Drabble 4: Keluarga Karasuno dan Fukurodani
Shoyo berjalan sambil melompat-lompat gembira menghampiri Keiji dan Koshi yang mengobrol berdua di teras rumah. Wajah si jingga cerah, dia sumringah.
"Mama!"
Baik Koshi pun Keiji menoleh pada bocah yang kini mengulurkan dua lembar kertas ke arah mereka masing-masing. Kata si jingga dengan ceria, "Kupon boleh melakukan apa saja!"
Koshi tersenyum sedang Keiji takjub sambil mengambil kertas yang diulurkan kepadanya. Tulisannya "Kupon Hari Mama untuk Mama Keiji". Ada sekitar enam kotak sebagai penanda enam kupon yang bisa dirobek
Lanjut Shoyo lagi, "Mama boleh minta Shoyo pijit, belanja, cuci piring—" ia terkekeh sebentar, "—asal apapun yang bisa Shoyo lakukan."
Koshi dan Keiji saling menatap. Keiji berjongkok agar menyamai tinggi anak baptisnya itu, "Kalau begitu—" Keiji merobek satu bagian tiket di garis dan menyerahkannya pada Shoyo, "—Mama Keiji minta dicium dan dipeluk Shoyo kapanpun Mama mau."
Senyuman Shoyo lebar. Bocah enam tahun itu meloncat senang dan mencium pipi si hitam dalam dan penuh sayang sebelum memeluk leher Keiji erat. Dibalas Keiji pelukan Shoyo dan bisa didengarnya tawa bahagia Shoyo.
Koshi ikut berjongkok dan merobek satu kupon, "Kalau begitu Mama Koshi juga."
.
.
Bokuto meringis melihat dari balik dinding sementara Daichi tak henti-hentinya memotret tiga orang yang saling berpelukan itu. Si perak jabrik tak tahan pada kecemburuan di dalam dadanya dan segera berlari keluar dari persembunyian sambil menyeru, "Sho-chan! Papa Bo juga mau kupon!"
"Papa bukan Mama!"
"Kalau begitu Papa Bo jadi Mama."
"Mana bisa!"
