Drabble dua dua: BokuAka

"Ho?" Bokuto mengangkat sekardus kecil dari dalam lemari es. Melihat gambar di kardus itu saja Bokuto telah tahu bahwa itu adalah susu untuk orang hamil. Ia menoleh ketika pasangan hidupnya lewat sambil membawa sekeranjang wortel yang satu di antaranya telah ia gigit. "Sayang, ini untuk apa?"

Akaashi mendelik, mengerokoti wortelnya lagi dengan pelan dan katanya, "Untuk diminum."

Didorong Akaashi pelan tubuh Bokuto untuk memberinya tempat memasukkan wortel-wortel yang baru dibelinya ke dalam kulkas. Si perak menatap isi lemari es mereka lagi. Ia sedari dulu sadar bahwa Akaashi adalah orang yang apik dan teratur. Isi kulkas benar-benar rapi dan tersusun sesuai kebutuhan. Tapi kali ini Bokuto benar-benar merinding melihat ke dalam lemari es mereka yang bukan saja teratur, tapi serba jingga karena diisi wortel oleh Akaashi sejak beberapa hari terakhir.

"Sayang, aku baru tahu kau sangat suka wortel." Akaashi tak memerhatikan ekspresi pasangan hidupnya, berdehem pelan dan menjawab, "Tidak juga. Aku hanya merasa ingin memakannya."

"Lalu—" Bokuto kembali menatap sekarton susu hamil yang ia pegang, "—susu ini punya siapa? Siapa yang minum?"

"Milikku, Bokuto-san. Aku yang meminumnya."

"He?" Mata Bokuto mengerjap sekali. Akaashi berdiri dari menunduknya memasukkan wortel, berbalik pada kekasihnya, lalu tangannya menggelayut di leher Bokuto. Kata si ayu itu, "Bokuto-san, aku sangat lelah. Kau mau menggendongku ke kamar?"

"He?"

Dicium Akaashi pelan pipi Bokuto dan laku itu benar-benar membikin si perak merinding. Akaashi-nya jarang bermanja seperti itu. Jadi, ada apa?

.

.

Kuroo menatap malas kawannya dan menjitak kepala perak itu ketika Bokuto berkata, "Jangan-jangan dia diam-diam memelihara kelinci, lalu-lalu kelinci itu hamil, lalu-lalu dia begitu agar aku mengijinkannya memelihara hewan itu. AKU HARUS BAGAIMANA, KUROO?!"

"Kau itu bodoh atau bagaimana sih?" Kuroo menggerutu, "Jelas sekali tanda-tandanya. Yang hamil bukan kelinci, bodoh. Tapi Akaashi. Akaashi."

"He?"

"Oya?" Kuroo menyengir melihat tampang kaget Bokuto.

Mata keemasan itu membelalak, berbinar cerah sebelum dia pulang sambil berlari. Melonjak-lonjak gembira.

"AKU AKAN PUNYA ANAK!"

.

.

.

Dan seluruh manusia yang berada penjuru bumi dan pernah bertemu Bokuto-baik kenal ataupun tidak-tahu kalau Akaashi hamil karena dia selalu mengatakan itu pada semua orang yang ia temui di jalan.

.

.

.

.

"Sayang. Jangan ngidam wortel. Kalau anak kita berwarna sejingga wortel, bagaimana?"

"Tidak apa. Setidaknya tidak semencolok jeruk mandarin."

.

.

Dan yang berojol keluar adalah si jingga Shoyo.

/authornyadigeplak ortu asli Shoyo/