Drabble 3: DaiSugaSho
Sudah dua hari ini Miyagi mengalami badai salju. Berita di televisi menyatakan bahwa badai kali ini adalah badai terbesar sejak sepuluh tahun terakhir. Habis badai, seluruh Sendai rasa-rasanya diselimuti padang putih salju kemana pun mata memandang.
"Papa."
Daichi menoleh pada Shoyo yang berlarian dengan susah karena kakinya yang terbenam di tanah salju tebal. Wajah balita itu memerah karena dingin meski sudah berlapis ibunya menyelubungi tubuh kecil itu. Tawanya gembira sambil tangan kecil dan pendeknya terangkat, menyambut hujan salju yang kini makin mereda. "—nju!"
Lelaki berambut hitam itu tertawa pelan. Ketika didapat si jingga salju di kepalannya, ia mencoba berlari pada ayahnya dengan menjulurkan tangannya. Memamerkan apa yang ia dapat. Pun salju yang dipijaknya jauh lebih tinggi dan berkali-kali ia tersandung dan jatuh ke peluk dingin tanah putih itu. Daichi tak hentinya tertawa melihat tingkah anak tunggal kesayangannya itu.
"Sho-chan, ayo pulang. Dingin."
Mereka hanya berniat jalan-jalan sore saja tadinya. Melihati bagaimana desa kecil mereka terbenam salju, menyapa orang-orang rajin yang mulai menyeroki salju di halaman rumah mereka.
"Papa." Tangan kecil Shoyo memegangi jari telunjuk ayahnya yang berjalan sedikit membungkuk demi si jingga yang tak mau digendongnya. "Ya, sayang?"
"—nju."
Telunjuk kecil Shoyo berusaha sekuat tenaga keluar dari berlapis-lapis jaket yang menyembunyikannya. Menunjuk sebuah danau besar tempat ia dan ayahnya sering memancing bersama jika musim panas, tempatnya piknik melihati bunga sakura saban semi datang.
"Woah, danaunya jadi beku ya, sayang?"
"Cho-chan nju!"
Dilepas Shoyo pegangannya pada sang ayah dan ia berlari pelan ke tempat itu. Mata cokelatnya berbinar takjub menatap beku air yang tak menenggelamkannya. Ia tak bisa melihat apa di bawahnya, semuanya putih dan biru hitam. Dipikir si jingga kemana perginya ikan-ikan di sana. Berdiam di rumah mereka kah? Menunggu hari menjadi lebih hangat lagi sebelum kembali berenang riang di danau yang mulai mencair?
"Shoyo, bahaya!"
Shoyo bahkan belum sempat menoleh pada ayahnya yang berteriak nyaring saat didengarnya bunyi retak pelan di bawah kakinya sebelum sepatu dan tubuhnya basah kena dinginnya air. Gravitasi menariknya ke dasar danau yang dingin, matanya masih membelalak tak mengerti, pikirnya entah apa.
Daichi memekik nyaring. Larinya yang dihambat tumpukan salju dikutukinya. Wajahnya memerah karena amarah sekaligus perih tiba-tiba. Tak ia pikir untuk melepaskan bajunya saat ia turut terjun ke bawah sana. Menarik tubuh kecil yang mulai hilang hangatnya itu ke permukaan.
Pecahan es itu melebar hingga tepian danau kala Daichi berlari di atasnya. Dingin tak dirasanya karena takut menguasai. Tubuhnya gemetaran, bukan karena dingin, namun ketidakmampuan dalam menyadari bahwa tubuh kecil itu sudah tak lagi gemetaran di tubuhnya. Mata cokelat indah si jingga menutup, seluruh wajahnya membiru, pun hidungnya tak lagi bekerja.
Daichi tak tahu, haruskah ia menikmati piknik musim semi dan panasnya di danau yang telah merenggut bayinya ini?
