Characters ;

- Jung Jaehyun of NCT

- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT

- Nakamoto Yuta of NCT

- Seo Youngho/Johnny of NCT

Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.

WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~

Selamat membaca!


Istilah menyerah, istilah seperti itu tidak ada di kamus Jung Jaehyun.

Sebagai penerus dari Grup Jung, salah satu Grup Mafia di Korea Selatan yang memiliki kedudukan tinggi, menjadikan harga diri Jaehyun tinggi pula.

Para pengikut Ayahnya—minus Nakamoto Yuta—mengagumi sosok Tuan Muda Jaehyun.

Mereka menilai Jung Jaehyun sebagai sosok yang beribawa, dingin dan tampan seperti Ketua Jung.

Ia juga cerdas dan licik.

Perempuan-perempuan tidak akan meninggalkannya sendirian.

Ia sudah meniduri banyak perempuan, dan membuang mereka begitu ia mulai bosan.

Jung Jaehyun selalu melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia mau.

Termasuk untuk mendapatkan Ten, lelaki asal Thailand yang merupakan seniornya.

Seseorang yang baru kali ini—ia ingin miliki seutuhnya.

Ia rela melakukan apapun untuk mendapatkan Ten.

Bahkan jika itu membahayakan dirinya sendiri.

.

.

"Huff, huff—haa."

Jaehyun terus menggerakan tangan kirinya pada sesuatu yang keras dibagian bawah tubuhnya.

Kaos hitam yang ia kenakan sudah terangkat sampai dada, hingga perut berbentuk Jaehyun terekspos bebas.

Celananya ia biarkan tergeletak di lantai, sedangkan boxer brief hitamnya menggantung di lutut lelaki tersebut.

Tangan kanan Jaehyun sibuk menggeser foto-foto Ten yang berada di layar posel miliknya.

Ia mempercepat gerakan di kejantanannya.

Wajah Jaehyun semakin memerah.

Keringat terus mengalir dari pelipisnya.

"T, Ten hyung—!"

Deru nafas Jaehyun semakin cepat, ia hampir klimaks.

"Hyungh—ahh!"

Cairan sperma membasahi tangan kiri Jaehyun.

Ia menghela nafas panjang.

Jaehyun mengambil kotak tissue yang sudah ia siapkan sejak tadi lalu membersihkan tangan kirinya.

"Apa yang kulakukan?" Gumam Jaehyun.

"Seorang Jung Jaehyun masturbasi? Ha!—Jangan bercanda."

Ia kembali menatapi foto-foto Ten yang dipotret oleh Nakamoto Yuta secara diam-diam.

Jaehyun tersenyum.

"Ah, tapi tidak apa-apa. Ten hyung memang imut. Wajar saja kalau aku terangsang karenanya."

Jaehyun mencium layar ponsel miliknya sebelum membenarkan boxer brief di lututnya.

.

.

Nakamoto Yuta menatap wajah Jaehyun yang berseri-seri dengan tatapan jijik.

"Tuan Muda—Jangan bilang, anda—"

Jaehyun menoleh, "Apa?"

Yuta mengurungkan niatnya, "T, tidak. Bukan apa-apa."

Sejujurnya, Yuta merasa sangat bersalah kepada Ten.

Entahlah—ia sudah melakukan pekerjaan yang lebih parah daripada menguntit, menggali informasi atau memotret Ten secara diam-diam, tetapi, tetap saja—

Ia merasa bersalah.

Ten terlihat polos.

Membuatnya terkadang heran kenapa seseorang seperti Jung Jaehyun menyukainya.

Apa karena ia polos? Apa karena ia cocok menjadi santapan serigala yang kelaparan?

Tiada hari yang ia lalui tanpa merasakan perasaan bersalah karena sudah melakukan hal yang tidak-tidak terhadap Ten.

Memenuhi permintaan Jaehyun—membantu Tuan Mudanya mendapatkan 'materi' untuk bahan masturbasi.

Terkadang, ia berfikir bahwa perintah untuk membuang mayat musuh Grup Jung di pegunungan yang jarang dijamah orang-orang lebih baik daripada membuntuti Ten seperti stalker.

Dan tolong diingat—bahwa Nakamoto Yuta bukan stalker Ten.

Ia hanya memenuhi perintah dari Tuan Mudanya.

Karena perintah Jung Jaehyun mutlak untuk Nakamoto Yuta.

.

.

"Selamat pagi, Ten hyung!"

Jung Jaehyun memasang senyuman lebar ketika melihat Ten yang baru saja menuruni tangga apartement-nya.

Ten menghela nafas singkat, "Iya, iya. Selamat pagi."

Ten sudah terbiasa dengan pemandangan ini.

Jung Jaehyun yang menunggu dirinya di depan café Lee Taeyong dengan sedan hitam milik keluarganya.

Setelah Ten mengatakan ke Jaehyun bahwa ia akan memberikan Jung Jaehyun satu kesempatan terakhir, sikap Jaehyun kepadanya seketika berubah 100%.

Jaehyun sering menjemputnya, lalu mengantarnya pulang ke apartement.

Ketika Jaehyun pertama kali menjemput Ten—tanpa sepermintaan Ten tentunya, ia membawakan bucket mawar putih dengan ukuran sangat besar.

Ten dibuat kesusahan, dan ia meminta Jaehyun untuk tidak melakukannya lagi.

"Kenapa, hyung? Hyung tidak suka mawar? Katakan saja apa yang hyung inginkan! Rumah, mobil, bahkan pesawat pribadi pun akan kubelikan!"

"T, tidak perlu."

Walaupun sudah menolak, Jaehyun tetap memaksa.

Sampai akhirnya Ten mengatakan, bahwa ia tidak akan mengizinkan Jaehyun menjemputnya lagi kalau ia tetap keras kepala.

Akhirnya mau tidak mau, Jaehyun menurut.

Ia pun komplain kepada Nakamoto Yuta.

"Selama ini perempuan-perempuan yang mendekatiku selalu menginginkan bunga, harta—kenapa ia malah menolak ketika aku memberikan itu semua?"

Yuta nyaris tertawa mendengar ucapan Jaehyun, "Ten tidak membutuhkan itu semua."

Jaehyun mengangkat sebelah alis, "Kenapa?"

"Sepertinya Ten tidak sama seperti perempuan-perempuan yang mendekati Tuan Muda. Lagipula ia berasal dari keluarga kaya raya. Ia tidak membutuhkan apa yang Tuan Muda berikan."

"Keluarga kaya raya? Di Thailand?"

Yuta mengangguk, "Oh—aku jadi teringat sesuatu. Tuan Muda ingatkan kalau Ten pernah absen dari sekolah selama satu minggu? Ia sedang kembali ke Thailand karena kerabatnya ada yang berulang tahun—eh?"

Jaehyun menarik kerah Yuta secara tiba-tiba.

"Ke Thailand—katamu?"

Ekspresi Jaehyun berubah drasis.

Yuta merasakan aura membunuh yang begitu kuat.

"T, tuan Muda—! Dengarkan dulu! Tuan Muda tidak mengatakan secara spesifik untuk mencarinya sampai Thailand kan—?! Tuan Muda bilang hanya mencari di Korea Selatan, jadi saya hanya melaporkan apa yang Tuan Muda suruh—AAAAAAA!"

.

.

"Eh? Pak Lee? Hari ini kau tidak bersama Yuta hyung?" Tanya Ten begitu ia memasuki sedan hitam milik keluarga Jung Jaehyun.

Jaehyun tersenyum, "Tidak—Yuta sakit, kemarin ia dibawa ke Rumah Sakit yang memiliki koneksi dengan keluargaku."

Mata Ten melebar, "Apakah ia sakit parah?" Ten terlihat khawatir.

Jaehyun menyentuh tangan Ten, "Mungkin? Ah, maksudku tidak—semoga tidak."

Mendengar ucapan Jaehyun membuat Ten semakin khawatir, ia menggenggam tangan Jaehyun tanpa sadar, "Aku ingin menjenguk Yuta hyung!"

"Tidak perlu! Yuta tidak sakit parah! Ia hanya diare parah. T, tidak perlu khawatir!" Ucap Jaehyun, panik.

Panik karena tangannya tiba-tiba digenggam Ten.

"B, benarkah?"

"Percayalah padaku, hyung!"

.

.

"Akhir-akhir ini kau terlihat ceria, ya."

Ten menolehkan kepalanya ke arah Seo Youngho yang baru saja memasuki perpustakaan.

"Guru Seo." Gumam Ten.

Seketika ia memikirkan Jaehyun, "Kelihatan?" Batinnya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Youngho mendekati Ten, merangkul pinggangnya.

Ten segera menjauhkan tangan Youngho dari pinggangnya, "Guru Seo—sudah kubilang jangan sentuh aku."

Youngho menyeringai, "—Siapa yang sedang kau pikirkan?"

Ten tidak menjawab, ia membuang muka.

"Aku tahu~ Kau sekarang dekat dengan Jung Jaehyun."

Ten membatu. Ia tidak bisa menyanggah.

Youngho terkekeh, "Ternyata benar." Ia menarik dagu Ten, membuat lelaki tersebut menatapnya.

"Aku tidak suka." Ucap Youngho.

Ten menepis tangan Youngho, "Apa maksudmu, Guru Seo?"

"Kubilang aku tidak suka."

Youngho menangkup kedua pipi Ten lalu menciumnya secara paksa.

Ten yang tiba-tiba dicium oleh Youngho berusaha mendorongnya, tetapi Youngho malah meraih kedua tangan Ten kemudian mencengkramnya kuat.

Ia melepaskan ciuman, "Aku penasaran, kenapa kau selalu datang ke perpustakaan disaat jam istirahat makan siang seperti ini? Apakah kau sengaja karena perpustakaan sedang sepi?"

"B, bukan begitu! Lepaskan—! Ah!"

Youngho mendekatkan bibirnya ke leher putih Ten, menggigitnya perlahan.

"Sekarang ada bocah yang berani-beraninya mendekati dirimu. Tentu saja aku harus mengklaim apa milikku."

Ten berusaha melepaskan cengkraman Youngho, hingga akhirnya salah satu tangan Ten terbebas dan ia melemparkan pukulan ke wajah Youngho.

"Aku tidak ingat pernah menjadi milik Guru Seo!" Entah mengapa, Ten merasa jijik dan resah ketika Youngho mencium dan menggigit lehernya.

Youngho menyentuh bekas pukulan Ten lalu tertawa kecil, "Lemah sekali pukulanmu."

Ia menarik dasi Ten, "Seperti perempuan."

Youngho hendak mencium bibir Ten lagi, sampai kedua mata Ten menangkap sosok Jung Jaehyun yang berdiri dibalik Youngho.

"J, Jaehyun?"

Ten dapat melihat Jaehyun mengangkat sebuah kursi dan ingin menghantamkannya ke kepala Youngho.

Dengan sigap, Ten mendorong tubuh Youngho kuat agar kepala lelaki tersebut dapat terhindar dari kursi yang dihantamkan oleh Jaehyun.

Tetapi, bahu Youngho masih terkena hantaman Jaehyun yang cukup kuat dan membuat guru tersebut terjatuh dan merintih kesakitan.

"Jung Jaehyun—! Apa yang kau lakukan?!" Ten berteriak sambil menghampiri Youngho yang tergeletak di lantai.

Youngho terus memegangi bahunya.

"Guru Seo! Apakah guru tidak apa-apa?!"

"A, aku tidak tahu—ugh—bisakah kau p, panggilkan guru lain?"

Ten mengangguk dan bergegas keluar dari perpustakaan.

Dibelakangnya, Jaehyun mengikuti.

"Hyung!" Ia memanggil Ten.

Ten menghentikan langkahnya lalu berbalik, "Kau—! Kenapa kau berbuat seperti itu?!"

"Memangnya ada yang salah?" Jaehyun balik bertanya.

Ten menganga tidak percaya, "Kau ini psikopat, ya?! Bagaimana bisa kau melakukan itu kepada gurumu?!"

"Tetapi—tadi saat kulihat, ia memaksakan dirinya kepada hyung!"

"Kau tidak perlu melakukan hal itu, Jung Jaehyun!"

"Tapi, hyung—"

"Cukup. Aku tidak mau berbicara denganmu terlebih dahulu!"

.

Tbc