5
Dan Matahari pun Tenggelam
Author : Cho Minseo
Cast : Kim Doyoung – Jung Jaehyun
Other cast :
Kim Minseok (Doyoung's eomma)
Kim Jongdae (Doyoung's appa)
Jung Yunho (Jaehyun's appa)
Jung (Kim) Jaejong (Jaehyun's eomma)
Kim (Lee) Taeyong
Kim Gongmyung
Lainnya kalian temukan aja sendiri
Summary :
Bertahun-tahun melupakannya, kenapa dia harus muncul kembali? Membawa sebuah kenangan menyakitkan, mimpi buruknya. Doyoung benci kisah hidupnya. Tetapi siapa tahu kisah hidup yang Doyoung benci akan berubah karena kemunculannya kembali.
Genre :
Hurt, Comfort, Romance, OOC banget (gak yakin ma genrenya)
Rate : M
Warning :
BxB, M-Preg, GS (Minseok, Jaejong), bahasa aneh, alur membingungkan, judul tidak sesuai dengan isinya. Aku sarankan membacanya perlahan aja, soalnya alurnya campuran. Kalo ada yg gak paham ma alurnya, kalian komen aja di review, kalo aku sempet nanti aku bales di chap berikutnya..
Chap ini aku slempitin adegan naena dikit, jadi yang masih dibawah umur mending diskip aja ya...
Big thanks to :
parapole, dhantieee, fad24, ddoyoung, mimi, Guest1, Guest2, nrlyukkeuri96, kimsx, Do-shi Launiel, exoL dan para sider.
Jaehyun melemparkan kunci Lexusnya pada Yuta, "hyung saja yang menyetir, aku takut nanti malah tidak konsentrasi."
Jaehyun membuka pintu mobil kasar dan segera menghempaskan tubuh penatnya di kursi penumpang. Kalau tadi ketika Jaehyun datang ke sini dengan rasa gelisah dan murung, sekarang Jaehyun pulang dengan rasa frustasi dan bingung tingkat tertinggi.
Doyoung ke Wellington? Sial! Jaehyun bahkan belum menyiapkan rencana apa pun untuk mendekatinya ketika kabar itu dia terima. Menurut Johnny tadi, Doyoung akan berangkat kira-kira tiga bulan lagi. Kenapa semua serba tidak terduga seperti ini? Sial! Mau tidak mau, aku harus menempuh jalan pintas untuk mendapatkan Doyoung.
Doyoung, bagaimanapun caranya kau harus menjadi milikku.
Dering ponsel Jaehyun membuat dirinya tersentak dari lamunannya.
"Ya!" ujar Jaehyun kasar tanpa melihat ID caller di teleponnya.
"Jaehyun oppa, oppa ke mana saja selama ini? Kenapa tidak pernah menelepon atau menemuiku lagi? Aku merindukanmu, ayo nanti malam kita pergi keluar bersama, oppa?" Jaehyun menjauhkan ponselnya melihat siapa yang sedang menghubunginya.
"Aku sibuk, kalau kau ingin pergi, pergi saja sendiri," kata Jaehyun ketus dan sedikit meninggi ketika mengetahui bahwa Kristal yang menghubunginya saat ini.
"Ahhh, oppaaa. Oppa kenapa sih? Sedang lelah, ya? Ingin aku pijat? Aku ke apartemen oppa sekarang ya. Aku jamin lelahnya langsung hilang, hihihi."
Kalau dulu kikikan suara Kristal membuat Jaehyun gemas, maka kali ini membuat Jaehyun kesal dan naik darah.
"Kristal tolong jangan menghubungiku sekarang, kau tahu? Itu sangat mengganggu."
Saat itu juga Jaehyun menutup panggilan tanpa basa-basi lagi pada Kristal dan mengubah ponselnya dalam mode silent.
Dengan mata tertutup Jaehyun memijat keningnya lelah.
"Jaehyun-ah, kau terlihat benar-benar kacau. Ingin ke tempatku, kita minum dulu?" Suara itu membuat Jaehyun berpaling pada makhluk di sampingnya. Jaehyun sampai lupa kalau dia sekarang sedang bersama Yuta dan tersadar bahwa mereka sedang melaju kencang di jalan tol.
"Tidak hyung, tetap ke rencana semula. Aku antar hyung pulang ke rumah lalu aku pulang sendiri. Orang tua hyung pasti marah kalau hyung pulang terlambat, kan?"
"Kau yakin, hyun -ah ? Hyung takut kau kenapa-kenapa di jalan kalau kau pulang sendiri menglihat kondisimu yang seperti ini. Ada apa? Masih memikirkan Doyoung? Kau tidak seriuskan ingin mengejar dia?" Yuta menatap Jaehyun tajam dari balik kemudi.
"Aku harus mendapatkan dia, hyung. Harus!"
Inilah Jaehyun, mungkin karena terbiasa sebagai anak tunggal yang selalu dimanjakan sedari kecil dan selalu mendapat apa pun yang dia inginkan. Sehingga membuatnya tidak bisa melepas apa pun yang dia incar. Dan Jaehyun benar-benar menginginkan Doyoung.
"Jung Jaehyun, kau benar-benar sudah gila. Astagaa.. dia bahkan masih anak-anak. Aku sangat yakin dia masih perjaka."
Jaehyun gila? Mungkin. Tetapi Jaehyun tidak peduli.
"Kali ini aku mohon kau tinggakan dia, cari saja yang lain. Aku mempunyai firasat yang tidak mengenakkan tentang ini Jaehyun-ah." Yuta menatap Jaehyun marah, tangannya masih di setir kemudi namun setengah badannya menghadap Jaehyun.
"Aku juga yakin hyung kalau ia masih perjaka. Aku ingin mengubah status perjakanya itu sebelum ia berangkat ke Wellington, kebetulan aku belum pernah meniduri pemuda perjaka. Lagian ya hyung, dia itu laki-laki jadi kalau pun aku tiduri dia juga tidak akan hamil," jawab Jaehyun muram.
"Astaga… kau memang sudah gila. Kenapa tidak dengan Kristal saja atau kau cari saja pemuda yang sudah dewasa. Apa yang membuatmu tertarik dengannya? Selama ini kau selalu bergaul dengan wanita yang matang dan sudah berpengalaman kan, kenapa sekarang tiba-tiba nafsu dengan pemuda di bawah umur?"
Yuta masih mencecar Jaehyun dengan pernyataan yang membuatnya bertambah pening. Kenapa jadi Yuta yang merasa kesal? Rasanya Jaehyun bisa melihat kepalanya berasap saat menceramahinya tadi. Pemikiran jahil itu membuat Jaehyun terkekeh geli.
"Tidak tahu, hyung. Dia terlihat polos, aku merasa bisa melihat apa yang ia pikirkan hanya dari melihat tatapan matanya, ia merupakan tipe orang yang melihat segala sesuatu hanya hitam dan putihnya saja. Polos, manis, cantik, dan tidak pernah berpura-pura, selalu berkata sesuai dari hatinya. Jika tidak menyukai sesuatu, dia tidak akan pernah mencoba menutupinya. Hyung lihat sendirikan tadi, betapa ia tidak menyukaiku." Pandangan Jaehyun menerawang pada jalanan di depan.
Mengingatnya membuat darah Jaehyun berdesir ringan. Doyoung-ah... you make me crazy.
"Itu karena dirinya masih remaja, Jaehyun-ah. Hah, sepertinya aku harus menjauhkan sepupuku darimu, Hyun-ah." Yuta menggerutu kesal pada Jaehyun.
"Tidak separah itu, hyung. Memang hyung pikir aku pedo apa? Entahlah hyung. Rasanya aku selalu merasa penasaran dengan semua hal yang berhubungan dengan Doyoung. Pernah tidak hyung merasakan terobsesi dengan sesuatu, dan tidak pernah bisa melepas itu sama sekali. Aku merasakan hal itu sekarang. Dan aku yakin beberapa tahun lagi dia akan tumbuh menjadi pemuda cantik dan seksi." Senyum Jaehyun mengembang membayangkan Doyoung polos –dalam arti sebenarnya.
"Kalau begitu kau tunggu saja beberapa tahun lagi. Kemungkinan nanti kau seperti ahjussi-ahjussi yang hobby pacaran dengan anak Junior High School."
"Apa perbedaannya? Mungkin beberapa bulan di Wellington nanti ia tidak sepolos waktu akan berangkat dari sini. Seperti tidak tahu pergaulan di sana saja. Aku ingin cepat-cepat karena tidak ingin kehilangan momen ini, hyung. Kalau memang ia sebentar lagi tidak perjaka lagi, sebaiknya aku perjakain(?) dahulu di sini," ujar Jaehyun enteng.
"Terserah kau saja, aku tidak akan ikut-ikut, resikonya kau tanggung sendiri." Wajah Yuta berkerut masam padanya.
"Tentu saja, aku memang tidak pernah berniat mengundang hyung ke ranjang bersamaku dan Doyoungie. Nanti malah hyung yang berbuat tidak-tidak terhadapku."
"Sialan." Yuta memukul lengan Jaehyun pelan sambil tersenyum lebar, "Oh iya, nanti malam kau datang kan ke bachelor partynya Yama?" Sambung Yuta ketika kami berbelok keluar jalan tol.
"Aku malas sebenarnya, kemungkinan acaranya hanya begitu-begitu saja, tidak berminat. By the way, kenapa adikmu itu tiba-tiba saja ingin menikah?" Fokus Jaehyun berpindah pada Yuta yang mendadak terkekeh geli.
"Pacarnya hamil, dia menuntut Yama untuk segera menikahinya sebelum perutnya membesar." Yuta menjelaskan ringan.
"What?! Hahahaha... bodoh sekali adikmu hyung, kenapa tidak digugurkan saja? Jaman sekarang sudah sangat wajar hyung. Hamil, digugurkan. Atau mungkin perempuan itu sengaja menjebak adikmu hyung?" Jaehyun masih saja terkekeh geli. Yama adalah adik bungsu Yuta, umurnya mungkin masih 24 tahun. Dan sekarang, ia akan menikah? Ya ampun, hidupnya terlalu menyedihkan.
"Sepertinya mereka saling mencintai." Yuta tersenyum tipis.
"Cinta, makan cinta tidak mungkin kenyang hyung. Masih muda ingin menikah." Jaehyun mencibir.
"Kau tahukan, adikku yang satu ini paling lurus diantara saudaraku yang lain, dia benar-benar berniat bertanggung jawab dengan perempuan itu."
"Lurus? Kalau dia benar-benar lurus, tidak mungkin dia menghamili anak orang. Tetapi jujur ya hyung, aku tidak pernah membayangkan untuk menghabiskan umurku hanya untuk hidup dengan orang yang kita nikahi lalu mempunyai anak, heh, rasanya terlalu wasting time kalau direalisasikan." Jaehyun bergidik memikirkan makhluk-makhluk mungil yang menyebalkan sedang berlarian dan melempar apa saja yang dilaluinya. Belum lagi perempuan dengan perut buncit yang suka marah-marah, euhh... betapa hidup penuh dengan penderitaan.
"Perempuan itu hidup untuk dinikmati, bukan untuk ditemani seumur hidup."
"Jadi kau tidak ada niatan untuk menikah?" Yuta menyengir lebar ke arah Jaehyun.
"Mungkin nanti, kalau aku sudah puas menikmati hidup. Atau nanti kalau umurku sudah 50 tahunan. Kalau sekarang, menjauh dengan yang namanya menikah."
Obrolan itu pun menutup perjumpaan mereka siang ini, karena mobil Jaehyun sudah memasuki wilayah tempat orang tua Yuta tinggal.
© New Story
Jaehyun melirik Rolex yang dengan angkuhnya melingkar di pergelangan tangannya. Hampir jam tujuh pagi, masih terlalu pagi.Apa yang harus dia lakukan sepagi ini di apartemennya? Jaehyun sedang tidak ingin tidur lagi. Bekerja di kantor? Malas, Jaehyun tidak ingin jika hidupnya hanya diperbudak oleh pekerjaannya.
Semalam akhirnya Jaehyun putuskan untuk datang ke pesta bujangan yang diselenggarakan Yama di bar Yuta. Namun bahkan para penari striptis itu tidak mampu menawarkan suasana hati Jaehyun yang kacau. Liukan tubuh-tubuh nyaris telanjang –yang akhirnya telanjang juga– dan tawa penonton malah semakin membuat kepala Jaehyun terasa ingin pecah. Jaehyun akhirnya bersembunyi di kantor Yuta dan mengalihkan rasa frustasinya pada cairan nikmat yang Jaehyun sebut alkohol. Sendirian, tanpa perempuan kali ini.
Dan pagi ini, setelah pulih dari hangover, Jaehyun larikan Lexusnya menyusuri jalanan kota kelahirannya yang masih tampak lengang. Entah angin apa yang menuntun Jaehyun membelokkan mobilnya ke arah taman kota yang bisa ia pastikan selalu ramai di minggu pagi. Jaehyun rasa dia membutuhkan pengalih perhatian sejenak. Ia masih ingat dulu ayah dan ibunya sering mengajaknya ke taman ini di hari minggu. Bahkan Jaehyun masih ingat ada kedai ramyun di dekat pohon besar di sisi barat taman, semua kursi dan meja yang diletakan di bawah ranting-ranting kokoh penuh dedaunan hijau membuat pelanggan betah karena keteduhannya. Dan karena itulah ayah dan ibu Jaehyun dulu sering mengajaknya memakan ramyun di kedai itu.
Jung Yunho dan Jung Jaejong memang sangat terkenal down to earth untuk ukuran pencetak uang di negara ini. Tidak jarang mereka bergaul bahkan makan di kedai-kedai pinggir jalan tanpa merasa takut dilihat oleh rekan-rekan bisnisnya dari kalangan atas. Lingkup pergaulan kedua orangtua Jaehyun memang beragam, ada yang dari kalangan high class, sampai pegawai biasa dekat dengan mereka. Itulah yang membuat Jaehyun heran. Bagaimana bisa orang sebaik mereka menjadi orangtuanya?
Kedai itulah yang menjadi tujuan utama Jaehyun pagi ini, bukannya Jaehyun lelaki sentimentil yang suka mengenang masa lalu. Tetapi entah kenapa rasanya menikmati semangkuk ramyun panas merupakan hal sempurna untuk mengawali hari ini.
Dengan tergesa Jaehyun langkahkan kaki panjangnya ke sisi barat taman ini. Sambil mengecek notifikasi di ponselnya. Astaga, 26 misscall dan 17 pesan, semua dari Kristal. Segera Jaehyun hapus semua tanpa melihat isinya. Perempuan satu ini benar-benar bebal dan menjengkelkan. Jaehyun rasa sudah saatnya ia mendepaknya daripada Jaehyun harus menghadapi rengekannya setiap hari.
BRUKKK
Saat akan menuju kedai, karena fokus Jaehyun masih pada ponselnya membuatnya menabrak seseorang. Sialnya, bubble tea yang sepertinya rasa cokelat menumpahi kemeja yang melekat di tubuhnya. Pandangan Jaehyun beralih pada sosok mungil yang terjatuh di depannya. Bisa Jaehyun lihat wadah bubble tea yang dibawanya tergeletak di tanah dan isinya tumpah semua. Dia –sosok mungil itu– tampak mengaduh, bangkit berdiri sambil menepuk-nepukkan tangan di celana pendeknya, berusaha menghilangkan kotoran yang melekat di sana. Jaehyun menelan ludahnya keras.
Ini namanya kebetulan yang sangat kebetulan. Tuhan pasti sedang berbaik hati padanya.
DOYOUNG
"Yak, kalau sedang berjalan, dilihat dong jalannya. Bukan ponsel saja yang dilihat!" sembur Doyoung ke arah Jaehyun.
Bisa Jaehyun lihat ekspresi terkejutnya saat menyadari Jaehyunlah yang sekarang berada di hadapannya. Bibirnya mengerut marah dan menatap Jaehyun tajam. Bukannya marah atau apa, Jaehyun malah merasa gemas terhadap kelinci manisnya. Rupanya kelinci manisnya ini telah selesai lari pagi, terlihat dari keringatnya yang mengalir menuruni leher putihnya dan menghilang di balik T-shirt V necknya. Astaga, aku nyaris mengerang. Jaehyun merasa ia bisa mendengar suara iblis yang tertawa amat dekat di daun telinganya.
"Bukannya kau sendiri yang menabrakku, bocah. Dan kau harus mengganti kerugian atas kejadian ini," kata Jaehyun sambil menunjuk kemeja birunya yang terkena minumannya dan membekas kecokelatan di kemejanya.
"Jangan memanggilku bocah, aku sudah besar. Tidakkah kau lihat tinggiku hampir setara denganmu ahjussi."
Oh, iya? Aku ingin membuktikannya di ranjang.
"Berapa yang harus aku bayar untuk menlaundrykannya?" Doyoung mengeluarkan dompetnya dan hendak mengeluarkan beberapa lembar won dari sana. Oh, tidak semudah itu kelinci manis dan bukan itu rencananya.
"Kau pikir kemeja ini cukup hanya dilaundry saja, keme–,"
"Berapa harganya?!" Doyoung melotot pada Jaehyun dan bibirnya membentuk garis tipis. O. O. Hati-hati mepermainkan bibirmu, manis. Kau bisa membangunkan singa yang lapar.
"Kau harus ikut aku ke apartemenku dan mencucinya dengan tangan. Kemeja ini sangat tak ternilai harganya."
"Apa? Kemeja seperti apa memangnya, sampai segitunya kau memperlakukannya. Lebih baik aku laundry saja. Cepat lepaskan kemejamu, ahjussi!" tampak kesal Doyoung merengut semakin dalam.
"Hei, kau pikir aku percaya pada jasa laundry? Kemeja ini diberikan oleh halmeoniku sewaktu beliau belum meninggal. Apa kau pikir bisa memanggil halmeoniku kemari kalau kemeja ini rusak?"
Okay, Jaehyun tidak sepenuhnya jujur, kemeja ini Jaehyun membelinya sendiri. Tetapi untuk bagian neneknya meninggal itu memang kenyataannya. Nenek Jaehyun meninggal ketika Jaehyun masih berumur empat bulan di perut ibunya. Jangan kalian bilang Jaehyun curang, ya, bukankah semuanya dihalalkan dalam perang? Dan ini adalah perang antara ego Jaehyun melawan ego kelinci manis ini.
Jaehyun melihat Doyoung terdiam dan tampak menimbang-nimbang sesuatu, "Sebaiknya aku cuci dirumahku saja, bagaimana?" Doyoung mengerutkan dahinya dan menggigit bibirnya.
Oh, demi pencipta ketampanan dan segala pesonaku. Bocah ini sungguh menggemaskan.
"Tidak bisa, kau ikut denganku sekarang. Kau pikir semua perempuan yang berada di sini tidak akan pingsan apa kalau melihatku bertelanjang dada seandainya kemeja ini kulepaskan sekarang!" Segera Jaehyun tarik lengan Doyoung ke arah mobilnya terparkir dan memaksanya masuk ke kursi penumpang. Tidak memberi sedikitpun ruang untuk Doyoung membantahnya.
Jaehyun ingin tertawa keras melihat Doyoung yang tampak kebingungan karena tiba-tiba saja dirinya sekarang sudah 'diculik' Jaehyun. Sepanjang perjalanan Doyoung tampak sedang berpikir keras.
Perjalanan mereka ke apartemen Jaehyun cukup singkat mengingat ini adalah minggu pagi, sehingga jalan tidak terlalu macet. Doyoung tampak gugup dan sedikit merasa takut saat Jaehyun menyeretnya ke gedung apartemen mewahnya di lantai lima sebuah komplek perkantoran elite di Seoul.
New Story
Dasar sombong, bisa-bisanya Doyong berurusan lagi dengan Jaehyun. Sial sekali Doyoung hari ini, mimpi apa semalam sehingga dirinya bisa bertemu dengan orang sok tampan tidak tahu diri ini. Demi apapun, Doyoung tidak pernah menyukai paman sombong ini. Dari pertama Jaehyun dibawa Kristal ke rumahnya, Doyoung sudah tidak menganggapnya orang sama sekali. Dari tatapannya saja terlihat melecehkan. Sering terlihat mulutnya mencibir, sepertinya Jaehyun tipe orang yang selalu memandang rendah orang lain. Dasar orang kaya sombong.
Seharusnya Doyoung sekarang sedang bersama Johnny, menemaninya lari pagi karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya. Oh, sepertinya Doyoung lupa mengirimnya pesan untuk menunggunya di tempat biasa mereka bertemu. Tetapi Doyoung hanya sebentar di sini, tidak mungkin kan mencuci baju sampai siang, apalagi hanya sebuah kemeja, 15 menitan juga sudah selesai. Atau sebaiknya aku telpon saja untuk menjemputku di sini?
"Yak, jangan melamun. Ini kemejanya, tetapi tunggu dulu, aku ingin memakai kamar mandinya dulu." Jaehyun menyerahkan kemejanya yang kotor pada Doyoung.
"Ne, ne, aku pasti mencucinya, tidak usah kasar begitu, dan jangan lama di kamar mandinya."
"Ini, sementara kau menungguku, minum ini dulu." Jaehyun menyodorkan segelas yang diduga Doyoung jus jeruk padanya.
Sebenarnya Doyoung merasa haus sekali apalagi minuman yang ingin diminumnya untuk menghilangkan hausnya setelah lelah berlari harus ia relakan tumpah begitu saja di tanah karena insiden tabrakkan tadi. Tetapi dirinya merasa gengsi jika harus meminta minuman pada orang sombong di hadapannya ini.
"Apa ini, ahjussi?"
"Jus jeruk." Benarkan dugaanku. Singkat, Jaehyun langsung meninggalkan Doyoung sendiri memasuki sebuah ruangan yang mungkin kamar atau kamar mandinya. Entahlah, Doyoung tidak tahu.
Benar-benar sombong. Tetapi ada baik hatinya sih, memberiku minuman selagi menunggunya selesai menggunakan kamar mandi. Doyoung mendudukan dirinya pada sofa putih yang menghadap ke arah televisi flat yang menempel di dinding. Kerena memang merasa sangat haus, segera saja Doyoung menegak isi gelas yang Jaehyun berikan padanya. Rasanya menyegarkan, memang enak kalau lelah meminum minuman dingin, huh, sayang sekali bubble teanya tadi tumpah. Setelah ini, aku juga akan minta ganti rugi. Enak saja dia menyuruh mencuci kemejanya, sementara aku juga dirugikan, minumanku tumpah sebelum aku meminumnya setetespun.
Doyoung meraih remote televisi dan mencari channel yang menarik sambil kembali meminum jus jeruknya.
"Kyaaa, ada EXO. Euh, Sehun hyung ganteng banget sih. Kapan aku punya pacar seperti Sehun hyung ya?" Doyoung teriak tidak jelas melihat acara musik yang menampilkan boyband favoritenya.
Eh, kenapa wajah dan badannya berasa hangat ya, apa dirinya terserang demam sekarang? Bukankah tadi dirinya baik-baik saja?
"Bocah, kalau ingin menggunakan kamar mandinya sekarang, silahkan. Aku sudah selesai memakainya." Jaehyun keluar dari kamar hanya berbalut handuk di pinggangnya, dan bersandar di dinding dekat pintu.
Dasar tidak punya sopan santun, apa-apaan itu. Sudah tahu ada tamu yang seruangan dengannya, malah dengan santainya bertelanjang dada di hadapanku, ckck, kelakuannya itu sangat memalukan.
Segera Doyoung bangkit dari sofa, dirinya ingin secepatnya pergi dari apartemen ini. Tetapi, tubuhnya kenapa? Kenapa dirinya merasa panas? Kenapa bagian bawah tubuhnya mengeras dan terasa menyakitkan? Kenapa kakinya terasa sangat lemas, bahkan untuk berjalan saja terasa sangat berat. Ada apa sebenarnya?
Doyoung rasa sebentar lagi dirinya akan terjatuh, tetapi sebelum itu terjadi sebuah tangan memegangnya erat. Doyoung tahu tangan siapa yang dengan lancangnya memegang pinggangnya, saat mendongak, Doyoung melihat senyum Jaehyun mengembang di bibir sempurnanya. Jaehyun yang sedang bertelanjang dada kenapa bisa tampak seksi, Astaga apa yang sedang aku pikirkan? Jangan gila, Doyoung, jangan gila. Doyoung geleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir apa pun yang barusan melintas di otaknya.
Tetapi, sungguh perutnya rata seperti Kai hyung. Dadanya lebar dan kekar seperti Sehun hyung, otot lengannya keras seperti Chanyeol hyung. Kenapa dirinya bisa terlihat sangat seksi? Senyumnya kenapa manis sekali?
"Doyoung, kau cantik sekali."
New Story
Jaehyun seret tangan Doyoung ke ruang tengah apartemennya. Ia hanya menurut saja dengan wajah ditekuk. Ya ampun, membaca raut Doyoung semudah melihat bra yang dikenakan sekretarisnya dari baju transparan yang dikenakan sekretarisnya. Ia tampak bingung, bimbang dan kesal tentu saja.
Sebenar Jaehyun ingin membawanya ke kamar dan langsung menelanjanginya di sana. Tetapi Jaehyun sedang tidak ingin adanya perlawanan hari ini. Jaehyun ingin menikmati permainan dan tubuhnya semaksimal mungkin. Lagi pula badan Jaehyun terasa gerah dan lengket sekali. Tidak akan terasa nikmat rasanya bercinta dengan kondisinya yang seperti ini. Okay, pertama mandi dulu.
Tetapi sebelumnya Jaehyun harus membuat bocah ini terangsang dulu. Maaf, Doyoungie, Jaehyun memang jahat. Apa boleh buat, Jaehyun sudah tidak sabar lagi, kalian catat itu, TIDAK SABAR LAGI. Gairah Jaehyun benar-benar memuncak hari ini.
Doyoung pun menerima segelas jus jeruk yang ia sodorkan dengan wajah curiga.
"Apa ini, ahjussi?"
"Jus jeruk." Singkat. Segara Jaehyun meninggalkan Doyoung ke kamar mandi. Membiarkan obat perangsang yang ia campur dalam minuman itu bekerja pada tubuh Doyoung.
Kali ini Jaehyun sengaja mandi berlama-lama. Membersihkan tubuhnya secermat mungkin, Jaehyun ingin memberikan yang terbaik pada kelinci manis itu. Setelah selesai dengan ritual mandinya, Jaehyun keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk melilit pinggangnya, menutupi sesuatu yang menggembung di selangkangannya, melirik ranjang ukuran king di kamarnya. Rapi karena semalam memang tidak Jaehyun tiduri dan – ironisnya – bersprei putih bersih.
Keluar dari kamarnya, Jaehyun bersedekap di dinding dekat pintu, melihat Doyoung duduk sambil menonton televisi, tangannya memegang remote, dan tampak gelisah. Jaehyun lirik gelasnya tinggal setengah. Ah, setanpun rasanya ikut berpesta dengannya.
"Bocah, kalau ingin menggunakan kamar mandinya sekarang, silahkan. Aku sudah selesai memakainya." Jaehyun mencoba menarik perhatiannya, dan benar saja Doyoung langsung menoleh ke arahnya.
Mata Doyoung terlihat tidak fokus dan kedua pipinya memerah. Cantik sekali. Ia bangkit dan berjalan ke arah Jaehyun, namun langkahnya goyah dan terjatuh tepat pada saat Jaehyun tangkap tubuh rampingnya.
Jaehyun menatap langsung manik matanya, "Doyoung, kau cantik sekali." Lalu Jaehyun kecup lembut bibirnya, Doyoung membulatkan matanya kaget. Tangannya berusaha mendorong dada Jaehyun menjauh. Namun sia-sia, sesuatu dalam dirinya seolah menginginkan kembali ciuman itu setelah tubuh Jaehyun terdorong dan menyebabkan ciuman itu terlepas. Tetapi belum lama dia menginginkannya, Jaehyun mencium bibirnya dalam dan basah. Manis sekali, aku sangat yakin ini ciuman pertamanya. Doyoung meronta kehabisan nafas, segera saja ciuman Jaehyun berpindah ke pipinya, lehernya, dan telinganya. Dapat Jaehyun dengar desahan lembut keluar dari bibirnya.
"Jae ahjussi... ahh.."
Jaehyun mengangkat tubuh Doyoung secara bridal style, Doyoung mengalungkan kedua lengannya ke leher Jaehyun dan terengah-engah. Kenapa tubuhku tidak bisa menolak sentuhannya? Eomma apa yang terjadi padaku? Ini salah, ini salah. Apa yang harus aku lakukan, eomma?
Dengan lembut Jaehyun merebahkan Doyoung di ranjangnya. Kembali membawa Doyoung dengan ciuman menuntut dan basahnya. Saat akan melepaskan kaos yang Doyoung pakai, Doyoung memberontak membuat ciuman mereka terlepas, "Jangan ahjussi." Doyoung mencengkeram tangan Jaehyun dan menggelengkan kepalanya kuat, mencoba mempertahankan kewarasannya, mencoba melawan nafsunya.
Jaehyun mendekatkan bibirnya ke telinga Doyoung, "Percayalah padaku, Youngie. Akan aku buat kau merasakan kenikmatan yang sesungguhnya."
Jaehyun mengulum daun telinga Doyoung, yang membuatnya mendesah keras. Saat itu juga Jaehyun merobek kaos Doyoung, dan nampaklah tubuh atas Doyoung yang menggoda dengan kulit putih dan dada yang terasa pas saat digenggamnya. Ciuman Jaehyun turun dari leher berlanjut menuju jakun Doyoung yang bergetar karena desahan yang dikeluarkannya. Rasanya sangat menakjubkan saat merasakan getaran itu. Masih di leher Doyoung, Jaehyun menciumnya basah tanpa meninggalkan jejak kemerahan.
Tangan Jaehyun meremas dada Doyoung lembut, Bagaimana bisa seorang laki-laki memiliki dada yang cukup montok, seperti payudara perempuan yang ukurannya kecil saja. Jaehyun sepertinya menemukan mainan barunya.
Tanpa Doyoung sadari tubuhnya sudah tidak terbalut kain apapun, saat dirinya sibuk mendesah karena Jaehyun mengulum putingnya, pada saat itulah Jaehyun melepaskan kain yang tersisa yang melekat padanya.
Doyoung membelakkan matanya, sesuatu telah memasuki tubuh bawahnya. Dan Doyoung tidaklah bodoh, dirinya mengetahui bahwa milik lelaki yang menindihnyalah yang memasuki tubuhnya – memaksakannya masuk. Sepertinya dirinya sudah tersadar penuh dari ketidakwarasannya saat milik lelaki itu berusaha menggerakkan tubuhnya, dan miliknya yang keras menumbuk tubuh bagian bawahnya.
Doyoung bingung, dirinya tidak mengerti dengan kenikmatan yang maksud Jaehyun, ia masih sangat baru dalam hal ini. Karena yang dirasakannya sekarang hanya rasa sakit, panas, dan perih.
Tubuhnya terasa remuk, nafasnya tersengal menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya. Yang dengan perlahan rasa sakit itu menyebar, kakinya terasa kebas, dan lubangnya terasa perih, berdenyut-denyut sakit. Kenapa semua ini terjadi padanya? Dia bahkan bukan siapa-siapa lelaki ini? Kenapa dia mengambil sesuatu yang paling berharga miliknya, yang dijaganya selama ini? Kenapa? Kenapa?
Doyoung menggigit bibirnya menahan jeritan kesakitannya. Dirinya menangis dalam diam, sementara Jaehyun terus menghujam miliknya, mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri, sekaligus menikmati lekuk tubuh lembut Doyoung. Matanya terpejam rapat saat berhasil mencapai puncaknya. Jaehyun ambruk menindih tubuh Doyoung.
Jaehyun menstabilkan nafasnya seraya menghirup aroma tubuh di bawahnya. Membuatnya rileks. Perlahan Jaehyun membuka matanya, dirinya terkejut melihat Doyoung menggigit bibirnya hingga terluka hanya untuk meredam tangisnya. Jaehyun menarik dirinya menjauh, melepaskan tautan tubuhnya dengan tubuh Doyoung, membaringkan dirinya di samping Doyoung dan membawa tubuh itu ke dalam pelukannya, "Sayang, jangan menggigit bibirmu. Menangislah, jika itu membuatmu merasa lebih baik. Maaf, telah berbuat seperti ini padamu, tenang saja aku berjanji akan bertanggung jawab."
Jaehyun mengelus rambut halus Doyoung menenangkannya, "Sttss, tidurlah. Kau pasti lelah, semua akan baik-baik saja." Dirasa tidak ada pergerakkan dan tangisan, hanya ada nafas hangat yang menerpa dadanya, membuat Jaehyun yakin kekasih hatinya sudah jatuh tertidur. Jaehyun mengambil selimut yang terjatuh dan menyelimuti dirinya dan kekasih hatinya, mengecup dahinya pelan dan menyusulnya tidur.
"Aku mencintaimu, Doyoung." Ucap Jaehyun sebelum memejamkan matanya.
.
.
.
TBC
Hai, aku datang bawa chapter 5 New Story...
Ada yang kangen?
Uh, pasti kalian nunggunya kelamaan? Aduh, kalo beneran kelamaan, aku minta maaf yaa...
Dan karena bahasa yg sedikit kasar, dan aslinya crita ini sedikit nyrempet rate M jadi aku ganti rate M aja. Mangkanya sekalian aku tambahin adegan diatas, entahlah aku rasa naena nya ancur banget.. soalnya ini juga baru pertama aku buat begituan, soalnya aku beraninya cuma baca, sekarang aku nekatin deh buat yg kayak gituan. Kalo ada yang kurang, beritau aku yaa...
Balesan Review:
parapole: iya, udah aku kasih warning di atas. Kamu skip aja, kalo takut bacanya.. hehe
dhantieee: belum sih, cuma ada niatan buat mutusin Kristal
fad24: ini udah di next, nih Jaehyunnya udah ambil tindakan
tenbreeze: iya, bakalan berubah kok, kalo gg berubah nanti aku tempeleng kepalanya wkwkwkk
ddoyoung: aduh, mian, kelamaan hehehe
mimi: makasih, udah nungguin ff gaje ini...
Guest1: udah tau kn jawabannya..
Guest2: sama-sama sayang.. kamu tenangin Doyoung yaa... udah, aku bujuk masih nangis aja..
nrlyukkeuri96: lumayan panjang lah, meski kurang panjang.. bahkan rambutku lebih panjang, hehehe.. review lagi lo kak Yukkei
kimsx: inginnya cewek sayang, mangkanya aku milih Hyoje. Kan kalo cewek lebih mudah kasihannya..
Do-shi Launiel: apa ya? Menurutmu apa yang membuat Doyoung benci Jaehyun?
exoL: ini udah next..
aku mau curhat nih, inikan mpreg, kalian taukan... lha aku kok tiba-tiba kepikiran nih, di ff yang pernah aku baca tuh, ada yang dapat menyusui dan ada yang tk menyusui anaknya. Trus aku mikir kalo biasanya ya, saat sang ibu hamil otomatis tuh memproduksi kelenjar susu, jadi kn ibunya bisa menyusui anaknya. Trus (lagi) kalo aku buat seperti itu, kok aku kepikiran lagi biasanya kalo sel telur tidak dibuahi kn akan meluruh trus menstrusi, aku mikir lagi mang kalo laki-laki menstruasi darahnya keluar dari mana? Tiba-tiba ingat deh kucing peliharaanku, selama aku bertahun-tahun pelihara kucing, selama itu juga aku gg pernah liat kucingku mentruasi, jadi aku anggep aja dy di ffku seperti itu.. yaa, maklumlah di sma aku jurusan ipa, jadi pikiranku kadang masih suka realistis gituhh hehehe..
jadi, kalo nanti dy menyusui anaknya, kalian mikirnya begitu aja yaa..
btw, aku pamit yaa... mau fokus uas dulu...
Salam Hangat
Cho Minseo
REVIEW?
