Broken-Winged Angel
A Chanbaek Fanfiction
MPreg. BoysLove. YAOI. Shounen-ai.
Rate : M
Main Cast : Byun Baekhyun x Park Chanyeol
The Other Casts : OC. Go find yourself!
— — —
Kemarin malam Baekhyun sempat terbangun karena Jiwon merengek padanya bahwa anak itu lapar. Jadi Baekhyun memasakkannya makan malam dengan lesu. Ditambah kakinya yang tidak juga membaik meski telah diobatinya dengan salep yang dulu telah disiapkan oleh Chanyeol.
Mengingat suaminya itu membuat Baekhyun semakin sedih.
Semalam pria itu tak pulang ke rumah. Bahkan Baekhyun sempat menunggunya hingga larut sampai ia baru bisa tertidur pada pukul 1 pagi. Ia cemas bukan main. Tidak biasanya suaminya itu tidak pulang tanpa memberinya kabar apa pun. Lelaki hamil itu menambah sesalnya saat ingat jika mungkin itu dikarenakan dirinya pula.
Chanyeol pasti begitu marah padanya sampai muak hanya untuk bertatap muka pada lelaki yang membangkang suaminya sendiri—seperti yang dilakukannya. Pria itu pasti tidak ingin lagi pulang karena ia juga sering merepotkannya. Dia pasti sebegitu marahnya hingga tak merasa perlu untuk membalas pesannya juga memaafkan sifatnya yang sudah keterlaluan.
Baekhyun berakhir dengan menyalahkan diri setelah ia mampu mencapai tempat tidurnya untuk menyandarkan tubuhnya yang lelah. Morning sicknessnya masih seburuk biasanya, dan kini diperparah oleh kondisi tubuhnya yang melemah setelah hari yang panjang kemarin.
Lelaki hamil itu terus tercenung di pinggir kasur yang ditidurinya hingga tak sadar air mata telah mengalir dari matanya yang kosong.
Baekhyun takut.
Takut pria itu kecewa padanya yang berubah menyebalkan.
Takut pria itu berpaling darinya karna tubuhnya yang sudah tak terbentuk semenjak hamil kedua.
Juga takut jika pria itu tidak akan pulang lagi ke rumah dan memiliih untuk meninggalkannya.
Pikiran-pikiran buruk terus menghantuinya secara berlebihan. Dan semua itu mengarah pada batinnya yang berteriak bahwa ini semua adalah kesalahannya. Chanyeol tidak salah sama sekali. Dia tidak salah sekali pun nanti memutuskan untuk meninggalkan lelaki jelek sepertinya.
Suara tangisannya kian keras hingga membuat kepalanya tertunduk dalam dengan suara raungan yang menyedihkan. Pundaknya terus bergetar dan tangannya terangkat untuk menutupi seluruh wajahnya yang basah.
"C-chanyeol… Hiks—" Racauan yang keluar dari bibirnya pun hanya nama itu. Nama yang pemiliknya benar-benar dirindukannya disaat yang seperti ini. Pemilik nama itu biasanya tak akan membuatnya menangis sekencang ini, pria itu selalu mampu meredakan tangisnya hanya dengan beberapa kata lembut.
Chanyeol tidak pernah marah dan membentaknya, tidak sekali pun, tapi kemarin pria itu tanpa sadar telah melakukannya. Dan Baekhyun tahu ia pantas mendapatkannya.
"Yeolie, m-ma-maaf—Maafkan aku…."
Tangisannya terus menggema mengisi kesunyian dan dinginnya kamar pada pukul 5 pagi.
Baekhyun mencoba untuk menghentikkan tangisnya ketika ingat bahwa masih ada Jiwon yang harus diurusnya. Tak seharusnya ia egois dan mementingkan urusan hatinya hingga mengabaikan kebutuhan anaknya itu.
Lelaki mungil itu memaksa tubuhnya—yang berat, bangkit untuk pergi membersihkan diri.
Omong-omong, kepalanya sekarang semakin pusing setelah lama menangis. Tapi tubuhnya langsung segar setelah air dingin mengalir membasuh tubuhnya.
[***]
Singkatnya, pagi itu Baekhyun menjalani hari seperti rutinitasnya sehari-hari.
Hanya saja dengan keadaan hati yang suram.
Terutama, setelah Jiwon menyadari tidak adanya kehadiran sang ayah dan bertanya dalam tundukan, "Apa Daddy marah karena Jiwon nakal?"
Baekhyun hampir saja menjatuhkan air matanya mendengar hal itu. Dia tak mampu menjelaskan lebih detail karena ia sendiri tidak tahu kemana perginya suaminya itu.
Baekhyun hanya bisa menjawab lirih, "Daddy tidak pulang karena Papa yang nakal."
Meski sempat dilihatnya anaknya itu seperti tidak paham dan ingin bertanya lebih lanjut, Baekhyun mampu mengubah topik secepatnya demi membuat hatinya tidak kembali melemah.
Baekhyun meminta tolong Luhan untuk menjemput anaknya di rumah dan mengantarnya ke sekolah bersama Haowen dengan alasan kakinya yang masih sakit. Memang benar seperti itu. Tapi Baekhyun sedikit berbohong saat berkata bahwa Chanyeol sedang ada meeting pagi sehingga tak sempat mengantar Jiwon ke sekolah.
Setelah mengantar kepergian mereka dengan matanya, Baekhyun menghela nafas lelah dan masuk ke dalam rumah yang sepi terasa.
Dia sudah terbiasa dengan keadaan yang seperti ini. Tapi tidak dengan hatinya yang meringis pedih ketika ingat bahwa kenyataannya sang suami telah meninggalkan rumah sejak kemarin.
Tadi Baekhyun sempat menghubungi ponsel milik suaminya, tapi tidak aktif. Membuatnya semakin putus asa hingga rasanya ingin menyusul sang suami ke tempat kerjanya sekarang juga. Tapi Baekhyun juga masih sadar diri jika Chanyeol pasti akan semakin marah jika ia menganggu pekerjaan lelaki itu.
Jadilah ia kini tengah berusaha mengalihkan pikirannya dari pria itu.
Hal pertama yang dilakukannya ketika masuk adalah membereskan piring kotor bekas ia dan Jiwon sarapan tadi. Tidak banyak karena ia hanya memanggang roti dengan segelas susu hangat untuk Jiwon. Sementara ia sendiri belum memasukkan apa pun sejak semalam karena terlalu khawatir dengan Chanyeol.
Setelahnya, ia memasukkan seluruh pakaian kotor pada mesin cuci. Selagi menunggu mesin berputar, Baekhyun mengambil sapu dan membersihkan seluruh ruangan yang bahkan masih bersih karen rajin dibersihkannya setiap hari.
Saat telah selesai dengan menyapunya, Baekhyun kembali ke mesin cuci dan memasukkan cucian yang telah bersih ke dalam pengering. Baekhyun menunggunya dengan merapikan beberapa mainan Jiwon yang berceceran dan alat tulis anak itu yang terletak tidak pada tempatnya.
Baekhyun hampir saja limbung saat kembali dari kegiatannya itu. Kepalanya berdenyut hebat dan tak sadar ketika wajah itu telah memucat sedari tadi.
Ia tak ingin mempermasalahkannya, jadi langkahnya ia tarik paksa menuju ke tempat cuciannya yang belum beres. Baekhyun menjemurnya di belakang rumah.
Kebetulan hari juga sedang cerah. Matahari pagi menyengat dengan aura yang hangat membuat lelaki cantik itu meneteskan peluh yang tak sedikit, padahal ia baru saja mandi.
Jadi, setelah semuanya beres, Baekhyun menyempatkan diri untuk mengganti pakaiannya. Dia mengganti pakaiannya dengan gerakan yang seolah perlu mengerahkan seluruh tenaga untuk melakukannya. Ia sangat letih, tapi sadar bahwa ia masih memiliki kewajiban yang belum selesai.
Lagi-lagi Baekhyun teringat dengan suaminya saat menutup pintu lemari milik mereka.
Lelaki yang tengah hamil itu menghela nafas, antara putus asa dan kelelahan yang tengah menderanya tanpa ampun.
Jam menunjukkan pukul 10 ketika ia telah mendudukkan dirinya pada ujung kasur.
Matanya terpejam dan tangannya terangkat untuk memijit pelan pelipisnya yang kian kuat berdenyut. Ia ingat jika belum memasukkan apa pun pada lambungnya, sementara tadi pagi semua yang sempat mengisi perutnya dipaksa keluar ketika muntah. Dia pun beranjak untuk membuat susu hamilnya.
Baekhyun tahu seharusnya ia makan karbohidrat untuk mengisi tenaganya, tapi biarlah kali ini ia mengabaikan dirinya sendiri, yang terpenting baby dalam perutnya sudah ia beri asupan nutrisi dari susu hamil yang diminumnya.
Padahal tanpa sadar selama ini pun selalu begitu. Baekhyun yang mengabaikan dirinya sendiri dan memilih untuk lebih memprioritaskan keluarganya.
Baekhyun kembali ke kamar setelah menghabiskan susunya. Ia terduduk lagi di tepi kasur dan tangannya telah menggenggam salep untuk kakinya. Bagian itu semakin bengkak dan parah, tepatnya di sisi kanan yang kemarin sempat terkilir. Jadi tangan lentik itu mengoleskan salep banyak-banyak pada sisi itu.
Selanjutnya, Baekhyun tidak tahu lagi apa yang perlu dikerjakan. Sebentar lagi Jiwon pulang, tapi bahkan ia sama sekali tak memiliki tenaga hanya untuk beranjak dari tempat tidurnya.
"Bosan~" Bibirnya mencebik pelan karena kesal.
Dia beralih untuk berbaring dan mengambil ponselnya pada sisian kasur. Sepertinya ia akan merepotkan Luhan lagi kali ini. Baekhyun terus mengucapkan maaf saat menguhubungi lelaki itu, meskipun yang di seberang sana terus saja berkata jika ia tidak keberatan.
Kemudian, handphone nya ia letakkan di sampingnya dan tak lama hantaman sakit secara tiba-tiba menyerang perutnya.
"Sshh—" Bibirnya yang pucat mendesis pelan.
Sesaat setelahnya, hantaman itu datang lagi dan menyerang kepalanya hingga bagian itu terasa berputar.
Baekhyun akhirnya memejamkan matanya dengan pelan, entah karena kantuk yang menyerang atau memang dia yang sudah tak sanggup lagi mempertahankan kesadarannya.
[***]
"Papa!" Jiwon masuk ke dalam rumah dengan pekikan memanggil Papa-nya. Tangannya menggenggam 2 cup ice cream yang besar. 1 miliknya dan yang lainnya sengaja dibelikan untuk Papa-nya.
Di belakang kaki kecil yang berlari itu, seorang pria dewasa mengikutinya dengan senyum lebar siap untuk sambutan dari suami kecilnya yang ada di rumah.
Tapi dahinya mengernyit saat mendapati rumah dalam keadaan sunyi senyap. Seluruh ruangan terihat baru saja dibereskan dan Chanyeol beranggapan bahwa mungkin saja suaminya sedang tertidur karena lelah.
"Jiwona, masuklah ke kamar dan ganti bajumu, hm?" Ucapan Chanyeol menarik atensi anak kecil yang tengah menikmati ice creamnya di depan pintu kamar.
"Oke, Daddy!" Anak itu menjawab dengan pekikan kelewat semangat.
"Dan berikan ice cream milik Papa pada Daddy, sayang..." Chanyeol mengulurkan tangannya, siap untuk menerima cup besar itu.
"Eung!"
Jiwon mengangkat tangan kirinya dan menyerahkan cup yang isinya masih utuh ke arah Daddy-nya. Kemudian ia berlari riang menuju ke kamarnya.
Chanyeol memasukkan ice cream itu ke dalam freezer karena sepertinya suami cantiknya memang tengah tidur siang.
Dan benar saja, ketika ia masuk kamar pria itu mendapati tubuh mungil yang tengah terbaring di atas tempat tidur.
Chanyeol mendekat ke arah ranjang dengan senyuman yang masih menghiasi parasnya yang terlihat lelah. Tapi kemudian senyumnya mengendur saat melihat wajah terlelap kesayangannya itu. Bagian itu terlihat putih pucat dengan hidung yang mengeluarkan nafas pendek dan lemah.
Tangannya terulur ke arah pelipis berkeringat itu untuk menghapusnya, dan ia cukup terkejut saat bagian itu terasa sangat dingin.
Chanyeol memutuskan menyentuh lengan suaminya dan suhu disana juga sama rendahnya. Mendadak ia panik sehingga tanpa sadar tangannya menepuk pipi itu dengan lumayan keras. Ia merasa tepukannya itu semakin keras, tapi mata itu tak juga kunjung terbuka membuat Chanyeol kalut.
"Baekhyun! Baek, bangun! Bangunlah, sayang! Ayolah!" Nadanya terdengar ikut tergesa pula terlontar, berharap telinga itu mendengarnya kemudian berusaha menyadarkan sang pemilik.
Jantungnya berdentum keras saat tangannya meraih ponsel pada sakunya. Chanyeol tak memiliki pilihan efektif lain di samping sesegera mungkin menghubungi dokter pribadi keluarga mereka.
"H-halo, dok! Segera datang ke rumah saya, suami saya pingsan dan tubuhnya sangat dingin. Nafasnya pelan sekali, dan—dan wajahnya sangat p-pucat. Dan sepertinya dia s-sudah pingsan sedari tadi, jadi—"
'Hei, tenanglah, Chanyeol. Jangan panik dan laporkan semuanya nanti karena aku akan menuju kesana sekarang juga. Tetaplah berada di sampingnya dengan tenang, oke?'
Suara disana juga terdengar tak kalah panik karena penjelasannya yang bertele-tele. Terdengar pula suara krasak-krusuk yang rusuh kemudian hanya suara kendaraan yang terdengar bersahutan, menandakan yang disana telah dalam perjalanan.
Chanyeol mengatur nafasnya yang berantakan dan segera mengangguk pelan.
"Ya, dok. Terimakasih." Lalu memutus sambungan telepon mereka.
Tubuhnya ia seret untuk duduk pada pinggir tempat tidur. Chanyeol menggenggam tangan kanan Baekhyun yang juga sama dinginnya, sementara tangan kirinya ia arahkan untuk mengelus lembut kepala yang terkulai lemah itu.
Dia sungguh sangat merasa bersalah dengan apa yang menimpa suaminya saat ini. Semua karena kelalaiannya yang tidak dapat menjaga ibu dari dua anaknya itu. Chanyeol bersalah karena kemarin ia tak mampu menahan emosinya sehingga membentak suami kecilnya. Padahal lelaki kecil itu tengah berjuang demi kedua anaknya meski harus mengabaikan kesehatannya sendiri.
Chanyeol merasa buruk karena setelah keegoisannya, dia justru menambah parah keadaan karena semalam tidak pulang ke rumah. Pasti suaminya itu sedih sekali karena Chanyeol dapat melihat kelopak mata itu agak memerah dan bengkak. Pria itu tahu bahwa hormon kehamilan Baekhyun memang membuat lelaki itu lebih sensitif. Chanyeol tahu hal itu, tapi tetap saja menyakitinya karena kesalahan yang bahkan tidak lelaki mungil itu lakukan.
"Maafkan aku, Baek—Maaf telah mengecewakanmu…"
"Maaf telah membuatmu kesakitan..."
Pikirannya yang kalut terus memaksa dirinya menjadi semakin lemah. Kepalanya ia tundukkan untuk mencium tangan dalam genggamannya, yang juga terlihat sangat rapuh. Air mata kesedihannya jatuh tepat ketika punggung tangan itu menyentuh bibirnya.
Bahunya bergetar hebat karena menahan isakan. Namun akhirnya suara itu lolos juga, dan ia terisak kencang seperti anak kecil. Chanyeol malu karena ia selemah ini, tapi tidak ada hal yang lebih mematahkan hatinya selain melihat suaminya itu kesakitan meski tidak pernah mengeluh dan bersikap selalu kuat seperti yang lelaki itu selalu perlihatkan.
Chanyeol merasakan hatinya hancur saat itu juga ketika baru saja menyadari bahwa celana pendek yang Baekhyun kenakan mengalirkan sesuatu berwarna merah pekat. Tangannya gemetar ketika akan menyengka bagian itu, dan seketika Chanyeol merasa ia tak pantas disebut sebagai seorang suami.
Ia telah lalai dan gagal.
[The End of Chapter]
Sorry to saying this, but dont expect a big problem in this story because this time I dont want to make something like that. Dan thank you sekali untuk yang sudah mau review! 3
