Drabble dua puluh satu: DaiSugaSho
Koshi berdiri bersandaran di tepian pintu masuk ruang keluarga. Bayi bungsunya, Shoyo, tertawa terbahak di dekat kotetsu di tengah ruangan. Tangannya yang kecil menepuk-nepuk udara di depannya dengan gemas, dan tawa ringannya membahagiakan hati kecil Koshi. Mata secokelat miliknya, namun lebih murni itu menatap ke depan, bukan kepadanya. Terkadang tubuh mungilnya bergetar, mengaku, reaksi yang sama saban bayinya itu dikejuti atau bergairah pada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Terkadang telapak tangan kecil itu menggapai-gapai udara. Membuatnya terjatuh kemuka namun dengan cepat tangannya menopang tubuh kecil itu. Ketika melihat sang ibu di pintu, Shoyo kecil tersenyum bahagia dan menghampiri si perak anggun dengan merangkak. Koshi bahagia, ia berjalan lebih dulu menghampiri si jingga dan menggendongnya dengan cepat.
"Sepi ya, Sho-chan? Papa kerja, kakak-kakak sedang sekolah."
Dan Shoyo tak bisa menjawab keluhan sang ibu. Tubuhnya yang dalam gendongan si perak mencondong ke depan, menuntut ibunya lebih masuk ke dalam ruangan keluarga rumah mereka.
Ia begitu memaksa, dan suaranya mengerang nyaris menangis. Koshi mau tak mau menuruti pinta diam putranya, berjalan pelan ke tengah ruangan dan mendudukkan diri di bawah kotetsu.
Shoyo bergegas turun dari pangkuannya dan kembali merangkak ke tempat mulanya duduk tadi. Tertawa gembira lagi pada udara di depannya, dan Koshi terdiam. Menatap dingin tangan-tangan mungil putranya yang seolah menyentuh sesuatu, namun tiada. Bagaimana bungsunya itu tertawa dan menatap hal yang menarik di depannya, namun tiada.
Koshi merinding. Ia berdiri dengan cepat dan mengangkat tubuh Shoyo. Membawa putra jingganya keluar dari ruangan itu dan memilih bertamu ke rumah tetangganya, keluarga Nekoma, meskipun Shoyo menangis meraung tak rela.
Ia lebih tak rela lagi jika sesuatu terjadi pada bayinya.
