Characters ;

- Jung Jaehyun of NCT

- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT

- Nakamoto Yuta of NCT

- Kim Yerim of Red Velvet

Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.

WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~

Selamat membaca!


Semenjak hari itu aku memutuskan menjadi pelanggan regular di café tempat Ten bekerja.

Awalnya aku mencoba untuk datang di hari yang sama saat aku pertama kali berkunjung ke café tersebut, di jam yang sama. Tetapi Ten tidak ada.

Lalu aku menunggu—menunggu cukup lama.

Hingga malam hari tiba, dan ia pun akhirnya muncul untuk bekerja part-time di café.

Seperti biasa.

Ia terlihat cantik.

Aku pun mulai 'mempelajarinya'.

Hampir setiap hari ia bekerja part-time di café, mungkin Ten membutuhkan uang.

Tetapi ia selalu bekerja saat malam hari, membuatku tidak perlu khawatir untuk membolos sekolah demi bertemu dengannya.

Aku bisa bertemu dengan Ten sepulang sekolah.

Saat weekend, Ten hanya bekerja pada hari sabtu.

Hari minggu sepertinya dia libur.

Nakamoto Yuta juga membantuku untuk menggali informasi tentang Ten.

Dan dugaanku benar.

Jung Jaehyun, kau memang orang yang cerdas.

"Bukankah kau malah seperti budak cinta?" Tanya Yuta sambil mengemudikan mobil sedan hitam milik Grup Jung.

Aku yang duduk dibelakang, mencibir kepada lelaki tersebut, "Jangan samakan aku dengan orang-orang bodoh yang dibutakan cinta."

Yuta tertawa mendengar perkataanku. Apanya yang lucu?

"Huft—Tuan Muda Jaehyun ternyata masih terlalu naif soal cinta." Ucap Yuta.

Aku menyerngit, "Memangnya kau tahu apa tentang cinta?"

Yuta melirikku dari kaca spion yang berada didalam mobil, "Setidaknya aku tidak menolak faktanya kalau semisalnya aku jatuh cinta dengan seseorang—"

Aku melipatkan tangan didepan dada, "Aku tidak mengerti maksudmu."

"Katakan padaku, Tuan Muda—apakah perasaanmu terhadap Ten hanya sekedar rasa ingin memiliki atau kau jatuh cinta padanya?"

Aku terdiam mendengar pertanyaan Yuta.

Aku pun membuka mulut, "Bukankah sama saja seperti kita sedang berbelanja? Aku ingin memiliki baju itu—maka aku membelinya."

Lagi-lagi Yuta tertawa, "Tuan Muda, anda ini memang naif soal cinta—dan bodoh."

Aku menggertak, "Kau ingin kubunuh?"

Yuta menggelengkan kepala, "Maafkan aku, Tuan Muda! Haha."

Aku menyenderkan punggungku pada kursi mobil, "Ngomong-ngomong, kenapa kau yang mengantarkanku ke sekolah hari ini? Mana supir Lee?"

"Ah~ Pak Lee sedang mengantar Ketua Jung ke bandara karena beliau ada urusan bisnis di Jepang."

.

.

"Cepat ganti baju kalian, sehabis ini kelas Physical Education akan dimulai!"

"Kenapa kelas P.E kita harus sehabis jam makan siang?"

"Entahlah—cepat ganti bajumu."

Suara keluhan memenuhi ruangan kelasku.

Aku pun bertanya-tanya, mengapa kelas Physical Education kelasku selalu sehabis jam makan siang? Apa yang dipikirkan guru-guru itu?

Aku ingin membolos saja—

"Jung Jaehyun, jangan sampai kau membolos lagi atau Guru Kim akan memarahimu!"

Sialan.

.

.

"Sekarang kalian semua berlari mengelilingi lapangan ini sebanyak sepuluh putaran!"

Jung Jaehyun membulatkan mata begitu mendengar ucapan Guru Kim—Guru yang mengajar Physical Education di SMA-nya.

"Sepuluh putaran? Apa dia sudah gila?" Gumam Jaehyun malas.

"Cukup mengeluhnya! Jika kalian cepat menyelesaikan sepuluh putaran, kalian boleh istirahat." Tambah Guru Kim tegas.

Suara keluhan kembali terdengar.

Murid-murid dari kelas Jaehyun pun mulai berlari mengelilingi lapangan yang terletak dibelakang gedung utama.

Jaehyun berada dibarisan belakang.

Para murid perempuan yang berada didepan Jaehyun berusaha mencuri pandangan ke arah lelaki tersebut.

Tetapi Jaehyun tidak peduli.

Saat ini dirinya hanya peduli pada satu hal.

Mencari celah untuk kabur.

Jung Jaehyun terus mencuri pandangan ke arah Guru Kim.

Ketika Guru tersebut melangkahkan kaki menuju ruang penyimpanan untuk mengambil beberapa cone, Jaehyun segera berlari sekuat tenaga ke gedung utama.

Beberapa murid yang melihat aksi Jaehyun dibuat terkejut olehnya.

"Jung Jaehyun melarikan diri."

"Aku tidak pernah tahu kalau ia bisa berlari seperti itu."

"Kenapa ia tidak pernah terlihat semangat saat kita disuruh berlari?"

Hingga bayangannya pun menghilang dibalik pintu gedung utama.

.

.

"Oh, Jung Jaehyun! Kau tidak kelas, hm?" Seorang gadis muncul dari balik tirai yang menutupi sebuah ranjang diruang kesehatan.

Jaehyun mengerjapkan matanya beberapa saat sebelum melihat wajah gadis tersebut dengan jelas.

"Kim Yerim—" Jaehyun melambaikan tangannya sekilas, mengusir Yerim dari ruangan itu.

"Pergilah. Jangan ganggu aku." Ucapnya dengan suara serak.

Yerim menggembungkan pipi.

Ia menarik selimut yang menutupi tubuh Jaehyun.

"Oh? Membolos kelas P.E?"

"Bukan urusanmu."

"Ngomong-ngomong anak dikelasku ada yang bertanya—mengapa sekarang kau sudah jarang bermain dengannya?"

"Bukan urusanmu."

Yerim yang kesal dengan jawaban Jaehyun menghentakan kakinya ke lantai, "Kau ini—! Apakah tidak ada kata lain selain 'bukan urusanmu' dikamus yang kau baca?!"

Jaehyun tidak membalas.

Yerim meraih sebuah bantal lalu melemparkannya ke kepala Jaehyun.

"Dasar idiot!"

Jaehyun berdecak kemudian menyingkirkan bantal yang menutupi kepalanya, "Apa-apaan sih, dia?"

Suara pintu ruangan kesahatan tertutup.

Jaehyun menghela nafas panjang dan membenarkan selimut yang ia kenakan.

Saat ia hendak memejamkan matanya kembali, ia dapat mendengar pintu ruangan kesehatan dibuka oleh seseorang.

"Permisi? Dokter Shin?"

Seorang laki-laki. Pikir Jaehyun.

Suaranya hampir mirip dengan Ten.

Tetapi suara Ten lebih feminim.

Jaehyun bisa mendengarkan langkah kakinya.

Ringan.

Lelaki tersebut berjalan mendekati ranjang yang ia tempati.

"Tirainya terbuka?" Ia bergumam.

Jaehyun melirik ke arah lelaki tersebut,

Begitu pula dengan lelaki itu—ia menatap Jaehyun yang tengah berbaring dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.

"Ada yang sedang sakit?"

Jaehyun menyipitkan mata, Wajah itu—

Wajah lelaki itu mirip sekali dengan Ten.

Dengan cepat Jaehyun menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, membuat lelaki tersebut terkejut.

"Ya tuhan!" Pekiknya.

Jaehyun meraih tangan lelaki tersebut—menariknya hingga ia terjatuh diatas ranjang yang Jaehyun tempati.

Ia segera merangkak menaiki tubuh lelaki itu, memegang kedua pergelangan tangannya.

"Wajahmu—"

Jaehyun memperhatikan wajah lelaki itu dengan teliti.

Ia benar-benar mirip dengan Ten.

Hanya saja, rambutnya pendek.

Ia juga merupakan seorang laki-laki.

Sepertinya dia senior. Jaehyun tidak pernah melihatnya.

Atau junior?

Wajah sang lelaki memerah, "J, Jung Jaehyun—"

Jaehyun mengangkat sebelah alis, "Kau tahu aku?"

Lelaki itu membuang muka, "Tidak—a, aku—"

Ia melepas salah satu cengkraman, lalu mengusap pipi lelaki tersebut perlahan.

Jaehyun mendekatkan bibirnya ke telinga sang lelaki,

"Kau ini mirip sekali dengannya." Bisik Jung Jaehyun.

"Eh?"

.

.

"Kau ini mirip sekali dengannya." Bisik Jung Jaehyun.

"Eh?"

Wajahku semakin memerah ketika ia mendekatkan bibirnya ke telingaku.

Ada apa?

Apakah Jung Jaehyun mengenaliku?

Apakah ia akhirnya menyadari identitasku yang sebenarnya?

Jaehyun kembali menyentuh pipiku,

Dan perlahan turun ke leherku,

Lalu turun kebagian dadaku.

"Tetapi ada yang kurang disini." Ia melanjutkan.

Masih berbisik di telingaku.

Aku dapat merasakan seluruh badanku memanas.

Jantungku seketika berdebar cepat.

Aku tidak boleh bereaksi seperti ini!

Jaehyun mengalihkan pandangannya ke arah celanaku.

Ia tertawa.

Tertawa ketika melihat sesuatu menojol dari balik celanaku.

"Kau—kau bereaksi hanya karena kusentuh seperti ini?"

Jaehyun bangkit, berdiri diatas ranjang.

Ranjang tersebut sedikit bergoyang karena gerakan Jaehyun.

Kakinya terangkat dan menekan kemaluanku yang tertutupi oleh celana.

"Ugh—!"

Dengan cepat aku menutup mulutku.

"Ada apa? Kenapa kau menutup mulutmu?"

Jaehyun kembali merangkak diatas tubuhku, menarik dasi yang kukenakan.

"Menjijikan."

Ia melepaskan tangannya dari dasiku.

"Benar-benar menjijikan." Ucap Jaehyun.

Ia menatap lurus ke kedua mataku.

Tatapannya begitu tajam dan dingin.

Dan ekspresi wajah Jaehyun—

Aku ingat ekspresi itu.

Ekspresi yang sama. Ekspresi yang pertama kali aku lihat darinya.

Aku menelan ludah kesusahan.

Keringat dingin mengalir dari pelipisku.

"Dasar menjijikan." Ia berlalu pergi meninggalkanku sendirian.

Terbaring diatas ranjang.

Air mata perlahan mengalir dari kedua mataku.

Rasanya—rasanya harga diriku begitu hancur ketika mendengar kata-kata itu dari bibir Jaehyun.

Aku menutup mataku menggunakan selimut yang Jaehyun gunakan sebelumnya.

Aku dapat mencium aroma tubuh Jaehyun yang tertinggal.

Aku meremas selimut itu kuat—

Aku bertanya-tanya,

Kenapa selama ini aku selalu haus akan sentuhan lelaki berhati dingin itu?

Dan walaupun begitu, aku masih menginginkan hal yang sama.

Namun disisi lain, aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan jatuh cinta padamu.

.

Tbc

.

[ Halo! ーーヽ(*'▽)ノ Terimakasih untuk para pembaca yang sudah membaca dan review cerita ini! Aku ingin memberikan peringatan untuk pembaca karena semakin alur ini berjalan, alurnya mungkin akan membuat kalian semua tidak nyaman karena background yang aku buat (´-`)Tetapi aku selalu berusaha untuk memberikan peringatan diawal cerita apabila chapter-chapter tertentu akan mengandung kekerasan atau sebagainya. Hanya itu saja yang bisa kusampaikan untuk sekarang, terimakasih banyak! (⁼̴̀ .̫ ⁼̴́ )✧ ]