Aku melihatnya dan tahu apa artinya kekalutan dalam diriku;

Dialah satu-satunya,milikku selamanya.

Summary

Taeyong adalah seorang pencinta alam,seorang pria manis yang tak mampu memahami mengapa ia terpuruk begitu jauh memikirkan Jaehyun

Jaehyun berbahanya,tampan dan seorang manusia serigala.

.

.

Warning : It's YAOI! DLDR ! TYPO(s) ! NO BASHING!WOLF!AU!

Cast : Lee Taeyong,Jung Jaehyun, NCT member.

Rated : T+ /nyerempet M/

Disclaimer :

Fanfiction ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul sama seperti judul fanfiction ini 'A Dark Guardian' yang ditulis oleh Rachel Hawthorne.

Ini bukan fanfiction buatan author melainkan hanya sebuah remake dari novel tersebut, author hanya mengubah nama dan beberapa kalimat agar mudah dipahami pembaca.

Ini juga udah pernah di remake sama author jadi FF KaiHun

diharapkan untuk tidak memberikan bashing untuk fanfic ini.

Hope you like this REMAKE story!

OohSehoonie present….

"A DARK GUARDIAN"

.

.

.

.

Perlu diingatkan disini cerita ditulis dengan Taeyong side. Jadi cerita ini berfokus pada apa yang dirasakan oleh Taeyong.

DELAPAN

Taeyong side

"Apa yang sedang kau bicarakan?" tuntut Dr. Youngmin

Beberapa detik dia memandang ke dalam mata Jaehyun. Aku hampir saja lupa kalau kami tidak sendirian.

"Setelah Jaehyun pergi, aku dan Johnny menarik talinya" jelas Yuta "Kami pikir tali itu tergesek kayu atau batu lalu putus, tapi ujung talinya rata. Ada yang memotongnya dengan pisau"

"Siapa yang melakukan hal semacam itu" kata Doyoung yang sudah berpindah di samping Jaehyun

Jaehyun berdiri "Apakah anda punya musuh, Profesor?"

"Salah satu rekanku dan aku bersaing untuk mendapatkan dana bantuan, tapi rasanya tidak mungkin dia akan menyabotase ekspedisi kita" jawab Dr. Youngmin tenang, tapi pandangannya berpindah dari satu Sherpa ke Sherpa lain, seperti ingin mencari sesuatu yang mencurigakan.

"Rasanya tidak masuk akal ada orang yang merasa terancam oleh apa yang kita lakukan. Sebaiknya kita semua beristirahat. Kita sudah kehilangan waktu hari ini akibat kecelakaan kecil ini. Aku ingin mengejar ketinggalan kita besok"

Aku hampir mati dan dia menganggapnya sebagai kecelakaan kecil? Dan dia ingin mengabaikan kenyataan talinya di potong? Walaupun aku tidak tau apa artinya, tapi kurasa seharusnya dibicarakan.

Chanyeol menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu. Mungkin dia ingin minta maaf atas perkataan ayahnya.

Sambil mengerang dan menggerutu, para mahasiswa menuju tenda mereka. Semua kecuali Chanyeol. Kurasa, apa pun yang ingin dibicarakannya, dia tidak ingin mengatakannya di depan banyak orang. Aku kasihan padanya. Bukan salahnya kalau ayahnya adalah orang seperti itu.

Aku bangkit berdiri dan berjalan menghampirinya. Aku memaksakan seulas senyum walaupun sangat lelah "Kurasa candlelight dinnernya tidak jadi"

Pipinya merona "Tidak malam ini. Tapi mungkin kita bisa jalan-jalan sebentar?"

Walaupun sangat lelah, tetap saja aku tidak tega menolak ajakannya. Aku mengangguk dan kami mulai berjalan menjauh dari perapian

"Jangan pergi terlalu jauh dari perkemahan" perintah Jaehyun dengan keras

Aku menoleh ke arahnya. Kelihatannya Jaehyun tidak senang. Aku hampir saja mati dan suasana hati semua orang memburuk. Aku tidak tau apakah harus tersanjung karena membawa pengaruh yang besar atau harus marah, "Kami hanya disekitar sini"

"Dia kelihatannya sangat melindungimu" kata Chanyeol saat kami sudah meninggalkan perkemahan

"Dia melindungi semuanya. Itu sudah tugasnya"

"Seharusnya kau melihatnya saat berlari mengejarmu. Aku belum pernah lihat ada orang yang bergerak secepat itu, nyaris seperti bayangan"

Kami berhenti setelah agak jauh sehingga tidak ada yang mendengar kami. Dia meraih tanganku yang tidak memegangi selimut "Tadinya aku juga mau lari bersamanya, tapi Yuta menahanku. Lagipula aku tak mungkin bisa menandingi dia"

"Tidak apa. Kau ada disana saat aku membutuhkanmu"

"Aku sudah berusaha, tapi semua Sherpa sangat melindungimu, membuatku merasa seperti orang luar"

"Tidak apa, jangan khawatir" aku tak suka melihat dia merasa tak enak hati akan semua itu, dia ingin menolongku tapi tak diijinkan oleh teman yang lain. Aku tau dia tidak sepenuhnya merasa nyaman diantara mereka. Kurasa karena dia adalah seorang akademisi.

"Jadi mana yang muncul lebih dulu? Serigala atau beruang?" tanyanya

"Apakah ini pertanyaan telur atau ayam?" aku tidak berusaha menyembunyikan emosi dalam suaraku. Kedengarannya ini seperti pertanyaan aneh.

"Aku serius, beruang tidak biasanya menyerang"

"Yang benar saja. Katakan itu pada anak Pramuka yang diserang di Alaska beberapa tahun lalu" aku mulai bertambah marah, jelas-jelas beruang itu menyerangku lebih dulu "Beruang"

"Jadi ada seekor beruang, lalu seekor serigala datang untuk menolongmu?"

"Aku tak yakin serigala itu datang untuk menolongku, dia memang mengusir beruang itu tapi mungkin saja karena dia tidak suka beruang"

"Seperti apa serigalanya?"

Ini semakin aneh. Aku menarik tanganku dari genggamannya. "Warnanya hitam" jawabku asal. Tidak ingin menjelaskan warna indah serigala tadi padanya

"Hanya hitam? Seperti yang kita lihat semalam?"

Tidak,pikirku. Tapi aku tak mau mengatakan padanya. Entahlah. Aku merasa ingin melindungi serigala yang baru saja menolongku. "Serigala seperti apa yang kau harapkan?"

Dia mengalihkan pandangan ke tempat para Sherpa duduk mengitari api unggun. Dr. Youngmin tidak memerintah kami kapan harus tidur. Aku merasa malam ini, hanya untuk memastikan, mereka tetap berjaga sampai larut.

"Entahlah," kata Chanyeol pelan "kupikir mungkin saja serigala itu warnanya seperti rambut Jaehyun" Dia mendekatkan badannya ke arahku dan memelankan suaranya "Ini hanya antara kita berdua saja, aku merasa aneh Jaehyun tidak menemukanmu sebelum kami sampai disana"

Aku teringat pembicaraan Chanyeol dengan ayahnya malam itu. Apa dia berpikir serigala itu adalah Jaehyun? Apa dia gila?

"Kurasa memang Jaehyun berlari terlalu cepat sekalipun aku berada di permukaan mungkin dia tidak akan melihatku"

"Mungkin" gumam Donghae "Hanya saja ada sesuatu yang aneh pada kejadian ini"

"Terserah. Aku lelah"

"Maaf. Aku tak bermaksud membawamu kesini untuk menambah pikiranmu. Aku hanya ingin tau. Banyak hal aneh yang terjadi di hutan ini"

"Orang selalu berusaha menakuti peserta kemah seperti kalian"

Dia tersenyum padaku "Aku senang kau baik-baik saja. Sebenarnya aku sedikit cemburu saat memikirkan Jaehyun datang menolongmu. Aku benar-benar senang dia melakukan hal bodoh tadi dan pergi terlalu jauh. Artinya dia tidak sempurna"

"Kau tidak perlu berlebihan seperti itu"

"Mungkin kita akan mengganti kencannya besok malam"

"Mungkin"

Dia membungkukkan badan seperti ingin menciumku. Lalu berhenti. Mungkin karena dia merasakan hal yang sama dengankku. Bahkan tanpa berbalik pun aku tau Jaehyun sedang mengawasi kami.

Aku tau Chanyeol akan menciumku, dia ingin melakukannya untuk membuat Jaehyun marah, tapi aku tak mau terlibat di dalam urusan mereka. Sebelum dia melakukannya aku mengucapkan "Selamat malam" dan melangkah pergi.

Perkemahan sedang dipenuhi ketegangan.

Aku hampir sampai ke tenda saat Jaehyun memanggilku "Taeyong, mau bergabung dengan kami sebentar?"

Kata-kata Jaehyun membentuk sebuah pertanyaan, namun nada bicaranya menunjukkan bahwa itu adalah sebuah perintah. Mau tidak mau aku berjalan menuju dia dan Sherpa lain berkumpul. Aku penasaran dengan ekspresi mereka yang penuh rahasia. Aku merasa, apapun yang mereka bicarakan, mereka tidak ingin kelompok Dr. Youngmin sampai tau.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jaehyun. Suaranya menunjukkan kekhawatiran.

"Baik-baik saja. Aku berhutang nyawa pada serigala itu. Kau sudah mendengarnya kan? Dengan beruang itu?"

"Ya, Yuta memberitahuku. ,maaf aku tidak disana untuk membantumu"

"Aku sama sekali tidak mengira kau akan panik dan terus berlari tanpa melihat ke belakang"

"Airnya bergerak sangat cepat jadi kupikir kau terseret jauh ke hilir" walaupun alasan Jongin terdengar tak masuk akal, aku tetap mengangguk.

"Aku akan memberikan steak pada serigala itu kalau bisa"

"Aku yakin dia akan senang sekali. Sebenarnya, aku memanggilmu karena kami ingin tau apa kau melihat sesuatu yang aneh di pinggir sungai sebelum mulai menyebrang?"

Sambil memandangi wajah-wajah serius para Sherpa di sekelilingku, aku menggeleng. "Aku hanya punya waktu beberapa detik untuk menoleh sebelum terbawa arus, tapi yang kulihat hanya bayangan. Kenapa seseorang berusaha menyabotase ekspedisi ini? Ini tidak masuk akal"

"Kami tak yakin ini adalah ekspedisi," kata Yuta "Kami menduga mungkin seseorang menaruh dendam pada para Sherpa, kepada kita"

"Lebih tepatnya padaku" sambung Jaehyun

"Kenapa seseorang harus menyimpan dendam padamu? Siapa?" Selama ini tak terpikir olehku Jaehyun mempunyai seorang yang membencinya sampai ingin mencelakainya

"Yongju. Dia adalah seorang Sherpa disini musim panas lalu. Dia melakukan sesuatu yang seharusnya tak dilakukannya, mencuri kesempatan dan membawa peserta kemah dalam bahaya" jelas Xiumin

"Jaehyun menghajarnya" kata Johnny. Suaranya terdengar sangat kagum "Tapi herannya dia tidak membalas Jaehyun"

"Setelah itu, Yongju pergi" kali ini Yuta menambah cerita

"Tapi bukan berarti dia tidak akan kembali lagi atau tidak keluyuran di sekitar sini" Ten mengakhiri cerita.

Seketika, semua memandang berkeliling. Aneh sepertinya melihat mereka mencemaskan seorang Sherpa tak bertanggung jawab pada musim panas lalu. Kenapa sekarang dia berada disini? Aku ini anak baru. Seharusnya aku yang takut bukan mereka. Ini membuat perasaanku tak enak.

"Kita akan tau kalau dia berada di sekitar sini" kata Johnny

"Tidak kalau dia berada cukup jauh dari sini John" jawab Ten

"Ten benar" kata Jaehyun

"Aku tidak bermaksud menambah ketakutan, tapi aku selalu merasa di awasi " kataku pada mereka

"Benar" bisik Ten "Pada malam pertama, dia benar-benar ketakutan"

"Bukan ketakutan. Aku hanya merasa seorang mengawasiku. Semalam juga"

"Ada apa semalam?" tanya Jaehyun

"Waktu kita sedang minum bir, aku merasa seseorang sedang mengawasi. Setelah itu aku melihat seekor serigala"

"Apa warnanya?"

"Chanyeol baru saja menanyakan pertanyaan yang sama tentang serigala yang menyerang beruang itu. Apakah ada yang aneh dengan serigala di kebun raya ini yang belum kuketahui? Katamu mereka tidak menyerang manusia"

"Memang mereka tidak menyerang manusia, tapi kami mendapat laporan dan salah satunya menyuruh kami untuk berjaga-jaga. Jadi, apa warna serigala yang kau lihat?"

"Semalam itu sulit mengatakannya. Kalau harus menebak, aku akan bilang hitam, tapi itu bisa saja bayangan kegelapan. Masalahnya adalah, Chanyeol bersamaku semalam saat melihat serigala itu. Dia bilang dia melihat serigala yang sama berkeliaran pada malam pesta ulang tahunku"

"Chanyeol ada di dalam hutan selama pesta itu?" tanya Ten "Juga serigala itu?"

"Chanyeol bilang dia tidak bisa tidur. Tapi kurasa bukan dia yang sedang mengawasiku. Kurasa serigala itu yang melakukannya, karena perasaanku semalam persis seperti saat pesta ulang tahunku" aku tertawa kecil mencoba meredakan ketegangan "Tapi, bukankah serigala tidak bisa memotong tali? Jadi aku tidak mengerti artinya ini semua"

Jaehyun, Yuta dan Johnny saling bertukar pandangan.

"Apa?" tanyaku.

"Yongju punya serigala yang dipeliharanya" kata Jaehyun. "Kalau serigala itu berkeliaran di sekitar sini, kemungkinan besar Yongju juga. Semuanya harus siaga. Kita akan mulai berjaga. Yuta dan Hansol, kalian yang pertama"

Beberapa menit kemudian, rasanya menyenangkan sekali bisa masuk ke dalam kantong tidurku. Badanku terasa akan remuk dan memar di sekeliling tubuhku, tapi untungnya tidak ada luka robek atau tergores yang cukup serius. Aku benar-benar beruntung.

Kemudian aku memikirkan serigala yang menolongku, apa dia berada di suatu tempat sedang merawat lukanya? Apakah pasangannya sedang menunggu di suatu tempat? Bukankah serigala hidup berpasangan? Apakah mereka lebih setia dari manusia?

"Taeyong?" bisik Ten

Aku berguling tanpa berpikir, mengerang karena tubuh dan memarku terasa sakit. Musim panas yang lalu kami sudah berbagi tenda dan mengobrol sampai larut malam. Aku menyukai Hansol tapi aku tidak akrab dengannya seperti aku dengan Ten.

"Ya?"

"Kupikir kau sudah tidur. Menurutmu dengan siapa pasanganmu saat berjaga?"

"Entahlah, tapi mungkin kau akan dengan Johnny"

Dia tersenyum "Ya,itu bagus dan kau pasti akan berpasangan dengan Jaehyun. Lihat cara dia memandangmu tadi"

Tiba-tiba kantong tidurku terasa panas. Aku mengeluarkan sebelah kakiku dan berputar menyamping, setengah badanku di luar kantong dan setengah lagi di dalam "Aku tidak tau apakah itu berarti sesuatu. Kadang-kadang aku merasa seperti dia hanya menganggapku sebagai pembuat masalah. Disamping itu, dia memang keren. Mungkin dia sudah punya pacar"

"Aku tidak pernah melihatnya bersama seseorang lebih dari dua kali. Dia belum pernah serius dengan seseorang"

"Aku bahkan tak yakin dia menyukaiku. Dia selalu menyalak padaku"

Ten tertawa pelan "Secara harafiah?"

"Bukan. Dia itu pemurung, tapi lalu kupikir mungkin karea dia punya banyak tanggung jawab"

"Tidak hanya itu, aku yakin dia berusaha memenuhi harapan semua orang. Keluarganya cukup berkuasa di daerah ini"

"Aku tidak tau tentang itu"

"Keluarga Jung punya cukup banyak kekuasaan"

"Apa mereka sudah cukup lama tinggal disini?"

"Sudah pasti. Turun-temurun. Mereka sudah ada disini sejak jaman perang saudara atau semacam itulah"

"Aku ingin tau,apakah mereka disini saat orangtuaku terbunuh. Terapisku bilang aku harus menghadapi masa laluku, tapi itu sulit karena aku tak bisa mengingat dengan jelas tentang peristiwa itu dan aku tak kenal siapapun disana"

"Itu pasti sulit. Melihat orangtuamu meninggal. Aku bahkan tidak mampu membayangkannya"

"Sebenarnya aku tidak benar-benar melihatnya, ibuku mendorongku ke dalam –" sebuah gambaran muncul dalam pikiranku dan bersama itu terasa ada bunyi, "sebuah gua kecil atau semacamnya. Ada suara geraman" Apakah itu suara serigala? Apakah pemburu-pemburu itu menembaki serigala itu dan mengenai orang tuaku? Apakah ibuku berusaha melindungiku?

"Apakah kau tau di mana tepatnya kejadian itu di kebun raya ini?"

Aku menggeleng. "Aku tak pernah bertanya pada siapapun tahun lalu. Aku tidak merasa benar-benar ingin menghadapinya,berada disini saja sudah cukup. Tapi tahun ini, aku tak bisa menjelaskannya. Ten, aku merasa berbeda. Aku merasa seperti memang seharusnya aku berada disini. Bahwa aku merasa akan menemukan sesuatu"

"Seperti apa?"

"Aku tidak yakin. Tapi serigala hari ini, aku tak takut padanya. Rasanya seperti aku mengenalnya. Aneh bukan?"

"Apa ada serigala disana saat orangtuamu terbunuh?"

"Kurasa tidak. Kupikir pemburu-pemburu itu yang gila. Namun dalam ingatanku, memang ada suara serigala,tapi kurasa mereka tidak buas"

"Mungkin kau perlu rileks dengan pikiranmu. Biarkan pikiranmu menuntunmu"

"Mungkin" aku menghela napas dalam "Aku terlalu lelah untuk memikirkannya dengan jelas malam ini."

Dia mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku. "Aku senang kau tidak apa-apa"

"Aku juga" aku tersenyum padanya "Selamat malam"

Aku berbalik dan berusaha tidur, tapi aku memikirkan serigala itu lagi. Kenapa dia kelihatan begitu familiar? Apakah orangtua kandungku dan aku dulu menemukan sarang serigala? Mungkin beberapa anak serigala? Apakah orangtuaku berusaha melindungi mereka dari para pemburu? Ingin rasanya aku bisa mengingat lebih banyak tentang hari itu. Seberapa panjangkah umur serigala itu? Kenapa aku merasakan ada hubungan dengan yang baru saja kutemui?

Lalu aku mendengar suara lolongan yang kesepian, dan entah bagaimana aku tau bahwa itu adalah serigala yang menolongku.

Aku keluar dari kantong tidurku dan mengambil sepatuku. Ten tidak bergerak, tampaknya sudah terlelap. Aku mengambil perlengkapan P3K dan senter lalu mengendap keluar. Hansol dan Yuta sedang berdiri di samping perkemahan yang agak jauh, sedang mengombrol, tidak melihatku. Dan kalaupun mereka melihatku, mereka pasti lebih mewaspadai bahaya yang mungkin mengancam perkemahan. Jelas sekali aku bukan ancaman dan kami tidak dilarang untuk pergi.

Aku ragu sesaat dan berpikir untuk mengajak Jaehyun, tapi aku tidak berencana pergi terlalu jauh. Kurasa tak perlu memanggil Jaehyun. Aku berjalan menuju semak-semak, memakai senter untuk memanduku sampai ke titik yang cukup jauh dari perkemahan dan suaraku tidak terdengar, namun masih cukup dekat dan jika aku berteriak akan terdengar. Aku mematikan senter dan menunggu. Dengan bodohnya aku berpikir serigala itu akan datang.

Bulan sabit bersinar menerangiku. Cahayanya cukup terang untuk melihat sekitar. Di kota, aku tak pernah menyadari kalau bulan bisa seterang ini, penglihatanku malam ini entah kenapa semakin tajam.

Tiba-tiba aku mendengar suara langkah pelan, sepertinya telingaku juga lebih waspada, aku melirik ke samping dan dia ada disana.

Aku berlutut di hadapannya, sayangnya aku tidak membawa sesuatu untuk dimakannya. Cahaya bulan menyinari bulunya yang berwarna coklat keemasan dilatar belakangi hitamnya malam. "Hei"

Suaraku terdengar serak, aku selalu berbicara dengan Ruby, anjingku di rumah. Tapi ini berbeda. Ini seekor binatang liar, walau dia terlihat tidak mengancam aku tak mau membuat gerakan tiba-tiba, tak mau membuatnya takut. "Aku ingin berterima kasih padamu"

Dia mendekat padaku, cukup dekat untuk kuelus. Aku ragu sejenak, lalu perlahan mengelus bulunya yang tebal. Bagian atas bulunya terasa kaku tapi bagian dalamnya lembut dan hangat.

"Jangan takut, aku tau kau terluka. Aku mau lihat seberapa parah lukamu"

Sebenarnya aku tak terlalu yakin apa yang bisa kulakukan untuk menolongnya. Mencoba untuk membersihkannya atau mengoleskan antiseptik pada lukanya? Kalau kuperban aku takut dia akan terlihat oleh musuhnya. Aku tau serigala punya warna berbeda-beda sehingga mereka bisa bersembunyi dengan mudah. Aku mulai meraba kaki belakangnya, belum pernah aku sedekat ini dengan binatang liar. Aku tau dia bisa saja menyerang dan aku tak punya kesempatan untuk lari dan menyelamatkan diri, tapi secara naluriah aku tau dia tidak akan menyakitiku. Aku tidak tau kalau seekor binatang bisa setenang ini. kuelus bulunya mencari bulu kusut atau bekas darah yang mengering. Namun yang kutemukan hanyalah bulunya yang halus. Aku mengambil senter dan mengarahkannya ke serigala itu.

Tak ada darah, tidak ada luka dimana pun. Ini tidak masuk akal, aku berani sumpah dia terluka. Bisa saja dia pergi ke sungai dan darahnya telah terbasuh, tapi seharusnya ada bekas luka di tempat beruang itu mencakarnya. Sekali lagi aku mencari dan tetap tak menemukan apapun.

"Mungkin darah beruang" aku bergumam.

"Kau cantik sekali. Aku senang kau tidak apa-apa, tapi lebih baik kau segera pergi dari sini. Kau bisa terluka" Terutama kalau Dr. Youngmin atau Chanyeol melihatnya. "Kembalilah pada kawananmu"

Tiba-tiba dia menyentakkan kepalanya ke depan. Mengeram pelan.

"Ada apa?"

Dia menoleh ke arahku, sebelum melesat pergi. Aku khawatir jangan-jangan aku hanya tak bisa menemukan lukanya, tapi sekarang aku tau dia sama sekali tidak terluka.

Aku duduk sejenak, memandang ke kegelapan tempat dia menghilang. Aku pernah melihat acara televisi khusus tentang orang yang bisa berbicara dengan binatang liar, tapi ini adalah pengalaman pertamaku. Sebagian diriku berpikir seharusnya ini terasa aneh, tapi pada saat yang sama, terasa alamiah seolah serigala itu dan aku entah bagaimana bisa terhubung.

Aneh. Sejak aku kembali ke hutan ini, aku punya perasaan aneh bahwa aku memang seharusnya berada disini. Aku merasakan keinginan untuk melindungi, terutama pada serigala-serigala itu. Ini melebihi kenyataan bahwa mereka itu indah.

"Taeyong?"

Aku terkaget karena suara Jaehyun yang tidak kuduga, aku berbalik "Hei"

"Sedang apa kau disini?"

Pertemuanku dengan serigala itu terasa sangat pribadi. Aku tidak ingin menceritakannya pada siapa-siapa. Selain itu, kupikir bisa saja Jaehyun menganggapku gila.

"Seperti malam sebelumnya, tidak bisa tidur" aku bangkit berdiri.

"Aku pernah merasakannya –merasa begitu lelah dan berpikir akan terlelap, tapi kenyataannya aku tak bisa tidur"

"Agak menjengkelkan" walaupun seandainya aku kembali ke dalam kantong tidurku, aku akan segera terlelap. Ketika melihat perlengkapan P3K yang kubawa, dia tak berkata apa-apa. Mungkin saja dia sudah melihatku dengan serigala itu dan hanya berusaha baik, pura-pura mempercayai kebohonganku.

"Apakah kau pernah tidur?" tanyaku

"Tidak banyak. Kebiasaan buruk yang mulai kulakukan sejak tahun ini di perguruan tinggi –menghabiskan terlalu banyak waktu untuk belajar kalau aku sedang tidak berpesta"

"Jangan salah paham, aku tidak bisa membayangkanmu ikut berpesta"

"Pada semester pertamaku jauh dari rumah, aku menjadi agak liar. Aku, Johnny dan Yuta dijuluki manusia liar di kampus. Tapi menjelang akhir tahun kami mulai tenang" dia menandang berkeliling.

"Kau bilang melihat serigala hitam semalam. Bagaimana dengan serigala sore tadi? Apa dia juga hitam?

"Tidak" Kalau aku ragu untuk mengatakan warna sebenarnya pada Chanyeol aku tau Jaehyun sepenuhnya ingin melindungi satwa liar "Bulunya berwarna coklat keemasan. Seperti rambutmu" *bayangin rambut Jaehyun di mv cherry bomb*

"Kebanyakan serigala memiliki warna bulu berbeda, yang menyebabkan serigala hitam tampak lebih menonjol. Mungkin sebaiknya kau tidak keluar sendirian sampai kita melihat serigala itu dan yakin dia tidak berbahaya"

"Kau mengatakannya seakan kau telah mengenal serigala-serigala itu"

"Bertahun-tahun, kami telah sering melihat serigala. Aku tidak berpikir kami mengenal semua, tapi beberapa lebih bersahabat dari yang lainnya"

Aku mengangguk."Kurasa waktunya tidur"

Tanpa berucap sepatah kata pun, Jaehyun mengantarku kembali ke tenda. Dia menunggu sampai aku masuk.

Aku langsung tertidur. Aku bermimpi tentang candlelight dinner yang dijanjikan Chanyeol padaku. Hanya saja dalam mimpiku itu, bukan Chanyeol yang bersamaku.

Tapi Jaehyun.

.

.

.

TBC

Big Thanks to

Semua yang udah review,favorite dan follow cerita ini.

Terima kasih juga kepada Chen,Baekhyun dan Xiumin. Suara mereka dengan setia menemani author ngetik ff ini :D

"Backsound : For You – ChenBaekXi, Moon Lovers OST"

Adakah yang niat review?

.

.

.

Ppyong~

.

.

.