"Baik-baik di sana, oke?"

Pria bersurai kelam berkata pelan. Sebelah tangannya menyangga balita berkaos Iron Man, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap pipi pemuda kesayangan. Bibirnya tersenyum tipis, menyembunyikan perasaan tak rela yang memberontak di dalam dada.

"Aku akan baik-baik saja, poppa juga harus baik-baik di sini. Jangan lupa makan meski kau sedang sibuk."

Pria yang dipanggil poppa terkekeh lirih. Ia mengangguk singkat sebelum beralih pada balita digendongannya yang sedari tadi menggelendot manja. Diciumnya gemas pipi menggembung si bocah, lalu diangkatnya tinggi-tinggi sosok itu.

"Jagoan poppa kenapa, hm?"

Bukannya menjawab, sang Jagoan malah memalingkan wajahnya. Bibirnya mengerucut, sepasang lengannya dilipat di depan dada.

Pria yang menggendongnya, Kim Taehyung tahu bahwa sang putra tengah merajuk. Jelas sekali karena superhero berusia empat itu masih ingin tinggal bersama sang poppa, namun momma mengajaknya untuk pulang ke Busan. Tidak akan jadi masalah seperti ini sebenarnya jika poppa ikut bersamanya. Sayang sekali, poppa harus tetap berada di rumahnya yang besar itu.

"Kwonnie, dengarkan poppa baik-baik." Taehyung kembali mencoba menjelaskan. Ia ingin putranya mengerti bahwa dirinya benar-benar tidak bisa ikut. Sepasang netranya kini menatap lekat balita yang ia dekap di dada. "Poppa memiliki banyak pekerjaan. Poppa harus berada di sini untuk mengurusnya. Kwonnie anak pintar sudah lihat sendiri kalau poppa memiliki kantor yang besar, jika poppa tidak berangkat ke kantor, bisa-bisa kantor poppa tidak terurus."

Bocah menggemaskan akhirnya mau menatap sang ayah. Dengan bibir yang masih mencebik, ia mulai bicara. "Tapinya Kwonnie sama momma bisa tinggal di rumah besar terus terus, tidak usah ke rumah kecil itu jauh, tapi kenapa harus pulang tapi Kwonnie ingin sama-sama poppa!"

Kim Taehyung tersenyum tipis.

Jeon Taekwon sedang ingin bersama ayahnya. Bocah itu bahkan sempat berkata bahwa momma boleh kembali ke rumah mereka di Busan, dengan syarat dirinya tetap tinggal bersama poppa. Terdengar menyenangkan sejujurnya, tapi Jungkook tidak mengizinkan. Pertama, Kim Taehyung sendiri mengatakan bahwa dirinya akan sangat sibuk. Ia sungguh tak ingin putra kesayangannya terabaikan. Kedua, ia tidak mau berpisah dengan jagoannya itu. Pewaris Kim Enterprise sempat mengusulkan agar pemuda bersurai madu itu tidak usah kembali ke Busan dan tetap tinggal bersamanya di Seoul. Jeon Jungkook menolak, tentu saja. Ia memiliki pertimbangannya sendiri, salah satunya karena ia tidak ingin meninggalkan kedai kopinya terlalu lama karena bagaimanapun, ia hanya menitipkannya sebentar kepada Yugyeom. Meski pria itu tidak akan mempermasalahkannya, Jungkook tetap tidak enak hati.

Taehyung sempat mengajak Jungkook berunding mengenai keputusannya untuk kembali ke Busan, dan itu hampir membuat keduanya bertengkar hebat semalam.

Untung saja, bisa diselesaikan dengan pelukan dan cumbuan.

Pada akhirnya, Kim Taehyung memilih untuk menuruti keinginan sang pujaan. Ia sungguh tak ingin berselisih, apalagi dalam keadaan dimana keduanya diharuskan untuk terpisah oleh jarak.

Bocah Jeon masih terlihat kesal. Momma dan poppa sudah berusaha membujuknya berkali-kali, namun balita yang sedang senang-senangnya menghabiskan waktu dengan sang ayah sepertinya tidak mau mengerti. Jagoan cilik itu bahkan sudah berkaca-kaca karena momma-nya mulai memaksa untuk mengambilnya dari sang poppa.

Pria Kim menghela, ia menurunkan paksa balitanya, lalu berjongkok di depan sosok berkaos Iron Man itu.

"Superhero, dengarkan poppa baik-baik."

Nada bicara Kim Taehyung berubah, dan Jeon Taekwon tahu itu. Ia mengucek matanya yang berair, lalu mulai terisak. Ia tidak pernah melihat poppa marah kecuali ketika poppa terkena bangsat, dan baginya, itu terlihat sangat mengerikan. Walau demikian, Jeon Taekwon tidak ingin kabur seperti ketika poppa terkena bangsat karena ia benar-benar tidak ingin berpisah dengan pria yang dianggapnya paling keren sejagad raya.

Biar saja poppa marah, Kwonnie tetap akan berada di dekat poppa meski dengan kegelisahan di hatinya.

"Poppa tidak sayang Kwonnie." bisiknya lirih, namun sukses menggoreskan luka di dada ayahnya.

Bocah sekecil itu, bocah yang masih polos, menuduhnya demikian.

Rasanya sakit sekali, namun sekarang bukan saat yang tepat baginya untuk bermuram durja. Jeon Taekwon harus segera mengikuti keinginan momma kembali ke Busan, atau keduanya akan ketinggalan kereta.

"Poppa sayang Kwonnie, sangat sayang." ucapnya tegas. Ia berusaha tersenyum meski rasanya sulit sekali. "Dan Kwonnie adalah superhero favorit poppa yang harus menjaga momma."

Jungkook memilih bungkam dan mengamati pria Kim yang nampak diam untuk beberapa saat. Mungkin, sedang memikirkan apa yang harus dikatakan, mungkin juga sedang menahan emosinya karena sang putra benar-benar rewel dan tidak mau menurut.

"Momma harus kembali ke rumah di Busan karena momma harus bekerja. Kwonnie harus menemani momma karena Kwonnie adalah agen rahasia, juga superhero keren yang hebat." Taehyung mengusap pipi balitanya yang basah, diciumnya lembut setelahnya. "Kalau Kwonnie tidak ikut, siapa yang akan menjaga momma?"

Terisak sebanyak dua kali, balita Jeon berbicara dengan suara bergetar. "Tapi tidak kembali ke rumah kecil nanti bisa dibantu poppa menjaga momma."

Taehyung terkekeh lirih. "Bagaimana dengan mainan Kwonnie di sana, hm? Kwonnie tidak merindukan mereka? Bagaimana kalau mereka merasa kesepian karena tidak pernah dimainkan?"

Yang diajak bicara mulai terlihat berpikir, dan Kim Taehyung menggunakan kesempatan ini untuk memberikan sugesti yang lebih meyakinkan.

"Poppa janji, besok kalau poppa sudah tidak sibuk, poppa akan membantu Kwonnie dan momma untuk mengangkut seluruh mainan Kwonnie, juga baju-baju di sana. Tapi untuk sekarang, Kwonnie harus tinggal di sana bersama momma."

"Tapi Kwonnie mau main mainannya sama poppa."

"Nanti, ya? Kalau poppa sudah tidak sibuk." Jungkook menyahut. Sebelah tangannya mengusap puncak kepala sang buah hati meski ia tidak ikut berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan putranya.

Taehyung sempat mendongakkan kepalanya, menatap pemuda Jeon, kemudian tersenyum tipis.

"Kalau poppa sudah tidak sibuk pasti akan main bersama Kwonnie. Poppa juga akan membawa DVD Iron Man terbaru dan akan menontonnya bersama Kwonnie dan momma. Bagaimana?"

Kwonnie mengangguk pelan, lalu mengusap matanya yang basah.

"Tapi nanti kerja jauh-jauhnya tidak lama."

Kim Taehyung tersenyum miris, ternyata alasan utama putranya rewel adalah karena anak itu tidak mau berpisah dengannya terlalu lama.

Sudah pasti Jeon Taekwon tidak ingin kembali mengalami saat-saat dimana ia tidak memiliki seorang ayah.

Taehyung memeluk erat balita pintarnya. Ia mengangguk sebelum memberikan ciuman gemas di pipi Kwonnie.

"Poppa janji."

Dan sang putra berteriak heboh, merasa geli karena poppa menggesek-gesekkan dagunya yang belum dicukur ke pipinya yang tembam.

"Noo…. no geli-geli!" Taekwon berteriak heboh sambil tertawa, membuat sang momma tersenyum karenanya.

"Sekarang Kwonnie dan momma naik kereta, poppa hanya bisa mengantar sampai sini."

Bocah itu mengangguk dengan semangat. Ia membetulkan letak tas di punggungnya yang berisi mainan, lalu mencium pipi ayahnya. "Bubye poppa jangan lupa janji nonton Iron Man."

Taehyung mengangguk, lalu melakukan high five dengan sang balita.

Ia berdiri setelahnya, memberikan kecupan singkat di pelipis kiri calon pendamping hidupnya.

Dan dengan itu, Jeon Jungkook masuk ke dalam kereta yang akan membawa dirinya kembali ke Busan bersama Jeon Taekwon sang jagoan,

.

A fanfiction, the continuation of "Puzzled"

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung

Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Rated: M for the language and theme, and yeah

Warning: OC for Taekwon.

Ambigu, TYPO tak tertahankan, m-preg (?)

.

.

"Painted"

Part XVIII: the Baby Paints

Lebih dari seminggu telah beerlalu, dan Jungkook menghabiskan harinya bersama sang putra yang sejak kemarin lusa mulai masuk ke sekolahnya. Bukan perkara mudah sebenarnya mendaftarkan Jeon Taekwon sebagai murid baru sedangkan dua bulan lagi, tahun ajaran akan berganti. Untung saja Kim Taehyung dengan sangat mudah mengurusnya sehingga sang putra bisa kembali bersekolah seperti keinginannya.

Tidak bisa dipungkiri, uang memang berkuasa.

Bocah Jeon tidak masuk ke sekolah mewah. Ia hanya bersekolah di sekolah yang berada di dekat rumahnya. Ia akan berangkat setelah menyelesaikan sarapannya dengan diantar sang momma, lalu pulang dengan dijemput oleh momma juga.

Kwonnie tak lagi merasa rendah diri jika ada yang membahas keberadaan sang ayah karena ia membawa sebuah foto berisi dirinya bersama kedua orangtuanya. Ia sendiri yang meminta foto itu kepada sang bunda. Katanya, untuk ditunjukkan jika ada yang menanyakan ayahnya. Bocah itu akan dengan senang hati menceritakan pengalamannya tinggal di rumah poppa yang dianggapnya besar, juga kegiatannya bekerja di kantor poppa yang menyenangkan. Tentu Paman Yoon Yoon yang memiliki rambut seperti permen kapas tak ketinggalan dalam kisahnya.

Kim Taehyung pastinya merasa bangga dengan apa yang dilakukan bocah jagoan favoritnya.

Sejak kembali tinggal terpisah, Pria Kim selalu melakukan video call setiap pagi, juga ketika malam hari. Jika sedang tidak sibuk, ia akan menghubungi saat makan siang.

Seperti saat ini, sosok bersurai kelam itu tengah berbincang dengan pemuda Jeon melalui sambungan telfon di jam istirahat makan siang.

"Jangan menelfonku, kau harus menggunakan waktu senggang untuk makan siang." Jungkook bergumam. Ia menyandarkan tubunya ke kepala ranjang, lalu memijit pelipisnya pelan. Awalnya, pria Kim menghubunginya melalui video call, namun Jungkook menolaknya dan balas menghubungi via suara.

"Aku merindukanmu, makan siang bisa belakangan."

Jawaban dari seberang sambungan berhasil membuat Jungkook terkekeh pelan. Ia memutuskan untuk merebahkan diri, lalu memejamkan matanya. Tangan kanannya masih menempelkan ponsel pintar ke telinga.

"Tumben sekali tidak menceramahiku. Kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik."

Suara lemah itu tidak bisa membohongi seorang Kim Taehyung. Apalagi Jungkook memang sering mengomel jika sang calon suami lupa makan dan terlalu sibuk melakukan aktifitasnya.

Jungkook yang pendiam bukanlah pertanda baik bagi pria Kim.

"Jangan membohongiku. Semalam Kwonnie mengatakan bahwa kau seharian pusing dan lemas. Kau bahkan sempat muntah. Apa sekarang masih?"

Jungkook bergumam pelan, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Taehyungnya.

Ia bukannya mau berbohong kepada Taehyung, hanya saja, penyandang marga Jeon tidak ingin membuat pria kesayangannya khawatir. Ia tidak menyangka bahwa sang putra akan melaporkan keadaannya kepada sang poppa.

Ahh… kalau dipikir-pikir, belakangan ini Taekwon sering bersembunyi di kamarnya atau menyuruh Jungkook menjauh ketika sedang melakukan video call dengan poppa-nya. Mungkin bocah itu merasa apa yang dibicarakannya dengan sang ayah adalah rahasia.

"Pergilah ke dokter. Jangan membuatku khawatir."

Gumam poppa Kim membuyarkan lamunan Jungkook. Lagi-lagi ia memilih untuk tidak menjawab, namun hening yang tercipta selama beberapa menit setelahnya membuat penyandang marga Jeon menghela, memutuskan untuk mengatakan sesuatu kepada pimpinan Vante hanya agar keheningan yang membuatnya pusing segera lenyap.

"Aku akan beristirahat saja." Jungkook bergumam. Kalau boleh jujur, kepalanya pusing sekali, namun ia berusaha menahannya. "Ada dua karyawan baru, jadi pekerjaanku tidak sebanyak dulu. Aku hanya perlu mengecek sesekali, selebihnya, aku bisa beristirahat."

Kali ini, Kim Taehyung yang menghela.

Calon pendampingnya ini benar-benar keras kepala.

Kalau saja ia tengah berhadapan dengan pemilik kedai Jeon, pasti sosok yang berusia enam tahun lebih muda darinya itu akan ia gendong, bahkan ia seret ke rumah sakit terdekat untuk full check up guna mengetahui apa yang terjadi.

Sayangnya, mereka sedang terpisah oleh sombongnya jarak antara Busan dan Seoul.

Dan yang bisa Taehyung lakukan hanyalah menasihati sang kekasih.

"Sayang, Kwonnie mengkhawatirkanmu juga." ucap Taehyung tegas. Nada bicaranya berubah, namun masih terkesan tenang. "Kalau kau tidak mau menurutiku, mungkin kau bisa mempertimbangkan kekhawatiran putra kita."

Jungkook terdiam.

Bocah pintarnya sejak kemarin memang berusaha untuk melakukan segalanya sendirian. Bahkan, anak laki-laki berusia empat itu sempat memaksa untuk mencuci piringnya sendiri. Untung saja, Jungkook berhasil mencegahnya. Jika si menggemaskan benar-benar mencuci piring, Jungkook tidak dapat membayangkan bencana seperti apa yang akan tercipta.

"Periksakan dirimu ke dokter, ya?"

Jeon Jungkook akhirnya mengangguk singkat meski harus diiringi dengan helaan napas berat. Ia tahu pria Kim di seberang sana tidak dapat melihatnya, namun Taehyung jelas bisa mengartikan helaan napas, juga hening yang tercipta setelahnya.

"Umm… lagipula, siapa tahu kau… itu."

Kali ini Jungkook mengeryit mendengar kalimat yang dilontarkan calon suaminya dengan penuh keraguan. Jujur saja, ia paham dengan apa yang ingin diucapkan sang kekasih. Meski begitu, ia tak mau menebak-nebak.

"Jangan bercanda." ucap Jungkook sedikit kesal.

Ia mendudukkan dirinya perlahan, lalu kembali menyandarkan diri di kepala ranjang.

"Aku tidak bercanda. Ya… siapa tahu Kwonnie akan memiliki adik sebentar lagi."

Meski diucapkan dengan kekehan dan nada jenaka, jelas sekali bahwa ungkapan barusan bukan merupakan candaan.

Sepertinya, Kim Taehyung memang benar-benar berharap Taekwon akan memiliki adik bayi.

"Kita lihat saja nanti."

Pria Kim bergumam tidak jelas dari seberang sana, Jungkook mendengar suara keyboard yang disentuh. Mungkin, sang kekasih tengah melakukan sesuatu.

Beberapa saat setelahnya, pewaris Kim Enterprise kembali bicara. "Aku akan mendaftarkanmu untuk periksa ke poli kandungan sore nanti di rumah sakit."

"Astaga…" Jungkook merasa kepalanya semakin berdenyut.

"Langsung hubungi aku setelah selesai periksa, oke?"

Jungkook mengerang protes. "Aku hanya perlu periksa di poli umum, jangan poli kandungan. Lagipula tidak harus ke rumah sakit."

"Harus ke rumah sakit."

Mungkin ini hanya perasaan Jungkook saja, tapi ia merasa Kim Taehyung tengah merengek padanya, bertingkah seperti putra mereka yang masih berusia empat tahun.

Malas mendebat lantaran tak mau kepalanya semakin pusing, Jungkook akhirnya menurut, dengan syarat ia harus pergi ke dokter umum terlebih dahulu, dan jika dokter umum berhasil mendiagnosa penyakitnya tanpa dugaan bahwa dirinya tengah mengandung, Jungkook tidak perlu pergi ke poli kandungan.

Solusi yang cukup fair untuk keduanya.

Setelahnya itu, hanya obrolan ringan seputar pekerjaan Taehyung, juga perkembangan urusan dengan Namjoon yang ada. Jungkook tidak banyak bertanya, hanya mendengarkan saja. Katanya, penyandang marga Kim akan siap menemui kedua orangtuanya dan melakukan konfrontasi begitu Namjoon selesai dengan semua perhitungan yang dilakukan. Tidak bisa seratus persen akurat, tetapi setidaknya bisa memberikan gambaran kepada Taehyung mengenai masa depan karirnya.

Pemuda Jeon tak masalah sebenarnya jika Kim Taehyung kehilangan semua yang dimiliki, lalu meminangnya dengan tangan kosong. Baginya, asal bisa bersama, hidup dengan membuka kedai kopi kecil-kecilan sudah lebih dari cukup.

"Jangan lupa makan sebelum kembali bekerja." Jungkook memperingati kala Taehyung berkata bahwa dirinya akan menutup sambungan.

Ia mendapatkan tawa renyah sebagai jawaban.

Wajar saja, Jungkook sudah mengatakannya berkali-kali. Bisa dibilang, setiap ada kesempatan, ia akan menyuruh kekasihnya makan.

"Aku akan segera makan, kau juga jangan lupa makan dan istirahat. Akan kuhubungi setelah sekretarisku mendapat nomor antrian dan jadwal praktik doktermu sore nanti. Salam untuk jagoan menggemaskan."

"Iya… kau tidak perlu mengingatkanku berkali-kali."

Jelas saja Kim Taehyung tertawa mendengar itu.

Bisa dibilang, Jungkook lah yang sedaritadi menyuruhnya makan tanpa henti, dan ia tidak protes sama sekali. Sekarang, ketika ia mengingatkan Jungkook untuk pergi ke dokter, pemuda bersurai madu itu malah memarahinya.

Dan pria yang berusia enam tahun lebih tua hanya bisa mengalah.

Sambungan akhirnya terputus setelah Jungkook memastikan prianya mengunyah sesuatu. Sedikit aneh memang, tapi ia ingin mendengar calon suaminya makan.

Meletakkan ponselnya di atas nakas, penyandang marga Jeon kembali memejamkan matanya. Ia merasa lelah meski sejak pagi dirinya tidak melakukan kegiatan berat. Kepalanya juga masih terasa pusing, namun ia patut bersyukur lantaran rasa sakitnya sudah tidak separah pagi tadi.

"Mwomma…"

Suara familiar terdengar merengek dari kamar sebelah.

Ingin rasanya Jungkook mengabaikan, namun ia tak bisa melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu bagi putra semata wayangnya. Maka yang dilakukannya adalah menjawabnya dengan suara yang lumayan keras.

"Momma di kamar, sayang. Kemarilah…"

Setelahnya, suara langkah-langkah kecil terdengar mendekat. Pintu kamar Jungkook terbuka, lalu muncullah sosok mungil dengan kaos oblong dan celana selutut berwarna merah. Tangan kirinya mengucek mata, sementara yang kanan menggandeng robot Optimus Prime.

"Mowma masih sakit sakit?" bocah itu bertanya seraya mendekati ranjang sang bunda. Diletakkannya Prime di atas kasur, lalu dipanjatnya kasur itu perlahan.

Merangkak dengan kedua tangan, Kim Taekwon kemudian duduk di samping momma. Ia berusaha membuka matanya. Kedua tangannya terulur untuk memijit lengan momma kesayangan.

"Katanyaw powwa itu Kwonnie harus membantu nanti momma cepwat sembuh." gumam si bocah sambil menahan dirinya yang hampir menguap.

Jungkook yang melihatnya tentu merasa gemas. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap kepala superhero menggemaskan.

"Momma sudah lebih baik, tapi nanti sore momma akan ke dokter, ya?"

Balita Jeon mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia lalu merebahkan diri dan memeluk lengan sang momma.

"Tapinya Kwonnie lapar, nanti kelaparan kalau tidak makan." gumamnya sembari mengusap-usap perutnya.

Pemuda Jeon tersenyum maklum.

Pulang sekolah tadi, Kim Taekwon memang langsung mengganti bajunya, lalu tidur. Sepertinya anak itu kelelahan setelah bermain sepak bola bersama guru dan teman-temannya.

"Kwonnie mau makan telur dadar? Atau sayur brokoli?"

Bocah yang masih mengantuk itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Jungkook terpaksa menggendong balitanya sambil menahan pusing, lalu mendudukkannya di sofa. Dinyalakannya televisi yang menunjukkan kartun kesukaan si balita. Setelahnya, ia pergi ke dapur untuk mengoreng telur, dan mengambilkan makan untuk putra kesayangannya. Tentu saja, sayur brokoli menemani telur dadar sebagai lauknya.

Ketika sang momma kembali dengan membawa makan siangnya, Jeon Taekwon sudah mendudukkan diri sambil menonton kartun berbahasa Inggris. Poppa memiliki ide untuk berlangganan saluran TV kabel, lalu membiarkan balitanya menonton kartun barat supaya bocah itu belajar bahasa baru. Tentu saja, momma bertugas mengawasi.

"No no, a tiger no eat carrots." gumam Kwonnie mengomentari apa yang dilihatnya di televisi.

Jungkook tersenyum tipis.

Diusapnya kepala si balita.

"A tiger does not eat carrot."

Balita menggemaskan menolehkan kepala, lalu menatap sang momma dengan sorot menyelidik, "Hee?"

"A tiger…" Jungkook memancing respon jagoannya, memintanya menirukan apa yang ia katakan.

"A tiger…" Kwonnie mengikuti ucapan sang bunda. Sepasang bola matanya membola lantaran ia merasa antusias.

Mengangguk pelan, Jungkook melanjutkan kalimatnya. "… does not eat carrots."

"Hmm… does not eat carrots?"

"Great! A tiger does not eat carrots."

"A tiger does not eat carrots!" Jeon Taekwon bertepuk tangan. Ia tahu momma sering membetulkan kalimatnya, dan dirinya akan selalu merasa senang setiap kali berhasil mengucapkan kalimat seperti yang momma lakukan.

Setelahnya, Jungkook menyuapi balitanya yang menggemaskan. Katanya, Kwonnie sedang beristirahat menjadi anak besar, jadi ia akan bermanja kepada momma kesayangan.

Jungkook hanya tersenyum menuruti keinginan si jagoan. Ia sudah cukup senang karena hari ini putranya tidak rewel.

Sesekali Taekwonnie hanya akan menirukan kalimat-kalimat yang diucapkan karakter di dalam kartun yang ditonton. Ia juga terkadang akan melontarkan komentar sambil melirik momma. Seteahnya, momma akan memperbaiki kalimat Kwonnie jika yang diucapkannya tidak sesuai, dan hanya memberikan anggukan ketika putranya mengatakan kalimat yang tepat. Tentu saja, balita Jeon akan selalu girang setiap kali dirinya lolos dari koreksi momma Jeon.

Jungkook senang putranya bersemangat dalam mempelajari sesuatu yang baru, dan ia cukup bersyukur karena dirinya tahu, paling tidak, dasar-dasar pelajaran bahasa Inggris. Well, dulu sekali, Kim Taehyung sering membawanya ke luar negri untuk menemani perjalanan bisnisnya.

"Nanti momma akan pergi ke dokter, Kwonnie tinggal di rumah kakek Bang sebentar, ya? Main sama Jihoon hyung? Momma jemput kalau momma sudah pulang." Jungkook berujar sambil memberikan suapan terakhir kepada balitanya.

Si balita mengunyah sambil mengangguk-anggukkan kepala. "No, no, nanti Kwonnie ikut karena untuk menjaga momma."

Sang momma menghela.

"Hanya sebentar…" pemuda Jeon berusaha meyakinkan. Ia beranjak dari duduknya, lalu segera mencuci piring kotor yang baru saja digunakan.

Superhero berusia empat langsung turun dari sofa. Ia mengikuti ibunya, lalu berdiri di sampingnya yang sedang sibuk mencuci piring. "Tapi Kwonnie bilang poppa kalau mau jaga momma. Ke dokter itu sakit, harus dijaga."

Menghela napas berat. Jungkook meletakkan piringnya yang sudah bersih, lalu membersihkan tangannya yang basah. Ia menoleh ke arah sang putra, tersenyum tipis kala mendapati sepasang alis bocahnya menukik tajam, menunjukkan betapa seriusnya ia.

Jeon Jungkook mengangguk singkat, membuat balita pintarnya berteriak girang sambil melompat-lompat.

Sejujurnya, Jungkook hanya malas berdebat lantaran pusing di kepalanya belum juga pergi meski ia sudah mencoba minum obat sakit kepala. Mungkin benar, ia harus pergi ke dokter.

Ia berjalan ke kedai, meninggalkan jagoannya yang tengah menonton televisi dengan ditemani buah potong dan segelas jus semangka. Jungkook tidak merasa khawatir kalau-kalau balitanya menonton yang aneh-aneh karena saluran televisi yang bisa diakses melalui televisinya sudah disortir sehingga hanya kanal anak-anak yang ada.

"Hei, apa yang kau lakukan di sini? Kau bilang ingin tidur sebentar?" Yugyeom yang baru saja selesai menyiapkan pesanan langsung menghampiri Jungkook yang masuk ke kitchen. Ia menarik sebuah kursi, lalu menyuruh boss-nya duduk di sana.

"Terima kasih." Jungkook bergumam pelan. Ia memijit ringan pangkal hidungnya. "Kurasa kita akan tutup lebih awal hari ini. Taehyung menyuruhku pergi ke dokter."

Pria dengan surai bergelombang yang diajak bicara langsung menganggukkan kepalanya. Ia melipat sepasang lengannya di depan dada. "Syukurlah, boss besar satu itu bisa memaksamu untuk ke doker. Yeah… walau sebenarnya mulutku sampai berbusa karena menyuruhmu memeriksakan diri, tapi kau sangat keras kepala."

Pemilik kedai kopi Jeon terkekeh pelan. Dipukulnya main-main pinggang pria tinggi yang berdiri di depannya.

"Kwonnie bagaimana?" Yugyeom bertanya. Ia mencomot buah apel yang terletak di atas meja, lalu menggigitnya. "Aku bisa mengajaknya pulang."

Jungkook menggelengkan kepalanya. "Anak itu memaksa ikut. Katanya ingin menjaga momma."

"Yeah… kalau dipikir-pikir si bulat itu semakin protektif kepadamu. Aku tidak tahu apa yang kekasihmu katakan sehingga bocah yang hobi bermain itu sekarang lebih suka mengawasimu."

Lagi-lagi, penyandang marga Jeon hanya bisa terkekeh. Kalau boleh jujur, memang Kim Taehyung memberi putra mereka banyak petuah, terutama supaya sang superhero menjaga momma.

Beberapa saat berlalu, Yugyeom kembali mengurus pesanan, sementara Jungkook mengawasi pekerjaan para karyawan. Pusing yang dirasakan pemuda Jeon tak kunjung hilang meski ia sudah merasa baikan.

"Ma ma maaa… mommaaaa!"

Dan suara cempreng menggema, membuat Jungkook yang sedang berbincang dengan salah satu pekerjanya langsung menoleh. Ia mendapati balitanya berlari kecil masuk ke dapur kedai dengan membawa ponsel pintar miliknya.

"Ada poppa telfon tapi momma hilang jadi Kwonnie yang angkat." ucapnya girang diakhiri dengan senyum lebar. Tangan kanannya terulur untuk menyerahkan smartphone dengan layar yang menunjukkan bahwa sambungan telfon masih berlangsung.

"Terima kasih, sayang." Jungkook menerima ponselnya, lalu memberikan usapan di kepala si balita.

"Tapi Kwonnie mau kue boleh, ya?"

Jungkook terkekeh, lalu mengangguk sebagai tanda persetujuan. Setelahnya, ia keluar dari dapur untuk berbicara dengan sang kekasih, meninggalkan Taekwon yang langsung menarik-narik celana Yugyeom demi mendapatkan sepotong kue.

"Paman Yumi, Paman Yumi, Paman Yumi."

Kim Yugyeom berdecak kesal, hanya pura-pura. Ia menghentikan pekerjaannya, lalu melotot ke arah bocah berusia empat yang malah tersenyum tanpa dosa.

"Mau kue yang choco."

"Kue yang choco habis." ucapnya asal. Kim Yugyeom lalu melanjutkan pekerjaannya sambil menahan tawa kala bocah menggemaskan favoritnya memasang wajah cemberut. Meski begitu, Taekwon tidak keluar dari dapur. Ia tetap mengamati kegiatan Paman Yumi dengan sorot mata tajam.

Yugyeom tertawa renyah.

Ia tak bisa menahan serangan gemas dari Jeon Taekwon dan berakhir dengan mengambilkan satu slice Black Forest gateau, meletakkannya di piring kecil, lalu memberikannya kepada bocah Jeon yang langsung berbinar.

"Bilang apa?" Yugyeom mencubit main-main pipi Kwonnie.

Jeon Taekwon yang biasanya mudah merajuk ketika dijahili Yugyeom pun kini tidak memberikan komplain karena ia baru saja mendapatkan kue coklat kesukaan.

Sambil tersenyum lebar, Jeon Taekwon berujar riang. "Terima kasih Paman Yumiii!"

Setelahnya, Yugyeom membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri, juga mengambil sepiring makan siang, lalu membawanya keluar dapur. Ia mengambil jatah istirahat makan siangnya yang tertunda sambil menemani Kwonnie duduk di kursi favoritnya.

Sebenarnya karyawan dilarang makan atau minum di kursi dan meja yang disediakan untuk pelanggan, tapi Kim Yugyeom tidak peduli. Lagipula Jungkook jelas tidak akan marah hanya karena masalah seperti ini.

"Kenapa Paman Yumi ikut ikut makan?" Jeon Takwon bertanya setelah beberapa saat Yugyeom duduk di hadapannya yang sedang menikmati kue coklat. Ia mengeryit melihat pria tinggi itu makan dalam diam.

"Paman Yugyeom hanya ingin makan dengan Kwonnie yang menggemaskan, soalnya Kwonnie sekarang sudah sekolah, jadi jarang mengganggu Paman Yugyeom." penyandang marga Kim menjawab dengan santai. Ia sengaja menyebutkan namanya supaya Taekwon membetulkan cara memanggilnya yang selama ini salah. Yeah, meski kelihatannya sia-sia saja usaha Kim Yugyeom.

"Uuwww… Paman Yumi bisa kurus kalau kelaparan." gumam balita pintar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, menyetujui ucapannya sendiri. Ia lalu memasukkan sesendok penuh kue ke dalam mulutnya sebelum mengunyah pelan sambil bicara. "Tapi Kwonnie tidak mengganggu ya, Kwonnie membantu kerja seperti di kantor besar poppa. Kwonnie membantu kerja di rapat sama orang-orang besar-besar, ada yang kakek."

Kim Yugyeom terkekeh. Ia menganggukkan kepalanya, memahami bahwa Kim Taehyung pernah membawa bocah di hadapannya ke kantor. Entah apa yang dilakukan pria itu untuk mengatasi tingkah Jeon Taekwon yang terkadang ajaib, tapi sepertinya Taehyung berhasil membuat bocah Jeon menurut.

"Tapi katanya poppa, nanti Kwonnie mau punya adik bayi."

Kim Yugyeom mengeryit.

Sepertinya ia salah dengar.

"Bilang apa tadi?"

"Hih!" superhero Jeon terdengar kesal. Ia bahkan menghentikan acaranya memakan kue, lalu meletakkan kedua tangannya di masing-masing pelipis, posenya jika ingin memberi tahu sebuah rahasia. "Tadi poppa telfon lalu bilang-bilang katanya Kwonnie akan punya adik bayi. Tapi ini rahasia Paman Yumi jangan bilang-bilang."

Otak Yugyeom bekerja cepat.

Jungkook memang sedang tidak sehat akhir-akhir ini. Yugyeom bahkan beberapa kali memergoki Jungkook berlari ke kamar mandi karena merasa mual, tapi ia tidak menyangka bahwa penyebabnya adalah karena boss sekaligus sahabatnya itu tengah hamil.

"Tapi jangan bilang-bilang, oke? Agen rahasia Kwonnie dibilang poppa tapi tidak boleh bilang-bilang." gumamnya penuh keyakinan, lagi-lagi sambil mengangguk. "Paman Yumi memberi choco kue jadi Kwonnie bilang."

Setelahnya, Jeon Taekwon sibuk dengan cake miliknya, memotongnya dengan ujung sendok, lalu melahapnya dengan ceria. Sementara itu, Yugyeom menghela, sedikit kecewa dengan sahabatnya yang sembrono, bahkan tidak berhati-hati dalam berhubungan intim sampai, kemungkinan besar, hamil.

Bukan apa-apa, hanya saja, ia tahu nasib Jungkook dan Taekwon belum jelas. Tindakan yang akan diambil Taehyung masih abu-abu. Keberadaan Jungkook dan putranya di sini tanpa pria yang disebut-sebut sebagai ayah si balita menjadi bukti bahwa Jungkook belum tentu mendapatkan akhir sesuai dengan apa yang diharapkan.

Dan jika Jungkook benar-benar hamil, lalu semua yang ia harapkan tidak terjadi…

Kim Yugyeom tidak bisa membayangkan akan sehancur apa hati sahabatnya.

.

.

.

.

.

.

.

"Kwonnie tinggal di sini sebentar, bermain bersama teman-teman sementara momma akan periksa ke dokter." Jungkook menyamakan tingginya dengan sang balita, lalu mengusap kepalanya pelan. Bibirnya tersenyum lebar, berusaha membuat Jeon Taekwon menuruti apa yang ia katakan.

Jungkook memang berencana meninggalkan putranya di tempat penitipan anak yang ada di dalam rumah sakit. Ia tak ingin balitanya terkena banyak kuman atau virus jika harus ikut ke poli untuk periksa. Tempat penitipan anak di sini ada di gedung terpisah. Tempatnya juga steril sehingga menjadi pilihan pertama bagi momma Jeon untuk putranya.

Sementara itu, bocah berusia empat mengeryit.

Ditatapnya sebuah ruangan besar yang berisi begitu banyak mainan, bahkan terlihat seperti taman bermain kecil. Banyak anak-anak di dalamnya, juga beberapa orang dewasa yang mengawasi. Terlihat menyenangkan, tapi ia memiliki misi untuk menjaga momma.

"Kenapa di sini? Kwonnie ikut momma ke dokter."

Jungkook tersenyum maklum. Ia berusaha menjelaskan dengan tenang. "Kita sudah sampai di rumah sakit, tapi Kwonnie anak yang sehat sehingga tidak boleh ikut momma periksa, nanti bisa tertular."

Jeon Taekwon memberi tatapan menyelidik.

"Tapi Kwonnie periksa di rumah sakit setelah ke kantor poppa itu poppa ikut."

Terkadang, Jungkook merasa kesulitan menjelaskan kepada bocahnya yang terlampau pintar, apalagi dalam keadaan dimana ia merasa sangat pusing seperti sekarang. Meski begitu, Jungkook tetap memasang senyuman.

"Anak kecil kalau periksa harus ditemani orang dewasa, sayang. Lagipula kalau poppa tidak ikut, siapa yang akan membayar biaya periksa Kwonnie? Kwonnie belum punya uang."

"Eee…" balita Jeon tampak berpikir. Memang dirinya tidak memiliki uang karena setiap kali membeli sesuatu, selalu momma yang membayar. Kalau ada poppa, pasti poppa yang akan membayarnya.

Sepasang matanya melirik ke arah perosotan yang ada di ruangan ber-AC itu, terlihat sungguh menyenangkan. Karenanya, Jeon Taekwon memutuskan untuk setuju ditinggal di tempat penitipan anak. Hal ini tentu membuat Jungkook merasa sangat lega.

"Momma titipkan tas Kwonnie kepada kakak penjaga, kalau haus atau lapar, ada snack dan minuman di sana." Jungkook berucap usai mengisi data sebagai syarat di sana. Ia tersenyum melihat bocahnya tengah sibuk melepaskan sepatu.

"Tapi nanti ingin pipis bisa?" tanya Kwonnie usai meletakkan sepatunya di rak.

Jungkook mengangguk, mengusap kepala bocahnya gemas. "Temui kakak penjaga, lalu katakan kau ingin ke kamar mandi.."

Superhero Jeon mengangguk.

Ia lalu menarik-narik celana momma, memberi isyarat bahwa momma harus menyamakan tnggi dengannya. Setelah momma berjongkok, Kwonnie memberikan sebuah ciuman di pipi, lalu berlari memasuki area bermain, bergabung bersama bocah-bocah lainnya yang terlihat senang menyambut kedatangan teman baru.

.

.

.

.

.

.

.

Jeon Jungkook menghela napas kasar begitu ia keluar dari ruang periksa. Seperti yang disepakati oleh dirinya dan sang kekasih, Jungkook pergi ke poli umum terlebih dahulu. Karena melihat berkas periksa yang menunjukkan bahwa penyandang marga Jeon juga mendaftar untuk memeriksakan kondisinya ke poli kandungan, akhirnya dokter umum juga menyarankan Jungkook untuk memeriksakan diri di sana.

Dan hasil yang di dapatnya sungguh di luar dugaan.

Ia pergi ke bagian farmasi untuk mengambil obat, lalu menghampiri putranya yang berada di bagian penitipan anak. Ia tersenyum kecil saat melihat Jeon Taekwon berdiri di hadapan teman-temannya, entah menceritakan apa, sedangkan anak-anak lainnya terlihat memperhatikan. Kelihatannya, ia mewarisi sifat pemimpin dari sang ayah. Terlihat sekali bahwa ia bersikap dominan di antara teman-temannya yang lain.

"Kwonnie!"

Jeon Taekwon menolehkan kepalanya, menatap momma yang melambaikan tangan di ujung ruangan sambil menunjukkan senyum lebar.

"Uuu… itu momma Kwonnie mau pulang dulu, oke?"

Teman-temannya mengangguk, namun ada beberapa yang menyuruhnya tinggal.

Tentu Jeon Taekwon lebih memilih untuk menghampiri sang momma karena ia sudah berjanji kepada poppa untuk selalu menjaga momma.

"Menyenangkan?" Jungkook bertanya sambil membantu putranya memakai sepatu. Diusapnya kening Kwonnie yang nampak berkeringat.

"Senang!" seru balita Jeon sambil berdiri. Ia menggandeng momma, lalu mengajaknya pulang setelah berpamitan kepada penjaga tempat penitipan.

Keduanya pulang ke rumah dengan menggunakan taxi, sama seperti ketika mereka berangkat.

Dan di dalam mobil, jagoan berusia empat menanyakan sesuatu yang membuat Jungkook hampir tersedak ludahnya sendiri.

"Apa Kwonnie akan punya adik bayi banyak?"

Yang ditanya sempat diam beberapa saat sebelum memasang senyum, lalu mengangkat sang putra untuk kemudian dipangkunya. Sebuah ciuman gemas ia berikan. Setelahnya, Jungkook balik bertanya.

"Siapa yang bilang Kwonnie akan punya adik bayi?"

"Eee…" Jeon Taekwon melirik ke kanan, lalu ke kiri, coba mencari jawaban yang tepat. "Tadi poppa bilang rahasia kalau Kwonnie akan punya adik bayi. Katanya boleh tanya momma kalau sudah pulang periksa."

Jungkook tertawa renyah, mencubit gemas pipi putra semata wayangnya sehingga balita menggemaskan itu berteriak heboh.

"Nanti coba tanyakan poppa, apakah Kwonnie akan punya adik bayi."

Jeon Taekwon mengerucutkan bibirnya, memasang raut wajah marah yang terlihat lucu.

"Poppa bilang Kwonnie punya adik bayi tapi Kwonnie tanya momma malah disuruh tanya poppa."

"Ya, harus tanya poppa."

Jeon Taekwon mengerang kesal, namun Jungkook berhasil mengalihkannya dengan menanyakan kegiatan superhero pintar ketika ditinggal di tempat penitipan, dan Kwonnie secara natural menceritakan apa saja yang tadi ia lakukan bersama teman-temannya.

Jungkook menghela napas lega.

Setidaknya sang putra tak lagi bertanya mengenai sesuatu yang belum ingin ia bicarakan.

Hingga tiba di rumah, bahkan ketika makan malam, balita Jeon hanya membicarakan kegiatannya di sekolah, kartun yang ditonton, juga teman-teman baru yang ditemuinya sore tadi. Pertanyaan mengenai adik bayi tak lagi dilontarkan sampai bocah itu terlelap pukul delapan.

Jungkook berbaring di ranjangnya.

Biasanya ia akan menggunakan waktu untuk meneliti pembukuan kedai, namun saat ini ia merasa sangat malas.

Bahkan pesan dari Taehyung sejak tadi belum ia buka.

Penyandang marga Jeon itu tahu pria Kim menunggu kabar darinya, tapi ia sama sekali tidak ingin bicara dengan pria yang berjanji akan menikahinya itu. Sayang sekali, niatannya mengabaikan Kim Taehyung harus musnah ketika ponsel pintarnya berbunyi nyaring, menunjukkan bahwa pria Kim menghubunginya.

Ingin sekali ia menolak panggilan, atau membiarkan tanpa mengangkatnya, nemun pada akhirnya, Jungkook memutuskan untuk menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya.

Alasannya hanya satu. Ia tak ingin calon suaminya merasa terlalu khawatir dan berakhir dengan nekat menyetir malam-malam ke Busan.

"Kenapa diam saja, hm?"

Suara di seberang terdengar tak sabar. Ada nada kesal terselip, namun Jungkook bisa mendengar setitik kelegaan ketika Taehyung melanjutkan kalimatnya.

"Kau membuatku khawatir…"

Setelahnya, hening selama beberapa saat.

"Maaf…"

Jungkook bergumam lirih.

Ia mendapatkan helaan sebagai jawaban.

"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"

"Kau memberi tahu Kwonnie ia akan memiliki adik bayi."

Kim Taehyung terdiam mendapatkan jawaban itu. Otaknya bekerja cepat. Ia jelas paham bahwa, mungkin saja, Jeon Taekwon belum akan memiliki adik bayi. maka dari itu, Jungkook merasa kesal dan mendiamkannya.

"Maaf…"

Frasa yang diucapkan Taehyung terdengar menggantung.

Dan jungkook tahu ada kekecewaan tersirat di dalamnya.

Ia memilih diam, ragu untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam kepalanya saat ini.

"Aku akan menjelaskannya kepada Kwonnie nanti. Jangan marah."

Jungkook bergumam tanpa makna. Ia memang merasa bahwa tindakan Kim Taehyung yang mengatakan kepada putera mereka perihal memiliki adik bayi memang tidak benar, namun ia juga tidak sampai pada tahap marah kepada prianya.

Hanya saja…

"Ada yang harus kukatakan."

"Hmm?" Taehyung terdengar penasaran.

Sungguh mereka berdua saat ini terkesan sangat kaku.

"Kau…" Jungkook menjeda. Mengambl napas dalam-dalam, ia menghembuskan perlahan sebelum melanjutkan. "Kau sangat ingin Kwonnie memiliki adik, ya?"

Kim Taehyung terdiam selama beberapa saat, dan itu membuat Jungkook semakin resah.

Kepalanya bertambah pusing, dan ia begitu merasa mengantuk akibat obat yang diminumnya.

"Jungkook, ada apa?"

Rasanya berat sekali bagi penyandang marga Jeon untuk mengatakannya, namun pada akhirnya, kalimat itu lolos juga dari bibirnya.

"Maaf, hyung. Sepertinya akan sulit."

Jeon Jungkook mendengar Kim Taehyung menuntut penjelasan dari seberang sambungan, namun ia lebih memilih untuk menutup telfon dan mematikan ponsel pintarnya. Ia kemudian bergelung di dalam selimut, menutup matanya rapat-rapat dan bersembunyi dari rasa takut yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.

Rasa takut akan Kim Taehyung yang kecewa kepada seorang Jeon Jungkook yang tidak bisa memenuhi keinginannya untuk memberikan adik kepada Kwonnie.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC