Characters ;
- Jung Jaehyun of NCT
- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT
- Nakamoto Yuta of NCT
Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.
WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~
Selamat membaca!
Ucapan Nakamoto Yuta,
Penjelasan dari Ayah,
Masa lalu Ayah dan Ibu,
Alasan sebenarnya kenapa Ibu meninggalkan kami,
Semua terungkap—
Semua terjadi dalam satu malam,
Dalam satu hari,
Begitu berat,
Tetapi mampu menghapuskan perasaan tidak nyaman dan keraguan yang selalu menghantuiku selama ini.
.
.
Jung Jaehyun mengikuti pertemuan bisnis untuk pertama kalinya semenjak ia ditunjuk sebagai penerus dari Grup Jung.
Lelaki tersebut mengendorkan dasi dikerah kemeja putihnya.
Ia menyibakkan rambut yang menutupi pandangannya.
Jaehyun mendengus, "Yuta—bisakah kita mampir ke café milik Taeyong terlebih dulu?"
"Hm? Tuan Muda ingin mencari Ten? Bukankah dia—"
"Aku hanya ingin membeli Meat Pie dan Americano dari café Taeyong."
"Tetapi, Tuan Muda—cafénya kan sebentar lagi akan tutup."
"—Kita lihat saja dulu."
.
.
Jaehyun menutup pintu mobil sedan hitam milik keluarganya.
Kedua matanya menatap café milik Taeyong yang sudah gelap.
Ia menghela nafas.
Nakamoto Yuta melongok melalui kaca jendela mobil, "Bagaimana, Tuan?"
"Kita kembali saja—"
Ucapan Jaehyun terhenti ketika ia menangkap sosok Ten yang berjalan dari lawan arah.
Ten yang sedang sibuk memainkan ponselnya tidak menyadari keberadaan Jaehyun.
"Ten hyung—" Tanpa disadari, Jaehyun memanggil namanya.
Ten mengangkat kepala.
Jatungnya seketika berdebar cepat begitu menyadari kehadiran Jaehyun,
"Jung Jaehyun—?"
Ten menjatuhkan ponsel di tangannya.
"Ah."
Ten, Jaehyun—maupun Yuta menatap ponsel Ten yang tergeletak di trotoar.
"Biar kuambilkan." Jaehyun berjalan ke arah Ten, hendak mengambil ponselnya.
Buru-buru Ten meraih ponsel miliknya, "Berhenti—! Kau tidak perlu melakukan itu."
Jaehyun menghentikan langkah, ia menatap kedua tangan Ten yang bergetar.
Pandangan Jaehyun berubah menjadi sendu, "Hyung—apakah kau takut denganku?"
Ten meremas ponsel yang ia pegang, "Takut—? Takut katamu?"
Ten tersenyum kecut, "Kau kira aku tidak takut, setelah apa yang kau lakukan kepadaku?"
"Aku tidak ingat—pernah mengusik hidupmu. Tetapi kau melakukan itu semua kepadaku!" Suara Ten meninggi.
Jaehyun tidak bisa membantah apa yang Ten ucapkan.
"Aku selama ini tidak pernah sekalipun mengerti maksud dari semua perbuatanmu—tiba-tiba kau masuk ke kehidupanku—aku tidak pernah meminta. Lalu setelah kau mengetahui siapa diriku yang sebenarnya, kau bertingkah seakan-akan aku yang merusak hidupmu?"
"Katakan padaku, Jung Jaehyun—" Ten mendekat, menarik kerah kemeja Jaehyun, "Aku tidak pernah sekalipun—memintamu untuk masuk kedalam kehidupanku."
"Tetapi—kau memaksa."
"Apakah kau tahu bagaimana rasanya ketika kau bilang aku menjijikan?" Tatapan Ten menyiratkan rasa sakit.
"Tentu saja kau tidak tahu." Ia melepaskan tangannya dari kerah Jaehyun.
"Jangan pernah berbicara lagi denganku." Ucap Ten pelan.
Buru-buru ia berlari ke apartement miliknya yang terletak diatas café.
Jaehyun yang tidak bisa membalas ucapan Ten mengepalkan kedua tangan.
"Sialan—!" Ia memukul sebuah tiang lampu yang berada dipinggir trotoar.
"Jung Jaehyun—kau tidak berguna."
"Kenapa kau melakukan itu semua kepada Ten hyung?" Gumamnya.
"Dasar bodoh."
Air mata mengalir dari mata Jaehyun tanpa keinginannya sendiri.
.
.
Selama ini, Nakamoto Yuta selalu mengenal Jung Jaehyun—anak dari Ketua Jung, petinggi Mafia Korea yang ia layani—sebagai sosok pemberontak.
Berbeda dari Ayahnya, yang sebenarnya adalah sosok lembut dan peduli dengan bawahannya, karena Ketua Jung tidak pernah ada keinginan untuk meneruskan Grup Jung.
Ia dapat memaklumi mengapa Jaehyun bersikap seperti itu.
Yuta mengetahui rahasia keluarga Jung. Ia mengetahui apa yang terjadi kepada keluarga tersebut.
Karena hampir setengah dari hidupnya ia jalani dengan bekerja pada Grup Jung.
Jaehyun adalah anak yang cerdas.
Ia pintar.
Tetapi, Jaehyun hanya manusia biasa.
Jaehyun mempunyai kekurangan.
Banyak kekurangan.
Kehidupan yang Jaehyun jalani penuh oleh kebohongan.
Penuh dengan rasa sakit—yang datang dari Ibunya sendiri.
Dan rasa kecewa kepada Ayahnya—walaupun akhir-akhir ini hubungan keduanya sudah tidak dingin seperti dulu.
Jaehyun kurang kasih sayang. Kurang perhatian dari kedua orang tuanya.
Jaehyun memperlakukan cinta seperti mainan, karena lelaki tersebut tidak mengerti perasaan itu.
Ia hanyalah anak kecil dalam tubuh dewasa.
Emosinya sering tidak stabil, ia tidak sengaja menyakiti orang yang ia sukai, Ten.
Kenyataan yang Ten sembunyikan membuat masa lalunya yang kelam kembali muncul ke ingatannya.
Walaupun ingatan itu sudah ia kubur dalam-dalam.
Namun, Jaehyun tidak bisa melupakan Ten.
Jaehyun termakan oleh omongannya sendiri.
Ia ingin melupakan Ten, tetapi ia tidak bisa.
Ia sudah memberikan hatinya kepada Ten.
Mungkin ia sudah memberikan hatinya jauh sebelum kejadian pada malam itu—
.
.
Jung Jaehyun tidak bisa membohongi dirinya—kalau saat pertama kali ia melihat Ten, ia mengagumi kecantikan lelaki tersebut.
Pertemuan pertama mereka bukan di ruang kesehatan—bukan.
Kalau ia ingat-ingat kembali, pertemuan awal mereka—
Bukan.
Ia pernah melihatnya.
Ia tahu Ten pernah mengintip dirinya yang tengah bersetubuh dengan perempuan entahlah ia tidak ingat namanya atau wajahnya.
Apakah seperti itu lebih pantas dibilang sebagai pertemuan?
Sepertinya tidak.
Tetapi kedua mata mereka sempat bertemu untuk sesaat.
Saat itu, ia tidak dapat melihat wajah Ten dengan jelas.
Yang ia tahu—ia dapat melihat kedua mata Ten, yang menatapnya dengan penasaran.
Rambut hitam Ten, yang tidak begitu berubah semenjak satu tahun berlalu.
Dan pertemuan selanjutnya—ia berpapasan dengan Ten.
Ketika lelaki tersebut membawa sebuah roti isi dari cafetaria sekolah.
Ten tertawa, ketika berbincang dengan temannya.
Sepertinya ia tidak menyadari bahwa Jung Jaehyun berpapasan dengan dirinya.
Kali ini Jaehyun bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Ia mengenali mata Ten, ia mengingat bagaimana style rambut Ten.
Menawan.
Satu kata yang terlintas di benak Jaehyun saat itu.
Ketika Ten tertawa—ia menawan.
Jaehyun tidak tahu namanya.
Jaehyun menggelengkan kepala. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Jaehyun menutup mata.
Menutup hatinya.
Karena Ten adalah laki-laki.
Dan ia tidak akan pernah menyukai laki-laki seumur hidupnya.
Setelah itu, ia berhasil melupakan figur Ten yang menawan.
Hingga akhirnya, ia bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Ten.
Ia tidak ingat, bahwa dirinya pernah mengagumi Ten walaupun dalam waktu yang singkat.
Hanya saja instingnya mengatakan—"Bahwa aku harus menjadikan gadis itu milikku."
Namun, kenyataan ini pahit. Realita itu pahit.
Harga dirinya mengalahkan perasaan yang ia rasakan.
Dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia tidak mempermasalahkan—kalau Ten itu laki-laki atau perempuan.
Ia menginginkan Ten.
Bukan karena Ten adalah laki-laki, bukan karena Ten berdandan seperti perempuan.
Karena Ten adalah—Ten.
.
.
Jung Jaehyun terisak ketika ia terbangun dari tidurnya.
Ia menghela nafas panjang.
Kenapa ia bisa bermimpi,
Kenapa ia bisa melupakan sesuatu,
Yang begitu penting?
Ia sudah menyukai Ten, jauh sebelum ia bertemu lelaki itu di café milik Lee Taeyong.
Karena ia terlihat seperti kucing yang tersesat—menggemaskan.
Menawan, cantik.
Tetapi karena harga dirinya yang lebih tinggi daripada langit, membuat dirinya menyakiti Ten.
Menyakiti Ten secara fisik dan batin.
Jaehyun membuka rak kecil yang berada disamping ranjangnya, mengambil sebuah pisau lipat.
Ia menatap pisau lipat tersebut sebelum mendekatkannya ke pipi kanannya.
"Aku harus menghukum diriku—"
Ia bergumam.
Dan darah segar pun mengalir dari wajah tampannya.
.
.
"Ten—ada junior yang mencarimu!"
Ten menoleh begitu mendengar ucapan teman sekelasnya, ia kebingungan.
"Junior? Ada urusan apa seorang junior denganku?"
Ia menyerngit, kemudian bangkit dari kursi.
Mata Ten melembar begitu melihat Jung Jaehyun sudah berdiri didepan pintu kelasnya.
"Jung Jaehyun?" Ten memundurkan langkahnya.
Jaehyun segera menarik salah satu pergelangan Ten, membawanya pergi.
"Ikut aku." Ucapnya.
Ten ingin memberontak, tetapi ia tidak bisa.
Jaehyun menggenggam pergelangannya dengan kuat.
"Jaehyun—apa yang kau lakukan?!"
Jaehyun tidak menjawab.
Ten menggigit bibir bawahnya.
Ia pun akhirnya mengikuti Jaehyun dalam diam.
Jaehyun membawa Ten ke rooftop sekolah.
Tidak ada orang saat itu, karena kelas setelah istirahat siang sudah dimulai.
Akhirnya Jaehyun melepas genggamannya.
Ten memegangi pergelangannya yang memerah.
"Kenapa kau membawaku kesini?" Ten bertanya.
Jaehyun mengambil sesuatu dari saku celananya lalu melemparkannya ke arah Ten.
Ten tidak menangkapnya, sehingga benda tersebut terjatuh ke lantai rooftop.
Ten merasakan sekujur tubuhnya melemas ketika melihat benda tersebut.
Pisau lipat.
"K, kenapa kau membawa benda seperti ini ke sekolah?!" Ia berteriak ketakutan.
Jaehyun membalikan badan, menatap Ten.
"Hukum aku." Ucap Jaehyun singkat.
Ia berlutut.
"Hukum aku—gunakan pisau itu dan lukailah wajahku atau tubuhku."
Jangan-jangan?
Ten menatap pipi kanan Jaehyun yang ditutupi oleh perban luka.
"Apa maksudmu, Jung Jaehyun—kau sudah gila?!"
"Iya—aku sudah gila! Aku sudah kehabisan cara!"
Ten menelan ludah, ia tidak mengerti ucapan Jaehyun barusan.
"Apa maksudmu—?"
Jaehyun berdecak, ia membuang muka.
"Hyung—semua yang kulakukan kepadamu—kau tidak pantas menerima itu semua."
Jaehyun membungkuk.
Wajahnya menyentuh lantai rooftop.
"Maafkan aku, hyung—aku benar-benar bodoh."
Ten terkejut mendengar permintaan maaf Jaehyun, terlebih lelaki tersebut sampai membungkuk.
Ia ingin menghampiri Jaehyun, tetapi ia ragu.
"Hyung, begitu banyak yang terjadi didalam hidupku. Hingga aku menutup mata dan hatiku. Karena itu semua—itu semua membuatku menyakitimu, hyung. Aku tahu kata maaf tidak akan cukup untuk mengobati semua luka yang kau dapatkan dariku."
Jaehyun mengangkat kepalanya, "Aku menyukaimu, hyung! Benar-benar menyukaimu—tetapi aku tidak tahu caranya, agar hyung bisa memaafkan aku—aku kehabisan cara! Maka dari itu, hyung—gunakanlah pisau ini dan hukum aku, agar setidaknya aku tidak merasa begitu bersalah karena kau sudah melukaiku juga."
Kali ini Ten benar-benar terkejut karena perkataan Jaehyun.
Jung Jaehyun menyukainya, bagaimana?
Ten meremas ujung blazer yang ia kenakan.
Ia bingung.
Ia bimbang.
Sejujurnya, ia masih tertarik dengan Jung Jaehyun.
Tetapi ia tidak tahu—apakan itu hanya sekedar perasaan tertarik atau rasa suka seperti yang Jaehyun rasakan.
"Baiklah." Gumam Ten.
Ia berjalan menghampiri Jaehyun, "Angkat kepalamu." Ucapnya.
Jaehyun menengadah, menatap wajah Ten.
Tangan kanan Ten terangkat, lalu menampar pipi kiri Jaehyun kuat.
Jaehyun menyentuh pipi kirinya, menyentuh bekas tamparan Ten yang memanas di wajahnya.
Ten mengambil pisau lipat milik Jaehyun lalu membuangnya ke arah belakang gedung sekolah.
"H, hyung?" Jaehyun bingung, mengapa Ten membuang pisau lipatnya.
Ten menghela nafas.
"Jaehyun, kau tahu? Walaupun kau memintaku untuk melukaimu dengan pisau lipat—itu semua tidak merubah apa yang sudah terjadi, dan aku merasa hal itu juga tidak akan mengurangi rasa bersalahmu kepadaku."
Ten menatap kedua mata Jaehyun, "Dan tamparan itu—juga tidak merubah apapun. Apa yang kau lakukan kepadaku pada malam itu atau saat di ruang kesehatan, aku tidak pantas mendapatkan semuanya. Kau menghancurkan harga diriku, hatiku dan juga melukai fisikku."
Ten tersenyum kecil, "Aku tidak tahu lagi apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak memaafkan kelakuanmu selama ini kepadaku—maka dari itu aku memutuskan untuk—"
"—memberimu satu kesempatan terakhir."
.
Tbc
.
[ Halo! ーーヽ(*'▽)ノ Bulan Ramadhan sudah hampir selesai. Karena itu, untuk chapter selanjutnya tidak selalu di upload pada malam hari! Sebelumnya aku mengucapkan mohon maaf lahir dan batin yang sebesar-besarnya untuk semua pembaca! (^▽^) ]
