"Momma, ma… mana jus jeruk?"
Seorang bocah yang hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan tampak menodong ibunya yang tengah sibuk di dapur. Seluruh tubuhnya basah, bahkan celananya yang masih meneteskan air telah membentuk jejak yang menjadi penanda arah datangnya balita menggemaskan berusia empat.
"Astaga, Jeon Taekwon!" bukannya menjawab atau memberikan jus jeruk seperti yang diminta sang buah hati, Jeon Jungkook malah menunjukkan sepasang mata yang mendelik kesal. Putra semata wayangnya begitu terlihat bahagia, namun air yang membasahi lantai, bahkan hingga menggenang di bawah bocahnya benar-benar menguras kesabarannya. "Kenapa berjalan-jalan di dalam rumah dengan celana yang basah? Kau ingin membuat rumah kita kebanjiran?"
Si bocah ikut melotot, tak mau kalah dari sang momma. Bibirnya bergerak-gerak sambil mengerucut, kedua tangannya bertengger di masing-masing pinggang. "Tapi poppa bilang Kwonnie boleh minta minum itu namanya boleh masuk rumah karena momma lama seperti bukan anak besar!"
"Kalian berdua sama saja…" Jeon Jungkook menarik nafas dalam-dalam, bersiap meneriakkan sebuah nama yang begitu fasih ia ucapkan.
Kemudian suara menggema itu memenuhi seluruh sudut rumah.
"KIM. TAEHYUNG!"
Dan bersamaan dengan itu, superhero berusia empat berlari kencang menuju ayahnya yang masih berada di kolam kecil indoor.
.
A fanfiction, the continuation of "Puzzled"
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung
Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rated: M for the language and theme, and yeah
Warning: OC for Taekwon.
Ambigu, TYPO tak tertahankan, m-preg (?)
.
.
"Painted"
Part XV: Ink the Black
"Ini semua karena poppa jadinya Kwonnie kena marah momma seram itu seperti makhluk seram Kwonnie tidak suka."
Balita berusia empat tampak melipat sepasang lengannya di depan dada. Ia memalingkan wajah dari seorang pria bersurai arang yang tengah duduk di dalam kolam. Airnya yang jernih merendam tubuh berkulit eksotis yang hanya berbalut celana pendek itu hingga dada bagian bawah.
"Kenapa menyalahkan poppa?" Kim Taehyung terkekeh, mendekati bocah kesayangannya yang duduk di pinggiran kolam renang kecil milik mereka dengan sepasang kaki yang menjuntai ke dalam air. "Yang ada, poppa yang harusnya protes. Poppa hanya duduk di kolam dan tidak melakukan apapun, tapi poppa mendapat teriakan dari momma. Poppa dimarahi padalah poppa tidak tahu apa-apa."
"Itu karena poppa bilang-bilang boleh minta minum tapi momma marah. Itu karena lantai basah dan katanya Kwonnie bisa banjir."
Si bocah mengerucutkan bibirnya, memprotes nasib sial yang menimpa. Tadinya, superhero Jeon sedang belajar berenang bersama poppa di kolam renang indoor yang ukurannya terlampau kecil untuk orang dewasa. Di tengah pelajaran pertamanya, yaitu mengambang, Jeon Taekwon merasa haus sehingga poppa menyuruhnya meminta minum kepada momma. Kwonnie yang baru saja keluar dari dalam air langsung berlari menuju dapur tanpa memedulikan sang ayah yang memberinya peringatan supaya berhati-hati.
Singkat cerita, momma mengomel karena tindakan sang putra membuat rumah becek. Lebih dari itu, Kwonnie bisa saja terpeleset lalu jatuh menghantam lantai. Itulah yang membuat Jungkook marah.
Namun balita Jeon mana mengerti tentang kekhawatiran sang bunda. Yang ia tahu, dirinya merasa haus dan ingin mendapatkan minum. Tentu saja Kwonnie merasa kesal karena yang diberikan momma adalah tatapan seram dan omelan keras. Yeah… walau bundanya itu sempat menyusulnya dengan dua gelas jus jeruk seperti yang ia minta.
"Kemari." gumam Taehyung seraya menarik bocah kesayangannya untuk kembali masuk ke air. Ia mendudukkannya di atas pahanya sendiri, berhadapan. Setelahnya, ia memberikan ciuman gemas ke masing-masing pipi putranya.
Si menggemaskan Kwonnie menjerit heboh dan tertawa, ia bahkan dengan heboh menyipratkan air di sekitar tubuhnya dengan harapan akan mengenai sang poppa. Ia mengeluhkan perilaku sang ayah yang selalu menempel padanya dan mencium wajahnya terus-menerus, namun sepasang tangannya yang lelah bergerak kini malah berpegangan pada lengan pria Kim, sungguh berkebalikan dengan protes yang disampaikan.
"Momma hanya takut Kwonnie jatuh dan terluka." gumamnya sambil menyunggingkan senyum usai puas membuat buah hatinya tertawa. "Memangnya Kwonnie ingin terluka?"
"Hmm… terluka itu sakit?"
Poppa Kim mengangguk. Ditatapnya lekat wajah Jeon Taekwon yang terlihat serius seolah tengah memikirkan sesuatu. Kepala bocahnya sedikit miring dan sesekali mengangguk dengan mata yang masih memperhatikan sang ayah.
"Kwonnie tidak mau terluka itu sakit." setelahnya sepasang tangan Jeon kecil terulur untuk menyentuh lutut kirinya. Ia sedikit menusuk-nusuk bagian itu dengan jarinya yang mungil. "Kwonnie pernah jatuh lalu di sini berdarah lalu sakit. Itu terluka tidak enak membuat sakit terus-terus nanti disentuh juga sakit dan bisa kena bakteri."
Kim Taehyung mengangguk setuju. Ia masih ingat laporan sang calon istri ketika bocah mereka menanyakan hal mengenai bakteri, juga pikirannya bahwa bakteri berteman dengan bangsat. Apapun itu, pria Kim bahagia jika darah dagingnya tumbuh menjadi sosok yang pintar dan mampu mengingat apa yang orangtuanya ajarkan.
Ia lalu mencium gemas ujung hidung balitanya sambil berbisik. "Anak pintar."
"Apa poppa masih sakit terlukanya?"
Kali ini pewaris Kim Enterprise mengeryitkan dahi. Ia sedikit menjauhkan wajahnya hanya demi menatap sang putra yang terlihat sedih dan merasa bersalah. Dirinya tentu langsung berusaha menenangkan dengan memberi usapan ringan di punggung dan lengan kecil superhero ciliknya.
"Poppa tidak terluka, kenapa Kwonnie bertanya seperti itu?"
"Uhh…" si bocah tampak ragu ketika ia menatap manik tajam Kim Taehyung. Tangannya terulur perlahan untuk menyentuh sudut bibir dan pelipis ayahnya yang, seingatnya, dulu pernah terluka. "Tapi Kwonnie pernah pukul-pukul poppa sampai terluka dan momma memberi plester dinosasurus tapi Kwonnie nakal karena marah dan minta plesternya jadi poppa terlukanya tidak bisa dapat obat. Kwonnie mau minta maaf tapi lupa-lupa terus."
Entahlah…
Kim Taehyung tak mengerti dengan apa yang ia rasakan.
Ia bahagia karena putranya bertanggung jawab dengan apa yang telah ia lakukan. Meski kejadiannya sudah lama, Jeon Taekwon masih saja meminta maaf. Walau begitu, Taehyung sukses dibuat nyeri dan merasa bersalah kala mengingat dirinya yang gagal mendapatkan hati putranya saat ia memberitahukan bahwa ia adalah ayah yang selalu bekerja di tempat yang jauh.
Ia berada di pihak yang salah, Kim Taehyung jelas mengetahuinya. Dan ia tidak pernah merasa tak menyesal setiap kali mengingat betapa bodoh dan brengsek dirinya yang telah melewatkan kehamilan Jungkook, kelahiran putranya, juga tahun-tahun pertama yang begitu berharga bagi pertumbuhan seorang anak.
Kalau saja Kim Taehyung bisa mengulang waktu…
"Poppa tidak mau maaf Kwonnie." cicit bocah Jeon sambil menunduk. Bibirnya mencebik, dan sepasang matanya mulai memerah ketika sang ayah tidak menjawab permintaan maafnya.
Pewaris Kim Enterprise segera memeluk sang putra. Dikecupnya lembut kening Kwonnie sebelum ia menjauhkan wajah dan menatap sepasang mata balitanya sembari berkata. "Poppa memaafkan Kwonnie. Jangan menangis, hm? Poppa senang Kwonnie meminta maaf. Lagipula poppa sudah tidak terluka, lihat?"
Jeon kecil kembali menyentuh wajah sang ayah. Bibirnya masih saja mengerucut ketika Taehyung mencoba mengusap sudut mata balitanya supaya tidak menangis. Perlahan kepala Taekwon mengangguk, lalu ia memanjat tubuh pria Kim untuk memberikan wajahnya ciuman bertubi-tubi.
"Kwonnie sayang poppa, sayang sekali." gumamnya di sela banyaknya kecupan yang ia berikan.
Kim Taehyung tertawa perlahan. Ingin rasanya ia menangis mendengar pengakuan putra menggemaskannya. Ia bahkan merasa tak pantas mendapatkan kasih sayang seperti ini, namun juga tak rela jika ada orang lain yang menempati posisinya sebagai ayah Jeon Taekwon.
"Kwonnie juga memaafkan poppa karena poppa lama bekerja di tempat yang jauh, hm?"
"Oke tapi poppa tidur sama-sama Kwonnie sama-sama momma." gumam balita Jeon masih sambil mengecup seluruh wajah sang ayah.
Taehyung mengangguk di sela kekehannya. Ia bahkan sesekali menggigit pipi dan lengan putranya main-main sebagai balasan. "Poppa juga sangaaaaaaaaat menyayangi Kwonnie."
Keduanya tertawa senang, sepasang ayah dan anak itu terlihat bahagia menghabiskan pagi mereka yang cerah.
"Kwonnie, sudah latihan renangnya? Poppa harus berangkat ke kantor."
Bocah menggemaskan Jeon menolehkan wajahnya. Ia segera mengerang kesal saat melihat momma berjalan mendekati dirinya dan sang poppa dengan dua buah handuk di tangan.
Dugaannya, momma akan merusak acara bersenang-senangnya dengan poppa. Maka yang dilakukannya adalah memeluk leher pria Kim, lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ayah.
"No!"
Kim Taehyung terkekeh, namun ia segera berdiri dan keluar dari kolam kecilnya. Dengan perlahan, ia duduk di kursi kayu yang tersedia di sana, masih dengan sang balita yang memeluk erat lehernya sambil mengeluh tak mau berhenti berenang.
"Sekarang jam berapa, momma?"
Pemuda Jeon menahan rona merah di pipinya karena hingga saat ini, ia masih harus membiasakan diri setiap kali sang calon suami memanggilnya dengan sebutan itu.
"Jam sembilan, poppa ada rapat jam sepuluh nanti." jawabnya perlahan. Diletakkannya satu handuk di pangkuan pria Kim, lalu ia segera merentangkan satu lainnya untuk membalut tubuh Taehyung beserta Taekwon. Jungkook berusaha mengeringkan tubuh balitanya dengan menggosokkan handuknya pada punggung kecil sang buah hati. "Besok lagi belajarnya, hm? Poppa harus bekerja."
Jeon mungil berlagak tak mendengar, tetapi ia berakhir dengan menggelengkan kepalana lucu.
"Hei… kalau poppa tidak bekerja, nanti poppa tidak bisa mengajak momma dan Kwonnie jalan-jalan."
Jeon Taekwon masih saja menggeleng.
"Momma dengar Kwonnie ingin ke kolam renang besar ketika sudah bisa berenang nanti. Kalau poppa tidak bekerja, poppa tidak akan punya uang. Kalau poppa tidak punya uang, poppa tidak bisa mengajak Kwonnie ke kolam renang yang besar."
"Uhh…" Kwonnie mengeluh.
Tidak jadi pergi ke kolam renang besar sungguh tidak terdengar menyenangkan karena bagaimanapun, kolam renang di rumah poppa kekecilan untuk poppa, Kwonnie jadi tidak bisa melihat ayahnya berenang dengan gaya yang keren.
Itu sangat tidak oke.
"Tapi Kwonnie renangnya baru mengambang belum bergerak seperti ikan." balita berusia empat mendongakkan kepalanya, menatap ibunya dngan tatapan memelas. Ia masih mencoba mencari alasan supaya sang ayah tidak berangkat ke kantor. Kwonnie benar-benar ingin menghabiskan harinya dengan bermain-main bersama poppa.
"Besok poppa ajari lagi. Sekarang kita sudahi dulu, hm?"
Jungkook mengangguk setuju dengan usulan calon suaminya. Pria bersurai gelap itu tampak membungkus tubuh putranya dengan handuk lain yang belum terpakai, lalu mencium gemas pipi gembil yang tampak menggembung.
"Kalau terlalu lama di dalam air, nanti bisa masuk angin."
"Sekarang Kwonnie mandi dengan poppa, momma siapkan camilan kesukaan Kwonnie, oke?"
Jungkook berjalan mengikuti calon suami yang menggendong putranya masuk ke ruang tengah.
"Halo, Bibi Song!" Kwonnie memekik sambil melambaikan tangannya ketika ia melewati bibi baik hati yang pernah ditemuinya di rumah halmoni.
Wanita itu balas melambai sebelum kembali membersihkan lantai di depan televisi.
"Momma sudah menyiapkan pakaian untuk kalian, mandi yang bersih dan gunakan pakaian yang rapi. Poppa jangan terlalu menuruti Kwonnie bermain, kau bisa telat rapat."
"Aye aye, Captain!" jawab pasangan ayah dan anak itu kompak sambil berlalu ke kamar. Mereka lalu tertawa keras sambil saling menuduh siapa yang ikut-ikutan.
Sementara itu, Jungkook segera menghampiri Bibi Song yang masih sibuk melaksanakan tugasnya. Ia ikut membantu merapikan mainan sang putra yang berantakan. "Bi, sudah kukatakan, biar aku saja yang membersihkan rumah. Bibi bisa pulang dan beristirahat."
Wanita paruh baya dengan rambut yang memutih di beberapa bagian memilih untuk tersenyum sambil tetap melanjutkan pekerjaannya. Ia bergumam pelan. "Ini sudah tugasku, Jungkook. Tuan muda kesayanganmu itu mana bisa membersihkan rumahnya. Jika aku tidak datang beberapa hari sekali, pasti rumahnya sudah sangat berantakan."
"Tapi aku sedang di sini, Bibi bisa beristirahat saja."
Bibi Song tertawa pelan.
Sejak dulu, Jeon Jungkook sama sekali tidak berubah. Pemuda bersurai madu itu selalu saja memaksa dirinya supaya melimpahkan segala tugas kepada yang lebih muda. Tentu bibi Song tidak mau karena mengurus rumah Tuan Muda Kim adalah tugas yang harus dilaksanakannya.
Pemuda yang baik.
Itu kesan pertamanya kepada seorang Jeon Jungkook, dan memang kenyataannya, Jeon muda memiliki pribadi yang menyenangkan. Ia tidak terlalu ikut campur dengan alasan Jungkook menjadi milik tuan mudanya, yang ia tahu, Jungkook telah memberikan banyak pengaruh positif kepada pria yang dulu dikenalnya memiliki sifat yang dingin dan kaku.
"Tempat ini sebentar lagi selesai dibereskan. Kau siapkan saja camilan putramu. Bawa kemari untuk menemaninya menonton televisi."
Jeon Jungkook menghela nafas, lalu menuruti saran bibi Song.
Ia menyiapkan pudding dan buah untuk camilan putranya.
"Aku kagum padamu, Jungkook." ucap wanita paruh baya yang kini berpindah membersihkan sofa tamu. Ia sengaja sedikit mengeraskan suaranya supaya Jungkook yang berada di dapur bisa mendengar. "Tuan muda terlihat lebih hangat. Ia menjadi sosok ayah yang baik jika sedang bersama Kwonnie."
Yang diajak bicara hanya tertawa.
Pemuda Jeon sempat terdiam selama beberapa saat sebelum balas berbicara. "Aku sempat khawatir, Bi. Kupikir Taehyung tidak serius saat ia mengatakan bahwa dirinya ingin memperbaiki semuanya, ingin menjadi ayah yang baik untuk putra kami."
Bibi Song menghentikan kegiatannya sejenak. Ia menatap pemuda bersurai honey yang tampak serius membuat salad buah. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Lihatlah pria yang kau ragukan itu, ia tampak serius menjalani perannya sebagai seorang ayah. Yakinlah, dan jangan mengkhawatirkan apapun."
.
.
"Ma, ma, momma, katanya poppa nanti ajak Kwonnie ke kolam renangnya yang ada seluncur air besar." bocah berusia empat yang mengenakan kaos tanpa lengan berwarna hitam dan celana pendek abu-abu tampak mendekati sang ibu yang kini tengah mengupas apel. Rambutnya masih sedikit basah karena ia baru saja mandi dengan sang poppa.
"Benarkah?"
Bocah Jeon mengangguk bersemangat, mengabaikan fakta bahwa sang momma hanya meliriknya sekilas sebelum kembali fokus pada apel yang dibentuknya seperti kelinci.
"Nanti kolamnya ada yang untuk anak besar, ada yang untuk anak kecil, lalu banyak-banyak mainan tapi kalau Kwonnie sudah bisa renang." Taekwon asyik menceritakan kembali apa yang sempat dijanjikan sang ayah. Ia mengikuti bundanya yang berjalan menuju sofa di depan televisi. Tangannya langsung mencomot seekor kelinci, lalu mengunyahnya dengan semangat.
"Berlatih yang giat agar cepat bisa, nanti momma, poppa dan Kwonnie akan berenang bersama-sama."
Dan Jeon kecil mengangguk setuju. Ia tak sabar menunggu dirinya bisa berenang, lalu akan balapan dengan kedua orangtuanya. Jeon Taekwon pasti akan menang.
"Aku akan pulang malam, Kook. Kalian nanti makan malam duluan saja." sosok pria Kim yang sudah mengenakan setelan kerjanya berjalan mendekati putra dan sang calon istri. Ia sengaja belum memakai jas dan dasinya, memberikan kode kepada Jungkook untuk memasangkan dasi untuknya.
"Kenapa tidak makan malam sama-sama?" balita Jeon melayangkan protes, bahkan sebelum bundanya sempat menanggapi sang ayah.
"Poppa ada pekerjaan." Taehyung mendudukkan diri, diikuti dengan Jungkook di sebelahnya. Tangan kirinya terulur untuk mengusak rambut Taekwon, sementara yang kanan ia gunakan untuk mengambil sepotong apel. Sementara itu, Jungkook sibuk memasangkan dasi.
"Poppa harus melakukan ini agar mendapatkan uang yang banyak. Nanti kita bisa bermain di kolam renang besar sampai puas." poppa Kim tersenyum manis. Ia menyuapkan sepotong apel sisa gigitannya kepada pemuda Jeon, sebelum mengambil sepotong lagi untuk dirinya sendiri.
Jungkook menghela nafas sambil mengunyah apel sisa calon suaminya. Tangannya kini bergerak untuk merapikan rambut pria Kim yang tidak serapi biasanya ketika akan berangkat ke kantor.
"Rambut poppa masih basah, momma keringkan dulu, ya?"
Jungkook hampir saja beranjak, namun Taehyung sudah terlebih dahulu menahan lengannya.
"Tidak usah, sayang. Biarkan saja, nanti akan kering sendiri. Lagipula aku sudah hampir terlambat." Taehyung bergumam. Ia segera berdiri untuk memakai jasnya, lalu memberikan ciuman singkat di bibir sang kekasih. Setelahnya, ia beralih mengecup puncak kepala sang putra. "Poppa berangkat kerja, oke, jagoan?"
Jeon Taekwon mengangguk seraya menolehkan kepala ke arah ayahnya. Tangan mungilnya memberikan gesture supaya pria Kim menunduk, lalu ia balas memberikan ciuman dalam di pipi pria yang menjadi role model baginya.
"Hati-hati cari uang banyak biar bisa ke kolam renang besar."
.
.
.
.
.
"Mengapa kau memintaku kemari?" seorang wanita cantik yang duduk di hadapan Kim Taehyung nampak menyandarkan punggungnya. Ia menghela nafas berat sebelum mengalihkan pandangannya dari kaca jendela yang menunjukkan jalanan ke arah pria yang masih mengenakan setelan kantornya.
Pasalnya, ini sudah sekitar lima belas menit setelah dirinya tiba di cafe sesuai permintaan CEO Kim, namun yang didapatinya hanya diam dan kecanggungan.
"Jika kau memintaku datang hanya untuk menemanimu melamun, lebih baik aku pulang."
Wanita anggun bersurai panjang itu tidak main-main dengan ucapannya. Ia langsung berdiri dan hendak beranjak dari sana, namun Taehyung dengan cepat mencekal lengan si wanita, memaksanya untuk tinggal.
"Sebentar, noona. Aku sedang berpikir. Tunggu sebentar lagi, oke? Aku butuh waktu untuk merangkai kata."
Yang diajak bicara mendengus malas, namun berakhir dengan kembali mendudukkan dirinya di kursi. Tangannya terulur mengambil secangkir latte hangat di meja, lalu ia menyesapnya perlahan.
"Di Seoul aku tinggal bersama mertuaku, dan Bogum sedang mengikuti seminar hingga malam. Apa kata mereka jika aku berkeliaran malam-malam begini tanpa suamiku?" omelnya seraya meletakkan kembali cangkir ke atas meja.
"Aku akan mengantarmu pulang. Lagipula paman dan bibi Park tahu aku sepupumu. Mereka juga mengenalku dengan sangat baik. Tambahan, kau adalah menantu kesayangan. Apa yang perlu kau khawatirkan?"
Park Joohyun menghela nafas panjang. Ia menyilangkan kakinya, lalu mulai memijit pelipis kirinya pelan.
"Kau terlalu menggampangkan segala hal, Tae. Sebagai seorang wanita, juga seorang istri, meski aku adalah menantu kesayangan, aku tetap ingin menjaga perasaan kedua orang tua Bogum walau mereka tidak pernah mengekangku untuk pergi jalan-jalan atau sejenisnya. Katakanlah aku kolot untuk urusan ini, tapi selama ini aku tidak tinggal bersama mereka, jadi selagi aku berada di Seoul, aku ingin menghabiskan waktu bersama kedua orangtua suamiku." Joohyun memperhatikan wajah sepupunya. Ia tahu betul Taehyung masih saja memikirkan kalimat pertanyaan yang akan dilontarkannya meski sebenarnya ia sangat memahami apa yang ingin Kim Taehyung ketahui darinya. Maka ia berinisiatif untuk memancingnya. "Kau juga lebih baik cepat pulang, Jungkook dan Kwonnie pasti menunggumu di rumah."
Benar saja, raut wajah pria Kim berubah. Ia bahkan sempat menatap tajam sang sepupu menyebalkan sebelum menghela nafas berat dan menyandarkan tubuhnya lelah.
"Sebenarnya aku tidak terlalu mengenal Jungkook, tapi aku berteman dengan kakaknya." Joohyun berujar tanpa pria Kim tanya terlebih dahulu. Ia memainkan jemarinya di atas meja untuk mengusir kebosanan yang sempat melanda.
"Bagaimana kalian bisa bertemu? Bagaimana keadaannya saat kalian bertemu? Apa Jungkook baik?"
Kim Taehyung memborbardir sepupunya dengan pertanyaan. Ia sungguh ingin tahu mengenai banyak hal yang berhubungan dengan Jungkook dan masa lalunya, masa-masa dimana pemuda Jeon lepas dari seorang Kim Taehyung dalam keadaan hamil.
"Keadaannya sangat buruk saat kami bertemu. Bisa dibilang, Jungkook mungkin sedang berada di titik terendahnya kala itu." Nyonya Park terkekeh ringan, sebuah kekehan miris yang entah mengapa membuat Kim Taehyung kembali menegakkan tubuhnya, lalu menatap lekat wanita yang dikenalnya sejak keduanya masih balita.
Joohyun kembali menghela. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya dengan wajah sang sepupu. Bibirnya yang mengenakan lipstick berwarna rose perlahan bergerak. "Kau menyadari sesuatu?"
Taehyung mengeryit heran. Ia sungguh merasa bingung, namun dirinya tetap saja menatap wajah cantik Joohyun, mencoba mencari sesuatu yang mungkin saja tidak disadarinya.
Memang ada yang terasa berbeda…
Dan Kim Taehyung membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyadarinya.
"Matamu?"
Joohyun tersenyum. Ia kembali bersandar pada kursinya, lalu menyentuh maisng-masing sudut matanya dengan lembut.
"Namanya Hoseok. Ia temanku ketika senior high school. Kami bahkan tidak dekat."
Nama itu terasa sedikit familiar, tapi Taehyung tdak bisa mengingat kapan dan dimana ia pernah mendengarnya. Maka pewaris Kim memilih diam. Ia tak tahu apa yang ingin sepupunya sampaikan, namun rasanya akan lebih bijak jika dirinya tidak menyela.
"Kau ingat kecelakaan yang kualami beberapa tahun lalu?"
Taehyung mengangguk. Kalau tidak salah, saat itu Joohyun sampai harus dirawat intensif di rumah sakit selama beberapa bulan.
"Aku sempat merasa depresi saat dokter bilang aku tidak akan bisa melihat lagi." gumam wanita yang telah menyandang status sebagai Nyonya Park, bibirnya tersenyum ironi, matanya menerawang jauh seolah tengah memutar kembali memori di dalam kepalanya. "Dan saat itu, aku bertemu kembali dengan Hoseok. Ia menemuiku beberapa kali di taman rumah sakit, juga di ruanganku. Aku tak pernah dekat dengannya, bahkan aku sudah hampir lupa seperti apa wajahnya, namun hal-hal yang diceritakannya mampu membawaku kembali ke masa-masa menyenangkan ketika masih sekolah dulu. Aku jadi yakin bahwa orang yang sedang berbicara denganku adalah Hoseok."
Pria Kim menyadarinya, mata milik istri Park Bogum itu mulai memerah dan berkaca-kaca. Ia sepertinya bisa menebak siapa pria bernama Hoseok ini, tetapi dirinya lebih memilih untuk diam saja,
"Joohyun, kau boleh memiliki mataku jika aku tidak sembuh, katanya. Saat itu aku tidak tahu apa penyakit yang dideritanya, sehingga yang kulakukan hanyalah tertawa dan menerima tawaran Hoseok. Kupikir, ia hanya bercanda." menarik nafas dalam-dalam, Joohyun tampak berusaha menetralkan emosinya sebelum kembali bicara. "Dia memberiku sebuah syarat. Jaga adikku baik-baik, namanya Jeon Jungkook. Kau akan bertemu dengannya nanti."
Hoseok.
Jeon Hoseok.
Ahh… Kim Taehyung mengingatnya.
Alasan Jungkook menjadi jalangnya, alasan pemuda polos itu melakukan apapun demi uang…
Jeon Hoseok, sosok kakak Jeon Jungkook yang akhirnya tak terselamatkan.
Taehyung paham sekarang, pria itu mendonorkan matanya untuk Park Joohyun, membuat sepupunya itu kembali dapat melihat.
Perasaannya porak-poranda, dan pria Kim hanya bisa menatap wajah sang sepupu dengan sorot mata kosong.
Dulu, ia seakan tak peduli pada apapun yang Jungkook lakukan dengan uangnya. Tapi sekarang, kenapa rasanya begitu membuatnya sesak?
"Jungkook menemuiku setelah operasi selesai, juga setelah perban di mataku dibuka. Ia tersenyum, Tae. Manis sekali. Ia menatap mataku tanpa henti. Noona, kau sangat cantik, jaga Hoseok hyung baik-baik, oke?" wanita bersurai panjang itu tersenyum, mungkin karena ia mengingat betapa manisnya wajah Jungkook kala itu. "Jeon Jungkook tersenyum lembut, meski aku tahu di hatinya ia menjerit pilu karena telah kehilangan seseorang yang sangat berharga di hidupnya, satu-satunya yang ia punya."
Kepala Taehyung mendadak pusing. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Jungkooknya saat itu. Yang dipedulikannya hanyalah meraup kepuasan dari tubuh yang telah dilabeli sebagai miliknya, tanpa mempedulikan suasana hati pemuda Jeon, tanpa mempedulikan apa yang tengah dialaminya.
"Aku mengutuk diriku yang bodoh. Kalau saja aku tahu penyakit yang tengah diderita Hoseok, mungkin aku bisa meminta Bogum untuk mencarikan rumah sakit dan dokter terbaik. Meski harus dibawa ke luar negeri, kurasa itu bukan hal yang sulit. Sayang sekali, aku tidak melakukan itu…" Park Joohyun tertawa lirih, seolah menertawakan keegoisannya di masa lalu. Ia terlalu menyepelekan banyak hal.
Mereka terdiam selama lebih dari lima menit.
Joohyun masih menyunggingkan senyuman, meski terasa getir dan menyakitkan. Sementara pria Kim memijit pelipisnya asal, sesekali mengacak kasar surai arangnya.
Kalau saja saat itu ia memantau pengobatan yang dijalani kakak Jungkook, bukan hanya memberinya sejumlah uang, mungkin Jeon Hoseok masih bisa menemani adiknya saat ini.
Mungkin…
"Aku menjaga komunikasiku dengan Jungkook. Ia bilang dirinya bekerja sebagai asisten rumah tangga. Beberapa kali aku memaksa supaya Jungkook menjadi resepsionis di salah satu klinikku, tapi ia menolak dengan tegas. Kurasa ia menikmati pekerjaannya." Joohyun melirik pria Kim sekilas, memberikan tatapan sinisnya. "Kalau saja saat itu aku lebih peduli dan benar-benar mencari tahu kepada siapa Jungkook bekerja…"
Helaan panjang lolos dari bibir wanita cantik itu.
"Maaf."
Terlampau singkat, dan begitu lirih terdengar.
Kim Taehyung bahkan tidak tahu kenapa ia meminta maaf. Hanya saja, ia merasa begitu perlu mengucapkannya.
"Katakan itu kepada Jungkook." gumamnya sebelum kembali menikmati latte-nya yang sudah mendingin. "Ahh… mungkin bukan hanya kau yang harus meminta maaf kepada Jungkook, tapi aku juga."
"Saat Jungkook hamil, siapa yang menjaganya?" pertanyaan itu terlontar penuh keraguan, sarat akan kekhawatiran, juga rasa bersalah.
"Aku tinggal di Busan bersamanya, Bogum juga sesekali mengunjungi kami. Well, awalnya aku tidak tahu Jungkook sedang hamil sampai aku melihat perutnya yang membesar setiap hari. Saat itu ia datang padaku untuk meminjam uang. Katanya, ia ingin membuka kedai atau rumah makan kecil di Busan. Karena Jungkook tidak pernah meminta apapun kepadaku, bahkan setelah apa yang Hoseok berikan untukku, aku langsung memenuhi permintaannya. Aku bahkan bersikeras membantunya walau Jungkook tak kalah keras kepala menolakku. Aku mendampinginya untuk membuka kedai, juga membantunya memenuhi kebutuhannya saat mengandung."
"Apa Jungkook menginginkan sesuatu yang aneh? Apa noona bisa mendapatkannya? Apa Kwonnie rewel dan membuat momma-nya kerepotan?"
Park Joohyun terdiam. Ia menatap lekat wajah sang sepupu yang tampak kacau. Mau tak mau, Joohyun kembali tersenyum. Bukan sebuah senyum meremehkan, namun senyum maklum, pertanda bahwa dirinya mengerti. Tangannya terulur secara natural untuk mengusap puncak kepala Taehyung. Meski keduanya jarang akur, Joohyun tidak bisa memungkiri bahwa terkadang, CEO yang tampak tegas dan keras itu tak ubahnya seorang bocah di saat-saat tertentu.
"Jungkook bukan pemuda yang lemah, kau tahu itu. Ia rajin meminum vitamin juga susu. Ia benar-benar sosok yang mandiri. Merintis kedainya, juga mengurus diri dan calon bayinya… Jungkook benar-benar sosok yang tangguh."
Taehyung mengangguk setuju. Ia terkekeh ringan saat mengingat ketangguhan Jungkook yang pernah disaksikannya, bagaimana calon istrinya itu menendang dengan brutal pintu hotel sampai jebol, juga beberapa pukulan yang didapatnya saat pemuda Jeon belum lari dari kontrak mereka.
"Merasa baikan?" Joohyun menarik tangannya. Ia tersenyum simpul saat Taehyung mengangguk perlahan.
Beberapa detik.
Senyum itu hanya bertahan selama beberapa detik sebelum pada akhirnya pudar.
"Ada satu hal yang harus kau tahu, Tae. Tapi sebelumnya, berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan meninggalkan Jungkook. Sepertinya Jungkook sudah nyaman denganmu, ia tidak terlihat setangguh dulu. Kau berhasil meruntuhkan pertahanannya, aku senang ia mulai terbuka dan menerima kehadiran seseorang di hatinya, tapi aku juga merasa khawatir."
Bagai anak kecil yang diberikan syarat sebelum ia mendapat permen, pewaris Kim Enterprise mengangguk patuh. Ditatapnya lekat wajah sepupunya yang nampak serius.
"Awalnya kukira Jungkook mengalami baby blues syndrome."
"Baby apa?" CEO Kim meminta konfirmasi. Ia tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Lebih dari itu, Taehyung tidak tahu apa maksudnya.
"Baby blues syndrome." ulang Joohyun perlahan. "Perasaan cemas dan gelisah setelah melahirkan. Aku tidak terlalu khawatir karena ini dialami oleh hampir lima puluh persen ibu. Malahan, ada yang bilang sekitar lima puluh hingga delapan puluh persen ibu mengalami ini. Aku dan Bogum berusaha semampu kami untuk membantu meringankan syndrome yang ia alami. Hanya saja, yang terjadi kepada Jungkook adalah sesuatu yang lebih parah. Kekhawatiran dan ketakutannya sampai ke tahap postpartum depression. Kami sampai harus membuat janji dengan dokter spesialis untuk beberapa kali sesi terapi. Beruntungnya, Jungkook membaik."
Taehyung meremat dadanya, terasa sangat nyeri.
Ia sungguh merasa bersalah karena tidak dapat mendampingi ibu dari bayinya pada saat-saat sulit pasca melahirkan.
"Jungkook khawatir ia tidak akan bisa merawat bayinya. Ia takut Taekwon akan dikucilkan karena tidak memiliki seorang ayah. Bahkan, Jungkook sempat meminta aku dan Bogum untuk merawat putranya, menjadikanya putra kami."
Kali ini, Kim Taehyung benar-benar merasakan kepalanya kosong.
Setahunya, Jungkook begitu menyayangi putra mereka. Ia sangat ahli dalam menjaganya. Bagaimana mungkin Jungkook pernah berpikir untuk memberikan putranya kepada Joohyun.
"Awalnya aku merasa sangat senang. Kau tahu sendiri aku belum memiliki seorang anak meski usia pernikahanku dengan Bogum sudah cukup lama. Kalau saja bukan karena Bogum yang memaksaku untuk menolaknya, mungkin saat ini kau tidak akan bisa memeluk Taekwon karena aku sungguh tidak akan membiarkan anakku berdekatan dengan orang brengsek meski itu adalah ayah kandungnya sendiri." Joohyun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang bertumpu pada meja. "Kau beruntung Bogum meyakinkanku bahwa Jungkook sedang dalam keadaan kacau, makanya ia sampai ingin memberikan Kwonnie kepada kami. Aku menurutinya untuk menunggu kondisi psikis Jungkook stabil, dan, yeah… benar katanya, Jungkook hanya terlalu bingung saat meminta kami mengadopsi putranya."
Taehyung terdiam. Ia tak menyangka bahwa dirinya yang meminta sang sepupu untuk menceritakan masa-masa sulit Jungkook akan membuka luka di hati wanita itu juga.
Park Bogum dan Bae Joohyun sudah lama menikah, ia tahu. Sayangnya, pasangan itu belum dikaruniai seorang putra. Sebagai Nyonya Park, Joohyun pasti merasa tertekan juga, dan tawaran Jungkook saat itu pastilah memberinya setitik kebahagiaan, meski pada akhirnya semua harus pupus.
"Maaf, noona. Maafkan aku." gumam Kim Taehyung lirih.
.
.
.
.
.
Kim Taehyung mengendarai mobilnya perlahan.
Ia baru saja mengantarkan sepupunya pulang. Wanita berusia matang itu langsung masuk ke kamarnya, melewati sang suami yang menyambut kedatangannya. Taehyung yang ikut turun langsung saja menjelaskan apa yang baru saja mereka bicarakan sehingga Joohyun bersikap seperti itu. Ia tulus menyampaikan permintaan maafnya, dan Park Bogum hanya membalasnya dengan tepukan perlahan di pundak, juga sebuah senyuman.
Taehyung tiba di rumahnya dengan perasaan kacau. Kenyataan bahwa alasan terbesar Jungkook mengalami depresi setelah melahirkan buah hati mereka adalah karena kurangnya perhatian sosok suami benar-benar membuatnya merasa bersalah, ditambah Joohyun noona yang terlihat sedih karena pembicaraan mereka…
Pria Kim melempar jasnya asal ke atas sofa. Ia mengacak rambutnya asal, tiba-tiba saja merasa sangat marah, marah kepada dirinya sendiri yang bodoh dan tidak berguna.
"Hyung, kau sudah pulang?"
Taehyung melirik jam di pergelangan tangannya sebelum menolehkan kepala untuk menatap calon istrinya yang baru saja keluar dari kamar mereka untuk menghampirinya.
"Hampir jam sepuluh, kau belum tidur?" pria yang berusia enam tahun lebih tua melepas dasinya dengan sebelah tangan, lalu melemparnya asal. Ia segera berjalan mendekati Jungkook, lalu memberikan sebuah pelukan erat.
"Aku ingin mengambil air minum." gumam pemuda Jeon perlahan, ia mengalungkan sepasang lengannya ke leher sang kekasih, lalu memberikan sebuah kecupan di rahang tegas prianya. "Ada apa, hmmhh?"
Pria bersurai arang terkekeh saat mendapati reaksi Jungkook ketika ia memberikan jilatan nakal di leher. "Jagoan kita sudah tidur?"
"Mhh.. ahh, yaa…"
Jungkook menjawab terbata. Ia terpaksa melangkahkan kakinya mundur, mengikuti gerakan tubuh Kim Taehyung yang mendorong tubuhnya sambil memberikan usapan sensual di pinggang.
"Pegangan yang kuat."
"Ouhh! Hyung!" Jungkook memekik tertahan.
Kim Taehyung telah terlebih dahulu mengangkat tubuhnya sebelum ia sempat bertanya. Pria yang telah mengambil hatinya itu membawanya berjalan ke arah sebuah kamar yang begitu dihafalnya, kamar yang selama ia dan sang putra tiba di Seoul, belum pernah sekalipun dibuka.
Tangan kanan pria Kim terulur untuk membuka salah satu laci dari meja yang dilewatinya, sementara satu lainnya menyangga tubuh pemuda Jeon sambil memberikan remasan-remasan nakal pada bokongnya.
Jungkook terkekeh pelan. Ia semakin mengeratkan lengannya, memberikan balasan dengan sebuah gigitan main-main di leher sang kekasih.
"Tidak apa-apa di sini?"
Jungkook mengangguk perlahan sambil menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher dan bahu Taehyung. Matanya terpejam rapat, mencoba meredam gejolak aneh dalam hatinya.
"Mmhh, aku nyalakan AC dulu." Taehyung menurunkan sang kekasih ke atas ranjang empuk yang tertutup bed cover berwarna marun. Dikecupnya singkat bibir sang kekasih sebelum ia beranjak untuk mencari remote AC.
Jungkook menghela nafas.
Sepasang mata bulatnya menatap sekeliling, dan semuanya masih sama persis seperti saat terakhir kali ia meninggalkan kamar ini. Hanya bed cover yang berganti, dan itu sangat wajar. Empat tahun lebih ia tidak berada di sini, mana mungkin bed cover-nya tetap sama.
Dan kekehan lirih lolos begitu saja saat pemuda Jeon menyadari pikiran konyolnya.
"Kenapa, hm?" Taehyung merangkak ke atas ranjang, melepaskan satu per satu kancing kemejanya, lalu meloloskan ikat pinggang dan membuangnya asal. Setelahnya, ia menindih tubuh Jeon muda dan menghujani lehernya dengan cumbuan.
"Ahh… kau yang kenapa, hyunhh."
Dan Kim Taehyung hanya terkekeh, semakin menindih tubuh yang hanya berbalut kaos putih kebesaran dan celana pendek sepaha.
"Kau menggodaku dengan pakaian ini." bisiknya sebelum mengulum cuping telinga Jungkook, membuat yang lebih muda terkekeh geli. Apalagi saat ini tangan nakal pria Kim sudah menyusup ke dalam kaosnya, menggelitik lembut pinggangnya yang entah sejak kapan menjadi sensitif.
Jungkook tertawa jenaka. Ia memainkan surai Taehyung yang sepertinya sedang ingin bermanja.
"Benar tidak apa-apa di sini?" pria bersurai jelaga mengulangi pertanyaannya. Ia hanya ingin memastikan sang kekasih merasa nyaman ketika mereka bercinta. "Kita bisa pindah kamar jika kau mau."
Pemuda Jeon menggeleng perlahan. Ia berusaha mendorong tubuh calon suaminya, lalu membalik keadaan sehingga kini dirinyalah yang menindih seorang Kim Taehyung.
"Kenapa harus pindah? Bukannya ini kamarku?"
Taehyung mengangguk canggung sebelum berucap ragu. "Yaa, kau tahu. Di sini, dulu, begitu…"
Jeon Jungkook terkekeh. Dicubitnya main-main hidung mancung pria Kim, lalu dikecupnya lembut bibir tebal milik sang kekasih.
Ia tahu betul apa yang dimaksud Taehyung.
Tempat ini,
Kamar ini, adalah tempat dimana Jeon Jungkook disetubuhi oleh Tuan Muda Kim untuk pertama kali. Di tempat ini pula ia berulang kali harus melayani nafsu seorang Kim Taehyung meski dirinya sedang tidak ingin.
Jeon Jungkook sadar, kamar ini menyimpan sebagian ingatan buruk miliknya. namun ia tak dapat memungkiri bahwa di kamar ini pula ia jatuh cinta untuk pertama kalinya kepada sosok yang memeluknya erat ketika mereka bercinta, sosok yang mencumbunya lembut dan membantunya melupakan sejenak kesedihan yang ia alami setelah kehilangan kakaknya.
Maka pemuda bersurai madu menunjukkan senyum manisnya. Ia mendudukkan diri di atas paha pria Kim, dengan gundukan di selangkangan kekasihnya berada tepat di tengah-tengah belahan pantatnya.
Dengan sangat perlahan, Jungkook meloloskan kaos yang ia kenakan, membuangnya asal.
Kemudian sepasang lengannya mulai menyibak kemeja Taehyung ke samping, meraba perutnya dengan usapan yang menggoda.
"Kau yang meminta, sayang. Jangan salahkan aku jika besok suaramu serak karena terlalu banyak berteriak." bisik Kim Taehyung sebelum menjilat bibirnya yang terasa kering, lalu menunjukkan seringai penuh nafsu.
.
.
.
TBC
.
.
.
Pendek.
Mau puasa, NC kena sensor semua
