Characters ;
- Jung Jaehyun of NCT
- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT
- Nakamoto Yuta of NCT
Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.
WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~
Selamat membaca!
"Jaehyun—kenapa kau harus melemparkan makanan yang dibawakan Yuta hyung ke wajahnya? Kau kan tidak perlu melakukan itu!" Ten membersihkan sisa-sisa makanan yang berada di wajah Nakamoto Yuta dengan handuk kecil.
"Yuta pasti sengaja melakukan itu untuk mengganggu bulan madu kita. Aku yakin!" Jung Jaehyun berusaha membela diri.
"Kalau ujung-ujungnya Tuan Muda hanya akan membuang makanan seperti ini aku tidak akan mengerjai kalian berdua." Yuta menghela nafas.
"Dengarkan itu hyung! Ia sengaja melakukannya!"
Ten merasakan kepalanya sakit karena komedi dadakan yang terjadi pada pagi itu, "Tadi aku bilang apa, Jaehyun?"
Ten melemparkan tatapan galak, Jaehyun mengerucutkan bibir, "A, aku minta maaf, hyung."
Ten berkacak pinggang, "Bukan ke aku—tapi ke Yuta hyung."
"Hah?" Jaehyun menganga.
"Minta maaf ke Yuta hyung atau aku pulang?"
"I, iya—Yuta, a, aku m, minta m—aaf."
Entah mengapa, suara Jaehyun semakin mengecil.
Yuta menyeringai melihat Jaehyun yang tidak bisa melawan Ten, "Apa, Tuan Muda? Saya tidak bisa mendengarnya!"
Yuta tertawa geli.
Jaehyun mengepalkan tangannya kesal, "K, kau! Mau tanganmu kupatahkan lagi?!"
"Jung Jaehyun!" Ten melipat kedua tangannya di depan dada.
Bahu Jaehyun seketika merosot, "Aku tidak tahu kalau hyung ternyata mengerikan sekali."
"Sepertinya Ten memang cocok menjadi Nyonya baru ketika Tuan Muda sudah mengambil alih Grup Jung." Batin Yuta dalam hati.
.
.
Kalau Ten tidak pernah membayangkan bahwa akan ada hari dimana ketika ia terbangun dan mendapati Jung Jaehyun berada di sisinya, hal itu berbeda dengan apa yang Jaehyun rasakan.
Lelaki tersebut tidak menyangka akan ada hari dimana ia bisa menghabiskan hari yang tenang bersama orang yang ia sukai.
Hari dimana Jaehyun bisa mengendorkan pertahanannya, karena ia harus selalu terjaga dan berhati-hati karena background yang ia miliki.
Apakah ini yang orang biasa rasakan?
Apakah ini yang disebut sebagai—normal?
Jaehyun hanya bisa merasakan perasaan bingung karena semua ini terasa baru untuknya.
"Jaehyun? Apa yang sedang kau pikirkan?" Pertanyaan Ten menyadarkan Jaehyun dari lamunannya.
Ia menoleh ke arah Ten, tersenyum. "Bukan apa-apa."
.
.
Karena hari ini adalah hari Minggu, Jaehyun mengajak Ten untuk makan siang di luar.
Sebelum keduanya menuju ke restaurant yang terletak di kota, Ten meminta Jaehyun untuk mengantarnya terlebih dahulu ke apartement milik Ten karena ia ingin mengganti pakaiannya.
Usai mengganti pakaian, mobil sedan hitam yang dikendarai oleh Ten dan Jaehyun pun melaju ke restaurant.
"Hyung, kenapa kau tidak bekerja di café Taeyong hyung lagi?" Tanya Jaehyun penasaran.
Ten memijit dagunya, "Hmm—aku merasa, aku tidak bisa bekerja disana lagi semenjak kau mengetahui identitasku."
"Memangnya kenapa?" Jaehyun bertanya lagi.
Ten mendengus, "Kau pikir aku masih bisa berkerja seperti biasa setelah apa yang kau lakukan kepadaku?"
Jaehyun menggigit bibirnya, "I, itu—maafkan aku, hyung." Ia menyentuh tangan Ten, menggenggamnya.
"Aku berjanji mulai sekarang aku tidak akan menyakiti hyung lagi seperti dulu. Aku akan memperlakukanmu dengan baik."
Ten mengusap pipi Jaehyun lembut, "Kalau kau menyadari kesalahanmu, baguslah."
Jaehyun memejamkan matanya ketika merasakan sentuhan Ten.
Sentuhan yang hangat, penuh kasih sayang.
Ia tidak pernah merasakannya selama ini. Bahkan kedua orang tuanya tidak pernah menyentuhnya seperti itu.
"Tuan Muda, kita sudah sampai." Ucap Pak Lee dari kursi pengemudi.
Pak Lee bergegas turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Jaehyun dan Ten.
"Terimakasih, Pak Lee." Ucap Ten seraya tersenyum.
Jaehyun menggandeng tangan Ten lalu membawanya masuk ke dalam restaurant.
"Maaf saat ini kami sedang—oh, Tuan Muda! Sudah lama anda tidak berkunjung ke sini!"
Ten mengedarkan pandangannya ke penjuru restaurant.
Penuh. Tidak ada meja yang kosong.
Restaurant itu sepertinya juga dipenuhi oleh orang-orang dari kalangan atas.
"Apakah ada meja yang kosong?" Tanya Jaehyun.
"Tentu saja! Mari ikuti saya."
"Huh?" Ten tersentak ketika mendengar ucapan salah satu pelayan disana.
Meja kosong? Dimana-nya?
Pelayan restaurant tersebut membawa keduanya ke sebuah ruangan VVIP dengan interior yang tidak kalah mewah dengan bagian luar.
Pelayan lainnya pun berdatangan dan menarik dua kursi kemudian mempersilahkan Jaehyun dan Ten untuk duduk.
"Hari ini Tuan Muda ingin makan apa?"
"Apa saja yang penting enak."
"Saya mengerti—mohon ditunggu sebentar."
Bukan perasaan Ten ketika para pelayan di restaurant tersebut memanggil Jaehyun dengan sebutan Tuan Muda seperti anggota-anggota Grup Jung. Hal itu pun membuat Ten penasaran.
"Kenapa pelayan itu memanggilmu Tuan Muda?" Tanya Ten.
"Oh, restaurant ini dimiliki oleh Grup Jung."
"P, pantas saja."
"Kenapa hyung? Apakah hyung ingin pindah ke restaurant lain? Masih banyak restaurant lain yang dimiliki oleh Grupku, kok."
Ten menggeleng, ia memaksakan untuk tersenyum, "Tidak perlu, Jae—!"
"Kalau begitu aku ke toilet sebentar." Jaehyun bangkit lalu berjalan keluar dari ruang VVIP.
.
.
Usai membasuh kedua tangannya, Jung Jaehyun mengambil ponsel yang ia taruh di saku celananya.
"Ponselku dimana ya—"
Tanpa Jaehyun sadari, ia menabrak seorang wanita yang sedang berpapasan dengannya.
Tas genggam yang dibawa oleh wanita itu pun terjatuh,
"Aduh, anak muda—kau ini punya mata tidak?" Wanita tersebut mengeluh.
Jaehyun sedikit terkejut, "Oh, maafkan saya."
Ia segera mengambilkan tas genggam yang tergeletak di lantai.
"Ini tas anda—"
Ketika Jaehyun menyerahkan tas genggam milik wanita tersebut, tubuh Jaehyun seketika membeku ketika melihat wajah sang wanita.
"Terimakasih." Ucap wanita tersebut lalu menatap wajah Jaehyun,
"Oh, fufu—wajahmu tampan juga." Ia tersenyum seraya menyentuh dagu Jaehyun.
Jaehyun segera memundurkan langkahnya, "I, ibu?"
Wanita itu—Nyonya Jung, menaikan sebelah alis, "Ibu? Apa maksudmu, anak muda?"
Jaehyun tidak menjawab. Ia segera bergegas menuju ruang VVIP.
"Hey, kenapa kau tiba-tiba pergi?!"
Samar-samar, Jaehyun dapat mendengar teriakan Ibunya.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia berada disini?
Jantung Jaehyun berdebar cepat.
Ia tidak dapat berpikir jernih.
Melihat Ibunya setelah bertahun-tahun, membuat hati Jaehyun sangat terguncang.
Parfume yang Ibunya gunakan—benar-benar menyengat.
Sampai membuat kepala Jaehyun sakit.
Sentuhan Ibunya—membuat Jaehyun muak.
Jaehyun menghentikan langkah, ia memukul dinding dengan kuat hingga tangannya memerah.
Kenapa ia harus bertemu lagi? Kenapa ia harus muncul ketika Jaehyun sedang bahagia?
"Jung Jaehyun, kau harus tenang—" Jaehyun menutup wajahnya.
Air mata perlahan mengalir dari kedua matanya.
.
.
Ten yang mulai khawatir karena Jaehyun tidak kunjung balik pun memutuskan untuk mencarinya.
Ketika ia baru saja membuka pintu ruangan VVIP, ia mendapati Jaehyun yang terduduk di depan pintu.
"Jaehyun!" Ten segera menghampirinya, "Kau kenapa—? Ada apa dengan tanganmu ini?"
"Hyung." Jaehyun mengangkat kepalanya.
"Aku ingin pergi dari sini." Ia menarik Ten kedalam pelukannya.
Ten terkejut ketika Jaehyun tiba-tiba memeluknya.
"Jaehyun? Kau tidak apa-apa?"
Jaehyun hanya diam. Ia menenggelamkan wajahnya di bahu Ten.
Ten dapat merasakan tubuh Jaehyun bergetar.
Entah mengapa Jaehyun—terlihat begitu lemah sekarang.
Ten membalas pelukan Jaehyun lalu menepuk punggung lelaki tersebut berkali-kali, "Baiklah kalau itu mau mu, ayo kita pergi."
"Hmm? Rupanya kau ini Jung Jaehyun, ya?" Keduanya menoleh ketika mendengar suara wanita yang Jaehyun kenali.
"Bukankah hari ini adalah hari keberuntungaku? Akhirnya aku bisa bertemu dengan putra kesayanganku." Wanita itu—Nyonya Jung menyeringai.
Ten menelan ludah, "J, Jaehyun? Dia?"
Ten tersentak ketika ia menyadari ekspresi Jaehyun berubah menjadi suram.
Nyonya Jung menghampiri Ten dan Jaehyun. Ketika ia berada didekat mereka, Ten dapat mencium bau parfume Nyonya Jung yang sangat menyengat.
Spontan Ten menahan nafas.
"Putraku tersayang." Nyonya Jung mengusap pipi Jaehyun. Perlahan jemarinya turun ke bahu tegap Jaehyun.
"Putraku sudah tumbuh menjadi lelaki yang tampan."
Jaehyun menepis tangan Nyonya Jung, "Jangan sentuh aku!"
Jaehyun segera menarik tangan Ten dan membawanya pergi, "Hyung, ayo kita pergi."
"Jung Jaehyun, ada yang ingin Ibu katakan." Ucap Nyonya Jung membuat langkah Jaehyun terhenti.
Jaehyun melirik Nyonya Jung sekilas, "Aku tidak pernah ingat mempunyai seorang Ibu seperti dirimu."
.
Tbc
.
[ Halo! ーーヽ(*'▽)ノ Terimakasih untuk para pembaca yang sudah membaca chapter terbaru kali ini! Sebenarnya akhir-akhir ini aku sangat sibuk dan aku kehilangan motivasi untuk menulis ╥﹏╥ Maafkan aku jika aku mengecewakan kalian semua dengan sikapku yang kurang bertanggung jawab ini! Mungkin untuk beberapa chapter kedepannya tulisanku akan berbeda dari sebelumnya, atau tidak bisa memenuhi ekspektasi para pembaca karena aku hanyalah manusia biasa (/TДT)/ Tetapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melanjutkan cerita ini hingga selesai. Sekali lagi, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya untuk semua pembaca! ]
