Drabble udah: BokuAka

Bokuto tak berhenti jua menatapi Akaashinya. Bahkan setelah si hitam memprotesnya karena tatapan sepasang emas itu seolah mampu menembus tengkorak kepala Akaashi, Bokuto tak berhenti.

Akaashinya terlihat tua. Jauh lebih tua daripada kawan-kawan seangkatan Akaashi sendiri. Meski tak ada keriput di wajah cantik itu, Bokuto merasakan sesuatu yang berbeda. Aura yang terpancar dari orang ini mengingatkan Bokuto pada para orang dewasa yang dengan mata-mata ikan mati mereka berdiri lelah di peron stasiun, menanti kereta yang membawa pulang tubuh layu mereka ke rumah-rumah dinginnya.

Namun mata hijau Akaashi tidak mati. Meski-baru saja Bokuto menyadarinya-bahwa ada kelelahan luar biasa di binar itu yang tak Bokuto tahu penyebabnya, namun sepasang mata bola itu berbeda. Hijau itu warna yang biasa, namun yang menjadi warna mata Akaashi membekukannya. Mata itu hidup. Tidak sekuyu mata-mata lelah di peron.

Aura yang dirasa Bokuto adalah kedewasaan dan keletihan yang sama. Kesendirian dan pedih karena berada lama di dalamnya, Bokuto menyangka. Yang tak ingin si perak membiarkan Akaashi larut di dalamnya berlama-lama. Akaashi tidak sendirian, Bokuto ingin meneriakkan dan berargumen dengan benaknya sendiri. Ada ia di sisi Akaashi, katanya sendiri. Ia ingin Akaashi menyadari bahwa Bokuto ada untuknya, siap berbagi letih yang sama agar ringan sedikit pundak tangguh itu. Ah, Bokuto jatuh cinta lagi pada Akaashi.

Tangan Bokuto meraih bahu Akaashi yang mendadak mengejut dilihatnya. Bokuto tertawa dan dipijatnya pundak sayu itu dengan pelan dan lembut, "Akaashi, relaks. Relaks. Kalau kau tegang terus, nanti kau cepat tua, loh."

Didengar Bokuto Akaashi mendesah pelan. Urutan tangan Bokuto menguat, merasai urat-urat kaku si hitam di bawahnya. "Kau memikirkan sesuatu lagi, Akaashi. Kau bisa berbagi padaku, tahu. Siapa tahu aku bisa membantumu."

"Benarkah kau ingin membantuku?"

Bokuto menyunggingkan senyuman penuh kesombongannya seperti biasa. "Tentu saja. Walau bagaimana pun kan aku ini kapten. Aku ingin menjadi kapten yang berguna. Kalau semua masalah tim kau yang mengurusnya, aku tak enak menyandang posisi ini."

"Kau serius?"

"Sejuta persen serius."

"Takkan menyesal setelah aku meminta bantuanmu?"

"Tentu saja tidak."

"Jangan menarik kata-katamu lagi nanti."

"Lelaki sejati takkan menjilat ludahnya sendiri."

"Kalau begitu kukatakan saja. Aku meminta tolong kepadamu untuk berhentilah bertingkah kekanakan, Bokuto-san. Kau harus tahu, bahwa 89% masalah yang mengganggu pikiranku itu adalah kau. Kau pikir aku bisa berhenti merasa terganggu hanya ketika kau tidak ada di dekatku? Aku selalu terpikir masalah rengekanmu dan tingkah lakumu yang membuatku sakit kepala."

Pijatan Bokuto mengendur, memelan, hingga terlepas sama sekali. Mulut Bokuto merapat, kening dan bibirnya sama-sama mengerut ke bawah. Ada setumpuk air mata yang menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya mengaca dan kabur. Seluruh tubuhnya gemetaran karena kejut dan kepedihan ketika tahu orang yang disayanginya ternyata menderita karena ia. Lebih menyakitkan lagi karena ia baru mengetahuinya sekarang.

Bibirnya bergetar, ia mencoba berujar meski hanya sepatah, namun sulit. Wajahnya terasa panas dan hidungnya memenuh. "Ahk... Ahkhhaaaaashe... Ma... Maafkan aku."

Dan Bokuto menggigiti bibirnya agar tangisannya tidak meledak. Tak didengarnya Akaashi mendesah lebih berat lagi dari sebelumnya karena kini si perak menggesekkan lengan bajunya ke wajahnya untuk menghapus air mata dan ingus yang mulai meleleh. Si hitam berbalik dan menarik tubuh bayi besarnya. Dipeluknya si perak dan diciumnya kening Bokuto. "Maafkan aku. Aku sudah berbicara keterlaluan."

Tangisan itu pecah di peluk Akaashi. Balas peluknya lebih erat dan justru mengepit kuat tubuh Akaaahi dengan otot-otot dada dan bisepnya. Membuat si hitam kesulitan bernapas dan mengejang. Namun si perak tak merasa dan makin mengeratkan pelukannya sambil meneriakkan nama entah apa yang tak bisa dideteksi lagi silabelnya.

Komi, Konoha, Sarukui yang sedari tadi menonton adegan opera sabun itu meneriaki si perak, "BOKUTO! AKAASHI MATI! AKAASHI MATIIIIIII!"