"Kau terlihat serius dengan pakaian anak-anak yang kau bilang." gumam Tuan Kim sembari memperhatikan layar laptopnya. Di sana tertera layout presentasi yang sempat ditunjukkan sang putra kepada para investor.
Taehyung memijit pelipisnya, duduk santai di hadapan sang ayah yang duduk di kursi kerjanya. Mereka terpisah sebuah meja. "Aku sangat serius, appa."
"Dapat ide dari mana?"
Ini dia.
Taehyung tersenyum miring, hanya sekilas, sebelum ia menegakkan dirinya, terlihat percaya diri saat bicara. "Balitaku, tentu saja."
Kim Junsu menghentikan aktifitasnya membaca deretan kata yang tertera di laptop. Sepasang netranya segera beralih menatap sang putra yang tampak serius, namun menunjukkan senyum lebar penuh kebanggaan.
Mendadak ia menyesal telah bertanya.
"Well, sebenarnya mungkin karena rasa bersalahku kepadanya sebab aku tidak ikut merawatnya sejak masih di dalam kandungan, bahkan aku baru sadar jika dirinya ada setelah usianya menginjak empat tahun." Taehyung terkekeh. Senyumnya sedikit luntur saat bicara, tetapi ia tak merasa malu sama sekali ketika mengakui kesalahannya di depan sang ayah. "Kwonnieku masih tergolong beruntung karena Jungkookku adalah sosok yang tegar. Ia tumbuh dengan baik meski tanpa ayahnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anak yang tinggal di panti asuhan mendapatkan kebahagiaan dan kehangatan sebuah keluarga. Entahlah, appa. Melihat Taekwon membuatku ingin membantu sebanyak mungkin anak-anak di Korea Selatan untuk mendapatkan kebahagiaan."
Tuan Besar Kim menghela nafas. Ia mengambil cangkir kopi di mejanya, lalu sedikit menyesap. Diletakkannya kembali cangkir itu perlahan sebelum ia kembali bicara. "Bagaimana jika aku tidak menyetujui project ini?"
"Aku tetap akan melakukannya. Kau memang masih menjadi pemilik perusahaan, tapi segala sesuatu, aku yang memutuskan."
Santai, namun tegas.
Dan Kim Junsu hanya bisa menghela nafas.
Mereka terdiam selama beberapa saat, sama-sama menikmati secangkir kopi buatan bibi Song. Taehyung tahu, ayahnya masih ingin bertanya, dan ia akan menanggapinya dengan senang hati.
"Kau terlalu terobsesi pada mantan jalangmu itu, Tae." Junsu menjadi yang pertama memecah keheningan. Ia menegakkan duduknya, menatap tajam sang putra. "Aku ingin bilang, mungkin saja bocah itu bukan anakmu, tapi kalian berdua sangat mirip, jadi aku tidak akan protes soal status Taekwon sebagai anakmu. Perlu kau tahu, kita bisa merawat Taekwon dengan baik meski tanpa ibunya. Kim Taekwon akan menjadi pewaris selanjutnya jika itu yang kau inginkan. Ia masih kecil, mudah untuk menggiringnya supaya tak mengingat pemuda itu."
Taehyung memejamkan matanya sesaat, tangannya saling meremat hingga buku-buku jarinya memutih. Kalau boleh, Kim yang lebih muda ingin menghajar sosok di hadapannya yang telah dengan kurang ajar menyematkan lebel kepada sang kekasih. Meski begitu, ia masih bisa berpikiran waras. Kim Junsu adalah ayahnya, sosok yang harus dihormatinya. Maka Taehyung berusaha menjaga sikapnya, meski yang dilakukannya adalah membangkang.
"Aku yang tidak bisa jika tidak ada Kim Jungkook, appa. Lagipula kau harus membayar mahal, dalam artian yang sebenarnya, jika ingin menyingkirkan calon istriku. Vante berhutang banyak padanya, jadi gengsimu yang tinggi itu pasti tidak ingin publik mengetahuinya."
Kepala keluarga Kim baru saja ingin bertanya, tapi suara ribut di luar ruang kerja yang diiringi teriakan heboh seorang bocah membuatnya mengeryit keheranan. Sang putra bergerak lebih cepat, ia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.
"POPPAAAA! PAA…PAA POPPAAAAAA!"
Suara itu terdengar begitu panik, sarat akan ketakutan dan pekikan yang bergetar, menunjukkan bahwa pemiliknya tengah menangis.
.
A fanfiction, the continuation of "Puzzled"
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung
Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rated: M for the language and theme, and yeah
Warning: OC for Taekwon.
Ambigu, TYPO tak tertahankan, m-preg (?)
.
.
"Painted"
Part XIV: Paint It
"Kwonnie bisa superhero landing. Poppa Kwonnie tidak bisa tapi terus bisa setelah Kwonnie ajari, tapi belum oke karena masih salah terus-terus." gumam Jeon Taekwon. Ia merasa kemampuannya melakukan pendaratan ala pahlawan super adalah sesuatu yang patut untuk dibanggakan.
Mata bulat Jesper berkedip. Ia tengah menonton kartun dengan robot yang melompat lalu mendarat di jalanan. Setelahnya, tiba-tiba sepupu kecilnya menyeletuk begitu saja. Bocah bermarga Park mencebik lucu sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Bohong."
"Apa bohongnya?" Kwonnie menyahut cepat. Dirinya sungguh merasa tidak mengatakan sedikitpun kebohongan.
"Bohong bilangnya bisa superhero landing itu hanya superhero yang bisa."
Bocah Jeon tersenyum lebar. Ia lalu merebahkan diri ke sofa, mendesakkan tubuh kecilnya ke sandaran sebagai ancang-ancang untuk melakukan pendaratan ala pahlawan super. "Kwonnie akan lakukan superhero landing. Katanya momma, Kwonnie anak jagoan. Mungkin karena anak jagoan jadinya Kwonnie seperti superhero. Lihat yang baik-baik Kwonnie bisa."
Tanpa menunggu jawaban dari bocah Park yang masih tak percaya bahwa kenalan barunya bisa melakukan pendaratan ala pahlawan super, Taekwon menggelindingkan tubuhnya hingga ke tepi sofa. Tanpa ragu ia berbalik cepat kala merasa dirinya berada di pinggiran tempat duduk itu, lalu mulai melakukan pendaratan seperti yang biasa ia lakoni.
Sempurna.
Terntu saja Jeon Taekwon melakukannya dengan sempurna. Ia adalah balita yang paling jago melakukan superhero landing. Setidaknya, itu menurut Kwonnie sendiri.
Bocah berpipi tembam itu tersenyum puas ke arah Jesper saat lutut kanannya menyentuh lantai, sementara tangan kanannya menyangga tubuh sebagai tumpuan. Lengan kiri terbuka sebagai penyeimbang dan pemanis supaya posenya semakin keren.
"Lihat Kwonnie bisa seperti superhero. Kwonnie tidak bohong soalnya momma bilang anak baik tidak bohong."
Park Jesper mendengus. Ia berjalan mendekati sofa dengan wajah yang ditekuk, tak suka saat bocah pendek yang katanya adalah anak Paman Tae menunjukkan kemampuannya. Jesper merasa dirinya pasti bisa melakukan landing dengan lebih baik. Lagipula ia lebih tinggi dan lebih keren dari Kwonnie, pendaratannya nanti pasti akan lebih oke juga.
"Minggir-minggir dari sana nanti tertimpa Jesper superhero sungguhan."
Jeon Taekwon membuat ekspresi aneh, tapi ia tetap menyingkir karena bagaimanapun juga, tertimpa seseorang sepertinya bukan sesuatu yang menyenangkan. Rasanya pasti sakit.
Taekwon memang berada di ruang keluarga kediaman Kim, menonton televisi bersama sepupunya sejak ia, momma dan poppa sarapan bersama halmoni, haraboji, Paman Chan dan Paman Baek, juga Jesper selesai sarapan. Taekwon diminta oleh ayahnya untuk menunggu di sana sebelum mereka kembali ke rumah sementara sang ayah sendiri entah melakukan apa di ruang kerja kakeknya. Ia menurut saja karena ketika sarapan bersama, poppa tidak menyebalkan dan bahkan mau memangkunya,
Poppa ada urusan dengan haraboji, sementara momma membantu Bibi Song membereskan piring dan gelas yang digunakan untuk sarapan, Kwonnie menunggu di ruang keluarga sambil menonton televisi, lalu setelah momma dan poppa selesai, mereka akan pulang bersama. Kwonnie cukup senang ketika Jesper datang dan ikut menonton kartun bersamanya, tapi Kwonnie tidak senang saat Jesper mengatainya berbohong ketika ia bilang bahwa dirinya bisa melakukan superhero landing.
Dan disinilah bocah Jeon berada. Ia berdiri agak jauh dari sofa sambil memperhatikan Park Jesper yang bersiap-siap untuk melakukan landing sepertinya.
"Tapi hati-hati kalau nanti jatuh bisa sakit seperti poppa pernah jatuh. Anak keren tidak menangis kalau jatuh." Taekwon memperingatkan. Sepasang mata bulatnya memandangi Jesper yang terlihat percaya diri.
Meski begitu, putra pasangan Park nampaknya tidak mau peduli. Ia merasa hebat dan malah menggelindingkan tubuhnya dengan asal-asalan, membuat tubuhnya jatuh sempurna di lantai sebelum lanjut menggelinding dan menabrak kaki meja.
Bocah itu menangis keras seketika, membuat Jeon kecil yang melihatnya panik dan langsung berlari mendekat. Kedua tangan kecilnya berusaha membantu Jesper berdiri.
Lantai di bawah mereka memang dilapisi karpet hangat. Meski saat terjatuh mungkin tidak akan terlalu sakit, namun menabrak kaki meja pasti menyakitkan.
"Jesper suutttt. Tidak apa-apa jatuh itu jagoan bisa jatuh tapi tidak menangis." gumamnya mencoba menolong Park kecil.
Putra kesayangan Baekhyun masih saja menangis meski sekarang ia sudah berdiri. Suaranya yang keras membuat kedua orangtuanya, yang tadi entah berada di mana, berlari panik menghampiri.
"Ya ampun, sayang… ada apa?" Baekhyun segera mengangkat bocah yang selalu ia manjakan. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengusap dahi Jesper yang memerah. "Kenapa bisa begini, hm? Siapa yang nakal?"
Park Jesper menunjuk Jeon Taekwon yang masih berdiri di dekat meja, masih sambil menangis.
"Kau!" kali ini kepala keluarga Park yang bersuara. Sepasang mata bulatnya menatap tajam si kecil Kwonnie yang mulai terlihat ketakutan. "Apa yang kau lakukan kepada Jesper!?"
Suara Park Chanyeol terdengar sangat keras di telinga Kwonnie, ia bahkan berjenggit kaget.
Dan balita menggemaskan yang tengah dihakimi hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia bergumam kelewat lirih. "Kwonnie tidak nakal."
"Suruh gelinding tapi mendarat seperti superhero tidak bisaaaaa!" Park Jesper mengadu dalam satu tarikan nafas lalu ia lanjut menangis keras.
Tuan Park marah, tentu saja. Ia mengasumsikan bahwa anak kesayangannya dipaksa menggelinding oleh Taekwon sampai-sampai Jesper terjatuh dengan dahi yang memerah.
"Kau." suaranya terdengar penuh amarah, dan Chanyeol mulai berjalan mendekati keponakannya. "Bocah sial."
Jeon Taekwon tidak begitu mendengar apa yang diucapkan sang paman, namun ia merasa harus segera mencari poppa untuk meminta bantuan.
Maka sepasang kaki kecil itu bergerak secepat yang ia bisa, membawanya ke arah yang seingatnya menuju pintu ruang kerja sang kakek, tempat dimana poppa berada.
"Poppa…" gumamnya pelan, masih berlari, namun cengkeraman kuat yang tiba-tiba menyakiti lengan kanannya membuat Jeon mungil berteriak keras. "POPPAAAA! PAA…PAA POPAAAAAA!"
Sepasang mata bulat Kwonnie bergetar saat ia mendapati Paman Chan tengah menahan kuat-kuat lengannya.
"Uhh… lepas! Lepaaas mau poppaaaa!" Kwonnie mencoba meloloskan diri. Ia tidak tahu apa yang akan Paman Chan lakukan, tapi cengkeraman di lengannya jelas terasa sakit, dan wajah sang paman terlihat sangat menyeramkan.
Kim Taehyung yang baru saja keluar dari ruang kerja ayahnya menggeram marah kala mendapati suami dari sepupunya tengah berbuat kasar kepada sang putra, pria bertubuh tinggi itu bahkan tengah menaikkan sebelah tangannya. Prediksi Taehyung, jagoan kecilnya akan terkena pukulan.
Berpikir cepat, ia memperhitungkan bahwa dirinya tak akan sempat menyelamatkan balita kesayangannya meski dirinya berlari, maka dengan nekat ditariknya lepas sepatu yang ia kenakan. Dengan sekuat tenaga, Kim Taehyung melemparkan sepatunya hingga tepat mengenai kepala Park Chanyeol.
"Bangsat!" pria bertubuh tinggi itu langsung melepaskan cengkeramannya, mengelus pelipisnya yang berdenyut akibat terkena bagian keras sol sepatu yang dilempar sekuat tenaga.
Jeon Taekwon memanfaatkan kesempatan dengan berlari menuju sang ayah yang juga tengah menghampiri dirinya.
"Poppaa…" si bocah merengek dengan wajah yang memerah dan mata berair, ia mengulurkan kedua tangan kepada sososk superhero berpakaian kasual yang langsung mengangkatnya, memeluknya erat ke dalam dekapan.
"Sshhh… tidak apa-apa, sayang. Poppa di sini, tidak apa-apa." gumamnya sambil menimang bocah kesayangan. Sebelah tangannya Taehyung gunakan untuk memeluk dan mengusap kepala Kwonnie, sementara yang satu masih sempat-sempatnya mengacungkan jari tengah kepada pria Park.
"Keparat, Kim!" umpat kepala keluarga Park keras.
"Pulan, uhh mau puwlang pwaa.."
Kim Taehyung tahu, putranya benar-benar menangis sekarang. Sepasang lengannya kini memeluk dan mengusap pelan kepala balita kesayangan, namun sepasang matanya menatap tajam sosok tinggi yang menghampirinya penuh amarah.
"Hyung, ada apa?"
Taehyung menolehkan kepala, mendapati sang kekasih yang berada di sampingnya. Nafas Jungkook yang terengah dan wajahnya yang terlihat panik membuat pria Kim berasumsi bahwa Jungkook berlari dari dapur setelah mendengar teriakan putra mereka.
"Bawa Kwonnie ke mobil, Kook." Taehyung bergumam dengan nada kelewat datar, ia menyerahkan jagoan ciliknya. "Tolong."
Jeon Jungkook ingin melontarkan begitu banyak pertanyaan, namun tatapan mata dan cara berbicara pria pujaannya membuat Jungkook memilih untuk diam dan menurut tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ia sempat menundukkan kepala kepada Tuan Kim yang berada di sana, juga Nyonya Kim yang sedang melangkah turun darii tangga. Setelahnya, Jungkook berlalu sambil mendekap putranya yang sesenggukan sambil menyembunyikan wajah di leher sang bunda.
Taehyung menangkap gerakan kepala keluarga Park yang seolah ingin mengejar jagoan ciliknya, namun ia segera mencekal kuat pergelangan tangan Park Chanyeol.
Belum sempat suami Baekhyun itu melayangkan protes, ia sudah terlebih dahulu mendapat pukulan telak di rahang kanannya. "Bayaran karena kau membuat anakku menangis."
Park Baekhyun memekik keras, ia mengumpat. Tangannya refleks menenggelamkan wajah putranya di bahu supaya tidak melihat ayah kebanggaannya dipukuli.
"Kim Taehyung! Apa-apaan!" Nyonya Kim setengah berlari menghampiri putranya yang masih mencengkeram Chanyeol.
"Lihat dengan siapa kau bicara, Kim Taehyung." Park Chanyeol balas menarik kerah kemeja yang dikenakan Taehyung. Sebelah tangannya terangkat, bersiap membalas pukulan yang barusan ia dapat.
Kedua pria beranak satu itu terlihat begitu barbar, tak mempedulikan sama sekali tuan rumah, juga Baekhyun dan beberapa asisten rumah tangga yang menatap dari kejauhan.
Pewaris Kim tersenyum miring. Ia segera menepis lengan Chanyeol. "Lihat dengan siapa kau bicara, Park Chanyeol. Jika sedikit saja kau menyentuh putraku, aku tak segan-segan mencabut saham yang kutanamkan di perusahaanmu. Aku tidak akan peduli jika nantinya kau bangkrut dan menjadi gelandangan di jalan."
Pria yang lebih tinggi menggeram marah. Ia merasa begitu diremehkan, apalagi posisi Kim Taehyung lebih muda beberapa tahun darinya. Lepas dari itu, ia sungguh merasa bahwa dirinya harus memberi pelajaran kepada ayah dari bocah yang membuat anaknya menangis.
Tapi Taehyung memang memegang kewenangan tertinggi di Kim Enterprise saat ini. Salah langkah, bisa-bisa perusahaan miliknya bangkrut dengan mengenaskan.
"Sial."
.
.
.
.
.
"Mommwa…" rengek bocah berusia empat yang duduk di pangkuan ibunya. Sepasang lengannya masih memeluk erat, namun wajahnya yang tadi bersembunyi kini mendongak. Ia masih sesekali terisak meski tidak lagi menangis keras.
"Kenapa, hm? Jagoan momma kenapa menangis?" Jungkook mencoba tersenyum walau hatinya berdenyut nyeri saat melihat raut ketakutan di wajah putra kesayangannya.
"Kwonnie takut Paman Chan." cicitnya lirih. Bocah itu masih menatap sepasang netra ibunya. "Kwonnie tidak suruh-suruh Jesper superhero landing tapi hanya melakukan superhero landing karena Jesper bilang Kwonnie bohong bilang bisa seperti superhero tapi anak baik tidak bohong jadi Kwonnie menggelinding seperti di rumah lalu seperti pahlawan super keren. Jesper bilang minggir-minggir lalu ikut-ikutan superhero landing tapi menggelinding terus sampai meja. Kwonnie tidak suruh-suruh Jesper, tapi Jesper bilang Kwonnie yang menyuruh lalu Paman Chan marah tadi Kwonnie dipegang erat yang di sini sakit."
Pemuda Jeon tersenyum miris saat putranya dengan polos menunjuk bagian lengan, tepat dimana ia dicengkeram. Rasanya semakin ingin menangis saat ia menggulung lengan kaos balitanya dan menemukan ruam kemerahan di sana. Perlahan diusapnya bagian itu, lalu dibubuhkannya ciuman kupu-kupu sebanyak tiga kali sebelum beralih mencium kening putranya.
Ia merasa bersalah.
Jeon Jungkook tidak tahu mengapa, tapi ia benar-benar merasa bersalah atas apa yang menimpa sang putra.
Bibirnya bahkan bergetar saat kembali mencium bagian yang katanya sakit, lalu Jungkook memeluk erat jagoan ciliknya.
"Maafkan momma, sayang… maafkan momma." bisiknya lirih hampir tak terdengar. Ia mencium mengusap kepala balitanya tanpa henti.
Jeon Taekwon yang tak mendengar dengan jelas ucapan momma-nya hanya mengangguk, mengira momma tengah mengucapkan bahwa momma menyayanginya. Anak berusia empat tahun itu hanya mengusekkan kepala ke dada sang ibu. Bibirnya masih mencebik meski dirinya sudah benar-benar berhenti menangis. Kwonnie lalu merengek pelan. "Poppa lama mau pulang."
Jungkook menjawabnya dengan gumaman, tak berniat memberikan jawaban pasti karena ia sendiri tak tahu akan selama apa mereka harus menunggu sang claon kepala keluarga. Yang jelas, Kim Taehyung tadi terlihat marah, sangat. Dan Kim Taehyung yang marah bukanlah hal yang bagus. Ia tak tahu apa yang dilakukan Taehyung di dalam, dan ia tak ingin mengetahuinya.
Jeon Jungkook benar-benar tengah merasa bersalah kepada putra semata wayangnya. Dan hanya itu yang saat ini memenuhi pikirannya.
Kalau saja Taekwon kecilnya tidak lahir darinya, mungkin ia akan menjadi bocah yang bahagia dengan semua orang yang mencintainya.
"Poppa!" pekik bocah Jeon.
"Uhh… uhh… poppa." Kwonnie melepaskan diri dari dekapan ibnya, ia merangkak ke pangkuan sang ayah. Sepasang tangan kecilnya terulur mengusap pipi ayahnya. "Uu… sakit?"
Jungkook menoleh, memfokuskan pandangannya pada wajah sang kekasih yang terlihat kacau. Hanya ada satu memar di sudut bibir sebelah kanannya, tidak parah. Hanya saja, ekspresi menahan amarah yang masih kentara terlihat sedikit menakutkan, mengingatkannya kepada sosok Kim Taehyung yang dulu.
Yang ditanya tidak menjawab. Pria bersurai gelap itu hanya lurus menatap ke depan, lalu menjalankan mobilnya untuk keluar dari halaman luas kediaman Kim. Ia bahkan mengabaikan putra kesayangannya yang tengah menepuk-nepuk pipi dan menyentuh luka di sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah dengan telunjuk mungilnya.
Pemuda Jeon menghela.
Kim Taehyung memang selalu seperti ini jika ada yang membuatnya marah.
Maka dengan sangat hati-hati disentuhnya lutut pria pujaannya. Jungkook mengusap dengan perlahan, dan ia tersenyum saat penyandang marga Kim melirik ke arah tangannya yang tengah berada di atas lututnya.
"Paa, paa, poppa belum pakai sabuk pengaman, nanti dugu-dugu bisa terbang-terbang." balita Jeon berceloteh saat ia menyadari ayahnya belum mengenakan sabuk keselamatan, tubuhnya bergoyang ke kiri dan kanan, memperagakan gerakan mobil yang terkena guncangan. Seingatnya, naik mobil harus memakai sabuk pengaman, itu yang dikatakan poppa, juga beberapa tokoh kartun yang ia tonton.
Sang ayah menghela, diciumnya puncak kepala putra kesayangan, lalu ia segera menepikan mobilnya.
Kalau boleh jujur, pria Kim ingin mengamuk, tapi keberadaan putranya yang begitu menggemaskan membuatnya tidak memiliki pilihan selain menepis jauh-jauh amarahnya.
"Poppa lupa, sayang." gumamnya pelan sambil mencoba tersenyum ketika mobil sudah benar-benar berhenti.
Pria Kim kemudian memasang seat belt-nya. "Sudah."
Bocah berusia empat mengangguk puas. Ia tak lupa memastikan jika ibunya juga sudah memakai sabuk keselamatan. Mendapati sang momma yang sudah rapi, Kwonnie tersenyum lebar.
"Duduk dengan momma, ya?"
Kali ini si bocah cemberut. Ia sedikit menggeleng, lalu mencoba menyisipkan dirinya sendiri ke dalam lilitan seat belt yang ayahnya kenakan. Jelas sekali bahwa balita itu kini ingin duduk di pangkuan poppa sampai ke tujuan, seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
"Makanya kubilang jangan terlalu memanjakannya." Jungkook mengomel pelan, sepasang lengannya mengangkat tubuh sang putra. Ia melepas sabuk pengaman, lalu kembali mengaitkannya setelah Kwonnie berada di pangkuan.
Bocah Jeon langsung meronta. Ia merengek minta dipangku poppa.
Kim Taehyung yang sebenarnya masih merasa sedikit kesal atas apa yang terjadi di rumah keluarga Kim tadi hanya terkekeh, sebelah tangannya terulur untuk mengacak surai lurus jagoannya.
"Uuhhuuuu Kwonnie mau menyetir tapi tidak diberantakkan rambut."
Sang ayah tertawa saat melihat pipi Taekwon menggembung dan bibirnya mengerucut.
Bocah itu terlihat sangat lucu, seolah dirinya tak pernah mengalami masalah dan merasa kketakutan seperti beberapa menit yang lalu.
"Kwonnie duduk dengan momma. Kalau Kwonnie menurut, hari ini kita akan main ke Lotte World."
"Tote Wod?" si bocah membeo, sepasang mata bulatnya memberi tatapan menyelidik kepada sang poppa. Setelah mendapat anggukan, ia menolehkan kepalanya ke belakang, sedikit mendongak untuk menatap ibunya. "Tote Wod itu apa?"
"Taman bermain." jawabnya singkat.
Jika boleh jujur, tidak hanya Kim Taehyung yang sedang dalam suasana hati yang buruk. Jeon Jungkook juga sedang tidak dalam mood yang baik, dan membetulkan ucapan Kwonnie saat ini dirasa sebagai sesuatu yang sedikit merepotkan baginya. Pria Kim yang biasanya bersemangat mengajari balita mereka untuk mengucapkan kosa kata baru pun kini nampak enggan mengulangi pelafalan yang benar supaya ucapan Taekwon tidak salah.
Tidak apa, mereka bisa mengajarinya nanti ketika keduanya merasa lebih baik. Untuk sekarang, biarkan seperti ini terlebih dahulu.
"Ada mainan?" Kwonnie bertanya semakin antusias, sepasang netranya berbinar. Ia merasa senang, sekaligus penasaran.
Taehyung mengangguk, kali ini mencubit gemas pipi Kwonnie main-main. "Banyak mainan besar. Kwonnie juga bisa membeli eskrim dan permen kapas. Mau?"
"Mauuu!" balita Jeon memekik senang. Ia lalu menyamankan duduknya, menghadap ke depan, lalu menepuk-nepuk paha sang ayah. "Kwonnie duduk sama momma tapi poppa menyetir cepat ke taman bermain Tote Wod."
Sebenarnya, Jungkook ingin supaya mereka kembali ke rumah sang kekasih saja.
Batinnya masih terasa sesak dan lelah, namun kedua lelaki yang begitu disayanginya terlihat bersemangat untuk bermain dan bersenang-senang.
Maka ia akan menurut saja, asalkan jagoan ciliknya bisa melupakan perlakuan buruk pamannya sendiri.
Tak tahu saja Jungkook bila Kim Taehyung juga harus menahan sesak di dadanya dan berpura-pura bersemangat supaya sang putra kesayangan bisa kembali tersenyum.
.
.
.
.
.
Kim Taehyung menghela nafas berat. Ia melirik balitanya yang tertidur di pangkuan sang kekasih, menggelendot seperti bayi koala. Punggung si bocah diusap lembut oleh Jungkook yang lirih menggumamkan senandung merdu.
Sedikit banyak Taehyung bisa tersenyum kala melihat wajah damai sang putra yang menoleh ke arahnya. Bocah manisnya terlihat begitu polos, sangat tenang dan tanpa beban.
Kalau boleh, pria Kim ingin putranya terus seperti itu.
Senang,
Bahagia,
Tak pernah merasakan sakit.
"Lampu hijau, hyung." gumam pemuda Jeon tiba-tiba. Ia menatap pemilik hatinya, memberi isyarat supaya pria yang tengah mengemudi itu segera menjalankan mobil yang mereka tumpangi.
Taehyung segera mengalihkan pandangannya ke depan, tangan dan kakinya bergerak cekatan mengendalikan tuas dan roda kemudi sehingga mobil yang tadinya berhenti, kini berjalan di bawah langit senja yang berwarna keemasan.
Keduanya sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing yang terasa rumit dan berat.
Seharian tadi mereka bersenang-senang dengan balita Jeon yang tampak bersemangat kala menaiki berbagai macam wahana dan mengambil begitu banyak foto. Kwonnie menginginkan beberapa benda untuk dibawa pulang, dan sang poppa tentu membelikannya dengan suka rela. Bocah itu benar-benar bahagia karena poppa dan momma menemaninya bermain seharian. Tak heran Jeon kecil kelelahan dan tertidur pulas di pangkuan ibunya ketika pulang.
Jungkook masuk ke dalam kamar utama sesampainya ia di rumah yang kelak akan menjadi tempat tinggalnya juga. Ia lalu menurunkan sang putra dari gendongannya ke atas kasur dengan hati-hati. Ditepuk-tepuknya perlahan paha Kwonnie kala bocah itu menggeliat di dalam tidurnya. "Sshhh… tidur lagi, sayang. Tidur lagi."
Taehyung yang sejak tadi berjalan di belakang sang pujaan hati tersenyum tipis.
Kedua orang di hadapannya, kedua orang di hadapannya adalah sosok yang ingin pria Kim bahagiakan, sosok yang ingin disandingnya hingga ia menua kelak.
"Mandilah, hyung. Aku akan buatkan makan malam untuk kita." Jungkook beranjak dari ranjang, berjalan mendekati sang kekasih, lalu memberikan kecupan singkat di pipi. "Kwonnie mungkin tidak akan bangun sampai besok pagi karena kelelahan setelah bersenang-senang seharian ini."
Kim Taehyung tidak menjawab, namun sepasang lengannya langsung terulur untuk memeluk pinggang pemuda Jeon. Dibalasnya kecupan pada pipinya dengan ciuman singkat pada bibir Jeon. Setelahnya, ia memilih untuk menenggelamkan wajah ke perpotongan leher dan bahu sosok yang lebih muda.
Jungkook mengalungkan kedua lengan, diusapnya lembut tengkuk Pria Kim. Ia tahu, dirinya memiliki banyak hal yang membebani pikiran, begitupun dengan pria yang merupakan calon suaminya.
Keduanya sempat terdiam selama beberapa saat dengan posisi masih saling berpelukan hingga Taehyung memutuskan untuk bicara.
"Aku berpikir untuk menukar ranjang di kamar ini dengan ranjang di kamar tamu atau ranjang di kamar tengah. Bagaimana menurutmu?" pria yang lebih tua bergumam, sedikit menggoyangkan tubuhnya, namun tak sedikitpun ia berminat untuk melepas pelukan. "Agar nyaman ditempati bertiga."
Pemuda Jeon tertawa lirih, tubuhnya ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti gerakan sang kekasih. Ia menjawab dengan suara jenaka. "Tidak ingin membeli yang baru saja, hm"
"Inginnya begitu, tapi nanti calon istriku pasti mengomel karena aku boros, aduh!"
Alasan yang dilontarkan penyandang marga Kim harus diakhiri dengan keluhan sakit karena Jungkook mencubit pinggangnya. Meski tidak bersungguh-sungguh, cubitan seorang Joen Jungkook mampu membuatnya merasakan ngilu.
"Kau mengataiku tukang mengomel?" Jungkook melepaskan pelukannya, ia melayangkan tatapan protes kepada calon kepala keluarga Kim dengan bibir yang membentuk pout karena kesal.
Protes itu hanya dijawab pria Kim dengan tawa lirih. Ia malah menempelkan keningnya ke kening pemuda bersurai madu, lalu sedikit menggesek ujung hidung mereka perlahan.
Kalau boleh jujur, isi kepala Kim Taehyung saat ini sedang sangat kacau. Ingin tidur secepatnya, tapi masih ingin menikmati waktu lebih lama dengan sang kekasih. Selain kedua hal yang membuatnya bimbang, perutnya terasa keroncongan karena ia sungguh lapar.
Katakanlah bahwa ini adalah hal yang memalukan, tapi perut sang pewaris Kim Enterprise benar-benar berbunyi, dan itu membuat Jungkook terkekeh.
"Mandilah, aku akan memasak, sekalian untuk berjaga-jaga kalau jagoan kita bangun tengah malam dan mengeluh lapar." sekali lagi, Jeon menjauhkan tubuh mereka berdua. Dibelainya lembut rahang tegas Taehyung, lalu ia meghadiahinya dengan kecupan singkat.
"Pesan makanan saja, kau pasti lelah juga."
Jungkook terdiam sejenak, berpikir. Sejujurnya ia juga merasa lelah, bukan hanya tubuh, tetapi batinnya juga. Maka dengan sebuah anggukan, ia menyetujui usul sang calon suami.
"Aku mau burger dan kentang goreng."
Taehyung mengacungkan jempolnya sebelum berjalan keluar kamar untuk mengambil ponsel yang ditinggalkannya di pantry dapur. "Aku akan mandi di kamar sebelah, kau bisa gunakan kamar mandi di sini."
Dan Jungkook menghela nafas setelah pujaannya menghilang di baljk pintu. Ia lalu masuk ke kamar mandi dan kembali dengan sebaskom air dan pakaian ganti untuk bocahnya yang terlelap. Bagaimanapun, balita berusia empat itu beraktivitas seharian, tubuhnya pasti lengket dan tidak nyaman.
Jungkook tersenyum lembut saat ia membasuh buah hatinya dengan wash lap. Sudut bibirnya bergetar kecil kala ia berusaha meredam nyeri di ulu hatinya. Ia jelas mengingat bagaimana keluarga besar calon suaminya memperlakukan dirinya dan buah hati kesayangannya. Tak masalah sebenarnya jika hanya dirinya yang harus terluka, tapi ia sungguh tak ingin Taekwon yang tak tahu apa-apa ikut terkena imbas dari ketidaksukaan keluarga Kim terhadap dirinya. Min Yoongi dan Kim Seokjin menjadi pengecualian, begitupun dengan pasangan Irene dan Bogum yang telah dikenalnya terlebih dahulu. Meski demikian, keluarga besar Taehyung bukan hanya terdiri dari para sepupu yang kemarin ditemuinya. Pasti masih ada paman dan bibi yang entah bagaimana nanti reaksinya ketika mereka bertemu.
"Semoga mereka menyukaimu, hm? Iya, sayang. Sebentar, momma sedang memakaikan Kwonnie piyama lucu. Lihat, gambarnya Optimus Prime. Tidur yang nyenyak, oke? Momma ada perlu dengan poppa." bibir Jungkook bergumam seraya tangannya dengan cekatan memakaikan baju tidur di tubuh putranya yang merengek risih. Sepasang matanya masih terpejam, namun kedua tangannya bergerak-gerak mencoba menjauhkan tangan ibunya.
Pemuda Jeon memberikan kecupan singkat di kening dan ucapan selamat malam sebelum ia berjalan untuk membasuh dirinya sendiri di kamar mandi.
.
.
.
Kim Taehyung mendudukkan dirinya di karpet yang melapisi lantai ruang tengah setelah meletakkan berbagai pesanan yang baru saja datang. Ia menyandarkan kepalanya pada sofa, merasa bosan dengan acara musik di televisi. Diangkatnya lengan kiri untuk selanjutnya ia letakkan di atas wajahnya, menutupi mata.
Ia hampir tertidur saat merasakan seseorang mendudukkan diri di sampingnya, lalu menyandarkan kepala di bahunya. Taehyung memindah tangan kirinya, dan bibirnya tersenyum tipis ketika mendapati Jungkook tengah menyantap burger yang ia pesan.
"Bersihkan tanganmu dulu." omel yang lebih muda sambil menepis tangan pria Kim yang hendak mencomot sepotong paha ayam. Dagunya menunjuk tissue basah yang tadi dibawanya.
Mau tak mau, Kim Taehyung menurut.
Ia memakan ayam goreng dengan sebelah lengan yang memeluk pinggang sang kekasih. Sepasang netranya menatap layar televisi yang menyala meski pikirannya melayang entah kemana.
"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku." gumamnya seraya melirik pemuda yang kini sedang menyeruput latte blend yang ia pesan. "Aku ingin mencabut sahamku di perusahaan Chanyeol, juga memutus seluruh kontrak kerja. Bagaimana menurutmu?"
Tangan Jungkook yang hendak menaruh kembali minumannya sempat berhenti di udara selama tiga detik. Setelah berhasil melanjutkan aktivitasnya, ia menegakkan tubuh. Ditatapnya lekat wajah sang calon suami. Masih ada sedikit luka di sudut bibirnya, dan itu juga membuatnya kepikiran.
"Kenapa?"
Pria Kim ikut menegakkan tubuhnya. "Kenapa aku mengatakannya kepadamu, atau kenapa aku ingin mencabut saham dan memutus kontrak kerja?"
"Umm.. dua-duanya?" Jeon muda menjawab ragu.
Taehyung meletakkan tulang ayam tanpa daging yang dipegangnya. Dengan mulut yang masih mengunyah, ia membersihkan tangannya dengan tissue basah dan hand sanitizer yang kekasihnya persiapkan. Setelah dirasa bersih, ia mengangkat tubuh Jeon Jungkook untuk selanjutnya didudukkan di atas pangkuan.
Jungkook tidak protes sama sekali. Ia sadar dirinya harus membicarakan hal serius dengan Taehyung. Tidak baik jika harus membuang-buang waktu hanya untuk bertengkar mengenai masalah kecil.
"Aku mengatakan ini padamu karena mulai saat ini, aku ingin kau ambil bagian dalam setiap keputusan yang aku lakukan. Aku ingin kita memutuskan segalanya bersama, apapun itu." Pria yang lebih tua menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya kasar. Sepasang matanya menatap lekat netra pemuda yang ia cinta. "Keparat itu berniat memukul putra kita, Kook. Si bajingan Park Chanyeol bahkan mencengkeram lengan kecil Kwonnie kuat. Untuk apa aku bekerja sama dengan orang yang berniat mencelakai anakku?"
Penyandang marga Jeon menghela nafas. Ia meletakkan burger-nya yang masih tersisa seperempat di atas meja. Matanya terpejam rapat saat mengingat ruam kemerahan di lengan balita kesayangannya, lalu ia menggelengkan kepalanya perlahan, berharap bayangan yang terasa menyakitkan itu sirna.
"Aku berencana kembali ke Busan bersama Kwonnie." gumamnya sambil membuka mata. Ia mencondongkan kepalanya cepat, kemudian membungkam mulut Kim Taehyung dengan sebuah ciuman sebelum pria itu sempat melayangkan protesnya.
Jungkook melumat bibir pria yang lebih tua, menekan tengkuknya kuat saat Taehyung berusaha mengelak. Ia tahu, prianya akan mengumpat marah atau menghujamnya dengan kalimat-kalimat protes, maka penyandang marga Jeon lebih memilih untuk meredamnya dengan sebuah ciuman meski terkesan dipaksakan.
Benar saja, ciuman itu berlangsung sepihak dengan Jeon yang melumat dan menghisap, sementara Taehyung diam, tak lagi berniat untuk meloloskan diri.
Pria Kim sedikit menghela, ia kemudian memejamkan mata dan memutuskan untuk membalas dengan kuluman rakus di bibir bawah pemuda Jeon. Taehyung sedikit memiringkan kepalanya, memberi akses kepada dirinya sendiri agar bisa melakukan ciuman yang lebih intim.
Lidah ditelusupkan ke belahan bibir Jungkook yang terbuka, menelusur rongga yang terasa begitu hangat. Sepasang tangannya mulai bergerilya menelusup ke dalam kaos putih polos yang dikenakan kekasihnya, menyalurkan belaian yang membuat bulu kuduk meremang.
"Uwmhh… hyuwng!" pekik yang lebih muda saat dirinya merasa kehabisan nafas. Permainan lidah Kim Taehyung benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk sekedar meraup udara. Dan erangan protes yang ia lontarkan sepertinya tak membuahkan hasil apa-apa.
Maka Jungkook dengan sekuat tenaga memukul dada pria Kim sebanyak tiga kali, membuat pria bersurai kelam itu terbatuk sehingga ia terpaksa melepaskan ciumannya.
Katakanlah Kim Taehyung sedang beruntung karena Jeon Jungkook tengah dalam keadaan lemah karena kesulitan bernafas ketika memukulnya. Kalau tidak, bisa dipastikan penyandang marga Kim akan menjadi pihak yang mengalami gangguan pernafasan.
"Mesum sialan!" umpat Jungkook dengan sepasang mata yang melotot.
Pikir Kim Taehyung, ekspresi seperti inilah yang disebut bocahnya sebagai ekspresi momma yang menyeramkan ketika marah. Tapi untuk pewaris Kim, yang seperti ini namanya menggemaskan, membuatnya ingin semakin menggodanya.
"Kau menciumku terlebih dahulu. Siapa yang lebih mesum?"
"Ishh! Dasar menyebalkan!" Jungkook menjawab cepat. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, membuang muka ke arah lain, tak ingin melihat wajah Kim yang kini nampak sangat menyebalkan.
Meski begitu, ia sama sekali tak beranjak dari pangkuan kekasihnya, dan itu sungguh sangat menggemaskan untuk Taehyung.
"Jangan bersikap menggemaskan, nanti aku tidak hanya menciummu, tapi memakanmu di sini." Taehyung mencium gemas pipi Jeon Jungkook.
Masih dengan wajah masam, Jeon Jungkook akhirnya kembali menatap pria pujaan yang masih saja terkekeh. "Pokoknya aku akan kembali ke Busan secepatnya."
Kalau boleh, penyandang marga Kim benar-benar ingin marah. Tapi sepertinya ia harus menghadapi masalah kali ini dengan lebih santai. Maka ia menggenggam kedua tangan Jungkook, lalu membubuhkan ciuman kupu-kupu ke telapak tangan pemuda Jeon.
"Kenapa, hm?" Taehyung bertanya singkat. Sepasang netranya bahkan tak bertatapan dengan mata Jungkook, namun Jungkook tahu betul bahwa Kim Taehyung ingin ia memberi alasan yang jelas dan bisa diterima.
"Aku takut."
Dan jawaban singkat itu berhasil menghentikan kegiatan Taehyung yang tengah menciumi tangan sang kekasih. Ia mendongakkan wajahnya, menatap mata Jungkook lekat.
"Aku takut, hyung." Ulangnya lagi. Jungkook menarik tangannya lelu mengalungkan keduanya ke leher pria Kim. "Aku takut Kwonnie akan terluka."
Dan kalimat itu sudah cukup jelas untuk Kim Taehyung, juga lebih dari masuk akal untuk diterima akalnya.
"Jesper bilang Kwonnie menyuruhnya menggelinding sampai akhirnya ia terbentur, dan Chanyeol ingin menghajar Kwonnie hanya karena itu." pewaris Kim menghela. "Aku tidak yakin Kwonnie yang menyuruhnya, tapi tindakan Chanyeol benar-benar tidak masuk akal. Mereka hanya bocah yang sedang bermain-main, wajar jika bertengkar dan menangis. Kau khawatir hal seperti itu akan terjadi lagi?"
Jungkook mengangguk pelan. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Taehyung, lalu memindah kedua lengannya ke pinggang pria Kim, memeluknya erat. Bibirnya bergerak perlahan meloloskan suara yang tak bisa dibilang keras. "Aku juga takut dengan keluargamu. Mungkin mereka tidak akan melukai fisiknya, tapi bocah itu terkadang mengerti dengan apa yang diucapkan orang dewasa. Aku tidak ingin Kwonnie sakit hati jika ia mendengar ucapan buruk mengenai dirinya."
Kim Taehyung paham, sangat.
Ia juga menginginkan agar putranya tak terluka, apalagi karena keluarganya.
Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin berpisah dari kedua orang yang sangat dicintainya. Ia ingin Jungkook dan Taekwon tinggal bersamanya.
"Aku akan melindunginya, Kook. Aku berjanji tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi. Aku juga akan melindungimu." ucap Kim Taehyung putus asa. Ia bahkan mendaratkan ciuman-ciuman lembut di leher yang lebih muda.
Jungkook menghela. Ia menjauhkan wajahnya, sebelah tangannya ia ulurkan untuk mengusap sudut bibir kekasihnya yang terluka. "Katakan itu lagi dan aku akan menambahkan satu yang seperti ini."
"Kook…"
"Aku tahu ini gara-gara kau membela Kwonnie. Dan aku tidak ingin kau mendapat yang seperti ini lagi."
"Ini gara-gara kau, bukan Kwonnie. Dan asal kau tahu saja, luka begini tidak akan membuatku mati." Kim muda mengusap luka di sudut bibirnya, lalu ia berdecih pelan. "Si keparat Chanyeol mati kutu setelah ancaman penarikan saham dan pemutusan kontrak kerja. Ini dari appa."
Jeon Jungkook mengeryit. Setahunya, Tuan Kim tidak akan ikut campur sampai sejauh itu jika anaknya sedang berselisih atau memiliki masalah. Apalagi kali ini Taehyung mengatakan bahwa sang ayah yang memukulnya.
Dan, apa tadi? Karena dirinya?
Sepasang mata bulat Jungkook tentu langsung menatap dengan sorot penuh tanda tanya, dan itu sungguh membuat Taehyung kembali menghela.
"Ahh, sial! Hari ini aku menghela berkali-kali." umpat pria yang lebih tua. Ia mengambil minumannya, lalu meneguknya sebanyak dua kali sebelum mengembalikan ke atas meja. "Kau tidak pernah melihat rekening yang kuberikan dulu?"
Jungkook menggeleng pelan. Ia sadar Taehyungnya menanyakan hal itu dengan sangat hati-hati. Mungkin karena tidak ingin mengorek luka lama, mungkin juga karena alasan lainnya.
"Aku meninggalkan bukunya di rumah ini, kartu ATM-nya juga."
Dan Kim Taehyung menyentil keningnya dengan jari telunjuk. Jungkook bahkan mengaduh saat mengusap dahinya yang memerah.
"Kau benar-benar keras kepala. Padahal itu uangmu. Walau, yeah… begitu."
Taehyung tak sampai hati mengatakannya. Ia tak sanggup menegaskan bahwa itu adalah sisa uang yang didapatkan Jeon Jungkook setelah menjual dirinya kepada Tuan Muda Kim.
Tidak.
Taehyung tidak akan mengatakannya.
Itu terlalu menyakitkan.
"Maafkan aku." gumam pria bersurai jelaga pada akhirnya. Ia memberikan kecupan lembut di kening sang kekasih yang memerah. Ia lalu berujar dengan nada yang lebih lembut. "Setiap bulan, kau mendapatkan uang dari Vante, bukan dariku. Sadar atau tidak, kau memiliki hak paten di perusahaanku."
"Aku?"
Taehyung mengangguk, menyamankan posisi duduknya, sedikit mendongak saat ia menyandarkan kepala pada dudukan sofa. "Ingat Kim Daily?"
Jungkook mengeryit heran.
"Kau pernah menyarankan padaku untuk membuat konten yang berisi tentang outfit of the day di akun SNS Vante. Kau bilang itu akan menjadi inspirasi bagi customer untuk memadupadankan pakaian yang mereka beli. Kim Daily, katamu, nama itu cocok untuk disematkan sebagai judul. Bukan hanya berpengaruh bagi customer yang telah membeli produk Vante, Kim Daily menarik perhatian para pelanggan baru. Benar saja, penjualan produk yang hari itu dikenakan model untuk Kim Daily mengalami peningkatan penjualan, terutama untuk pemesanan secara online, dan oleh customer luar negri. Menurutmu sudah berapa tahun sejak konten pertama Kim Daily diunggah?"
Penyandang marga Jeon terdiam.
Ia memang sering melontarkan saran seenaknya jika Tuan Muda Kim mengeluh tentang pekerjaan atau iseng bercerita mengenai kegiatannya di kantor. Ia bahkan tidak ingat memberikan saran soal Kim Daily, tapi potongan memori mengenai usulan supaya Taehyung mengunggah pakaian favorit atau sekedar memberi tahu kombinasi atasan dan bawahan yang ia sukai kepada para penggemarnya terlintas di pikiran.
Memangnya ide asal-asalan seperti itu bisa menjadi lahan uang?
"Kau yakin ide itu dariku?"
"Ya, aku menggunakannya tanpa izin, tapi aku mencantumkan namamu sebagai pemilik hak paten atas konten itu. Kukatakan pada appa bahwa aku akan mencabut konten itu jika ia tidak mengizinkanku menikah denganmu. Otomatis, Vante akan membayar mahal untuk itu, karena perjanjian yang kubuat adalah, kau meminjamkan ide itu kepada perusahaan. Jika dicabut, seluruh konten yang pernah diunggah akan dihapus, Vante tidak bisa menggunakan konten serupa meski dengan nama berbeda. Lagipula tagar KimDaily sudah sangat melekat dengan perusahaan pakaian milik Kim Enterprise. Apa jadinya jika tiba-tiba menghilang atau diganti? Jadi, yeah… ayahku lumayan terkejut soal ini. Ia bukannya langsung menyetuji permintaanku, tapi malah melayangkan pukulan. Mungkin memang kita harus menunggu sedikit lebih lama."
Jungkook memijit pelipisnya.
Kalau boleh jujur, ia tidak paham dengan apa yang calon suaminya katakan. Yang ia pahami mungkin hanya sebatas KIm Taehyung yang menggunakan usulan asalnya sebagai sesuatu yang menguntungkan bagi perusahaan, dan Jungkook mendapatkan uang setiap bulan karena itu.
Ia tidak terlalu peduli soal uangnya karena ada hal yang menurutnya lebih penting.
"Kenapa kau sering melakukan hal-hal yang membuatku bingung?" pemuda Jeon menjatuhkan tubuhnya ke atas pria Kim yang bersandar pada sofa. Ia memeluk erat Taehyung.
Yang ditanya terkekeh pelan. "Mungkin karena sejak dulu aku sudah mulai menyukaimu? Entahlah… yang perlu kau ketahui saat ini adalah aku mencintaimu, juga si menggemaskan Kwonnie. Urusan yang lain, serahkan saja padaku."
Jungkook terdiam selama beberapa saat. Mungkin, ia akan menyerahkan semuanya kepada sang calon suami. Apapun itu, ia hanya ingin agar putranya disayangi. Dan ia yang tak mengerti apapun tentang urusan keluarga Kim, mungkin lebih baik menurut dan diam saja.
"Tapi aku tetap ingin membawa Kwonnie pulang untuk sementara."
"Jangan besok, jangan lusa. Tinggallah paling tidak selama satu minggu. Kau tidak ingin calon suamimu ini menderita karena kesepian, kan?"
Berlebihan.
Jungkook tahu dengan jelas jika ucapan pria yang balas memeluknya sangat begitu hiperbolis. Tapi ia tahu permintaan supaya dirinya tinggal lebih lama terucap dengan sangat tulus. Mungkin, karena Taehyung sadar bahwa dirinya tak akan mampu menggoyahkan niat Jungkook yang sudah bulat.
Maka ia mengangguk perlahan. Lagipula balitanya terlihat senang tinggal di rumah besar sang ayah, jadi ia akan membiarkan Taekwon bersenang-senang lebih lama, sekalian memberi waktu untuknya mencari alasan yang tepat supaya buah hatinya mau kembali ke Busan.
"Soal Chanyeol, kau tidak serius, kan?"
"Aku bersungguh-sungguh." Kim Taehyung menyahut cepat. Ia lantas mendorong perlahan tubuh Jungkook supaya mereka berdua bisa saling menatap. "Jangan melarangku."
"Padahal menurutku memaafkannya akan semakin menyenangkan."
Taehyung keheranan. Bukan karena bibir Jeon muda yang mengerucut, tapi karena kata menyenangkan yang ia tak paham maksudnya.
Jungkook yang sepertinya mengerti arti tatapan pria yang masih setia memangkunya langsung melanjutkan. "Jika kau memaafkannya dan memilih untuk membiarkan sahammu di sana, juga melanjutkan semua kontrak kerja sama, sepertinya Chanyeol akan merasa malu padamu. Kurasa ia akanmerasa kecil di hadapanmu setelah kau dengan murah hati memaafkannya. Setiap hari ia pasti akan kepikiran, dan setiap bertemu denganmu, ia akan merasa canggung atau sejenisnya. Umm… kau tahu kan maksudku?"
"Astaga…" Kim Taehyung menarik masing-masing pipi kanan dan kiri kekasihnya. Ia merasa gemas, sekaligus salut dengan pikiran unik penyandang marga Jeon. "Kau Lucifer, hm? Bisa-bisanya berpikiran selicik itu."
"Uhh… kekasihku ini yang Lucifer. Pikiran jahatnya menular padaku, jadi jangan salahkan aku." Jungkook tak mau kalah, ia menarik bibir pria Kim sebagai balasan.
Dan aksi tarik-menarik itu berlangsung cukup lama. Taehyung mengaduh beberapa kali karena luka di bibirnya terasa semakin nyeri, tapi sepertinya Jungkook tak ingin memberi ampun. Keduanya baru bisa berhenti saat suara pintu yang dibuka menyapa gendang telinga, diikuti dengan rengekan seorang bocah yang memanggil poppa dan momma.
Jungkook langsung melompat turun dari pangkuan sang kekasih. Ia berlari kecil menghampiri balita berpiyama yang mengucek matanya dengan bibir yang mencebik.
"Kenapa bangun, hm? Apa mendengar suara berisik?" Jungkook khawatir, tentu saja. Bagaimanapun ia tak ingin bayinya mendengar perseteruan antara dirinya dan Taehyung barusan karena beberapa umpatan sempat mereka lontarkan.
"Momma poppa pergi-pergi terus Kwonnie tidur, uhh…"
Pemuda Jeon segera menggendong si menggemaskan yang tampak semakin ingin menangis.
"Siapa bilang momma dan poppa pergi, hm?" kali ini suara berat yang terdengar, diikuti sebuah tangan besar yang mengusap kepala balita Jeon. "Momma dan poppa memesankan makanan kesukaan Kwonnie. Ada kentang goreng dan burger dengan saos tomat."
"Fresh fires?"
"French fries." ulang pria Kim usai bocahnya mencoba untuk mengucapkan kata dalam bahasa Inggris yang memiliki arti kentang goreng. Ia sedikit terkikik saat jagoan ciliknya salah mengucap. Tidak apa, ia akan terus mengajarinya. "Kwonnie mau?"
"Ada es krim?" Taekwon menatap ayahnya antusias ketika mereka bertiga menuju ruang tengah, tentu masih dengan Kwonnie yang berada dalam gendongan sang momma.
"Tidak ada es krim." Taehyung tertawa pelan saat jagoannya mendesah kecewa. Ia segera mengambil segelas minuman yang belum tersentuh. Whipped cream dan serpihan coklat yang menghias di atasnya terlihat begitu menarik di mata bulat Kwonnie. "Tapi poppa memesan chocolate blend untuk Kwonnie."
Si bocah bersorak girang. Ia segera meminta minuman yang terlihat enak itu meski masih dengan mata yang setengah tertutup.
Dan petang itu, keluarga kecil mereka menghabiskan waktu bersama dengan menyantap makan malam sambil menonton televisi dengan sang momma yang beberapa kali mengomel karena Kwonnie menjatuhkan makanan di atas karpet.
Untuk sementara, mereka bertiga merasa bahagia.
Ya, cukup seperti ini saja.
.
.
.
TBC
.
.
.
My head's spinning around.
