Aku melihatnya dan tahu apa artinya kekalutan dalam diriku;

Dialah satu-satunya,milikku selamanya.

Summary

Taeyong adalah seorang pencinta alam,seorang pria manis yang tak mampu memahami mengapa ia terpuruk begitu jauh memikirkan Jaehyun

Jaehyun berbahanya,tampan dan seorang manusia serigala.


.

.

Warning : It's YAOI! DLDR ! TYPO(s) ! NO BASHING!WOLF!AU!

Cast : Lee Taeyong,Jung Jaehyun, NCT member.

Rated : T+ /nyerempet M/

Disclaimer :

Fanfiction ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul sama seperti judul fanfiction ini 'A Dark Guardian' yang ditulis oleh Rachel Hawthorne.

Ini bukan fanfiction buatan author melainkan hanya sebuah remake dari novel tersebut, author hanya mengubah nama dan beberapa kalimat agar mudah dipahami pembaca.

Ini juga udah pernah di remake sama author jadi FF KaiHun

diharapkan untuk tidak memberikan bashing untuk fanfic ini.

Hope you like this REMAKE story!

OohSehoonie present….

"A DARK GUARDIAN"

.

.

.

.

Perlu diingatkan disini cerita ditulis dengan Taeyong side. Jadi cerita ini berfokus pada apa yang dirasakan oleh Taeyong.

SATU

Taeyong side

Kurang dari dua minggu sebelumnya…

Ketakutan. Rasa itu hidup,bernapas dan bersemayam dalam diriku. Kadang aku dapat merasakannya mencari-cari jalan untuk membebaskan diri. Perasaan itu menyertaiku sekarang ketika Ten dan aku sedang berjalan melewati rimbunan semak hutan menjelang tengah malam. Tapi aku sudah terlatih untuk menyembunyikan rasa panik itu. Aku tak ingin Ten berpikir dia sudah membuat kesalahan ketika dia meyakinkanku untuk bekerja sebagai seorang pemandu hutan bersamanya selama musim panas. Kupikir aku bisa belajar banyak darinya untuk melawan ketakutan dalam diriku. Dia memberi arti dalam petualangan yang benar-benar baru bagiku.

Tetapi, tetap saja, pergi sendirian ke tempat satwa liar yang sedang berkeliaran mencari makanan lezat itu sesuatu yang tidak masuk akal. Bahkan yang lebih tidak masuk akal lagi, kami tidak memberitahu siapa pun. Aku dan Ten pergi diam-diam meninggalkan asrama untuk pemandu hutan setelah lampu dipadamkan, dan itu bisa menjadi alasan kami untuk dipecat. Setelah seminggu menjalani pelatihan intensif, aku sama sekali tak ingin dipecat pada malam sebelum menjalankan tugas pertamaku.

Aku menggenggam senjataku –sebuah senter. Ayah angkatku adalah seorang polisi yang telah mengajariku sekitar seratus cara membunuh orang dengan senter. Oke, ini berlebihan hanya saja, ia telah mengajariku beberapa gerakan bela diri.

Di salah satu sisi yang ditumbuhi pepohonan dan semak lebat, aku mendengar bunyi gemerisik.

"Ssst! Tunggu dulu. Apa itu?" bisikku agak keras

Ten mengarahkan senternya ke pepohonan lalu keatas. Walau bulan sabit menggantung diatas langit, cahayanya tidakk dapat menembus kerimbunan pepohonan disini "Apanya yang apa?"

Cahaya senterku menyorotnya ketika aku mengarahkannya berkeliling. Dia tersentak dan mengangkat sebelah tangan untuk melindungi matanya dari sorotan cahaya senter. Rambut hitam dan halus memantulkan cahaya dan tampak magis. Ten mengingatkankupada sosok kucing,tapi aku tau dibalik sosok yang penuh keimutan itu menyembunyikan kekuatan. Dia pernah menjadi berita utama Koran setempat karena berhasil menyelamatkan seorang anak dari serangan puma dengan menempatkan dirinya ditengah anak kecil dan binatang buas itu lalu berteriak sampai binatang itu melarikan diri.

"Rasanya aku mendengar sesuatu" kataku.

"Seperti apa?"

"Entahlah" Hatiku berdebar sambil sekilas memandang berkeliling. Aku menyukai kegiatan di alam bebas. Tapi malam ini, berada di sini membuatku takut. Aku tak dapat menghilangkan perasaan bahwa aku sedang diawasi.

"Seperti langkah kaki?" tanya Ten lagi

"Bukan seperti tingkah laku manusia. Lebih seperti ringan dan lamban, seperti berjalan memakai kaus kaki- atau mungkin dengan cakar."

Ten begitu saja melingkarkan lengannya ke bahuku yang kecil. Dia sedikit lebih tinggi dariku, dan otot-ototnya kuat terlatih karena sering melakukan hiking dan panjat tebing. Kami berdua bertemu musim panas tahun lalu ketika aku pergi berkemah bersama kedua orangtuaku. Ten menjadi salah satu pemandu kami-atau Sherpa,sebutan yang sering dipakai para petugas kebun raya. Dalam waktu singkat kami saling cocok dan menjalin hubungan persahabatan,saling berkabar selama tahun ajaran itu.

"Kita tidak sedang diikuti" Ten meyakinkan aku.

"Semua orang sudah tidur ketika kita meninggalkan asrama"

"Bagaimana kalau itu binatang buas?" Ketakutan yang kurasakan ini tidak masuk akal. Tapi aku tahu, aku mendengar sesuatu, dan aku tahu itu sesuatu yang tidak bersahabat. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana aku tahu-mungkin ini yang dinamakan indra keenam atau semacamnya.

Tawa Ten menggema di pepohonan.

"Serius Ten, bagaimana dengan puma yang kau usir musim panas lalu?" tanyaku

"Memang kenapa dengannya?"

"Bagaimana kalau dia datang untuk membalas dendam?"

"Kalau begitu dia akan memangsaku, bukan kau. Kecuali kalau dia lapar. Dia akan memakan apa saja yang larinya paling lambat"

Itu pastilah aku, pikirku. Aku bukan pelari yang baik,jujur saja.

"Mungkin sebaiknya kita kembali saja"

Kami berada sekitar satu mil jauhnya dari desa yang terletak di pintu gerbang kebun raya. Ten dan aku menempati sebuah pondok kecil di asrama bersama Hansol,seorang pemandu lainnya. Ketika lampu dipadamkan jam sebelas, tidak seorangpun boleh meninggalkan pondok.

Sekarang Ten mulai menirukan suara ayam.

"Sangat Lucu. Bagaimana kalau kita dipecat?" tanyaku

"Kita hanya akan dipecat kalau ketahuan. Ayo jalan lagi"

"Apa yang sebenarnya mau kau tunjukkan padaku?" Dia hanya bilang padaku kalau dia ingin berbagi 'sesuatu yang istimewa' denganku. Itu sudah cukup membangkitkan rasa ingin tahuku, tetapi itu ketika kami berada di lingkungan desa yang aman.

"Taeyong, kalau kau mau jadi Sherpa, kau harus terhubung dengan jiwa petualangan dalam dirimu. Percayalah,apa yang ingin kutunjukan padamu sepadan dengan resiko kehilangan pekerjaaan,nyawa atau apapun itu"

"Serius?" Apakah dia menghindari pertanyaanku? Kelihatannya begitu. Aku memandang sekeliling dengan curiga

"Sia-sia saja kau bertanya. Ayo terus jalan"

Karena tak ingin ditinggal, terpaksa aku mengikuti langkahnya. Sejauh yang menyangkut diriku, perhatianku selalu penuh. Ketika berumur lima tahun,kedua orang tuaku terbunuh di hutan ini. Orang tua angkatku membawaku kemari musim panas tahun lalu untuk membantu mengatasi trauma ini, mungkin terlambat beberapa tahun untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Kami berkemah di sini sekitar seminggu. Aku mengalami hari yang meyenangkan, tapi aku tak yakin seberapa efektif pengalaman ini membantuku mengatasi masalah traumaku.

Aku memiliki masalah emosional. Itulah sebabnya aku mengikuti terapi, menghabiskan satu jam dengan sia-sia bersama seoarang psikiater bernama Dr. Sooman,yang selalu berkata-kata dengan gaya Yoda –hadapi ketakutanmu,harus– lebih menjengkelkan dan bukannya membantuku. Sungguh, aku lebih memilih menghabiskan waktu bersama seorang dokter gigi.

Mungkin aku hanya membodohi diriku sendiri dengan berpikir bahwa aku cukup berani untuk menghadapi unsur-unsur alam bebas dari hari ke hari. Lagipula, apa sebenarnya yang aku takutkan? Bahkan yang menyerang kedua orang tuaku bukanlah binatang. Mereka ditembak oleh dua pemburu beruang yang mabuk –di dalam hutan secara illegal– yang dengan bodohnya mengira kedua orang tuaku adalah serigala.

Karena kedua pemburu itu, gertakan dan geraman serigala secara teratus hadir dalam setiap mimpiku,membuat malam-malam yang resah dan penderitaan yang membuatku menjerit dalam tidur. Terapi ini dilakukan untuk mencari akar penyebab mimipi burukku. Dr. Sooman berteori bahwa alam bawah sadarku berusaha mencari kebenaran bagaimana kedua orang idiot itu menembak orang tuaku dan kemudian dengan muka polos, memberitahu pihak berwajid, "Mereka itu serigala, demi Tuhan, itu benar. Mereka akan memangsa gadis kecil itu"

Gadis kecil itu, tentu saja kau. Segala sesuatu yang terjadi pada siang hari yang sudah lama berlalu itu sangatlah kabur. Segalanya, kecuali kedua orang tuaku yang terbaring tak bernyawa di hutan.

Di belakangku, semak-semak bergemerisik. Aku menghentikan langkah. Bulu kudukku meremang. Kuusapkan tanganku ke belakang leherku. Tubuhku gemetar dan lenganku merinding.

Aku merasa, jika berbalik aku akan melihatnya. Apapun itu, sedang mengawasi kami sekarang

Ten kembali bertanya "Ada apalagi sekarang?"

"Ada yang mengawasi kita," bisikku "Aku bisa merasakannya"

Kali ini Ten tak menganggapku bercanda, dia memandang berkeliling. "Mungkin burung hantu yang sedang mencari mangsa"

"Mungkin, tapi ini rasanya lebih seram"

"Aku tumbuh besar disini, dan aku sudah banyak melewati waktuku di hutan ini. Tidak ada yang perlu ditakutkan disini"

"Bagaimana dengan puma itu?"

"Itu jauh di belantara. Disini masih dalam lingkungan peradaban. Di beberapa tempat kita masih bisa menerinya sinyal telepon genggam" dia menarik tanganku

"Seratus langkah lagi kita sampai. Cepatlah"

Aku mengikutinya lagi, namun tetap siaga. Ada sesuatu. Aku yakin itu. Bukan burung hantu ataupun binatang lain. Bukan sesuatu di pepohonan, bukan sesuatu yang kecil. Tetapi sesuatu yang mengintai mangsanya.

Rasa ngeri merayapi diriku. Mangsa? Kenapa aku memikirkan itu. Tapi itu benar. Itu yang kurasakan. Sesuatu sedang mengawasi dan menunggu. Tapi mengawasi siapa tepatnya? Dan menunggu apa?

Berapa langkah lagi? Empat puluh? Bodoh sekali keluar tanpa memberitahu siapa-siapa. Kalau sampai ketahuan orangtuaku,mereka bisa membunuhku. Aku sudah berjanji untuk bertanggung jawab. Ini adalah pertama kalinya aku jauh dari mereka, dan ibu angkatku telah menceramahiku sampai bosan agar berhati-hati.

Jauh di depan sana, cahaya terang yang menembus dedaunan menarik perhatianku "Apa itu?"

"Itulah yang mau kutunjukkan padamu"

Kami melewati pepohonan dan menuju tempat terbuka, yang diterangi api unggun. Sebelum sempat menanyakan pertanyaan lain, selusin remaja –sherpa lain –melompat keluar dari balik pohon. "Surprise!" teriak mereka. "Selamat ulang tahun!"

Jantungku hampir copot. Aku menekankan sebelah tanganku ke dada dan tertawa, untunglah tidak terdengar histeris. " Ulang tahunku bukan sekarang"

"Besok kan?" tanya Johnny, dia menyingkirkan rambut blonde pirangya dari kening,kemudian mengangkat tangan yang dilingkari jam tangan. " Dalam sepuluh detik, Sembilan, delapan–"

Anak-anak yang lain ikut menghitung. Aku bisa melihat mereka semua dengan jelas,bediri di depan api unggun. Tak jauh dari Johnny ada Yuta, pemuda berambut hitam lurus. Anak itu tidak banyak bicara, aku kaget melihatnya ikut menghitung.

"Tujuh,enam-"

Disampingnya, ada Hansol, dia telah tidur saat kami pergi, mungkin pura-pura tidur. Aku baru menyadarinya. Yah, berusaha menipuku dan dia berhasil. Bagaimana dia bisa sampai disini lebih cepat daripada kami? Aku bertanya-tanya.

Ada beberapa Sherpa lain,yang pernah bertemu denganku tapi tak akrab. Tetap saja, itu sangat besar artinya buatku karena mereka mau muncul dan menjadikan malam ini istimewa.

"Lima,empat-"

Di sekolah, aku selalu merasa seperti orang tersingkir. Anak yatim piatu. Anak adopsi. Satu-satunya orang yang bukan menjadi bagian dari mereka. Kim Youngwoon dan Kim Heechul telah memungutku. Mereka bukanlah orang tua tiri yang jahat atau semacamnya, tetapi tetap saja mereka tidak selalu memahamiku. Lagi pula memangnya ada orangtua yang benar-benar memahami anaknya?

"Tiga, dua,satu. Selamat ulang tahun!"

Johnny bergerak ke sisi lain api unggun dan membungkukkan badan. Api menyala. Lalu sebuah petasan berbentuk roket meluncur ke angkasa, meletus membentuk kilau merah,putih,biru dan hijau.

Aku yakin sekali kembang api adalah barang illegal di hutan lindung ini. tapi, aku terlalu senang untuk memperdulikan itu. Lagipula, aku bebas dari larangan orangtuaku selama musim panas ini.

"Aku masih tidak percaya kalian ingat hari ulang tahunku" aku sangat terharu. Bahkan teman-temanku yang sangat sedikit di kota tak pernah sekalipun mengadakan pesta kejutan untukku. Aku tak pernah memikirkannya karena orangtua kandungku meninggal pada hari ulang tahunku, jadi pada hari istimewahku ini perasaanku selalu campur aduk.

"Hari ulang tahun itu penting!" kata Ten."Terutama kali ini. Sweet seventeen!"

Hansol mengulurkan sebuah nampan berisi tujuh belas cupcake yang dibeli di toko, dengan satu lilin di atas setiap kue yang menebarkan cahaya kuning

"Aku suka cupcake" kataku "terutama yang belum dikemas dan terbuat dari aneka bahan dengan krim di tengah-nya"

"Katakan permohonanmu dan tiup lilinnya"

Aku menarik napas dan menunduk,saat itulah aku melihatnya

Jung Jaehyun.

Dia bersandar pada sebatang pohon sambil melipat tangan, hampir tertelan bayangan pohon seakan dia memang tak mau terlihat. Tapi aura keberadaanya sangat kuat, membuatku kaget karena tak tak menyadarinya sampai sejauh ini. matanya memancarkan sinar dalam kegelapan. Seperti biasa, dia mengawasiku dengan seksama.

Jaehyun membuatku takut. Bukan,apa yang kurasakan terhadapnyalah yang membuatku takut. Ada ketertarikan yang tak dapat kujelaskan. Sebelumnya, aku pernah tergila-gila pada lelaki, tapi apa yang kurasakan padanya jauh melebihi itu. Rasanya sangat kuat, hampir meluap-luap. Ini memalukan, karena jelas ia tak punya perasaan yang sama.

Kalaupun ada, dia cenderung menghindari hubungan langsung denganku. Aku berusaha mengubur perasaanku, tapi setiap memandangnya, perasaan itu muncul lagi dan aku yakin dia akan melihat dalam mataku, apa yang dengan susah payah kukendalikan.

"Ayo, tiup lilinnya" ujar Johnny

Aku mulai mengucapkan permohonanku asal kemudian meniup lilinya

"Silahkan" kata Hansol sambil mengulurkan sebuah cupcake padaku "Maaf ini tidak resmi, tapi lebih mudah disajikan di hutan begini"

"Ini hebat" kataku berseri-seri "Aku bahkan tidak mengharapkan apa-apa"

"Kami suka kejutan" kata Ten. "Tapi kalian seharusnya lebih tenang saat kemari. Dia mendengar kalian. Hampir saja semua berantakan"

Dengan bercanda aku memukul lengan Ten. "jadi itu yang kudengar tadi?" kelegaan menyelimuti diriku

"Nah,ya seharusnya mereka sudah tidur saat kita pergi, jadi kau tidak curiga, tetapi mereka harus bergegas mendahului untuk menyiapkan semuanya. Dan mengerjakannya dengan tenang"

"Tapi aku mendengar sesuatu di belakang kita, tepat sebelum kita sampai disini"

"Seperti apa?" tanya Jaehyun sambil melangkah dari pohon

Saat mendapatkan perhatian penuh darinya seperti saat ini, tiba-tiba saja aku merasa bodoh dengan kekhawatiranku "Aku yakin itu bukan apa-apa"

"Lalu kenapa mengungkitnya?"

"Bukan aku. Ten yang mengungkitnya"

Aku tau setiap pria dan para gadis akan mengharapkan perhatiannya. Jadi kenapa ia membuatku gugup? Kenapa kemampuan berbicaraku menurun ketika ada dia?

"Tenang, Jaehyun" kata Johnny "Itu kemungkinan kami. Kau tau kan? Ketika berusaha tenang kita malah biasanya membuat keributan"

Namun Jaehyun menatap kearah kedatangan kami tadi. Kalau aku tidak begitu tahu, aku akan mengira dia mengendus udara. Cuping hidungnya melebar dan dadanya mengembang seiring napas yang ditariknya. "Mungkin aku akan memeriksa sekeliling untuk memastikan"

Aku tahu dia berusia sembilan belas tahun, namun ia terlihat lebih dewasa. Mungkin karena ia adalah senior, jadi dia bertanggung jawab atas kelompoknya

"Sekarang kamu sama paranoidnya dengan Taeyong" ucap Ten "Ayo ambil cupcakenya dan duduklah"

Namun Jaehyun tetap diam, dia memandangi jalan yang baru saja kami lewati. Memang aneh, tapi apapun itu Jaehyun akan melindungi kami.

Balok-balok kayi ditempatkan di sekeliling api, aku duduk di atas salah satunya dan memandangi Jaehyun.

"Jadi, apa yang diberikan orangtuamu pada hari ulang tahunmu?" tanya Hansol yang mengembalikan perhatianku pada yang lain. Untung saja mereka tak menyadari perhatianku pada Jaehyun

"Musim panas yang jauh dari mereka" aku menyeringai

"Mereka tidak terlihat seburuk itu saat aku ketemu mereka tahun lalu" kata Ten

"Memang tidak" aku mengakuinya "Mereka cukup menyenangkan" Tapi mereka bukan orang tua kandungku.

"Jadi apa yang mereka berikan padamu?" Hansol masih ngotot

"Semua peralatan yang kau butuhkan untuk melakukan perjalanan menembus belantara selama musim panas"

"Bukan mobil?" tanya Hansol

Aku menggeleng

"Kendaraan?"

"Apa bedanya itu?" tanya Johnny "Mobil tidak diijjinkan di kebun raya"

Hansol meliriknya "Memang"

"Adakah yang memikirkan kalau kelompok yang kita pandu besok sedikit aneh?" tanya Yuta

Selama beberapa menit siang tadi, kami semua bertemu dengan , anak lelakinya dan beberapa mahasiswanya. Kami akan menemani mereka ke dalam hutan dan meninggalkan mereka selama dua minggu sebelum menjemput mereka kembali. Mereka mengatakan ingin melihat serigala.

"Aneh bagaimana?" tanyaku

"Dr. Youngmin adalah ahli antropologi," kata Yuta "Kenapa ingin mempelajari serigala?"

"Serigala jelas lebih menarik daripada manusia," kata Ten "Ingat anak-anak serigala yang kita temukan saat kau pulang untuk liburan musim semi,Jaehyun?"

"Ya"

Jaehyun jelas orang yang sangat jarang berbicara,yang membuat dirinya semakin menarik dan menakutkan. Sulit untuk mengetahui pendapatnya tentang sesuatu. Pendapatnya tentang aku.

"Mereka sangat lucu" lanjut Ten, sama sekali tak terganggu dengan sambutan Jaehyun yang kurang bersemangat pada topik ini. "Yatim piatu. Tiga ekor. Kami akan mengadopsi mereka sampai mereka bisa hidup mandiri"

Sherpa lain telah berkerja di kebun raya selama kurang lebih setahun. Harusnya aku merasa seperti orang luar, hanya saja sesuatu dalam kelompok ini membuatku merasa adalah bagian dari mereka.

Jaehyun bergerak menjauh dari pohonnya "Sebaiknya kita kembali"

"Kau benar-benar perusak suasana" gerutu Ten

"Kau akan berterima kasih padaku besok pagi ketika kau sudah harus siap berangkat pagi-pagi buta"

Semua orang mengerang begitu diingatkan harus bangun pagi-pagi sekali. Beberapa mulai memadamkan api dan menyalakan senter.

Aku mengucapkan terima kasih pada semuanya "Ini kejutan ulang tahun yang hebat"

"Yah, tidak tiap hari kau berumur tujuh belas tahun" ujar Ten "Kami hanya ingin melakukan sesuatu yang istimewa sebelum kami sibuk dengan kehidupan"

Aku tertawa menanggapi gurauannya "Tidak akan seburuk itu"

"Kelompok Youngmin ingin pergi jauh ke dalam hutan, ke tempat yang belum pernah kita jelajahi. Medannya akan berat dan kita didorong sampai batasnya" ujar Hansol

Pasti. Pikirku.

"Jangan khawatir" kata Ten padaku "Kamu pasti bisa"

"Aku berencana melakukan yang terbaik"

Kami kembali melewati jalan yang tadi kulewati. Yuta berjalan paling depan, dan semua Sherpa berjalan menyebar di antara dia dan aku, kecuali Jaehyun. Dia mengikuti dari belakang kelompok kami, tepat di belakangku. Lagi-lagi aku merasa diawasi, rasa ngeri menjalariku

"Ada apa?" tanya Jaehyun

Bagaimana dia bisa tahu ada yang tidak beres?

"Hanya perasaan aneh bahwa kita tidak sendirian"

"Yah,aku juga merasakannya" katanya, dengan suara pelan

"Mungkin itu serigala-serigala yang kau selamatkan?"

"Aku meragukannya. Pintu masuk kebun raya terlalu dekat dengan pemukiman. Kebanyakan satwa liar hidup jauh di dalam hutan"

Sama seperti yang dikatakan Ten tentang puma, tapi tetap saja binatang tidak selalu dapat ditebak.

Semua berjalan dalam diam, mendengarkan dengan seksama sepanjang perjalanan. Cahaya senter menebarkan sinar suram dalam kegelapan. Aku benar-benar sadar Jaehyun mengikuti sangat dekat di belakangku. Bukan karena aku bisa mendengarkannya –langkah kakinya tanpa suara. Tapi aku merasakan kedekatannya seolah dia menyentuhku.

Aku bersyukur karena semua orang mempercepat langkahnya, akhirnya kami keluar dari hutan dan memasuki desa.

Aku tertawa gugup "Tolong katakana padaku kalau Sherpa tidak sering melakukan hiking malam-malam"

"Hampir tidak pernah" jawab Yuta "tapi aku juga merasakan sesuatu"

"Kalau berbahaya, dia pasti menyerang" ujar Johnny "Mungkin itu kelinci atau semacamnya"

"Apapun itu, dia sudah pergi sekarang" tambah Jaehyun "Sebaiknya kita pergi tidur"

Yuta dan Johnny berjalan ke pondok mereka. Namun Jaehyun terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya dia berkata padaku

"Selamat ulang tahun, Taeyong"

"Oh, terima kasih" kata-katanya hampir sama mengejutkan dengan pesta tadi.

Tampaknya ia ingin mengucapkan sesuatu yang lain, namun ia hanya memasukkan tangan ke celananya dan melangkah pergi. Aku hanya mengangkat bahu.

Ten,Hansol dan aku kembali ke pondok kami, sesaat sebelum tidur Ten tiba-tiba berbicara padaku "Tae, apa permohonanmu tadi?"

Pipiku memerah, "Kalau aku memberitahumu,permintaanku tidak akan terkabul kan?"

Aku sendiri tak yakin dengan permohonanku. Sekarang permohonan itu menghantuiku terus menerus.

Aku ingin Jaehyun menciumku

.

.

.

.

.

TBC


.

Buat reader, bisa bantu author nentuin warna rambut yang kalian suka buat jadi warna rambut si Taeyong? Kalo author sendiri maunya warna ungu pink putih gitu, kayak warna rambut Taeyong waktu jaman NCT Life in Paju, soalnya nanti disini warna rambut mereka itu yang bakal nentuin warna bulu mereka. Kan ga asik aja kalo warna rambut Taeyong jadi item, nanti bulunya juga jadi hitem. Jadi, kalo yang berniat ngasi saran warna rambut TY bisa DM/review ya~

-Balasan Review-

Jilly Choi, Deen , CaratARMYmonbebe , ExileZee, , kiddos, almirasavita , SHINeexo, JaeMinhyung, LM: ini udah lanjut kok, happy reading ya~

Ddis : iya sih, cuman waktu nulis kepikiran ngebuat warna rambut si TY itu putih, soalnya biar nanti bulunya putih bersih gitu. Tapi sekarang author mau ngeganti jadi kayak gaya rambut TY di NCT Life in Paju, kalo menurut kamu bagusan yang mana?

.

Ini bakalan ada 17 chapter sesuai dengan novelnya.. alurnya juga terkesan lambat jadi kalau ada reader yang merasa bosan tinggal ketik aja di kotak saran dan author akan memperbaiki untuk chapter selanjutnya… kalau fanfic ini bisa di update seminggu sekali lah. Tapi, kalau fanfic lain author kagak janji deh. Soalnya lagi mau nyari kuliah.

Btw, adakah yang pernah baca novel ini?

Sekian dari author kali ini.

Ppyong ^^~

.

.

.