Drabble entah keberapa: DaiSugaSho
Koshi tergelak geli saat melihat pantat kecil dan gemuk Shoyo bergoyang-goyang saat bayi delapan belas bulan itu berlari-lari dari kejaran sang ayah. Ia bersembunyi di balik tirai jendela yang hanya menutupinya hingga perut dan Daichi dengan nada jenaka menanya dengan suara sedikit nyaring, "Aduh... Shochan dimana, ya?"
Bahak mungil itu tak hentinya membuat senang hati Koshi. Tirai jendela yang menyembunyikan bayinya bergerak-gerak geli mengikuti alunan tawa si jingga. Daichi masih berpura-pura mencari, mondar-mandir di depan kaki terbuka si jingga sambil terus menanya, "Shochan... Shochan. Aduh, Shochan pintar sembunyi, nih."
Dan ledakan tawa menghambur saat tiba-tiba Daichi menyerbu peluk tubuh kecil anaknya. Shoyo bergelinjang geli dipelukan sang ayah. Wajahnya memerah karena kebahagiaan yang menyulut kembang api di hatinya. Koshi mendekat, turut memeluk si jingga dan diciuminya dengan penuh sayang keningnya. Ah, dia ingin seperti ini selamanya.
.
.
"Kau yang mengharapkan ini." Daichi membenarkan tas yang dijinjingnya. Wajahnya kusut. Rautnya tak menyenangkan, tapi lebih mengerikan raut wajah Koshi. Si perak itu berujar, "Kau penyebab perceraian ini. Sana, tidur saja dengan pacar mudamu itu. Aku tidak peduli lagi, dasar laki-laki brengsek."
"PAPPAAA."
Bayi itu bahkan baru dua tahun. Ia tak mengerti pada kekalutan kedua orang tuanya. Ia tak tahu makna tangisan ibunya selama ini, amarah sang ayah yang diam-diam bisa ia dengarkan kala malam, yang disangka kedua orang tuanya dia sudah tertidur.
Si jingga itu sama tidak mengertinya kenapa ayahnya mengepaki barang-barangnya dan membawa semua itu ke pintu depan. Akal Shoyo masih tak sampai. Tapi ia merasakan ketakutan aneh yang baru kali itu ia rasakan. Sekali lagi Shoyo berteriak sambil berlari menuju ayahnya. Tangannya terulur ke depan, senyumannya secerah biasa, "PAAPPAAAA!"
Kaki Daichi ditarik si jingga kala ia melangkah ke luar. Ketika Koshi menggendongnya, Shoyo mengamuk, ingin bersama ayahnya.
Daichi menurunkan tas yang ia sandang dan Koshi menurunkan Shoyo ketika dilihatnya Daichi akan mengatakan sesuatu pada anaknya. Ia tak sudi mantan suaminya itu berbicara terlalu dekat ke mukanya ketika Shoyo digendongnya.
"Shochan. Ayo main petak umpet. Papa yang jaga, ya. Shoyo sembunyi. Oke?"
Tawa Shoyo kembali terdengar. Ia berputar dua kali terlebih dahulu sebelum berlari tertatih masuk ke dalam rumah ketika Daichi mulai menutup matanya sambil berhitung. Namun hitungan si hitam tak sampai sepuluh, menyadari anaknya tak ada di sana, dibukanya matanya dan ia bergegas mengambil lagi tasnya. Dengan suara berat ia berujar tanpa menoleh pada mantan istrinya, "Aku titip Shoyo. Jaga dia dengan baik."
"Tanpa kau suruhpun aku sudah pasti akan melakukannya."
Daichi melewati pintu. Pergi. Takkan pernah lagi melewati pintu yang sama. Takkan pernah lagi mencari suara yang sama. Shoyo ditinggalnya. Si jingga itu menunggu ditemukan oleh Daichi tanpa tahu bahwa harapnya tak akan terkabul.
Dan hingga ia beranjak dewasa, Shoyo selalu percaya bahwa dia adalah pemain petak umpet terbaik. Karena hingga kini ayahnya tak mampu jua menemukannya.
