3
Dia yang Datang dari Masa Lalu
Author : Cho Minseo
Cast : Kim Doyoung – Jung Jaehyun
Other cast :
Kim Minseok (Doyoung's eomma)
Kim Jongdae (Doyoung's appa)
Jung Yunho (Jaehyun's appa)
Jung (Kim) Jaejong (Jaehyun's eomma)
Kim (Lee) Taeyong
Kim Gongmyung
Lainnya kalian temukan aja sendiri
Summary :
Bertahun-tahun melupakannya, kenapa dia harus muncul kembali? Membawa sebuah kenangan menyakitkan, mimpi buruknya. Doyoung benci kisah hidupnya. Tetapi siapa tahu kisah hidup yang Doyoung benci akan berubah karena kemunculannya kembali. (susah juga buat summary)
Genre :
Hurt, Comfort, Romance, OOC banget (gak yakin ma genrenya)
Rate : T
Warning :
BxB, M-Preg, GS (Minseok, Jaejong), bahasa aneh, alur membingungkan, judul tidak sesuai dengan isinya. Aku sarankan membacanya perlahan aja, soalnya alurnya campuran. Kalo ada yg gak paham ma alurnya, kalian komen aja di review, kalo aku sempet nanti aku bales di chap berikutnya..
.
.
"Bagaimana bisa dia berada di sini? Bagaimana bisa eomma membiarkan lelaki itu berada di sini? Kenapa? KENAPA EOMMA?!"
Sudah setengah jam lebih Doyoung berteriak seperti orang gila di kamarnya. Menendang apa pun yang bisa ditendang, melempar apa pun yang bisa dilempar. Dan ini barang terakhir yang tersisa, Doyoung melemparkan vas bunga kristal –yang Minseok beli di Jejudo ketika Doyoung lulus Junior High School– ke dinding kamar dan Minseok melotot menyaksikan serpihan-sepihannya menyebar ke lantai kamar Doyoung. Napas Doyoung terengah-engah, dan dirinya yakin tampangnya saat ini sangat kacau.
"Doyoungie sabar sayang," Minseok mengelus bahunya lembut.
"Eomma lebih memilih membelanya, lelaki yang sudah menghancurkan masa depanku. Astaga aku tidak percaya Eomma lebih memilihnya daripada aku."
"Ya Tuhan, Youngie, eomma cuma minta kamu sabar nak, sabar," kata Minseok dengan suara bergetar.
Napas Doyoung masih memburu, menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan memejamkan matanya. Rasanya berat sekali, sakit sekali mengingat semuanya. Dadanya masih terasa sesak, sakit. Sudah bertahun-tahun berlalu, kesempatan yang hilang, apa yang terenggut paksa darinya, cintanya yang telah pergi, semua membayang tepat di depan mata.
Aarrrrgghhhh!
Doyoung mendengar isakan pelan Minseok. Eomma menangis? Kenapa? Sedih? Malu? Kesal? Mendengarku berteriak?
Mereka sama-sama terdiam walau pun tangan Minseok masih mengusap rambut Doyoung pelan. Doyoung yakin teriakannya terdengar sampai ke rumah tetangga, tetapi apa pedulinya? Bodoh amat.
Doyoung tidak menyangka enam tahun menghabiskan ratusan sesi dengan Tiffany noona – psikiater Doyoung –harus sia-sia karena dirinya sama sekali tidak bisa mengontrol emosi saat berhadapan lagi dengan lelaki mesum itu.
Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan di sini? Kenapa juga dia mendekati keluargaku lagi? Dasar sialan.
Tok.. Tok.. Tok..
Ketukan pintu terasa menggangu.
"Eomma, Jiejie sedari tadi terus menangis, sepertinya ia sedang rewel. Sudah dibujuk dari tadi, tetapi tidak berhenti menangis," Taeyong melangkahkan kaki ke kamar Doyoung dan dengan santai dan duduk disampingnya.
"Jiejie kenapa Taeyongie?" Minseok masih mengusap rambut Doyoung.
"Jaehyun hyung mengajaknya pulang, tetapi Jiejie tidak mau. Appa juga bingung harus bagaimana. Jiejie sedang berjongkok di dekat tangga. Sebaiknya, eomma mencoba membujuknya."
Whattt? Hyung? Sejak kapan Taeyong hyung memanggil lelaki mesum itu dengan embel-embel hyung? Apa lagi yang sedang mereka sembunyikan dariku!
"Ya sudah, eomma keluar dulu, membujuk Hyoje. Eomma ke bawah ya, sayang, boleh kan?" Minseok mengecup dahi Doyoung sebentar. Doyoung pun tidak mengiyakan atau pun menolak permintaan Minseok. Lagian sudah ada Taeyong di sini, paling tidak, ada yang menemaninya.
"Doyoung. Doyouung, jauh-jauh bertapa di Jepang bukannya semakin feminim seperti gadis Jepang malah seperti preman di gang gang." Dengan santainya Taeyong menoyor kepala Doyoung kasar.
"Yak, aku laki-laki hyung, kalau hyung lupa. kenapa juga hyung ikut-ikutan membela lelaki mesum itu? Hyung masih ingat kan siapa dia, tahu kan siapa dia? Lalu sekarang hyung lebih membela LELAKI MESUM ITU?" Suara Doyoung meninggi. Doyoung tidak habis pikir, ada apa dengan orang-orang di rumah ini. Jongdae juga, bukannya ke kamar Doyoung, melepas rindu, malah sedang, entah apa yang dilakukannya dengan lelaki mesum itu.
"Ck.. Doyoungie, kau di Jepang sekolah dengan rajin bukan? Tidak pergi keluyuran kan? Tidak gaul dengan sembarang orang bukan? Kenapa tingkahmu sekarang lebih bar-bar? Tobatlah adikku, sayang!" Taeyong ikut merebahkan tubuhnya di samping Doyoung.
"Sialan kau hyung, kesambet setan apa kau, hyung. Sok menasehati pula," ujar Doyoung sewot membalikkan badan memunggunginya.
Mereka terdiam, Taeyong dengan pikirkannya dan Doyoung sendiri sedang mengontrol emosinya agar tidak meledak lagi.
"Hahhh…" Taeyong menghembuskan napasnya lelah.
"Aku hanya mencoba berdamai dengan semuanya, Youngie, dengan masa lalumu, dengan masalahmu, dan dengan keadaan." Doyoung bingung dengan kata-kata Taeyong. Tidak mengerti maksud kata-katanya tadi, dengan perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Taeyong, memandangnya. Sebenarnya apa yang dimaksudkannya?
"Okay, kau memang terluka, sakit dan entah berapa banyak kosakata yang bisa menjabarkan keadaanmu. Tetapi itu sudah terjadi Youngie, kita tak bisa mengubah apa pun, kan? Kita hanya bisa memperbaikinya, mencoba menjadikannya lebih baik." Taeyong balik menatapnya.
"Masa lalu biarlah tetap menjadi milik masa lalu, apa pun yang kita perbuat sekarang tidak akan bisa mempengaruhinya. Kita hanya bisa memperbaikinya karena akan sangat besar efeknya untuk masa depan kita nanti."
Kata-katanya mirip dengan kalimat yang sering Tiffany noona katakan.
"Jaehyun mungkin brengsek, bajingan, mesum, terserah kau menyebutnya apa dan semua kesialan yang diakibatkannya padamu, tetapi itu dulu, Doyoung. Sekarang tolong lihat sisi lainnya, masih ada Hyoje yang butuh perhatian utuh, keluarga yang sayang dengannya, yang melengkapi apa yang tak bisa ia rasakan. Itu yang membuatku bisa berdamai dengan keadaan."
Taeyong mengakhiri penjelasannya dan mereka kembali terdiam. Tetapi jujur saja Doyoung masih terlalu murka dengan semuanya. Apalagi melihat mereka berdua merebut perhatian yang semestinya hanya untuknya.
Hyoje… jadi namanya Hyoje?
Bayangan gadis kecil dengan rambutnya yang ikal, mata beningnya yang bulat, wajah polosnya yang seperti selalu berharap kembali menyerbu otak Doyoung. Dia cantik.
"Doyoungie…" Minseok masuk kembali ke kamar.
"Doyoungie, anak eomma yang manis, mmm… bisa tidak eomma minta sesuatu padamu, sayang?" Minseok menatap Doyoung khawatir.
"Apa, eomma?" Tanpa menoleh Doyoung menjawab Minseok asal.
"Mmm… itu… Jiejie masih menangis, Jaehyun sudah membujuknya untuk pulang, tetapi dia tidak mau. Bahkan Appa pun tidak bisa membujuknya." Minseok menghela napas pelan. "Sayang, boleh ya, Jiejie dan Jaehyun menginap di sini, nanti eomma bilang pada mereka untuk tidak mendekatimu, ya sayang?" Minseok menatap Doyoung penuh harap.
Doyoung terdiam, Taeyong bahkan tidak melihat kearahnya. Dia seperti sibuk dengan lamunannya. Lelaki itu menginap di sini? Harus membayangkan seatap dengannya saja membuat Doyoung seperti ingin memakan orang! Tetapi, raut wajah mungil itu kembali mendominasi isi kepala Doyoung.
"Terserah," jawab Doyoung pendek.
"Terima kasih, sayang." Minseok tersenyum lega.
"Tetapi dengan satu syarat, jauhkan mereka dariku. Aku sungguh tidak ingin melihat mereka selama aku tinggal di sini."
Minseok hanya tersenyum sedih kemudian mengangguk.
New Story
Entah berapa lama waktu yang diperlukan untuk mereka terdiam, yang pada akhirnya Taeyong bertanya tentang skripsinya yang sebenarnya ingin Doyoung lupakan sejenak.
"Minggu depan aku sidang, doakan ya, hyung."
Akhirnya seharian itu Doyoung menghabiskan melepas rindu pada Taeyong, kakaknya yang hanya beda setahun dengannya itu.
"Gongmyung hyung kenapa tidak kemari, hyung, bukannya kau tadi menelponnya?" Mereka sedang duduk di ayunan kembar di belakang rumah menikmati malam yang mulai turun. Ayunan ini ternyata masih ada, padahal umurnya sudah lebih dari 15 tahun. Dan ayunan ini sengaja dibuat dua –kembar– menginat umur Doyoung dan Taeyong yang tidak berbeda jauh dan selalu berebut apa pun di masa kecil mereka.
"Minhyung sedang demam, katanya sih kalau besok pagi kalau ia sudah baikan Gongmyung hyung kemari. Kau merindukan Gongmyung hyung?"
"Tentu saja rindu, apalagi dengan Minhyung."
"Jadi kau tidak rindu denganku?"
"Tidak, kenapa juga rindu dengan hyung menyebalkan sepertimu." Doyoung cuek.
Gongmyung hyung, kakak sulung Doyoung yang berprofesi sebagai dokter memilih tinggal di Busan yang memang lumayan jauh (atau jauh banget? Aku tg tau) dari rumah mereka. Dan dengan kesibukannya, membuat dia jarang berkunjung. Sedangkan istrinya, Hyesung noona merupakan pemilik butik terkenal di Busan.
Doyoung sudah terlalu rindu dengan Minhyung keponakannya yang imut dan lucu itu. Tanpa sadar Doyoung tersenyum, dan itu pun tidak lepas dari perhatian Taeyong.
"Kenapa kau senyum-senyum tidak jelas seperti itu?" Taeyong menatapnya heran.
"Gwenchana, sedang mengingat Minhyung." Doyoung masih saja memasang senyum bodohnya.
"Minhyung sudah besar sekarang, kelas 3 Elementary School. Yang mengherankan dia bahkan memaksa hyung memanggilnya Mark. Hyung tak habis pikir bagaimana dia menemukan nama itu. Selain itu, dia sering tanya ke Hyesung noona kapan dia bisa punya adik. Untung saja ada baby J. Jadi Hyesung noona tidak kewalahan jawab tuntutan dia."
Hyesungmemang sudah tidak bisa memiliki anak lagi setelah rahimnya diangkat karena komplikasi persalinan Minhyung.
"Baby J?" Doyoung mengernyit bingung. Siapa baby J?
"Ck… baby J. JIEJIE, Hyoje. Anak kamu, Doyoungie," Taeyong menatapnya sebal. Dan seolah tidak melihat air muka Doyoung yang berubah tidak suka, Taeyong malah semakin menjadi.
"Namanya Jung Hyoje. Ia sudah di Taman Kanak-kanak kelas B, seharusnya tahun ini ia masuk Elementary School, Maret kemarin ia genap enam tahun. Coba kamu datang waktu ia ulang tahun kemarin, Youngie, pasti kau gemas denganya. Dia cantik pakai gaun putih, tema pestanya princess. Masih ada foto-fotonya kalau kau ingin melihatnya." Tanpa henti Taeyong terus mengoceh di depannya.
"Kenapa sih, hyung menceritakannya padaku?" Tanpa sadar Doyoung sudah berdiri dari posisinya semula.
"Biar kau sadar kalau kau itu sudah mempunya anak yang cantik, pintar, lucu, dan setengah mati rindu padamu." Taeyong menanggapi santai.
"LALU TUJUANMU APA?" Suara Doyoung meninggi menantang Taeyong.
"Doyoungie, ia hanya anak kecil tanpa dosa yang kebetulan terjebak di situasi yang tidak menguntungkan." Taeyong masih saja berbicara seperti tanpa emosi. Datar.
"Kalau ia bisa memilih, ia tentu akan memilih dilahirkan dalam keluarga yang utuh. Dengan kedua orang tuanya yang sayang dengannya, bukan situasi seperti ini. Coba kau pikirkan itu saja, Youngie. Buka mata, buka hati. Coba kalau kau ada di posisi Hyoje, kau pasti tidak ingin disalahkan atas ketidakbahagiaan eommamu." Taeyong menatap mata Doyoung tajam, langsung ke dalamnya, seolah dia bisa membaca seluruh isi kepalanya. Lama mereka terdiam, Taeyong malah asyik bermain ayunan sendiri. Sedang Doyoung hanya duduk di ayunan dan melihat dia berayun pelan sambil bersenandung lirih.
Ini memang sungguh tidak adil. Baginya, bagi Doyoung juga. Tetapi Doyoung masih bingung bagaimana harus bersikap.
"Ayo makan, hyung sudah lapar." Tiba-tiba Taeyong berdiri menggandeng tangan Doyoung. Berdua mereka beriringan menuju rumah saat telinga Doyoung sayup-sayup mendengar suara bening merdu anak kecil dari jendela kamar yang baru saja mereka lewati. Otomatis langkahnya berhenti.
One and one I love my mommy
Two and two I love my daddy
Three and three I love uncle Tae
One two and three I love every body
Entah kenapa hati Doyoung terasa sangat pedih mendengarnya.
Hyoje
.
.
TBC
Hai… Aku kembali bawa chap lanjutan New Story nih.. Ada yang masih nungguin ff ini?
Gimana dengan chap 3 ini? Aku ingiten lagi, ff ini alurnya bakal maju mundur, temenku aja yang pernah pinjam novel aslinya aja bingung maksudnya apa. Kalo aku sih dah biasa baca jadi udah gak kaget ma alur campuran sebuah cerita #inisebenernyangomongapaansih
Jadi kalau kalian bingung tanya aja, aku pastiin jawab pertanyaan kalian..
Q&A:
Chap1:
Ada yang tanya Doyoung kenapa, Doyoung ndapapa. Dia hanya shock liat orang yg dibencinya ada dirumah orangtuanya.
Kenapa keluarga mereka pecah? Untuk pertanyaan ini akan terjawab pada chap 5 & 7, ditunggu aja yaa..
Rimm: iyahyoje anak jaedo. Di chap ini sudah jelaskan siapa hyoje. Makasih dah review
smcacia: nama penname mu apa? nanti aku cek.. makasih dah review
mimi: ini dah lanjut. Makasih dah review
Chap2:
Min Milly: iya jaehyun sok sok an jahat, tunggu aja hyunnie karma gak akan kemana. Hahahaha (tertawa jahat)
Park RinHyun-Uchiha: jaehyun dari dulu udah bangsyaaattt.. makasih dah review
fad24: doyoung emang cute banget. Ini udah aku lanjut, makasih dah review
tenbreeze: syukurlah kalo gitu, waktu mau ngepost nih ff aku takut kalo ff ini bakalan membosankan. Makasih dah review.
mimi: kamu penasaran kenapa doyoung bisa punya anak? Itu bakalan terjawab dichap 4ma5, ditunggu aja ya.. makasih dah review.
lutfiah24: jaehyun sih maunya dua2nya diembat. Makasih dah review
di chap kemarin jaehyun mang udah keliatan mesumnya, makasih dah review 'guest-ssi'.
.
Sekali lagi, makasih reviewnya. Itu membuatku semangat ngetik lanjutannya..
Terakhir
Review juseeyyyoo…
Sign
Minnie
