Characters ;

- Jung Jaehyun of NCT

- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT

- Lee Taeyong of NCT

Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.

Tolong dibaca peringatannya! (ノAヽ)

WARNING! Chapter ini mengandung kekerasan. Apabila para pembaca merasa tidak nyaman, pembaca bisa melewati chapter ini.


Keduanya tiba disebuah hotel yang cukup mewah.

Ten menyerngit, "Jaehyun—kenapa kita malah ke hotel?"

Entah mengapa perasaan Ten tidak begitu enak, "Jaehyun, kau—"

"Aku akan bertemu seseorang disini." Potong Jaehyun.

Ia meraih tangan Ten, "Temani aku ya?"

Jaehyun menggenggam tangan Ten kuat.

Ten meringis karena genggaman Jaehyun, "B, baiklah."

.

.

Jung Jaehyun membawa Ten kesebuah kamar di hotel tersebut.

Walaupun ia ingin pulang sejak tadi, Ten tetap mengikuti Jaehyun dengan hati yang gusar.

"Seharusnya aku tidak usah ikut saja."

Ten terus menyesali keputusannya.

"Lagipula kenapa aku harus lemah dengan wajahnya yang begitu tampan?"

Ten menepuk kedua pipinya cukup keras, membuat Jaehyun menoleh ke arahnya.

"Noona? Kenapa?"

Ten menggelengkan kepala.

"Oh—kita sudah sampai." Ucap Jaehyun.

Jaehyun mengambil sebuah kartu dari saku kemeja kemudian membuka pintu kamar hotel yang mereka tuju.

"Silahkan masuk duluan."

Jaehyun mempersilahkan Ten untuk masuk terlebih dahulu kedalam kamar tersebut.

Ten pun menurut, ia melangkah masuk.

Jaehyun mengikuti, lalu diam-diam meraih sebuah gantungan bertuliskan 'Do Not Disturb' dan menggantungnya didepan pintu kamar sebelum menutupnya dari dalam.

Ten mengedarkan pandangan, "Jaehyun, kau bilang kau akan menemui—"

Jaehyun memeluk tubuh Ten dari belakang, membuat Ten tidak melanjutkan ucapannya.

Jaehyun menarik nafas dalam, lalu menyampingkan wig Ten yang menutupi tengkuknya.

Bibir Jaehyun mendekat ke tengkuk Ten—ia mengecup sekilas sebelum menggigitnya cukup kuat.

"Ahh!" Ten mengerang kesakitan.

Jaehyun menjauhkan wajahnya kemudian meraba bite mark yang ia tinggalkan di tengkuk Ten.

Ia tersenyum puas.

"Noona, aku ingin melakukannya."

Jaehyun berbisik dari belakang.

"Huh?"

Dengan cepat Jaehyun mendorong tubuh Ten ke atas ranjang.

Jaehyun menahan kedua tangan Ten dengan tangan kanannya agar ia tidak melawan.

"Jaehyun—lepaskan aku!"

Jaehyun menatap wajah Ten yang ketakutan dengan seringai.

"Noona kira setelah apa yang kulakukan di teater tadi aku masih bisa menahan diri?"

Jaehyun mengecup pipi Ten sekilas.

Ia dapat merasakan tubuh Ten bergetar karena ketakutan.

Jaehyun terkekeh melihat reaksi Ten,

"Noona, kau tahu? Kau adalah perempuan pertama yang mendorongku ketika aku berusaha untuk melakukan hal berbau seksual denganmu."

Tangan kiri Jaehyun meraba dada Ten perlahan.

"Noona tahu apa yang akan terjadi setelah ini, kan?"

Jaehyun mendekatkan wajahnya ke leher putih Ten, menghisapnya kuat—meninggalkan bekas kemerahan.

"Hmmh—!"

Ten menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan desahannya.

Jaehyun menyentuh bibir Ten lalu memasukan jarinya kedalam mulut Ten.

"Jangan gigit bibirmu, Noona." Ucap Jaehyun, "Noona—coba kau hisap saja jariku." Lanjutnya.

Ragu-ragu, Ten mencoba menghisap jari Jaehyun pelan.

Jaehyun tersenyum, "Noona, bagaimana kalau kau coba untuk jilat sekarang?"

Ten menatap Jaehyun sejenak, entah mengapa ia tetap menuruti perkataan Jaehyun.

Ia pun menjilatnya, merasakan setiap bentuk jari Jaehyun didalam mulutnya—kemudian menghisap.

Jaehyun menarik jarinya, "Kerja yang bagus." Ia menjilati jarinya.

Jaehyun dapat merasakan sesuatu yang menonjol dari bagian bawah tubuh Ten.

Ia menyerngit, "Hm?"

Ten seketika teringat oleh sesuatu, "Ah, itu—"

"Apa ini?"

Jaehyun menurunkan tangan kirinya, meraba selangkangan Ten.

Ia dapat merasakan sesuatu yang keras menonjol dari balik dress yang Ten kenakan.

Ekspresi wajah Jaehyun seketika berubah muram.

Ia menyibakkan dress yang Ten gunakan.

"Kau—"

Jaehyun menyentuh kemaluan Ten lalu meremasnya kuat, membuat Ten berteriak kesakitan.

"J, Jaehyun—!"

Tangan Jaehyun terangkat—ia memberikan pukulan mentah ke wajah Ten.

"Berani-beraninya kau menipuku."

.

.

Pukulan Jaehyun yang cukup kuat membuat darah mengalir dari bibir Ten.

Ten melirik ke Jaehyun.

Ia dapat melihat tatapan mematikan dari kedua mata lelaki tersebut.

Hawa ketakutan menyelimuti Ten.

Jaehyun menarik wig yang Ten kenakan lalu melemparnya sembarangan.

Ia tersenyum kecut begitu melihat penampilan asli dari Ten.

"Rupanya kau orang itu—"

Jaehyun menarik dress yang Ten kenakan, "Orang menjijikan yang kutemui di ruang kesehatan."

"Apakah kau senang melihat reaksiku yang seperti orang bodoh?"

Tangan Jaehyun kembali terangkat, ia memukul wajah Ten lagi hingga lelaki tersebut terjatuh dari atas ranjang.

"Kau—benar-benar tidak normal."

Jaehyun menginjak kemaluan Ten hingga air mata mengalir dari kedua mata Ten.

"Sekarang kau menangis?"

Ten menggigit bibirnya—berusaha menahan tangisannya.

"Kenapa kau tidak berkata sesuatu? Kau bisu?"

Dengan suara bergetar, Ten mengucapkan sesuatu, "M, maafkan aku—"

Jaehyun menjambak rambut Ten kencang, "Kau kira kata maaf akan cukup?"

Ten mengerang kesakitan. Tubuhnya benar-benar bergetar hebat.

Ia sangat ketakutan.

Jaehyun terdiam sejenak lalu melepaskan tangannya dari rambut Ten.

Ia memijit dagu, "Kalau begini ceritanya—"

Jaehyun menyeringai, "Kenapa aku tidak bersenang-senang sekalian?"

.

.

"Ugh—ugh, nghh—"

"Jika laki-laki yang melakukan memang menjijikan."

"J, Jaehyun—maafkan aku—hmh!"

"Bukankah kau malah senang kalau diperlakukan seperti ini?"

"Fokus. Jangan sampai kau gigit. Kalau kau gigit, akan kupatahkan lehermu."

Jung Jaehyun mendorong kepala Ten hingga kejantanan Jaehyun menyentuh pangkal tenggorokan Ten, membuat lelaki itu terbatuk.

Jaehyun berdecak, "Kau bisa melakukannya dengan benar tidak?"

Ten menelan ludah, ia kembali meraih kejantanan Jaehyun—melahapnya, mengulum, lalu menghisap.

"Bagus." Tanpa sadar, Jaehyun mengelus rambut hitam Ten.

Ia menyentuh tiap helai rambut Ten yang lembut.

Bibirnya sedikit terangkat, "Rambutmu—halus juga."

"H, huh?"

Sontak, Ten mengangkat kepalanya ketika mendengar ucapan Jaehyun.

Kedua mata mereka bertemu.

Jaehyun dapat melihat dengan jelas bagaimana kekacauan yang ia buat terhadap Ten.

Cairan precum dari kejantanan Jaehyun tersisa dibibir merah jambu Ten.

Wajahnya memerah, dan terdapat bekas lebam dipipi putihnya.

Rambut hitamnya sedikit berantakan.

Strap dress yang ia kenakan tidak lagi bergantung dibahunya—membuat salah satu nipple Ten terlihat oleh Jaehyun.

Jaehyun menganga.

Seksi.

Satu kata yang melintas dikepala Jung Jaehyun.

Jaehyun menggelengkan kepala. Apa yang barusan ia pikirkan?

Menyadari bahwa Ten memandanginya dengan tatapan bingung—dan ketakutan, ia membentak, "K, kenapa kau malah berhenti?!"

Jaehyun menarik kepala Ten—memaksakan dirinya untuk menerima kejantanannya kembali.

"Aku belum keluar—" Ia berkata dengan panik.

"Ngh—!"

Ten kembali melahap kejantanan Jaehyun.

Kali ini ia dapat merasakan kejantanan Jaehyun semakin keras, semakin membesar.

Ten menaikan lalu menurunkan kepalanya, salah satu tangan Jaehyun meremas rambutnya, sedangkan kedua tangan Ten berada diatas paha Jaehyun.

Saat Jaehyun merasakan dirinya nyaris klimaks, ia mendorongkan pinggulnya hingga sperma yang keluar dari kejantanannya tertelan oleh Ten.

"Ahh!"

Jaehyun mendesah.

Ten terbatuk—ia dapat merasakan rasa pahit dari sperma Jaehyun dan perasaan tidak nyaman ketika sperma tersebut mengalir melalui kerongkongannya.

.

.

Ketika air dari pancuran jatuh membasahi tubuhnya, Jung Jaehyun terus menatap ke arah lantai dibawahnya.

Keadaan Ten yang kacau—benar-benar membuatnya kacau.

Ia ingin membantah, ingin menolak faktanya bahwa penampilan Ten barusan sangat seksi.

Ia tidak bisa menghilangkan bayangan Ten dari kepalanya.

Jaehyun memukul dinding didepannya kuat.

.

.

Jaehyun menatap Ten yang tengah berbaring diatas sofa hotel.

Lelaki tersebut memejamkan kedua mata.

Tubuhnya dibaluti oleh selimut.

Dress yang Ten gunakan hari ini ia gantung didekatnya.

Jaehyun menghela nafas singkat.

Setelah mendinginkan kepalanya ketika ia mandi, ia merasa sedikit bersalah karena telah memukul wajah Ten.

Ia pun berjalan menghampiri Ten,

"Kau tertidur?"

Kedua matanya menatap luka lebam yang terlihat semakin jelas di pipi Ten.

"Kau sudah tidur?" Ia mengulang.

Tetapi tidak ada jawaban dari Ten.

Ia membungkuk—lalu mengusap luka lebam di wajah Ten dengan hati-hati.

Jaehyun kembali menghela nafas.

Ia melepas jubah mandi yang ia kenakan dan berganti menggunakan kemeja hitam serta celana jeans yang ia gunakan sebelumnya.

Jaehyun mengambil dompet yang ia letakan di atas meja kemudian bergegas keluar dari kamar hotel tersebut.

.

.

Saat Jung Jaehyun kembali ke kamar hotel dengan sebuah plastik di tangan kanannya, ia merasa begitu lega ketika ia mendapati Ten yang masih berbaring diatas sofa.

Entah mengapa—ia takut.

Takut jika tiba-tiba Ten menghilang ketika dirinya pergi membeli obat salep untuk luka memar.

Buru-buru Jaehyun menghampiri Ten—membuka obat salep yang ia beli, lalu melapiskan salep tersebut ke luka lebam di pipi Ten.

Merasakan sensasi dingin menyentuh kulit wajahnya, Ten membuka mata perlahan.

Pandangannya buram. Ia tidak bisa melihat wajah Jaehyun dengan jelas.

Tetapi matanya menangkap tangan Jaehyun yang sedang menyentuh pipinya.

Ten meraih tangan Jaehyun, membuat pemilik tangan tersebut terkejut dengan tindakan Ten.

"Kau sudah bangun?" Tanya Jaehyun.

Ten tidak menjawab. Tangannya terjatuh. Ia kembali tertidur.

Jaehyun menatap tangan yang disentuh oleh Ten untuk sesaat.

Ketika ia sudah selesai mengobati luka lebam Ten, ia menutup obat salep tersebut dan meletakannya di meja yang berada disamping sofa.

.

.

Ketika pagi telah tiba—Jung Jaehyun tidak dapat menemukan keberadaan Ten sama sekali.

Pagi itu—Ten pergi meninggalkannya.

Tidak ada dress dengan corak bunga merah jambu,

Tidak ada wig yang Ten kenakan ketika mereka 'berkencan' pada hari minggu,

Tidak ada sosok Ten yang sedang tertidur diatas sofa.

Jaehyun hanya menemukan satu benda yang Ten tinggalkan untuknya di rak kecil samping ranjang.

Obat salep yang ia belikan untuk Ten semalam.

Secarik kertas terselip dibawah obat tersebut;

Jaehyun lebih membutuhkannya daripada aku.

Tulisan yang terlihat ceroboh, membuat Jaehyun tersenyum getir.

Ia menutup wajahnya karena merasa malu dengan dirinya sendiri.

Ten pasti menyadari luka lebam yang ada di tangannya.

.

Tbc

.

[ Halo semuanya Σ(っ°Д °;)っ Aku tahu, aku tahu! Maafkan aku kalau aku sudah membuat para pembaca tidak nyaman dengan chapter ini! Karena Jaehyun dalam cerita ini adalah penerus Grup Mafia, aku membuat karakternya menjadi orang yang keras dan barbar karena ia terbiasa melakukan kekerasan ketika sedang bekerja!(/TДT)/ Tapi jangan khawatir karena Jaehyun juga mempunyai sisi lembut selembut kain sutera yang tidak terduga dalam cerita ini! (๑•̀ㅂ•́)و✧ Sekali lagi aku meminta maaf kepada semuanya! ]