Drabble selanjutnya:
Shoyo membasuh mukanya dan menggosok giginya kemudian. Derit lantai kayu terdengar bersamaan dengan langkah kaki ibunya yang pelan-pelan memindahkan panci ke meja makan. Aroma ikan goreng menyerbak bercampur dengan bau laut, amis ikan, dan ebi kering serta nori yang mulai dijemur di bawah terik matahari panas pagi ini.
Ini Selasa dan Shoyo memakai kausnya dengan cepat, melompati tangga depan rumahnya dan menjawab panggilan ibunya, "Shoyo makan nanti, Ma."
Rumahnya ke dermaga hanya lima menit. Sambil berlari ia menyapa orang-orang tua pulau yang sudah sibuk dengan pekerjaan mereka. Ada jua yang baru pulang melaut dan menariki perahu-perahu mereka ke tepian pantai.
Sepuluh menit ia menanti di pelabuhan. Menunggu dengung kapal yang datang dari pulau besar Honshu ke pulau kecilnya saban seminggu sekali. Menatapi beberapa orang yang turun dari kapal, orang-orang yang dia kenal, atau sekadar wisatawan dan jurnalis.
Ia masih tersenyum meski tak kunjung jua menemu apa yang dicarinya. Melambai pada kapal yang kembali pergi ke pulau-pulau Izu lainnya dan ia mendesah panjang.
Tujuh tahun, saban hari Selasa, badai atau tidak, ia setia saban pagi menunggu di dermaga. Menanti kepulangan orang yang berjanji padanya untuk segera kembali ke pulau itu. Meski tak kunjung jua ia terlihat di antara mereka yang dibawa kapal. Shoyo masih berusaha tersenyum tegar. Gelombang-gelombang kecil di laut tak ubahnya kelinci-kelinci yang melompat dan membercandainya. Angin kencang laut menertawakannya, seolah menyuruhnya menyerah saja.
"Papa berjanji akan segera datang. Tapi, mana dia?"
