Drabble sembilan belas: BokuAka
Bokuto berdiri tiba-tiba. Tatapannya nampak yakin. Kuroo di belakangnya terbelalak takjub, Daichi ternganga, dan Oikawa nyaris menumpahkan bir yang ia pegang.
Mahasiswa tahun ketiga itu berjalan yakin ke sekumpulan mahasiswa baru yang saling canggung beradaptasi. "Hey."
"Ah, Bokuto-senpai? Ada apa?" Taketora berdiri dan menunduk untuk menyambut senior mereka. Bokuto menatap satu persatu adik tingkatnya itu sebelum lama matanya memaku di tatap hijau salah satu yang sedari tadi menarik perhatiannya. Bokuto menaikkan dagunya, mencondongkan dadanya, berdehem sekali dua sambil memejamkan mata. "Kalian tahu, jurusan kita ada grup chat. Kalian harus memberikan nomor kalian agar aku bisa memasukkan kalian di grup."
Seluruh mahasiswa baru berteriak, "Baik."
Bokuto berjalan menuju Kenma dan mengetikkan angka yang disebutkan si pirang bob. Lalu berpindah ke Tanaka. Usai, dia menghadap Akaashi Keiji. Dia terlihat sedikit tak tenang untuk empat detik sebelum terbatuk ringan sekali. "Kau. Nomor teleponmu? Ah—email juga."
"Eh, aku lupa emailku, Bokuto-san." Tanaka berujar cepat. Si perak tak mengacuhkan dan hanya menaruh perhatian pada si hitam di depannya. "Nomormu?"
Akaashi menyebutkan sejumlah angka. Bokuto cepat dan tanggap di handphonenya. Sudah ia dapatkan info kontak Akaashi, ia berbalik dan menuju kawanannya. Taketora mengernyit, "Eh? Senpai, kami belum."
"Aaaah, merepotkan. Nanti Yakkun saja yang urus." 'Lagi pula aku tak perlu nomor yang lain, aku sudah dapatkan yang nomor satuku.'
"BOKUTO LICIK!"
