Setelah lima hari pernikahannya dengan Bokuto, Akaashi memutuskan pulang ke rumahnya untuk dua hari. Mengurus apa yang tertinggal di sana untuk dibawa ke rumah baru mereka.

Namun rasanya, baru serumah selama lima hari dengan Bokuto terasa seperti lima tahun tinggal dengannya. Melihat sofa nyaman di rumahnya yang tenang tanpa Bokuto yang acap kali mengganggu dan menggodanya saban Akaashi istirahat sejenak merupakan oase tersendiri bagi si hitam untuk mengistirahatkan dirinya di rumah orang tuanya.

Hingga ia ketiduran.

"Keiji... Bangun. Saatnya makan malam."

Ia merasa pundaknya ditepuk dan dengan perlahan mata hijau itu terbuka. Mendapati langit-langit yang selama 24 tahun dikenalnya dengan betul. Selimut tipis kesukaan ibunya menjaga suhu tubuhnya dan Akaashi baru menyadari ia tertidur di sofa tengah. Ayah dan ibunya berbincang di meja makan di belakang sofa dengan tawa indah sang ibu yang khas dan disukai Akaashi. Dengan pelan dan lega Akaashi bangun dan mendesah pelan, "Ah, aku bermimpi telah menikah dengan Bokuto-san. Untunglah itu hanya mimpi."

Pipi Akaashi ditarik ke samping dengan gemasnya dan si hitam menoleh, mendapati si perak jabrik ada di sisinya, "Itu bukan mimpi. Itu nyata. Aku menjemputmu. Ayo pulang."