Characters ;
- Jung Jaehyun of NCT
- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT
- Lee Taeyong of NCT
- Seo Youngho/Johnny of NCT
Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.
WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~
Selamat membaca!
Sudah tiga hari berlalu semenjak Jung Jaehyun mengetahui identitas Ten yang sebenarnya.
Mungkin kata yang lebih tepat adalah—jenis kelamin yang sebenarnya.
Jaehyun berusaha keras untuk melupakan Ten.
Ia tidak lagi datang ke café milik Lee Taeyong.
Ia kembali bermain-main dengan perempuan-perempuan dari sekolah maupun luar sekolah.
Bukan—kata 'kembali bermain-main' tidak tepat untuk mendeskripsikan situasi Jaehyun.
Karena ia tidak memiliki mood untuk bermain-main.
Ia tidak bisa bermain-main lagi.
Bayangan Ten pada hari itu terus memenuhi isi kepalanya.
Jaehyun tidak mengerti perasaan yang ia alami.
Ia mengutuk perasaannya sendiri.
.
.
"Eh? Jung Jaehyun mengusirmu?"
"Um—iya. Awalnya ia sudah menelanjangiku—tetapi setelah itu—"
"Ia menatapmu dengan tatapan dingin? Bukankah itu sudah biasa?"
"Tidak, ia lebih seperti—kecewa?"
"Ah? Apakah tubuhmu kurang seksi?"
"Kau sedang mengejek diriku, ya?"
"Tapi kudengar ada seorang Sunbae yang cantik dan seksi ditolak olehnya."
"Huh? Sunbae dari sekolah kita?"
"Iya, iya! Kudengar ia sering 'bermain' dengan Jung Jaehyun."
"Padahal Jung Jaehyun tidak pernah menolak 'undangan' dari seseorang."
"Apakah ia sudah mempunyai pacar?"
"Seorang Jung Jaehyun? Mempunyai pacar?"
"Orang macam apa yang bisa membuat seorang Jung Jaehyun tertarik?"
.
.
Jaehyun mengaduk makanan didepannya dengan malas.
Mendengar ucapan perempuan-perempuan tersebut yang membelakanginya,
Ia juga bingung—kenapa seseorang seperti Ten, bisa menarik perhatiannya?
Jaehyun tidak mengerti.
Jaehyun tidak mengerti apa yang ia rasakan.
Seumur hidup ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini—perasaan yang menyiksa dan menyakitkan.
Seakan-akan jantungmu ditusuk oleh ribuan pedang.
Dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mencabut ribuan pedang tersebut dari jantungnya.
Jaehyun memukul meja yang ia tempati cukup keras.
Membuat murid-murid disekitar menoleh ke arahnya, lalu berbisik satu sama lain.
.
.
Jaehyun menatap café milik Taeyong dengan tatapan ragu.
Hari sudah gelap.
Artinya saat ini adalah saat dimana Ten sedang bekerja.
Dengan pakaian perempuan yang ia kenakan.
Dengan wig yang ia kenakan.
Kecantikannya dapat mengalahkan kecantikan perempuan yang sesungguhnya.
Jaehyun menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan.
Ia sudah menata keberanian.
Ia pun memutuskan untuk membuka pintu café tersebut.
"Selamat datang!"
Jaehyun dapat mendengar suara Taeyong dari balik counter.
"Sudah lama kau tidak berkunjung." Ucap Taeyong sambil berkacak pinggang.
Jaehyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku sibuk akhir-akhir ini." Ucap Jaehyun asal.
"Begitukah?" Taeyong memasang sebuah senyuman yang menurut Jaehyun—aneh?
"Pesanan seperti biasanya?" Tanya Taeyong.
Jaehyun mengangguk.
"Dan kau tahu berapa totalnya~"
Jaehyun mengangguk lagi.
Seperti biasa ia mengeluarkan uang sebanyak 3000 won dari dompetnya lalu memberikan uang tersebut kepada Taeyong.
"Harap ditunggu sebentar!"
Dan seperti biasa ia memilih untuk duduk di meja yang terletak disamping jendela café.
Jaehyun mengedarkan pandangan—ia tidak menangkap sosok Ten yang sedang bekerja.
Seketika dirinya mulai gelisah.
Apakah Ten terlambat?
Apakah Ten baik-baik saja?
Bahkan yang mengantarkan Meat Pie dan Americano pesanannya adalah pegawai lainnya.
Jaehyun memainkan jemari-jemarinya.
Ia benar-benar gelisah.
.
.
"Jaehyun—café sebentar lagi akan tutup." Taeyong menepuk bahu Jaehyun, membuat lelaki tersebut tersentak dari lamunannya.
"A, ah? Benarkah?" Jaehyun terlihat bingung.
Taeyong menghela nafas, "Kau ini—ada apa? Dari tadi kuperhatikan sepertinya ragamu sedang berada disini tetapi jiwamu hilang entah kemana."
Jaehyun tersenyum kecil. Ia menggeleng, "Aku tidak apa-apa, hyung."
"Kalau kau memang tidak apa-apa kenapa kau memasang ekspresi wajah yang sedih? Kau bisa membuat pelangganku salah paham."
"Huh? Aku memasang ekspresi sedih?" Jaehyun menyentuh wajahnya.
Taeyong mengangguk, "Tentu saja. Bagaimana kalau kau bercermin sekarang?"
Jaehyun terdiam untuk sejenak.
Ia menggigit bibir bawahnya, "Hyung—sebenarnya—"
"—Ten. Dimana Ten noona?"
Taeyong sedikit terkejut mendengar pertanyaan Jaehyun.
Ia terlihat ragu-ragu.
"Uh, bagaimana, ya?"
Melihat Taeyong ragu-ragu, perasaan takut menyelimuti diri Jaehyun.
Taeyong memaksakan sebuah senyuman, "Sebenarnya—Ten sudah berhenti bekerja di café ini."
Ah, perasaan ini.
Ia menambahkan, "Sayang sekali. Padahal ia adalah pekerja keras. Ia juga disukai para pelanggan."
Perasaan tidak enak ini.
"Aku sangat menyesali keputusannya—tetapi, mau bagaimana lagi? Itu adalah keputusan yang Ten buat."
Apakah karena aku—kau memutuskan untuk berhenti?
"Oh, aku baru ingat. Ten itu—pegawai favorite-mu ya?"
Aku tahu—aku masih bisa mencarimu. Tetapi entah mengapa,
"Aku harap kau jangan terlalu sedih. Kita harus menghargai keputusan Ten."
Entah mengapa aku merasa begitu sedih.
.
.
Jung Jaehyun tahu—kalau ia dan Ten pergi ke sekolah yang sama.
Meski begitu, waktu yang ia habiskan bersama Ten di café, adalah waktu yang selalu dinantikan oleh Jaehyun.
Semenjak ia bertemu Ten di café, waktu pulang sekolah adalah waktu favoritenya.
Karena ia bisa bertemu Ten di café.
Walaupun hanya memandanginya.
Sedikit perbincangan mengenai pesanan.
Café milik Lee Taeyong menjadi tempat yang spesial untuk Jung Jaehyun.
Tempat itu mempertemukannya dengan cinta yang belum ia sadari—cinta pertamanya.
Tempat itu menjadi saksi mata dari perasaan Jaehyun yang tumbuh kepada Ten.
Begitu pula sebaliknya. Ten merasakan hal yang sama. Selalu merasakan hal yang sama.
Walaupun ia terbebani oleh kebohongan dibalik pakaian perempuan yang ia kenakan, dalam lubuk hati yang terdalam, Ten selalu berharap.
Tetapi, kini—Jung Jaehyun sudah mengetahui rahasianya. Mengetahui jati dirinya.
Ia tidak bisa bekerja seperti biasa di café Taeyong.
Tempat itu terlalu banyak menyimpan kenangan tentang Jung Jaehyun.
Hatinya akan terasa sesak ketika ia menghirup aroma Meat Pie dan Americano yang dipesan oleh Jaehyun.
Ia memutuskan untuk berhenti.
Memutuskan untuk melupakan Jung Jaehyun.
Memutuskan untuk menyerah terhadap perasaannya.
.
.
Satu minggu telah berlalu.
Bahkan ketika Jung Jaehyun berusaha untuk mencari keberadaan Ten di sekolah, hasilnya nihil.
Ia semakin resah, ia semakin gelisah.
Kemungkinan terburuk sudah memenuhi isi kepala Jaehyun.
Ia sudah meminta Nakamoto Yuta—dan bawahan lainnya untuk mencari tahu tentang keberadaan Ten.
Namun hasilnya tetap nihil.
Jung Jaehyun merasa hancur.
Ia menyesal.
Ia merasa bodoh.
Jaehyun memandangi jendela perpustakaan dengan tatapan kosong.
Menurut informasi yang dikumpulkan oleh Yuta, perpustakaan adalah salah satu tempat yang sering Ten kunjungi di sekolah.
Jaehyun menelusuri setiap rak buku yang ada di perpustakaan tersebut.
Ia terus berfikir, buku apa saja yang pernah Ten baca?
Bagaimana pemandangan ketika Ten sedang membaca buku di perpustakaan?
Ketika angin menerpa rambut lembutnya melalui jendela.
Bagimana ekspresinya saat itu?
Hati Jaehyun terasa penuh dari memikirkan hal tersebut.
Ia tersenyum. Tersenyum ketika memikirkan Ten.
Jaehyun tidak pernah tahu, kalau perasaan seperti ini—
Terasa menyenangkan.
"Guru Seo—kenapa anda mengikutiku ke sini?"
Samar-samar, Jaehyun dapat mendengar suara Ten.
Jantungnya seketika berdebar cepat.
"Kenapa kau tiba-tiba memakai bahasa formal? Menggemaskan sekali."
Jaehyun mempercepat langkahnya dari bagian rak-rak buku.
"Sudah kubilang jangan sentuh aku!"
"Kenapa kau jadi galak seperti ini?"
"Bukan urusan anda!"
"Ten hyung?"
Jaehyun menatap ke arah Ten dan Seo Youngho yang sedang berada dibagian ruang belajar perpustakaan.
Kedua mata Jaehyun membesar ketika ia melihat Youngho merangkul pinggang Ten.
"Huh? Jung Jaehyun?" Youngho terlihat bingung.
Buru-buru Ten mendorong bahu Youngho kuat—membuat Guru Bahasa Inggris tersebut menubruk meja dibelakangnya.
"Aduh—kenapa kau sekarang suka main dorong-dorongan, sih?" Ucap Youngho seraya mengusap pantatnya yang terasa sakit.
"Guru Seo—saya permisi dulu." Ten hendak pergi, tetapi Jaehyun menahan pergelangan Ten.
"Hyung! Tunggu sebentar!"
"Hyung?" Ten membuka mulut,
Ia menoleh ke arah Jaehyun, "Hyung? Kau yakin kau tidak salah orang?"
Ten melepas genggaman Jaehyun dengan kasar, dan pergi berlari meninggalkan perpustakaan.
"Oops—! Ten—kau tidak boleh berlari-lari di perpustakaan!" Ucap Youngho sebelum Ten menghilang dari balik pintu.
Jaehyun mengepalkan kedua tangannya.
Rasanya ia ingin menghancurkan apapun yang berada didekatnya saat itu.
"Kalau aku menjadi kau—aku tidak akan melakukan itu."
Jaehyun mengangkat kepala, menatap lurus ke arah Youngho.
"Kenapa kau ikut campur?" Ekspresi Jaehyun berubah suram. Youngho bersiul pelan.
"Heh—kau cukup berani dengan Gurumu, ya?"
Youngho menyilangkan kaki kirinya, "Ada yang ingin kau tanyakan?"
"Kenapa kau menyentuh Ten hyung?"
"Hm? Kau ingin tahu?" Youngho memasang ekspresi mengejek.
"Jangan bilang kau tertarik dengannya?" Youngho melanjutkan.
"Memangnya apa urusanmu?" Jaehyun melemparkan tatapan tajam.
Youngho menggeleng, "Bukan urusanku."
Jaehyun menarik kerah kemeja Youngho kuat, "Kalau begitu kenapa kau menyentuh Ten hyung?!"
Youngho tersenyum kecil, "Ah, ah~ Sekarang aku tahu alasan kenapa Ten takut kepadamu. Kau ini memang masih kekanak-kanakan."
"Takut? Takut padaku?"
Youngho mendorong Jaehyun menjauh, "Jangan sembarangan menyentuhku." Ia merapikan kerah kemejanya yang berantakan.
"Dan lagipula, kenapa kau peduli dengan anak itu?" Youngho bertanya.
Jaehyun tidak menjawab.
Youngho menghela nafas panjang, "Kalau dugaanku tidak salah—bukankah selama ini kau hanya meniduri perempuan? Kau tidak gay, kan? Kenapa tiba-tiba kau peduli dengannya? Seorang laki-laki."
Jaehyun tersentak.
Ia termakan oleh ucapannya.
"—Kau benar." Gumam Jaehyun.
Ia mengusap matanya gusar, "Kenapa tiba-tiba aku peduli dengannya? Haa—aku tidak percaya ini." Jaehyun tertawa getir.
.
Tbc
.
[ Halo! ーーヽ(*'▽)ノ Kita bertemu kembali setelah chapter terakhir yang sangat suram hahaha ( ̄∇ ̄") Aku tidak akan berbicara terlalu banyak disini, tetapi aku harap untuk para pembaca yang sedang menjalankan ibadah bulan puasa, semoga puasa kalian semua lancar-lancar saja! Aku memiliki beberapa kesulitan saat menjalani puasa bulan ini karena ada banyak masalah pribadi yang menimpaku, tetapi aku berusaha untuk menyelesaikannya satu persatu dan berdamai dengan diriku sendiri (๑•̀ㅂ•́)و✧ Aku harap kalian tetap menjaga kesehatan kalian dan berbahagia! ヾ( ▽ ) ]
