Drabble dua puluh: BokuAKa
Ia memperhatikan yang terduduk di bawah pohonnya. Mata keemasannya menoleh kanan dan kiri, dan bocah itu masih tetap menangis dalam diam sambil berusaha membuat dirinya serapat mungkin dengan batang pohon besar tempatnya bersandar. Berjam-jam si hitam kecil itu begitu, tubuhnya gemetaran, ia kedinginan, namun tak kunjung ada yang menghampiri. Pun si perak tak jua sedari tadi mendengar panggilan yang ditujukan pada bocah ini. Tak seperti kasus anak tersesat di hutan yang sering ia lihat biasanya.
Burung hantu besar itu terbang turun, kembali pada wujud lainnya dengan kimono hitam keemasannya yang jelita dan berdiri tepat di depan si bocah. Mata hijau itu membelalak penuh kejut, air mata berhenti mengalir untuk sementara namun tubuhnya kian bergetar. Ia mencoba menjauh, mundur, namun ia lupa telah dihadang batang pohon besar sedari tadi.
Kotaro benci melihat ketakutan di mata hijau menyenangkan itu, namun ia tak memperlihatkan ketaksukaannya, "Oya oya oya?"
Bocah kecil itu menggigit bibirnya, tangannya yang gemetaran menopang tubuh di tanah menyentuh ranting kecil dan ia menghalau si perak dengan itu. "Pergi, obake. Pergi!"
"Hmmm." Kotaro menangkap tangan kecil yang memegang ranting itu dan ia berjongkok, menyamai tinggi si bocah yang meringkuk ketakutan di tanah. "Kenapa, bocah? Kau tersesat."
Si bocah hitam menatap sekelilingnya, berusaha mencari bantuan atau sekedar benda untuk membantunya lepas dari si perak itu. Tubuhnya makin gemetaran dirasa Kotaro. Hutan makin menggelap, makin menggelincir matahari di ujung barat sana. Beberapa mata asing dan menakutkan lainnya mulai mengintai dari balik semak, namun rupanya segan mendekat tahu si bocah manusia dalam cengkraman siluman burung hantu penjaga hutan itu. Si bocah tersedu, dalam tangisnya yang pelan ia berbisik, "Lepaskan aku."
Kotaro tetap diam. Tangan si bocah yang tak ia pegangi berkali-kali mengusap matanya yang basah, dan si perak mendesah. "Kau tersesat? Aku bisa mengantarmu pulang."
"Lepaskan aku. Tinggalkan aku sendiri."
"Jika kau kutinggal, kau bisa dimakan monster, loh."
Kotaro hanya mendengar sedu yang halus sebagai jawaban. Itu membuatnya menghela napas sedikit lebih panjang dari biasa dan mengangkat tubuh kecil itu sementara sayap indahnya ia munculkan dan membawanya terbang, pergi menuju pinggiran hutan dekat desa manusia yang ada di sana. Si bocah menggeliat selama ia bawa, memberontak, ketakutan. Namun erat pelukan Kotaro sebelum ia menurunkan si bocah di tepian hutan.
"Kau tidak akan tersesat lagi kan? Kau tahu jalannya."
Mata hijau itu dilihat Kotaro menatap desa dengan penuh kesedihan. Ketika si burung hantu akan kembali terbang, ujung kimononya ditarik, dan dengan pelan si bocah berujar, "Aku tak tau harus pulang kemana."
"He?"
"Aku tidak tahu rumahku. Aku tidak tahu harus pulang kemana," ulang si hitam lagi dengan penuh kesedihan. Kotaro mengerjapkan matanya dan ia kembali menghadap si hitam, ia duduk dan menatap hijau indah itu sejajar tingginya, "Maksudmu kau bukan anak manusia?"
"Tidak tahu."
Kotaro mengendus-endus tubuh bocah itu, mencium bau badannya dari lehernya yang mungil dan berujar yakin kemudian, "Kau berbau manusia, bocah. Jangan membohongiku."
"Tapi aku tidak tahu harus pulang kemana."
"Maksudmu kau tidak tinggal di desa itu?" Kotaro menunjuk desa manusia di belakangnya. Si bocah hitam mengikuti telunjuk Kotaro dan menggeleng ragu, "Aku tidak tahu."
Kotaro menggigit bibirnya dengan ragu. Ia tak mungkin meninggalkan bocah ini sendirian di hutan, pun nampaknya ia tak mau pergi ke desa manusia itu.
"Siapa namamu?"
Anak itu menggeleng. Kotaro menaikkan alis peraknya, "Kau lupa namamu?"
"Tidak tahu."
Si perak berpikir sesaat sebelum tersenyum lebar, "Baiklah, mulai sekarang namamu Keiji."
Kotaro menjulurkan lengannya, menawarkan pelukan pada bocah itu yang segera diterima dan si burung hantu itu membawa bocahnya kembali masuk ke hutan, ke sarangnya. Ia berteriak kala sudah dekat dengan rumahnya, "Ibu! Ayah! Aku ingin memelihara anak manusia!"
