Superhero berusia empat tengah duduk di kasur besarnya. Tangan kirinya mengucek mata, sementara yang kanan ia gunakan untuk menarik-narik asal selimutnya. Perlahan ia mengamati sekeliling, sekedar mencari momma dan poppa yang pernah mengikrarkan janji untuk selalu menemaninya tidur.

Bibirnya mengerucut, terlihat menggemaskan, kala sepasang matanya yang setengah terpejam tak mendapati lengan kuat poppa yang memeluknya, apalagi tubuh hangat momma yang mendekapnya.

Kepalanya menoleh, mencoba mengamati lebih jauh kamar besar yang diklaimnya sebagai kamar miliknya bersama kedua orangtuanya. Ia hampir berteriak memanggil momma kala tidak mendapati siapapun bersamanya di dalam kamar, namun pemikirannya sebagai balita pintar membuatnya mengurungkn niat.

Jeon Taekwon menguap lebar sebelum berucap, "Tapi poppa dan momma bisa sedang pipis atau minuman cari air. Kwonnie anak besar tidak menangis karena anak pintar menunggu poppa dan momma."

Putra kesayangan pewaris Kim Enterprise menganggukkan kepala, menyatakan persetujuan atas apa yang baru saja lolos dari bibirnya sendiri.

Memang benar, poppa mungkin sedang buang air kecil di kamar mandi, dan momma tengah mengambil minum di dapur, atau sebaliknya. Tentu saja mereka akan segera kembali untuk menemani Kwonnie tidur seperti apa yang telah dijanjikan. Anak besar seperti dirinya tidak akan rewel hanya karena menunggu poppa dan momma kembali. Taekwon akan menjadi anak baik dengan tidak berteriak ketika malam karena kata momma, bersuara keras ketika malam akan mengganggu tetangga yang sedang tidur dan beristirahat.

Maka yang dilakukan Jeon Taekwon adalah kembali merebahkan dirinya di atas ranjang, lalu memeluk erat guling di sampingnya sebelum mulai memejamkan mata.

"Uuu... Nanti poppa bilang anak jagoan karena Kwonnie tidak mencari saat bangun malam." gumamnya sambil tersenyum. Ia tertawa kecil membayangkan dirinya mendapatkan usapan di kepala dan pujian dari sang ayah. Setelahnya, Kwonnie menenggelamkan kepalanya ke gulingnya sambil membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan dilakukan bersama poppa karena ia bersikap seperti jagoan.

.

A fanfiction, the continuation of "Puzzled"

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung

Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Rated: M for the language and theme, and yeah

Warning: OC for Taekwon.

Ambigu, TYPO tak tertahankan, m-preg (?)

.

.

"Painted"

Part XVI: the Painting

"Ummh… hyung…" lenguh seorang pemuda bersurai honey brown kala sosok yang mengungkungnya kini mendaratkan sebuah kecupan di puncak nipple-nya yang tegang. Digigitnya bibir bagian bawahnya sendiri, menggambarkan nikmat yang menyebar ke seluruh tubuhnya yang entah sejak kapan tinggal mengenakan brief berwarna marun.

"Apa aku menyakitimu, Jungkook?"

Tubuh Jungkook makin menegang kala suara bernada rendah menyapa gendang telinga, ditambah sentuhan-sentuhan ringan pada sepasang nipple yang basah karena saliva pria bersuara rendah. Jemari pria itu bergerak seirama, memutar perlahan, menekan lembut, hingga memelintir kecil kala memainkan sepasang titik sensitifnya yang telak membuatnya hampir gila.

Kepalanya menggeleng perlahan, matanya yang sedikit terpejam menatap begitu sayu pria bersurai arang yang bahkan sudah telanjang. Perlahan bibirnya tersenyum kala mendapati pria Kim menegakkan tubuhnya,

"Taehyung. Kim Taehyung. Kau harus memanggil namaku saat mendesah." Kim Taehyung terkekeh ringan, mencontohkan bagaimana namanya harus terucap dari bibir menggemaskan Jeon Jungkook ketika kekasihnya itu merasakan nikmat. "Oh.. atau bisa juga kekasihku yang tampan dan perkasa."

Yang diajak bicara tertawa kecil tak kalah renyah. Ia tak tahu sejak kapan seorang Kim Taehyung suka bercanda. Meminta dipanggil sebagai kekasihku yang tampan dan perkasa adalah hal yang sangat konyol karena Jeon Jungkook tak akan mampu mengucapkan frasa sepanjang itu ketika mereka bercinta, terlebih ketika Jungkook dihujani rangsangan dan dimabuk kenikmatan.

Ia sedikit terperanjat kala merasakan kesepuluh jari pria Kim meraba dada hingga ke perutnya. Tak berhenti di sana, tangan itu kemudian bergerak untuk menarik briefs yang dipakainya hingga terlepas.

"Indah seperti biasanya…" gumam Taehyung dengan suara parau, sarat akan nafsu di dalamnya. Kembali ditindihnya tubuh yang lebih muda, lalu dihujaninya kulit lembut pemuda Jeon dengan kecupan dan jilatan sensual. Seluruh tubuhnya bergerak, menyebabkan kulit eksotisnya bergesekan dengan tubuh sang kekasih, membuat keduanya saling merasakan nikmat kala percikan rangsang mulai menjalar dari titik-titik yang bergesekan.

Tak mau kalah memanjakan, Jeon Jungkook menggeliat, menyambut setiap gerakan calon suaminya. Ia bahkan meraba punggung pria yang mengungkungnya dengan kedua tangan, merematnya mesra, dan membisikkan erangan serta desahan penuh gairah. Sepasang nipple-nya menegang, penisnya menuntut untuk dimanjakan, sementara kerutan analnya berkedut ketika ujung kelelakian pria Kim menggesek belahan pantatnya.

Jeon Jungkook semakin mengangkang, bahkan kini sepasang lengannya telah berhenti memanjakan sang kekasih dan beralih menarik masing-masing lutut bagian belakangnya sendiri sehingga analnya lebih terangkat dan semakin terekspose karena pahanya yang kian mengangkang. Bibirnya meloloskan rengekan saat Taehyung berkali-kali mengecup puncak nipple-nya bergantian, membuatnya merasa semakin mabuk dan menginginkan.

Ia sungguh merasa frustasi karena pria Kim begitu tanggung dalam memberikan rangsangan. Pinggulnya kini bahkan menggoyangkan pinggulnya untuk menyambut setiap gerakan pewaris Kim, membuat analnya sukses bergesekan dengan ujung kejantanan Taehyung yang tegang sempurna, membuat keduanya seolah tengah bersenggama.

"Aaakhh… Taehyung… mnhhh…"

Kim Taehyung terkekeh perlahan.

Wajah Jungkook yang memerah dengan mata sayunya yang berair sungguh terlihat menggemaskan. Dan ia semakin menggodanya dengan menghujani kecupan-kecuan ringan di atas bibir yang lebih muda. Sesekali ia akan memberikan lumatan, dan begitu Jeon muda menuntut lebih, pria Kim langsung melepaskannya.

Jeon mengerang protes. Sebelah tangannya berpindah dari kaki kiri menuju tengkuk sang kekasih, menariknya kasar, lalu meraup bibir tebal pria Kim rakus. Kaki kanannya masih mengangkang lebar, sementara tungkai kirinya kini melingkar di pinggang Kim Taehyung.

"Menginginkankuhh, hwmm?" pria Kim bergumam di sela kegiatannya membalas ciuman sang kekasih yang terasa begitu rakus. Tangan kirinya menyangga tubuh, sementara tangan kanannya menyelinap ke paha dalam Jungkook, membelainya lembut sebelum dengan sengaja menyentuh sekilas penis pemuda Jeon yang tegang sempurna.

Tentu yang ditanya hanya mampu menjawab dengan lenguhan dan erangan. Ia sungguh tak ingin melewatkan kesempatan untuk menyusupkan lidahnya ke mulut sang dominan.

Menerimanya dengan suka rela, Taehyung mengulum lidah kekasihnya gemas, sesekali menggigitnya main-main. Sementara itu telunjuk dan jari tengahnya mulai menari-nari di atas kerutan anal pemuda Jeon.

"Mwhh.. aakhh! Taehyunghh…"

Jeon Jungkook melenguh keras, membuka mulutnya lebar ketika telunjuk sang kekasih mendobrak masuk pintu analnya tanpa peringatan. Tangan kirinya beralih dari tengkuk ke lengan pria Kim, merematnya kuat. Matanya terpejam rapat, dan semakin rapat ketika pria yang namanya lolos dalam desahan menggerakkan telunjuknya lincah di dalam sana.

"Sakit, hm?" pria Kim memberikan sebuah kecupan di bibir bawah Jeon yang digigit sensual oleh pemiliknya. "Kupikir precum dari penisku cukup sebagai pelumas."

Bukan jawaban yang Taehyung dapatkan, melainkan rengekan dari sang kekasih, pertanda bahwa dirinya meminta lebih.

Dan Kim Taehyung segera mengabulkannya dengan menambahkan jari tengah ke dalam sana. Kedua jemari di dalam anal Jungkook kini mulai bergerak keluar masuk, sesekali sedikit memutar, juga membuka dan menutup seperti gerakan menggunting. Lenguhan dan desahan Jeon Jungkook terdengar merdu seirama dengan kenikmatan yang disalurkan pria Kim. Tubuh indahnya menggeliat perlahan, bergerak resah kala ujung jari Taehyung menyenggol titik nikmatnya.

Pria berusia enam tahun lebih tua terkekeh perlahan sembari mendaratkan kecupan-kecupan. Ia sengaja menggoda calon istrinya karena sungguh, Jeon Jungkook yang tengah terbakar gairah benar-benar terlihat terlihat panas.

"Berbalik, sayang." bisiknya dengan suara rendah. Dijilatnya sekali daun telinga Jungkook sebelum Taehyung bangkit dan meloloskan kedua jarinya dari liang kenikmatan pemuda Jeon. Ia menjilat bibir bawahnya yang terasa kering ketika sepasang netranya mengamati Jeon Jungkook berusaha berbalik.

Pemuda bersurai madu itu bertumpu pada kedua lututnya. Bukannya menggunakan tangan untuk menyangga tubuh bagian depan, Jungkook memilih untuk menggunakan bahunya sebagai tumpuan. Menurutnya, kejantanan Kim Taehyung bisa menghujamnya lebih dalam jika ia berada di posisi seperti ini. Kenikmatan yang akan diraupnya pun akan bertambah seiring dengan terhujamnya titik kenikmatan.

Semenara itu, Taehyung meneguk salivanya rakus. Disuguhi pemandangan dengan bongkahan pantat bulat sang kekasih, juga kerutan anal yang berkedut rakus, seakan memanggil-manggil penis tegangnya supaya lekas menghujam.

"Menggodaku, hm?"

Pria Kim melepaskan sebuah tamparan ke bongkahan pantat sebelah kanan, kemudian meremasnya gemas.

"Aakhh!"

Katakanlah Jeon muda sudah benar-benar mabuk akan nafsu, karena yang dilakukannya adalah menggoyangkan pantatnya sensual. Tangan kirinya bahkan terulur untuk mengurut kejantanannya sendiri.

"Malam ini kau benar-benar nakal, sayang." Taehyung bergumam dengan suara rendahnya. Ia tertawa kecil sebelum memposisikan dirinya di belakang sang kekasih. Tangan kanannya masih bermain dengan pipi pantat Jungkook, sementara tangan kirinya berusaha membantu kejantanannya untuk menembus pintu liang kenikmatan calon istrinya. "Kau bahkan bisa membuatku setegang ini hanya dengan gesekan di tubuh bagian bawahmu, Jeon. Benar-benar panas."

"Aaannhhh… Aaakkhhh!"

Jeon Jungkook memekik keras kala kepala penis kekasihnya berhasil menyeruak masuk. Ia semakin mengangkat pantatnya, menyambut batang kelelakian Taehyung yang perlahan-lahan membelah dinding rektumnya. Ia mengerang frustasi, merengek manja karena penyandang marga Kim bergerak sungguh pelan.

"Sempit, sayang. Kau ahh… bisa menguras spermaku jika begini terus. Mmhh…"

Malam ini Jungkook sungguh benar-benar panas dan sensitif. Mendengar ucapan mesum pria bersurai arang, seluruh tubuhnya menegang. Bahkan dinding rektumnya semakin kuat mencengkeram penis Taehyung yang baru masuk sepertiganya saja.

Pria Kim tertawa pelan. Ia menelungkupkan dirinya di atas Jeon muda, menindih tubuh menggairahkan itu, kemudian meraba perut dan dadanya yang halus. Sesekali dibuatnya jejak kepemilikan di punggung dan leher bagian belakang, membuat Jungkook merasa semakin tersiksa karena pria yang menyetubuhinya tak segera menumbuk prostat miliknya, melainkan malah bermain-main dengan cara merangsang bagian sensitifnya yang lain.

"Hyungghh… oohhh… penismu…" pinggul Jungkook bergerak menuntut, masih dengan sepertiga kelelakian Taehyung yang berada di analnya.

"Penisku kenapa, hm?"

Pemuda Jeon mengerang frustasi. Ia bahkan menggigit bantalnya dan meremat bed cover kasar menggunakan tangannya yang terbebas dari tugas memanjakan diri.

"Aku harus mencabut penisku?"

Kim Taehyung benar-benar penggoda ulung. Ia menggerakkan pinggangnya menjauh, membuat kejantanannya sedikit demi sedikit tertarik keluar dari liang kenikmatan kekasihnya.

"Nooo!" Jungkook memekik keras. Ia merengek lemah sambil mendorong pantatnya supaya penis Kim Taehyung yang hampir seluruhnya keluar dari analnya kembali masuk. "Fuck me. Hard."

Dan kata-kata itu bagaikan mantra yang ditunggu-tunggu oleh Kim Taehyung karena yang selanjutnya ia lakukan adalah mendorong kuat pinggulnya sehingga kejantanannya menghujam dalam-dalam lubang kenikmatan kekasihnya, menubruk tanpa ampun titik prostat Jeon Jungkook dan membuatnya menjerit nikmat hingga suaranya terputus.

Tubuh bagian bawah Jungkook bergetar hebat, pinggulnya bergerak tak beraturan seiring dengan sperma yang menyembur deras dari penis yang sedari tadi diurutnya.

Perutnya terasa keram, sepasang pahanya yang bergetar terasa begitu kencang, penuh ketegangan dan kenikmatan.

Dan tamparan-tamparan nakal pada bokongnya membuatnya semakin merasakan kenikmatan.

Belum usai gelombang orgasme yang dirasakan Jungkook, Taehyung sudah menarik menggerakkan penisnya keluar-masuk liang senggama Jeon muda dengan penuh tenaga, menambah siksaan kenikmatan lantaran prostatnya kembali ditumbuk berulang kali.

"Jungkook aahhh… Sungguh mmhhh… hampir saja kau berhasil menguras spermaku ahhh… sial. Rematan analmu, Jeon…"

Jungkook bukannya tak mendengarkan ucapan pria yang menyetubuhinya. Ia hanya terlalu tenggelam dalam lautan nikmat yang melanda. Sperma memang sudah tak lagi mengalir dari penisnya, namun gelombang kenikmatan yang dirasakan seolah tak ingin pergi meninggalkannya. Terlebih hujaman Taehyung yang tanpa henti mengenai prostatnya, Jungkook sungguh terkubur dalam kenikmatannya sendiri.

"Awnnhhh… anghhh… Taehyuwhh… Tae… nikmat sekahhh.."

Kim Taehyung terkekeh. Ia menyelipkan kedua lengannya di atas tubuh sang kekasih, lalu menariknya hingga keduanya kini berdiri dengan lutut.

Masih dengan penis yang bergerak liar di dalam liang kenikmatan Jungkook, Taehyung menggunakan kedua tangannya untuk membelai permukaan perut kekasihnya, memberikan sentuhan-sentuhan rangsang yang membuat isi kepala pemuda Jeon semakin kosong.

Pemilik surai madu bahkan kini sedikit mendongak, menyandarkan kepalanya pada pundak tegap pria Kim. Tangan kanannya bergerak naik, meraih kepala bagian belakang Taehyung, menariknya hingga wajah sang dominan tenggelam di perpotongan leher dan pundaknya.

Taehyung tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memberi semakin banyak kenikmatan. Dicumbunya ceruk leher Jeon muda, digigitnya lembut, hingga bercak kemerahan tercetak di sana.

Tangan kanannya turun ke bawah, menunpuk jemari kiri Jungkook yang tengah memanjakan penis pemuda bersurai honey. Sementara itu, tangan kirinya memelintir nipple Jungkook gemas.

"Mngghh… ahh ahh… Taehyung…"

"Hmm? Mmh... kau liar, sayang…"

Desahan dan erangan nikmat lolos dari bibir keduanya seiring semakin liarnya gerakan mereka. Keduanya berlomba untuk meraup kenaikmatan, sekaligus memanjakan pasangannya.

Sesekali pekikan tertahan terdengar kala kepala kejantanan pria Kim menumbuk prostat pemuda Jeon terlalu kuat.

Hingga perut Jungkook mulai terasa keram, dan gerakan pinggulnya yang menyambut hujaman pewaris Kim semakin tak terkendali.

Merasakan hal yang sama, Taehyung semakin menambah tenaganya. Ia bahkan mendorong tubuh mereka hingga Jungkook kembali ambruk bertumpu pundak dengan pantatnya yang menungging.

"Oohhh…. Tae… ahhh ahh akhh…"

Semakin kuat, semakin dalam, dan semakin intens nikmat itu Jeon Jungkook rasakan kala Kim Taehyung dengan tanpa ampun melesakkan kelelakiannya.

Dan gelombang itu datang begitu hebat, diikuti cairan sperma Jungkook yang keluar membasahi tangannya sendiri, juga tangan sang kekasih yang sedari tadi ikut memanjakannya. Otot-otot rektumnya meremat semakin kuat, memaksa Kim Taehyung untuk mencapai puncaknya juga.

"Jungkuhhh… akhhh!"

Semburan-semburan hangat memenuhi perut Jungkook, membuatnya mengerang dengan tubuh yang masih mengejang. Sepasang matanya terpejam merasakan nikmat, dan seulas senyum tanda kepuasan terukir manis di bibirnya yang bengkak.

Kim Taehyung memberikan kecupan-kecupan lembut di bahu dan tengkuk kekasihnya sembari menikmati gelombang orgasmenya yang belum mereda. Sesekali ia menggerakkan pinggulnya, membuat Jungkook yang kewalahan mengerang protes.

"Hyuung…"

Pria Kim terkekeh. Perlahan sebelah tangannya meluruskan kaki Jeon Jungkook hingga pemata bulat itu tengkurap sempurna, masih dengan ia yang menindihnya, masih dengan penisnya yang berada di dalam sana.

"Aku berat, hm?"

Jeon Jungkook menggeleng perlahan. Ia melepaskan penisnya sendiri, menarik tangannya sehingga tak tertindih, sementara Kim asyik membelai perut kekasihnya, tak peduli jika nanti lengannya akan keram karena ditindih tubuh Jungkook, juga tubuhnya sendiri.

"Lelah, sayang?"

Lagi-lagi pemuda Jeon menggeleng, kali ini diiringi kekehan ringan.

Sungguh ia merasa bahagia kala pria pujaannya melontarkan begitu banyak pertanyaan ketika mereka tengah bercinta. Baginya, ini adalah bentuk perhatian untuk dirinya.

Sekarang Jungkook merasa dicintai dan diinginkan, karena dulu, Kim Taehyung tak akan pernah peduli dengan apa yang Jungkook rasakan.

"Lagi?"

Bukan…

Bukan pria bersurai jelaga yang bertanya, melainkan pemuda yang telah memiliki seorang putra yang bertanya kepada kekasihnya.

Dan itu sukses membuat Taehyung menelan saliva.

"La -lagi?" bahkan pewaris perusahaan ternama itu terbata ketika bicara. Ia sungguh tak menyangka bahwa Jeon Jungkook akan menjadi sosok yang meminta untuk ronde selanjutnya. Bukannya tak sanggup melakukan karena, tentu saja, Kim Taehyung masih memiliki begitu banyak stamina. Hanya saja, biasanya ia yang akan meminta, bahkan sedikit memaksa Jungkook untuk melakukannya lagi.

Yang lebih muda terkekeh pelan. Ia bahkan mencubit kecil pundak calon suaminya. "Sebelum aku berubah pikiran."

Kim muda tentu tak perlu menunggu lebih lama sebab ia sungguh tak ingin kehilangan kesempatan untuk menyetubuhi Jungkook lagi dan lagi.

Maka dengan perlahan ia menyingkir dari tubuh sang kekasih, membuat kejantanannya tertarik keluar.

"Aahhh..."

Jeon Jungkook mendesah, sedikit mengangkat pinggulnya karena rasa nikmat itu kembali menyapa.

Dan Kim Taehyung harus menahan dirinya sendiri agar tidak menyerang pemuda Jeon kala netranya menangkap betapa sexy tubuh sang calon istri ketika spermanya mengalir perlahan dari pintu anal Jungkook yang berkedut lapar.

Ia segera membaringkan dirinya di samping pemuda Jeon, memberikan kecupan singkat di pipi sebelum membisikkan keinginannya dengan suara rendah yang menggoda.

"Ride me."

Singkat.

Dan Jungkook perlahan bangkit hanya untuk membuka pahanya lebar-lebar dengan tubuh bagian bawah Kim Taehyung sebagai kursinya.

Ia terkekeh perlahan kala mendapati kekasihnya tengah mengocok kejantanannya sendiri, mempersiapkannya untuk sesi selanjutnya. Menggunakan tangan kanannya untuk bertumpu di perut sang kekasih sementara tangan kirinya yang berbalut cairannya sendiri tengan membantu memanjakan milik pria Kim, Jungkook berujar nakal. "Sudah tidak sabar, hm?"

Bukan Kim Taehyung namanya jika kalah dalam permainan kata.

Maka dengan seringai di bibir dan lidah yang terjulur untuk menjilat bibirnya yang terasa kering, jawaban tak kalah kurang ajar terlontar. "Tentu saja. Mana bisa aku menahan diri jika kekasihku sangat panas malam ini. Kau bahkan tidak tahu betapa panasnya dirimu saat lubang sempitmu itu tak mampu menampung benihku, Jeon. Ahh… lihatlah cairanku mengalir keluar ke pahamu yang kencang. Benar-benar panas, kau bisa membuatku meleleh kapan saja."

Jeon Jungkook tertawa renyah.

Dulu, ia tak pernah membayangkan dirinya akan bercinta dengan Kim Taehyung dengan santai dan tanpa rasa sesak di dadanya. Dan kini hal itu terjadi seolah beginilah seharusnya mereka berdua.

Tak ingin membuang waktu lebih lama, Jungkook, dibantu oleh kakasih mesumnya untuk memasukkan penis pria Kim ke liang surganya. Kali ini ia tidak memekik atau meloloskan desahan karena bibir bawahnya digigit lembut.

Tak tahu saja Jungkook bahwa aksinya membuat dirinya terlihat semakin menggairahkan di mata seseorang yang tengah coba ditungganginya.

Kepala penis Kim berhasil masuk, diikuti dorongan perlahan yang membuat batang kemaluan pria itu semakin dalam melesak.

Jeon Jungkook tak lagi menggigit bibirnya. Ia kini meloloskan desisan lembut dan erangan pelan. Sepasang netranya terpejam menahan kenikmatan, sesekali berusaha terbuka namun tubuhnya yang dilanda rangsang membuatnya tak kuasa.

"Aakhh!"

Pekikan itu lolos ketika rektum Jungkook berhasil menelan keseluruhan batang perkasa milik kekasihnya.

Nafasnya terengah lembut., dan tubuhnya bermandikan keringat. Sungguh emandangan sempurna untuk Kim Taehyung yang tengah ditungganginya.

"Berpegangan, sayang. Agar kau tak terjatuh karena kuda yang kau tunggangi benar-benar liar."

Dan yang Jeon Jungkook ingat selanjutnya hanyalah sentuhan penuh kenikmatan dari pria yang berjanji akan menikahinya.

Keduanya melewati malam panas bersama, saling memberikan rangsangan, berlomba meraih kepuasan.

.

.

.

.

.

.

"Tidurlah, aku akan melihat Kwonnie sebentar." Pria Kim mengecup puncak kepala kekasihnya yang terpejam, kemudian menutup tubuh yang masih telanjang itu dengan selimut tebal yang belum diganti usai keduanya berbagi kehangatan.

"Aku juga ingin ke sana." gumam Jungkook dengan suara yang masih parau. Ia mencoba membuka kelopak matanya, lalu ditariknya lengan pria yang lebih tua sebelum dipeluknya erat-erat. "Atau biarkan saja Kwonnie tidur sendiri."

Mendengar permintaan pemuda Jeon yang terkesan manja, Taehyung terkekeh renyah. Ia mengusak surai sewarna madu Jungkook yang masih setengah basah karena keringat, lalu lagi-lagi mendaratkan kecupan hangat. "Jangan begitu, kita sudah berjanji untuk menemaninya tidur. Aku tidak ingin banyak berbohong kepadanya."

Masih dengan dengan tubuh yang telanjang, pria Kim memeluk ibu dari bocah kesayangannya penuh pengertian. Ia bahkan semakin menarik selimut yang membalut Jungkook hingga hampir menutup wajah sosok yang lebih muda. Perlahan ia melanjutkan ucapannya. "Besok malam kita bilang pada Kwonnie bahwa ia harus berlatih tidur sendiri. Sekarang, aku akan menemaninya dulu."

Kim Taehyung hanya tak ingin ingkar janji. Ia bisa memberi alasan kepada jagoan kecilnya jika yang absen dari acara tidur bersama hanyalah momma, tapi ia sungguh tak mau jika dirinya harus ingkar juga. Ada rasa bersalah di dalam hatinya jika ia harus meninggalkan putra yang bahkan tak pernah ditemaninya tidur ketika bayi. Jadi, selagi masih bisa, Taehyung akan berusaha untuk selalu bersamanya.

"Kwonnie sudah biasa tidur sendiri, hyung. Di rumah, aku menggunakan ranjang yang sempit sebagai alasan untuk melatihnya."

"Pantas saja bocah itu memaksa tidur bersama. Ranjang di sini besar." gumam Taehyung pelan.

Ia memang mengatakan ingin menemani balita kesayangannya, namun yang dilakukannya sejak tadi adalah memeluk erat Jeon Jungkook dan merebahkan tubuhnya, setengah menindih sang kekasih yang terbungkus selimut.

"Di sini saja…" rengek yang lebih muda, ia semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang kekasih. "Jangan tinggalkan aku sendirian."

Ada keresahan di dalam suara Jeon Jungkook, Taehyung tahu itu. Dan ia juga sangat memahami alasan Jungkook yang sangat tidak ingin dirinya pergi ke kamar yang ditempati sang putra.

Ya… karena dulu ia kelewat sering meninggalkan Jeon Jungkook sendirian di kamar ini setelah puas meraup kenikmatan dari tubuhnya.

Pewaris Kim Enterprise memilih diam. Ia sungguh tidak bisa membayangkan perasaan Jeon Jungkook yang benar-benar diperlakukan layaknya seorang jalang. Jika saja Taehyung berada di posisinya, ia pasti tidak akan sudi bertatap muka dengan si bajingan yang hanya memikirkan kenikmatan, tetapi pemuda Jeon berbeda. Jungkook bahkan masih mau kembali ke rumah milik Kim Taehyung, lebih tepatnya, kembali ke kamar di mana ia selalu diperlakukan tanpa perasaan.

Ahh, Jeon Jungkook pasti sangat mencintainya…

"Hyung... Jangan diam. Di sini saja, ya?" memecah keheningan, Jungkook mengulangi permintaannya, mencoba kembali membujuk pewaris Kim supaya dirinya tidak ditinggalkan oleh sang calon suami di kamarnya.

Pria bersurai arang menghela nafas kasar. Ia mendudukkan diri di sebelah Jungkook, lalu menuntun pemuda bersurai madu supaya duduk juga. "Kita tidur bertiga, hm?"

Telapak tangan pria Kim membelai wajah pemuda Jeon lembut. Ia kemudian mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibirnya lalu tersenyum lembut.

"Kita mandi dulu, momma? Setelah itu kita ke kamar Kwonnie."

Dan Jeon Jungkook mengangguk sekilas sebelum meloloskan kekehan. Ia merasa lucu ketika pria di hadapannya melabeli kamar yang sebenarnya miliknya sebagai kamar sang putra.

Bolehkah ia berharap bahwa nantinya Kim Taehyung akan menganggap kamar dimana mereka berada, kamar yang biasanya hanya dikunjungi pria bersurai jelaga ketika ia ingin menyalurkan hasrat kelelakiannya, sebagai kamar mereka berdua?

Pria yang lebih tua kemudian mengangkat tubuh kekasihnya dengan hati-hati setelah menyingkirkan selimut yang tadinya menutupi tubuh Jungkook. Ia membawa pemuda Jeon untuk mandi bersama.

Setidaknya ini lebih baik ketimbang menghabiskan malam sendirian usai bercinta dengan pria yang dicintainya.

.

.

.

Usai mandi dan mengeringkan rambut mereka, Taehyung memakaikan bathrobe ke tubuh Jungkook, sementara ia sendiri hanya melilitkan selembar handuk di pinggangnya.

"Yakin tidak mau poppa menggendong momma?"

Bukannya memberikan tanggapan positif, sang momma malah mendengus sinis. Ia menatap malas Kim Taehyung yang sedang mengunci pintu kamar yang menjadi saksi panasnya keintiman mereka berdua.

"Kau menyebalkan, bisa-bisanya mengambil kesempatan."

Dan Taehyung hanya menunjukkan cengirannya sembari menyimpan kunci kamar di laci meja. Ia kemudian berjalan beriringan dengan momma Jeon, mencoba membujuknya supaya berhenti marah-marah.

Well, sebenarnya Jungkook tidak marah. Ia hanya kesal karena Kim mesum Taehyung menyentuh tubuhnya dengan gerakan kelewat sensual sehingga mereka berakhir dengan melakukan satu ronde di kamar mandi.

Jungkook bahkan menolak ketika poppa mesum ingin membantunya mengenakan kaos lengan panjang, apalagi celana dalam dan sweatpants yang berakhir menutup tubuhnya yang telanjang. Bukan apa-apa, ia hanya tak ingin kembali kecolongan karena si mesum Kim benar-benar pandai mencuri kesempatan.

"Ayolah… berhenti mengabaikanku."

Poppa merengek, memeluk tubuh momma dari belakang saat keduanya sudah berada di atas ranjang. Dengan kata lain, Jeon Jungkook berada di tengah-tengah Kim Taehyung dan Jeon Taekwon.

"Momma… katakan sesuatu atau poppa akan menggigit momma."

"Ssstt! Diamlah!" gumam Jungkook menahan teriakan. Ia sempat mencubit perut calon suaminya yang berbalut kaos tanpa lengan. Untung saja tidak meleset ke bawah dan mengenai kesejatian pria Kim yang hanya terlindung boxer hitam.

Tangan Jungkook dengan cepat berpindah untuk menepuk-nepuk lembut paha balita kesayangannya yang nampak terganggu dengan ocehan sang ayah.

"Ungg.. mwa mowa.." rengek bocah Jeon. Ia menggeser posisi tidurnya, merapatkan diri dengan tubuh sang bunda.

"Iya sayang, momma di sini." pemuda Jeon mendaratkan sebuah kecupan di dahi putra kesayangannya, kemudian kembali mencoba membuat Taekwon nyaman.

"Powaaa…"

Kali ini sang ayah yang dipanggilnya. Sebelah tangannya mencoba meraih sisi tubuhnya yang tidak merasakan kehangatan momma, berharap poppa yang menjadi idolanya ada di sana.

"Hmm… tidur nyenyak sama momma." Kim Taehyung menjawab sambil terkekeh. Tangannya terjulur untuk meraih tubuh bocahnya, lalu mengusapnya lembut, membuat bagian selatannya semakin menempel bagian belakang Jeon Jungkook yang padat. Ia juga semakin nyaman menenggelamkan wajahnya ke punggung sang kekasih.

Pemuda berkaos putih menghela napas pasrah. Kalau begini caranya, ia tidak bisa memaksa Kim mesum untuk menjauh karena pada kenyataannya, sang calon suami membuat putra mereka merasa nyaman meski dirinya harus rela sedikit sesak berada di tengah-tengah kedua Tae yang mulai berlayar ke pulau mimpi.

.

.

.

.

.

Balita Jeon membuka matanya malas saat dirasa sebelah kanannya kosong. Ditatapnya sekilas wajah momma yang masih tertidur pulas, lalu ia menoleh ke sisi kanan hanya untuk mendapati ranjang kosong tanpa sang poppa.

Jeon Taekwon langsung mendengus kesal. Bibirnya mencebik lucu, sedangkan sepasang bola matanya ia buka lebar-lebar demi menemukan keberadaan sang ayah yang menyebalkan dan suka menghilang ketika jagoan Jeon bangun tidur. Tapi kali ini ia tidak akan berteriak heboh untuk mencari poppa. Yang dilakukannya adalah mengamati seluruh ruang yang ada di jarak pandangnya. Dan gumaman kesal lolos dari bibir ber-pout milik satu-satunya bocah superhero yang ahli melakukan landing kala ia menangkap lengan yang diduga milik ayahnya melingkar erat di perut momma.

"Selalu peluk-peluk momma tidak peluk-peluk Kwonnie itu namanya bukan poppa yang keren."

Jagoan Jeon mengomel.

Ia segera mendudukkan dirinya, lalu memanjat tubuh sang bunda dengan sangat mudah. Tentu saja, Jeon Taekwon adalah balita pahlawan super yang keren dan menggemaskan.

Tantangan terbesarnya kali ini adalah menyingkirkan lengan poppa dari perut momma. Kelihatannya, poppa memeluk momma seperti mengikatnya, erat sekali. Dan tubuh Taekwon terlalu kecil untuk mendorongnya menjauh.

Maka Jeon mungil melakukan aksinya dengan cara yang berbeda.

Masih duduk di atas tubuh pemuda Jeon, Kwonnie mulai mencubiti tangan ayahnya. Ia bahkan menggigit sebanyak tiga kali sehingga meninggalkan bekas kemerahan yang terlihat lucu. Untungnya pria Kim tidak sedang dalam mode siaga sehingga pemilik surai jelaga itu hanya mengerang lalu perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh sang kekasih. Jika saja sang ayah tidak lelah usai menghabiskan malam panas dengan ibunya, Jeon Taekwon bisa terlempar akibat gerakan refleks Kim Taehyung. Beruntung juga pria Kim tidak meloloskan umpatan dari mulutnya, karena jika hal itu sampai terjadi, Kwonnie akan mengingat dan menanyakannya jika momma bangun nanti.

Melihat celah di antara tubuh poppa dan momma kesayangannya, balita Jeon langsung menyelipkan dirinya di sana. Ia perlahan turun dari tubuh ibunya, lalu menggerak-gerakkan badannya yang terjepit di antara punggung momma dan lengan poppa Kim.

"Ehehe… Kwonnie di tengah seperti terjepit uwuuu..." Taekwon memunggungi Jeon senior, menghadap ayahnya yang dengan setengah hati menggeser tubuh sehingga si balita memiliki lebih banyak ruang untuk bergerak.

"Biarkan momma tidur, jangan di ganggu." Setengah sadar, Kim Taehyung bergumam dengan suara parau, masih dengan mata yang terpejam. Dipeluknya tubuh balita kesayangan, lalu diberinya ciuman gemas di pipi.

"Poppa yang ganggu Kwonnie karena mau tidur lagi tapi cium-cium pipi!"

Dan pewaris Kim Enterprise hanya terkekeh lirih tanpa peduli apa yang diucapkan bocahnya. Ia malah semakin memeluk tubuh Kwonnie, memberinya kehangatan yang sangat disukai bocah itu.

"Kalau dipeluk poppa bisa hangat seperti selimut." gumam Jeon kecil sembari membalas pelukan sang ayah. Tangan kecilnya mengusap-usap bekas gigi-gigi kecilnya yang tercetak jelas di lengan bagian bawah pria yang memeluknya. Setelahnya, ia tertawa kecil lalu kembali memejamkan mata.

Pagi di keluarga kecil Kim kali ini diawali dengan ketiga anggotanya yang masih bermalas-malasan di kamar.

Mereka terus melanjutkan tidurnya sampai akhirnya Jeon Jungkook merasa terganggu dengan silau matahari yang menyapanya melalui jendela. Ia mengeryitkan dahi, lalu perlahan membuka matanya. Menyadari balita menggemaskan tidak ada di sampingnya, Jungkook segera mendudukkan diri. Jujur ia merasa panik, bahkan saking tergesanya, pemilik surai sewarna madu itu sempat hampir kehilangan keseimbangannya karena merasa pusing. Namun senyum kecil langsung terukir di bibir ketika sepasang netranya mendapati bocah kesayangannya yang tidur terlentang dengan kaki yang dinaikkan ke tubuh sang ayah. Bibirnya setengah terbuka, sebelah tangannya memegang helaian kelam poppa kesayangannya yang juga masih terlelap.

"Dasar… membuat momma khawatir saja.." gumam Jungkook seraya mengusap lembut kepala Kwonnie. Bocah itu mengeryitkan dahi lalu berusaha menyingkirkan tangan ibunya yang dirasa mengganggu.

Pemuda Jeon memilih unutk membiarkan malaikat kecilnya terlelap. Ia refleks menoleh ke sisi ruangan yang, seingatnya, menjadi tempat menempelnya jam dinding, dan matanya langsung membola begitu menyadari jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih lima menit.

Tangannya kembali terulur, kali ini untuk mengusap kepala pria yang berkata akan menikahinya.

"Hyung, sudah jam sembilan. Maaf aku kesiangan, aku belum memasak apapun." Bibir Jungkook meloloskan kalimat lirih, tak ingin membangunkan balitanya. "Hyung, bangunlah. Kau harus ke kantor."

Kim Taehyung mengerang, mengeratkan pelukannya pada superhero Jeon yang masih memejamkan mata dengan mulut setengah terbuka. "Biar Yoongi yang urus."

Tentu saja, sikap seenaknya seorang Kim Taehyung tidak bisa hilang begitu saja, apalagi jika diharuskan untuk merepotkan Min Yoongi sang sepupu, pria bersurai kelam itu akan dengan senang hati melakukannya.

Jungkook memilih untuk meninggalkan kamar untuk kemudian menuju ke dapur dan memasak sesuatu. Ia hanya akan mebuat avocado tuna salad dan toast roti gandum, juga jus buah.

Entahlah… Jungkook sedang ingin menyantap sesuatu yang simple dan berserat.

Ia sengaja menyiapkan seluruh bahannya terlebih dahulu dan akan memasaknya nanti setelah kedua jagoannya bangun agar makanan mereka terasa lebih fresh.

Setelahnya, ia masuk ke kamarnya untuk membersihkan jejak cintanya bersama sang kekasih semalam, mengganti bed cover dan selimut, kemudian mencucinya bersamaan dengan pakaian kotor miliknya, juga kedua pangerannya.

Ia melakukan kegiatan paginya sambil sesekali tersenyum ketika kilasan kegiatan panasnya semalam muncul di pikiran. Entah apa yang merasukinya hingga Jungkook bisa menunjukkan sisi liarnya, yang jelas ia merasa bahagia karena pria Kim tampak mengapresiasi sikapnya.

"Mommaaaaa!"

Teriakan itu menggema di seluruh penjuru ruangan tepat ketika pemuda Jeon selesai menjemur cucian. Ia menjawab dengan deheman keras, lalu langsung berjalan ke dapur.

"Maa maaa mommaaaa!"

Bocah Jeon kembali mengerahkan seluruh tenaganya untuk memanggil sang bunda. Bahkan teriakannya kali ini diikuti oleh omelan poppa yang terdengar kesal. Tentu saja Kwonnie tidak terima dan membalasnya dengan ucapan bernada tinggi dan rengekan.

"Momma di dapur, Jagoan." mau tak mau, Jungkook memang harus menjawabnya dengan nada yang sedikit dinaikkan juga. Sepasang tangannya kemudian mulai meracik avocado tuna salad. Kekehannya lolos saat mendengar bocahnya kembali berdebat dengan poppa Kim.

"Jalan tapi cepat gendong Kwonnie nanti momma hilang lagi."

"Kalau ingin cepat, jalan sendiri. Poppa ingin jalan pelan-pelan."

"Hiiihh! Tapi Kwonnie mau digendong poppa terus."

"Hmm." pewaris Kim Enterprise tampaknya bosan meladeni balitanya yang cerewet, sehingga yang dilakukannya hanya bergumam sembari terus melangkah ke arah dapur. "Lihat, momma masih di dapur walau poppa jalan perlahan."

"Mammo Kwonnie kelaparan tapi bisa kurus kalau tidak makan."

Taehyung tertawa renyah mendengar keluhan putranya. Ia segera menurunkan sang buah hati begitu mereka sampai di dapur. Si bocah pun langsung berlari dan menerjang kaki jenjang bundanya.

"Lapaaaarrrr…." Jeon Taekwon kembali merengek, kali ini dengan nada yang lebih manja. Tangan kecilnya menarik-narik ujung kaos sang momma, memaksa Jungkook yang tengah mengaduk salad untuk menatapnya. Dengan bibir mencebik dan sepasang bola mata yang terlihat melas, Kwonnie kembali bicara. "Momma memasak tapi jangan lama-lama, Kwonnie lapar."

Jungkook tekekeh gemas. Ia menjulurkan sebelah tangannya untuk mencubit pipi bocah Jeon. "Momma sedang membuat salad. Kwonnie bisa membantu momma?"

Superhero Jeon tentu mengangguk bersemangat. Ia selalu suka ketika sang ibu memintanya melakukan sesuatu, karena itu artinya, ia bisa diandalkan.

"Kwonnie dan poppa membuat jus untuk kita bertiga, lalu momma akan memasak roti gandum agar lebih enak. Setelah itu, kita bisa makan bersama, bagaimana?"

Jeon Taekwon tentu mengangguk semangat. Ia bahkan langsung berlari untuk selanjutnya menarik celana sang poppa sekuat tenaga. "Pa paa poppa ayo buat jus yang enak biar bisa makan cepat."

"Sebentar. Poppa ambilkan kursi agar Kwonnie bisa menggunakan meja dapur."

Kwonnie melepaskan celana Kim Taehyung. Ia mengamati ayahnya yang mengambil sebuah kursi dari meja makan, lalu membuntutinya ketika pria Kim berjalan menuju juicer yang diletakkan di meja yang tepat berada di samping kulkas, menaruh kursinya di sana.

Setelahnya, Taehyung mengangkat bocah Jeon untuk mencuci tangannya di wastafel. Tak lupa ia juga mencuci tangannya sendiri. Usai melakukan itu, pria Kim kembali menggendong balita kesayangannya untuk kemudian ia turunkan di atas kursi yang telah dipersiapkan.

Berdiri di atas kursinya, Jeon Taekwon merasa dirinya setinggi momma dan poppa. Ia bisa dengan mudah memperhatikan momma yang tengah mengolah roti gandum untuk mereka.

"Kami harus membuat apa, momma?"

Katakanlah Kim Taehyung adalah seorang penggoda.

Well, ia memang seorang penggoda.

Tangannya masih sempat mencuri kesempatan dengan menampar lembut pantat kekasihnya, lalu memberikan ciuman nakal di pipi.

Jungkook ingin mengumpat, namun ia tahan karena balita mereka berada tepat di samping Kim mesum, dan yang bisa dilakukannya hanyalah menghela nafas sambil diam-diam menyentil jakun pria yang lebih tua.

Hampir saja Kim Taehyung berteriak.

"Aku sudah mencuci anggur, jeruk dan buah berry. Campur saja semuanya. Jangan lupa kupas jeruk dan hilangkan bijinya." gumam Jungkook melirik mangkuk yang penuh dengan buah-buahan segar.

Tak ingin mencari gara-gara lagi, Kim Taehyung memilih untuk segera melaksanakan tugasnya. Ia membuka tutup juicer, lalu menariknya supaya lebih dekat dengan sang putra. Taehyung juga mendekatkan mangkuk buah agar putranya bisa membantu kegiatan mereka. Beruntung anggur sudah dibersihkan dari biji, buah berry pun sudah siap untuk dimasukkan ke dalam mesin pembuat jus.

"Kwonnie memasukkan anggur dan berry ke dalam sini, poppa akan mengupas jeruk. Oke?" ucap Taehyung seraya membuka tutup juicer. Ia sudah mulai mengupas ketika bocahnya menyahut dengan kalimat yang tak diharapkan.

"Tidak oke."

"Kenapa tidak oke?"

Taehyung penasaran, tentu saja. Begitupun dengan pemuda Jeon yang tengah berkutat dengan toast-nya. Mereka bahkan bertanya dengan kalimat yang sama dalam waktu yang hampir bersamaan pula.

"Kwonnie mau makan anggurnya. Boleh?"

Jungkook terkekeh pelan. "Boleh, tapi satu saja. Kalau Kwonnie memakannya terlalu banyak, nanti jus yang Kwonnie buat menjadi tidak enak."

Dan bocah Jeon mengangguk sebagai tanda persetujuan.

Sebut saja keluarga kecil ini tengah memasak bersama untuk sarapan mereka yang terlambat. Sang ibu yang telah selesai membuat toast segera membawa mangkuk salad, juga sebuah piring berisi tumpukan toast ke atas meja makan. Ia kembali ke dapur hanya untuk menerima dua gelas jus yang dibuat sang ayah bersama putranya yang menggemaskan.

"Tapi Kwonnie mau bawa-bawa juga!" protes bocah Jeon ketika poppa menurunkannya dari kursi. Ia melihat tumpukan piring di tangan kiri sang ayah, sementara segelas jus di tangan kanannya. Tentu saja Kwonnie merasa iri karena ia adalah satu-satunya yang tidak membawa apapun ke meja makan.

Taehyung yang sudah hafal dengan sifat jagoan kecilnya langsung menaruh gelas yang dipegangnya. Ia kemudian mengambil tiga buah sendok dan tiga buah garpu, lalu memberikannya kepada Taekwon.

"Bawa ini. Kalau tidak ada sendok dan garpu, kita tidak akan bisa makan."

Sepasang mata Jeon Taekwon berbinar antusias. Ia merasa sungguh senang ketika poppa mempercayakan barang yang begitu penting kepadanya.

Ya, bagi Kwonnie, sendok dan garpu di tangannya adalah benda paling dibutuhkan ketika sarapan karena sang ayah mengatakan bahwa yang dipegangnya adalah barang yang penting.

Jeon Jungkook duduk sendirian, sementara putranya lebih memilih untuk duduk bersebelahan dengan sang calon suami di seberang meja. Ia hanya tertawa pelan ketika bocah itu menirukan segala gerakan yang pria Kim lakukan.

Jeon Taekwon benar-benar menganggap Kim Taehyung sebagai sosok yang ia idolakan.

"Kwonnie makan yang banyak, nanti kita akan pergi bersama, oke?" pria Kim menawarkan. Ia mengusap bocahnya yang tengah berusaha menusuk toast dengan garpunya, beruntung sang momma memang sudah memotong-motong rotinya sebelum disajikan.

Taekwon mengangguk patuh, membuat sang ayah tersenyum senang, terlebih ketika mendengarkan jawaban yang diucapkan secara lantang.

"Oke!"

"Pergi kemana, hyung? Kulihat kau dan Kwonnie sudah berpakaian rapi." tanya Jungkook santai. Ia menyantap salad buatannya sendiri dengan lahap.

Jika diperhatikan, Jeon Taekwon memang mengenakan pakaian semi-formal: kemeja hitam dan celana panjang dengan warna senada, ada juga ikat pinggang kecil berwarna coklat yang menghiasi celananya. Sementara ayahnya mengenakan celana panjang hitam dan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku.

Tentu itu membuat Jungkook terheran. Pasalnya, Taehyung sempat mengatakan bahwa ia akan menyerahkan urusan kantor kepada Min Yoongi, yang mana bisa diasumsikan sebagai deklarasi bahwa dirinya tidak akan berangkat ke kantor.

"Tapi Kwonnie sudah mandi sama poppa tapi momma belum mandi."

"Iya… Kwonnie dan poppa sudah mandi." pria bersurai arang terkekeh. Ia mengusak kepala putranya sebelum memusatkan atensi kepada pemuda manis di hadapannya. "Kau juga bersiaplah setelah makan, Kook, nanti kau akan tahu sendiri. Biar aku yang mencuci piringnya."

Inginnya Jeon Jungkook mengajukan protes, terutama bagian pria Kim yang ingin mencuci piring. Bukan apa-apa, tapi Taekwon sejak tadi menirukan gerak-gerik ayahnya, dan bisa dipastikan bahwa ia akan rusuh ketika sang ayah mencuci piring. Baru saja Jungkook ingin buka suara, tapi Taehyung sudah terlebih dahulu memberikan isyarat supaya Jeon muda tidak membantah.

Dan lagi-lagi, makan bersama kali itu dilewati dengan Jeon Taekwon yang berceloteh riang. Ia bahkan dengan bangga memamerkan betapa jagoan sikapnya ketika tidak menemukan momma dan poppa di kamar saat terbangun tengah malam. Sepasang orang dewasa yang mendengarkannya hanya tertawa canggung, diam-diam bersyukur karena semalam Kwonnie tidak rewel. Jika saja bocah Jeon berteriak atau menangis mencari kedua orangtuanya, bisa dipastikan momma dan poppa tidak jadi bercinta.

Kim Taehyung benar menepati janjinya untuk mencuci piring, tentu dengan Kwonnie yang membantu dengan berdiri di kursi yang tadi sempat di seret ke dapur.

Mulanya bocah itu ingin mengusapkan sabun ke piring dan mangkuk yang kotor. Untungnya, sang poppa berhasil membujuknya untuk menata piring dan gelas di mesin pengering saja.

Usai membersihkan diri, Jungkook mengenakan celana jeans panjang berwarna biru dan sweater coklat susu dengan aksen hitam di pergelangan tangan dan bagian turtle neck. Setelahnya, ketiganya pergi dengan mengendarai mobil pewaris Kim.

Pemuda Jeon sempat terheran ketika melihat Kim Taehyung mengenakan jas untuk menumpuk kemeja putihnya yang sudah dirapikan, dan ia bertamah heran ketika mereka berhenti di toko bunga untuk membeli seikat bunga iris ungu yang dipadukan dengan cornflower warna biru yang indah.

Sungguh Jungkook ingin bertanya, namun jantungnya yang tiba-tiba berdegup tak seperti biasanya memaksanya untuk memilih diam.

Kim Taehyung bukan tipe pria romantis yang suka memberikan bunga. Bahkan ia yang notabene adalah kekasihnya, seseorang yang dijanjikan akan dinikahi, tidak pernah sekalipun dihadiahi bunga olehnya.

Jadi… siapa yang ingin Kim Taehyung temui sampai-sampai pria itu rela membawakan buket bunga yang indah?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya hingga Jungkook tak sadar prianya sudah mematikan mesin mobilnya.

"Mamomma ayo turun lepas sabuk pengaman sudah tidak dugu-dugu."

Kwonnie hampir membuatnya terlonjak. Bahkan bocah di pangkuannya itu berusaha dengan susah payah untuk melepas seat belt yang ia kenakan. Meski begitu, pada akhirnya Jungkook sendiri yang melepasnya. Ia turun dengan menggendong Taekwon ketika sang kekasih membukakan pintu untuknya, dan matanya bergetar seolah tak percaya ketika ia menyadari dirinya tengah berada di mana.

Kakinya seakan melemas ketika Taehyung menggandengnya masuk ke kawasan yang begitu sepi.

Jungkook bahkan harus memeluk putranya erat untuk menguatkan dirinya sendiri.

Dan ketika bocahnya merengek untuk diturunkan, yang bisa dilakukannya ialah meremat jas yang dikenakan sang kekasih.

"Sini sini Kwonnie yang bawa bunganya!" bocah Jeon begitu bersemangat kala merebut bunga dari tangan ayahnya. Ia berlari dengan kakinya yang kecil menuju tempat yang pernah dikunjunginya beberapa kali.

Jungkook pun mengenal tempat ini,

Karena di sinilah, Jeon Hoseok tertidur untuk selamanya.

"Ayo, kita minta izin padanya juga."

.

.

.

TBC

.

.