Broken-Winged Angel

A Chanbaek Fanfiction

MPreg. BoysLove. YAOI. Shounen-ai.

Rate : M

Main Cast : Byun Baekhyun x Park Chanyeol

The Other Casts : OC. Go find yourself!

— — —

Seusai mengantarkan Jiwon ke sekolah, Baekhyun bergegas pulang dengan menaiki bus. Biasanya ia akan menaiki taxi jika mengantar anak itu sendiri atau mungkin diantar pulang Chanyeol jika mereka mengantar bersama. Tapi sayangnya ia tadi terlalu terburu-buru hingga lupa membawa uang lebih.

Padahal sebenarnya kalau dipikir ulang, ia bisa saja naik taxi dan menyuruh driver menunggunya sebentar sementara ia mengambil uang di ATM.

Sayangnya, lagi, ia baru terpikirkan hal itu ketika sudah duduk manis di dalam bus.

Sungguh sial.

Setelah perjalanan beberapa menit, ia turun dari bus dengan helaan nafas lelah. Ini dia yang membuatnya pantang menaiki bus. Baekhyun harus berjalan selama 1km demi mencapai rumahnya. Mungkin itu bukan jarak yang terlalu jauh bagi keadaan normal, tapi itu tidak berlaku untuknya yang tengah mengandung sementara tubuhnya lelah dan bisa dilihat kakinya mulai membengkak saat sampai depan kompleks rumahnya.

Baekhyun sama sekali tidak mengeluh. Ini semua memang salahnya sendiri yang telah keras kepala dan ceroboh dalam bertindak. Harusnya ia paham bahwa Chanyeol melarangnya bukan tanpa alasan. Wajar jika suaminya itu marah padanya tadi pagi.

Mengingat hal itu membuat Baekhyun menghela nafas sedih.

Apa yang harus dilakukannya agar Chanyeol tidak marah lagi?

Karena sibuk melamun, tak sadar Baekhyun telah sampai di depan rumahnya yang kosong. Ia membuka pintu dengan lesu dan melangkah masuk untuk mencapai kulkas. Dibukanya pintu bawah untuk meraih sebotol air dingin, lalu diminumnya dengan rakus.

"Hah, segarnya~" Gumamnya tanpa sadar.

Setelah mengembalikan botol ke tempatnya semula, ia mendudukkan dirinya pada kursi ruang makan yang dekat dengan dapur. Kepalanya ia rebahkan pada meja sembari matanya dipejamkan.

Bahkan Baekhyun sendiri lelah mengatakan bahwa dirinya sangat letih saat ini.

Tak sampai 5menit beristirahat, Baekhyun mengedarkan matanya untuk setidaknya melihat jika sekiranya ada yang harus ia bereskan. Lalu pandangannya jatuh pada piring bekas sarapan tadi. Chanyeol sempat memindahkannya ke wastafel, tapi belum sampai membersihkannya karena ia yakin pria itu tengah kesusahan membujuk Jiwon tadi.

Tungkainya ia paksa berdiri untuk kemudian membuatnya meringis kecil. Ia lupa bahwa keduanya masih membengkak. Baekhyun mencoba melangkah pelan menuju wastafel, untuk mulai mencuci piring dan gelas yang kotor.

Sebenarnya lumayan banyak, tapi tak sampai membuat Baekhyun mendesah kesal. Justru Baekhyun melakukannya dengan bersenandung kecil mengisi kesunyian rumah.

Setelah selesai, Baekhyun menyempatkan diri untuk mengelus lembut perutnya. Sedikit memberikan usapan demi memastikan bahwa anaknya masih merasa nyaman di dalam sana.

"Maafkan Papa telah membuatmu ikut kelelahan, baby…"

Baekhyun terkekeh pelan ketika merasakan getaran kecil dari dalam. Tentu saja ia tahu darimana protesan itu berasal.

Yang pasti bukan dari baby, karena kesayangannya itu bahkan masih berusia 1bulan.Melainkan dari cacing-cacing yang meronta minta diberi makan.

Baekhyun harus berterimakasih pada mereka karena telah mengingatkannya bahwa perutnya kosong. Dia memutuskan untuk mengisi perut kosongnya dengan masakan tadi pagi yang belum habis. Perutnya sudah tidak mual lagi sekarang.

Selesai dengan makannya, Baekhyun juga menyempatkan diri untuk meminum susu hamilnya dengan hati senang karena perutnya sudah terisi penuh. Membuat energinya meningkat drastis hingga tak menyisakan detik untuk beristirahat, Baekhyun langsung meluncur penuh semangat ke kamar tidur Jiwon.

Matanya membulat lucu saat baru saja membuka pintu kamar.

Pemandangan di dalamnya sungguh membuatnya takjub.

Baju bersih berserakan di luar lemari. Baju kotor diletakkan di atas lantai yang basah, atau mungkin banjir. Mainan juga terlihat berceceran, padahal ia yakin baru saja membereskannya kemarin malam.

Bukannya kesal, Baekhyun justru menggelengkan kepalanya dengan bibirnya yang tersenyum lebar. Bahkan baru sehari anak itu disuruhnya mandi sendiri, tapi lihat bagaimana Jiwon berusaha mandiri meski harus memporak-porandakan kamar seperti ini.

Baekhyun berdecak kecil saat melihat kondisi kamar mandi. Mainan disana justru terlihat rapi, tapi membuat Baekhyun terkekeh gemas setelah memperhatikannya.

Jiwon sengaja menatanya ke tempat semula agar Papa-nya tidak tahu bahwa mainan itu telah digunakannya untuk bermain ketika mandi. Anak itu telah menyetujuinya tadi, jadi bukannya menepatinya tapi bocah kecil itu malah berusaha agar kenakalannya tidak ketahuan oleh Papa-nya.

Baekhyun tidak sedikit pun merasa kesal, melainkan semakin gemas pada Jiwon.

"Kalau pulang nanti akan kucubiti pipinya hingga semakin tembam~" Kikiknya pelan.

Tangan dan kakinya bergerak lincah untuk membereskan semua kekacauan yang ada di dalam kamar. Sesekali bibirnya menyenandungkan lagu karena sungguh, lagi dan lagi, Baekhyun benci kesunyian!

Setelah semua barang kembali pada tempat seharusnya, Baekhyun menuju ke dapur untuk mengambil kain pel. Digunakannya kain itu untuk mengeringkan bagian lantai yang basah.

Baekhyun mengepel lantai basah dengan hati-hati karena takut terpeleset. Tapi sehati-hati apa pun ia, Baekhyun lupa kalau ia juga ceroboh di samping kakinya yang masih bengkak. Alhasil kakinya terpeleset lantai yang basah.

Tubuhnya limbung ke belakang tapi Baekhyun memiliki refleks yang cukup baik karena kehati-hatiannya tadi, sehingga ia menggunakan kain pel untuk menahan keseimbangan tubuhnya. Setidaknya tubuhnya tidak jatuh dan membahayakan baby.

Tapi itu tidak cukup kuat untuk menjaga kakinya dalam keadaan baik, hingga Baekhyun harus puas dengan keadaan kakinya yang semakin nyeri karena menahan bobot tubuhnya yang hampir jatuh.

"Akh!" Pekiknya refleks.

Kain pel ia letakkan sembarangan, sementara kaki kirinya ia seret ke arah kasur kecil milik Jiwon. Baekhyun mendudukkan dirinya disana untuk melihat keadaan kaki kanannya.

Bagian itu sedikit lebih bengkak dari kaki kirinya membuat Baekhyun menghela nafas putus asa. Jantungnya sudah bertalu cepat karena takut jika saja ia terjatuh tadi. Setidaknya ini lebih baik daripada itu.

Baekhyun berdiri dan mengambil kain pel yang ia jatuhkan. Kemudian menyeret kakinya untuk meletakkan kain pel pada tempatnya. Biarkan saja lantai masih basah, ia yakin nanti saat Jiwon pulang itu akan mengering sendiri. Masih ada waktu 2jam sampai anak itu pulang karena jam menunjuk pada angka 9. Lagipula Baekhyun takut terpeleset lagi.

Lelaki hamil itu akan menggunakan waktu 2jamnya untuk tidur karena tiba-tiba saja ia mengantuk.

Baekhyun lebih dulu mengganti celana panjangnya yang basah dengan boxer hitam dan kaos pendek tanpa lengan. Kemudian menyamankan diri di atas kasurnya yang empuk.

Tak sampai 5menit lelaki mungil itu sudah tertidur pulas.

[***]

Baekhyun terbangun karena merasa tubuhnya pegal. Ia merentangkan tangannya sejenak dan setelahnya hanya berkedip-kedip pelan. Matanya melirik malas pada jam di atas dinding.

Jam 12.

Itu berarti ia sudah tertidur hingga 3jam.

Itu berarti saat ini sudah siang. Pantas saja ia berkeringat.

Dan itu berarti Jiwon sudah pulang satu jam yang lalu.

Itu artinya ia terlambat menjemput—

"APA?!" Pekiknya dramatis. Tubuhnya langsung terbangun dengan refleks karena terkejut.

Segera saja ia berlari kecil dengan terseok keluar dari kamarnya. Sebelum itu ia sempat membuka ponselnya dan menemukan banyak missed call dari Luhan.

Sesampainya keluar, Baekhyun berjalan panik dengan ponsel di telinga. Ia berusaha menelepon Luhan. Dan sesaat setelah panggilannya tersambung, ia dapat mendengar suara handphone yang berdering membuatnya menoleh ke sumber suara.

"Eh?!" Pekiknya untuk yang kedua kali.

"Hai, Baekie~" Sapa seseorang di balik counter dapur dengan riang. Tangannya yang sedang memegang spatula melambai kecil ke arah lelaki mungil yang tengah mengedipkan matanya dengan bodoh itu.

"Luhan hyung?!" Rasanya Baekhyun tidak lelah untuk terus memekik secara beruntun seperti ini.

"Bagaimana tidurmu?" Lelaki cantik itu bertanya dengan tubuh yang kembali berbalik ke arah masakannya.

"Ung?" Baekhyun mengerjap kebingungan. Dia masih kaget karena kehadiran Luhan yang tiba-tiba.

"Oh—Jiwon!" Lagi-lagi Baekhyun memekik panik dengan kaki yang melangkah terburu untuk mencapai pintu.

Tapi langsung berhenti ketika Luhan berbicara. "Tenang saja, Baekie. Aku sudah menjemput Jiwon dan sekarang anak itu tengah tidur bersama Haowen di kamar."

"Ah, syukurlah." Baekhyun mengelus dadanya lega. Tubuhnya ia sandarkan pada sofa dan tangannya terangkat untuk memijit pelipisnya yang berdenyut karena terbangun paksa. Atau mungkin juga karena lelahnya belum hilang juga.

"Apa kau baik-baik saja?" Luhan bertanya lagi membuat Baekhyun menoleh pada lelaki itu.

"Ya. Dan terimakasih telah menjemput Jiwon, Lu-ge. Aku hanya berniat tidur sebentar tapi malah baru saja terbangun setelah Jiwon sudah pulang satu jam yang lalu. Maaf merepotkanmu." Baekhyun berucap penuh sesal. Ia bergerak menyusul Luhan yang sepertinya sedang memasak makan siang membuat Baekhyun semakin tak enak hati.

"Tidak masalah, aku tak merasa repot sama sekali. Lagipula di rumah sangat membosankan jika hanya berdua saja dengan Haowen." Dapat dilihatnya lelaki cantik itu tersenyum padanya dengan tulus. Membuat Baekhyun menyengir lebar karena setuju dengan perkataannya.

"Benar, hyung! Aku juga sering merasa bosan kalau tidak melakukan apa pun. Tapi juga tidak bisa beraktivitas banyak karena baby sedang nakal akhir-akhir ini." Balas Baekhyun dengan tangan mengelus perutnya.

"Sepertinya kau benar sedang kelelahan seperti yang di bilang Chanyeol, ya."

"Eh, Chanyeol?" Baekhyun bertanya dengan raut kebingungan.

"Chanyeol tadi meneleponku untuk sekalian menjemput Jiwon di sekolah. Dia berkata bahwa kau sedang sakit. Karena itu aku berusaha menghubungimu agar kau tidak perlu datang." Luhan menjelaskan dan menatap Baekhyun yang terduduk di depan counter dapur.

Tangannya terulur mengelus kepala lelaki mungil di hadapannya. "Kau terlihat sangat kelelahan, Baekie."

Baekhyun hanya menyandarkan kepalanya di atas meja counter dan memejamkan matanya menikmati elusan itu seperti seekor kucing kecil.

"Aku harus berterimakasih pada si telinga lebar itu karena telah memintamu menjemput Jiwon, hyung." Baekhyun bergumam lirih.

"Tentu saja. Bahkan ia juga menyuruhku memasakkanmu makan siang." Lalu Luhan menambahkan lagi ketika melihat tatapan penuh ucapan maaf dari mata puppy itu. "Aku tidak keberatan, sungguh! Sudah kewajibanku memasak makan siang, hanya saja kali ini aku harus memasak dengan porsi lebih, itu saja. jadi berhenti menatapku seperti itu, oke."

Baekhyun meresponnya dengan menyengir lebar. Matanya menatap berbinar pada seluruh hidangan yang dibuat oleh Luhan. Mulutnya tanpa sadar mengecap pelan dengan air liur yang hampir menetes membuat Luhan gemas melihatnya.

"Oh, lihatlah dirimu, Baek! Bagaimana kau akan memiliki anak lagi kalau tingkahmu saja masih seperti anak-anak, huh?!" Luhan mencubit pipi gembul itu kuat sekali hingga membuatnya merah.

"Uh, sakit, hyung~ Lepaskan~" Rengeknya dengan mata berkaca-kaca siap untuk menangis.

[***]