Note: Saat Ten melakukan crossdressing untuk bekerja part-time di café milik Taeyong, biasanya ia merubah suaranya sedikit lebih feminim! Hal ini Ten lakukan agar crossdressingnya lebih totalitas! (▰˘◡˘▰)


Characters ;

- Jung Jaehyun of NCT

- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT

- Lee Taeyong of NCT

- Seo Youngho/Johnny of NCT

Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.

WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~

Selamat membaca!


Seperti biasa Jung Jaehyun mengunjungi café milik Lee Taeyong setelah ia pulang dari sekolah.

Ia merapikan dasinya sebentar sebelum membuka pintu café tersebut.

"Permisi." Ucap Jaehyun sopan.

Taeyong—yang berdiri dibalik counter, tersenyum ke arah Jaehyun, "Selamat datang, Jaehyun!"

Jaehyun tersenyum kecil.

Ia berjalan menghampiri counter.

"Pesanan seperti biasa?" Tanya Taeyong.

Jaehyun mengangguk.

"Dan—kau tau berapa totalnya."

Jaehyun kembali menangguk dan mengambil dompet yang berada disaku celananya, "3000 won, kan?"

"Yep! Kau bisa duduk terlebih dahulu."

Seperti biasa, Jaehyun memilih untuk duduk didekat jendela.

Sudah beberapa minggu Jung Jaehyun menjadi pelanggan regular di café Taeyong.

Karena hampir setiap hari mengunjungi tempat ini—minus hari minggu—Taeyong pun mencoba untuk berteman dengan Jaehyun.

Sesekali ia memberikan Jaehyun chocolate cheesecake atau strawberry pancake.

"Jaehyun—ini pesananmu." Taeyong meletakan sebuah Meat Pie dan Americano diatas meja Jaehyun.

Jaehyun sedikit terkejut dengan kehadiran Taeyong.

Ia pun mengalihkan pandangannya ke penjuru café .

"Ada apa?" Tanya Taeyong bingung.

Jaehyun menggeleng, "Tidak—terimakasih, hyung."

Jaehyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal,

"Ten—apakah ia tidak bekerja hari ini?" Gumamnya.

"Permisi!"

Suara pintu café terbuka.

Jaehyun menoleh ke arah pintu,

"Maaf, aku terlambat!"

Ten baru saja tiba.

Dengan coat kebesaran yang menutupi hingga lututnya, ia berjalan dengan cepat menuju ruang staff.

Taeyong melipatkan tangan didepan dada, "Sudah kubilang untuk selalu lewat pintu belakang! Kenapa kau malah lewat pintu depan?"

Ten membungkukan badan, "Maafkan aku!"

Taeyong mendengus, "Yasudah, cepat sana ganti bajumu."

Jantung Jaehyun seketika berdebar cepat ketika melihat kehadiran Ten.

"Ternyata ia terlambat."

.

.

Mata Jaehyun tidak lepas dari sosok Ten yang sedang sibuk mengantarkan pesanan untuk pelanggan lain di café.

Ia memperhatikan gerak-geriknya dengan saksama.

Bagaimana ia terlihat lebih pelan dari biasanya—gerakannya sedikit ceroboh.

Mata Jaehyun beralih ke wajah Ten yang murung.

Jaehyun bingung, kenapa ia Ten terlihat sedih hari ini?

Namun seperti biasa,

Bentuk wajahnya selalu sempurna bagi Jaehyun.

Bibir Ten berwarna merah jambu.

Jaehyun terkadang membayangkan, bagaimana rasanya ketika ia mengigit bibir merah jambu milik Ten.

Dan kedua matanya—

Ia terkejut ketika mendapati kedua mata Ten terlihat merah.

"Ia baru saja—menangis?"

Spontan Jaehyun menarik pergelangan tangan Ten ketika 'gadis' itu berjalan melewati dirinya.

"Eh?" Ia terkejut ketika Jaehyun menarik pergelangannya.

Jaehyun menelan ludah,

"Noona, kau tidak apa-apa?"

Ten terlihat bingung.

Ia menunjuk dirinya, "Noona?"

Jaehyun mengangguk.

Seketika ekspresi Ten berubah menjadi panik.

"A, Ah! Iya!" Suara Ten terdengar melengking.

"N, noona tidak apa-apa, kok!" Ia memasang senyum yang canggung.

Jaehyun masih terlihat khawatir, "Benarkah?"

Ten menganggukan kepala berkali-kali, "Um—Noona baik-baik saja!"

Jaehyun melepaskan tangannya, "Baiklah kalau begitu."

Ten tertawa pelan, "K—kalau begitu aku permisi dulu!"

Buru-buru Ten berjalan menuju ruang staff.

Begitu ia sudah masuk, ia pun kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya merosot membelakangi pintu ruang staff.

"Uwah—apakah ia belum menyadari identitasku?"

Ten mendekap kedua pipinya yang terasa panas.

"Apa-apaan sih hari ini?"

Ten menekuk kedua kaki lalu memeluknya.

.

.

Untuk masuk ke apartement yang Ten sewa diatas café, Ten harus berjalan keluar dari café, lalu menaiki sebuah tangga disamping café, baru ia dapat masuk ke apartementnya.

Ten melirik ke arah jam yang terletak disamping menu counter.

"Sudah jam 11. Saatnya tutup." Gumam Ten.

Ia pun membereskan semuanya, mengganti pakaian dan mengunci pintu café dari luar.

"Akhirnya shift Noona sudah selesai." Ucap seseorang yang sedari tadi menunggu Ten.

Ten membalikan badan dan mendapati Jung Jaehyun yang sedang melipat kedua tangannya didepan dada.

"J, Jaehyun?" Ucap Ten gagap.

Jaehyun tersenyum kecil, "Noona rupanya tahu namaku."

Ia berjalan menghampiri Ten.

Ten pun dibuat panik, "Ah, itu karena kau sering mengunjungi café kami, makanya aku tahu!"

Jaehyun terkekeh, "Noona tidak perlu membela diri. Aku tahu."

Ten menundukan kepala.

Jaehyun meraih salah satu tangan Ten dan menggenggamnya lembut,

"Noona, apakah noona ada waktu luang?"

"Hm?" Ten mengangkat kepala.

"Sekarang." Lanjut Jaehyun.

"Em—"

"Bagaimana?" Kini Jaehyun meraih kedua tangan Ten.

Buru-buru Ten melepaskan genggaman tangan Jaehyun.

"Aku lelah. Aku ingin beristirahat." Ucap Ten seraya membuang muka.

Jaehyun memasang ekspresi sedih, "Too bad."

"Kalau begitu,"

Jaehyun membuka tas yang ia bawa lalu mengeluarkan sebuah cooling patch.

"Gunakan ini untuk mata noona. Noona habis menangis, kan?"

Ten terlihat ragu untuk sesaat.

Jaehyun menghela nafas singkat.

Ia menaruh cooling patch tersebut disaku coat milik Ten.

"Aku pulang dulu. Supirku sudah menunggu."

Jaehyun melambai sesaat sebelum ia berjalan menuju sedan hitam yang terparkir didepan café.

Ten menatap kepergian sedan hitam tersebut dengan tatapan kosong.

Sikap Jaehyun membuatnya benar-benar bingung.

Seakan-akan ia mempermainkan hatinya yang rapuh.

Ia terlihat dingin—beberapa waktu kemudian ia begitu hangat.

Sikapnya begitu manis, walaupun sebelumnya sikap Jaehyun begitu menyakitkan.

Ten memasukan tangannya ke saku coat. Meremas cooling patch yang diberikan oleh Jaehyun.

"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Jung Jaehyun."

.

.

Satu minggu berlalu dengan cepat.

Jika biasanya Ten selalu berusaha untuk mencari cara agar dapat melihat Jaehyun saat disekolah—kali ini ia tidak melakukannya.

Ia banyak menghabiskan waktu di kelas. Atau menghabiskan waktu di perpustakaan.

Dimana saja asal tempat itu tidak pernah disentuh Jung Jaehyun.

Memikirkan kejadian diruang kesehatan masih membuat hati Ten terasa sakit.

Kata-kata yang meluncur dari bibir Jaehyun meninggalkan luka yang membekas.

Harga dirinya dibuat hancur.

Ten membolak-balik buku yang ia baca,

Tatapannya terlihat kosong.

Bagaimana bisa seseorang dengan mudahnya menyakiti orang lain?

Oh, aku nyaris lupa.

Dia adalah Jung Jaehyun.

Dia bisa melakukan apapun yang ia mau.

"Seperti biasa, kau terlihat seperti lukisan."

Seseorang menyentuh bahu Ten perlahan, ia menarik dagu lelaki tersebut.

Ten menatap orang itu, mulutnya terbuka, "Guru Seo—jangan sentuh aku."

Seo Youngho—salah satu Guru yang mengajar Bahasa Inggris, terkekeh.

"Panggil aku Youngho, atau nama internasionalku juga boleh—Johnny."

Ten melepaskan tangan Youngho dari dagunya, "Dalam mimpimu."

Youngho tersenyum kecil.

Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Ten.

Bibir keduanya bertemu.

"Kau sekarang lebih berani, ya."

"Apa maksud Guru?"

Youngho menghela nafas, "Aku jadi ingat—saat pertama kali kita bersetubuh. Saat itu kau terlihat sangat lugu dan manis!"

"—Itu hanya one night stand. Jangan dibawa serius." Ten mendorong tubuh Youngho menjauh.

Youngho tidak memperdulikan ucapan Ten, "Saat itu kau masih ditahun pertamamu ya?"

Ten berdecak, ia menutup buku yang ia baca lalu beranjak, "Aku pergi dulu."

Youngho kembali terkekeh melihat tingkah Ten, "Kau sedang jatuh cinta dengan seseorang ya?"

Ten menghentikan gerakannya, ia mengepalkan tangan.

"Hal seperti itu—tidak akan pernah terjadi denganku."

Youngho mendekat, lalu merangkul pinggang muridnya tersebut, "Kau tahu—kalau kau ingin berada dihubungan yang serius, aku selalu siap untukmu."

Ia berbisik di telinga Ten.

Entah mengapa, lelaki Thailand itu tidak merasakan sensasi apapun.

Berbeda ketika Jung Jaehyun melakukan hal tersebut kepada dirinya.

"Aku tidak tertarik. Terimakasih."

.

Tbc

.

[ Halo! ーーヽ(*'▽)ノ Terimakasih untuk para pembaca yang sudah membaca dan review cerita ini! Aku tidak menyangka akan ada yang tertarik membaca fanfiction ini, aku sangat senang! ヽ(; ▽;)ノSebelumnya aku ingin meminta maaf kalau fanfiction ini mempunyai banyak kekurangan karena aku hanya manusia biasa yang ingin melindungi Jaeten dengan sepenuh hati(?) ヘ( ̄- ̄ヘ) Aku ingin memberitahu untuk kalian semua kalau cerita ini akan di update satu minggu sekali! Untuk harinya tidak tentu, bisa saja lebih cepat, bisa saja lebih lama! Tetapi aku selalu mengusahakan untuk meng-update lebih cepat! (。・ε・。) Terimakasih banyak! (⁼̴̀ .̫ ⁼̴́ )✧ ]