengan perlahan, Jeon Jungkook melepas dekapan prianya. Ia tersenyum ketika berhasil berdiri di samping sofa tanpa Taehyung terusik oleh kegiatannya.
Pria bersurai arang memang masih memakai jaketnya, namun Jungkook memilih untuk membiarkannya begitu saja. Ia takut membangunkan tidur kekasihnya jika ia memaksa untuk melepas jaket berwarna gelap itu. Menurutnya, Kim Taehyung benar-benar membutuhkan tidur. Karenanya, ia akan membiarkan begitu saja Taehyung-nya berpakaian seperti itu.
.
.
.
.
.
Pagi harinya, Kim Taehyung menggigil di depan pintu kedai.
Ia tidak diusir oleh Jungkook, ia hanya sedang menunggu putranya yang tengah bersiap di dalam.
Selamam tidurnya tidak terlalu nyenyak, tapi ia sudah harus bangun, bahkan sebelum matahari terbit, hanya untuk berolahraga.
Bagaimana bisa nyenyak tidur jika Jeon Jungkook memilih tidur sendiri di kamar sang putra, sementara dirinya tidur berdua dengan putra kesayangannya di kasur Jungkook yang ukurannya memang lebih besar dari milik Kwonnie.
Usai makan malam, Kwonnie merengek padanya, ingin tidur bertiga dengan ayah dan ibunya. Jeon muda dengan perlahan membujuk putranya. Ia menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki ranjang yang cukup besar untuk ditempati bertiga.
Kwonnie berakhir dengan memilih untuk tidur bersama poppa-nya. Walau awalnya canggung dan saling diam, lama-kelamaan mereka mulai saling bercerita, dan berakhir dengan Jeon Taekwon yang terlelap lebih dahulu.
Memang jika dipikir lagi, kasur Jungkook tidak akan muat untuk bertiga. Jeon Taekwon memang masih balita, namun space tidurnya bagaikan orang dewasa.
Ia suka menumpangkan kakinya pada apa saja, termasuk tubuh Kim Taehyung.
Jujur saja, Tuan Muda Kim sudah terlalu lama menghabiskan malam sendirian di ranjangnya. Kehadiran Taekwon dan skinship yang dilakukannya ketika terlelap sukses mengusik tidur Kim muda tanpa ia sadari.
Taehyung berakhir dengan terjatuh dari kasur, dan lagi-lagi mengumpat. Untung saja Kwonnie tidak terbangun dan mendengarnya.
"Sudah… Ayo, Pa!"
Taekwon yang baru keluar rumah dengan mengenakan hoodie tebal berwarna merah dan celana training hitam terlihat bersemangat. Taehyung bisa melihat kaos abu-abu di balik hoodie putranya. Kaki mungil Taekwon berbalut sepatu berwarna hitam.
Sementara pria Kim menggunakan jersey hitam dengan garis putih untuk membalut kaos putihnya, sementara celana longgar dan sepatu olahraga melindungi kaki jenjangnya. Ia tersenyum saat melihat Jeon mungil berpenampilan seperti itu. Ia sudah dengar dari kekasihnya bahwa putra mereka akhir-akhir ini suka rewel soal pakaian yang ia kenakan.
Sang ayah berjongkok di hadapan putra kesayangannya. Ia memakaikan beanie yang sedaritadi dipakainya ke kepala Kwonnie, "Ayo berangkat."
Si balita mengangguk bersemangat. Ia lalu berlari kecil mendahului ayahnya.
Semalam ketika makan bersama, Jungkook menanyakan perihal check up yang dilakukan Kim Taehyung di Seoul. Pria Kim mengaku dirinya baik-baik saja, namun dokter menyarankan untuk berolahraga di luar ruangan sebagai therapy bagi pernafasannya yang biasanya mendapat imbas dari alergi yang ia derita.
Tentu saja, olahraga di pagi hari adalah yang terbaik. Apalagi, jika dilakukan di pantai.
Mendengar itu, Kwonnie langsung mengusulkan untuk menjadi pemandu bagi sang ayah saat berolahraga pagi.
Taehyung menyaguhinya hanya agar Taekwon berhenti bicara saat mengunyah dan segera menghabiskan makanan di piringnya.
Siapa sangka bocah itu benar-benar bangun sangat pagi dan memaksa ayahnya untuk membuka mata dan segera melakukan olahraga?
"Uhh… berhenti sebentar, pa."
Kim muda terkekeh saat mendapati putranya berhenti setelah berlari kecil sekitar seratus meter. Ia segera berjongkok di depan Kwonnie. "Sini, naik di punggung poppa."
"Tapi Kwonnie ingin lari sama-sama poppa…" rengek si bocah sembari mengerucutkan bibirnya. Ia merasa payah jika harus digendong.
Taehyung melepas tas punggung yang dipakainya, memendekkan talinya, lalu memakaikan ke putranya. "Kwonnie olahraga dengan membawakan tas poppa yang berat."
Mata bulat Jeon Taekwon berbinar saat ia mendapat mandat untuk membawa barang yang bagi ayahnya berat.
"Sebagai gantinya, poppa akan menggendong Kwonnie karena kita harus cepat tiba di pantai." pria bersurai kelam kembali memunggungi balita manisnya. "Katanya ingin melihat matahari terbit, kita harus cepat atau nanti kita tiba di pantai saat mataharinya sudah tinggi."
Kwonnie kecil sempat berpikir.
Rasanya cukup adil; poppa menggendong Kwonnie, dan Kwonnie menggendong tas poppa yang berat.
Maka bocah yang mengenakan hoodie merah itu langsung menaiki punggung ayahnya, mengalungkan kedua lengannya di leher poppa.
"Pegangan, kita akan berlari cepat." ucap pewaris Kim saat ia mulai berdiri dengan kedua lengan mengangga tubuh putranya.
Setelah itu, yang terdengar hanyalah teriakan Kwonnie yang kesenangan karena poppa-nya yang keren berlari dengan sangat cepat. Suara tawanya bahkan sampai bergoyang-goyang, terdengar seperti sedang menyanyikan lagu.
Sangat menyenangkan.
Ia memeluk leher Taehyung erat-erat, sesekali memberikan semangat supaya ayahnya berlari lebih cepat.
Berada di punggung Kim Taehyung, Jeon Taekwon merasa dunia terlihat lebih kecil. Bahkan ia merasa lampu jalan yang biasanya sangat tinggi, kini berada tepat di atas kepalanya.
Menyenangkan memiliki seorang poppa.
"Kita sudah sampai." gumam pria Kim saat dirinya mulai menginjak pasir. Ia segera menurunkan putranya yang bergerak-gerak di punggungnya, tanda ingin turun.
"Pa, poppa, Kwonnie boleh main air?"
Taehyung terkekeh saat mengikuti putranya yang berjalan menuju pinggiran pantai. Tangan kanannya digenggam erat oleh jemari kecil Jeon Taekwon. Dirinya mempertanyakan, sekecil apa jari-jari putra kesayangannya saat masih bayi.
"Boleh, tapi nanti lepas sepatu dulu. Lalu tunggu mataharinya terbit, hm?"
Si bocah mengangguk bersemangat. Ia mendudukkan dirinya asal di pasir, agak jauh dari air yang bergulung di pinggiran. Setelah itu, dilepasnya tas punggung yang dipakai. Kedua tangannya berusaha melepas sepatu yang melekat pada kakinya.
Taehyung hanya melihat.
Ia sengaja membiarkan putranya untuk berusaha sendiri. Ia hanya sesekali menunjuk bagian yang harus ditarik agar sepatunya bisa lepas dengan lebih mudah. Sebelah tangannya akan dengan sangat kasual mendarat di kepala Jeon kecil saat putranya berhasil melepas alas kakinya. Mulutnya akan dengan otomatis melontarkan pujian.
Setelahnya, ia juga melepas sepatunya sendiri, meletakkannya berjajar di sebelah sepatu Kwonnie.
Seharusnya, pemandangan matahati terbit adalah sesuatu yang sangat indah. Namun Kim Taehyung mengabaikannya. Dunianya berpusat pada bocah menggemaskan yang sibuk menggulung celananya dengan bibir mengerucut lucu.
Ia merasa begitu terpesona saat jemari kecil itu mengangkat botol minum yang terlihat besar.
Dan senyum cerianya yang begitu menawan… semua terasa ribuan kali lebih indah daripada matahari yang sedang terbit.
"Sudah muncul mataharinya. Poppa ayo main air!"
Taehyung terkekeh melihat putranya yang begitu ceria. Ia melepas hoodie merah Kwonnie sebelum melepas jersey-nya sendiri, lalu meletakkan keduanya di atas tas mereka. Setelahnya, ia harus berulang kali memperingatkan balita kesayangannya untuk tidak berlari terlalu cepat, atau terlalu dekat dengan air.
Ketika pria Kim merasa nafasnya tercekat saat Kwonnie jatuh dan membuat seluruh tubuhnya basah karena terkena ombak kecil di pinggir pantai, si bocah malah terbahak dan mengatakan bahwa itu menyenangkan. Ia memaksa ayahnya untuk ikut mencebur juga.
Tidak ada pilihan lain.
Kim Taehyung menceburkan dirinya bersama sang putra, mereka bermain air bersama.
"Kalau ada momma, pasti Kwonnie dimarahi karena main-main air di laut." si bocah mengadu. Kedua matanya tak lepas dari gundukan pasir yang dibuatnya bersama sang ayah. Ia berjongkok dengan tangan yang terus menerus menggali lubang pasir yang entah bagaimana selalu kembali terisi oleh pasir dan air.
"Kalau ada momma, pasti poppa yang dimarahi karena membiarkan Kwonnie bermain air sampai basah seperti ini."
Kim muda duduk di sebelahnya, mengamati tingkah putranya yang sedang asyik. Bibirnya menyunggingkan senyum, merasa pagi ini sangat berbeda.
Ia berolahraga dengan Taekwon, melihat matahari terbit bersama, dan bermain air bersama.
Seharusnya, mereka pulang setelah ini, lalu menghabiskan waktu di rumah, dan semuanya menjadi sempurna.
Seharusnya, hari ini sempurna.
Seharusnya….
Hingga sebuah ombak besar datang menggulung keduanya.
.
.
.
TBC
.
.
Don't forget to read The Flower Knows
.
.
Akhir kata,
Review pleaseee
