Aku melihatnya dan tahu apa artinya kekalutan dalam diriku;

Dialah satu-satunya,milikku selamanya.

Summary

Taeyong adalah seorang pencinta alam,seorang pria manis yang tak mampu memahami mengapa ia terpuruk begitu jauh memikirkan Jaehyun

Jaehyun berbahaya,tampan dan seorang manusia serigala.

.

.

Warning : It's YAOI! DLDR ! TYPO(s) ! NO BASHING!WOLF!AU!

Cast : Lee Taeyong,Jung Jaehyun, NCT member.

Rated : T+ /nyerempet M/

Disclaimer :

Fanfiction ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul sama seperti judul fanfiction ini 'A Dark Guardian' yang ditulis oleh Rachel Hawthorne.

Ini bukan fanfiction buatan author melainkan hanya sebuah remake dari novel tersebut, author hanya mengubah nama dan beberapa kalimat agar mudah dipahami pembaca.

Ini juga udah pernah di remake sama author jadi FF KaiHun

diharapkan untuk tidak memberikan bashing untuk fanfic ini.

Hope you like this REMAKE story!

OohSehoonie present….

"A DARK GUARDIAN"

.

.

.

.

Perlu diingatkan disini cerita ditulis dengan Taeyong side. Jadi cerita ini berfokus pada apa yang dirasakan oleh Taeyong.

SEPULUH

Taeyong side

Hari berikutnya, karena aku masih memar dan luka, kami berjalan dengan langkah pelan dan santai. Aku bisa merasakan ketegangan semua Sherpa. Kami sudah memutuskan tidak membahas kecurigaan kami pada Dr. Youngmin dan kelompoknya. Mereka hanya tau kalau kami curiga talinya dipotong. Jaehyun meyakinkan mereka bahwa begitu kami pergi, mereka akan aman.

Dalam perhentian pertama kami untuk istirahat, dengan hati-hati kuturunkan ranselku,menaruhnya di tanah lalu kududuki. Chanyeol bergabung denganku, mengulurkan segenggam bunga liar. Tidak banyak bunga liar di tempat ini, pantas saja dia sering meninggalkan jalan setapak setiap kali melihatnya.

"Kurasa ini akan membuatmu merasa lebih baik" katanya

Aku mengambil bunga liar itu dan mengucapkan terima kasih padanya.

"Jenisnya berbeda-beda"

"Ya, aku bisa melihatnya"

"Beberapa tidak gampang terlihat, tapi aku mencarinya dengan seksama"

"Manis sekali"

"Memetik bunga liar melanggar undang-undang kebun raya" kata Jaehyun tiba-tiba. Seperti biasa, aku tidak mendengar dia mendekat, tapi dia telah berdiri di hadapan kami.

"Kalau begitu, beri aku hukuman" kata Chanyeol "Tidak ada toko bunga yang bisa kuhubungi"

"Ini hanya sedikit saja" kataku "Menurutku, dia tidak sampai merusak"

Jaehyun menyipitkan matanya kearah kami. Tanpa berkata-kata lagi, dia pergi.

"Dia sama sekali tidak romantis" cibir Chanyeol

Sebenarnya Jaehyun itu romantis, hanya tidak dengan cara yang umum. Dan dia benar. Bunga ini akan layu dan mati saat siang, percuma saja memetiknya. Tapi, aku menghargai usaha Chanyeol. Apa yang tidak kuhargai adalah melihat Doyoung bergegas menghampiri Jaehyun. Dia benar-benar manis dan cantik.

"Jadi bagaimana perasaanmu?" tanya Chanyeol, mengalihkan perhatianku kembali padanya

"Hanya sakit sedikit. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan"

"Kalau aku mengalami apa yang kau alami, mungkin aku akan meminta perjalanan ini dihentikan"

"Kemarin itu rasanya seperti arung jeram. Ada bagian yang menyenangkan juga"

"Mungkin lebih baik kalau memakai perahu karet, bukan begitu?"

Aku tertawa "Ya"

"Jadi, mungkin malam ini kita bisa candlelight dinner"

Aku menggosok hidungku "Kurasa Jaehyun ingin semua orang berada di perkemahan"

"Dia bukan bos kita"

"Dia bosku"

"Kalau begitu kau harus mempertimbangkan untuk tetap tinggal bersama kami saat sampai ke tempat tujuan. Kita bisa bersenang-senang"

"Aku tau mereka akan meninggalkan seseorang –"

"Jadilah sukarelawan"

"Mungkin" aku tidak tau bagaimana Jaehyun menanggapinya, tapi ide itu sudah kupikirkan. Kalau aku tinggal, mungkin aku punya kesempatan menjelajahi daerah ini, untuk menemukan tempat orangtuaku meninggal. Masalahnya adalah, ketika aku berumur lima tahun, hutan ini nampak sama saja di mataku, dan kalaupun tidak, hutan ini pastilah sudah berubah dalam dua belas tahun sejak kutinggalkan.

Selama dua hari berikutnya, kami membuat kemajuan luar biasa. Jaehyun selalu memimpin. Kami menuju ke tempat yang belum pernah di jelajahi orang. Dia punya sebilah parang tajam yang dipakai untuk membuka jalan. Dia memaksa kami sampai batas kemampuan kami, dan ketika kami berhasil melewatinya, dia memaksa kami lebih lagi.

Setiap malam kami roboh begitu kemah didirikan. Tidak ada main-main, tak ada kesenangan.

Dr. Youngmin kelihatan puas dengan kemajuan ini. Begitu dia sampai di tempat yang dia inginkan, kami akan meninggalkan dia dengan pekerjaannya dan kembali pada akhir minggu kedua untuk membantu mereka mengangkat barang-barang mereka kembali.

Sejauh ini belum ada kejadian aneh. Kami masih haris berjaga malam secara begiliran. Jaehyun selalu menjadi pasanganku. Kami tidak saling bicara. Kami berjaga di sisi perkemahan yang berlawanan. Aku memperhatikannya sampai dia menoleh dan melihatku –lalu aku mengalihkan perhatian dan berusaha bersikap tak peduli, berharap dia tidak menyadari betapa banyaknya waktu yang kuhabiskan untuk memikirkannya.

Pikiran tentang Jaehyun mengisi otakku sama seperti ingatan akan serigala itu. Aku mendengar serigala itu melolong setiap malam sebelum aku tertidur. Aku terus berharap dia akan muncul saat aku sedang dalam tugas berjaga. Untuk beberapa alasan, aku tidak berpikir Jaehyun akan terkejut dengan kemunculannya di perkemahan. Karena lolongannya tidak pernah terdengar jauh, aku yakin dia pasti mengikuti kami. Pengetahuan itu memberiku rasa aman yang tak bisa kujelaskan.

Hari itu sore keempat sejak peristiwa di sungai, kami menembus semak belukar mencapai tempat yang indah. Tempat itu lebih luas daripada yang pernah kami capai sebelumnya. Di depan kami ada sebuah sungai kecil, airnya gemericik ketika mengalir. Tidak sederas sungai yang kami seberangi waktu itu. Agak jauh dari sana, tanahnya melandai, dan aku tau kami berada di kaki gunung. Lembahnya terhampar luas di hadapan kami, suasananya begitu damai.

"Bagaimana menurut anda professor?" tanya Jaehyun

Aku menoleh dan melihat Dr. Youngmin mengangguk. "Ini sangat bagus, bagus sekali tepatnya"

Ketika kami mendirikan kemah, muncul perasaan berhasil karena tau besok kami tidak perlu membongkarnya lagi. Dr. Youngmin dan mahasiswanya akan berada disini sekitar sepuluh hari.

Jaehyun Yuta dan Johnny pergi berburu. Mereka berharap dapat menangkap kelinci. Aku sedang mengumpulkan kayu bakar di dekat pepohonan saat Chanyeol mendekat.

"Kau sudah memikirkan usulku?" tanyanya. "Aku benar-benar ingin kau tinggal disini bersama kami"

Dia meraih tanganku dan kelihatan bingung ketika kedua tanganku penuh dengan ranting. Lalu dia menggeser tangannya ke lengan bawahku dan mengenggam sikuku.

"Aku menyukaimu, Taeyong. Sangat. Bahkan lebih dari itu. Aku senang sekali kalau punya waktu untuk mengetahui apa yang kurasakan. Menemukan bintang jatuh mungkin"

Seumur hidupku, atau setidaknya sejak orangtuaku meninggal, aku menyukai apa saja yang aman. Aku sudah mencari aman. Jaehyun tidak aman. Dia mengaduk-aduk semua yang ada dalam diriku yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Hal-hal yang menakutkan. Perasaan yang hebat berkecamuk dalam diriku setiap kali Jaehyun ada di dekatku.

Kadang, aku merasa orang lain di dalam diriku akan merangkak keluar dari kulitku, dan aku akan menjadi orang yang berbeda saat aku menghabiskan banyak waktu bersama Jaehyun.

"Aku tidak tau bagaimana mereka memutuskan siapa yang tinggal" kataku jujur

"Jadilah sukarelawan, kau bisa tidur satu tenda bersama Doyoung"

Dia bukan pilihan pertamaku, tapi sialnya dia adalah pilihan satu-satunya. Aku tidak mungkin tidur bersama Chanyeol walaupun kami sesama laki-laki. Aku membayangkan akan mendengar Doyoung tidak akan berhenti bicara tentang Jaehyun setiap malam sebelum kami tidur.

Kurasa itu akan membuatku gila, tapi di lain pihak aku bisa membicarakan Chanyeol. Selain itu aku tak bisa memikirkan cara yang lebih baik untuk menghadapi masa laluku.

"Aku akan bertanya pada Jaehyun."

"Bagus. Aku akan senang sekali kalau kau tinggal"

"Aku akan berusaha untuk tetap tinggal. Kita lihat saja apa yang akan dikatakan Jaehyun"

.

.

.

"Aku tidak yakin itu ide yang bagus" Jaehyun melipat tangan di dadanya sambil mengerutkan dahinya.

"Kenapa?"

"Kau masih baru"

"Aku suka berkemah sepanjang hidupku. Memang aku tidak mengenal hutan ini sepertimu, tapi tetap saja ini seperti hutan lainnya. Tendanya sudah didirikan. Mereka akan melakukan sedikit perjalanan pada siang hari dan melihat-lihat sekitar. Aku tidak merasa ini masalah yang besar. Selain itu, kau harus membebaskanku suatu saat"

"Kenapa kau ingin tinggal?" dia meminta alasan

"Untuk mencari pengalaman. Untuk menghadapi masa laluku"

"Kenapa?"

"Karena Dr. Youngmin tertarik dengan semua teori alam bebasnya, dan mungkin itu menyenangkan –"

"Kenapa?"

Aku menggertakan gigi. Kenapa dia begitu sulit?

"Karena aku menyukai Chanyeol. Aku ingin menghabiskan waktu bersamanya, lebih mengenalnya. Aku merasa tenang bersamanya" Dan aku tidak selalu merasa tenang bersamamu.

"Baiklah. Kau boleh tinggal sesukamu"

Kata-kata Jaehyun singkat. Kasar. Dan penuh kemarahan. Entah kenapa aku merasa kecewa dia berbalik dan melangkah pergi. Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Punya waktu lebih banyak bersama Chanyeol.

Mengapa aku merasa seperti telah kehilangan sesuatu yang lebih penting?

.

.

.

Malam itu saat aku pergi tidur, untuk pertama kalinya, aku menantikan giliran jaga malamku. Chanyeol sedikit berlebihan senangnya karena aku yang akan tinggal bersama kelompoknya. Dia terus menempel padaku seperti kertas pada lem. Jelas sekali dia sangat senang karena aku akan tinggal, seharusnya aku juga senang.

Namun Jaehyun juga sama berlebihannya seperti Chanyeol. Dia menjaga jarak. Dia dan Yuta berbicara pelan dan lama di sisi lain perkemahan.

Aku melihat mereka sedang berdebat. Raut wajah Jaehyun tampak garang dan akhirnya dia melangkah pergi.

"Astaga, kupikir dia mau memukulnya" bisik Chanyeol di sampingku, dan aku sadar ternyata bukan aku saja yang memperhatikan mereka berdua.

Timbul kecurigaanku bahwa mereka tengah membicarakan aku dan keinginanku untun tinggal. Tapi kenapa Yuta perduli? Ada apa dengan Jaehyun? Kami tidak berpacaran atau semacamnya.

Ketika Ten akhirnya kembali ke tenda dan membangunkanku dengan suara lelah "Giliranmu" aku keluar dari tenda. Aku ingin bicara pada Jaehyun, mencoba untuk menjelaskan –

Apa?

Aku tidak yakin. Aku hanya tidak mau besok pagi dia pergi dalam keadaan masih marah padaku. Tapi dia sendiri yang bilang dia punya banyak hal lebih penting untuk dikhawatirkan daripada aku. Chanyeol membuatku merasa seperti akulah satu-satunya yang penting.

Aku butuh itu.

Tapi saat aku melangkah keluar tenda, bukan Jaehyun yang sedang menungguku. Tapi Johnny.

"Dimana Jaehyun?" tanyaku

"Tidur. Aku akan berjaga di sebelah sana" Dia mulai melangkah pergi

"Johnny?"

Dia berhenti dan menatapku. Dia tidak tersenyum padaku seperti biasanya. Aku berharap alasannya karena hari sudah larut, tapi aku tau dia juga marah padaku.

"Aku tidak mengerti kenapa kalau aku yang tinggal akan menjadi masalah besar"

Dia mendengus. "Aku tau. Dan itulah alasannya kenapa menjadi masalah besar"

"Lalu kenapa tidak seorang pun yang menjelaskannya padaku?"

"Aku tidak punya hak untuk itu"

Alasan yang sangat tidak memuaskan "Terserahlah. Hanya sepuluh hari. Kalian ini bersikap seperti aku sedang mengkhianati kalian atau apa"

"Kami hanya tidak berharap kau yang akan tinggal. Itu saja"

Karena aku anak baru? Kalau Jaehyun memang keberatan, dia bisa bersikeras aku harus pergi. Sungguh membingungkan. Aku bersyukur karena aku punya beberapa hari sendirian tanpa Jaehyun yang memenuhi pikiranku.

Dengan santai, Johnny melangkah pergi tanpa melihatku seolah semua pertanyaanku sudah terjawab. Hanya saja, aku masih punya pertanyaan lain. Tapi dia tidak akan mau menjawabnya. Terpikir olehku untuk membangunkan Jaehyun, tapi aku tak mau mengganggunya. Terutama ketika dia kurang tidur seperti biasanya.

Dan kalaupun dia bisa tidur, seberapa takutnya dia karena aku akan tinggal? Tidak terlalu.

Aku berjalan ke pinggiran dan ketika sampai di sungai, aku berdiri dan memandangi cahaya bulan yang terpantul di atas air.

Saat itu barulah aku sadar malam ini aku tidak mendengar lolongan serigala. Apakah kami telah berjalan melewati batas daerah kekuasaannya? Apakah dia jauh tertinggal di belakang? Pikiran itu membuatku sedih, hampir saja membuatku berubah pikiran untuk ikut kembali besok,hanya agar dapat lebih dekat dengannya.

Namun itu pikiran yang bodoh. Mungkin saja lolongannya setiap malam sebelum aku tidur hanya kebetulan saja.

Aku akan bersenang-senang disini bersama Chanyeol.

.

.

.

Para Sherpa pergi pagi-pagi buta. Ketika aku berdiri di pinggir perkemahan dan mengawasi kepergian mereka, aku melihat hanya Ten yang berbalik ke belakang. Perasaan ditinggalkan ini sangat konyol. Bukan berarti kami tidak akan bertemu lagi.

Selama dua hari, kami berada di dekat perkemahan dan aku ragu untuk mengusulkan pergi berjalan-jalan. Kami dekat dengan pegunungan.

Setelah makan siang pada hari ketiga, aku mencari Chanyeol dan berkata "Kita perlu sedikit bersantai"

Dia tersenyum "Ya, ayahku sedikit memaksa dan dia tidak bisa berimajinasi. Apa yang kau pikirkan?"

"Menjelajahi pegunungan"

"Ayo kalau begitu"

Walaupun sekarang masih siang dan kami tidak akan pergi terlalu jauh, aku mengambil ranselku.

Mendaki gunung bersama Chanyeol jauh berbeda saat mendaki bersama Jaehyun. Aku meyakinkan diriku begitu, karena kami tidak punya tujuan pasti untuk dicapai, sebaliknya Jaehyun selalu punya tujuan. Namun Chanyeol tidak memimpin, kami berjalan berdampingan.

"Jadi, apa kau sudah tau mau melanjutkan ke universitas mana?" tanya Chanyeol

"Mungkin aku akan mulai dengan perguruan tinggi terdekat. Tidak ada ujian-ujian apapun yang diperlukan untuk masuk ke rumah sendiri" Aku tersenyum muram "Aku ini payah dalam ujian"

"Aku juga, walaupun aku sudah belajar mati-matian. Itu membuatku kurang berharga di mata ayahku yang terhormat"

Hari ini pertama kali aku mendengarnya mengatakan sesuatu yang menjatuhkan ayahnya "Kau dan ayahmu terlihat dekat" Kecuali di malam ketika mereka membicarakan manusia serigala itu.

"Ya, biasanya begitu. Tapi walau kau merasa begitu, dia tetaplah orangtua. Dia tidak selalu ingat bagaimana rasanya saat muda"

"Aku tau itu"

Bayangan sudah mulai memanjang. Aku kaget sendiri melihat kami sudah berjalan jauh. Jauh dari semuanya, semua orang dan yang ada hanyalah hutan belantara di sekitar kami.

"Mungkin sebaiknya kita kembali" saranku

"Sebentar lagi" Dia mencari sesuatu di salah satu saku celananya dam mengeluarkan lilin putih tebal "Aku sudah berjanji untuk makan malam dengan cahaya lilin"

"Tapi kalau kita melakukannya, hari akan gelap dan kita akan kehilangan jalan kembali ke perkemahan. Ini sungguh tidak bijaksana –"

"Kau berlebihan Taeyong. Kalau begitu ayo kita hanya akan makan beberapa makanan kecil dengan cahaya lilin"

Kedengarannya jauh lebih romantis daripada yang kubayangkan, tapi ini lebih romantis daripada yang pernah Jaehyun lakukan padaku. Namun, tetap saja aku marah pada diriku sendiri karena selama tiga hari ini aku masih tetap memikirkan Jaehyun.

Chanyeol dan aku melepaskan ransel. Dia sedang menyeimbangkan lilin diatas sebuah kaleng kosong. "Duduklah dulu. Aku harus menyiapkan beberapa hal lagi"

Aku duduk di atas tanah "Kau tau, aku tidak yakin kalau menyalakan lilin adalah ide yang bagus. Lilinnya benar-benar tidak seimbang, aku tak mau muncul di berita dengan topik kita telah membakar lima juta hektar hutan"

"Mungkin kau benar" jawabnya ragu lalu mendekat dan menciumku.

Tapi ciuman itu tidak lembut ataupun manis. Sangat tidak seperti Chanyeol, kasar dan sangat memaksa, aku mendorongnya.

Dia balas mendorong dengan keras. Aku terjatuh ke tanah. Dia menendesku. "Maaf" bisiknya pelan. Dia mulai menciumku lagi. Lebih kasar dari sebelumnya.

Aku mulai panik. Apa yang sedang dilakukannya? Kenapa dia seperti ini? Aku mulai menampar Chanyeol. Dia memegangi kedua pergelangan tanganku dengan sebelah tangan dan menahannya di atas kepalaku. Dia merendahkan bibirnya ke telingaku

"Ikuti saja semua ini" katanya dengan suara pelan

"Tidak! Lepaskan aku."

Aku berusaha melepaskan diri tapi Chanyeol memegangi rahangku dengan tangan satunya dan berusaha menciumku lagi. Aku berpikir untuk melawannya.

Jantungku berdegup tak terkendali. Belum pernah aku setakut ini.

Lalu aku mendengar suara geraman rendah yang mengancam. Chanyeol terdiam, aku melihat senyum kepuasan di wajahnya. Aku menoleh ke samping.

Dan dia disana. Serigala itu. Memamerkan giginya dengan gertakan mengancam.

Chanyeol bergeser menjauh dariku. Dia menggapai ke belakang dan aku berlari menjauh.

Tiba-tiba ada suara ledakan pelan. Serigala itu mendengking dan terhuyung-huyung.

Aku menoleh ke belakang. Chanyeol sedang memegang pistol, membidik serigala itu.

"Jangan!" teriakku. Aku berusaha menahannya namun terlambat.

Serigala itu melompat. Chanyeol menembaknya lagi.

Dan serigala itu terjatuh.

.

.

.

TBC

Ada yang masih nunggu lanjutan FF ini gak?