Note: Di alur cerita ini, karena Ten merupakan senior di sekolah, ia biasanya pulang terlambat atau pulang saat malam hari karena mendapatkan kelas tambahan dari sekolahnya. Sedangkan murid-murid tahun pertama dan kedua pulang saat sore hari. (▰˘◡˘▰)
Characters ;
- Jung Jaehyun of NCT
- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT
- Nakamoto Yuta of NCT
- Seo Youngho/Johnny of NCT
Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.
WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~
Selamat membaca!
Mendengar jawaban Ten, Nakamoto Yuta tersenyum penuh arti.
"Begitu, ya—perasaan kalian mutual."
Yuta menepuk punggung Ten berkali-kali, "Kalau begitu mulai sekarang, bantu aku menjaga Tuan Muda, ya!"
Ten mengangguk.
Jalan yang Jung Jaehyun dan Ten tempuh diawali dengan sesuatu yang salah—keduanya bertemu berbagai masalah—kesalahpahaman, penolakan, pengakuan dan dihantui oleh masa lalu Jaehyun yang kelam.
Walaupun begitu, Ten sudah sampai sejauh ini. Jaehyun pun mempunyai keberanian untuk menghadapi masa lalu yang selalu membebani dirinya.
Pada akhirnya Ten menyerahkan hatinya kepada Jung Jaehyun—meskipun lelaki tersebut sudah menyakitinya berkali-kali.
Namun, Jaehyun berusaha untuk memperbaiki semuanya dengan kesempatan terakhir yang Ten berikan.
Mereka berdua sudah sampai sejauh ini, dan tidak ada jalan kembali lagi.
.
.
Berkat koneksi dan kekuatan yang Jung Jaehyun miliki,
Jaehyun hanya mendapatkan hukuman berupa suspend dari sekolah selama dua minggu.
Dan selama dua minggu itu, ia tidak pernah menghubungi Ten.
Pada masa suspend Jaehyun pula, Seo Youngho selalu berusaha untuk berbicara kepada Ten.
Dan lelaki asal Thailand tersebut berhasil untuk menghindari Youngho kecuali saat pelajaran Bahasa Inggris.
Youngho tidak berani macam-macam saat ia sedang berada di kelas untuk mengajar.
Ten tidak pernah mampir ke perpustakaan selama Jaehyun tidak ada, karena ia tahu pasti Youngho akan menunggunya disana dan berusaha untuk mempengaruhi pikirannya mengenai Jaehyun.
Tetapi, mau apapun yang Youngho katakan, hal itu tidak akan merubah perasaan Ten kepada Jaehyun.
Sampai-sampai, Ten merasa bahwa dirinya adalah masokis yang menyukai orang barbar seperti Jung Jaehyun.
Selain itu, dalam dua minggu kepergian Jaehyun, Ten merasakan ada seseorang yang terus mengikuti dan memperhatikan gerak-geriknya.
Lalu setiap ia baru saja pulang dari sekolah, ia selalu mendapati beberapa lelaki bertubuh kekar dengan setelan jas lengkap berdiri didepan gerbang sekolahnya.
Rombongan itu akan pergi ketika Ten sudah menjauh dari gerbang sekolah.
Tentu saja rombongan lelaki bertubuh kekar tersebut membuat murid-murid ketakutan, dan mengadu kepada guru-guru di sekolah.
Namun guru-guru tidak mengatakan apa-apa dan memilih untuk menutup mata mengenai hal itu.
Hingga tanpa terasa, masa suspend Jaehyun pun berakhir.
Dan dengan berakhirnya masa suspend Jung Jaehyun, Ten tidak pernah melihat lagi rombongan lelaki kekar yang sering ia lihat didepan gerbang sekolah selama dua minggu belakangan.
.
.
Mendengar sebuah kabar kembalinya Jung Jaehyun ke sekolah, membuat langkah kaki Ten membawanya ke lantai khusus untuk anak kelas dua.
Tidak bertemu dengan Jaehyun selama dua minggu membuat Ten tersiksa.
Ia merindukannya—ia merindukan Jaehyun.
Ten tidak mengetahui Jaehyun berada di kelas mana, sehingga ia mengecek kelas-kelas yang terletak di lantai khusus kelas dua.
Hingga ia mendapati kelas yang ramai oleh murid-murid perempuan,
"Jaehyun, kau kemana saja?"
"Kudengar dari Guru Oh kau sedang berlibur ke Hawaii, ya!"
"Apakah kau mau pergi dengan kami setelah pulang sekolah?"
Dengan melihat gerombolan perempuan yang sedang mengerubungi satu meja yang terletak di belakang, Ten dapat memastikan bahwa kelas tersebut adalah kelas Jaehyun.
Walaupun ia tidak bisa melihat wajah Jaehyun, samar-samar ia dapat mendengar suaranya.
"Maaf—aku tidak tertarik."
"Eh~? Kenapa tidak~?"
"OMG, Jaehyun meminta maaf!"
"Bisakah kau mengulanginya lagi ketika kau meminta maaf? Aku ingin merekamnya~"
Ten menyenderkan tubuhnya pada pintu kelas Jaehyun seraya melipatkan kedua tangan didepan dada.
"Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Apakah aku harus—?" Ia begumam.
.
.
Ketika bel pulang untuk anak tahun pertama dan tahun kedua berbunyi, Ten segera membereskan buku miliknya diam-diam.
Setelah selesai memasukan barang-barang lainnya ke dalam tas, ia melirik ke arah Seo Youngho yang masih mengajar didepan kelas.
Ketika Youngho sibuk menuliskan sesuatu diatas papan tulis, Ten buru-buru melemparkan tas miliknya dari jendela kelas.
Untungnya ia sudah meminta teman sekelasnya, Kim Doyoung, untuk bertukar tempat duduk sehingga lelaki tersebut bisa menempati meja yang berada dibelakang dan disamping jendela.
Ia segera bangkit dari kursi, "Guru Seo—aku izin pergi ke toilet sebentar."
Tanpa menunggu balasan Youngho, Ten buru-buru pergi dari kelas.
Jantung Ten berdebar cepat.
Baru kali ini ia membolos dan melakukan sesuatu yang nekat seperti melemparkan tasnya keluar dari jendela.
Padahal kelas untuk anak-anak tahun ketiga terletak di lantai teratas.
"Semoga tasku tidak apa-apa!" Batinnya.
.
.
Buku-buku tebal Ten yang berada didalam tas aman saja.
Sedangkan tas miliknya yang berwarna hitam terlihat lusuh dan terdapat robekan yang cukup lebar,
"Wajar saja karena aku melemparkannya dari lantai paling atas di gedung ini." Ia mendengus.
Setelah mengambil tasnya yang terjatuh disemak-semak sekolah, ia segera mencari sosok Jung Jaehyun ditengah keramaian anak tahun pertama dan kedua.
Seharusnya tidak sulit untuk mencari Jaehyun—karena lelaki tersebut selalu terlihat tinggi dan mencolok.
Bagaimana dengan sedan hitam milik keluarganya?
Ten berlari ke depan gerbang.
Ia bernafas lega ketika mendapati sedan hitam milik keluarga Jaehyun yang terparkir didepan sekolah.
Ia menghampiri sedan hitam tersebut lalu mengetuk kaca jendela untuk pengemudi.
"Yuta hyung!" Ucap Ten begitu mendapati bahwa Nakamoto Yuta yang menjemput Jaehyun hari ini.
"Oh—Ten! Lama tidak berjumpa!" Yuta tersenyum.
"Dimana Jaehyun?" Tanya Ten.
"Tuan Muda? Dia belum kesini—ngomong-ngomong, kau tidak sekolah?" Yuta mengerutkan dahi.
Ten seketika gugup, "A, ah itu—"
"Yuta."
Tubuh Ten membeku ketika ia mendengar suara Jaehyun.
"Tuan Muda!" Buru-buru Yuta turun dan membukakan pintu untuk Jaehyun,
Jaehyun melirik Ten sekilas lalu memasuki sedan hitam milik keluarganya.
Yuta kebingungan melihat tingkah Jaehyun yang terkesan dingin kepada Ten.
"Em—? Ten? Bukankah kau tadi mencari Jaehyun?"
Ekspresi Jaehyun yang dingin seketika berubah melunak begitu mendengar ucapan Yuta—ia menatap Ten dari balik kaca mobil.
Ten menarik nafas sejenak, "Yuta hyung, bolehkah aku ikut kalian?"
"Eh?"
Tanpa permisi, Ten ikut masuk kedalam sedan hitam milik keluarga Jaehyun dan duduk disamping lelaki tersebut.
Jaehyun terkejut melihat sikap Ten yang menurutnya—sedikit berbeda dari biasanya.
Ten menatap Jaehyun, tetapi Jaehyun membuang mukanya ketika kedua mata Ten menatap lurus kearahnya.
Jaehyun dapat merasakan jantungnya berdebar cepat.
"Jaehyun, aku ingin berbicara denganmu." Ucap Ten.
Jaehyun tidak menjawab. Ia masih diam.
"Jaehyun—" Ten menarik lengan Jaehyun hingga lelaki tersebut menatap wajahnya.
Ten tersentak melihat ekspresi yang dipasang oleh Jaehyun.
Entah mengapa, ekspresi Jaehyun terlihat murung.
"Jaehyun, kau tidak apa-apa?"
Ia memegang pundak Jaehyun.
Jaehyun melirik tangan Ten yang berada dipundaknya lalu menyentuh tangan Ten.
"Hyung—kau sudah mau berbicara denganku?"
"Apa maksudmu? Tentu saja—"
"Saat—um, sebelum aku menjalani suspend, kau bilang kau tidak akan berbicara dulu denganku. Apakah sekarang—?"
Jaehyun menatap kedua mata Ten dengan tatapan anak anjing yang menurut Ten—tidak cocok untuk lelaki dingin dan barbar seperti Jaehyun.
Hati Ten seketika luluh, "Tentu saja kau boleh. Duh!—maafkan aku karena sudah membentakmu waktu itu."
Jaehyun tersenyum kecil, "Hyung tidak perlu meminta maaf. Jangan meminta maaf. Hyung tidak salah—saat itu, semuanya adalah salahku. Jadi wajar saja kalau hyung tidak mau berbicara denganku."
Ten merasa begitu gemas dengan sikap Jaehyun yang seperti anak kecil. Ketika ia hendak membalas ucapan Jaehyun, Yuta menyela keduanya,
"Maaf menyela—Tuan Muda, anda harus menghadiri sebuah makan malam bersama Grup Yamase dari Jepang di kediaman Jung setelah ini."
Jaehyun rasanya ingin menenggelamkan Yuta di Tokyo Bay saat ini.
"Yuta—kau ini merusak suasana saja." Jaehyun menggerutu.
"K, kalau begitu kita bisa bicara lain kali saja." Ten hendak keluar, namun Jaehyun menahan pergelangannya.
"Tunggu, hyung! Bagaimana kalau kau ikut aku saja ke rumah?"
"Huh? Rumahmu?"
.
Tbc
