Broken-Winged Angel

A Chanbaek Fanfiction

MPreg. BoysLove. YAOI. Shounen-ai.

Rate : M

Main Cast : Byun Baekhyun x Park Chanyeol

The Other Casts : OC. Go find yourself!

— — —

Selama hampir 3jam Luhan menemani Baekhyun untuk bersantai di ruang keluarga. Lelaki bermata rusa itu mengajaknya menonton TV ditemani banyak obrolan seru. Sekitar pukul 3, Haowen terbangun lebih dulu dan beberapa menit setelahnya Jiwon menyusul.

Tak biasanya anaknya itu tidur hingga hampir 3jam lamanya. Mungkin Jiwon memang lelah karena sekolah dan juga bermainnya dengan anak Luhan.

Omong-omong, kedua anak itu memang sebaya, dan satu kelas juga di sekolah. Luhan mengadopsi Haowen setelah beberapa tahun pernikahannya dengan Sehun terlaksana. Mereka bilang, mereka iri ketika melihat keluarga kecil Park, oleh karenanya Luhan merengek untuk mengunjungi panti asuhan. Tentu saja karena Luhan bukanlah lelaki istimewa seperti Baekhyun yang memiliki rahim dan bisa melahirkan.

Sehun adalah kolega Chanyeol di samping keduanya yang sudah berteman dekat sejak SMP. Tak heran Baekhyun bisa mengenal lelaki keturunan China itu. Setelah masa perkenalan yang cukup singkat, mereka bisa dengan mudah mengakrabkan diri seolah mereka telah berteman sejak satu dekade yang lalu.

Itulah mengapa Luhan tidak keberatan ketika dimintai tolong membantu Baekhyun yang sedang sakit. Tentu saja lelaki cantik itu tahu bahwa sakit yang dimaksud berhubungan dengan kandungan Baekhyun yang sedang rentan. Tapi ia harus mengucap maaf saat menyampaikan bahwa dia tidak bisa menemani lelaki hamil itu lebih lama lagi karena ia juga memiliki kewajiban untuk melayani suaminya. Luhan berpamitan tak lama setelah Haowen terbangun.

Maka ketika Luhan keluar dari pintu rumah keluarga Park, Baekhyun melengkungkan bibirnya sedih dengan mata yang berkaca-kaca.

"Papa~" Suara rengekan seketika menghentikan ratapannya karena ditinggal hyung kesayangannya.

"Oh, Jiwonie~ Ada apa, hm?" Baekhyun berjalan riang menghampiri Jiwon yang tengah duduk di sofa dengan tangan kecilnya menggenggam toples berisikan cookies.

Tangan lentiknya terulur untuk mengambil cookies strawberry yang langsung dihadiahi wajah kesal anaknya.

"Papa! Ini milikku, jangan dihabiskan!" Tangan mungil Jiwon menjauhkan benda kaca itu lalu mendekapnya erat di depan dada.

"Eyy, pelit sekali~" Baekhyun mengerlingkan matanya menggoda. Jemarinya memasukkan cookies yang berhasil diambilnya ke dalam mulut. Lalu lengannya kembali terulur untuk meraih toples yang tengah dipeluk erat itu.

"Jiwonie, berikan Papa cookies lagi~" Pinta Baekhyun dengan aegyo berharap anaknya luluh.

"Tidak mau!" Balasnya galak.

"Ayolah, sayang~" Matanya puppy itu mengerjap pelan dengan bibir dibuat terlihat menyedihkan.

"Tidak mau, pasti Papa akan menghabiskannya!" Suara kecil itu masih saja memekik galak membuat Baekhyun mengendurkan wajah memelasnya.

"Jiwonie~" Nada panggilannya Baekhyun buat mendayu. "Beri Papa satu, ya?" Tawarnya dengan merangkak hati-hati ke arah anaknya itu.

Jiwon masih saja menatapnya kesal, tapi terlihat sedikit melunak saat matanya mulai berkaca-kaca.

"Papa janji akan buatkan cookies yang lebih banyak lagi!" Lelaki mungil itu berucap semangat dengan tangan terkepal ke atas.

"Ung—Tapi cookies buatan Papa tidak enak…" Suara Jiwon terdengar rendah dan lirih.

"Hehehe." Baekhyun menyengir lebar sekali membuat Jiwon memundurkan tubuhnya takut. "Papa janji akan belajar membuat cookies yang seenak ini!" Pekiknya tiba-tiba membuat bahu kecil di depannya sedikit terkejut.

"Benarkah?" Jiwon bertanya takut-takut. Matanya mengerjap cepat. Lalu tangannya diam-diam mengambil cookies satu, membuat Baekhyun –yang diam-diam juga melihatnya— berseru riang, "Tentu saja!"

Dan begitulah akhirnya kedua anak kecil itu saling berbagi cookies sambil menonton kartun di TV.

[***]

Setelah satu jam menonton kartun bersama, Baekhyun dan Jiwon memutuskan untuk mandi bersama. Sebenarnya itu merupakan salah satu trik yang lelaki hamil itu miliki agar anaknya mau mandi sore. Juga agar ia bisa sekalian menghemat waktu karena ketika memandikan anaknya saja pun ia akan dibasahi oleh si kecil nakal itu.

"Keluarlah dan ganti baju sendiri, oke?!"

"Oke, Papa~" Sahutnya cepat.

Kaki itu berlari kecil dengan langkah pelan yang juga mengikuti di belakangnya.

"Hati-hati, sayang, nanti terpeleset." Peringatnya lembut di samping ia juga melangkah hati-hati, agar kejadian tadi pagi tidak terulang.

Sementara Jiwon memakai bajunya, Baekhyun keluar kamar anaknya dengan bathrobe yang ia kenakan untuk mencapai kamar miliknya yang hanya berjarak beberapa meter saja.

Seusai berpakaian, Baekhyun meraih ponselnya yang telah terisi penuh setelah di charge.

Tiba-tiba ia teringat jika Chanyeol masih marah padanya. Ia juga ingin berterimakasih karena telah menyuruh Luhan menjemput Jiwon tadi siang.

To : Chanyeolie~Bbuing Bbuing ^-^ ;*

'Chanyeolie…'

'Masih marah, ya :('

'Maafkan aku.'

'Kumohon '

Send 4.35 PM

Setelah menunggu 5menit dengan jantung berdentum, Baekhyun tak juga mendapatkan balasan apa pun. Pesannya terkirim tapi tidak dibaca oleh suaminya.

To : Chanyeolie~Bbuing Bbuing ^-^ ;*

'Yeolie, maaf~'

'Semua memang salahku…'

'Maaf.'

Send 4.42 PM

Baekhyun hampir saja putus asa, tapi saat dilihatnya lagi, layar itu menampilkan pemberitahuan bahwa pesannya telah dibaca.

Baekhyun menunggu dengan was-was dan membuka matanya lebar-lebar untuk menatap layar bersinar terang itu. Matanya hanya akan mengedip setelah hampir satu menit hingga ia perlu mengusapnya beberapa kali karena perih mendera.

Jantungnya kian berdentum saat beberapa menit terlewati tanpa balasan apa pun. Lagi-lagi Baekhyun harus mengusap matanya yang berair karena terlalu takut untuk berkedip.

Hingga akhirnya ia sadar bahwa air itu bukan air mata karena matanya yang sakit, tapi karena hatinya yang jauh lebih sakit. Chanyeol membaca pesannya, ia bahkan memohon pada lelaki itu untuk memaafkannya tapi tidak ada balasan apa pun yang berarti.

"Hiks—Chanyeol…"

Tangisnya bertambah deras ketika 10menit terlewati dengan matanya yang perih karena harus menahan air matanya agar tidak keluar terlalu banyak. Namun, percuma saja.

Baekhyun sadar jika dirinya terlalu cengeng dan berlebihan. Tak seharusnya ia menangis sekencang ini. Tapi apa pedulinya. Toh, Chanyeol juga tidak akan peduli sekali pun ia meraung dan menangis sekencang ini.

Tubuhnya merosot pada kasur dan kemudian berbaring meringkuk dengan air mata yang masih setia mengalir. Baekhyun tak sadar jika tangannya masih memegang ponsel ketika jempolnya menekan tombol voice note.

"Hiks, C-chanyeol… Chanyeol, maaf—Hiks..." Bibirnya masih saja meracau memanggil nama suaminya sedang suara sesenggukannya kian jelas terdengar. Itu terus berlanjut hingga Baekhyun kesal dan melempar ponselnya ke sisi ranjang yang lain.

Tubuhnya masih meringkuk kecil seperti janin hingga akhirnya ia terlelap ditemani oleh air mata hasil perasaannya yang sedang sensitif.

Hormon kehamilan memang menyeramkan...

[The End of Chapter]

Bersambung dengan garink nya... Krik krik.