4

About You

Author : Cho Minseo

Cast : Kim Doyoung – Jung Jaehyun

Other cast :

Kim Minseok (Doyoung's eomma)

Kim Jongdae (Doyoung's appa)

Jung Yunho (Jaehyun's appa)

Jung (Kim) Jaejong (Jaehyun's eomma)

Kim (Lee) Taeyong

Kim Gongmyung

Lainnya kalian temukan aja sendiri

Summary :

Bertahun-tahun melupakannya, kenapa dia harus muncul kembali? Membawa sebuah kenangan menyakitkan, mimpi buruknya. Doyoung benci kisah hidupnya. Tetapi siapa tahu kisah hidup yang Doyoung benci akan berubah karena kemunculannya kembali. (susah juga buat summary)

Genre :

Hurt, Comfort, Romance, OOC banget (gak yakin ma genrenya)

Rate : T+

Warning :

BxB, M-Preg, GS (Minseok, Jaejong), bahasa aneh, alur membingungkan, judul tidak sesuai dengan isinya. Aku sarankan membacanya perlahan aja, soalnya alurnya campuran. Kalo ada yg gak paham ma alurnya, kalian komen aja di review, kalo aku sempet nanti aku bales di chap berikutnya..

.

.

Flashback

Mei 2013

Alunan musik yang menghentak menyambut Jaehyun di bar ini, baru pukul sepuluh malam, tetapi suasana tempat ini sudah demikian ramainya. Dance floor lumayan penuh dengan liukan tubuh-tubuh pengunjung yang mengikuti alunan musik arahan DJ.

Bar ini rupanya cukup popular di kalangan anak muda di Seoul, konsep bar dance yang diusung Yuta memang sedang digemari sekarang ini. Yuta cukup jeli menangkap minat pasar. Untuk ukuran pemula ia sudah cukup sukses mengelola tempat ini. Belum juga setahun tempat ini berdiri, sudah dua cabang lagi dibukanya di Incheon dan Gyeongju.

Jaehyun membayangkan kalau dia membuat tempat semacam ini juga, mungkin di kawasan Itaewon atau di luar pulau korea sekalian. Hah, pastinya ibunya akan menyiapkan pisau daging untuk mencincang halus dirinya. Ibu dan ayahnya memang cukup bermoral untuk urusan seperti ini. Pasti mereka menuduh berbisnis esek-esek –dan itu tepat sekali– secara terselubung. Yah, memang sepenuhnya tidak salah, Jaehyun dulu selalu tertidur saat pelajaran Pendidikan Moral waktu dirinya di Elementary School, jadi wajar jika moralnya tidak semoral Tuan dan Nyonya Jung yang mengukuhkan diri sebagai orang tua biologisnya. Jaehyun saja kadang masih heran, bagaimana bisa dia punya orang tua sebaik mereka. Mengingat tingkah Jaehyun yang berlawanan dengan mereka. Pemikiran tentang ini membuat Jaehyun geli saat menuju konter bartender.

"Kenapa ketawa-ketawa sendiri, sedang senang, hyung?"

Winwin menyapa sambil mengelap gelas di tangannya dan tersenyum manis ke arah Jaehyun. Bartender Yuta yang satu ini memang cukup 'cantik' untuk ukuran laki-laki. Pantas saja si Yuta ketar-ketir tiap berdekatan dengannya. Ingat Jaehyun kau juga sekarang sudah berubah haluan, pedofil pula. Jaehyun berubah masam mengingat gender sepupunya Kristal. Hah, kurasa aku tertular Yuta, lebih parahnya lagi aku suka yang daun muda, nasip-nasip.

"Yang lain di mana, Win?" Balas Jaehyun tanpa menjawab pertanyaan Winwin tadi.

"Sudah di lantai atas, hyung, tetapi masih ada satu yang tertinggal, itu!" Winwin mengarahkan dagunya ke ujung konter.

Jaehyun melongo ke arah yang ditunjuk Winwin. Di ujung konter seorang lelaki dan wanita tidak memperdulikan sekitarnya sedang asyik menempel di tembok (kayak cicak aja #plak). Sekali lihat Jaehyun bisa memastikan apa yang terjadi, lokasi yang sedikit sempit tertutup pot besar bunga hidup, penerangan yang remang-remang, gerak tubuh yang sinkron, mulut bertemu mulut, dan jeansnya yang sedikit melorot. Gila, segitu tidak tahankah sampai-sampai Kun tidak sempat mencari kamar?

"Pantas saja kau betah berdiri di sini, Win."

"Hehehehehe… lumayan, hyung, live attraction. Gratis pula," Winwin menyengir.

"Hati-hati lho, nanti kalau kau menginginkannya juga, bingung lagi. Okay, aku langsung ke atas saja ya, nanti kalau ia sudah selesai, kau suruh saja Kun naik."

"Sipp, hyung ingin minum apa?"

"Vodka," teriak Jaehyun seraya berlari menaiki tangga ke atas. Di lantai dua memang ada ruang VIP yang disediakan Yuta untuk teman-temannya di bar ini. Semuanya bisa mereka lakukan di sini, kecuali ngeseks. Untuk urusan yang satu itu, Yuta melarang keras mereka memakai ruangan ini.

"Hai friend,tumben terlambat, ke mana saja?" Yuta menempelkan tinjunya ke arah tinju Jaehyun –salam khusus mereka– dan mengajaknya duduk di sofa cokelat yang sudah dihuni Hansol dan Taeil.

"Biasa, tuan Jung Yunho meinginkan yang serba perfect kalau menyangkut pekerjaan, jadi aku masih harus bertahan di sana, untung saja aku bisa kabur. Kalau tidak bakalan semalaman suntuk aku kerja di kantor," gerutu Jaehyun sambil melepas jas dan dasi lalu merebahkan tubuhnya di sofa.

"Hahahahaa… gila kau, Man. Dengan appa sendiri kelakuannya seperti itu. Nanti juga semuanya jadi milikmu kan, Man." Hansol menunjuk Jaehyun santai dengan botor birnya.

"Iya, tetapi itu kan harus menunggu appa pensiun dulu, dan itu masih lama. Aku masih ingin menikmati indahnya dunia," jawab Jaehyun santai, namun pandangannya tidak lepas dari Yuta yang tanpa kedip melihat Winwin yang sedang mengantar minuman pesanan Jaehyun tadi.

"Thanks ya, Win."

"Sama-sama, hyung. Ada lagi yang dibutuhkan?"

"Tidak, itu saja." Dan Winwin pun segera berlalu.

"Sudahlah Yuta hyung, kenapa tidak kamu menyatakan saja perasaanmu?" Kata Jaehyun pada Yuta yang masih menatap kosong ke arah pintu yang tertutup setelah Winwin keluar.

"Nah, itu permasalahannya. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku. Aku takut kalau dia menghindariku setelah aku menyatakan perasaanku padanya, aku bisa kehilangan bartender handal di sini." Yuta merebahkan tubuhnya ke punggung sofa dan memejamkan mata. Jaehyun hanya bisa menatapnya prihatin. Jaehyun rasa Yuta sangat menyukai Winwin, ia tidak ingin hanya menjalani hubungan sesaat dengan bartendernya itu.

Di antara mereka berempat Yuta memang yang paling penuh perhitungan dalam bertindak, meski itu mengorbankan dirinya sendiri. Ia juga yang menjadi 'tempat pulang' saat mereka bertiga ada dalam masalah. Singkat kata Yuta itu seperti kakak tertua bagi mereka meskipun Hansol yang tertua. Dan sekarang melihatnya seperti itu mau tidak mau Jaehyun pun ikut sedih, bagaimanapun dia teman terbaiknya.

"Eh, ke mana Kun? Dari tadi tidak kelihatan batang hidungnya?" Taeil mengalihkan perhatian.

"Ada tuh di bawah lagi bermain," jawab Jaehyun asal sambil menyesap minumannya.

"Toilet?" Koor suara baritone memaksa Jaehyun mengalihkan pandang dari gelasnya.

"Dinding, di ujung konter bartender." Cengiran Jaehyun membuat mereka melongo.

Sunyi.

Lalu…

"Huahahahahahahahahahaaaa…"

Bersamaan dengan itu pintu terbuka dan manusia yang mereka bicarakan masuk dengan segelas wine di tangannya.

"Wah, sepertinya aku ketinggalan acara nih. Hei, apa ada yang lucu?" Kun duduk di satu-satunya kursi di depan Jaehyun.

"Huahahahahahaaaaa…"

Melihat Kun, tawa mereka semakin kencang tak pernah berhenti. Sedang orang yang mereka bicarakan memandang mereka tidak mengerti.

"Hei, kenapa sih?" Kun tampak kebingungan melihat mereka semua.

"Bagaimana rasanya dinding dingin barku, Kun-ah?" Yuta nyengir lebar ke arah Kun setelah dia berhasil mengontrol tawanya.

"Sial, siapa saja yang melihatnya?" Kun membanting gelasnya kasar ke meja.

"Setengah isi bar, ditambah aku," jawab Jaehyun santai.

Mereka memang memiliki kode etik dalam hal menebar benih pada wanita-wanita yang mereka temukan. Salah satunya tidak melakukannya di sembarang tempat (tempat umum). Kan tidak lucu kalau foto-foto mereka sebagai ahli waris kerajaan bisnis menyebar di media cetak maupun dunia maya. Bisa-bisa orang tua mereka akan kelimpungan menangkis gosip dan berita yang beredar. Jadi bisa dipastikan kalau satu dari mereka melakukannya akan jadi bahan olokan yang tidak pernah habis.

"Namanya Luna. Aku tidak kuat menahannya, sebagai wanita dia sangat liar. Mungkin dulu dia lahir di pedalaman Afrika bersama cheetah gunung di sana." Kun menggelengkan kepala. "Dia temannya wanita gaun hitam yang kau bawa waktu itu, Jaehyun-ah." Kun menatap Jaehyun dari balik gelas winenya.

"Kristal."

"Iya dia. Ngomong-ngomong, aku jarang melihatmu jalan bersamanya, sudah bosan, ganti wanita yang mana lagi?" Kun memainkan gelasnya.

"Sebenarnya aku sudah bosan dengannya, hyung. Tetapi aku masih penasaran dengan sepupunya." Ingatan Jaehyun melayang pada sesosok pemuda cantik berlesung pipi dengan senyum menawan. Ah, Doyoung.

"Sudah kau embat dua-duanya?" Hansol memainkan ponselnya. Pasti dia sedang mencari kontak suplier wanita mereka malam ini.

"Belum, si Kristal itu jinak-jinak merpati, sok main tarik ulur denganku. Makanya ia membosankan. Kalau sepupunya…" suara Jaehyun mengambang ragu.

"Kenapa dengan sepupunya?" Yuta langsung menyambar.

"Dia pemuda manis yang baru genap 18 tahun Februari kemarin," ujar Jaehyun santai.

Tiga pasang mata menatapku horror.

"Huahaaahahaahahaahahaaa…"

Ledakan tawa rasanya mampu menggetarkan ruangan VIP ini. Dan seperti saat mereka menertawakan Kun tadi, kali ini pun mereka bertiga tertawa tanpa henti. Taeil bahkan sampai membungkuk menahan perutnya. Rasanya nasib Jaehyun sungguh mengenaskan sampai tawa mereka bisa Jaehyun artikan sebagai murni ejekan. Jaehyun tahu pasti apa yang mereka pikirkan. Ya ampun, kenapa juga juga aku harus cerita tadi? Kalau akhirnya mereka menertawakanku.

Hansol tiba-tiba menempelkan ponselnya ke telinga. "Ya, okay. Suruh saja langsung naik lantai dua." Tanpa basa-basi ditutupnya lagi ponselnya.

"Orderan datang, dan untuk mu Mr. Pedofil kompleks, special aku pesankan dua." Hansol tertawa lebar padanya.

Yeeaaayyyy threesome lagi malam ini….

New Story

"Eommaaa, Doyoungpergi dulu, yaaa." Doyoung berteriak ke pintu yang mengarah ke taman belakang rumah sambil mencomot sebuah apel di atas meja makan.

"Pergi ke mana Doyoungie? Sendirian?" Minseok muncul dari balik pintu masih memegang gunting bunganya.

"Tadi pagi kan sudah Doyoung jelaskan ingin pergi bersama Johnny ke toko buku, lalu mampir mencari makan kemudian kalau sempat nonton juga," kata Doyoung sambil menggigit apel di tangan.

Doyoung dan Johnny. Hubungan mereka memang lebih dari sepupu. Pacaran? Rasanya tidak mungkin. Karena baik Doyoung maupun Johnny tidak pernah mengungkapkan perasaan mereka. Tidak tahu apa sebutannya kalau ke mana-mana selalu bersama. Ingin melakukan apa pun selalu bersama. Tetapi tidak ada hubungan apa-apa. Doyoung sendiri juga bingung dengan hubungannya.

"Halah alasan, dia ingin pergi kencan dengan Johnny, eomma. Dia ingin menghabiskan waktu berdua sebelum berangkat ke Wellington nanti," Taeyong berjalan santai ke arah sofa di ruang tamu sambil menyambar apel yang Doyoung pegang.

"Hyung… menyebalkan. Itu kan apelku!" Doyoung mengambil sebuah jeruk dan melemparkan ke arah kepala Taeyong sebal.

"Tidak kena… tidak kena… wleekkk… hahahahaa…" Taeyong menutup kepalanya dengan bantal sofa dan meleletkan lidah pada Doyoung.

"Eomma, Taeyong hyung jahat dengan Doyoung."

"Hei, sudah, sudah, kalian ini sudah pada besar masih saja bertengkar. Malu nanti kalau ketahuan Minhyung. Masa paman-pamannya masih bersikap kekanakan seperti itu." Minseok menengahi mereka yang masih melotot –okay ini lebay Doyoung yang melotot Taeyong tidak– dan meleletkan lidah.

"Sudahlah, Doyoung, kau kalau sudah sampai di sana sebaiknya kau cari pacar di Wellington saja. Masa iya pergi jauh-jauh ke New Zealand dapatnya Johnny. Tidak mengembangkan keluarga itu namanya."

"Tetapi, aku paham, mungkin nanti di sana yang ingin denganmu cuma biri-biri atau kanguru kesepian yang tidak mendapat jodoh hahahahahaa…" Taeyong terbahak tanpa mengalihkan perhatiannya dari majalah Rolling Stone di pangkuannya.

"Hyuuuuuunggg…. Jujur ya, hyung itu mahkluk yang paling menyebalkan yang pernah aku kenal. Bilang saja kalau hyung iri, iya kan? Hyung iri karena aku yang dapat beasiswa. Sedangkan hyung sendiri mencoba tidak pernah dapat, mengaku saja. Dan satu info lagi untukmu tuan muda Taeyong jelek, aku tidak pacaran dengan Johnny, titik." Doyoung memberikan tatapan mengintimidasi sambil berkacak pinggang di depannya.

Memang Doyoung di terima beasiswa study di Victoria University of Wellington. Jadi bisa dibilang ini adalah bulan-bulan terakhirnya di Seoul.

"Aku iri denganmu? Hei… kau harus berkaca dulu, Doyoungie. Mana mungkin aku iri dengan kondisimu yang serba pas-pasan begitu. Muka pas tidak kebagian tampan, dada pas tidak kebagian isi, bokong pas datar sekali, otak pas lagi dibutuhkan baru bekerja. Ckckck… sebenernya apa yang dilihat Johnny darimu, Youngie?" Taeyong menekankan kata-kata penghinaannya pada Doyoung.

"Ihhh, dasar hyung pendek." Taeyong melotot mendengarnya.

"Apa? Daripada hyung tidak kebagian tinggi. Di antara kita bertiga siapa yang paling pendek? Hyungkan yang paling pendek?"

"Sudah tidak bisa mengelak lagi kan, hyung? Hahahaha…" tawa Doyoung puas melihat keterdiaman Taeyong.

"Ada apa ini, ramai sekali." Suara merdu Jongdae menghentikan Taeyong dari apa pun yang akan diucapkannya pada Doyoung.

"Biasa, appa, sedang berbincang-bincang." Jawab Taeyong.

"Doyoungie itu ada Johnny di luar katanya kalian ingin pergi ke toko buku, ya?" Jongdae meletakkan tasnya dan langsung duduk di samping Taeyong yang wajahnya berbinar-binar dan secepat kilat melesat keluar sambil meraih gitar. Hari Sabtu Jongdae memang pulang lebih awal, bahkan kadang sebelum makan siang sudah sampai di rumah.

"Iya, Appa, kenapa tidak mengajaknya masuk sekalian?" Doyoung merapikan penampilannya yang sedikit berantakan.

"Johnny tidak ingin masuk, katanya enak diluar, banyak angin. Bagaimana berkas-berkasmu untuk keperluan ke Victoria, sudah selesai semua?" Jongdae sembari menerima segelas air putih yang diberikan oleh Minseok.

"Sipp, Appa. Formulir kesehatan dan hasil X-ray sudah kuambil kemarin, aplikasi untuk visa pelajarnya juga sudah lengkap, dokumen yang diperlukan juga sudah semua. Tinggal mengurus SKCK, Appa, besok Senin saja. Pokoknya kalau semuanya selesai, aku sudah bisa berangkat tiga bulan lagi."

"Jangan lupa cek ulang semuanya, konfirmasi lagi juga ke pihak Victorianya. Jangan sampai ada yang terlewat."

"Okay, Appaku yang paling tampan. Doyoung pamit pergi dulu, kasian Johnny nunggunya kelamaan."

Doyoung segera mencium pipi Minseok dan Jongdae kemudian segera berlari ke teras di mana Johnny menunggunya.

"Kalau kau hanya bermain-main dengannya, kau akan berhadapan dengan ku."

Suara Taeyong yang penuh ancaman terdengar samar di telinga Doyoung. Kenapa lagi nih si raja usil?

"Kenapa hyung, hyung bicara apa dengan Johnny?" Doyoung berikan deathglarenya.

"Tidak… tidak ada apa-apa!" Taeyong dan Johnny menjawab bersamaan. Kenapa Johnny juga ikut berkonspirasi dengan Taeyong? Ini sangat mencurigakan. Johnny kan orang yang pendiam, dia penurut orangnya. Pasti Taeyong mengajak melakukan hal yang aneh-aneh dengannya.

"Johnny, lebih baik kita pergi sekarang. Tidak usah berurusan dengan Taeyong hyung lagi."

"Cieee, yang tidak sabar ingin pergi kencan. Jangan pergi dulu, ku ingin menyanyikan lagu untukmu, Doyoungie." Taeyong memetik gitarnya setelah melihat Doyoung bersiap menarik tangan Johnny ke mobilnya.

Doyoung mengangkat alisnya heran. Taeyong? Menyanyi untukku? Tumben dia baik terhadapku.

Jreenggg

Wherever I am, even in a dream

Oh, you're the only one for me

I promise for the rest of my life

There's no second chance, you're my last love

(My First and Last by NCT DREAM)

Ggrrrrrr

TAEYONGG HYUUNG JELEEEEKK

New Story

Sudah hampir dua minggu sejak Jaehyun bertemu dengan kelinci kecil itu. Jaehyun masih teringat jelas bagaimana ia, tertawanya, senyumnya, cara berbicaranya, suaranya, bahkan lirikan tidak suka pada Jaehyun. Astaga, sejak kapan Jaehyun terobsesi pada seorang pemuda seperti ini. Dan memang baru Jaehyun sadari sebelum dia pulang dari rumah Doyoung waktu itu, kalau Doyoung benar-benar tidak suka padanya. Yeah, maaf saja kalau Jaehyun terlambat menyadarinya. Selama ini kan Jaehyun selalu digilai perempuan maupun laki-laki dari berbagai usia. Jadi kalau sampai ada yang tidak menyukainya, ya salahkan saja mereka sendiri kalau Jaehyun tidak menyadarinya.

Tetapi ini sangat menyebalkan, konsentrasi Jaehyun benar-benar terganggu dua minggu belakangan ini. Sangat tidak nyaman ketika harus menandatangani kontrak kerja sama dengan klien, yang terbayang malah wajah mungil Doyoung dengan tawa renyahnya. Atau ketika kemarin malam Jaehyun sibuk di kamar hotel bersama dua wanita pesanan Hansol –memproduksi keringat bersama– malah senyum berlesung pipit itu yang Jaehyun lihat di wajah wanita-wanita itu. Dan itu cukup membuat Jaehyun meneriakkan namanya saat klimaks.

Malam itu juga Jaehyun seperti orang kesetanan, sampai-sampai Jaehyun sedikit merasa kasihan dengan wanita panggilan itu, yang harus melayani Jaehyun berkali-kali di atas ranjang. Jaehyun seperti gelap mata, karena malam itu Jaehyun benar-benar membayangkan tubuh mungilnya yang ada di bawah Jaehyun, bibir tipisnya yang Jaehyun cumbu, erangannya saat Jaehyun menjamah mesra seluruh tubunya. Ahhhh… Doyoungie.

Jaehyun gelisah dan tampak murung. Mungkin itulah yang ditangkap Yuta di wajah Jaehyun siang ini saat mereka berencana makan siang bersama di restoran Jepang milik keluarga Jaehyun di salah satu mall besar di kawasan pusat Seoul.

"Ada masalah di kantor?" Yuta menepuk bahu Jaehyun pelan.

Jaehyun tetap terdiam.

"Hyun-ah, kau ada masalah?"

Yuta kembali mencecar Jaehyun dengan pertanyaan menyelidiknya. Di antara ketiga sahabat Jaehyun yang lain, Yuta memang yang paling peka terhadap perubahan suasana hati Jaehyun. Hal yang paling Jaehyun sukai darinya adalah dia yang tidak pernah menertawakan apa pun kondisi Jaehyun. Tidak pernah memaksakan Jaehyun bercerita kalau Jaehyun tidak ingin.

"Mwo? Ah, tidak-tidak. Hanya teringat sesuatu saja." Jaehyun bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Yuta.

Haruskah Jaehyun menjelaskan dirinya kenapa sampai bisa seperti ini. Bahkan Jaehyun sendiri bingung dengan apa yang sedang dirasakannya. Apa Jaehyun harus bercerita kalau dirinya terobsesi pada pemuda manis yang bahkan baru genap berumur 18 tahun? Benar-benar menjengkelkan.

Kemudian langkah Jaehyun terhenti tiba-tiba di pintu restoran ini. Lucky me. Di sana Jaehyun melihat kelincinya menuju sebuah tempat di sudut kiri restoran. Dia memakai jeans selutut berwarna gelap, kemeja merah kotak-kotak tidak dikancingkan dengan dalaman t-shirt putihnya tampak pas sekali membalut tubuh mungilnya, dia memakai sneakers merah dengan kaus kaki putih melekat di kaki mulusnya dan sebuah tas punggung kecil menggantung di punggungnya. Cantik dan manis.

Astagaaa… Aku benar-benar belok haluan sekarang.

"Kenapa, Hyun -ah?" Yuta kagat karena Jaehyun tiba-tiba berhenti mendadak.

"Bukan kenapa tetapi siapa, hyung," pandangan Jaehyun tetep terarah pada Doyoung.

"Pemuda manis itu?" tanyanya mengangkat alis setelah mengikuti arah mata Jaehyun yang hanya diangguki lemah oleh yang bersangkutan.

Kelinci mungilku, ahhh Doyoungie.

"Ayo kita bergabung dengan mereka saja." Tanpa ragu Jaehyun menyeret Yuta menuju meja Doyoung dan mmm Johnny?

"Heh.. Hyun -ah jangan! Tidak enak mengganggu mereka berdua."

Yuta masih meneriakkan protesnya saat mereka tiba di meja Doyoung dan Johnny.

"Heii, Johnny kebetulan kita bertemu di sini, bagaimana kabarmu?" Jaehyun menepuk bahu Johnny pelan. Tidak mempedulikan gerutuan Yuta yang sepertinya sangat keberatan.

"Baik, hyung. Hyung juga makan di sini? Doyoung, kau masih ingat kan dengan-,"

"Jaehyun ahjussi? Pacarnya Kristal noona, kan?" sahut Doyoung tanpa ragu.

Seketika Jaehyun dengar suara batuk Yuta di sampingnya. Jaehyun tahu Yuta hanya berpura-pura terbatuk untuk menyamarkan tawanya yang hampir meledak gara-gara panggilan 'ahjussi' dari Doyoung untuk Jaehyun. Sialan Doyoung dan mulut lancangnya, rasanya aku perlu melajaran keras pada mulut lancangnya itu.

"Oh iya, ini teman hyung, Yuta. Yuta hyung, ini Johnny adiknya Kristal, dan ini Doyoung sepupunya Johnny. Nah, berhubung kita semua sudah berkumpul di sini, kami bergabung saja dengan kalian, ya," kata Jaehyun tanpa memperdulikan tatapan protes Yuta dan wajah Johnny yang tampak keberatan serta lirikan Doyoung yang tampaknya tidak setuju.

Masa bodoh dengan kesopanan. Jaehyun benar-benar digantung penasaran dua minggu ini. Dan ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan sama sekali.

Akhirnya mereka berempat pun bergabung untuk makan siang bersama. Jaehyun duduk di samping Johnny dan memaksa Yuta duduk di samping Doyoung. Bukan apa-apa, Jaehyun hanya ingin puas memandang wajah manis kurang ajar di depannya kini. Lagi pula Jaehyun yakin tidak akan tahan lama-lama kalau dia nekat duduk di samping Doyoung. Tangan Jaehyun yang terkenal aktif dan terampil itu bisa-bisa merusak makan siang mereka dengan jeritan Doyoung.

Mereka memesan set teppanyaki, sushi, sashimi, dan beberapa side order. Jaehyun tahu selera makan Doyoung begitu besar sehingga tidak tanggung-tanggung dalam memesan menu. Lagi pula rasanya Doyoung selalu kelaparan apabila menatapnya terlalu lama. Benar saja, dia tidak tampak jaim makan di depan mereka bertiga. Entah mengapa itu malah membuat Jaehyun semakin tertarik kepadanya.

Tetapi yang semakin membuat Jaehyun sakit dan tersiksa di sini adalah saat Jaehyun tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari cara dia makan. Mulutnya yang menggembung karena penuh, bagaimana kalau mulut itu penuh karena sesuatu yang lain? Cara dia menjilat jarinya, bagaimana kalau lidah itu menjilati kulitku? Bibirnya yang sesekali digigitinya, bagaimana kalau aku saja yang gigit, Doyoungie. Arghhh..

"Kalian berdua dari mana saja tadi, kebetulan sekali kita bisa bertemu disini," suara Yuta menyadarkan Jaehyun dari lamunan liar. Waduh, sudah berapa lama aku tidak ikut gabung dengan obrolan mereka?

"Dari toko buku, hyung. Rencananya setelah ini ingin pergi menonton kalau tidak kesorean."

Johnny terlihat lancar berbicara dengan Yuta, sedangkan Doyoung seperti biasa asyik dengan acara makannya. Jaehyun heran, ke mana perginya semua makanan yang dikonsumsinya. Makannya banyak sekali, tetapi badannya tetap bagus. Astaga, kalau lama-lama begini bisa-bisa Jaehyun berpikir mesum lagi tentang Doyoung.

"Jadi kapan kau mulai masuk kuliah Johnny, pilihanmu masih di Yonsei University bukan?" Tanya Jaehyun berbasa-basi sambil menyesap ocha di cawan keramik cantik yang sangat mungil untuk ukuran tangan Jaehyun.

"Mulai awal Agustus, hyung. Iya di Yonsei University, ingin ke mana lagi. Appa kan donator di situ, appa ingin aku tidak ke mana-mana. Doyoung yang lebih keren, hyung. Dia akan melanjutkan ke Wellington, mendapat beasiswa di Victoria University."

Kalimat terakhir Johnny sukses menghentikan ocha di tenggorokan Jaehyun. Setelah bersusah payah menelan cairan tawar yang kini terasa seperti duri di lehernya, Jaehyun pusatkan seluruh perhatiannya pada Doyoung yang sedang menelan potongan terakhir sushinya.

"Kau k-ke New Zealand, Doyoung." Suara Jaehyun tidak lebih keras dari bisikan. Yuta langsung menatapnya waspada. Dan Doyoung yang sedari tadi asyik menekuni sushi di depannya mengangkat wajah dan langsung menatap mata Jaehyun.

"Ne, ahjussi, kenapa? Ada yang salah?"

Jaehyun menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan.

Aku harus cepat.

.

.

TBC

Chap 4 update.. yuhuuuyy

Ada yang nungguin nih ff? sorry ya lama.. maklum aku lagi dilanda malas ..

Chap depan masih flashback lanjutan chap 4. Dah ketahuan bukan si jaehyun mesum bngt di chap ini..

Makasih yang dah review di chap kemarin. Kalian tau gg? Review kalian tuh setiap hari aku baca terus.. gg tau kenapa aku suka senyum2 sendiri baca review kalian.. di chap ini review lagi dong.. jangan Cuma lewat aja.. review pendek gpp, aku hargain kok..

QnA:

Hobi hyung: jangan kesel dong, nanti chap selanjutnya ada penjelasannya kok kenapa keluarga doyoung menerima jaehyun. Review lagi yaa…

dhantieee: tenang aja doyoung gg benci hyoje kok. Review lagi yaa…

tenbreeze: jangan nangis dongg. Sini-sini aku puk puk..hihihi.. review lagi yaa…

lutfiah24k: doyoung suka hyoje kok. Review lagi yaa…

Min Milly: mereka gg bakalan nyakiti hyoje kok. Review lagi yaa…

fad24: bagaimana bisa dy n jh punya anak dah ketebakkan dichap ini. Review lagi yaa…

no.006121: makasih dah ingetin aku usahain, maaf nya kalo feelnya kurang dapet. Review lagi yaa…

Guest: makasih dah penasaran. Review lagi yaa…

mimi: iya jaehyun taeyong mang 11 12, cuma disini taeyong dibesarkan di keluarga yang melimpahkan kasih sayang pada anak-anaknya hingga taeyong lumayan dewasa yaa. Aku juga tg . review lagi yaa…

.7: aduduh jangan nangis dong,, nanti siapa yang nenangin. Ini dah lanjut. Review lagi yaa…

dah itu aja.. bye bye.. sampai jumpa di chap lanjutnya..

Sign

Minnie

REVIEW?