Drabble Lima belas: Daichi dan Shoyo
"Papa. Sakit."
Daichi tersenyum dan mengelus kepala jingga putranya. Mata Shoyo terpejam kuat, mengerutkan kening dan kulit sekitaran matanya. Ada genangan kecil di ujung mata kanan sementara bibirnya ia gigiti kuat-kuat. Bocah lima tahun itu mengernyit dan sudah akan berteriak kala perawat memasukkan jarum infusnya ke tangan kecil itu. Namun teriakan itu hanyalah keluar isakan. Kepalanya ia tempelkan di dada ayahnya.
Mau berapa kalipun ini dilakukan, ia tetap merasakan sakit yang tak terhingga.
Dada Daichi selalu perih saban melihat usaha keras anak kesayangannya itu berjuang. Berjuang menahan rasa sakit dari berbagai macam hal. Di luar tubuhnya dan di dalam tubuhnya jua.
Tak dihentikan Daichi belaian lembutnya di kepala sang putra. Bisiknya pelan pada Shoyo, "Setelah Sho-chan sembuh, kita jalan-jalan ke Owlland, ya."
Tak ada jawaban. Bahkan Daichi sendiri pun jika ada di posisi Shoyo akan menanya terus, 'Kapan memang ia bisa bepergian bersenang-senang begitu?' saban kali ayahnya menjanjikan hal-hal menyenangkan padanya yang terkungkung dalam penderitaan tak berkesudahan.
"Sho-chan mau ke tempat mama."
Ditahan Daichi tangisnya sendiri. Ia takkan merelakan Shoyo pergi ke tenpat istrinya. Apalagi yang dimiliki Daichi jika Shoyo pun harus pergi darinya?
"Tapi Papa punya banyak janji pada Sho-chan. Kita belum selesai main petak umpet, oni-san, kita juga belum ke pantai, jalan-jalan ke gunung, ke Owlland."
"Papa—sakiiit."
Dipeluk Daichi erat tubuh kecil itu. Bahkan jika bisa, rasanya ia sangat ingin apa yang diderita Shoyo dipindahkan sajalah padanya.
"Tahan sedikit ya, sayang. Nanti Shoyo sembuh kok."
Isakan si jingga menguat. Wajahnya dirasa Daichi makin basah di dada sang ayah. Diciuminya ubun-ubun jingga Shoyo.
"Sho-chan mau sama Mama."
"Sho-chan tidak suka sama Papa?"
Shoyo tak menjawab. Ia hanya terus memanggil-manggil ibunya, "Mammaaa."
Tapi pegangannya di dada si hitam tak lepas jua. Teriakannya seolah berharap ibunya muncul saat itu jua. Memeluknya dengan penuh rasa sayang seperti sebelum ia pergi meninggalkan keduanya dengan sangat tidak terduga.
Dulu Daichi tak bisa mengupayakan apapun untuk menahan kepergian Koshi dari hidupnya. Kini—ia takkan sudi lagi begitu. Akan ia lakukan apapun untuk menyelamatkan putranya. Seluruh hartanya takkan berarti jika Shoyo turut pergi darinya.
