Dada Jungkook terasa sesak. Ia berusaha menunjukkan senyuman walau terlihat kelewat canggung.

Sementara itu, pria Kim yang sedari tadi berdiri di sampingnya merasakan gemuruh yang begitu sulit ia terima. Bibirnya berdecak pelan, lalu sepasang tangannya bergerak sebagai respon atas senyum canggung calon istrinya.

"Noona, lepaskan." ucapnya datar. Wajahnya terlihat kesal saat wanita yang biasanya pendiam itu bersikap kelewat girang hanya karena melihat kelinci manis yang ia bawa. Bahkan dengan tidak sopannya Jeon Jungkook dipeluk erat. "Kau menyakiti calon istriku."

"Calon istrimu?" wanita bersurai panjang menoleh, ia memfokuskan pandangannya ke wajah sepupunya. Ia beralih menatap pemuda yang tengah dipeluknya. Tangannya perlahan naik untuk membingkai pipi Jungkook. "Kata imo, Tae akan membawa seseorang. Bilang padaku, kalian berkenalan setelah Kwonnie lahir dan sama sekali tidak saling kenal sebelumnya. Katakan bahwa ia bukan si brengsek yang dulu…"

Ucapan menggantung itu dilontarkan lirih, lalu senyum Jeon Jungkook yang didapatnya sebagai jawaban membuatnya ingin segera menghajar pewaris Kim.

"Momma!" pekik suara melengking yang terdengar kesal diikuti dengan sosok mungil yang menyelipkan tubuhnya di antara kaki momma dan wanita yang tengah memeluknya. "Momma selalu peluk-peluk tidak mengajak Kwonnie!"

Kim Taehyung menundukkan kepalanya, menatap sang putra yang sama sekali tidak canggung saat berinteraksi dengan wanita bertubuh pendek yang memeluk erat momma kesayangannya.

"Aigoo… Kwonnie sudah bertambah besar." ujarnya wanita itu ceria. Ia segera mengubah ekspresi wajahnya yang semula tampak kesal sekaligus khawatir dan menggantikannya dengan senyum ramah. Sepasang tangannya melepaskan pipi Jungkook yang langsung bernafas lega. Dengan sangat kasual, lengan itu mengangkat tubuh bocah berusia empat yang masih cemberut. "Hei, anak tampan harus tersenyum ramah. Kenapa menunjukkan wajah marah?"

Jeon Taekwon langsung menunjukkan senyum lebarnya saat tubuhnya dipeluk gemas, lalu diberikan kecupan bertubi-tubi di pipi.

"Mimo tiba-tiba muncul tapi tidak bilang-bilang Kwonnie kalau mau datang, tapi Kwonnie senang karena mimo datang walau tidak pas ulang tahun Kwonnie, tapi tidak senang karena tidak mengajak Kwonnie berpelukan bersama."

Mendapat protes, wanita bersurai kecoklatan hanya tertawa renyah dan mengucapkan permintaan maaf sebelum kembali memberi kecupan. Ia sempat menoleh ke arah Kim Taehyung dan berucap, "Kita perlu bicara soal ini, Kim. Jangan harap kau bisa kabur dariku."

Setelah itu, kaki jenjangnya yang memakai heels berwarna merah melangkah pergi, masih sambil menggendong balita yang tengah memainkan pipinya. "Mimo lupa tidak membawa hadiah ulang tahun Kwonnie. Nanti mimo berikan, tapi Kwonnie ikut mimo dulu, oke?"

"Kook." gumam Taehyung seraya kembali memeluk pinggang sang kekasih. "Kau mengenalnya?"

Jujur saja, Kim Taehyung merasa sangat penasaran. Setahunya, Jungkook tidak memiliki banyak teman, terutama wanita. Ditambah lagi, sepupunya memeluk Jeon erat tanpa izin, dan yang dipeluk sama sekali tidak protes. Siapapun pasti bisa menyimpulkan bahwa Jeon Jungkook memiliki hubungan dekat dengan wanita yang memeluknya tadi.

"Maksudmu, Joohyun noona?" Jungkook menoleh hanya untuk mendapatkan sebuah anggukan dari calon suaminya. Ia balas mengangguk seraya menatap bocahnya yang sedang bermain dengan mimo-nya, juga Paman Jinnie yang mengomel karena Kwonnie tiba-tiba saja meninggalkannya. "Joohyun noona berteman dengan kakakku. Ia dan suaminya juga banyak membantuku saat aku kembali ke Busan dan tidak memiliki apa-apa."

Dada Kim Taehyung berdenyut sakit.

Bukan karena pemuda Jeon mengenal sepupunya yang menyebalkan, tapi karena ia melewatkan banyak hal, termasuk saat Jungkook berada di masa-masa sulitnya.

Jungkook terkekeh lirih saat merasakan pelukan di pinggangnya bertambah erat. Seolah memahami kekhawatiran pria pujaannya, pemuda Jeon menunjukkan senyum simpulnya sebagai penenang. "Tidak apa-apa, kau bersamaku sekarang."

Pria bersurai jelaga balas tersenyum mendengar ucapan calon istrinya. Ia menghirup nafas dalam-dalam sebelum berjalan mendekati ibunya yang berdiri sambil melipat tangan. Sempat ia melirik di balik tubuh ibunya, sosok pria tengah memberikan senyum lebar lalu berjalan mendekati Taekwon yang masih sibuk dengan dua orang dewasa yang berebut memainkan pipinya.

"Eomma." gumamnya lembut. Ia berusaha menunjukkan senyum setibanya di hadapan wanita yang telah melahirkannya.

"Taehyung, kau sudah datang?"

Suara itu terdengar tegas, bahkan membuat Nyonya Kim menoleh ke belakang.

Tuan Besar Kim di sana, berjalan mendekat sambil melepas kacamatanya lalu meletakkannya di atas meja secara asal.

Jungkook menunduk hormat. Kalau boleh jujur, sekarang ini jantungnya tengah berdetak kelewat cepat.

"Kwonnie." Taehyung menoleh ke arah putranya yang masih asik bermain dengan wanita yang dipanggilnya mimo. Ia memberikan isyarat dengan tangan supaya si bocah segera menghampirinya. "Kemari."

Taekwon tampak cemberut. Paman Jinnie baru saja memberinya coklat, dan ia belum sempat membukanya.

"Sana Kwonnie ke tempat momma. Nanti pipo bukakan bungkus coklatnya, tapi Kwonnie ke sana dulu." pria yang tadi berada di belakang Nyonya Kim berujar. Tangan besarnya terulur untuk mengusap kepala bocah Jeon.

"Tapi nanti pipo sama mimo tidak boleh minta karena Paman Jinnie memberikan untuk Kwonnie dan pipo suka coklat tapi tetap tidak boleh minta karena kata poppa-ku anak besar tidak makan coklat banyak-banyak."

Yang dipanggil pipo mengangguk sambil menunjukkan gummy smile-nya. "Pipo tidak akan minta."

Jeon Taekwon mengacungkan ibu jari sebelah kanannya lalu berlari menuju sang ayah. Ia mempercayakan coklat pemberian Paman Jinnie ke tangan pipo.

Kwonnie langsung menggandeng sebelah tangan sang ayah, lalu berdiri di sebelahnya. Ia menatap bingung dua orang dewasa yang berdiri di hadapannya. Dan ketika mata bulatnya menatap sosok wanita yang, seingatnya, pernah ia lihat di layar ponsel pintar milik poppa, Taekwon langsung melepas gandengannya dan beralih untuk memeluk sebelah kaki ayahnya.

Taehyung memaklumi.

Ia tahu alasan putra kesayangannya bersikap seperti ini.

"Eomma, appa, ini Jungkook, calon istriku."

"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Kim. Aku Jungkook, Jeon Jungkook." Jungkook membungkukkan tubuhnya dalam. Ia bertahan dengan posisi itu cukup lama sebelum memutuskan untuk menegakkan kembali tubuhnya. "Salam kenal."

Penyandang marga Jeon menunjukkan senyumnya. Ia berusaha terlihat sopan dan pantas.

"Yang ini Taekwon, putraku yang pintar dan menggemaskan."

Jeon Taekwon memeluk kaki ayahnya semakin erat saat sang ayah memberikan tanda supaya ia memperkenalkan diri. Si balita lebih memilih untuk menyembunyikan wajahnya di belakang poppa.

"Jagoan, ayo berikan salam." Jungkook menyamakan tingginya dengan sang putra. Diusapnya kepala Kwonnie, lalu dicium lembut.

"Berikan salam untuk halmonie dan haraboji." Taehyung menimpali. Ia hanya menunjukkan senyum simpul sambil ikut mengusap lembut puncak kepala balitanya. Hatinya terasa nyeri saat Taekwon kecilnya mendongak, lalu menggelengkan kepala.

Sepasang netranya berkaca-kaca.

"Tapi katanya Kwonnie bodoh, tapi Kwonnie bukan anak bodoh. Kwonnie pintar ya, poppa?"

Jungkook meraih tubuh putranya. Digendongnya tubuh berbalut kemeja biru itu, lalu dibawanya berdiri. Ia melirik ke arah yang ditunjuk putra semata wayangnya, dan Kim Taeyeon berdiri angkuh di sana. Sungguh pemuda Jeon pernah mendengar dari Taehyung mengenai ini. Tapi ia tak mengangka putranya sampai tidak mau memperkenalkan diri.

"Kwonnie anak pintar, jagoan poppa yang paling pintar." ucap Kim Taehyung lembut. Ia menunjukkan senyum terbaiknya kepada balita menggemaskannya, lalu memberikan sebuah ciuman gemas di pipi. "Halmoni mungkin salah bicara, atau Kwonnie yang salah dengar."

Jungkook menatap calon suaminya lekat. Momma Jeon lalu mengusap pipi balitanya dan ikut membujuksupaya Kwonnie mau memperkenalkan diri. Kalau boleh jujur, dadanya terasa nyeri.

"Jagoan momma anak yang hebat, pasti keren kalau memberi salam dengan berani."

"Uhh…" Taekwon tampak berpikir.

Awalnya ia takut kepada wanita yang kata poppa-nya adalah halmoni karena ia pernah dikatai bodoh saat menerima video call di kamar hotel poppa. Tapi bisa saja halmoni salah bicara karena Kwonnie juga pernah salah bicara. Ketika itu dirinya ingin mengatakan peek-a-boo, tapi yang keluar dari mulutnya adalah Pikachu. Kedua kata itu jika diucapkan memang agak mirip. Atau, kemarin ia mendengar kata mesum, tapi ternyata poppa dan momma sedang membicarakan minum.

Meski Kwonnie tidak tahu halmoni-nya ingin mengatakan apa, tapi salah bicara dan salah dengar cukup masuk akal. Maka bocah jagoan sepertinya tidak harus merasa takut jika hanya untuk memperkenalkan diri.

"Mau, ya? Kwonnie memperkenalkan diri kepada halmoni dan haraboji?"

"Uhh.. Kwonnie bisa kenalan yang keren." gumam si bocah pada akhirnya sambil menggerak-gerakkan tubuhnya, memberi tanda kepada sang momma bahwa ia ingin turun.

Pemuda Jeon tentu menuruti keinginan sang putra. Ia lalu tersenyum bangga dan memberikan sebuah kecupan sebagai penyemangat.

"Halo, halmoni dan haraboji. Namaku Jeon Taekwon, umur empat tahun. Kwonnie suka dipanggil Kwonnie dan suka robotan dan mobil-mobilan. Kwonnie juga suka kue dan bermain. Salam kenal."

Lalu bocah mungil bercelana pendek itu membungkukkan badannya penuh semangat.

Kim Taehyung memejamkan matanya sejenak. Untuk saat ini, suasana lumayan kondusif, terutama untuk balitanya. Dirinya belum yakin dengan apa yang akan terjadi nanti. Yang jelas, ia perlu tahu sejauh apa Joohyun mengenal kekasihnya. Jika perlu, ia akan menanyakan hal-hal yang tak sampai hati ia tanyakan secara langsung kepada Jeon Jungkook.

"Kalau Taehyung sudah datang, lebih baik kita mulai saja makan malamnya." ucap Tuan Besar Kim singkat. Ia segera berjalan mendahului yang lain menuju ruang makan. Istrinya mengekor di belakang, diikuti oleh yang lainnya.

"Huh… kenapa salamnya Kwonnie tidak dijawab?" bocah Jeon melipat tangannya di depan dada. Ia menatap punggung kakek dan neneknya dengan bibir yang mengerucut. Anak yang baik akan memberi salam, kakek dan nenek yang baik harusnya menjawab salam cucunya.

Terdengar kekehan dari arah belakang, dan itu membuat Kwonnie menoleh. Ia mendapati pipo-nya berjalan mendekat. Lelaki yang memiliki senyum secerah matahari itu berjongkok lalu mengatakan sesuatu dengan suara pelan.

"Ini rahasia, tapi sebenarnya halmoni dan haraboji sudah sangat kelaparan, makanya mereka buru-buru ingin makan."

Dan Kwonnie terkikik sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Uuu… kalau tidak cepat makan nanti perutnya berbunyi."

"Jangan bilang siapa-siapa, oke?"

Si bocah mengangguk, masih dengan tangan yang menumpuk di atas mulutnya sendiri.

Bukan hanya dengan Joohyun saja Jeon Taekwon terlihat akrab, tetapi juga dengan suami wanita itu, Park Bogum. Dan Kim Taehyung sukses dibuat semakin penasaran dengan hubungan ketiganya.

.

A fanfiction, the continuation of "Puzzled"

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung

Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Rated: M for the language and theme, and yeah

Warning: OC for Taekwon.

Ambigu, TYPO tak tertahankan, m-preg (?)

PANJANG DAN MEMBOSANKAN

.

.

"Painted"

Part XIII: the Vertical Lines

Jeon Taekwon mencebikkan bibirnya tanda kesal. Ia tengah duduk di kursi makan, dan meja yang berada di hadapannya sungguh terlalu tinggi. Kalau seperti ini, makan pasti akan susah.

Ia melipat tangan di depan dada, merasa tidak adil karena poppa melarang Kwonnie memakai kursi yang terlihat lebih tinggi. Katanya, itu milik Jesper. Kwonnie tidak kenal dengan Jesper, tapi kedengarannya sangat menyebalkan. Dan setelah bertemu dengannya, Jesper benar menyebalkan karena ia menertawakan Kwonnie yang tenggelam saat duduk di kursinya. Hanya bagian mata ke atas yang terlihat.

"Mimo bilang anak tampan tersenyum ramah, kan?"

Taekwon menoleh ke kiri saat merasakan usapan di kepalanya. Momma sedang tersenyum sambil menatapnya.

"Kalau cemberut seperti itu, mimo pasti menganggap Kwonnie tidak tampan lagi."

Jeon mungil mengabaikan ucapan ibunya. "Tapi Kwonnie hanya bisa lihat atas meja nanti tidak bisa makan karena tinggi. Kwonnie mau kursi yang tinggi seperti di rumah juga biar bisa makan karena Kwonnie lapar."

"Kwon… poppa sudah bilang besok poppa belikan." Taehyung yang duduk di sebelah kanan putranya berujar. Ia menatap jagoan kecilnya, berusaha memberi pengertian. "Itu kursi milik Jesper, dan Jesper memakainya. Jangan nakal."

"Kwonnie tidak nakal, Kwonnie hanya lapar." si bocah menyanggah. "Kalau Kwonnie tidak bisa pakai kursi tinggi, Kwonnie mau dipangku supaya mejanya kelihatan."

"Jeon Taekwon." Kim Taehyung menghela. Suaranya terdengar tegas, sungguh berbeda dengan nada yang biasa ia gunakan ketika bicaranya kepada sang putra.

Yang disebut namanya langsung menunduk sambil mencebik. Sepasang tangan mungilnya kini memainkan ujung celana pendeknya. Kaki-kaki kecilnya bergerak asal..

Para pelayan sedang menaruh makanan di atas meja, tapi ia tidak peduli. Lagipula Kwonnie akan kesusahan memakannya, dan memangku Kwonnie pun poppa tidak mau. Sebenarnya tidak apa jika dirinya tidak kebagian kursi tinggi asalkan Kwonnie boleh duduk di pangkuan momma atau poppa atau mimo atau pipo atau Paman Yoon Yoon, Paman Jinnie juga tidak apa karena meski baru ditemuinya hari ini, pria dengan bibir tebal itu terlihat baik dan menyenangkan. Tapi poppa melarangnya.

"Nanti momma bantu. Lagipula tidak sopan jika Kwonnie duduk di pangkuan poppa saat makan malam bersama banyak orang seperti ini." Jungkook tersenyum ramah. Ia sempat melirik wajah pria yang mengaku sebagai calon suaminya untuk melayangkan protes, namun Taehyung tampak terlalu sibuk mendengarkan apa yang diucapkan oleh ayahnya yang tengah memuji kekasih Kim Jongin yang katanya tengah merintis karirnya sebagai perancang busana di butik milik kakaknya yang tinggal di Amerika.

Tuan Kim memberikan isyarat kepada para tamunya untuk segera menikmati makan malam mereka. Ia duduk di ujung dengan sang istri berada di samping kirinya. Berurutan, Kim Jongin dan kekasihnya, Krystal duduk di sisi meja sebelah kiri. Dilanjutkan dengan Park Baekhyun yang telah menikah dengan pengusaha Park Chanyeol. Jangan lupakan si kecil Jesper, anak tunggal mereka yang duduk di kursi tingginya, berada tepat di tengah-tengah ayah dan ibunya.

Sementara di sisi meja sebelah kanan Tuan Kim, Taehyung bersisihan dengan jagoan kecilnya. Jungkook duduk di sebelah kanan Taekwon, lalu dilanjutkan oleh Min Yoongi yang baru tiba lima menit yang lalu. Berhadapan dengan Kim Junsu dan Kim Taeyeon, Seokjin duduk sisi lainnya, bersama dengan Park Bogum dan Park Joohyun.

Kim Taehyung menghela nafas. Ini tidak seramai yang ia kira, namun tetap saja ia merasa tertekan. Lebih tepatnya, ia takut balita menggemaskannya, juga calon istrinya merasa tertekan.

"Ma, momma, ma. Supnya tapi tidak bisa dikunyah." celoteh balita Jeon saat ia menerima suapan soup dari ibu kesayangannya. "Seperti bubur tapi halus supnya tapi rasanya tidak seperti bubur."

Jungkook terkekeh saat melihat Kwonnie menganggukkan kepala seakan membenarkan sendiri apa yang barusan ia ucapkan. Ia melirik pria bersurai jelaga beberapa kali, tapi Taehyung sepertinya benar-benar larut dalam dunianya, seakan lupa dengan keberadaan Jungkook dan sang putra.

Pemuda Jeon hanya bisa menghela.

"Ini namanya cream soup. Kwonnie suka?" tanyanya lembut. Diusapnya sudut bibir balitanya yang kotor.

Yang ditanya hanya mengangguk ia memberi isyarat bahwa dirinya ingin makan sendiri, dan sang bunda tentu mengabulkannya. Jungkook menyangga mangkuk soup putranya dengan tangan kiri, dibiarkannya Kwonnie menyantap hidangan pembukanya sendiri. Sementara itu, tangan kanannya menyendok soup di hadapannya untuk dirinya. Rasanya sedikit pegal, memang. Tapi tak apa asal Taekwon senang.

"Aku masih sibuk dengan rencana pengembangan anak perusahaan di Tiongkok." gumam pria bersurai coklat bergelombang. Ia mengusap bibirnya sopan, lalu tersenyum ramah. "Pasar di sana mulai menunjukkan grafik yang bagus sejak tahun lalu, dan rencananya bulan depan aku dan Baekhyun akan berangkat ke sana."

Tuan Besar Kim tampak menganggukkan kepalanya puas atas jawaban dari keponakannya. Ia kemudian melirik Joohyun, putri kesayangan adik iparnya untuk meminta laporan.

"Well, aku tidak banyak bekerja akhir-akhir ini, hanya mengawasi klinik baru yang ada di Daegu." ucapnya santai. Ia menjeda sebentar untuk mengucapkan terima kasih ketika pelayan mengganti hidangan di hadapannya dengan main course. "Bogum yang akhir-akhir ini sibuk."

Yang disebut namanya terkekeh ringan. "Aku tidak bisa membantah protesnya kali ini. Aku seorang pendidik, tidak ada waktu libur untukku. Apalagi universitas tempatku bekerja sedang menjalin kerjasama untuk program pertukaran mahasiswa."

"Masih untung aku bekerja di kantor bersama Taehyung. Meski ia bos yang menyebalkan, setidaknya aku bisa mengambil cuti dan benar-benar lepas dari pekerjaan." Yoongi menimpali. Ia kemudian memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya malas.

"Ahh… aku jadi ingat keributan di tiwm produkhi gara-gara masalah bwenah."

"Seokjin." tegur Tuan Kim sambil menggelengkan kepalanya ketika melihat keponakannya yang satu itu berbicara dengan mulut penuh makanan.

Menelan daging di mulutnya dengan susah payah, pria yang akrab dipanggil Jin itu menunjukkan cengiran lebarnya. "He he.. maafkan aku. Tapi saat itu kami hampir membuang banyak produk gara-gara Taehyung."

Taehyung berdehem sekali. "Yeah… tapi masalahnya sudah beres. Produk gagal yang waktu itu akhirnya terjual dengan sukses, jadi hyung sebaiknya jangan protes."

Kim Seokjin mendengus malas. Ia memutar bola matanya, lalu melanjutkan makan dengan brutal.

Jeon mungil tiba-tiba terkekeh. Ia menarik lengan ibunya, lalu menirukan cara Paman Jinnie memutar bola mata. Menurutnya, itu adalah hal yang lucu.

"Nanti mata Kwonnie sakit. Makan yang tenang, ya?"

Jungkook tersenyum senang saat balitanya mengangguk patuh. Ia menyuapkan daging yang telah dipotongnya kecil. Kalau boleh jujur, Jungkook sungguh tidak betah berada di sini. Suasananya benar-benar kaku. Ditambah Taehyung yang sejak tadi tak memperhatikan putra mereka, ingin rasanya ia mengajak Taekwon pulang saja.

"Ma, momma, ma… masakan daging ini enak. Besok di rumah masak yang seperti ini Kwonnie mau, ya?" Kwonnie berujar riang, membuayarkan pemuda Jeon dari lamunannya. Ia tersenyum lebar saat sang bunda mengangguk.

"Mommy, kenapa anak itu minta dimasakkan di rumah?" Jesper bertanya penasaran. Ia menunjuk Taekwon yang kini menatapnya bingung.

"Mungkin karena tidak pernah memakan makanan seenak ini, makanya ia minta ibunya membuat yang seperti ini." Baekhyun berujar santai. Ia menyuapkan sepotong besar daging ke mulut kecil putranya.

"Momma-ku bisa masak enak. Kwonnie sering makan yang enak-enak." bocah Jeon berujar protes. Ia memicingkan matanya menatap sosok yang seingatnya bernama Paman Baek. "Momma juga bisa buat kue yang enak. Kwonnie suka kue coklat enak setiap hari."

"Huu… makan kue coklat itu tidak boleh setiap hari nanti giginya sakit." Jesper tidak mau kalah. Ia suka kue coklat, tapi kata mommy-nya, Jesper tidak boleh memakannya setiap hari. Karenanya, ia tidak setuju dengan apa yang bocah pendek itu katakan.

"Kwonnie boleh makan kue coklat atau yang lainnya setiap hari tapi satu, tapi nanti sikat gigi yang bersih sekali. Kalau tidak sikat gigi bersih nanti sakit giginya tapi kalau bersih jadi tidak apa-apa. Kwonnie juga makan sayur agar bisa kuat dan giginya juga kuat dan bakteri takut." Jeon Taekwon mencoba menjelaskan panjang lebar. Wajahnya tampak serius, dan ia menunjukkan senyum kotaknya saat sang ayah akhirnya menoleh, menatap dirinya dan memberikan usapan lembut di kepala.

"Anak pintar…" puji Taehyung. Ia tahu betul bagaimana putranya sangat menuruti perintah Jungkook untuk tidak banyak memakan kue.

"Kekasihmu itu benar-benar tidak becus mengurus anak. Bagaimana bisa ia memberinya makanan manis setiap hari? Dasar idiot." Park Baekhyun bergumam. Ia tersenyum miring sambil lagi-lagi menyuapi putranya.

Baru saja ingin membalas, Kim Taehyung langsung bungkam begitu merasakan usapan lembut di punggung tangannya. Ia mendapati sang kekasih yang mencoba tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan. Kim muda pun memilih untuk menghela panjang. Meski tak mengucapkan apapun, ia sempat berdecak pelan.

"Poppa, pa. Idiot itu apa?" mata bulat Jeon Taekwon berkedip lucu saat ia bertanya kepada ayahnya. Ia menolehkan wajah ke arah sang ibu, membuka mulutnya tanda ingin disuapi lagi. Walau begitu, sepasang matanya lekat menatap poppa.

Taehyung menegakkan duduknya. Ia bingung harus menjawab seperti apa. Bagaimanapun, kata yang digunakan Baekhyun memang terdengar kasar, apalagi ia mengucapkannya di depan anak kecil. Dan yang bisa dilakukannya hanya menatap melas sang calon istri, meminta bantuan.

"Mungkin maksudnya Pidgeot." gumam Jungkook pelan.

Jeon kecil mengeryitkan dahi. Ia menatap ibunya penuh curiga. "Pidgeot?"

Jungkook tersenyum lebar sambil mengangguk. Ia gugup juga ditatap seperti itu oleh balitanya yang dipenuhi rasa penasaran. Kalau Kwonnie tidak percaya dengan apa yang diucapkannya, emtah penjelasan seperti apa yang akan ia berikan.

"Kenapa Paman Baek bilang-bilang Pidgeot temannya Pikachu?"

"Mungkin Paman Baek suka Pidgeot." Joohyun menimpali dari sisi lain, membuat Taekwon sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap bibinya yang cantik. "Mimo juga suka Pidgeot, tapi lebih suka Eevee."

"Kalau Paman Yoongi pasti suka Snorlax karena Snorlax suka tidur." Seokjin menambahkan. Ia merasa kagum karena keponakan barunya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tapi rasanya tak sampai hati bila ia harus menjelaskan arti kata sekasar idiot kepada bocah sekecil itu. "Paman Jinnie suka Chimchar karena seperti monyet yang menggemaskan."

"Ahh! Kwonnie punya boneka Chimchar!" si bocah memekik girang menatap Paman Jinnie yang terlihat sangat menyukai Pokemon yang satu itu. "Kwonnie ingin boneka Chikorita tapi poppa payah main game dan dapatnya Chimchar tapi Kwonnie tetap suka Chimchar karena poppa yang semangat main game agar dapat mainan untuk Kwonnie."

Seokjin terkekeh pelan sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah balita Jeon. Bocah bersurai lurus itu memang lancar berbicara meski kalimatnya terkadang masih berantakan.

"Mom… Jesper mau main game yang dapat hadiah…" rengek balita yang duduk di kursi tinggi sambil menatap mommy-nya.

Baekhyun menghela nafas panjang. "Nanti daddy belikan mainan yang banyak, tidak usah susah-susah main."

"Benar?" kali ini bocah Park, kali ini menatap sang ayah. Ia tersenyum lebar begitu mendapat anggukan dan usapan di kepala.

Nyonya Kim berdehem pelan. Ia menaruh garpu dan pisaunya, tanda bahwa ia selesai menyantap main course. "Kau tidak memberitahu ayahmu mengenai perkembangan perusahaan kita, Tae?"

"Ada beberapa investor baru di perusahaan. Aku juga mendapat dukungan penuh dari mereka untuk lebih serius dalam menggarap pakaian anak-anak." Taehyung bergumam. Ia tersenyum puas saat bibi Song menaruh piring kecil berisi potongan passion fruit and raspberry tart di hadapannya. Beberapa pelayan lain juga mulai mengganti main course yang telah selesai disantap dengan dessert.

"Pakaian anak-anak? Bukannya Vante sudahbeberapa kali mengeluarkan model pakaian anak-anak?" tanya Tuan Kim. Ia menatap putranya sembari memotong kue di hadapannya dengan garpu yang telah disediakan. Begitu irisan kecil tart masuk ke dalam mulutnya, Junsu sempat terdiam selama beberapa detik untuk menikmati hidangan penutupnya sebelum kembali berucap. "Apa yang spesial dari pakaian anak-anak?"

"Tidak ada." jawab Taehyung santai. Ia menyantap cake-nya dengan tenang saat telinganya mendengar sepupu Min mendengus malas.

"Aku ingin kita memiliki divisi khusus untuk pakaian anak-anak. Model yang dikeluarkan tidak berbeda jauh dengan pakaian yang selama ini kita buat, kasual dan tentunya harus lebih memperhatikan sisi kenyamanan pemakai. Poin penting untuk produk baru kita kali ini adalah bahwa tiga puluh persen dari keuntungan penjualan akan disumbangkan ke yayasan perlindungan anak." Taehyung menjeda. Ia memberikan tanda bahwa dirinya belum selesai bicara. Setelah meneguk air putih di hadapannya, pewaris Kim kembali menjelaskan. "Aku tahu Kim Enterprise sudah terlibat dalam begitu banyak kegiatan amal, juga kegiatan sosial, tapi melalui pakaian anak-anak dari Vante, aku ingin menunjukkan bahwa perusahaan kita bukanlah perusahaan yang hanya ingin meraup keuntungan, tapi juga merupakan perusahaan yang peduli dengan mental dan kesehatan anak sebagai calon generasi penerus bangsa. Kalau appa kurang setuju dengan apa yang kukatakan, anggap saja kita sedang membangun image untuk perusahaan dan memperkuat posisi kita di hati para konsumen. Yeah… walau aku benar-benar ingin beramal. Kedepannya aku juga ingin bekerjasama dengan UNICEF, tapi kurasa itu masih sangat jauh, jadi untuk sementara, seperti ini dulu. Ohh… Tuan Choi, investor terbesar kita, sangat setuju dengan program ini. Appa bisa tebak bagaimana reaksi investor lainnya jika Tuan Choi saja memberikan persetujuannya."

Kim Junsu menganggukkan kepalanya. Ia merasa perlu melakukan pembicaraan lebih mendalam dengan putranya mengenai rencana yang satu ini, tetapi sepertinya Taehyung sudah memiliki plan yang matang untuk mengembangkan perusahaan mereka.

"Temui appa di ruang kerja setelah makan malam."

Dan Kim Taehyung mengangguk patuh sambil menunjukkan cengiran lebarnya.

Setelahnya, hanya celotehan Jesper yang terdengar. Kwonnie juga sesekali menanyakan sesuatu kepada sang ibu, yang tentu saja dijawab dengan bahasa yang sederhana oleh Jungkook.

Suasana begitu tenang hingga tiba-tiba Yoongi mengerang kesal. "Ohh… ayolah hyung. Kau minta tambah dua slice? Kau bahkan sudah mengambil suapan terakhir milikku."

Seokjin tersenyum tanpa dosa saat menerima piring berisi dua slice tart dari salah satu pembantu. Ia memang sudah menghabiskan bagiannya, bahkan mengambil potongan terakhir milik sepupu Min dengan paksa.

"Diamlah, Yoon. Kuenya enak. Kalau kau mau, kau juga bisa minta tambah." Seokjin menjauhkan piringnya, padahal Yoongi sama sekali tak berminat. "Lihat, Bogum saja minta tambah."

Dan semua mata kini melirik ke arah Park Bogum yang memang menyukai makanan manis.

"Apa?" tanya suami Joohyun saat mendapati Min Yoongi yang tengah memicingkan mata ke arahnya. "Cake ini enak, wajar jika aku mau lagi. Benar, kan, Baek? Jesper juga menyukai kuenya, kan?"

"Jesper suka kuenya." celoteh putra Chanyeol yang begitu sibuk mengunyah cake-nya hingga belepotan di sekitar bibir. Ia lalu melirik piring ibunya yang sudah tak berisi apapun. "Mommy juga suka karena habisnya cepat."

"Uuuu… kue buatan momma Kwonnie memang enak." bocah Jeon menimpali. Ia menggoyangkan kepalanya mengikuti alunan lagu yang lirih digumamkan. Dirinya merasa begitu bangga karena kue buatan sang momma mendapat pujian.

Dan Nyonya Kim menghentikan tangannya yang hampir memasukkan suapan ketiga ke dalam mulut. Ia berdehem pelan, lalu menaruh kembali garpu kecil yang masih berisi potongan kecil cake itu di atas piringnya. Ia lalu mengambil napkin untuk membersihkan bibirnya, tanda bahwa dirinya sudah selesai makan.

Jungkook yang melihat itu hanya tersenyum getir. Padahal ibu dari kekasihnya itu sejak tadi diam saat menikmati tart yang dibuatnya, namun ketika mengetahui bahwa ia yang membuat kue itu, sang Nyonya Besar langsung meghentikan kegiatan makannya.

Park Baekhyun melakukan hal yang sama. Karena dessert-nya sudah habis. Ia menarik garpu sang putra yang masih ingin memakannya. Dengan paksa dibersihkannya mulut Jesper. Ia bahkan memaksa bocah itu untuk memuntahkan apa yang sudah masuk ke mulutnya. "Jangan di makan! Ini tidak sehat!"

"Tapi punya mommy sudah habis! Aku mau makan punyaku!"

"Jesper… no! Mommy takut kau sakit perut kalau memakan ini."

Yang disebut namanya hanya bisa mencebik dan menuruti perintah sang bunda. Ia sempat menatap ayahnya memelas, namun hanya dibalas dengan usapan pelan di kepala.

Jungkook menunduk. Ia lebih memilih menatap putranya yang dengan riang menyantap kue buatannya.

Tak apa, setidaknya ada Taekwon yang begitu senang dengan apa yang sedang dimakan.

"Mungkin Jesper akan sakit perut karena kelaparan, Baek. Kau kan selalu sibuk dan sering lupa mengurus Jesper." gumam Yoongi pelan. "Kwonnie yang memakan kue buatan Jungkook selama bertahun-tahun terlihat baik-baik saja. Aku dan Taehyung juga pernah memakannya dan kami tidak apa-apa. Kalau terjadi sesuatu kepadamu, atau kepada Jesper, mungkin itu karena keteledoranmu dalam menjaganya. Atau, bisa jadi karena sistem imun kalian yang payah."

"Kau…"

"Dulu aku dan Bogum-ie juga sering menyantap makanan buatan Jungkook, dan kami juga tidak apa-apa. Malahan, bisa dibilang Jungkook selalu membuat makanan sehat karena tidak memasukkan penyedap rasa di masakannya. Benar, kan… sayang?" Joohyun memotong cepat. Ia menggelendot manja kepada suaminya, dan Park Bogum tertawa renyah.

"Jungkook banyak membantu saat kami tinggal di Busan. Kalau tidak ada dirinya, mungkin Joohyun akan memesan junk food setiap hari." dan pemilik senyum ceria itu langsung minta ampun begitu mendapat pukulan dari istrinya. Hanya main-main, memang. Tapi tenaganya lumayan juga.

"Aku selesai." Kim Junsu berujar tiba-tiba. Sepertinya ia tak ingin terjadi keributan di meja makan. Memang niatnya untuk menunjukkan bagaimana seharusnya keluarga Kim menghidupi dirinya sendiri, juga keluarganya. Tentu saja mereka harus memiliki pasangan yang sepadan. Namun cake yang ternyata buatan calon istri putranya, yang entah bagaimana terasa begitu lezat, merusak segalanya. "Taehyung, kau temui appa besok pagi saja. Appa ingin beristirahat."

Setelahnya, Tuan Kim berdiri. Ia memberi isyarat kepada sang istri untuk meninggalkan meja makan juga. Tentu Taeyeon langsung mengikuti suaminya karena ia benar-benar ingin pergi dari sana begitu mengetahui makanan yang dinikmatinya adalah buatan seseorang yang tak ingin ia akui keberadaannya.

"Aku juga selesai." gumam Jongin yang sedari tadi diam. Ia menggandeng kekasihnya lalu berjalan keluar. Pria berkulit tan itu memang tidak tinggal di kediaman Kim.

"Payah, seleramu ternyata hanya sekelas pembantu Joohyun noona." Jongin bergumam lirih saat ia lewat di belakang kursi sepupunya. Krystal yang berjalan di sampingnya hanya tertawa kecil menanggapi sang kekasih.

Hampir saja Kim Taehyung menggebrak meja dan menghajar Kim Jongin kalau saja ia tidak ingat jagoan kecilnya berada tepat di sampingnya. Hatinya berdenyut sakit. Perasaannya campur aduk, namun tarikan pada lengan baju yang ternyata dilakukan oleh bocah kesayangannya berhasil meluruhkan seluruh amarah yang menyelimuti hatinya.

"Pa, poppa, Kwonnie besok ikut poppa ke kantor lagi?"

Taehyung berusaha tersenyum. Ia mengangkat tubuh putranya, lalu mendudukkannya di pangkuan. "Besok poppa tidak bekerja karena hari libur."

Si bocah mengangguk tanda mengerti. Ia paham jika seseorang yang bekerja di kantor terkadang tidak akan berangkat jika sedang libur. Hal itu sangat berbeda dengan sang momma yang setiap hari bekerja di kedai mereka.

"Sudah? Kalau sudah, kita beristirahat di kamar poppa. Poppa punya kamar di rumah ini. Malam ini kita tidur di sini, ya?"

Kalau boleh jujur, Jungkook ingin sekali menolak keinginan calon suaminya, namun balitanya yang langsung mengangguk senang membuatnya memilih untuk bungkam.

.

.

.

"Hyung… kau sudah tidur?" gumam pemuda bersurai madu yang tengah berbaring sambil menepuk-nepuk pantat balita berpiyama kuning yang sudah terlelap. Sepasang mata bulatnya menatap lekat pria berusia enam tahun lebih tua darinya yang memejamkan mata berhadapan dengannya. "Katakan sesuatu. Daritadi kau hanya bicara dengan Kwonnie dan mengabaikanku."

Jungkook menghela nafas panjang. Ia merasa lelah, benar-benar lelah. Sejak mereka masuk kamar hingga mengganti baju dengan sleepwear yang dibawa dari rumah Taehyung menggunakan tas jinjing bergambar ular, dan bercerita untuk Kwonnie hingga si bocah tidur, Kim Taehyung sama sekali tidak melakukan komunikasi langsung dengan dirinya.

Jujur, itu membuat Jeon Jungkook terluka.

Ia tersenyum miris, masih menatap pria yang dicintainya. "Apa kau mulai berpikir bahwa aku tak pantas berada di sini?"

Dan kalimat itu sukses membuat pria Kim membuka matanya lebar. "Jungkook…"

"Akhirnya kau bicara langsung kepadaku." pemuda Jeon terkekeh. Ia beranjak dari ranjang besar Taehyung, duduk di pinggir kasur dengan kepala yang menunduk. "Kenapa kau mendiamkanku, hyung? Setelah apa yang terjadi tadi, kenapa kau mendiamkanku?"

Jungkook masih menunduk saat merasakan sepasang lengan yang memeluknya erat dari belakang. Ia bahkan tak ingin protes kala kecupan-kecupan lembut mendarat di tengkuknya.

"Maafkan aku." Taehyung berujar tulus. Ia menumpukan dagunya di pundak yang lebih muda. Semakin dirapatkannya tubuh mereka berdua. "Aku sangat malu kepadamu, kepada putra kita."

Jeon muda memilih diam. Ia masih ingin mendengarkan penjelasan pria Kim di belakangnya.

"Aku berjanji akan melindungi kalian, dengan sombongnya kukatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi tindakan eomma-ku, kelakuan Baekhyun hyung, ucapan Jongin…" Taehyung menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan. "Aku malu atas apa yang mereka lakukan kepadamu. Maafkan aku karena membiarkan mereka menyakitimu. Maaf, maafkan aku karena tidak mampu melindungimu. Pikiranku berkecamuk, dan otakku seakan membeku. Aku terlalu ingin menyombongkanmu, menyombongkan apa yang kudapat karena membawa Kwonnie ke kantor hari ini, sampai-sampai aku tak bisa memikirkan hal yang bisa kulakukan ketika kau diperlakukan buruk. Bahkan Yoongi hyung berpikir lebih cepat dan membalas perkataan Baek hyung tepat sasaran. Ahh… aku juga tak sempat bilang kepada appa bahwa Tuan Choi menyetujui rencana yang kuajukan karena ia melihat Kwonnie yang menggemaskan dan pintar."

Jungkook terkekeh lirih. Ia mengusap punggung tangan pria pujaannya.

Mereka terdiam beberapa saat, sama-sama larut dalam keheningan hingga akhirnya yang lebih muda memutuskan untuk bicara.

"Jangan diamkan aku." ucapnya perlahan. Jungkook mengangkat kepalanya, menyandarkan tengkuknya ke bahu pewaris Kim Enterprise. "Seberapa malunya kau padaku, seberapa marah dirimu karena ulahku, dan seberapa ragu dan bingungnya dirimu, hanya… jangan diamkan aku. Bicaralah padaku. Apapun itu, aku akan sangat senang."

Dan Jungkook tertawa kecil saat ia merasakan pelukan di perutnya mengerat, serta ceruk lehernya terasa geli karena Taehyung mengusekkan kepalanya di sana setelah mengangguk patuh.

"Manja." ejeknya jahil. "Tidak ada bedanya dengan Kwonnie."

Taehyung mengerang protes. "Jangan bertingkah menggemaskan. Kau membuatku ingin bercinta. Aduh! Jeon!"

Ucapan Tuan Muda Kim diakhiri dengan keluhan akibat lengannya mendapat cubitan yang terasa menyakitkan. Ia bahkan balas menggigit gemas pemuda di dekapannya.

"Hentikan, mesum! Kwonnie sedang tidur di belakangmu."

"Berarti kalau tidak ada Kwonnie, kau mau melakukannya?" Taehyung tersenyum mesum. Ia bahkan menaik-turunkan alisnya saat Jungkook menoleh dan menatapnya bingung.

"Apa maksudmu?"

"Jawab saja." Taehyung menolak untuk menjelaskan. Dan karena sang kekasih tak memberikan tanggapan setelah beberapa saat ia menunggu, pemilik surai sekelam malam itu langsung mengangkat tubuh sang kekasih, lalu membawanya berjalan ke sebuah pintu. "Diam berarti 'iya'. Di kamar mandi tidak ada Kwonnie. Kita bisa menutup pintunya rapat, kau bisa menahan desahan dan rintihan nikmat."

Dan begitu Jungkook menyadari maksud dari ucapan kekasihnya yang cabul, ia berusaha meronta dan melepaskan diri. Meski begitu, ia tetap berakhir di dalam kamar mandi dengan pintu yang terkunci dari dalam.

.

.

.

.

.

Sosok bocah yang mengenakan piyama berwarna kuning dengan tudung kelinci tampak mengerutkan kening. Matanya yang terpejam bergerak-gerak resah hingga akhirnya terbuka perlahan. Anak itu menoleh ke kanan. Ia menganggukkan kepalanya saat mendapati sang ayah yang lelap tertidur dengan sebelah lengan memeluk dirinya. Sementara di sisi lain, ibunya terlentang dengan beberapa kancing baju tidur yang terbuka. Mereka berdua terlihat sangat lelah.

"Uhh… tidur-tidur nanti momma masuk angin kalau baju tidak benar." gumamnya sambil mengucek mata. Ia menggulingkan tubuhnya, lalu merangkak ke atas. Sepasang tangan mungilnya menarik selimut yang terasa sangat berat untuk menutupi tubuh momma dan poppa kesayangannya.

"Kwonnie haus." ucapnya, lebih kepada dirinya sendiri. Sepasang mata bulatnya mengedar ke seluruh penjuru ruangan yang terasa sangat besar, bahkan lebih besar dari kamar di rumah poppa.

Biasanya, Kwonnie akan menemukan sebotol air putih di nakas yang berada di kamarnya sehingga ketika dirinya terbangun tengah malam dan merasa haus, ia tak perlu memanggil sang bunda. Tapi di kamar ini sungguh tidak ada air minum, dan Taekwon merasa sangat haus.

Telunjuk kecilnya menusuk-nusuk pipi ibu kesayangannya, "Ma, ma.. momma."

Jungkook memang tampak terusik, namun ia hanya memiringkan tubuhnya, lalu memeluk tubuh pria Kim yang kini tepat berada di sampingnya. Ia bahkan menenggelamkan wajahnya ke tubuh Kwonnie yang hampir menduduki bantal.

"Huu… selalu suka peluk-peluk poppa tapi Kwonnie tidak diajak." bocah Jeon mndengus. Ia bahkan mencebikkan bibirnya karena kesal. Meski begitu, rasa haus membuatnya tak ingin berlama-lama merengut. "Kwonnie anak besar akan cari minum di dapur."

Sepertinya mencari minum sendiri bukanlah hal yang sulit. Lagipula momma beberapa kali lupa menyediakan minum di kamar Kwonnie sehingga memaksa si balita pintar untuk berjalan ke dapur dan mengambil minumnya sendiri. Ada teko plastik yang selalu terisi air, juga gelas plastik yang bisa Jeon kecil raih dengan mudah sehingga, sadar atau tidak, Kwonnie terlatih untuk menjadi anak yang mandiri. Meski hanya hal simple seperti mengambil air minum, bocah berusia empat pasti bangga karena mampu melakukan sesuatu tanpa bantuan orang tuanya.

Jeon Taekwon perlahan turun dari ranjang, meninggalkan ayah dan ibunya yang tertidur pulas. Pikirnya, di rumah sebesar ini pasti tersedia hal-hal seperti di rumahnya. Ia berjalan riang menuju pintu, lalu sedikit berjinjit untuk membukanya. Taekwon sengaja tidak menutup pintu rapat karena tidak ingin membangunkan poppa dan momma. Kaki-kaki kecilnya yang tak beralas melangkah perlahan. Bukan karena ia merasa takut, melainkan karena rasa penasaran yang membuatnya memperhatikan kiri dan kanan. Sesekali bibirnya akan membentuk huruf O saat matanya menangkap hal-hal yang menarik. Entah itu pajangan, entah itu foto atau lukisan.

Taekwon meringis saat mendapati tangga di hadapannya. Kabar baiknya, ia mengingat jalan yang tepat karena dapur memang ada di lantai bawah. Kabar buruknya, Jeon kecil belum pernah turun tangga sendirian. Di rumah poppa tidak ada tangga sehingga ia bisa berlarian kesana-kemari tanpa ragu. Tentu di Busan ia juga tidak memiliki tangga seperti ini. Ia biasanya akan digandeng momma bila naik atau turun tangga. Beberapa kali momma mengizinkannya berjalan tanpa digandeng saat naik namun dengan momma yang berjalan di belakangnya. Kalau turun tangga, Kwonnie selalu digandeng atau digendong.

"Turun itu sulit karena bisa menggelinding tapi tangga kecil-kecil jadi tidak bisa superhero landing."

Jeon Taekwon mulai ragu. Ia ingat saat poppa tidak bisa melakukan landing dari sofa karena sofanya terlalu kecil untuk tubuh poppa yang besar. Hal itu serupa dengan anak tangga yang begitu kecil, tubuhnya pasti tidak akan muat, apalagi jumlahnya banyak. Bisa-bisa sebelum sempat melakukan pendaratan, Kwonnie sudah kembali menggelinding lagi dan lagi hingga ke bawah.

"Tapi Kwonnie anak jagoan harus bisa turun sendiri." menganggukkan kepalanya beberapa kali untuk meyakinkan diri, Kwonnie mulai berjalan menuruni tangga. Kedua tangannya menggenggam erat kayu-kayu yang berjajar rapi sebagai penyangga pegangan di sisi kirinya.

"Pelan-pelan seperti berhati-hati" gumamnya sambil melangkahkan kaki perlahan. Ia benar-benar berusaha memperhatikan langkahnya agar tidak terjatuh.

Ternyata tidak terlalu menyeramkan. Ini seperti berjalan biasa dengan lantai yang turun sedikit-sedikit. Bibir mungilnya bergerak-gerak menggumamkan lagu anak-anak tentang keluarga beruang, kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti irama nyanyian. Meski begitu, putra menggemaskan Kim Taehyung tak lupa dengan tugasnya memperhatikan anak tangga supaya dirinya tidak jatuh.

Balita berusia empat sungguh tak menyadari kehadiran wanita yang mengenakan gaun tidur berwarna peach yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya sambil menahan nafas.

"Yaaayyy!" pekik bocah Jeon girang saat ia berhasil menuruni anak tangga terakhir dengan selamat. Kedua tangannya terangkat tinggi-tinggi sebelum bergerak cepat menutup mulutnya sendiri. Sepasang mata bulatnya lalu menoleh ke segala arah, memastikan tak ada yang terganggu dengan teriakannya karena bagaimanapun, ini sudah sangat malam.

Ia kembali melangkahkan kakinya ke arah yang, seingatnya, menuju ke dapur.

Calon pewaris perusahaan Kim yang satu ini memang berhasil menemukan letak dapur, namun ia merengut begitu menyadari bahwa dapur di rumah besar neneknya tidak memiliki teko plastik. Ia pun ridak melihat gelas dimanapun. Kwonnie sampai menarik sebuah kursi dan memanjatnya supaya lebih mudah untuk memperhatikan apa saja yang ada di atas meja pantry.

"Wiiiii… gelas."

Sepasang matanya berbinar saat mendapati gelas berkaki tinggi tergantung di atas meja. Bocah itu lalu mengulurkan tangannya, berusaha meraih meski rasanya susah sekali. Berkali-kali ia menahan diri supaya tidak melompat karena dirinya pasti akan jatuh. Jeon kecil masih berusaha mengulurkan tangan kirinya hingga sebuah suara membuatna terlonjak.

"Apa yang kau lakukan?"

Kwonnie berjenggit kaget. Ia langsung menolehkan kepalanya ke belakang, dan sosok wanita cantik dengan gaun tidur peach berjalan mendekat ke arahnya.

"Ha -halmoni…" ucapnya takut-takut.

Bukan apa-apa, Kwonnie hanya takut akan dimarahi karena dirinya berkeliaran malam-malam, bahkan memanjat kursi dan hampir melompat. Kalau momma yang memergokinya, pasti momma akan marah dengan mata melotot yang seram. Pikirnya, halmoni juga akan marah karena takut Kwonnie terjatuh.

"Kenapa kau memanjat kursi begitu?"

Suara sang nenek meninggi, dan Kwonnie benar-benar takut jika dirinya dimarahi. Lebih parahnya, diadukan kepada momma. Bisa-bisa Kwonnie dimarahi dua kali.

"Uhh…" Taekwon menundukkan kepalanya. Ia sama sekali belum beranjak dari kursinya. "Kwonnie haus… ingin minum tapi tidak mau membangunkan momma dan poppa karena kasihan tidur nyenyak."

Setelahnya, terdengar helaan kasar, lalu Jeon Taekwon merasa tubuhnya melayang.

Kim Taeyeon mengangkatnya, lalu menjauhkannya dari pantry. Kwonnie didudukkan di kursi yang berada di dekat meja. Wanita bertubuh mungil itu lalu berjalan kembali ke pantry untuk mengambil sebuah gelas. Ia kemudian mengisinya dengan air dari dispenser. Kemudian Taeyeon menyeret kursi yang tadi digunakan Kwonnie untuk dibawa kembali ke samping meja.

"Minum." gumamnya mendudukkan diri di sisi lain meja setelah meletakkan gelas berisi air di hadapan bocah Jeon.

"Terima kasih, halmoni." Kwonnie tersenyum lebar, lalu meminum airnya hingga tersisa setengah. "Halmoni baik dan cantik karena membantu Kwonnie mengambil minum. Aaa… tapi tetap cantik walau tidak membantu Kwonnie."

Kim Taeyeon tidak menyadarinya, namun ia terkekeh pelan saat mendengar celotehan balita yang diklaim sebagai buah hati putranya.

"Kenapa tidak membangunkan orangtuamu?" Nyonya Kim bertanya. Karena ia hanya berdua saja dengan Taekwon, mungkin ia bisa menanyakan beberapa hal yang dapat meyakinkannya mengenai status si bocah. Anak kecil tidak mungkin berbohong, jadi apapun yang akan didengarnya dari bibir Kwonnie pastilah hal yang sebenarnya.

"Umm… Kwonnie tidak mau mengganggu poppa karena poppa pasti lelah bekerja. Kemarin Kwonnie ikut ke kantor poppa yang besaaaaaaarrr sekaaaliiii." kedua lengan Taekwon bergerak menggambar lingkaran yang menurutnya sangat besar di udara. "Kalau mengurus kantor besar pasti sangat sangat lelah sekali karena momma mengurus toko kopi dan kue yang tidak sangat besar dan lelah, jadi poppa kalau mengurus kantor pasti lebih lelah."

Taeyeon terdiam. Logika Jeon Taekwon benar-benar bagus untuk anak berusia empat tahun. Pikirannya sangat sederhana, namun anak itu mengingat dengan baik apa yang pernah dilihatnya.

Umpatan bodoh kepada si bocah yang ia lakukan saat itu, apakah diingat juga?

"Di sini ibumu tidak mengurus toko, kenapa tidak dibangunkan?"

Balita berpiyama kuning menggelengkan kepalanya. "Nanti kalau Kwonnie membangunkan momma nanti poppa ikut bangun juga jadi tidak jadi membangunkan. Umm… Kwonnie anak jagoan bisa ambil minum sendiri, di rumah ambil minum sendiri karena bisa."

Lagi-lagi Nyonya Kim terdiam. Bocah yang tengah mengedarkan pandangan di hadapannya terlihat manja saat makan malam tadi. Kekasih anaknya selalu menyuapi si bocah. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin saja Jungkook melakukannya karena meja makan terlalu tinggi untuk si balita,

"Kwonnie juga bisa pipis sendiri, tapi momma bilang harus melepas celana karena Kwonnie masih suka basah. Terus kalau pergi-pergi harus ditemani karena kalau lepas celana nanti lama, kalau tidak lepas celana nanti basah." si bocah berujar ceria. Ia selalu senang menceritakan hal apa saja yang bisa dilakukannya.

Tipikal anak-anak, suka jika mendapat pujian.

"Kau sekolah?" Taeyeon bertanya begitu saja. Jesper, putra Baekhyun dan Chanyeol yang hanya selisih beberapa bulan dari Taekwon, banyak belajar dari sekolah. Anak itu bahkan sudah sudah ikut kelompok bermain sejak satu tahun yang lalu. "Kau sekolah di mana?"

Bukannya segera menjawab, Kwonnie malah mencebikkan bibirnya. Ia memukul pelan meja di hadapannya berulang-ulang, membuat irama sekenanya dengan kepala yang bergoyang seakan ia musisi profesional. Bibirnya kemudian mengeluarkan suara-suara yang mengiringi musik-nya. Sungguh, bocah itu terlihat menikmati kegiatannya.

Wanita bergaun tidur mendengus. Terkadang memang sulit berkomunikasi dengan seorang balita. Bahkan Jesper sering mengabaikannya dan lebih memilih untuk sibuk dengan mainan mahal yang dibelikan kedua orangtuanya.

"Uuu… tapi halmoni jangan bilang-bilang, oke? Yang boleh tahu hanya momma dan Kwonnie karena ini rahasia. Anak besar jaga rahasia tapi karena Kwonnie masih kecil, Kwonnie akan bilang."

Kim Taeyeon ingin tertawa mendengar ucapan bocah yang, katanya, adalah cucunya. Namun pada saat yang bersamaan, ia dibuat penasaran dengan apa yang disebut-sebut sebagai rahasia oleh balita yang kini memasang tudung piyamanya sehingga telinga kelinci terlihat bertengger di kepala. Tak ada pilihan lain, wanita yang telah puluhan tahun menjadi pendamping Kim Junsu itu mengangguk sebagai tanda persetujuan.

Jeon kecil menoleh ke kiri dan ke kanan. Setelah merasa aman, ia menempatkan tangan kanan dan kiri di masing-masing sisi pelipisnya. Ia kemudian bicara, "Kwonnie pernah ikut sekolah karena ingin sekolah seperti Jihoon hyung cucunya kakek Bang tapi kata momma, Kwonnie baru boleh sekolah di pe grup, jadi Kwonnie sekolah di pe grup."

Mengabaikan siapa itu Jihoon dan kakek Bang, Nyonya Kim sedikit banyak memahami apa yang diucapkan bocah yang tengah berpose aneh di hadapannya. Ia mengambil kesimpulan bahwa pe grup yang dimaksud adalah play group, alias kelompok bermain, sama seperti tingkat pendidikan Jesper.

"Kwonnie sekolah, tapi lalu tidak mau sekolah. Momma kemudian bilang Kwonnie boleh tidak sekolah jadi Kwonnie tidak sekolah dan membantu momma di rumah. Kwonnie mengawasi paman Yumi dan lain-lainnya, kalau malas nanti Kwonnie bilang supaya tidak malas. Tapi Kwonnie juga suka nonton Tv dan Pororo."

Kwonnie prenah bersekolah, namun ia tak lagi pergi sekolah. Hanya itu yang ditangkap wanita bertubuh mungil yang kini menggosok perlahan lengan bagian atasnya karena kedinginan. Selain informasi itu, rasanya Taeyeon tak perlu mengetahuinya.

"Memangnya kenapa tidak ingin sekolah lagi? Kau malas bersekolah?"

Si bocah menggelengkan kepala. Ia menguap lebar-lebar dengan kedua tangan yang berusaha menutup mulutnya.

"Kwonnie suka sekolah, tapi tidak suka teman-teman." gumamnya lirih. Sebelah tangannya menarik gelas, ia lalu menghabiskan sisa air minumnya sebelum kembali berujar. "Katanya Kwonnie tidak punya poppa. Teman-teman Kwonnie bilang Kwonnie tidak punya poppa, poppa-nya Kwonnie tidak akan pulang karena Kwonnie tidak punya. Kwonnie sudah bilang kalau poppa bekerja jauh-jauh untuk beli mainan untuk Kwonnie seperti momma bilang tapi teman-teman tidak mau dengar. Mereka menyebalkan dan tidak mau diam karena selalu bilang-bilang Kwonnie tidak punya poppa karena poppa tidak pernah menjemput pulang. Kwonnie ingin memukul mereka karena menyebalkan, tapi Kwonnie ingat momma bilang anak baik tidak memukul jadi ketika pulang dengan momma Kwonnie bilang tidak mau sekolah lagi karena tidak ingin memukul teman-teman yang menyebalkan. Momma bilang Kwonnie boleh tidak sekolah."

Lagi-lagi Nyonya Kim dibuat tertegun, kali ini oleh kalimat panjang yang diucapkan cucunya. Ia tahu betul Kim Taehyung tidak menyadari keberadaan bocah Jeon sebelum bertemu secara langsung, dan Jeon Jungkookmemilih untuk berbohong kepada putranya, mengatakan sang ayah sedang bekerja untuk mereka. Kalau dipikir-pikir, bisa saja Taehyung tidak akan pernah menyadari keberadaan balita itu. Atau, bisa jadi putra kesayangannya menolak untuk mengakui Jeon Taekwon sebagai darah dagingnya. Apapun itu, Jungkook memilih untuk meyakinkan Kwonnie bahwa ayahnya akan pulang meski entah kapan, membuat anak itu tetap menyayangi dan menghormati ayahnya.

Terlepas dari itu, jelas sekali bahwa sikap pemberani Jeon Taekwon dan segala tindak-tanduknya tidak didapatkan di sekolah, melainkan Jeon Jungkook sendiri yang mengajarkan kepada putranya.

"Ahh! Kwonnie lupaaa!" pekik balita menggemaskan sukses membuat wanita yang lebih tua terbangun dari lamunannya. Wajahnya merengut lucu, kedua tangannya menekan pipinya yang tembam. "Kwonnie lupa minta maaf sama-sama poppa…"

Ingin rasanya Nyonya Kim bertanya tentang apa yang Taekwon katakan, namun sebuah suara berat terlebih dahulu menarik atensi si bocah.

"Taekwon!" suara itu menggelegar, diikuti derap langkah tergesa. "Jeon Taekwon!"

"Hyung, tenanglah,jangan berteriak. Kau akan membangunkan semua orang." suara yang lebih lirih menanggapi. Meski suaranya tak sekeras suara pertama, kekhawatiran jelas terselip di sana.

"Persetan! Putraku hilang dan kau menyuruhku tenang!?"

"Hyung… Kwonnie anak yang pintar, ia tidak akan pergi kemanapun tanpa memberi tahu. Kita cari ke dapur, oke? Mungkin Kwonnie merasa haus."

"Poppa!" pekik Taekwon membuat derap langkah yang terdengar tergesa semakin keras menuju ke tempatnya berada.

Benar saja, Kim Taehyung muncul di pintu dapur dengan nafas terengah. Ia masih mengenakan baju tidurnya. Berjalan cepat ke arah sang putra, pria Kim lalu segera memeluknya erat.

"Astaga… kau membuat poppa khawatir."

Sebenarnya ada kemarahan terselip di sela kalimat sang ayah, namun Kwonnie yang merasa dipeluk oleh idolanya malah tertawa senang. Ia bahkan menepuk-nepuk pipi ayahnya yang tengah menatap dirinya tajam.

"Dengar poppa tidak? Kenapa tertawa?" suara Kim muda meninggi. Ia masih menatap tajam sang putra yang mulai menghentikan pekikan girangnya. Senyum di bibirnya pun perlahan memudar.

Jungkook yang melihatnya segera mendekat. Ia mengusap punggung pria yang dicintainya, mencoba menenagkan. "Poppa… tenanglah."

Kwonnie yang melihat ibunya datang langsung mengulurkan tangannya, minta digendong oleh sosok yang telah menemaninya sejak bayi. Ia langsung menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher sang ibu begitu berada di gendongannya.

Jungkook tersenyum tipis. Sebelah tangannya kembali mengusap Taehyung, kini di bagian pundak, membuat pria yang lebih tua enam tahun darinya itu menghela nafas berat. Taehyung jelas tahu bahwa balita menggemaskannya tengah merasa takut. Ia sadar betul, ekspresi wajahnya yang mengeras tidak bisa dibilang menyenangkan. Malahan, pria Kim akan terlihat menyeramkan.

"Poppa khawatir jagoan kesayangan poppa menghilang. Poppa takut Kwonnie meninggalkan poppa dan momma." Tuan Muda Kim mencium puncak kepala bocah kesayangan. Ia memberikan kecupan-kecupan ringan dan elusan di punggung kecil Taekwon. "Maafkan poppa karena membentak, hm?"

Tak butuh waktu lama, Taekwon mengangguk. Ia menolehkan kepalanya, tersenyum kepada poppa meski masih bersandar di bahu ibunya. Ekspresi wajahnya terlihat mengantuk. Sebelah tangan si balita terangkat untuk mengucek mata.

"Tapi Kwonnie haus lalu mencari minum sendiri tapi dibantu halmoni karena anak kecil tidak sampai mengambil gelas yang tinggi."

Kim Taehyung terkekeh. Ia mencium gemas Kwonnie sambil memperingatkan supaya bocah itu tak lagi keluar kamar tengah malam sendirian, apalagi menuruni tangga tanpa pengawasan karena itu berbahaya. Cara bicaranya yang lembut dan penuh pengertian membuat balita berusia empat mengangguk patuh dan berjanji kepada sang ayah untuk tidak mengulangi tindakannya malam ini.

Entah sudah berapa kali Kim Taeyeon dibuat bungkam oleh bocah berpiyama kuning itu. Putranya yang selalu bicara menggunakan nada yag terkesan tegas kini terlihat begitu pengertian saat menghadapi sosok anak kecil dengan mata bulat yang tengah menunjukkan cengiran kotaknya. Taehyung sungguh terlihat berbeda. Masih Kim Taehyung, memang. Namun ada kehangatan yang hanya muncul saat putra kebanggaannya itu berhadapan dengan bocah yang katanya adalah cucunya.

Ia diam, tak merespon apapun saat pemuda bernama Jeon Jungkook tersenyum ke arahnya. Rambut sewarna madu Jungkook sedikit bergoyang saat menundukkan kepalanya selama beberapa saat. Mungkin ia ingin membungkuk, namun karena sang putra berada di dalam gendongan, yang mampu dilakukannya hanya menunduk.

"Ya sudah, Kwonnie kembali tidur, oke? Ucapkan selamat malam kepada halmoni."

Bocah Jeon mengangguk setuju dengan ucapan poppa. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya di dalam gendongan momma, pertanda ingin turun. Taekwon langsung setengah berlari mendekati neneknya yang masih duduk di kursi. Tangan kirinya terulur menarik ujung gaun tidur sang nenek.

Katakanlah Kim Taeyeon tersihir karena saat dirinya tersadar, ia sudah mencondongkan tubuhnya ke arah si balita, mendapatkan kecupan hangat di pipi dan ucapan selamat malam yang entah bagaimana membuatnya merasa… aneh.

"Selamat malam, halmoni cantik selamat tidur tapi berdoa sebelum tidur agar mimpi indah."

Setelahnya, si balita segera berlari untuk kembali minta digendong ibunya.

Kim Taehyung yang baru saja meletakkan gelas kosong putranya di tempat cuci piring juga menghampiri Taeyeon, memberikan kecupan di pipi satunya. "Selamat malam, eomma. Terima kasih telah menjaga putraku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau eomma tidak di sini bersamanya."

"Selamat malam, Nyonya Kim. Terima kasih." kali ini Jeon Jungkook yang bicara. Ia berusaha membungkukkan tubuhnya meski dengan Kwonnie yang menggelendot manja.

Setelahnya, keluarga kecil itu meninggalkan dapur yang kembali sunyi, menyisakan Kim Taeyeon yang terdiam di kursinya.

Ahh… sudah lama sekali sejak Kim Taehyung menciumnya dan mengucapkan terima kasih dengan begitu tulus.

.

.

.

TBC

.

.

.

I might take some rest from writing and all of my social media, but I'll probably on sometimes. I'll be mostly on instagram, tho