Drabble nomor sekian: BokuAka

Bandul salib bercorpus itu jatuh menggantung saat Akaashi menunduk untuk mengambil handuknya yang jatuh. Dan baru disadari Bokuto bahwa si hitam mengenakan kalung. Jelas selalu disembunyikan setter-nya itu di dalam bajunya, dipikir Bokuto. Mata emas itu lurus menuju Akaashi yang kembalu memasukkan bandulnya dan tangan kanan yang menyapu keringat di wajahnya.

Ah, Bokuto mendesah, Akaashi sangat berbeda darinya. Dia tenang, sementara Bokuto bagaikan badai. Kuat, bertenaga, dan menghancurkan. Itu kata kawan-kawannya. Pun Akaashi pintar, selalu ranking lima terbaik di antara kawan-kawan satu angkatannya. Sementara Bokuto—yah, memang ada beberapa mata pelajaran yang tidak begitu dikuasainya, namun ia rata-rata.

Dan Akaashi percaya Tuhan. Sedang Bokuto tak terlalu yakin akan adanya suatu entitas yang tak bisa ia rasai dengan inderanya. Tuhan, kah, dewa, kah, Bokuto tak pernah mengambil pusing. Meskipun saban tahun baru ia selalu berkunjung ke kuil untuk berdoa, baginya itu hanyalah sebuah rutinitas—yang kali ini dipertanyakannya untuk apa. Ibunya memiliki altar untuk menyimpan abu kakek dan nenek, tapi bukan berarti keluarganya beragama Shinto ataupun Buddha.

Bokuto menjalani kehidupannya akan kepercayaan pada dirinya sendiri. Semua yang terjadi pada dunia adalah karena pergerakan energi manusia sendiri. Manusia bergerak. Bokuto juga. Ia percaya takdir, namun keberadaan Pencipta tak terlalu ia perhatikan.

"Bokuto-san, aku tak keberatan sungguh."

"Akaashi. Aku memaksa. Kau sudah membantuku selama ini. Biarkan aku mentraktirmu!"

Si hitam mendesah. Mata hijaunya malas menatap si perak yang bersemangat, melotot padanya, menanti jawaban. "Baiklah. Baiklah."

"Nonton film. Kau tahukan saat ini sedang ramai film Forgivers: Temporary Peace. Ayo nonton itu."

Akaashi melipat baju kotornya, memasukkannya ke dalam tas dan berkata sambil lalu, "Baiklah."

Lonjakan gembira itu dirasa Akaashi. Senyuman kaptennya itu makin lebar makin cerah wajahnya, "Kalau begitu—hari minggu ketemu di taman, bagaimana?"

"Aku tidak bisa jika Minggu." Kini hijau Akaashi menatap yang emas yang tak mengerti itu. "He? Kenapa?"

"Hari Minggu," ulang Akaashi lagi. Tatapannya lurus pada Bokuto. Untuk sejenak Bokuto diam hingga akhirnya ia paham. "Oh—ya. Benar."

"Tapi—" resleting tasnya ditutup dan Akaashi mengangkat tasnya, menyampirkannya di bahu, "—kalau sore, aku bisa mengusahakannya."

Jempol Bokuto terangkat dan wajah bahagia itu muncul lagi.