Characters ;

- Jung Jaehyun of NCT

- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT

- Nakamoto Yuta of NCT

- Seo Youngho/Johnny of NCT

Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.

WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~

Selamat membaca!


"Untung saja hanya luka memar, tidak sampai retak atau patah~" Seo Youngho mengusap dadanya setelah menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit yang terletak tidak jauh dari sekolah.

Ten yang ikut menemani pemeriksaan Youngho tidak mengatakan apapun semenjak Youngho dibawa ke Rumah Sakit oleh Guru Oh, salah satu guru yang ikut menemani.

Kini keduanya sedang berada didepan Rumah Sakit, menunggu Guru Oh.

"Ten? Kenapa kau diam saja? Kau tidak apa-apa?" Youngho mengelus pipi Ten.

Ten menjauhkan wajahnya, "T, tidak perlu menyentuhku, kan—?"

Youngho tersenyum kecil.

Ia mengacak rambut Ten hingga berantakan, "Ah~ Kau pasti ketakutan, ya? Sudah kau tidak perlu takut—Guru Seo kesayanganmu ini tidak apa-apa, kok!"

Ten tidak menjawab.

Youngho mendengus, "Jangan bilang kau malah khawatir dengan Jung Jaehyun?"

Ten langsung menoleh ke Youngho, ekspresi wajahnya terlihat resah.

Youngho yang menyadari bahwa Ten gelisah, mengucapkan, "Kau—jangan bilang kau memang serius dengan Jung Jaehyun?"

"A, aku tidak tahu." Ten menjawab dengan ragu.

"Kenapa kau malah khawatir dengan bocah emosian seperti Jung Jaehyun?

"Sudah kubilang aku tidak tahu!"

"Seharusnya kau mengkhawatirkan aku saja. Lupakan bocah itu."

"Kenapa tiba-tiba kau begitu peduli dengan urusanku, Guru Seo?"

Youngho terdiam.

Sebenarnya Ten cukup bingung dengan sikap Youngho hari ini.

Tiga tahun ia mengenal Seo Youngho, Guru Bahasa Inggris di sekolahnya, Youngho tidak pernah peduli dengan masalah-masalah yang ada dikehidupannya.

One Night Stand yang mereka lakukan ketika Ten masih di tahun pertamanya, atau ketika Youngho menggodanya, semua itu selalu dianggap sebagai angin lewat—baik untuk Ten maupun Youngho.

Tapi, kenapa—

"Kenapa tiba-tiba anda peduli dengan urusanku dengan Jung Jaehyun, Guru Seo?"

Ten mengulang pertanyaannya.

Youngho terlihat ragu untuk menjawab.

Hingga akhirnya, ia menghela nafas panjang.

"Aku hanya tidak mau seseorang sepertimu berurusan dengan Jung Jaehyun."

"Apa maksudmu, Guru Seo—?"

"Kau tahu background keluarga Jung Jaehyun?"

Ten menggeleng perlahan.

"Begitu ya, pantas saja." Gumam Youngho.

"Ada apa—?" Ten menelan ludah.

Youngho menatap Ten, "Jung Jaehyun itu—merupakan penerus Grup Jung, salah satu kelompok Mafia yang terkenal di Korea Selatan."

"Bocah itu punya koneksi, uang, dan kekuatan—aku tidak tahu kenapa kau bisa terlibat dengan bocah mengerikan seperti dirinya."

Ten terkejut mendengar ucapan Youngho barusan.

Youngho meraih tangan Ten, menggenggamnya, "Kumohon, Ten—jangan dekati Jung Jaehyun. Aku tidak mau murid kesayanganku terluka."

Ten melepas genggaman Youngho, "Guru Seo—kau ini ternyata guru yang pilih kasih ya."

Youngho merasakan perasaan tidak nyaman, "Ten, kau—"

"Semuanya sudah terlambat, Guru Seo."

Ten mengangkat ujung bibirnya, mencoba untuk tersenyum.

"Aku mungkin sudah terlibat—cukup jauh dengan Jung Jaehyun."

Youngho tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar,

"Tetapi dia itu mengerikan! Kau lihat sendiri apa yang ia lakukan kepadaku—!"

Ten menyela, "Aku sudah tahu dari waktu yang lama, kalau Jung Jaehyun adalah bocah yang mengerikan."

Ten menatap lurus ke kedua mata Youngho, "Aku—walaupun aku berusaha menolak perasaan ini, sepertinya aku mulai menyukai bocah mengerikan itu."

"Jangan bercanda!" Youngho menarik Ten kedalam pelukannya, "Aku tidak akan menyerahkanmu kepada Jung Jaehyun!"

"Guru Seo, tolong lepas—"

"Ten?"

Keduanya menoleh ke sumber suara tersebut,

"Yuta hyung?"

"Ten, apa yang kau lakukan disini?"

Buru-buru Yuta menghampiri keduanya lalu menarik Ten hingga lelaki tersebut terlepas dari pelukan Youngho.

"Siapa kau?" Youngho bertanya.

"Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?" Yuta melemparkan tatapan tajam.

"Aku ini gurunya Ten!"

"Oh, begitukah? Kalau aku ini kakaknya! Kami permisi dulu, ya!"

"Hah? Kau punya kakak, Ten? Oi—!"

Yuta segera membawa Ten pergi dari tempat tersebut.

"Hyung? Kita mau pergi kemana?"

"Ikut saja, ayo!"

.

.

Yuta membawa Ten ke taman yang terletak dibelakang Rumah Sakit.

Taman tersebut terlihat cukup ramai pada sore itu.

Keduanya pun memilih untuk duduk di sebuah bangku panjang.

Ten melirik tangan kiri Yuta yang menggunakan gips, "Yuta hyung, tangan kiri hyung kenapa?"

"Ah, ini?" Yuta menatap tangan kirinya, "Tuan Muda tidak sengaja mematahkannya ketika ia mengamuk beberapa hari yang lalu."

"Eh? Mematahkan? Tuan Muda?"

Ten menganga lebar.

Yuta mengangguk, "Iya—Tuan Muda Jaehyun memarahiku karena tidak memberitahu dirinya kalau kau sempat pergi ke Thailand selama satu minggu!"

Ten merasakan tubuhnya merinding seketika.

"H, hyung—bagaimana kau bisa mengetahuinya—"

Yuta yang baru saja teringat bahwa seharusnya ia tidak membeberkan semua itu tertawa canggung,

"Eh? Ah! Maafkan aku! Lupakan saja, lupakan saja! Aku hanya menebak saja, kok!"

"Hyung?"

Ten menoleh ke arah Yuta, menatap lelaki tersebut.

Yuta tersenyum, "Ada apa?"

"Apakah benar kalau Jaehyun adalah penerus G, grup Jung? Salah satu Grup Mafia di Korea Selatan?"

"Eh? Ten tidak tahu?" Yuta mengerutkan dahi.

"Jadi, benar—? Berarti hyung juga bekerja untuk Grup Jung?"

Yuta menganggukan kepala, "Tentu saja. Kau kira aku kerja apa selama ini?"

"Um, aku kira hyung hanya supirnya Jaehyun."

"Terkadang aku menyupiri Tuan Muda."

"O, oh—begitu."

"Kau takut dengan Tuan Muda Jaehyun sekarang?" Yuta bertanya.

Buru-buru Ten menggeleng, "T, tidak! Entah mengapa aku tidak takut! Aku hanya—sedikit terkejut."

Yuta menepuk bahu Ten menggunakan tangan kanannya, lalu membungkuk, "Ten! Maafkan kelakukan Tuan Muda yang selama ini barbar dan kasar!"

Ten langsung panik ketika Yuta tiba-tiba meminta maaf kepadanya, "H, hyung, kau tidak perlu minta maaf!"

Yuta mengangkat kepalanya, "Sepertinya—kata maaf memang tidak cukup untuk mengobati apa yang kau alami selama ini ya?"

"Huh?"

Yuta bersandar pada bangku dibelakangnya, "Ten, kau ingin tahu kenapa Tuan Muda selalu bersikap barbar dan kasar seperti itu?"

.

.

Waktu yang singkat tidak cukup untuk menceritakan masa lalu Jung Jaehyun yang kelam.

Waktu yang singkat tidak cukup untuk menceritakan kenapa ia bisa bertingkah seperti psikopat yang tidak punya hati,

Tanpa terasa langit sudah gelap, lampu-lampu taman di Rumah Sakit pun sudah menyala.

Tetapi Ten tetap mendengarkan cerita yang mengalir dari bibir Nakamoto Yuta.

Mendengarkannya tanpa menyela.

Sedikit demi sedikit, ia mulai memahami mengapa Jaehyun bisa seperti itu.

Ia mulai mengerti mengapa Jaehyun selalu bermain dengan banyak perempuan atau saat Jaehyun mengatainya menjijikan, memukul wajahnya—walaupun ia mengerti, apa yang Jaehyun lakukan masih meninggalkan luka dihatinya.

Tetapi ia berusaha memaafkan, berusaha mengikhlaskan semuanya.

"Karena berasal dari keluarga Mafia, dibesarkan di lingkungan yang penuh Mafia, dan jalan yang akan ia tempuh sebagai penerus Grup Mafia, wajar saja kalau Tuan Muda selalu bersikap barbar. Ini bukan pertama kalinya ia mematahkan tulangku. Untuk bertahan di dunia ini kau harus tetap kuat dan ganas. Kalau tidak ya—kau mati."

"Lagipula ini hanya luka kecil, kok. Aku sering mendapatkan luka yang lebih parah dari ini." Yuta mengayunkan tangannya hingga rasa sakit menyerang tangan kirinya, membuat Ten khawatir. "Hyung, sebaiknya kau turunkan saja tanganmu—"

Ten mengangkat kepalanya, menatap langit gelap yang tidak terdapat bintang satupun, "Aku—tahu kalau Jung Jaehyun itu brengsek. Tetapi aku tidak tahu kalau ia dibesarkan di lingkungan yang mengerikan seperti itu."

Yuta terkekeh, "Karena semua yang ia alami sampai sekarang, Jaehyun tidak bisa menjalani hidup normal. Ia mungkin tidak mengenal kata normal seperti orang-orang biasa. Makanya ia jadi seperti itu."

"Ia selalu bangga, dan Tuan Muda mempunyai harga diri yang tinggi. Ia tidak gampang goyah."

"Tapi, Ten—Tuan Muda yang selalu merasa dirinya kuat itu penuh dengan kekurangan. Karena sejak masih kecil banyak yang berekspektasi kepadanya, ia berusaha untuk menjadi pemimpin yang ideal. Mungkin ia tidak sadar, tetapi aku menyadarinya bahwa sebenarnya ia sangat tersiksa dengan ekspetasi-ekspetasi dari orang-orang."

"Dan semenjak ia bertemu denganmu—ia mulai menunjukan sisi kemanusiaan, dan itu membuatku lega." Yuta tersenyum ketika ia mengingat Jaehyun membicarakan Ten dengan senang.

"Sedikit aneh, ya? Ketika Mafia sepertiku ini malah merasa senang ketika Tuan Mudanya mulai menunjukan sisi lembut dan tidak terlalu memaksakan diri?"

"Aku tahu, terkadang ia masih sering lepas kendali dan kata maaf saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka yang Jaehyun tinggalkan kepadamu tetapi—"

"Bolehkah aku bertanya satu hal?"

Ten menganggukan kepala.

"Ten, apa yang kau rasakan terhadap Tuan Muda?"

"Aku—"

Ten memainkan jemari-jemarinya.

Mendengarkan masa lalu Jaehyun, masa lalu yang menjadikannya seorang Jung Jaehyun—penerus Grup Jung yang ingin terlihat kuat dan mengerikan tetapi sebenarnya hanya seorang bocah kurang kasih sayang,

"—menyukainya, hyung."

.

Tbc

.

[ Halo semuanya. Maafkan aku kalau ini bukanlah tempat yang tepat untuk mengatakan ini, tetapi aku ingin memberikan pelukan dan bilang kepada semua iKONIC diluar sana untuk tetap kuat! Aku pribadi sendiri menyukai iKON dan lagu-lagu mereka, jadi aku sangat sedih ketika mendengar berita yang beredar beberapa hari yang lalu. Hanya itu saja yang ingin kusampaikan di author note kali ini, terimakasih sebelumnya. (=) ]