Jungkook terdiam di kursinya. Meski terlihat samar, senyum tipis terukir apik di bibir. Di kepalanya, masih tergambar jelas bagaimana sang kekasih mengungkapkan keinginan untuk menikahi dirinya. Pria bersurai kelam itu bahkan meminta restu kepada kakak Jungkook yang telah tiada dengan cara mendatangi makamnya.
Kim Taehyung serius ingin menikahinya, itulah yang mampu Jeon Jungkook pahami kala pewaris Kim melamarnya di depan makam sang kakak.
Kali ini, bukan sekedar janji aku akan menikahimu, kita akan menjadi keluarga yang bahagia, atau beberapa ungkapan yang pernah pria Kim lontarkan seperti sebelum-sebelumnya. Entah mengapa, kali ini rasanya sangat berbeda.
Entah bagaimana, Jeon Jungkook yakin bahwa calon suaminya akan segera menepati janjinya.
"Kenapa, hmm?"
Suara bernada rendah dan usapan di pipi sukses membuyarkan lamunan Jungkook. Ia menoleh, lalu tersenyum saat mendapati calon suaminya tengah mengunyah sesuatu dengan pipi yang menggembung.
Ia pun terkekeh pelan, lalu menggeleng.
"Makanlah sebelum mie mengembang dan menjadi tidak enak." ucap CEO Kim seraya menyodorkan sesuap jjajangmyeon dengan sumpitnya.
Tentu saja Jungkook membuka mulutnya dan menerima dengan suka rela.
"Uhuuu… momma anak besar tapi makan disuapi itu namanya anak kecil." suara menggemaskan Kwonnie menyapa gandang telinga. Setelah itu, si bocah berusia empat melahap jjajangmyeon-nya sendiri. "Whihat… Wonnie bihaa makawm."
"Ssttt… telan dulu, sayang." Jungkook berucap lembut. Diusapnya bibir putra kesayangannya yang belepotan saus berwarna hitam. "Setelah ditelan, baru boleh bicara. Mengerti?"
Dan superhero pintar pun mengangguk patuh karena memang sedari tadi, poppa dan momma selalu bicara tampa makanan di dalam mulut mereka.
Setelah menelan mie di dalam mulutnya, Taekwon mulai kembali bicara. "Kwonnie tadi mau bilang lihat Kwonnie bisa makan tapi tidak usah disuapi karena Kwonnie anak besar sungguhan, begituuu…."
Dan Jungkook hanya tertawa renyah.
Ia mengangguk singkat, lalu memberikan pujian kepada putranya yang memang sudah terbiasa makan sendiri meski terkadang masih belepotan.
Keluarga kecil itu memutuskan untuk pulang setelah dari pemakaman. Mereka sempat mampir untuk membeli seporsi jjajangmyeon untuk dibawa pulang. Jungkook bilang, seporsi saja cukup untuk dimakan bertiga. Lagipula, ketiganya memang sudah sarapan sehingga porsi mie yang memang besar akan cukup mengenyangkan.
Setibanya di rumah, Jungkook langsung membawa putranya untuk mencuci tangan dan mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek. Ia juga melakukan hal yang sama. Hanya Taehyung yang bertahan dengan pakaiannya lantaran pria itu mengatakan akan pergi setelah mereka selesai menyantap jajajngmyeon. Tentu ia sudah mencuci tangan dan kakinya.
"Nanti pesanlah sesuatu untuk makan siang jika kalian lapar. Aku akan makan siang bersama klien." Kim Taehyung berucap. Tangannya terulur untuk mengusap kepala sang kekasih.
Jungkook bergumam ragu. Ia melirik sang putra yang masih sibuk menikmati mie di mangkuknya. Bocah menggemaskan itu sudah memakan cukup banyak. "Kurasa kami tidak akan makan siang. Mungkin aku akan membuatkan camilan mengenyangkan untuk Kwonnie sore nanti. Poppa makan malam di rumah?"
Yang ditanya malah menghela napas. "Aku belum tahu. Nanti kukabari."
Dan Jungkook mengangguk patuh.
Poppa Kim kemudian mengusap kepala balitanya. Ia berpamitan, dan dihadiahi cebikan kesal sebagai jawaban karena lagi-lagi bocah itu ingin ikut pergi ke kantor. Untung saja Jungkook bisa membujuknya supaya tidak ikut dengan sang ayah. Yeah… meski harga yang harus dibayar adalah sebuah diecast milik Taehyung yang memiliki nilai lumayan.
Jungkook tersenyum simpul saat mengantarkan calon suaminya sampai ke depan pintu.
Taehyung bilang, kali ini dirinya tidak akan pergi ke kantor, melainkan pergi menemui seseorang sebagai salah satu langkahnya memperjuangkan kebahagiaan mereka. Pria yang berusia enam tahun lebih tua itu enggan mengatakan kemana tujuannya, namun Jungkook percaya, pria yang telah berjanji akan menikahinya itu memang sedang mengupayakan apa yang mereka impikan.
.
A fanfiction, the continuation of "Puzzled"
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung
Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rated: M for the language and theme, and yeah
Warning: OC for Taekwon.
Ambigu, TYPO tak tertahankan, m-preg (?)
.
.
"Painted"
Part XVII: the Painter's Wish
Belum ada lima menit Kim Taehyung menunggu dalam kesunyian, dan sudah lebih dari lima kali ia ingin membatalkan janjinya. Kepalanya terasa berat, dan hatinya sempat meragu.
Bukan apa-apa, hanya saja, kali ini dirinya akan mengambil keputusan besar yang, mungkin, akan mengubah kehidupannya.
Ruangan pribadi di kantor seseorang yang akan ditemuinya entah bagaimana terasa sangat dingin. Ia bahkan tak berselera meminum teh hangat yang disajikan oleh salah satu karyawan di kantor itu.
Masih di tengah keraguan, ponsel pewaris Kim bergetar. Ia pun mengambilnya, dan segera tersenyum ketika mendapati nama sang calon istri tertera.
Menggeser ikon berwarna hijau, Taehyung terkekeh ketika mendapati wajah sang putra memenuhi layar.
"Haloooo…." ucap bocahnya dengan wajah cemberut. Bibirnya tampak mengerucut dan pipinya menggembung.
Taehyung tertawa kecil sebelum menjawab. "Hei, superhero. Ada apa, hm? Dimana momma?"
"Lihat lihat momma ketiduran!" ucap sang putra dengan nada merajuk. Taehyung melihat wajah balitanya bergoyang, lalu sedikit menjauh, namun tidak nampak momma yang, katanya, sedang tertidur. Mungkin, Taekwon mengira poppa bisa melihat sang momma melalui kamera belakang. "Tapi Kwonnie lihat superhero tapi lalu momma diam terus terus jadi tidur tidak bilang-bilang itu membuat Kwonnie sendirian tau."
Taehyung tersenyum simpul selama mendengarkan celotehan Jeon Taekwon. Putranya memang sudah bisa melakukan video call setelah menghafal apa yang harus disentuhnya di ponsel sang momma ketika ingin menghubunginya. Ia hanya tidak menyangka jika balita pintarnya akan menggunakan kesempatan ini untuk mengadukan bundanya yang tengah terlelap.
Taehyung berpikir sejenak sambil melihat bocah Jeon yang mengomentari film animasi Anpanman yang baru saja ditontonnya. Menurut bocah itu, Anpanman terlihat seperti kakek Bang, tetangganya di Busan. Ayah satu anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam, tanda bahwa dirinya masih setia mendengarkan. Ia menunggu balitanya selesai bicara sebelum berucap.
"Kwonnie mau menjadi agen rahasia?"
Yang diajak bicara tampak mengangguk.
"Tapi agen rahasia itu apa?"
"Hmm… agen rahasia itu seperti superhero yang membantu orang, tapi tidak boleh bilang kepada orang lain, bagaimana?" jawab sang ayah masih dengan senyum di bibirnya. Balitanya mengeryitkan dahi. Ia bahkan menggerak-gerakkan bola matanya seolah tengah membayangkan apa yang dikatakan sang poppa.
"Heee?" wajah Jeon Taehwon masih tampak bingung, namun bocah itu kembali mengangguk seolah mengerti.
"Bagus." Kim Taehyung menjeda selama beberapa saat.
Ia menegakkan tubuhnya, lalu sedikit menunduk kepada sosok yang baru saja masuk ke ruangan. Pria berkacamata itu duduk di hadapannya. Mereka terpisah sebuah meja. Pria tinggi itu membungkukkan badannya, kemudian memberi isyarat tanda bahwa ia mempersilakan Kim Taehyung untuk melanjutkan kegiatannya.
Taehyung tersenyum sekilas. Ia pun kembali fokus dengan bocahnya di seberang. "Kwonnie sekarang pergi ke pintu depan, juga pintu-pintu yang lain, lalu lihat apakah pintunya sudah dikunci."
"Okeeeee!"
"No, hero. Do not scream." ucap calon kepala keluarga Kim sambil menaruh telunjuk di depan bibirnya sendiri. "Agen rahasia tidak berisik. Harus pelan-pelan agar momma tidak tahu."
Padahal Taehyung menyuruh balitanya diam agar Jungkooknya tidak terbangun karena, bagaimanapun, kegiatan mereka semalam pasti membuat sang kekasih kelelahan. Meski demikian, bocahnya terlihat membungkam mulut dengan satu tangan, lalu mulai berjalan ke pintu depan dengan semangat. Sebelah tangannya masih membawa ponsel meski tidak diarahkan ke wajah.
Jeon Taekwon mengecek pintu-pintu rumahnya seperti yang sang poppa perintahkan. Balita berusia empat itu tampak senang ketika mengetahui bahwa pintu menuju halaman belakang belum dikunci. Dengan wajah serius, putra tunggal Kim bertanya kepada ayahnya mengenai apa yang harus ia lakukan melalui video call yang masih terhubung sejak tadi.
Ia merasa begitu bangga kepada dirinya sendiri usai berhasil mengunci pintu tersebut. Wajahnya yang semula merengut kesal kini tersenyum amat lebar.
"Nah, sekarang kembali ke tempat momma. Tugas agen rahasia Kwonnie selanjutnya adalah tidur di sebelah momma, oke? Dengan begitu, momma tidak tahu kalau Kwonnie sedang poppa tugaskan untuk menjaga momma."
Taekwon mengangguk patuh. ia berlari kecil menuju tempat sang ibu tidur. Setelah sampai di sana, Taehyung menyuruh anaknya untuk memutuskan sambungan video call.
Kim Taehyung menghela napas. Ia menyimpan ponselnya, kemudian menyapa pria yang telah duduk di hadapannya.
Tekadnya sudah bulat.
Menghabiskan waktu bersama sang putra yang menggemaskan, juga Jungkook yang mencintainya adalah hal yang ia inginkan. Untuk saat ini, berkumpul bersama mereka menjadi yang utama.
Tersenyum sekilas, pewaris Kim Enterprise berbicara dengan nada santai. "Maaf, aku baru saja berbicara dengan putraku."
Yang diajak bicara balas tersenyum meski ia sedikit terkejut mendengar pengakuan sosok di depannya. Setahunya, Kim Taehyung masih single dan, tentunya, belum memiliki seorang anak. Meski begitu, dimple di pipinya masih bertahan ketika ia menjawab tanpa sedikitpun melepaskan senyuman. "Aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah membuat Tuan Kim menunggu."
"Ayolah…. panggil Taehyung seperti saat masih kuliah saja." pria bersurai jelaga mendengus kesal. "Aku merasa aneh kau memanggilku seperti itu padahal dirimu sendiri juga Kim, Kim Namjoon."
Dan Kim Namjoon hanya tertawa renyah.
Ia dan CEO dari Vante yang sekarang duduk di hadapannya memang sudah mengenal lama. Meski tidak belajar di fakultas yang sama, keduanya bergabung dalam unit kemahasiswaan yang sama sehingga hubungan mereka cukup dekat. Taehyung tidak pernah menghubunginya untuk masalah pekerjaan walaupun mereka masih sering bertemu di acara-acara besar yang mereka hadiri, jadi Namjoon cukup terkejut ketika beberapa waktu lalu Taehyung menghubungi dan mengatakan bahwa pria itu ingin berkunjung ke kantornyya untuk membicarakan pekerjaan.
"Baiklah… jadi aku akan langsung menanyakan maksud kedatangan Tuan Kim Taehyung yang terhormat ke kantorku yang kecil ini." ujar Namjoon dengan nada santai. Pria bersurai coklat tua itu melepas topeng formalnya.
Kim Taehyung melakukan hal yang sama.
Ia terdiam selama beberapa saat sebelum kembali bicara. "Aku membutuhkan saranmu sebagai penasihat hukumku, hyung."
"Tunggu." baru saja menyandarkan punggungnya dengan nyaman, Namjoon harus kembali menegakkan tubuh. Ia bahkan sampai memicingkan mata dengan tatapan menyelidik ke seseorang yang tak pernah ia sangka akan menjadi calon kliennya. "Aku tidak salah dengar? Bukannya keluargamu memiliki pengacara pribadi, maksudku, pengacara keluarga?"
Mengabaikan gesture Namjoon yang serius, pewaris Kim Enterprise malah menyandarkan punggungnya seolah lemas. Matanya terpejam, ia memijit pangkal hidungnya sambil bergumam. "Itulah… sepertinya yang akan kau hadapi adalah pengacara keluargaku."
Kim Namjoon mendadak pusing.
Bukan apa-apa, hanya saja, adik angkatannya ketika kuliah ini mengatakan bahwa calon lawannya adalah pengacara keluarga Kim. Bukan hanya pengacara keluarga Kim terkenal hebat dan jeli, namun ia sudah bisa menebak bahwa kasus yang akan ditanganinya nanti adalah permasalahan keluarga, kemungkinan mengenai hukum perdata. Bukannya tidak bisa, Kim Namjoon hanya lebih suka menangani masalah pidana.
"Kau membuat masalah dan keluargamu marah?"
"Lebih tepatnya, aku akan membuat masalah dan keluargaku pasti akan marah." ayah satu anak itu membuka matanya perlahan, lalu menegakkan duduknya yang semula terasa nyaman. "Aku butuh saran darimu, hyung. Aku harus tahu seberapa banyak aku akan kehilangan, dan seberapa banyak yang bisa kupertahankan."
Namjoon kembali mengeryit. Perasaannya tidak enak setelah mendengar ucapan Taehyung. Dagunya sedikit terangkat, tanda bahwa ia ingin pria di hadapannya melanjutkan penjelasan.
"Sebelumnya, berjanjilah untuk tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapapun sebelum perhitungan yang kita lakukan selesai atau sebelum aku benar-benar memutuskan akan melakukannya."
"Baiklah…" Namjoon terlihat ragu, namun ia menjawab seperti itu karena terlalu penasaran.
"Aku ingin mengundurkan diri dari perusahaanku. Vante, Kim Enterprise, aku ingin mundur."
"Kau bercanda?" Kim Namjoon terkejut, tentu saja.
Setahunya, Kim Taehyung adala satu-satunya putra keluarga Kim. Ia adalah pewaris dari bisnis raksasa keluarga besarnya. Kim Junsu, ayah dari Taehyung, tentu tidak akan membiarkan putranya mundur dari posisi itu meski para sepupunya dengan mudah bisa menggantikannya.
Dan Kim Taehyung yang menggeleng membuat Kim Namjoon lemas.
Otak genius yang dimilikinya memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika Taehyung sampai mengutarakan keinginannya kepada keluarga. Andai kedua orangtuanya tidak menyetujui dan menggunakan ancaman pencabutan fasilitas yang didapat Taehyung dari keluarganya, tentu masalahnya harus diselesaikan di meja hijau karena jelas Taehyung tidak ingin melepaskan hasil kerja kerasnya begitu saja. Karena hal itu pula sang kawan lama membutuhkan dirinya.
Ia memijit pelipisnya, merasa bahwa kawan lamanya benar-benar sinting karena ingin melakukan hal yang begitu beresiko.
Meski begitu, ia berharap keluarga Taehyung bisa menerima keputusan sang pewaris dengan baik, sehingga tidak perlu sampai ke pengadilan.
"Taehyung, kau yakin ingin melakukannya? Bagaimana jika kau pikirkan lagi masalah ini?" Taehyung bertanya dengan nada ramah. Sebagai seorang teman, ia tak ingin Taehyung gegabah.
"Aku sudah memikirkannya sendirian cukup lama, hyung. Maka dari itu, aku membutuhkan saran darimu."
Kim Namjoon menghela.
Ia harus suap untuk kemungkinan terburuk.
"Tapi asal kau tahu, kau harus sering-sering bertemu denganku, dan kau juga harus memberitahuku banyak hal mengenai perusahaanmu. Mungkin beberapa hal yang sifatnya rahasia juga harus kuketahui. Kau yakin dengan itu? Kau percaya padaku?"
"Aku tahu, hyung, dan aku percaya padamu. Karena itu aku datang kepadamu." Taehyung mengangguk penuh keyakinan. Sorot matanya menunjukkan keseriusan yang teramat sangat, dan pengacara Kim bisa merasakannya.
"Satu lagi yang harus kuketahui sebelum kau diwajibkan untuk sering-sering bertemu denganku." kali ini, Namjoon yang terdengar kelewat serius. Tapi ia sungguh harus mengetahui ini atau ia akan mati penasaran. "Kenapa kau ingin mundur dari jabatanmu?"
Wajah CEO Kim yang semula tegang terlihat melunak. Ia bahkan tersenyum tipis sembari bergumam ketika memberi jawaban. "Aku jatuh cinta kepada ibu dari anakku, hyung. Aku merasa tolol karena baru menyadarinya. Dan karena tidak ingin menjadi seorang idiot selamanya, aku bertekad untuk bersanding dengannya meski keluargaku tidak mengizinkan aku menikahinya."
Kim Namjoon mengerti sekarang.
Ini adalah kisah cinta klise dimana seorang pewaris perusahaan besar jatuh cinta kepada seseorang. Hubungan keduanya ditentang oleh keluarga si kaya, dan sekarang, si kaya sedang berusaha mewujudkan impiannya untuk bersanding dengan sosok yang dicintainya.
Benar ternyata, cinta bisa membuat seseorang menjadi idiot.
Kim Taehyung, contohnya.
.
.
.
.
.
.
Jeon Taekwon kembali menggeser tubuh ayahnya. Ia berusaha menyelipkan tubuh kecilnya di antara momma dan poppa yang saling menempel di sofa.
Mereka sedang menonton film, tapi poppa-nya malah bersandar di bahu sang bunda tanpa mempedulikan Taekwonnie yang duduk di karpet sambil memakan camilan. Karena itulah, si bocah pintar memilih untuk mengabaikan snack kesukaannya dan lebih memilih untuk menyamankan diri di tengah kedua orangtuanya.
Sejak poppa pulang, poppa selalu menempel kepada momma kesayangannya. Momma pun sepertinya tidak mempermasalahkan itu dan malah memanjakan sang ayah dengan mengusap kepalanya yang bersandar kepada momma.
Bahkan ketika makan malam, pria yang selalu menjadi idolanya itu sering sekali mendapat usapan lembut dari sang momma di pipi. Katanya, poppa melamun dan mengabaikan makanannya.
Jeon Taekwon jelas merasa kesal. Pria yang biasanya terlihat sangat keren di matanya kini malah bertingkah layaknya bayi besar yang menyabotase sang momma.
"No no… poppa mengingkir ini momma punya Kwonnie!" pekik si bocah ketika ayahnya mencoba untuk kembali bersandar kepada pemuda bersurai madu.
Jungkook terkekeh kecil.
Ia segera menggendong balita menggemaskannya yang bersikap sangat posesif. Diciumnya gemas pipi putranya sebelum memangkunya berhadapan. "Kenapa, hm? Poppa hanya sedikit merasa pusing, makanya momma memperlakukan poppa seperti itu."
"No poppa no no pusing!" bocah Jeon kembali menaikkan suaranya. Ia menunjuk sang ayah, lalu menatap momma dengan alis yang bertaut seolah marah. "Tapinya poppa dan momma sayang-sayangan tapinya tidak mengajak Kwonnie itu no no no no!"
Kali ini sang poppa yang angkat bicara. Tangan besarnya terulur untuk mengusap kepala putranya yang menggemaskan. "Poppa benar pusing, sayang. Poppa merasa lelah."
Superhero Taekwon mendengus dengan gelengan kecil.
Ia menoleh ke arah sang ayah, memperhatikan sosok pria tinggi bersurai hitam yang memang terlihat lemas. Ia terdiam beberapa saat dengan bibir bawahnya yang sedikit maju. Meski poppa tersenyum, Jeon Taekwon tidak membalas senyumannya.
"Kalau pusing-pusing berarti ayo tidur agar tidak menjadi sakit." ucap bocah pintar pada akhirnya. Ia melompat turun dari pangkuan sang bunda, lalu menggandeng ayahnya untuk berjalan.
"Jangan lupa gosok gigi. Momma akan membereskan sisa camilan, lalu menyusul kalian." Jungkook berujar cukup keras ketika kedua jagoannya mulai masuk ke kamar mereka. Bibirnya tersenyum lebar mengamati ayah dan anak yang saling menyayangi satu sama lain.
Dan senyuman di bibirnya luntur ketika punggung Kim Taehyung tak lagi berada di jarak pandangnya.
Ia menyandarkan tubuhnya di sofa, menangkan diri sejenak sebelum nantinya kembali menghadapi calon suami dan putranya.
Jeon Jungkook mungkin tidak menempuh perguruan tinggi, tapi ia bukan orang bodoh yang tidak bisa menebak apa yang telah terjadi.
Kim Taehyung pulang dalam keadaan sedikit kacau.
Pakaiannya tidak serapi saat ia berangkat, dan rambut sewarna malamnya terlihat acak-acakan.
Jungkook dapat mencium aroma alkohol ketika ia menyambut calon suaminya di depan pintu dan mendapatkan kecupan di pelipis. Meski ia tidak suka dengan adanya aroma itu yang melekat di tubuh sang pujaan hati, ia patut bersyukur karena Kim Taehyung pulang masih dalam keadaan sadar.
Dan yang paling membuatnya lega, tidak ada parfum wanita yang mengusik indera penciumannya.
Di balik itu semua, tentu Jungkook tidak bisa menyingkirkan rasa khawatirnya.
Ia sengaja membiarkan sang putra berdua dengan ayahnya sementara dirinya di dapur membersihkan piring bekas makan malam dan menyimpan camilan Kwonnie ke dalam kulkas. Setelahnya, Jungkook merenung sendirian.
Pemuda bersurai sewarna madu itu duduk di meja makan dengan tatapan yang menerawang. Hatinya menerka-nerka apa yang telah dilakukan calon suaminya sehingga pulang dalam keadaan seperti itu.
Apakah sungguh sulit memperjuangkan hubungan keduanya sehingga pria berusia enam tahun lebih tua itu membutuhkan sedikit alkohol untuk menenangkan pikirannya?
Jungkook melipat tangannya di atas meja, lalu menenggelamkan wajahnya di sana.
Entah mengapa hatinya berbisik bahwa jalan menuju kebahagiaan yang akan dilewatinya bersama pria Kim tidak akan mudah.
Cukup lama pemuda Jeon hanyut dalam kesunyian, ia sedikit terlonjak ketika merasakan kehangatan memeluknya dari samping.
"Jangan tidur di sini, momma ayo tidur di dalam."
Jungkook mendongakkan kepalanya. Bibirnya tersenyum lebar kala mendapati calon suaminya berdiri di sampingnya.
"Hei, kenapa menangis, hm?"
Penyandang marga Jeon menarik nafas dalam-dalam. Tangannya bergerak menyentuh matanya. Benar saja, sedikit terasa basah di sana.
Ahh… Jeon Jungkook tidak tahu kenapa dirinya menangis.
Ia bahkan merasa bahwa dirinya tidak sedang menangis.
"Aku tidak menangis…" cicitnya lirih, dan pria Kim terkekeh pelan.
"Ayo kita bicara."
Pemuda Jeon mengangguk, menuruti ajakan pria Kim yang segera menuntunnya untuk masuk ke kamar yang semalam menjadi saksi panasnya mereka berdua. Ia duduk di tepi ranjang, mengamati Taehung yang menarik sebuah kursi untuk selanjutnya diduduki sehingga keduanya duduk berhadapan.
"Kwonnie baru saja tidur, jadi kita biarkan pintunya terbuka untuk berjaga-jaga kalau jagoan kita terbangun lagi." pria Kim menjelaskan tanpa Jungkook bertanya terlebih dahulu.
Tangannya kemudian terulur untuk mengusap pipi sang kekasih.
"Kau menangis karena aku tidak memberikan cincin, hm? Tolong jangan mengira aku main-main hanya karena itu."
Mata Jeon Jungkook membola. Tangannya bergerak cepat untuk mencubit gemas perut calon suaminya. "Ishh! Aku bukan remaja labil yang seperti itu!"
Bibir mencebik Jungkook sunguh terlihat menggemaskan, persis seperti bibir putra mereka ketika sedang merasa kesal.
Taehyung tertawa renyah. Ia memberikan kecupan singkat di bibir sang kekasih sebelum beranjak dari duduknya.
"Begitu lebih baik." ucapnya dengan nada jenaka tanpa menatap sosok yang diajaknya bicara. "Jungkookku yang kesal terlihat lebih menggemaskan daripada Jungkookku yang sedih."
Dan pemuda yang dibicarakan hanya bisa mendengus.
Sepasang mata beriris obsidiannya mengamati pria Kim yang membuka laci, dan ia langsung bergidik ngeri. Bulu kuduknya meremang ketika mengingat benda apa saja yang disimpa mantan tuannya itu di dalam laci.
Ia sempat merasa takut, namun rasa itu langsung digantikan dengan rasa penasaran ketika Kim Taehyung kembali duduk di hadapannya dengan hanya membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Pewaris Kim Enterprise membukanya dengan amat kasual tanpa mengucapkan apapun, lalu mengambil salah satu dari dua lingkaran di dalamnya.
"Ini untuk momma." ucapnya diselipi sebuah senyum bahagia.
Diletakkannya benda yang nyatanya adalah sebuah cincin itu ke telapak tangan Jeon Jungkook. Setelah itu, ia mengambil cincin lain yang masih ada di dalam kotak.
"Ini untuk poppa." gumamnya lagi.
Sepasang mata berwarna kecoklatan itu menatap lurus ke dalam obsidian Jungkook. Sorotnya begitu serius, namun tidak mengintimidasi. Yang ada, Jungkook merasa teramat tenang.
"Ini adalah cincin pernikahan kita. Jadi kita akan memakainya saat kita menikah nanti."
Terkadang, Jeon Jungkook tidak bisa memahami jalan pikiran kekasihnya sendiri.
Mantan bajingan playboy itu terkadang terlihat konyol ketika bersama utra mereka. Ia juga sering menjanjikannya sebuah pernikahan dengan ucapan kasual yang terkesan tidak serius. Namun tindakannya pagi tadi, dimana Jungkook dibawa ke makan kakak kandungnya, dan di sana Taehyung meminta izin untuk menikahinya sungguh membuat pemuda bermata obsidian kehilangan segala keraguan yang pernah singgah di hatinya.
Jungkook tidak mempermasalahkan soal cincin, pesta pertunangan, atau apapun itu. Sungguh. Demi apapun, ia tidak mempermasalahkannya.
Dan Kim Taehyung yang tiba-tiba mengeluarkan sepasang cincin yang, katanya, adalah cincin pernikahan untuk mereka adalah bukti bahwa pria itu benar-benar ingin segera meresmikan hubungan mereka.
Penyandang marga Jeon kehabisan kata-kata.
Tangannya bahkan bergetar hingga cincin yang terletak di telapak kanannya hampir jatuh. Untung saja pria Kim dengan cepat menggenggam tangannya.
"Kita akan simpan ini, ya?"
Seperti tersihir, Jeon Jungkook hanya bisa mengangguk.
Ia mematung sambil mengamati Kim Taehyung yang kembali menyimpan cincin mereka. Gerakan pria itu terlihat begitu elegan di mata Jungkook. Sepasang mata bulatnya hampir tidak berkedip hingga Taehyung kembali duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Tanpa aba-aba, Jungkook menerjang calon suaminya, memeluknya erat sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria yang lebih tua.
Pria Kim hanya terkekeh menyembunyikan kekhawatirannya lantaran kursi yang ia duduki hampir saja terjengkang.
Sebelah tangannya mengusap surai lembut Jungkook, sementara lengannya yang lain memeluk pinggang ramping sang pujaan.
"Maaf, mungkin aku melakukan tindakan konyol." bisiknya sebelum mencium puncak kepala Jungkook. "Aku belum pernah jatuh cinta, dan aku malas mencari di internet, jadi aku melakukan semuanya dengan caraku sendiri."
Kali ini pemuda Jeon yang terkekeh. Ia menganggukkan kepalanya, lalu mengeratkan pelukan di pinggang sang calon suami. "Aku suka caramu mencintaiku. Jangan berubah."
Kim Taehyung menjawabnya dengan gumaman tanpa makna.
Keduanya lalu menikmati kesunyian dengan saling berbagi kehangatan. Tidak ada nafsu, tidak ada sentuhan nakal meski nyatanya, Jungkook duduk di pangkuan pewaris Kim sehingga kesejatian sang tuan muda terhimpit.
Hanya saling berbagi kasih sayang. Itulah yang mereka lakukan.
Taehyung menunggu saat yang tepat untuk memberi tahu apa yang ia dan Namjoon bicarakan siang tadi. Meski ingin menyelesaikannya sendiri, ia tetap ingin membicarakan ini dengan Jungkook.
Pria bersurai kelam itu memberikan kecupan-kecupan ringan di puncak kepala sang calo istri, mencoba memastikan bahwa ibu dari putranya yang menggemaskan belum terlelap.
"Momma…" panggilnya mencoba meyakinkan.
Dan gumaman yang ia dapat sebagai jawaban memicu Taehyung untuk menjauhkan tubuh kekasihnya perlahan. Tanpa melepaskan pelukan, keduanya kini saling bertatapan.
"Berjanjilah, kau akan mendengarkanku sampai selesai." Taehyung berucap lembut. Tangannya terulur untuk mengusap pipi Jungkook sekilas. Ia tersenyum puas ketika anggukan didapat sebagai jawaban. "Kau tahu orangtuaku sepertinya tidak akan setuju dengan hubungan kita?"
Lagi-lagi, Jungkook menganggukkan kepala.
Cukup menyakitkan sebenarnya mendengar ini langsung dari bibir calon suaminya. Ia bahkan harus meremat masing-masing sisi baju Taehyung untuk menyalurkan emosinya. Meski begitu, ia tidak akan mengatakan apapun karena dirinya telah berjanji untuk mendengarkan pria Kim terlebih dahulu.
"Mungkin… hanya mungkin, orangtuaku akan menggunakan posisiku sebagai CEO Vante, juga pewaris Kim Enterprise sebagai alasan agar aku tidak menikah denganmu." Taehyung menjeda sejenak. Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan segera. "Aku tahu tanggung jawabku sangat besar, dan aku ingin melepasnya jika itu menghalangiku untuk bersatu denganmu."
Taehyung melihat bibir Jungkook bergerak. Jelas sekali bahwa pujaan hatinya akan mengatakan sesuatu, dan ia langsung memberikan sebuah kecupan di bibir sebagai isyarat agar penyandang marga Jeon itu diam.
"Aku menemui seorang pengacara, kawan lamaku yang bernama Kim Namjoon, untuk berjaga-jaga." gumamnya masih dengan bibir yang saling menempel. "Meski aku berharap keluarga besarku setuju soal ini sehingga kami hanya perlu mengurus pemindahtanganan perusahaan atau sejenisnya, ada kemungkinan orangtuaku akan melepasku begitu saja. Bisa jadi, mereka akan menyeret perkara ini sampai ke meja hijau demi mempertahankan posisiku."
Jungkook terdiam.
Ia semakin memeluk dengan erat ketika Taehyung menjatuhkan kepala di pundaknya. Pria yang kini juga mendekapnya memang belum mengatakan apa-apa, namun Jungkook bisa merasakan beban yang diemban calon suaminya.
"Namjoon hyung bilang kemungkinan aku tidak akan mendapatkan apapun dari Kim Enterprise. Namun untuk Vante, masih ada yang bisa diselamatkan karena aku yang membangun perusahaan itu meski di bawah naungan Kim Enterprise. Kita juga masih bisa mengklaim hasil dari tagar Kim Daily jika kelak mereka masih menggunakannya karena tagar itu sejak awal terdaftar atas nama dirimu."
Taehyung masih berbicara, memberitahunya apa saja yang tadi Taehyung bicarakan degan pengacaranya, dan lepala Jeon Jungkook terasa pusing, dalam arti kiasan.
Ia sungguh tidak mengerti apapun yang Taehyung katakan. Meski begitu, ia berusaha mendengarkan. Bukan karena dirinya tidak ingin terlihat bodoh, namun karena Jungkook ingin coba merasakan apa yang calon suaminya tengah rasakan.
Kim Taehyung menghirup dalam-dalam aroma tubuh Jungkook sebelum ia kembali menegakkan kepalanya. Dipejamkannya mata ketika sepasang telapak Jungkook membingkai wajahnya, lalu mengusapnya lembut.
"Aku tidak peduli soal uang, hyung. Asal kau bersamaku, juga Kwonnie…" ucap Jungkook lembut. Bibirnya tersenyum simpul. Sepasang matanya menatap lekat ke dalam iris kecoklatan Taehyung.
"Aku tahu, sayang. Kau bukan seseorang yang mempermasalahkan berapa banyak uang yang kupunya. Aku tahu."
Lembut.
Sangat lembut Jungkook merasakan bibir tebal pria Kim menyentuh keningnya selama beberapa detik.
"Hanya saja, aku takut kau tidak setuju dengan keputusanku."
Jungkook sempat terdiam selama beberapa detik sebelum menggeleng singkat, tanda bahwa dirinya tidak akan menentang keputusan calon kepala keluarga Kim. Lagipula, meskipun Kim Taehyung kehilangan seluruh hartanya, Jungkook merasa mereka masih bisa bertahan dengan kedai kopinya.
Andai Jungkook tahu bahwa Kim Taehyung mencoba untuk mempertahankan sebanyak-banyaknya yang ia punya demi mempersiapkan masa depan putra mereka…
"Aku juga minta maaf soal aku yang minum."
Kali ini, Jungkook sedikit menjauhkan wajahnya demi kembali bertukar pandang dengan pria yang memangkunya. Sepasang telapak tangannya telah terlepas dari masing-masing pipi Taehyung dan berpindah untuk meremat lengannya.
Ia tidak suka Kim Taehyung yang memiliki aroma alkohol di tubuhnya.
Ia sungguh tidak suka, dan sang kekasih mengetahuinya.
Jadi, jika sampai Kim Taehyung menyentuh liquor, sudah pasti karena ia sedang ada masalah.
Awalnya, Jungkook pikir karena Taehyung terlalu memikirkan masalah pengunduran dirinya.
Hingga pria berusia enam tahun lebih tua mangatakan sesuatu yang sama sekali tidak terduga olehnya.
"Aku bertemu Park Jimin."
Taehyung bisa merasakan tubuh calon pendamping hidupnya sedikit menegang selama beberapa detik sebelum kembali rileks. Ia memberikan kecupan singkat di sudut mata Jungkook sebelum kembali bicara.
"Aku tidak tahu keparat itu adalah asisten baru Namjoon hyung. Aku hanya terkejut."
Penyandang marga Jeon memeluk pria Kim erat. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher prianya. "Aku tidak tahu dia pindah ke Seoul."
Kim Taehyung tidak menjawab.
Ia hanya membalas pelukan sang kekasih untuk kemudian mengangkat tubuhnya. Dibaringkannya Jungkook ke atas ranjang dengan dirinya yang menindih tubuh sang kekasih.
"Kau pergi ke klub lagi?"
Taehyung terkekeh mendengar pertanyaan ibu dari putra kesayangannya. Bibirnya yang hangat memberikan ciuman kupu-kupu di belakang telinga pemuda Jeon. "Aku hanya minum segelas Cognac di kantor Namjoon hyung. Ia tidak mengizinkanku minuk lebih dari itu karena aku menyetir."
Sosok yang lebih muda mengangguk. Tangannya terulur untuk mengusap surai sang kekasih.
"Aku tidak memberitahunya soal Jimin, setidaknya, belum. Apa menurutmu aku harus mengatakan mengatakan sesuau kepada Namjoon hyung soal asistennya itu?"
Gumaman tak bermakna diterima pria Kim sebagai jawaban, tanda bahwa Jungkook menyerahkan keputusan di tangannya.
Jujur saja, bertemu kembali dengan Park Jimin membuat emosinya naik. Ia bukannya kesal atau cemburu atas hubungan di masa lalu antara pria itu dan calon pendampingnya. Ia hanya merasa sangat marah ketika mengingat bahwa bajingan satu itu tidak memperlakukan balita menggemaskannya dengan baik.
Sepasang manusia yang saling mencinta itu hampir saja terlelap dalam keadaan saling menindih jika saja suara putra mereka tidak terdengar.
"Mwaa… Momma… Pa pa poppaaa…"
Jeon Taekwon tidak berteriak. Bocah itu hanya memanggil dengan suara yang sedikit serak.
Jungkook terkekeh lirih. Ia mendorong tubuh sang calon suami agar menjauh. "Putramu mencari."
Dan Taehyung berdecak kesal karena acara bermanja yang tengah dinikmatinya harus terganggu oleh sang putra yang terbangun.
Ia pun mendudukkan dirinya, namun enggan beranjak dari ranjang.
"Yaa, jagoaaan! Kemarilah!" ucapnya dengan nada yang sedikit meninggi.
Lampu di kamar yang ia tempati masih menyala terang. Pintunya juga terbuka lebar. Kwonnie pasti akan langsung berjalan ke tempatnya setelah bocah itu keluar dari kamarnya.
Terdengar langkah kaki kecil dan gerutuan menggemaskan.
Bocah itu mengomel karena lagi-lagi poppa-nya menghilang. Berbeda dengan semalam dimana ia menjadi anak baik dan kembali tidur tanpa mencari momma dan poppa, malam ini Taekwon memanggil kedua orangtuanya karena merasa ia baru tidur sebentar.
Benar saja, seorang bocah tampak memasuki kamar yang ditempati kedua orangtuanya sambil mengucek mata dengan tangan kiri. Tangan kanannya menggandeng robot Optimus Prime yang tadi diletakkan di sebelahnya ketika tidur.
"Uuuu… kenapa pindah-pindah kamar baru?" bocah itu bertanya sambil menguap. Sepasang lengannya kini terulur, membuat sang ayah yang berada di atas kasur langsung menggendongnya naik.
Diturunkannya sang putra kesayangan di samping momma-nya.
"Ini bukan kamar baru, ini kamar momma dan poppa."
Jeon Taekwon mengeryit menatap ayahnya, namun ia segera berbaring dan memeluk momma, mengabaikan kapten Optimus yang tergeletak begitu saja di sampingnya. Ia bahkan tidak protes saat poppa mengambil robot itu dan meletakkannya di atas nakas.
Jungkook langsung mengusap kepala balitanya supaya si menggemaskan kembali terlelap. Dikecupnya lembut dahinya berulang kali.
Bibir Kwonnie bergerak-gerak kala menggumam, "Tapi dulu dulu kamarnya dikunci Kwonnie masuk tidak bisa."
Taehyung terkekeh, memilih abai dengan pertanyaan sang putra. Ia memeluk tubuh balitanya dari belakang, menepuk-nepuk pantatnya perlahan supaya superhero Kwonnie tertidur pulas.
Kim Taehyung memang awalnya mengunci kamar yang dulu ditempati Jungkook. Bukan apa-apa, hanya saja, ia masih menyimpan beberapa alat permainan dewasa di dalam kamar. Ia takut putranya menemukan itu dan bertanya macam-macam. Selain itu, ia juga melakukannya karena khawatir Jungkook tidak menyukai kamar dimana ia sering memperlakukan pemuda itu kasar.
Namun setelah malam tadi, dimana Jungkook terlihat biasa saja di kamarnya, dan bahkan mereka kembali melakukan hubungan badan, Kim Taehyung merasa lega. Apalagi yang semalam itu bukan sekedar sex, melainkan bercinta.
Ia memutuskan untuk mengunci laci dan juga almari yang berisi mainan miliknya dan menyimpan kuncinya di tempat yang tinggi. Dengan begitu, Jeon Taekwon tidak akan bisa menemukannya.
Jeon Taekwon kembali bergumam. Kali ini, momma dan poppa tidak paham dengan apa yang bocahnya katakan. Mungkin balita menggemaskan merasa dirinya masih bisa berbincang dengan kedua orangtuanya, padahal ia mulai kehilangan kesadaran.
Jungkook tersenyum lembut. Diciumnya pipi Kwonnie, lalu ia bergumam pelan supaya balitanya merasa nyaman. Ia memejamkan mata, mencoba tidur karena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan calon suaminya.
Namun niatnya harus diurungkan ketika sentuhan lembut di pipi ia rasakan. Jelas tangan yang menyentuhnya ini bukan milik sang putra.
"Hmm?" momma membuka mata, mengulas senyum tipis sebagai isyarat agar pria Kim segera mengutarakan maksudnya. Jujur saja, Jeon Jungkook mulai mengantuk dan ia ingin segera tidur.
Taehyung tersenyum lembut. Ia mengusap pipi Jungkook yang mulai terlihat tembam. Yeah… meski tidak se-chubby dulu, tapi pipinya yang sekarang jauh lebih menggemaskan dibandingkan dengan pipi pemuda Jeon ketika mereka pertama kali bertemu di kedai.
"Mulai besok, aku akan sangat sibuk." pria Kim berucap lirih. Ia menjahii sang putra dengan menggigit-gigit kecil daun telinga balita menggemaskannya sebelum lanjut bicara.
Tentu saja, Jungkook yang melihat kelakuan Kim Taehyung yang kekanakan langsung menjewer telinga pra itu.
Tertawa pelan, Taehyung kembali bergumam. "Pagi aku akan ke kantor. Setelah itu, aku harus menemui Namjoon hyung."
Jungkook mengangguk saja. Ia memejamkan mata sebelum balas bergumam. "Tidak apa, lagipula aku akan kembali ke Busan. Asalkan poppa jangan lupa makan dan menjaga kesehatan, jangan minum minuman beralkohol jika menyetir sendirian, juga jangan menghajar Park Jimin."
Taehyung tertawa untuk pesan Jungkook yang terakhir.
Pemuda yang dicintainya itu tahu betul bagaimana dulu dirinya sangat payah dalam hal mengendalikan emosi. Jika boleh jujur, sekarang pun ia masih sering merasa kesulitan. Maka dari itu, menghajar Park Jimin jika pria itu menyinggung masalah Jungkook dan atau Kwonnie adalah hal yang mungkin terjadi.
"Maaf, ya, kita harus melalui ini." ucap pria Kim pada akhirnya sebelum mengeratkan pelukan ke tubuh Jungkook dengan putra mereka di antara keduanya. "Aku hanya tidak ingin keluargaku mempermasalahkan pernikahan kita di kemudian hari. Mungkin kita berdua akan baik-baik saja, tapi Kwonnie pasti akan merasa tertekan. Makanya, aku ingin memastikan semuanya benar-benar bersih sebelum kita melewati jalan itu bersama-sama."
Jungkook merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan pria yang ia cinta. Anggukan kecil ia berikan sebagai kesanggupan untuk menunggu.
Jeon Jungkook tak ingin tergesa.
Ia juga tidak akan meminta banyak hal kepada kekasihnya.
Mungkin terdengar menggelikan, tapi ia percaya bahwa jalan kehidupan setiap orang berbeda-beda, dan inilah yang harus dilalui keluarga kecilnya.
Semua demi kebahagiaan putra mereka.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Hai hai… aku kembali mahahahahhahahaha….
