Aku melihatnya dan tahu apa artinya kekalutan dalam diriku;
Dialah satu-satunya,milikku selamanya.
Summary
Taeyong adalah seorang pencinta alam,seorang pria manis yang tak mampu memahami mengapa ia terpuruk begitu jauh memikirkan Jaehyun
Jaehyun berbahanya,tampan dan seorang manusia serigala.
.
.
Warning : It's YAOI! DLDR ! TYPO(s) ! NO BASHING!WOLF!AU!
Cast : Lee Taeyong,Jung Jaehyun, NCT member.
Rated : T+ /nyerempet M/
Disclaimer :
Fanfiction ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul sama seperti judul fanfiction ini 'A Dark Guardian' yang ditulis oleh Rachel Hawthorne.
Ini bukan fanfiction buatan author melainkan hanya sebuah remake dari novel tersebut, author hanya mengubah nama dan beberapa kalimat agar mudah dipahami pembaca.
Ini juga udah pernah di remake sama author jadi FF KaiHun
diharapkan untuk tidak memberikan bashing untuk fanfic ini.
Hope you like this REMAKE story!
OohSehoonie present….
"A DARK GUARDIAN"
.
.
.
.
Perlu diingatkan disini cerita ditulis dengan Taeyong side. Jadi cerita ini berfokus pada apa yang dirasakan oleh Taeyong.
SATU
Taeyong side
Aku meringkuk di tempat yang sempit dan gelap. Masih kecil, masih anak-anak. Aku mendekapkan kedua tangan ke mulutku agar tidak mengeluarkan suara. Aku tahu kalau sampai bersuara sedikit saja, mereka akan menemukanku. Aku tidak ingin mereka menemukanku. Air mata membasahi wajahku. Dan aku menggigil.
Mereka ada di luar sana. Itulah sebabnya aku bersembunyi dalam kegelapan. Tidak ada yang bisa menemukanku disini.
Lalu aku melihat cahaya itu, semakin dekat dan dekat. Lalu monster itu menarikku-
Aku terbangun sambil menjerit dan meronta-ronta. Memukul sesuatu dan menejerit lagi.
"Hei,ini aku!" seru Ten sambil memegangi tanganku
Lampu yang berada di atas meja di samping tempat tidurku menyala. Di luar masih gelap. Ten berdiri di antara tempat tidurku dan tempat tidurnya,ketakutan terlihat di wajahnya.
"Ada apa?" tanyanya.
Aku menghapus air mataku "Hanya mimpi buruk"
"Suaramu terdengar seperti akan dibunuh" ujar Hansol sambil duduk di tempat tidurnya. Memandangiku seolah aku monster di mimpi burukku
Aku menggeleng. "Bukan aku. Orang tuaku. Ceritanya panjang" kataku enggan
"Tidak apa. Itu masalah pribadi, aku mengerti" kata Hansol
Aku lega karena dia mau mengerti kalau aku tak ingin menceritakannya. Sedangkan Ten duduk diatas tempat tidurku dan memelukku erat. Dia tau mengenai kisahku, aku menceritakan semua padanya tahun lalu, seiring eratnya persahabatan kami berjalan.
"Kau yakin akan baik-baik saja saat membawa para pengunjung ke hutan besok?" tanya Ten "Kita bisa keluar dan menunggu kelompok berikutnya"
"Tidak" aku menggeleng dengan cepat "Aku harus menghadapi ketakutanku, dan masuk kedalam hutan adalah bagian dari itu. Aku akan baik-baik saja"
"Kami selalu ada disisimu. Jangan khawatir" dia melirik ke arah Hansol
Hansol mengangguk " Ya, benar. Sherpa selalu bersatu"
"Terima kasih" aku menghela napas.
Ten kembali ke tempat tidur "Apa kau mau lampunya tetap menyala?"
Aku menggeleng lagi "Aku sudah merasa tenang sekarang" atau setidaknya berusaha tenang semampuku.
Ten mematikan lampu dan aku meringkuk di balik selimut, berharap bisa mengerti apa yang sebenarnya menggangguku. Orang tua angkatku tidak dapat menjelaskannya.
Psikiaterku tidak dapat memecahkannya. Tapi sejak aku kembali ke hutan ini, apa pun itu, tampaknya semakin kuat daripada sebelumnya. Sebagian diriku ingin tahu apakah ini ada hubungannya dengan yang terjadi pada orangtua kandungku
Keesokan paginya ketika aku terbangun,sisa-sisa mimpiku masih menghantuiku. Aku memaksa pikiranku untuk memikirkan hal-hal lain.
Ulang tahunku.
Aku tidak merasa lebih tua. Untuk beberapa alasan kupikir aku akan merasa lebih berpengalaman, tapi sebaliknya, aku tetap merasa seperti diriku yang dulu.
Cahaya redup menembus tirai jendela. Fajar sedang terbit di ufuk timur. Hari pertamaku sebagai Sherpa dengan tugas yang nyata. Aku akan memulai petualangan pertama pada musim panasku, dan aku sudah tidak sabar menunggu.
Minggu lalu aku sudah melalui semua jenis persiapan dan pelatihan. Perjalanan pertama ini akan menjadi ujianku. Aku menyalakan lampu dan Ten mengerang lalu membenamkan kepalanya di balik bantal, menggumamkan sesuatu yang kuartikan sebagai usiran padaku.
"Jangan pedulikan dia" kata Hansol saat dia bangun dari tempat tidurnya dan mulai melakukan push-up. "Dia akan terbaring di tempat tidur sepanjang hari kalau dia bisa"
"Kupikir dia menyukai hutan"
"Pikiranmu salah" Hansol berdiri dan meregangkan badan. "Dia cukup menyukai hutan, tapi dia memilih tidak berada disana"
Aku melirik Ten. Dia tidak pernah mengatakan padaku tentang ini "Lalu kenapa dia disini?"
"Itu wajar, kalau kau dibesarkan di sekitar sini, kau ditakdirkan untuk menjadi Sherpa selama musim panas"
"Dan kalian semua besar disini?"
"Di Tarrant, jalan sebelah sana itu"
Jalan yang selalu dilewati jika menuju kebun raya ini. Tarrant seperti kota kecil lainnya di Amerika "Jadi dalam kelompok kecil kita, kalian semua teman?"
"Sebagian besar, ya. Jaehyun,Yuta dan Johnny masuk ke perguruan tinggi tahun lalu. Ten dan aku masih harus menyelesaikan SMA setahun lagi. Nantinya kami juga akan meninggalkan kota ini"
"Sepertinya semua orang sudah tak sabar untuk segera meninggalkan rumah"
"Bukankah itu sebabnya kau berada disini?"
Aku mengangguk. Tetapi sebenarnya lebih dari itu. Aku suka camping tapi belakangan ini aku hanya ingin berada di alam bebas. "Seharusnya aku merasa seperti orang luar, tapi nyatanya tidak sama sekali"
Hannsol mengangkat bahu. "Taeyong, kau sudah menjadi bagian dari kami"
Aku tersenyum mengingat semua pelatihan yang sudah kulewati "Yang pasti aku adalah Sherpa"
Hansol hanya tersenyum sebelum berkata ia akan mandi terlebih dahulu.
Aku mengawasinya berjalan ke kamar mandi. Tubuhnya benar-benar terbentuk. Dan itu sedikit mengintimidasi, jika dibandingkan dengannya, aku sangatlah pendek dan kurus. Aku berharap dengan membawa beban dan hiking selama musim panas akan membuat tubuhku lebih berotot.
"Sudah siap menjalani hari pertamamu sebagai Sherpa, Tae?" tanya Ten sambil duduk dan menggaruk pipinya
"Jujur saja, aku takut Ten"
"Kenapa? Kau hebat dalam semua latihan" Ten menatapku tak percaya
"Ya, tapi semua itu terjadi di dalam lingkungan yang terkendali. Segalanya bisa berubah buruk dalam dunia nyata"
"Kau bisa melewatinya dengan baik"
Hansol keluar dari kamar mandi, "Kalian tau, kita harus melapor dalam sepuluh menit kedepan"
"Sial" aku buru-buru ke kamar mandi
Aku ingin mandi berlama-lama,membiarkan airnya sepanas aku sanggup menahannya, karena tahu ini akan menjadi hari terakhir untuk beberapa hari ke depan. Tapi, aku tidak punya waktu lagi.
Setelah mandi, aku segera memakai baju dan memakai kembali kalung timah yang selalu kulepas saat mandi. Kalung berbentuk simpul bulat dengan untaian yang terpilin. Seseorang pernah memberitahuku bahwa itu adalah simbol Celtic untuk pelindung. Tadinya kalung ini milik ibuku,kadang benda ini membuatku seakan sedang diawasi ibuku.
Saat aku melangkah keluar dari kamar mandi, Hansol sudah pergi sedangkan Ten sedang memeriksa kembali barang bawaannya. Dia lalu membantuku membetulkan letak ransel di punggung dan bahuku.
"Kalau terlalu berat,bilang saja pada Jaehyun, dia bisa memindahkan isinya pada yang lain"
"Aku bukan anak yang lemah. Aku bisa membawa barangku sendiri"
"Aku hanya mengingatkan. Tahun lalu barangmu banyak yang dibawakan oleh Sherpa"
"Tapi, tahun ini aku adalah Sherpa"
"Kau keras kepala ternyata" gerutu Ten sambil berjalan keluar.
Aku menggigil begitu keluar dari pondok dan disergap udara pagi yang dingin. Para peserta dan pemandu berkumpul di tengah-tengah desa kecil itu. Desa itu terletak di dalam kawasan hutan lindung. Disitu ada pangkalan penjaga hutan,pos kecil pertolongan pertama,toko peralatan camping, dan kafe kecil. Itu juga menjadi tempat pemberhentian terakhir untuk melengkapi semua kebutuhan sebelum memulai perjalanan.
Aku membenarkan letak ranselku,menarik nafas dalam-dalam, dan melangkah menuju kelompok yang sedang berkumpul.
Dr. Youngmin , anak lelakinya, dan beberapa mahasiswa akan melakukan hiking ke hutan. Enam Sherpa akan mengiringi kelompok mereka. Jumlah yang terlalu banyak untuk kelompok sekecil ini, namun membawa banyak perlengkapan khusus yang dia butuhkan untuk mengajar para muridnya.
Sesorang dari kelompok itu mendekat. "Hai,Taeyong" dia memanggilku sambil tersenyum lebar ketika menghampiriku.
Ten hanya mengangkat alisnya,memandangku penuh tanda tanya dan terus melangkah, sementara aku berhenti untuk berbicara dengan Chanyeol. Dia bukan hanya seorang mahasiswa tapi juga anak dari Dr. Youngmin. Aku sudah bertemu dia kemarin. Dia sangat tampan.
"Halo Chanyeol" balasku
"Aku khawatir kau tidak ikut"
Dia punya banyak energi yang menambah kegembiraanku untuk menghadapi petualangan yang ada di depan mata.
Aku menggeleng "Hanya terlambat bangun"
"Perjalanan ini akan sangat menyenangkan"
"Kau sering hiking ke pedalaman?"
"Tentu. Tidak disini, tapi ayah dan aku pernah mengunjungi hutan lindung lain. Kami juga sering hiking di Eropa"
"Jadi kau dekat dengan ayahmu?"
Chanyeol mengangkat bahunya. "Kadang-kadang. Maksudku,dia tetap orangtuaku, kau mengerti? Dan penasihat sekolahku, ditambah lagi dia memperlakukanku seperti anak kecil"
Aku tersenyum "Ceritakan padaku tentang itu"
"Mungkin. Nanti malam saja" Chanyeol tertunduk seolah tiba-tiba merasa tidak nyaman. Sikapnya mengingatkanku pada seseorang yang pernah mengajakku kencan .
"Anak Kota, kau bersamaku"
Oke, aku tak tahu kenapa bisa tahu kalau perintah itu ditujukan padaku. Tidak seorang pun yang memanggilku dengan julukan 'Anak Kota'. Mungkin karena aku mengenal suaranya. Atau mungkin karena terdengar begitu dekat. Aku berusaha mengendalikan perasaaan saat berbalik untuk menghadapi Jaehyun
"Maaf? Anak Kota?"
"Kau berasal dari kota, bukan?"
"Ya, kurasa Dallas bisa disebut kota. Dan kenapa aku harus berjalan bersamamu?"
Jaehyun mengangkat tansel ke bahunya. Ukurannya dua kali punyaku. Aku pasti sudah membungkuk,namun dia berdiri tegak seakan itu tidak ada apa-apanya. "Karena kau anak baru dan aku perlu tahu kemampuanmu. Kita akan berasa di depan"
Yah, aku memang anak baru, tapi aku tidak cukup bodoh untuk membantah sebuah perintah sebelum kami berangkat. Dia bisa dengan mudah mengatakan kalau aku terlalu bermasalah dan meninggalkan aku disini. Aku benci karena Jaehyun punya begitu banyak kekuasaaan dan tidak sungkan memanfaatkannya. Jelas-jelas aku bermasalah dengan penguasa.
Aku memberinya hormat penuh sindiran. Yang membuatku terkejut, bibirnya berkedut seolah dia sedang menahan senyum, bukankah itu menarik?
"Kalungmu menarik. Itu simbol Celtic untuk pelindung" katanya pelan
Aku menyentuh kalungku, "Ya,begitulah yang kudengar. Tadinya ini milik ibuku"
"Kedengarannya sangat istimewa" dia menatapku lekat. Seolah disana hanya ada kami berdua. Entah kenapa aku sangat ingin menciumnya. Tatapannya jatuh ke bibirku seakan dia sedang memikirkan hal yang sama.
Tiba-tiba ia kelihatan marah, mungkin karena Chanyeol bahkan tidak berusaha untuk menyembunyikan kenyataan bahwa ia sedang mengawasi kami dengan penasaran.
"Temui aku di depan lima menit lagi," bentar Jaehyun tiba-tiba, lalu melemparkan pandangan tidak bersahabat pada Chanyeol "Pastikan kau tetap dekat dengan seorang pemandu, Chanyeol. Kalau kau tidak ingin tersesat"
"Siapa yang menugaskan dia sebagai penanggung jawab?" gerutu Chanyeol saat Jaehyun pergi
"Penjaga hutan kurasa, Jaehyun pastilah sangat hebat. Kudengar dia menemukan satu keluarga yang tesesat musim panas lalu. Ketika yang lain tidak bisa menemukannya"
"Bernarkah? Bagaimana caranya?"
"Mengikuti jejak atau semacamnya. Kau harus bertanya padanya"
"Ya, kalau dia mau mengatakan sesuatu padaku"
"Kau bermasalah dengan Jaehyum?"
"Belum, tapi aku tak akan kaget jika itu terjadi"
"Sebaiknya aku pergi sekarang"
Dia menyentuh tanganku sesaat. "Hm, aku punya sesuatu untukmu," dia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah bingkisan kecil dan mengulurkannya padaku. "Selamat ulang tahun"
Aku memandangnya kaget. "Bagaimana kau bisa tahu?"
Pipinya memerah, "Semalam, aku tidak bisa tidur, aku berjalan-jalan keluar dan melihat pesta kalian"
Apa dia yang mengikuti kami? Apakah yang kudengar itu Chanyeol? "Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu dan bergabung dengan kami?"
"Aku bukan perusak pesta, bukalah"
Aku membukanya. Sebuah jalinan gelang kulit. "Oh, terima kasih. Aku menyukainya" Aku memandangnya berseri-seri
Dia semakin malu. "Tidak banyak pilihan yang tersedia di toko sekitar sini. Kebanyakan peralatan camping dan cinderamata murahan"
"Ini sangat bagus" aku mencoba meyakinkannya, sebelum memakai gelang itu di tanganku.
"Mungkin kita bisa bersama-sama nanti" katanya.
Ini bukannya kita akan bersama-sama nanti lalu berkencan. Kami cukup dibatasi untuk tidak meninggalkan kelompok, tetapi kami masih bisa bersenang-senang. "Ya, tentu saja"
Lalu aku menyusul Jaehyun. Hari pertama dan aku telah dibingungkan oleh banyak hal.
Ketertarikanku pada Jaehyun dan perhatianku pada Chanyeol. Chanyeol jelas lebih aman diantara keduanya.
Pertanyaanya adalah, apakah aku mau aman?
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Halo reader sekalian~
Ini updatenya kecepetan atau terlalu lama? Menurut kalian enaknya update berapa hari sekali? Jujur aja author udah nyelesaiin FF ini sampe tamat. Tinggal di edit warna rambutnya aja sesuai vote kalian dan tinggal post aja.
Btw, adakah yang ngeliat JaeYong moment yang lagi heboh di medsos? Itu, yang katanya si Jaehyun sama Taeyong diem-diem ketemuan di balkon kamar atau apa gitu. Katanya sih itu di Chiang Mai pas syuting NCT Life, cuma anehnya mereka ketemuannya di luar terus malem-malem. Gak tau itu bener atau enggak, katanya sih yang ngefoto itu sasaeng fansnya mereka dan di post sama salah satu fanspage Thailand. Menurut kalian itu beneran Jaehyun sama Taeyong gak? Kalo author sih berharapnya beneran, soalnya yang rambut item itu mirip banget sama Taeyong walaupun kualitas gambarnya ga terlalu bagus, terus yang rambut coklat itu rambutnya mirip banget sama si Jaehyun.
Balasan Review
Ddis : yaudah nanti diliat dulu ya mana yang paling banyak di vote, soalnya banyak yang minta ungu putih juga sih, eheheh. Di chapter kali ini gimana? Author udah coba ganti beberapa kalimat biar jadi kayak kalimat ff biasanya.
Jilly Choi : Iya author juga aminin doa si Taeyong kok
Park RinHyun-Uchiha : Iya, rencananya author juga mau bikin kayak gitu, Cuma masih harus ngeliat dulu banyakan ngevote yang mana. Si Taeyong emang udah ga sabar ya dari awal minta dicium mulu.
: orang ganteng mah bebas ya (?)
JaeMinhyung : iya ini author lagi nunggu vote dari reader, kalo banyak yang milih kayak gitu nanti author kabulin kok. Ini udah cepet kan updatenya? Happy reading ya
SHINeexo : Iya, ungu putih jadi si Taeyong kayak manis-manis dimana gitu. Ahahaha. Keep reading ya
LDHLTY151 : Nanti seiring cerita berjalan kamu bakalan tau kok. Si Jaehyun emang misterius gitu tapi tenang aja endingnya bakalan tetep JaeYong kok.
strawberriescake : iya deh nanti diliat dulu ya banyakan yang ngevote putih atau ungu putih.. Happy reading yaa~
.
.
Adakah saran atau kritik lagi?
Ppyong~
.
.
.
