Characters ;

- Jung Jaehyun of NCT

- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT

- Nakamoto Yuta of NCT

Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.

WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~

Selamat membaca!


Ten tidak bisa berhenti memainkan jemarinya.

Ia gugup. Sangat gugup.

Sudah hampir dua jam ia terperangkap di kamar besar milik Jung Jaehyun.

Sedangkan sang pemilik kamar sedang menyambut tamu dari Jepang dan makan malam bersama.

Karena Ketua Jung—Ayah Jaehyun, sedang berada diluar negeri, Jaehyun diminta untuk menggantikannya.

Ten menghentikan pergerakan jemarinya.

Ia memutuskan untuk bangkit dari sofa merah yang berada di kamar Jaehyun dan melihat-lihat isi kamarnya.

Ten menelusuri bagian foto-foto yang menarik perhatiannya semenjak ia masuk kedalam kamar Jaehyun.

Tidak terdapat banyak foto, dan sepertinya foto-foto tersebut diambil saat Jaehyun masih berada di sekolah dasar.

Ten tersenyum melihat foto Jaehyun kecil yang tengah tersenyum, ia meraba foto tersebut, "Menggemaskan sekali."

Ia masih tidak percaya kalau anak kecil dengan wajah seperti malaikat ini akan tumbuh seperti setan yang selalu mengamuk setiap saat.

Ten tertawa dalam diam.

Kedua matanya pun menangkap potret seorang laki-laki dan wanita dewasa yang menggunakan pakaian formal.

Ten terdiam sejenak.

Ia teringat oleh cerita Nakamoto Yuta saat di Rumah Sakit mengenai kedua orang tua Jaehyun.

"Apakah ini—Ayah dan Ibu Jaehyun?"

Knock, knock.

Ten menoleh ke arah pintu, ia dapat mendengar suara pintu terbuka.

"Hyung?"

Wajah Jaehyun muncul dari balik pintu.

"Jaehyun? Makan malamnya sudah selesai?" Tanya Ten.

Jaehyun mengangguk, "Sudah. Makan malam hari ini membuatku lelah."

Ia berjalan ke arah Ten, lalu merangkul lelaki tersebut dari belakang, "Aku butuh suntikan energi dari hyung."

Kedua mata Jaehyun menangkap tengkuk Ten yang terekspos bebas.

Ia pun mengecupnya sekilas, "Aku ingin sekali meninggalkan bite mark disini." Ia berbisik.

Ten berusaha melepas rangkulan Jaehyun,

"Jaehyun—hentikan, ada yang ingin kubicarakan."

"Oh, aku baru ingat."

Jaehyun melepas rangkulannya.

.

.

"Jadi—apa yang ingin hyung bicarakan?" Jaehyun tersenyum manis.

Ten menarik nafas sejenak, "Um—Jaehyun, jadi aku—"

Jaehyun meletakkan jari telunjuknya di ujung bibir Ten, "Tunggu dulu, hyung—pembicaraan ini, kau tidak akan meninggalkanku kan?"

"Meninggalkanmu?" Ten kebingungan.

Jaehyun meraih kedua tangan Ten, menggenggamnya erat.

"Hyung, jangan tinggalkan aku—aku tidak bisa hidup tanpamu!"

Ten menyerngit, "M, maksudmu—?"

"Hyung, aku tidak membutuhkan apapun di dunia ini, yang kubutuhkan hanyalah dirimu!"

Ten melemparkan tatapan aneh ke Jaehyun, "K, kau ini kenapa jadi tidak nyambung begini—tentu saja kau akan mati kalau kau hanya membutuhkanku."

"Tapi aku serius hyung!"

"Lalu kau tidak membutuhkan makanan? minuman? pakaian? kau mau telanjang? apa yang terjadi denganmu, Jung Jaehyun? Kenapa tiba-tiba kau menjadi dramatis seperti ini?"

"Err—itu." Jaehyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ia melirik ke TV LED yang terletak di kamarnya.

"Sebenarnya—"

Ten menatap Jaehyun dengan tatapan serius, membuat wajah sang pemilik kamar merah merona,

Jaehyun pun sudah tidak tahan.

Lelaki tersebut mengacak rambutnya frustasi.

Ia pun mengaku, "S, sebenarnya selama aku di suspend—Yuta menyarankanku untuk menonton berbagai K-Drama yang sedang populer—katanya supaya aku lebih romantis d, dan agar kau lebih menyukaiku."

Jaehyun menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia begitu malu.

"Menggelikan sekali, bukan? Aku tidak tahu cara yang benar untuk mendapatkan hati Ten hyung. Aku tidak punya—pengalaman. Hyung berbeda dari perempuan-perempuan yang aku temui sebelumnya. Aku tidak tahu cara untuk membuat hyung suka kepadaku.

Ten terdiam untuk sesaat setelah mendengar pengakuan Jaehyun.

Ia tidak menyangka kalau seorang Jung Jaehyun sampai berbuat sejauh itu demi mendapatkan hatinya.

Ia berdeham sebentar lalu terkekeh, "Kau ini—memang benar-benar seperti anak kecil."

Jaehyun tidak menyanggah. Wajahnya semakin memerah.

Ten tersenyum lalu mengusap tangan Jaehyun perlahan, "Jaehyun, kau tidak perlu melakukan semua itu."

"Kau—sudah mendapatkan hatiku."

Mata Jaehyun seketika melebar mendengar ucapan Ten.

Ia tidak bisa menyembunyikan senyumannya.

"B, benarkah?!"

Jaehyun segera menarik Ten kedalam pelukannya, "Hyung—aku sangat senang!"

Ten membalas pelukan Jaehyun yang terasa hangat, "Kalau kau senang, aku pun ikut senang."

Jaehyun tidak bisa berhenti tersenyum.

Ia teringat sesuatu, "Berarti malam ini malam pertama kita?"

Ten tidak langsung menjawab.

Ia berusaha mencerna ucapan Jaehyun, "—Hah?"

Jaehyun melepas pelukannya, "Aku ingin melakukan ini itu dengan hyung."

"Ini itu—? O, oh, maksudmu seperti belajar bersama atau membersihkan kamar bersama, ya?" Ten berusaha mengalihkan pembicaraan.

Jaehyun menyeringai, "Hyung—kau tahu maksudku."

.

.

"Ngh—ahh!"

"Haa—Jaehyun."

"J, jangan—! Ughh."

Ten tidak dapat menghentikan desahan yang terus mengalir dari bibirnya.

Ia dapat merasakan kecupan-kecupan yang terus menghujani tubuhnya.

Dari leher, turun ke perut, lalu pada kejantanannya.

Saat ini, Jaehyun sedang memberikan blowjob kepada dirinya.

Ia tidak menyangka bahwa fantasinya selama ini akan menjadi kenyataan.

Ten meremas rambut Jaehyun ketika lelaki tersebut menjilat kejantanannya.

Jaehyun menjauhkan wajahnya dari selangkah Ten, lalu memainkan tangannya pada kejantanan Ten yang keras, "Aku tidak menyangka, aku akan memberikan blowjob kepada hyung."

Ten tidak menjawab.

Ia hanya menatap wajah Jaehyun dengan tatapan sayu dan wajah yang memerah.

Jaehyun tersenyum, "Hyung, ekspresimu saat ini—benar-benar menggoda."

Jaehyun kembali melahap kejantanan Ten, membuat Ten mendesah cukup keras.

"Ah! Ah!—Jaehyun!"

Saat Ten merasa bahwa dirinya nyaris klimaks, ia berusaha menjauhkan kepala Jaehyun dari kejantanannya, "J, Jaehyun—ngh! Aku, aku—haaa!"

Jaehyun merasakan kejantanan Ten semakin membesar.

Ia pun menghisap kejantanan Ten dengan kuat hingga akhirnya lelaki tersebut mencapai klimaks.

Jaehyun dapat merasakan tubuh Ten yang bergetar.

"Huft, huft—Jaehyun—!"

Jaehyun mengambil sebuah tissue yang berada didekatnya lalu membuang sperma Ten yang berada dimulutnya.

Ten memejamkan kedua matanya. Ia merasa lelah.

"Hyung? Jangan tidur dulu."

Jaehyun kembali memberikan kecupan-kecupan di paha putih Ten.

Ia pun menghisapnya hingga bekas kemerahan muncul di paha Ten.

Ten mendesah pelan, "J, Jae—aku lelah."

Jaehyun merangkak ke atas tubuh Ten, "Sudah lama aku menantikan kesempatan ini dan hyung ingin tidur saja?"

Ten menatap wajah Jaehyun untuk sesaat kemudian mengusap wajah lelaki tersebut, "Tidak perlu terburu-buru. Kita masih mempunyai banyak waktu."

Ten kembali memejamkan matanya.

Entah mengapa ia benar-benar merasa lelah hari ini.

Mungkin karena pada akhirnya ia bisa mengutarakan perasaannya kepada Jaehyun setelah menunggu selama dua minggu.

Jaehyun memutuskan untuk menyerah hari ini kemudian menarik selimut untuk menutup tubuh Ten yang telanjang.

Ia menghela nafas, "Baiklah kalau begitu. Selamat malam—"

Jaehyun memberikan kecupan singkat di dahi Ten sebelum berjalan ke kamar mandi untuk mengurusi 'Jaehyun junior yang masih terbangun.'

.

.

Ten tidak pernah membayangkan bahwa hari dimana ketika ia terbangun, ia akan mendapati Jung Jaehyun yang sedang tertidur di sampingnya.

Ten menatap wajah damai Jaehyun sesaat, kemudian menyentuh bentuk wajahnya yang sempurna.

Dari bibir Jaehyun, hidungnya yang mancung, lalu pipinya.

Tangan Ten beralih ke rambut Jaehyun yang berantakan.

Ia mengusapnya perlahan.

Lembut.

Selama ini dia selalu mengira rambut Jaehyun tidak begitu lembut.

Mungkin karena lelaki tersebut selalu mengatur rambutnya dengan gel rambut.

Ten tidak dapat menahan senyumannya.

Ia memberikan kecupan pada dahi Jaehyun, membuat lelaki tersebut tersadar dari alam tidurnya.

"H, hyung?" Suara Jaehyun terdengar serak.

"Selamat pagi, Jaehyun."

Jaehyun mengerjap untuk beberapa saat lalu memeluk pinggang Ten, "Aku masih mengantuk."

Ia kembali memejamkan mata.

Ten dapat merasakan rambut lembut Jaehyun yang menyentuh kulitnya.

Ten tertawa lalu mengelus rambut Jaehyun, "Maaf, jadinya aku menginap."

Jaehyun menggeleng, "Tidak apa-apa. Hyung pindah kesini saja aku tidak masalah."

"Aku tidak bisa melakukan itu." Ucap Ten.

Seketika Jaehyun mengangkat kepalanya, "Kenapa tidak?"

Ten mendengus, "Lagipula kita baru saja p, pacaran semalam—kenapa kau terburu-buru?"

"Pacaran ya?" Jaehyun terkekeh mendengar ucapan Ten.

"Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktuku bersama hyung." Lanjut Jaehyun.

"Aku tahu, aku juga." Ten menanggapi.

Jaehyun menyingkap selimut yang menutupi bagian bawah Ten lalu menyentuh pahanya perlahan, "Hyung, kau belum memakai boxer-mu ya?"

"Huff—aku tidak ingat." Sebuah desahan meluncur dari bibir Ten.

Jaehyun mendekatkan bibirnya ke paha Ten lalu menggigitnya,

"Jae! Hentikan! Ah—"

"Selamat pagi, Tuan Muda, Ten! Sarapan sudah siap—Oh, apakah aku menganggu kalian?"

Tiba-tiba pintu kamar Jaehyun terbuka lebar dan Nakamoto Yuta muncul dengan nampan di tangan kanannya.

Spontan Ten mendorong tubuh Jaehyun hingga lelaki tersebut terjatuh dari ranjang,

"H, hyung—kenapa kau ini suka sekali mendorong orang lain, sih?" Jaehyun menggerutu.

Dan makanan yang Yuta bawakan untuk keduanya pun berakhir di wajah tampan milik Yuta—sehingga koki di kediaman Jung harus memasakan sarapan lagi untuk Jaehyun dan Ten.

.

Tbc

.

[ Halo! ーーヽ(*'▽)ノ Terimakasih untuk para pembaca yang sudah membaca cerita ini! Aku beberapa dari kalian sudah ada yang menduga kalau mereka akhirnya akan ehem ehem! (〃∇〃Tetapi maafkan aku apabila ketika adegan M-nya sangat mengecewakan karena aku tidak jago menulis beginian huhu!(/TДT)/ Namun setidaknya penantian panjang Jaehyun akhirnya berakhir disini. (。・ε・。) Sekali lagi, terimakasih banyak sudah membaca At·trac·tion hingga chapter ini! (⁼̴̀ .̫ ⁼̴́ )✧ ]