Drabble tujuh belas: BokuAka

Bokuto tak memperhatikan langkahnya lagi. Ketergesa-gesaan seolah menjadi napasnya saat ini. Keringatnya membasahi mata, dan dalam sekejap ia merasa perih sebelum tersandung kakinya sendiri dan membuatnya tersungkur. Pun dengan cepat ia berdiri dan melanjutkan larinya lagi.

"Keiji!"

Si hitam yang semula setengah tidur kembali membuka matanya, menatap si perak yang tersengal di pintu dan tersenyum tipis padanya. Sebelum mata hijaunya memandang perih sepasang emas yang penuh khawatir melihatnya. Akaashi tertunduk, makin menunduk makin mendekat langkah Bokuto kepadanya. Ketika tangan itu menyentuh lengannya, menggenggam jemarinya, tetes itu keluar dari pelupuk matanya. Tak banyak. Hanya satu dua. Namun itu membikin perih hati si perak, tak menyangka Akaashinya yang selalu kuat hatinya, tegar batinnya kini menangis di depannya.

"Maafkan aku, Bokuto-san." Jari-jari panjang Akaashi meraih kemeja si perak tanpa berani menatap sepasang emas yang makin meradang melihat kasihnya rapuh. Akaashi tidak tersedu, namun suaranya membikin sakit hati Bokuto. Pegangan itu menguat di dadanya, ada sesal yang memancar dirasakan Bokuto.

"Sweetheart." Bokuto mengangkat kepala yang tertunduk itu, mengecup keningnya, "Tidak apa, sayang. Kita bisa mencobanya lagi."

"Tapi kau sangat menantikan anak ini."

Bokuto mengusap pelan perut yang terkasih, tersenyum tipis padanya, "Keselamatanmu yang paling utama, sayang."