Drabble tujuh belas: BokuAka

Bokuto memastikan sekali lagi kepada Kuroo tentang waktu yang tepat untuk bertandang ke rumah Akaashi. "Bro. Serius kamu. Aku benar-benar akan melamar dia, ini."

Kuroo menunjukkan jempolnya, terangkat tinggi sejajar wajah Bokuto, "Aku selalu serius, Bro. Sudah kuwanti-wanti Akaashi agar tetap di rumah nanti malam. Percaya saja padaku."

Bokuto menarik napasnya panjang. Inisiasi itu akan dilakukannya berjam-jam lagi, tapi kegugupannya sudah terasa sejak kemarin dan sama sekali belum bisa ia tenangkan. Ia beratus kali rasanya mereka ulang lakunya kelak di depan sang pujaan hati, menghapal setiap kata yang akan ia ujarkan, bahkan berkali-kali mengecek cincin manis yang akan ia suguhkan untuk dikenakan di jari idamannya. Mengecek apakah berlian kecil yang ada di sana masih merekat atau lepas. Mengecek apakah warna peraknya memudar atau menjadi hitam. Mengecek apakah ukurannya mendadak berubah mengecil atau justru melebar. Meski semua itu hanya rasa kepanikan dan paranoid yang ia ciptakan sendiri.

Dan entah kenapa kegugupan dan panik itu hilang sama sekali ketika ia sudah ada di depan pintu rumah sang pujaan hati. Bersiap mengetuk pintu, si perak menarik napas dulu. Ia memejamkan mata kala buku jemarinya menemu kayu pintu yang keras dan menciptakan suara sedikit gaduh dan ketukan.

Lama hingga pintu itu terbuka. Akaashi muncul dengan tatapan tak pedulinya seperti biasa, namun tatap itulah yang digilai si perak. Bokuto sudah akan membuka mulutnya ketika Akaashi berkata, "Tuan Malaikat, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar."

Lalu si hitam ayu itu menutup pintunya lagi. Membiarkan Bokuto terdiam beku di tempat sama. Ia terperangah sedih sebelum membalikkan badan dan berjalan pergi.

Tapi penolakan itu tidak menghentikan si perak. Seminggu kemudian, setelah memastikan Akaashi ada di rumahnya, lagi-lagi Bokuto menghadap pintu kayu yang sama dan mengetuk lagi. Kali ini hapalan di kepalanya berbeda dari minggu lalu dan akan ia pastikan hajatnya akan terlaksana saat ini.

Ketika Akaashi membuka pintu dan bahkan sebelum ia sempat membuka mulut, Bokuto segera berujar, "Tuan Malaikat, bukan? Tunggulah di luar, saya sedang berbahagia sebentar. Catatlah dulu amal baikku ini."