Drabble kehilangan hitungan: BokuAka

Bokuto duduk diam di samping Akaashi. Kepalanya tergeletak, rebahan di atas meja sementara mata emasnya melirik si hitam anggun yang duduk dengan tangan kanan memegangi sebotol susu cokelat yang ujung sedotannya menetap di sela bibir tipis dan tangan kirinya memegang buku yang sedari tadi dibacanya. Ia sudah terlalu lelah menghadapi tingkah Bokuto seharian itu, jadi Akaashi sama sekali tidak peduli pada ekspresi merajuk si perak.

"Ahkaaaashey."

Dan dia selalu berdehem pelan setiap kali dipanggil. Membuat si perak kembali nelangsa di sampingnya.

"Aghkaaaaashiiiiiiiy." Kali ini Bokuto duduk tegak dan menghadap si hitam dengan kesal. Mulutnya manyun, ekspresi wajahnya masam. "Sekarang valentine loh, Aghkaaashi... Valentine! Choco."

"Kau sudah dapat banyak dari penggemarmu, Bokuto-san. Atau kantung plastik yang kuberi tidak cukup untuk membawa cokelat yang kau terima?" Akaashi masih tenang menghadapi rajukan itu. Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangnya dari buku. Hanya menjauhkan sedotan susunya saja dan menggeletakkan tangan kanannya ke atas meja.

"Bukan itu, Ahkaaashiiiii—"

Lalu apa lagi? Akaashi mengeluh di dakam hati. Ia tutup bukunya sambil menatap si empunya keemasan di sampingnya yang sedari tadi menuntut perhatiannya.

"Choco! Mana choco untukku?"

"Kau lupa menaruh cokelatmu? Aku sama sekali tidak melihatnya, Bokuto-san."

"Argh!" Bokuto mengacak-acak rambut peraknya kesal. Entah Akaashi tengah berpura-pura atau memang benar-benar tidak menyadari keinginan nomor satu Bokuto. "Cokelat darimu! Aku mau cokelat darimu!"

Akaashi menghela napasnya panjang begitu tahu permasalahan kegelisahan Bokuto tadi. Ia mendecih sekali sebelum kembali membuka bukunya dan terpekur pada isinya. Katanya sambil lalu, "Aku tak punya. Cokelat valentine hanya kewajiban perempuan untuk diberikan pada lelaki. Aku tidak tertarik pada hal-hal konyol seperti itu, Bokuto-san."

Bokuto ternganga tak percaya. Ia berteriak meratap, tak peduli tatapan sinis pengunjung kantin lain yang merasa terganggu. Semenit dua, ia kembali diam dan menatap Akaashi dengan bibir manyun penuh kekesalannya. Ketika si hitam melepaskan sedotan dari bibirnya usai menyedot susu cokelat kotakannya, segera ditarik Bokuto kepala Akaashi dan dikucup si perak bibir tipis berasa cokelat itu. Menjilati segala rasa cokelat yang diingininya dari dalam mulut si anggun itu dengan langsung hingga habis rasa manisnya dan terengah-engah mereka dibuatnya.

Wajah Akaashi luar biasa memerah. Matanya melotot pada si perak dan bibirnya terasa bengkak karena dihisap kuat-kuat selama bermenit-menit oleh si perak yang kini tertawa penuh kemenangan sebelum kabur dari hadapannya.

Akaashi akan mencatat hal itu. Tahun depan ia akan menyediakan cokelat sesuai harapan orang itu agar hal memalukan seperti itu tak terjadi lagi.

Atau justru Akaashi sama sekali tidak membencinya?