Broken-Winged Angel
A Chanbaek Fanfiction
BoysLove. YAOI. MPreg. Shounen-ai.
Rate : M
Main Cast : Byun Baekhyun x Park Chanyeol
The Other Casts : OC. Go find yourself!
— — —
"Oh oke. Jadi intinya kau ingin aku mandi sebelum kita melakukannya di dapur, begitu? Baiklah."
Baekhyun sudah bersiap untuk melempar sandal ruangan yang dipakainya tapi suaminya itu sudah berlari pergi meninggalkannya yang mendengus kesal.
"Apa-apaan Park sialan itu! Bisa-bisanya dia berkata hal yang menjijikan seperti tadi—"
"—membuatku ingin saja!"
"Hihihi." Kikiknya pelan sambil menangkup belah pipi tembamnya yang memerah.
"Papa…"
Suara sengau itu menghentikan segala imajinasi liar seorang Park Baekhyun.
"Oh, sayang, kau terbangun!" Baekhyun segera berlari kecil ke arah anaknya.
Jiwon terlihat mengusap pelan matanya dengan gerakan yang lucu membuat Baekhyun terkekeh gemas. Tangannya mengangkat bocah kecil itu dalam gendongannya. Baekhyun menggoyangkan badannya pelan dan menepuk-nepuk punggung kecil itu.
Dia memang masih suka memanjakan Jiwon seolah anak itu baru saja berumur 2tahun. Itulah mengapa Baekhyun merasa statusnya sebagai seorang ibu baru saja dimulai. Tentu saja karena ia sangat senang menjalankan perannya sehingga tidak merasa bahwa dirinya telah melewati 5tahun itu dengan tidak mudah.
"Papa, Jiwon masih mengantuk~" Rengeknya pelan.
"Eyy, anak Papa tidak boleh malas, dong. Ingat kalau hari ini Jiwonie akan mulai bersekolah?" Baekhyun menatap wajah anaknya dengan binar di matanya.
"Hng—Tapi hari ini Papa antar aku ke sekolah, ya?" Kedua mata bulat itu mengerjap lucu penuh harapan.
"Hm, bagaimana ya. Hanya jika Jiwon mau mandi dan memakai baju sendiri." Ucapnya tersenyum lebar setelah berpura-pura berpikir.
"Ya! Ya! Jiwon akan mandi sendiri!" Anak itu terlonjak senang dan menggeliat turun dari gendongan Papanya.
Mandi sendiri itu artinya ia bisa bebas bermain di bath-up—
"EIts, tapi dilarang bermain terlalu lama, oke?"
—tapi sepertinya tidak untuk kali ini.
Jiwon mendesah sedih, tapi kemudian mengangguk pelan. "Ya, Papa." Mata lucu itu menatap Baekhyun dengan sorot patuh membuat yang ditatap tersenyum puas. Tak lupa menghadiahi usapan pelan pada puncak kepala anaknya.
"Anak Papa memang yang paling pintar~" Juga suaranya yang dibuat mendayu dalam melontarkan pujian.
Jiwon menyengir kecil lalu segera berlari semangat menuju kamarnya. Pujian Papa-nya lah yang membuatnya senang bukan main. Papa-nya terlihat cantik saat melakukan itu.
Sedangkan Baekhyun masih tetap mempertahankan senyumnya dan bersenandung pelan menuju ke dapur. Badannya masih lemas tapi tingkah laku Jiwon benar selalu membuatnya semangat meski harus menambah kelelahannya.
30menit kemudian Baekhyun selesai dengan masakannya. Chanyeol membantunya memindahkan piring ke meja makan karena melihatnya yang hampir menjatuhkan piring tadi. Jadilah ia hanya duduk di meja makan bersama Jiwon yang baru saja bergabung dengan dasi yang berantakan.
Baekhyun tersenyum kecil. Dia tahu anaknya itu pasti kesusahan mandi sendiri dan memakai baju. Pasti juga anak itu keasyikan bermain saat mandi sampai membutuhkan waktu lama untuk datang ke meja makan.
"Sini, sayang, Papa benarkan dasimu." Baekhyun mengulurkan tangannya ke arah Jiwon yang telah duduk di kursi samping kanannya.
Dia membenarkan dasi itu dengan telaten. "Nah, sudah rapi!" Serunya riang.
"Terimakasih, Papa." Balas Jiwon dengan nada tak kalah ceria dan menghadiahkan satu kecupan ringan di pipi kanan Papa-nya.
Baekhyun terkikik dan meminta ciuman lebih dengan menyodorkan pipi kirinya yang langsung disambut antusias oleh anak itu. Mereka terkikik bersama setelahnya.
Bertepatan dengan itu, Chanyeol baru saja datang membawa piring terakhir ke meja makan.
"Wah, pagi-pagi sudah bermain tanpa mengajak Daddy, huh?" Nadanya terdengar kesal yang dilebih-lebihkan, juga bibirnya yang berubah cemberut.
"Daddy mau ciuman juga?" Balas Jiwon dengan tersenyum polos.
"Hm, hm." Anggukannya terlihat bersemangat membuat Jiwon dengan cepat memberikan kecupan ringan di dahi ayahnya yang menunduk di sampingnya.
"Papa?"
"Ya, sayang?"
"Ciuman dari Papa mana?" Jiwon mengernyit bingung dengan ekspresi menunggu.
Mendengar hal itu, Chanyeol langsung menyeringai membuat Baekhyun bergidik di tempatnya.
"Kalau untuk Daddy, sih, Papa akan memberikannya saat di kamar, Ji." Chanyeol menyaut asal yang langsung dihadiahi pelototan dari Baekhyun.
Jawaban itu membuat Jiwon semakin bingung. Saat akan bertanya lebih lanjut, Papa-nya sudah lebih dulu menyela perkataannya.
"Sudah, sudah. Sekarang lebih baik Jiwon segera makan jika tidak ingin terlambat, oke?" Peringatan Papa-nya membuat Jiwon cemberut.
Saat Jiwon dan Chanyeol telah mulai menyuapkan makanan mereka masing-masing, Baekhyun beranjak dari kursinya.
"Kau mau kemana, Baek?"
Bahkan pertanyaan Chanyeol pun tidak dijawabnya. Langkahnya ia bawa menuju dapur untuk menyiapkan Jiwon bekal. Ia terpaksa harus mengabaikan pusingnya yang semakin bertambah saat memasak tadi.
Tubuhnya lemas sekali sesaat setelah menutup bekal milik Jiwon. Baekhyun menghela nafas pelan dan menyandarkan tubuh lelahnya pada counter dapur. Tangannya memijit pelipisnya yang sedari tadi ia abaikan denyutannya.
Chanyeol datang tak lama setelah itu. Ia memperhatikannya dalam diam dan segera merangkul lehernya lembut.
"Oh? Kau sudah selesai sarapan?" Tanyanya yang terkejut dengan kehadiran Chanyeol.
"Harusnya aku yang bertanya padamu. Kau sudah sarapan? Kenapa malah kesini, hm?" Tanya balik Chanyeol.
Dia dapat melihat kalau suaminya itu terlihat lemas dan ia tahu kalau Baekhyun memaksakan tubuh lemasnya untuk memasak sarapan tadi. Ditambah sekarang tidak sarapan dan malah melakukan pekerjaan yang lain.
"Aku membuatkan bekal untuk Jiwon. Dan aku tidak ingin makan karena perutku masih mual…" Setelah berkata demikian, Baekhyun menyandarkan kepalanya pada bahu lebar suaminya itu.
Chaanyeol menghela nafas mendengarnya. "Sudah kubilang kau istirahat saja. Kalau soal makanan aku bisa membelinya di caffe dekat sekolah Jiwon jika memang mendesak."
Tangan Chanyeol dengan sabar mengelus punggung mungil itu.
"Ah, benar! Aku harus bersiap-siap untuk mengantar Jiwon sekolah—"
Chanyeol mencekal lengannya saat ia bersiap melangkah pergi.
"Istirahatlah, Baek. Wajahmu sangat pucat." Tuturnya pelan berharap Baekhyun mengerti bahwa ia mengkhawatirkannya.
"Tapi, Chan, aku sudah berjanji akan mengantarkan—"
"Tidak. Aku yang akan mengantarkan Jiwon." Chanyeol memotong perkataan Baekhyun dan menambahkan tatapan tajam di akhir.
Baekhyun hanya menghela nafas. Jika Chanyeol sudah memaksa dengan raut seperti itu, tidak ada yang bisa dilakukannya selain menurut perkataan suaminya.
"Baiklah." Ucapnya lesu.
[***]
Chanyeol sudah membaringkan suami mungilnya itu di ranjang. Sekarang bagian yang tersulit adalah membujuk Jiwon.
Anak itu terus saja merengek ingin diantar oleh Papa-nya meskipun ia sudah menjelaskan keadaannya. Tentu saja anak berumur 5tahun itu tidak akan paham.
"A-aku ingin Papa! Papa, hiks—"
"Jiwona, sudah kubilang Papamu itu sedang sakit! Biarkan dia beristirahat sebentar, nak. Biar Daddy yang—"
"Ta-tapi, a-aku juga ingin diantar oleh Papa! Hiks," Jiwon masih terisak kencang membuat Chanyeol mengerang frustasi. Hampir saja dia kelepasan dan membentak anaknya.
"PAPA!" Jiwon turun dari kursi dan berlari bersemangat menuju Papa-nya yang baru saja keluar dari pintu.
Chanyeol semakin frustasi saat Baekhyun justru keluar dan menggendong anaknya yang menangis. Lelaki mungil itu terlihat segar dan tercium bau wangi dari tubuhnya.
"Papa… Papa sudah berjanji a-akan mengantarku se-sekolah, hiks," Bocah kecil itu masih sesenggukan meski sudah memeluk erat leher Papa-nya.
"Sssttt, sudah, cup cup. Papa hanya mandi sebentar tadi, sekarang diamlah, hm? Papa akan mengantarkanmu." Baekhyun menepuk pelan punggung anaknya. Kemudian tatapannya bertemu dengan bulat kemerahan milik suaminya.
Tentu saja Chanyeol menjadi murka saat mendengarnya. Suaminya itu benar-benar tidak menuruti perintahnya. Chanyeol bahkan hanya menyuruhnya untuk istirahat sebentar saja, tapi lihat apa yang dilakukan si pembangkang itu?!
Tatapannya semakin menajam saat netranya menangkap Baekhyun terus saja membujuk Jiwon untuk tenang, sedangkan Chanyeol tahu kalau tangan Baekhyun sudah gemetar karena terlalu lelah.
Pria itu membuang pandangannya. "Cih, terus saja manjakan anakmu itu dan mengabaikan perintahku." Chanyeol mendecih kesal.
"Kau bahkan tidak peduli dengan dirimu sendiri, jadi untuk apa dari tadi aku mengkhawatirkannya secara berlebihan?!" Lanjutnya dengan kalimat retoris yang kasar.
Setelah berkata seperti itu, Chanyeol segera berlalu pergi dengan membawa jas kerjanya.
"Chanyeol!"
Dan bahkan mengabaikan panggilan dengan nada bergetar itu.
Seharusnya Baekhyun memang menuruti perkataan suaminya untuk berhenti mengabaikan kesehatan tubuhnya. Lagipula dia bisa saja mengantar Jiwon esok hari ketika tubuhnya memiliki energi berlebih.
Baekhyun menghela nafas pelan dan tersenyum kecil ke arah anaknya yang sudah berhenti menangis. Anak itu sekarang tengah menatapnya dengan bibir yang cemberut.
Baekhyun terkekeh pelan dan berseru riang, "Ayo kita berangkat!" Tak lupa tangannya yang terkepal melayang penuh semangat ke udara.
"Kajja!"
[The End of Chapter]
