Aku melihatnya dan tahu apa artinya kekalutan dalam diriku;

Dialah satu-satunya,milikku selamanya.

Summary

Taeyong adalah seorang pencinta alam,seorang pria manis yang tak mampu memahami mengapa ia terpuruk begitu jauh memikirkan Jaehyun

Jaehyun berbahanya,tampan dan seorang manusia serigala.

.

.

Warning : It's YAOI! DLDR ! TYPO(s) ! NO BASHING!WOLF!AU!

Cast : Lee Taeyong,Jung Jaehyun, NCT member.

Rated : T+ /nyerempet M/

Disclaimer :

Fanfiction ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul sama seperti judul fanfiction ini 'A Dark Guardian' yang ditulis oleh Rachel Hawthorne.

Ini bukan fanfiction buatan author melainkan hanya sebuah remake dari novel tersebut, author hanya mengubah nama dan beberapa kalimat agar mudah dipahami pembaca.

Ini juga udah pernah di remake sama author jadi FF KaiHun

diharapkan untuk tidak memberikan bashing untuk fanfic ini.

Hope you like this REMAKE story!

OohSehoonie present….

"A DARK GUARDIAN"

.

.

.

.

Perlu diingatkan disini cerita ditulis dengan Taeyong side. Jadi cerita ini berfokus pada apa yang dirasakan oleh Taeyong.

SEMBILAN

Taeyong side

Ten ternyata benar. Aku berjaga dengan Jaehyun.

"Kalau kau tidak sanggup, aku bisa berjaga sendirian" katanya ketika aku bergabung dengannya di tengah-tengah perkemahan setelah Ten membangunkanku begitu menyelesaikan tugas jaganya.

"Aku akan melakukannya, tidak apa"

Dia menatapku tajam.

"Ya, keadaanku tidak begitu baik, tapi aku masih bisa berjaga tanpa memaksakan diri"

Dia sedikit menarik bibirnya menyerupai senyuman. "Kau mau sedikit kafein sebelum kita mulai? Aku punya kopi"

"Boleh juga"

Kami duduk di atas batang kayu dan dia mengulurkan secangkir kopi padaku. Malam ini dingin, dan kehangatan api unggun terasa luar biasa. Jaehyun mencondongkan badannya kedepan, menumpukan siku diatas pahanya, kedua telapak tangannya melingkari kakinya, dan matanya tertuju ke kopinya. Dia berhadapan denganku. Dia benar-benar tampan.

"Apa kau takut padaku?" tanyanya pelan

Kalau saja aku sedang meminum kopiku, pasti aku akan menyemburkannya atau tersedak

"Kau terlalu serius" aku mengaku

Dia tertawa muram " Ya. Aku menganggap serius jangkauan perlindungan hutan ini, dan ketika orang seperti professor dan kelompoknya masuk ke hutan ini, aku tidak yakin mereka menghargai hutan ini seperti seharusnya" Dia melirik ke arahku "Aku tumbuh dewasa disini. Aku mencintai hutan ini. tidakkah kau merasakan hal yang sama di Dallas?"

"Aku tidak benar-benar merasa itu tempatku"aku mengaku "Aku selalu merasa lebih baik di hutan"

"Jadi kita punya kesamaan"

Aneh rasanya memikirkan kami mungkin punya ikatan batin.

"Jurusan apa yang kau ambil?"

"Ilmu politik"

Aku menaikkan sebelah alisku "Apa? Kau akan masuk ke bidang politik?"

Dia tersenyum kecut "Berusaha memperbaiki kemampuan komunikasiku"

Aku mengakui bahwa dia bukanlah orang yang enak diajak berbicara, tapi begitu mulai bicara, aku sama sekali tidak merasa dia memiliki masalah komunikasi. Pada kenyataannya, aku mendapati diriku sangat terpesona ketika berbicara dengannya. Sangat jelas jika dia perduli pada sesuatu, dia akan sangat memperdulikannya.

"Ten bilang ayahmu adalah orang penting di tengah masyarakat di sini?"

"Ya, dulu ayahku walikota Tarrant dan juga dewan pengurus sekolah. Jadi kurasa ketertarikanku pada politik muncul secara alamiah. Ayahku punya pengharapan yang tinggi"

"Apakah ayahmu tau kau menghajar Yongju?"

"Ya. Dia tidak senang" Dia menggeleng "Orangtua. Terkadang, apapun yang kita lakukan, kita tidak bisa menyenangkan mereka"

"Ceritakan padaku tentang itu"

"Mungkin nanti"

Dia duduk terdiam beberapa saat, kami berdua menyesap kopi kami.

"Warna rambutmu mengingatkanku pada seekor rubah yang pernah kulihat" katanya pelan

Aku meraba rambutku yang berwarna pink cherry. Meski sedikit aneh ada rubah yang berwarna pink aku tetap tersenyum dan menjawab Jaehyun.

"Terima kasih. Itu pujian kan?"

Jaehyun tertawa "Ya, begitulah"

"Aku belum pernah melihat rubah di alam bebas"

"Mungkin bisa kutunjukkan padamu sebelum musim panas berakhir"

"Senang sekali kalau begitu" aku sungguh-sungguh berpikir begitu. Ini lebih baik daripada candlelight dinner yang ditawarkan Chanyeol. Jika aku diberi pilihan antara bersusah payah menjelajahi hutan untuk mencari seekor rubah atau candlelight dinner di restoran terbaik, maka aku akan memilih untuk mencari rubah. Diam-diam aku berpikir bahwa Jaehyun telah mendapatkanku, dialah orangnya. Aku menelan ludah dan berusaha mengalihkan pembicaraan.

Karena aku merasa jika menyangkut hubungan, Jaehyun tidak akan main-main. Dia akan serius dengan cinta seperti dia serius dengan hal lainnya. Aku masih punya terlalu banyak masalah untuk serius dengan seseorang. Mungkin kalau aku punya kesempatan untuk melepas beberapa masalahku, aku akan memikirkannya.

"Jadi menurutmu Yongju yang memotong talinya?" tanyaku

Kalaupun pengalihan topik yang kulakukan ini mengejutkannya, dia tidak menunjukkannya.

"Hanya itu satu-satunya yang masuk akal" katanya

"Tapi coba kau pikirkan, itu tidak masuk akal bagiku. Dia di pecat. Lalu pergi"

"Dia tidak akan pergi sebelum impas. Karena aku pergi ke perguruan tinggi, dia harus menunggu. Tempat ini, hutan ini –di sini dia akan balas dendam"

"Balas dendam? Hanya karena kau menghajarnya? Kedengarannya sedikit menyeramkan"

Jaehyun tertawa lagi "Menyeramkan? Begitulah Yongju. Dalam beberapa hal, kurasa dia ada di batas kegilaan"

"Tapi apa untungnya memotong tali itu kecuali untuk menakuti semua orang?"

"Bagi dia, itu motif yang cukup. Menciptakan kekacauan"

"Apakah menurutmu Dr. Youngmin dan mahasiswanya akan aman ketika kita tinggalkan?"

"Ya, Yongju ingin membuatku tidak dipercaya lagi. Dia tidak akan menyakiti mereka"

"Sepertinya kau sangat mengenalnya"

Dia menatapku sebentar "Harusnya begitu. Dia kakakku"

Aku terkejut. Keterkejutan itu pasti sangat kentara di wajahku karena dia berdiri lalu melangkah pergi. Kukira dia akan menghilang ke hutan, tapi dia berhenti di tempat tadi aku melihat Yuta dan Hansol berjaga.

Jadi dia berkelahi dengan kakaknya dan membuat kakaknya itu dipecat –menyerahkannya karena berkelakuan tidak pantas. Aku menaruh cangkirku,berdiri dan berjalan menghampirinya. Aku menyentuh lengannya "Pasti berat, kau tidak punya pilihan lain"

Dia menggeleng cepat. "Dia seperti kecanduan untuk berpihak pada yang jahat atau semacamnya. Dia melakukan segala jenis kegilaan. Dia mengenal hutan ini sama seperti aku. Dia bisa bersembunyi dan bertahan hidup tanpa diketahui siapapun dia berada disini"

"Perilaku buruknya bukan tanggung jawabmu"

"Aku melawannya. Mempermalukan dia" Dia menyentuh pipiku. Jari-jarinya terasa hangat menyentuh kulitku "Aku benar-benar ingin menunjukkan rubah itu padamu, tapi tugasku saat ini adalah pemandu professor sampai ke tujuannya, lalu aku harus menemukan Yongju dan berurusan dengannya. Aku harus memusatkan perhatian ke sana" Dia menurunkan tangannya ke samping. Kelihatan dia tidak tenang, seolah dia masih ingin mengatakan lebih banyak lagi,hal yang mungkin menurutnya belum tepat dikatakan sekarang.

"Mungkin sebaiknya kau berjaga di sebelah sana, Taeyong" katanya sambil menunjuk sudut yang berlawanan di perkemahan.

"Ya, tentu. Itu ide yang bagus"

Kekecewaan atas penolakan Jaehyun membuatku terpukul. Ketika berjalan melintasi perkemahan, aku memutuskan apa pun yang kurasakan pada Jaehyun akan segera hilang.

Chanyeol adalah orangnya. Chanyeol aman. Jaehyun mempunyai sesuatu untuk di selesaikan. Mungkin setelah berdamai dengan kakaknya, dia akan punya waktu untukku.

Atau mungkin ketertarikan aneh yang kurasakan padanya akan terputus.

Ya, benar, Lee Taeyong. Psikiatermu salah. kau tak perlu menghadapi ketakutanmu, kau hanya perlu menghadapi kenyataan.

Sejak kematian orangtuaku, aku sudah menutup rapat-rapat perasaanku. Jaehyun membuatku takut karena bersamanya aku memiliku perasaan lagi.

Dan ketika aku bisa merasakan, aku bisa terluka.

Aku tidak ingin terluka lagi.

Chanyeol tidak akan menyakitiku.

.

.

.

TBC

Taeyong lagi bimbang sama perasaan dia guyss~

Adakah yang niat review?

.

.

.

Ppyong~

.

.

.