Aku melihatnya dan tahu apa artinya kekalutan dalam diriku;

Dialah satu-satunya,milikku selamanya.

Summary

Taeyong adalah seorang pencinta alam,seorang pria manis yang tak mampu memahami mengapa ia terpuruk begitu jauh memikirkan Jaehyun

Jaehyun berbahanya,tampan dan seorang manusia serigala.

.

.

Warning : It's YAOI! DLDR ! TYPO(s) ! NO BASHING!WOLF!AU!

Cast : Lee Taeyong,Jung Jaehyun, NCT member.

Rated : T+ /nyerempet M/

Disclaimer :

Fanfiction ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul sama seperti judul fanfiction ini 'A Dark Guardian' yang ditulis oleh Rachel Hawthorne.

Ini bukan fanfiction buatan author melainkan hanya sebuah remake dari novel tersebut, author hanya mengubah nama dan beberapa kalimat agar mudah dipahami pembaca.

Ini juga udah pernah di remake sama author jadi FF KaiHun

diharapkan untuk tidak memberikan bashing untuk fanfic ini.

Hope you like this REMAKE story!

OohSehoonie present….

"A DARK GUARDIAN"

.

.

.

.

Perlu diingatkan disini cerita ditulis dengan Taeyong side. Jadi cerita ini berfokus pada apa yang dirasakan oleh Taeyong.

ENAM

Taeyong side

Senja hampir tiba ketika para Sherpa dan rombongan sampai di sungai yang cukup deras aliran airnya. Menciptakan buih-buih putih di permukaan airnya. Walaupun tidak terlalu dalam, tapi terlihat sangat berbahaya.

Aku mengawasi dengan tegang saat Jaehyun menyemberangi derasnya air. Salah satu ujung tali diikat pada pohon di pinggir sungai dan ujung lainnya diikat pada pinggang Jaehyun. Kalau dia sampai terpeleset, tali itu akan menahannya agar tidak terseret arus. Begitu sampai ke seberang, Jaehyun akan mengikatkan tali di pinggangnya ke sebatang pohon lain di seberang sungai, membuat tali itu terbentang untuk kami jadikan pegangan. Jaehyun hampir sampai di tengah sungai dan air menerjang pinggangnya dengan deras.

"Hei, Taeyong bisa kau bantu kami disini?" tanya Hansol

Aku menoleh. Mereka telah memompa sebuah perahu karet kuning dan sedang memuat perbekalan kami ke perahu. Chanyeol dan kelompoknya juga sedang memuat perahu karet lain dengan peti yang mereka bawa.

Aku berlutut di samping perahu karet kami dan mulai mengikat barang-barang.

"Kau dan Chanyeol kelihatan lengket semalam" kata Ten

"Hanya mengamati bintang" entahlah, tiba-tiba aku malu telah menghabiskan waktu dengan Chanyeol "Dia belum pernah lihat bintang jatuh"

"Ya, benar" ujar Hansol "Para peserta camping selalu menggunakan alasan itu agar bisa berdua dengan Sherpa"

"Tidak, dia tak terlihat begitu" kataku meyakinkan

Hansol tertawa pelan "Tidak masalah, dia lumayan juga"

"Jaehyun mungkin akan meninggalkan salah satu dari kita untuk mengawasi mereka" kata Ten

"Memang biasanya begitu?" tanyaku. Ten juga bersamaku musim panas lalu, tapi waktu itu kami hanya seminggu

"Ya, terutama kalau mereka masuk terlalu dalam ke belantara seperti yang sedang dilakukan kelompok ini. Soalnya kebun raya ini terkenal bisa mendatangkan masalah bagi para peserta kemah"

"Lalu siapa yang akan tinggal?"

"Belum tau. Bisa jadi akan diundi" kata Hansol "Karena kau suka Chanyeol, bisa jadi kau"

Teriakan kemenangan terdengar di sekitar kami. Suaranya berasal dari Johnny dan Yuta, yang berdiri di pinggir sungai, jadi pengamat Jaehyun.

Jaehyun telah sampai ke seberang, entah kenapa aku merasa bangga dengannya. Jaehyun melepas baju dan menjemurnya, ketika dia berbalik aku melihat sesuatu di bahu kirinya. Tanda lahir? Atau tato? Terlihat terlalu sempurna. Itu pasti tato. Aku ingin tau apa yang membuatnya berpikir itu cukup penting sampai-sampai menginginkannya menjadi bagian dari tubuhnya yang permanen.

"Kami sudah selesai" kata Chanyeol. Aku kaget mendengar suaranya yang tiba-tiba

"Tae, kau punya waktu sebentar?" aku melirik Ten dan Hansol saat Chanyeol bertanya. Mereka berdua mengangkat bahu.

"Kami hampir selesai" ucap Ten ragu, seolah tidak yakin apakah aku sedang mencari alasan untuk menolak

Aku bangkit dan mengikuti Chanyeol agak menjauhi yang lain."Ada apa?" tanyaku.

"Kita hampir tak punya waktu untuk berbicara. Semoga Jaehyun membebaskanmu"

Aku tersenyum "Dia bukan pengawal tahanan yang menjagaku"

"Mungkin setelah kita menyebrangi sungai kau bisa berbicara padanya kalau kau ingin jalan denganku. Atau mungkin sebaiknya aku saja yang bilang"

"Entahlah, mungkin dia akan menolak. Tapi aku akan mencoba"

"Bagus. Bagaimana kalau aku mengajakmu kencan? Tapi kita tak mungkin ke bioskop"

Aku tersenyum lagi, sudah tau kemana arah pembicaraanya "Benar"

"Mungkin, candlelight dinner –"

"Sekaleng kacang dengan cahaya lilin?"

"Hei, ini bukan soal makanan, tapi orangnya dan aku juga bawa lilin. Jadi mungkin malam ini…"

Dia membiarkan kata-katanya menggantung di udara, membentuk pertanyaan yang aman. Kalau aku tertarik…

Apakah aku tertarik? Aku mengalihkan pandangan ke arah sungai, Jaehyun sedang dalam perjalanan kembali. Dia tidak pernah terlihat romantis, walaupun dia sangat manis saat aku dengannya berjalan bersama malam itu.

Manis? Sebenarnya itu bukan kata-kata yang tepat untuk ditujukan pada Jaehyun. Kenapa juga, setiap melakukan sesuatu, aku teringat dia? Sangat tidak masuk akal, terutama ketika ada orang yang jelas-jelas mengajakku kencan di tengah hutan begini.

"oh, oke tentu saja"

"Bagus. Kita akan menyelinap pergi"

Aku merasa jahat sekarang "Aku akan mencarimu nanti"

Aku kembali pada Ten dan Hansol yang masih sibuk memuat beberapa barang ke perahu. Tujuannya semakin sedikit yang harus dibawa semakin mudah kami menyebrang nanti.

Begitu ketiga perahu penuh, mereka langsung mengangkutnya ke air. Jaehyun, Johnny dan Yuta berusaha menyebrangkan perahu persediaan. Di belakang mereka, Dr. Youngmin, Chanyeol dan Jongin sedang berusaha melawan arus dan mengendalikan perahu peralatan rahasia mereka. Sehun, Minho dan Suho mendorong perahu terakhir yang berisi ransel para mahasiswa dan bermacam-macam barang.

Yang lain hanya menunggu di pinggir sungai.

"Kita sepertinya tidak cukup kuat untuk meyebrangkan perahu karet kan?" kata Doyoung

"Aku senang-senang saja, biarkan mereka yang mengerjakan semua pekerjaan berat"

"Aku tak sabar sampai ke tempat tujuan dan bisa langsung bekerja"

"Bekerja seperti apa tepatnya?" tanyaku. Aku masih bingung apa sebenarnya yang ingin mereka lakukan

"Menemukan asal-usul legenda manusia serigala di hutan ini. itu merupakan bagian dari fokus akademis Dr. Youngmin"

"Menurutmu kalian akan menemukan sebuah buku tergeletak begitu saja di suatu tempat?"

Dia tersenyum simpul padaku "Semacam itulah. Mereka tau kami berada disini. Serigala-serigala itu. Tidakkah kau mendengar mereka di malam hari?"

Aku jadi teringat serigala yang kulihat semalam. Aku tidak tau haruskah aku mengatakan pada Jaehyun. Sesuatu yang terkait dengan serigala terasa tidak menyenangkan. Kalau binatang itu berbahaya,bisa saja dia akan menyerang. Aku mungkin hanya terlalu khawatir karena kami semakin jauh dari pemukiman.

"Serigala melolong" kata Hansol. "Itulah yang mereka lakukan"

"Terserah" Doyoung mengangguk kearah sungai. "Jaehyun sangat menarik. Aku tidak percaya dia belum memiliki kekasih"

"Kurasa dia salah satu yang percaya untuk menunggu gadis yang tepat" kata Ten

"Benar. Tipe yang kuat dan pendiam? Selalu hidung belang. Percayalah padaku, aku sudah melihat banyak di kampus"

"Kalian dari universitas yang sama?" tanyaku. Terkaget oleh kata-katanya .

"Bukan, kami dari Virginia. Jaehyun bilang dia kuliah di Michigan"

"Yap" kata Ten "Dengan beasiswa atletik"

"Kurasa aku bisa pindah" kata Doyoung tanpa melepaskan pandangannya pada Jaehyun ketika pria itu mengangkat perahu karet ke tepi sungai bersama yang lain

"Terserah. Sekarang giliran kita menyebrang" ucap Hansol cuek

Ten dan aku masuk ke sungai. Airnya yang dingin menerjang betisku kuat. Ten dan aku mengulurkan tangan agar Hansol dan Doyoung dapat berpegangan dan membantu mereka menyeimbangkan diri melawan derasnya arus sungai. Ketika mereka sudah berjalan menyebrang, Ten meliriku dan mulai menyebrangi sungai.

Jaehyun menunjukku sebagai orang terakhir. Aku tidak membodohi diriku sendiri dengan berpikiran bahwa menurutnya aku istimewa. Dia mungkin sudah membaca surat lamaran Sherpaku dan tau bahwa aku adalah seorang perenang andal. Aku bergabung dengan regu renang SMA dan pernah mencoba bergabung dengan regu olimpiade. Namun gagal karena selisih sepersekian detik. Jadi walaupun tidak ada yang mengawasi di belakangku, aku tidak khawatir.

Karena kami akan meninggalkan kelompok Dr. Youngmin dan kembali ke desa melalui rute ini, kami akan meninggalkan tali ini tetap terpasang sehingga nanti kami tinggal menyebrang begitu sampai di sini. Kebanyakan perbekalan kami akan ditinggal bersama Dr. Youngmin , sehingga dalam perjalanan pulang nanti kami bisa bergerak lebih leluasa.

Aku menunggu sampai Ten mencapai tiga perempat jalan sebelum aku mulai menyebrang. Aku memegang tali erat-erat dan berjuang melawan derasnya arus. Tanpa tali aku tidak akan bisa mempertahankan keseimbangan, tak bisa berdiri tegak. Arusnya sangat liar dan bebahaya. Air sudah setinggi pinggangku saat kurasakan sentakan sekilas pada talinya. Getaran yang aneh mengingatkanku pada benang pancing yang menegang waktu aku memancing bersama ayahku dan ada ikan yang memakan umpan kami.

Doyoung dan Hansol sudah sampai di seberang. Ten masih berjalan, sepertinya dia tidak merasakan sentakan yang tidak biasa itu, karena sentakannya berasal dari belakangku dan hanya sampai di tanganku. Tiba-tiba aku merasakan lagi perasaan aneh seperti sedang di awasi, yang sering menghinggapiku sejak malam ketika Ten meyelenggarakan pesta kejutan untukku. Walaupun sudah mendapatkan peringatan dari kepalaku, aku berhenti dan menoleh kebelakang. Karena hari sudah sangat sore, bayang-bayang sudah mulai memanjang. Aku tidak bisa melihat mungkin itu seekor burung besar yang hinggap lalu terbang lagi.

"Taeyong!"

Bahkan di tengah deru air sungai, aku mengenali suara Jaehyun dan ketidaksabaran dalam nadanya. Aku berbalik menghadap ke seberang. Ten baru saja keluar dari air. Aku tau kenapa Jaehyun marah padaku. Aku adalah penghambat. Jaehyun ingin berjalan lebih jauh lagi sebelum malam tiba. Dia itu orang yang tidak bisa membedakan artinya bersusah payah atau bersantai-santai. Dia selalu akan memaksamu sampai batas kemampuanmu, batas kemampuannya dan –

Tiba-tiba talinya putus. Air yang deras menghentak kakiku dan aku terhempas ke bawah. Peganganku pada tali yang longgar terlepas dan dengan panik aku menggapai-gapai tali itu. Talinya sudah tidak ada. namun yang teburuk aku tidak bisa bernapas. Aku tenggelam dan terperangkap arus. Paru-paruku terasa panas, dadaku menegang.

Aku berjuang mencari pijakan, tapi derasnya air terus mendorongku. Aku tak bisa menemukan dasar sungai. Aku pasti sudah terbawa arus ke tempat yang dalam –

Sial!

Aku menabrak sebuah batu besar atau batu karang atau sesuatu yang besar dan keras. Hal itu membuatku sesak napas. Aku mulai berjuang untuk mencapai permukaan. Paru-paruku terbakar. Aku tidak tau apakah dadaku akan kempes atau meledak. Rasanya seperti dua-duanya bisa terjadi pada waktu yang bersamaan.

Aku berhasil mencapai permukaan air, menarik napas lalu tenggelam lagi. Aku harus mampu mengembalikannya. Aku berjuang melawan rasa panik dan rasa takut akan kematian.

Aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku tidak akan tenggelam. Aku tidak ingin tenggelam.

Susah payah aku mengangkat wajahku dari air yang deras dan memutar punggungku. Dari mana datangnya aliran deras ini? Airnya bergerak semakin cepat di sini dan lebih kuat. Sudah berapa jauh aku terbawa arus? Rasanya sudah bermil-mil.

Dari sudut mataku, aku melihat sebuah cabang besar terapung di dekatku. Aku meraihnya. Cabang itu membuatku tetap terapung, memberiku kesempatan untuk menyatukan pikiran dan napasku. Aku harus mencapai pinggiran sungai. Aku menendang, memcoba memanfaatkan cabang itu sebagai pelampung, tapi derasnya air sungai mempermainkan cabang yang kupegang. Aku pun melepasnya dan berusaha berenang ke darat.

Tidak begitu jauh lagi. Aku bisa melakukannya. Sesuatu menggores lututku. Terasa perih, tapi juga membuatku sadar air tiba-tiba lebih dangkal. Arusnya masih tetap kuat, mendorongku sepanjang dasarnya yang berbatu, menahan kakiku untuk mendapat keseimbangan. Aku memaksa diriku sampai aku hampir mencapai daratan. Lalu aku bergerak maju dengan tiba-tiba melewati tepi air, mencapai pinggiran sungai yang ditumbuhi rumput.

Perut dan dadaku terasa sakit ketika aku terbatuk mengeluarkan air. Lalu aku roboh, dan napasku tersenggal. Badanku sakit semua. Lengan dan kakiku tergores dan berdarah. Aku mulai menggigil, bukan karena kedinginan tapi juga terguncang oleh kejadian barusan. Aku tidak mau memikirkan bahwa sedikit lagi aku tenggelam. Aku pernah mengikuti kelas pertolongan pertama pada kecelakaan dalam air pada musim panas dua tahun lalu, ketika aku bekerja sebagai penjaga kolam renang, namun sungai jauh lebih berbahaya daripada kolam renang. Aku beruntung sejauh ini. Aku tau dari kelas keselamatan yang kuikuti sangatlah penting untuk mendapat kehangatan.

Aku memaksakan diri untuk duduk. Aku memeras air dari bajuku sekuat tenaga, tapi itu tidak langsung membuatku lega.

Aku hanya ingin berbaring dan tidur, tapi aku tau aku harus mulai berjalan kembali pada teman-teman yang lain. Berlari akan membantu menghangatkan tubuhnku. Aku butuh kehangatan. Aku berusaha berdiri terhuyung-huyung.

Geraman yang tak menyenangkan membuatku menghentikan pergerakanku, kupikir sungai tadi adalah hal paling berbahaya yang kuhadapi hari ini.

Namun aku salah besar

.

.

.

TBC

.

.

.

Big Thanks to :

Semua yang udah follow, fav, baca dan comment.

Makasih banyak udah review dan saran kalian /bow 360 derajat/ Berkat kalian author makin semangat untuk ngeremake novel ini.

Btw,ada yang punya group chat line NCT atau JaeYong gak?

Kalo ada tolong masukin author dong ^^

Line id aku : oohsehoonie

Thx ^^

Kalo ada typo atau yang ga dimengeri komen aja ya,nanti author ganti sama jelasin,

Ppyong~^^