Characters ;

- Jung Jaehyun of NCT

- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT

- Nakamoto Yuta of NCT

Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.

WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~

Selamat membaca!


Jung Jaehyun bersumpah tidak akan pernah menyukai laki-laki.

Jaehyun tidak akan pernah seperti Ayahnya—yang menyukai sesama jenis.

Menyukai laki-laki.

Karena Ayah—Ibu meninggalkan kita.

Ibu tidak mau melihat wajah Jung Jaehyun.

Ataupun wajah Ayahnya.

Jaehyun yang masih polos tidak mengerti perasaan yang ia rasakan.

Perasaan sakit, perasaan hancur.

Perasaan ketika ditolak—

.

.

"Tuan Muda, kalau anda sudah mengantuk—tolong pindah ke kamar anda dan jangan tidur di ruang tengah."

Jung Jaehyun memasang tampang kesal begitu ia mendengar ucapan Nakamoto Yuta barusan.

Jaehyun meraih sebuah bantal kecil dari sofa hitam yang ia tiduri lalu melemparkan bantal tersebut ke wajah Yuta.

"T, tuan Muda?!" Yuta terlihat kebingungan.

"Kenapa tiba-tiba kau berbicara secara formal denganku, hah?"

"Memangnya ada yang salah?" Yuta memungut bantal yang dilemparkan oleh Jaehyun.

Jaehyun berdecak—ia menggigit ujung jempol tangannya, "Aku jadi teringat Guru sialan itu."

"Oh? Apakah hari ini terjadi sesuatu yang menarik di sekolah?"

Jaehyun memutar tubuhnya menghadap ke sofa, "Kejadian yang membuatku kesal." Ia bergumam.

Yuta berjalan mendekati Jaehyun, ia menyentuh punggung lelaki tersebut, "Tuan Muda—anda tahu, kan? Kalau anda bisa mencurahkan isi hati anda kepada saya?"

Mendengar Yuta menggunakan 'anda' membuat darah Jaehyun kembali mendidih.

Ia pun kembali meraih bantal kecil yang terletak didekatnya kemudian melemparkan bantal tersebut ke wajah Yuta, "Sudah kubilang—jangan menggunakan bahasa formal denganku!"

.

.

"Hmm~ Begitu. Jadi hari ini Ten sudah muncul di sekolah." Yuta mengangguk-anggukan kepala.

Jaehyun menyerngit, "Apa maksudmu?"

Seketika keringat dingin menetes dari pelipis Yuta,

"Um—T, tuan Muda bilang kalau Tuan tidak bisa menemukan Ten di sekolah, bukan?"

"Ah, iya—"

Jaehyun memainkan jemari-jemarinya.

Ia ingin mengatakan sesuatu kepada Yuta,

Tetapi ia ragu.

Yuta yang menyadari gerak-gerik Jaehyun tersenyum.

Ia menepuk bahu Jaehyun berkali-kali, "Tuan Muda—kalau Tuan belum siap, Tuan bisa mengatakannya kepada saya lain hari."

Jaehyun menatap Yuta sejenak.

Ia pun menarik nafas sebelum mengucapkan sesuatu, "Sebenarnya—"

Jaehyun menggigit bibir, ia kembali ragu.

Yuta menunggu ucapan Jaehyun dengan sabar.

"Aku menyukai Ten."

Jaehyun menghela nafas. Ia merasakan jantungnya nyaris copot ketika mengucapkan kalimat barusan.

Jaehyun melirik ke wajah Yuta. Melihat apakah Yuta terkejut mendengar ucapannya.

Tetapi tidak—Yuta hanya tersenyum.

Tersenyum hangat, "Begitukah?"

Kedua mata Jaehyun membesar untuk sesaat, "K, kau tidak merasa jijik?"

"Untuk apa?"

"Um—itu—"

"Karena Tuan Muda menyukai laki-laki?"

Jaehyun mengangguk.

"Apakah Tuan Muda ingin aku berkata, 'Kau menjijikan!', begitu?"

Jaehyun tidak menjawab.

Yuta mendengus, "Tentu saja aku tidak akan berkata seperti itu."

"Kenapa?" Jaehyun menatap Yuta.

"Yah—menurutku ketika kita menyukai sesama jenis, rasa suka yang kita rasakan itu tidak ada bedanya ketika kitamenyukai lawan jenis."

"Hanya karena kita tertarik dengan sesuatu yang berbeda dari orang kebanyakan—apakah kita akan menilai, kalau orang itu berbeda dari kita?"

"Padahal perasaan yang kita rasakan, semua moment yang kita rasakan—semuanya sama. Tidak ada yang berbeda."

"Sejujurnya, aku masih tidak mengerti terhadap orang-orang yang selalu menilai kalau menyukai sesama jenis itu adalah hal yang menjijikan—ataupun hal yang tidak normal. Padahal semua orang memiliki hak. Hak untuk menyukai siapa saja."

"Hanya karena kita menyukai sesama jenis, lalu kita dilabeli tidak normal. Padahal perasaan suka yang dirasakan itu sama. Begitu pula dengan perasaan cinta. Dimana saja, semuanya sama."

Jaehyun menganga mendengar penjelasan Yuta barusan, "Aku tidak tahu—kalau kau orangnya sangat romantis."

Yuta terkekeh, "Aku tidak romantis—aku hanya berusaha menghargai hak orang lain."

Jaehyun menundukkan kepala, menatap kedua kakinya, "Aku—dulu aku pernah bilang kalau Ten menjijikan."

"Sekarang aku benar-benar menyesalinya." Lanjut Jaehyun.

Yuta menepuk punggung Jaehyun berkali-kali, "Tuan Muda masih mempunyai waktu untuk memperbaikinya." Ia tersenyum.

"Bahkan waktu untuk memperbaiki hubungan Tuan Muda dengan Ketua Jung."

Jaehyun tidak mengucapkan apapun setelah itu.

.

.

"—Ayah."

"—Tumben sekali kau mau mampir ke ruangan Ayah."

Jung Jaehyun menatap Ketua Jung yang membelakanginya dengan tatapan ragu.

"Ada yang ingin kubicarakan."

"Bicaralah."

Jaehyun meremas ujung pakaiannya, "Ayah, apakah sikapku selama ini egois?"

"Aku membenci Ayah selama bertahun-tahun karena Ayah—gay, apakah aku terlalu kekanak-kanakan?"

Ketua Jung menghela nafas, ia melirik Jaehyun, "Jung Jaehyun—Ayah memaklumi kalau kau membenci Ayah karena Ibumu pergi meninggalkan kita. Saat itu kau masih kecil. Kau belum mengerti apa-apa."

"Ayah, aku tidak mengerti kenapa Ayah menyukai laki-laki."

"—Kenapa kau berkata seperti itu?"

"Aku tidak mengerti perasaanku sendiri."

Ketua Jung terkejut mendengar ucapan Jaehyun.

Ia pun membalikan badan, "Kau—"

"Jangan bilang—"

Jaehyun menyela,

"Ayah, entah mengapa aku merasa bersalah karena aku membenci Ayah selama bertahun-tahun ini—hanya karena Ayah menyukai laki-laki, aku menganggap Ayah menjijikan. Aku menilai Ayah tidak normal."

Air mata jatuh membasahi kedua pipi Jaehyun, "Ayah—maafkan aku, aku—"

"Kau tidak perlu menangis."

Ketua Jung berjalan menghampiri Jaehyun. Memeluk putranya tersebut.

"Kau tidak perlu meminta maaf, Jaehyun. Ayah bisa memaklumi semuanya."

Jaehyun membalas pelukan Ketua Jung.

Setelah sekian lama, Jaehyun menangis sejadi-jadinya.

Ia merasakan beban berat yang terus menghantuinya selama ini terangkat seketika.

.

.

"Kalau begitu saya permisi dulu, Ketua."

Jaehyun meminum teh hangat yang baru saja dibawakan oleh salah satu pembantu di kediaman Grup Jung.

Kini, Ketua Jung dan Jaehyun sedang duduk berhadapan.

"Terakhir kali kita berbicara seperti ini saat kau masih berumur 6 tahun, ya? Saat itu Ibumu masih disini."

Jaehyun hanya diam.

Ia terus memandangi cangkir di tangannya.

"Ada yang harus Ayah ceritakan kepadamu, Jaehyun. Ini mengenai Ayah dan Ibumu."

.

.

Sebenarnya—Ayah pertama kali menyadari bahwa Ayah lebih tertarik kepada laki-laki ketika Ayah berada di tahun ketiga ketika SMP.

Pada waktu itu, tidak ada banyak orang dengan pemikiran terbuka.

Sehingga Ayah selalu dikucilkan dan dihina.

Orang-orang tidak mengetahui latar belakang Ayah yang merupakan penerus dari Grup Jung, karena Ayah ingin menjalani kehidupan yang normal.

Tetapi, ketertarikan Ayah kepada laki-laki membuat Ayah tidak bisa menjalani kehidupan yang normal.

Akhirnya Ayah menerima takdir Ayah untuk meneruskan Grup Jung.

Dan menyembunyikan ketertarikan Ayah terhadap laki-laki dari Kakekmu.

Namun, suatu hari—Kakekmu mengetahui rahasia terbesar Ayah.

Ketika Ayah membawa kekasih Ayah yang merupakan penerus dari salah satu Grup Mafia asal Tiongkok.

Kakekmu marah besar.

Ia memukuli Ayah.

Meninggalkan luka membekas di sekujur tubuh Ayah.

Dan mengurung Ayah selama bertahun-tahun.

Hingga akhirnya Kakekmu menyadari—kalau umurnya sudah tidak panjang.

Ia membutuhkan penerus.

Akhirnya ia mengatur sebuah pernikahan untuk Ayah.

Ia menjodohkan Ibumu dengan Ayah.

Ibumu berasal dari Grup Mafia yang tidak terkenal di Korea Selatan.

Dan Ibumu—sudah memiliki kekasih.

Ia begitu menolak pernikahan yang direncanakan Kakekmu.

Tetapi, Ayah dari Ibumu sudah menjual dirinya kepada Kakekmu karena membutuhkan uang.

Hal tersebut membuat Ibumu membenci seluruh orang di dunia ini—kecuali kekasihnya.

Ketika hari pernikahan tiba, Ibumu menangis.

Menangis karena ia merasakan kesakitan. Bukan kebahagiaan.

Begitu pula dengan Ayah.

Ayah menangis dalam diam.

Setelah menikah, Ayah tahu—kalau Ibumu masih sering menemui kekasihnya.

Tetapi Ayah tidak peduli—karena dari awal Ibumu bukanlah orang yang Ayah cintai.

Hingga akhirnya saat kau berumur 7 tahun, Ibumu mengetahui kalau Ayah menyukai laki-laki.

Ia pun menggunakan alasan tersebut untuk memutuskan semua hubungannya dengan Ayah—dirimu dan Grup Jung.

Ayah meminta maaf kepadamu, Jaehyun—karena Ayah baru bisa menceritakan semuanya saat ini.

Ayah tidak mau seperti Kakekmu—

Ayah ingin kau bahagia dengan keputusanmu sendiri.

Ayah ingin kau bahagia dengan orang yang kau cintai.

.

Tbc

.

[ Halo! ーーヽ(*'▽)ノ Aku tahu kalau chapter ini cukup pendek, dan mungkin chapter-chapter lainnya juga pendek sebenarnya (〜 ̄△ ̄)〜 Apakah chapter ini membosankan? Tolong maafkan aku yang sebesar-besarnya! Karena menurutku Jaehyun perlu move on dari masa lalunya, makanya aku membuat alurnya seperti ini. Aku harap kalian tidak keberatan! (づ ̄ ³ ̄)づ ]