Broken-Winged Angel
A Chanbaek Fanfiction
MPreg. BoysLove. YAOI. Shounen-ai.
Rate : M
Main Cast : Byun Baekhyun x Park Chanyeol
The Other Casts : OC. Go find yourself!
— — —
Dokter pribadinya datang dengan cepat dan memberi sedikit pertolongan pada Baekhyun setelah sempat memeriksanya. Ia pikir itu akan cukup untuk membantu memulihkan kondisi suaminya, tapi kemudian dokter berkata bahwa mereka harus segera membawa Baekhyun ke rumah sakit. Chanyeol menyetujuinya dengan cepat karena melihat aliran darah pada paha dalam Baekhyun yang semakin mengerikan.
Lelaki mungil itu terlalu lama ditinggalkan dalam kondisi kritisnya, jadi dokter khawatir akan kesehatan lelaki itu dan bayi dalam kandungannya yang terlambat mendapat pertolongan.
Jadilah mereka menghubungi ambulance untuk membawa lelaki itu, sedangkan mobil Chanyeol mengikuti di belakangnya dengan Jiwon pada kursi samping. Anak itu tidak tahu apa pun, tapi akhirnya terisak kecil saat merasakan aura menegangkan melingkupinya. Yang ia tahu adalah bahwa Papa-nya dibawa oleh mobil putih yang mengeluarkan suara aungan kencang hingga membuatnya menangis ketakutan.
Padahal jika dipikir lagi, Chanyeol bisa saja mengantar ke rumah sakit dengan menggunakan mobilnya, tapi sepertinya mereka terlalu khawatir akan kondisi lelaki yang tengah hamil itu.
Chanyeol tak mengucapkan apa pun di perjalanan dan berpikir bahwa ia tidak memiliki waktu hanya untuk sekedar menenangkan anaknya.
Tim medis segera mendorong ranjang beroda yang ditempati suaminya setelah mereka tiba di rumah sakit. Chanyeol hanya mengikuti karena ada Jiwon dalam gendongannya. Anak itu masih menangis dalam diam di atas bahunya. Sedangkan punggung kecilnya ia tepuk pelan bermaksud menenangkan.
Padahal ia sendiri tahu, bahwa dirinyalah yang paling merasa tidak tenang, gelisah, takut, dan segala macam pikiran lain yang menghantuinya secara bersamaan. Dia hanya bisa duduk diam di depan UGD sementara anaknya telah tidur karena kelelahan.
Chanyeol menunggu lama sekali, sampai rasanya ingin mendobrak pintu di depannya yang tak kunjung terbuka. Kepalanya menunduk dalam dan air mata jatuh setelah sempat ditahannya. Chanyeol menangis dalam diam karena terlalu kalut tanpa bisa melakukan apa pun.
Ia bersumpah ini akan menjadi terakhir kalinya ia membiarkan Baekhyunnya kesakitan tanpa ada dirinya di sisinya.
[***]
Chanyeol membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan rawat Baekhyun. Di sofa dapat dilihatnya anaknya tengah tidur meringkuk dalam posisi yang pasti akan membuatnya pegal. Pria itu menghela nafas dan memindahkan Jiwon pada pangkuannya, sementara matanya tak lepas dari lelaki yang tengah terbaring di ranjang dengan wajah sangat pucat dan hidung yang dimasuki selang pernafasan.
Ia baru saja kembali setelah bertemu dengan dokter yang memeriksa Baekhyun.
Beliau berkata bahwa Baekhyun mengalami kelelahan dan dehidrasi yang parah. Disamping itu, tekanan darahnya juga rendah karena kurangnya istirahat serta pikiran yang berlebih. Yang terparah adalah bahwa lelaki itu hampir saja mengalami keguguran setelah pendarahan yang dialaminya baru saja. Untunglah mereka masih memilikinya, meski sekarang dalam kondisi yang sangat lemah.
Mendengar semua penjelasan itu membuat Chanyeol tak hentinya, lagi dan lagi, menyalahkan dirinya. Tapi ia sadar bahwa meminta pengampunan pada suaminya itu saja tidak akan cukup untuk memulihkan keadaan mereka dalam sekejap. Jadilah ia bertekad untuk menjaga Baekhyun dengan penuh perhatian dan menebus semua waktu istirahat lelaki itu yang terlewatkan karena kesalahannya.
Untuk itu ia telah menelepon Sehun dan meminta bantuan pada pria itu untuk menjaga Jiwon sementara waktu. Setidaknya sampai keadaan Baekhyun membaik. Lagipula rumah sakit sangat tidak baik untuk kesehatan anak itu karena banyak virus yang tersebar dimana-mana.
Luhan datang tak lama setelahnya karena suaminya tengah ada rapat penting.
"Terimakasih, Lu-ge. Maaf karena lagi-lagi merepotkanmu—"
Luhan memotongnya dengan kesal, "Hei, berhentilah bersikap seperti itu! Kau ini tak ada bedanya dengan Baekie, ya. Ingat, kalian adalah adikku jadi janganlah sungkan untuk meminta bantuanku. Aku tidak merasa keberatan sama sekali."
Mendengar kalimat itu membuat Chanyeol tersenyum lemah. "Ya, terimakasih, hyung."
"Yasudah, aku pulang dulu, oke. Maaf tidak bisa lama-lama disini karena aku meninggalkan Haowen sendirian di rumah. Jagalah Baekie dengan baik, Chanyeol!" Suaranya menjadi tegas di akhir kalimat. Bagaimana pun ia merasa marah karena pria itu telah menyebabkan adik kesayangannya seperti ini. Tapi di samping itu, Luhan tahu alasan di balik tindakan Chanyeol jadi ia tak ingin terlalu menekan pria itu.
"Pasti, hyung."
Dan balasan Chanyeol menjadi penutup percakapan mereka sore hari itu.
Luhan pergi dengan Jiwon yang masih tertidur dalam gendongannya.
Setelah kepergian mereka, Chanyeol memutuskan untuk mengambil kursi dan duduk di samping kanan ranjang Baekhyun. Tangannya yang hangat menggenggam tangan lain yang terasa begitu dingin dan rapuh dalam genggamannya. Diusapnya bagian itu dengan sangat halus, seolah jika sedikit lebih kasar saja akan membuatnya hancur dalam sekejap.
Pandangannya ia alihkan pada kaki Baekhyun yang masih terlihat bengkak pada sisi kanan. Luhan berkata jika lelaki itu terkilir saat sedang mengepel lantai kamar Jiwon.
Chanyeol berjalan mendekat pada ujung ranjang dan menyentuh bagian itu dengan lembut. Ia memijitnya pelan dengan hati yang menggumamkan kata maaf. Dan setelah beberapa menit terlewatkan, pria itu kembali duduk pada tempatnya dan menghela nafas lelah.
Chanyeol sempat menelepon sekretarisnya tadi dan menyerahkan seluruh pekerjaan pada kepercayaannya. Perusahaan memang sedang ada masalah, tapi pegawainya itu yang menawarkan dirinya sendiri dan berkata bahwa ia hanya perlu menjaga suaminya saja. Chanyeol sangat berterimakasih dengan bentuk perhatian itu.
Dan sekretarisnya memang benar. Tak seharusnya ia memikirkan perusahaan sementara suaminya tengah berjuang demi calon buah hati mereka. Terlebih, ia belum meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada lelaki yang tengah terlelap itu.
Dokter berkata mereka memberi Baekhyun obat tidur dengan dosis yang sedikit lebih tinggi agar lelaki hamil itu bisa beristirahat dengan cukup. Chanyeol sempat khawatir akan hal itu, tapi dokter meyakinkannya bahwa mereka telah memberikan dosis yang pas dan tidak akan membahayakan keduanya.
Mengingat hal itu, membuat Chanyeol sadar bahwa suaminya itu pasti tidak akan bangun malam ini. Hal itulah yang menggerakkan tubuh tingginya untuk segera pulang ke rumah demi mengambil keperluan yang ia butuhkaan selama di rumah sakit. Omong-omong juga, dia belum mandi dari kemarin membuatnya mengernyit dalam saat mencoba membaui tubuhnya sendiri.
"Ugh, bau sekali. Pasti Baekhyun akan kembali pingsan jika mencium bau tubuhk"
Chanyeol juga menyempatkan diri untuk memakan sesuatu juga meminum kopi agar ia bisa terjaga malam ini. Siapa tahu suaminya itu terbangun pada tengah malam.
[***]
Tapi nyatanya prediksi Chanyeol salah. Baekhyun baru terbangun pada pukul 9 pagi. Lelaki itu bangun dalam keadaan yang linglung dan bingung.
Hal terakhir yang diingatnya adalah ia yang kelelahan dan tertidur siang.
Dia bahkan tidak sadar bahwa yang terjadi kemarin adalah pingsan.
Kemudian lelaki cantik itu sadar bahwa ia ada di rumah sakit ketika melihat lengannya yang terpasang infus dan di lubang hidungnya tertempel selang pernafasan.
Pandangannya ia edarkan lebih jauh lagi untuk menemukan sosok pria tinggi yang sedang meringkuk tidak nyaman di sofa. Kaki pria itu bahkan sampai melewati ujung sofa saking panjangnya. Pantas saja posisi tidurnya terlihat menyeramkan hingga mampu membuat Baekhyun meringis kecil.
"Dasar tiang listrik." Umpatnya disertai kikikan kecil.
Merasa terganggu, akhirnya ia memutuskan untuk melepas selang pernafasannya dan menaruhnya di atas kepala. Baekhyun sudah merasa tubuhnya membaik, hanya saja lemas masih saja melingkupi. Selain itu ia juga merasa perasaannya sangat baik, terlebih setelah melihat suami tercintanya yang sangat dirindukannya.
Bahkan mereka hanya tidak bertemu selama 1 hari tapi rasanya Baekhyun sudah sangat ingin memeluk pria itu dan menggigit telinganya yang lebar. Ia juga merasakan sensasi ingin mencubiti lengan yang terlihat kekar itu, termasuk memukul dada yang dapat dilihatnya sangat kokoh disana.
Membayangkan hal itu tanpa sadar membuat Baekhyun hampir meneteskan air liurnya. Jadilah ia juga membuka mulutnya secara otomatis dan tanpa aba-aba memanggil, "Chanyeol!"
Oh, sepertinya bukan memanggil, tapi berteriak.
Membuatnya kaget sendiri karena suaranya yang keluar seolah didorong oleh energi yang sangat kuat, padahal ia sendiri tahu bahwa kondisi tubuhnya masih sangat lemah.
"Hng—" Suara tadi mengantarkan Chanyeol pada sentakan tubuhnya lalu terbukanya mata miliknya dengan pandangan linglung.
"Baekhyun?" Ia menggumam dengan tangan kanan mengucek kelopak matanya yang masih terasa berat. Setelah itu tubuhnya ia paksa untuk duduk dan menoleh pada ranjang yang di atasnya terdapat suami kecilnya. Lelaki itu terlihat masih tertidur.
Hanya saja Chanyeol luput menyadari jika selang pernafasan disana tak ada pada tempatnya.
Pria itu semakin linglung melihat keadaan yang sunyi. Ia yakin dia tadi terbangun karena mendengar suara teriakan Baekhyun. Tapi, setelah dipikir, mana mungkin lelaki itu mampu meneriakinya sementara dia masih tertidur dengan lelap.
Chanyeol mengusap wajahnya dengan lelah. Hingga suara kikikan membuatnya menoleh ke sumber suara.
"Kekeke~ Selamat pagi, Chanyeolie~" Juga sapaan hangat yang sukses membuatnya melongo di tempat.
"Baekhyunie?!" Tubuh tegap itu berdiri dengan cepat dan berlari kecil ke arah satu-satunya ranjang di ruangan itu.
"Kau sudah bangun. Syukurlah~" Chanyeol berucap dengan penuh kelegaan. Segera diciumnya kening itu dengan penuh kasih sayang dalam durasi yang sangat lama.
Lalu dilepaskannya setelah mendengar suara rengekan dari yang diciumnya.
Ditatapnya wajah yang masih pucat itu dengan pandangan seksama. Lelaki hamil itu balas menatapnya dengan tatapan berbinar membuat seluruh ketakutannya runtuh seketika. Baekhyun terlihat sangat sehat seolah tak pernah mengalami pendarahan sebelumnya.
"Kenapa matamu merah, Yeolie? Apa kau tidak tidur semalam?" Justru si kecil yang menjadi sangat khawatir melihat raut kusut suaminya. Tangannya terangkat pelan untuk menyentuh pipi Chanyeol dan mengelusnya dengan tatapan khawatir yang terpancar pada matanya.
"Aku baru tidur jam 5 tadi karena terlalu mengkhawatirkanmu…" Chanyeol tersenyum kecil pada kekhawatiran itu dan tangannya menggenggam tangan lain yang tengah membelai pipinya dengan penuh perhatian.
Hati keduanya menghangat dengan pancaran rindu yang tersirat jelas pada mata yang saling bertaut itu.
"Maaf karena membangunkanmu…" Baekhyun berucap lirih dengan penuh sesal.
"Tak apa. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah membuatmu seperti ini…" Pria itu membalas tak kalah lirih dengan kepala yang ia tundukkan demi menghindari tatapan lainnya. Tatapan itu hanya akan membuatnya semakin merasa bersalah.
Mengingat kesalahannya, membuat setetes air mata lolos tanpa bisa ia cegah.
Baekhyun melihatnya, ketika air itu jatuh tepat di atas lengannya. Hatinya berdenyut ngilu saat tahu siapa pemilik kesedihan itu.
"Hei, ada apa…" Dia hanya bisa bertanya dalam gumaman yang menyiratkan kebingungan.
Bahkan dirinya lupa bagaimana ia bisa terbangun di ruang rawat rumah sakit, dan kini suaminya berkata maaf hingga menangis dalam diam seperti ini.
Chanyeol merutuki dirinya yang kembali melemah. Dia hanya terlalu bersyukur bahwa suami kesayangannya terbangun dengan raut cerah seolah tidak sedang sakit. Sementara sisi hatinya yang lain memojokkannya bahwa meskipun seperti itu, tetap saja Baekhyun hampir kehilangan buah hati mereka. Perasaannya berubah kacau hingga setetes yang tak sempat ditahannya menjatuhkan banyak tetes lain yang mengalir tanpa jeda.
Dia menyadari keadaan perasaannya yang berubah kacau belakangan ini. Perusahaan sedang dalam kondisi kritis sehingga mempengaruhi dirinya yang berubah emosional. Letak kesalahannya adalah ketika semua itu berimbas pada suami cantiknya yang bahkan tidak tahu apa pun.
Intinya ia sangat menyesal hingga rasanya ingin berlutut di bawah kaki lelaki mungil yang sangat dicintainya itu.
Sedangkan Baekhyun semakin panik ketika tangisan Chanyeol berubah menjadi kencang. Tubuhnya yang masih lemah ia paksa untuk terduduk. Hingga perutnya yang terasa sangat sakit membuatnya meringis tanpa sadar. Ringisan itu akhirnya mampu menarik atensi yang lebih tinggi sehingga tatapan mereka bertemu dalam kekhawatiran yang sama.
Tanpa menyisakan detik, tubuh keduanya bertemu dalam pelukan yang menghantarkan kerinduan.
Baekhyun tiba-tiba ingat dengan marahnya Chanyeol atas sikapnya kemarin, sehingga matanya juga ikut meneteskan air mata walau hanya sedikit.
"Maafkan sikapku yang kemarin, Chanyeol… Aku memang keterlaluan sehingga kau pantas untuk marah. Hanya saja, jangan tinggalkan aku lagi, kumohon." Baekhyun mengeratkan pelukan mereka karena perasaannya yang diliputi oleh rasa ketakutan akan kehilangan.
"Jangan lagi. Cukup kemarin saja kau bersikap acuh padaku sehingga tidak pulang ke rumah. Aku tahu kau mungkin muak denganku, tapi—" Ucapan panik itu dipotong oleh Chanyeol dengan cepat.
"Hei, apa maksudmu, hm? Berhenti meminta maaf, karena aku yang bersalah disini."
"Tidak. Semua salahku, aku… Aku—"
"Ssstt, berhenti menyalahkan dirimu." Chanyeol memutuskan jalinan mereka dengan pelan. Tangannya menangkup pipi yang basah itu dalam gerakan penuh kehati-hatian. "Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan pernah sekali pun terfikirkan untuk meninggalkanmu, oke?" Kalimatnya terucap dengan menunggu respon dari sang lawan bicara.
"Eung!" Anggukan lucu itu menjadi simbol untuk Chanyeol melanjutkan kalimatnya.
"Dan untuk yang kemarin, aku sangat minta maaf. Aku punya penjelasan untuk itu semua. Aku sangat menyesal telah membuat keadaanmu jadi seperti ini…"
"Tapi aku seperti ini bukan—"
"Apapun itu, semua salahku. Jadi, maukah kau memaafkan suami mu yang penuh kesalahan ini?"
"Eung!" Baekhyun mengangguk patuh dan lupa bahwa sebelumnya ia berniat mengeluarkan bantahan.
Chanyeol tersenyum lebar melihat tingkah menggemaskan suaminya yang cantik. Tangannya yang tadi menangkup, kini memberikan cubitan-cubitan kecil pada pipi yang terlihat tembam itu.
"Ugh, kenapa pipimu semakin berisi, hm? Menggemaskan sekali!" Jemarinya masih saja melangsungkan aksinya hingga pipi itu terlihat kemerahan saat ini.
"Hei, kau baru saja mengataiku gendut!" Baekhyun balas dengan memekik. Tangannya melepas paksa cubitan itu dan kini bibirnya merengut kesal.
"Kau gendut pun aku masih cinta~"
"Yah, Chanyeol!"
"Apa, sayang~~"
"Tarik kata-katamu! Aku tidak gendut!"
"Tidak gendut, ya. Lalu apa ini, huh? Bukankah ini lemak?" Tangannya meraba pelan tempat yang dimaksud, pinggul Baekhyun. Membuat yang dipegang berjengit karena geli.
"Dasar telinga lebar! Itu adalah baby! Beraninya kau menyamakannya dengan lemak!"
"Eoh, benarkah~"
"Baby pasti sangat marah karena ayahnya mengatainya! Pantas saja ia memberiku energi berlebih…"
Chanyeol mengerjap bingung. "Hng? Energi apa?"
"Energi untuk MENGGIGIT TELINGAMU!"
KRIUK
"Yaah—Aw, sakit, sayang, ampun! Baby tolong maafkan Daddy—Aduuh!"
Dan akhirnya Baekhyun memakan sarapannya dengan suara kunyahan kerupuk pagi itu.
Pertengkaran mereka itu terpaksa selesai setelah seorang suster masuk dan mengantarkan sarapan pagi Baekhyun yang sesungguhnya.
Mereka kembali pada tempatnya masing-masing dengan wajah secerah matahari yang bersinar—seolah tidak pernah beradu mulut hingga menimbulkan pertumpahan darah, keringat dan air mata. (?)
Chanyeol menyuapi Baekhyun yang makan dengan lahap. Lalu setelahnya ia pamit untuk juga membeli sarapan karena perutnya yang meronta minta diisi setelah melihat makanan suaminya.
Pria itu kembali tak lama kemudian dan mendapati seorang dokter yang terlihat telah selesai memeriksa keadaan Baekhyun. Mereka menyempatkan diri berbicara di depan ruang rawat Baekhyun.
"Kondisi Tuan Baekhyun membaik dengan cepat. Tapi dia perlu menginap untuk beberapa hari agar memaksimalkan waktu istirahatnya. Juga untuk memulihkan tenaganya setelah pendarahan kecil kemarin. Anda hanya perlu menjaganya dengan baik dan selalu mempertahankan kondisi hatinya dalam keadaan yang baik karena itu akan membantu mempercepat masa pemulihannya."
Ujaran itu menghantarkan Chanyeol dalam rasa lega.
"Baik, dok, terimakasih banyak."
Mereka melempar senyum dan kemudian terpisah ketika melangkah pada arah yang berlawanan. Chanyeol masuk ke dalam ruang rawat Baekhyun dan mendapati suaminya tengah mendudukkan dirinya dengan raut bosan yang terlihat jelas.
"Chanyeolie!" Suaranya memekik antusias menyambut kedatangannya.
"Kau lama sekali." Bibir tipis itu dapat dilihatnya mencebik kecil membuatnya terkekeh pelan.
"Maaf, sayang."
"Eung!" Ia menyahut permintaan maaf dari Chanyeol dengan cepat.
"Omong-omong, kemarin kenapa tidak membalas pesanku dan tidak juga pulang ke rumah?" Baekhyun bertanya hati-hati.
"Untuk yang pertama, aku ingin memberi tahu satu hal padamu. Tapi aku tidak ingin kau menjadi khawatir, jadi—"
"Tidak, aku janji tidak akan memikirkannya secara berlebih. Jadi, katakan." Potongnya cepat.
"Perusahaan sedang kacau, Baek. Karyawanku ada yang mencuri uang perusahaan sehingga para investor mendesakku untuk segera memperbaiki keadaan." Chanyeol menghela nafas setelahnya.
"Jadi itulah kenapa wajahmu terlihat sangat lelah dan kusut belakangan ini?" Baekhyun bertanya penuh kekhawatiran.
"Apa terlihat jelas?" Pria itu justru terkekeh sedih menanggapi kekhawatirannya.
"Maaf, Chanyeol. Aku tak tahu menahu akan hal itu dan aku justru malah menambah bebanmu, maaf—"
"Hei, tenanglah. Ini sama sekali bukan kesalahanmu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Justru aku yang perlu meminta maaf karena kau begitu perhatian sehingga aku tidak tega menyampaikan hal ini padamu."
"Maafkan aku atas sikapku waktu itu. Aku berubah emosional akhir-akhir ini." Lanjutnya pelan.
Baekhyun hanya mengangguk dan tak berniat memotong ucapan itu.
"Maaf juga karena tidak membalas pesanmu waktu itu. Aku sudah membacanya, lalu salah seorang investor menghubungi jadi pikiranku teralihkan ke arah perusahaan dan aku sepenuhnya lupa bahwa kau baru saja menghubungiku."
Lagi-lagi anggukan menjadi balasan, membuat sinyal untuk pria itu melanjutkan ucapannya.
"Dan untuk malam harinya, aku lembur untuk menutupi segala kerugian yang ditimbulkan. Aku juga tengah dalam usaha mencari orang jahat itu. Kemudian aku baru pulang pada siang hari karena teringat untuk menjemput Jiwon. Dan ketika aku masuk ke kamar, kau sudah pingsan dengan darah yang mengalir ke kasur. Membuatku sangat panik dan begitu merasa bersalah."
Chanyeol menunduk penuh penyesalan.
"Maafkan aku…"
Lirihan itu membuat Baekhyun menghela nafas. "Aku juga minta maaf karena tidak ada ketika kau kesusahan…"
Akhirnya dua pasang mata itu bertemu dengan jalinan yang menyiratkan rasa sesal.
"Dengan hal ini, mari kita buat kesepakatan untuk selalu terbuka satu sama lain, hm?" Baekhyun berucap penuh kelembutan hingga membuat dada Chanyeol membuncah oleh rasa bersyukur. Bersyukur karena telah dianugerahi seorang malaikat dalam hidupnya.
"Dan berjanjilah untuk selalu mengutamakan kesehatanmu, oke?" Chanyeol membalas dengan seulas senyum di bibirnya.
"Aku tidak bisa meninggalkan kewajibanku—"
"Tapi tidak dengan porsi yang berlebihan, Baekhyun. Lihatlah akibatnya sekarang, kau bahkan hampir kehilangan baby." Potongnya dengan nada tegas dan tak ingin dibantah.
Sementara lelaki mungil itu hanya menghela nafas pasrah. "Baiklah."
Lalu keduanya tersenyum bersamaan. Secara perlahan, belah bibir mereka bertemu dalam pagutan yang lembut. Saling bertaut seolah hidupnya bergantung pada tautan yang mereka ciptakan. Ciuman itu begitu murni, menghantarkan kelegaan masing-masing setelah satu permasalahan kecil yang mewarnai hari kemarin.
[The End of Chapter]
Gimana? Panjang gak, panjang gaak?~ Panjang dong^^ Sepanjang belalai canyol pokoknya~
Edisi manis spesial malam minggu. Sekali-kali. Biar gak selalu pahit malmingnya. Hiyaa!
/ Harusnya sih malming, tapi ngeditnya lama, jadinya baru update xD /
