Broken-Winged Angel

A Chanbaek Fanfiction

MPreg. BoysLove. YAOI. Shounen-ai.

Rate : M

Main Cast : Byun Baekhyun x Park Chanyeol

The Other Casts : OC. Go find yourself!

— — —

Baekhyun memang berhati layaknya malaikat. Murni dan bersih.

Dia hanyalah seorang remaja yang dipaksa harus menjadi dewasa karena umurnya. Baekhyun yang masih 23 saat itu diharuskan menjalin rumah tangga dan memiliki anak di tahun berikutnya. Juga kini ditambah dengan sang calon buah hati yang tengah tumbuh sehat dalam perutnya.

Singkatnya, Baekhyun sebenarnya hanyalah seorang anak kecil yang disuruh mengurus anak kecil lainnya. Polah pikirnya masih sederhana dan cenderung kurang dewasa untuk ukuran umurnya yang hampir mendekati 30.

Awalnya itu memang hanya sekedar keharusan— dimana ia sendiri pada awalnya keberatan. Namun kini lelaki berperawakan mungil itu tak lagi merasa terbebani, justru merasa kegiatannya saat ini adalah suatu kewajiban yang mutlak bagi seorang ibu dan suami.

Dia berubah dewasa dalam polah pikir, tapi masih tidak sepenuhnya dapat mengubah tingkah laku. Baekhyun terbiasa hidup dalam limpahan kasih sayang kedua orang tua dan juga 2 kakaknya yang sering memperlakukannya layaknya giant baby. Mereka masih menganggap Baekie mereka layaknya belasan tahun silam, dimana ia sering merengek meminta ice kream dan permen.

Tapi sekali lagi, Baekhyun tak masalah dengan itu semua. Dia tahu mereka hanya terlalu sayang padanya. Lagipula, ia juga senang-senang saja diperlakukan seperti itu.

Dan tanpa sadar, Baekhyun membawa sifat kemanjaannya pada semua orang yang membuatnya merasa nyaman. Itu termasuk sepasang suami-istri teman ayahnya yang sering berkunjung, juga anaknya yang merupakan seorang wanita dewasa seumuran kakak keduanya. Baekhyun kerap memanggilnya Yoora-noona.

Baekhyun sangat nyaman dengan noona satu itu. Dia cantik, baik dan memperlakukannya layaknya adik sendiri. Dia juga pernah bercerita mengenai adiknya yang asli. Katanya Baekhyun itu imut sekali, makanya ia suka memanjakannya, tidak seperti adik aslinya yang katanya sangat galak dan bertibuh tinggi besar.

Baekhyun hanya mengangguk saja, mendengar kata galak membuatnya urung untuk bertanya lebih jauh. Baekhyun masihlah anak-anak yang sangat takut dengan yang namanya orang galak.

Lalu ketakutan itu pun terealisasi ketika pria yang dibicarakan datang ke rumahnya.

Benar seperti apa yang dikatakan Yoora-noona. Pria itu sangat tinggi, alisnya menukik tajam menyoroti apa pun yang ada di rumahnya, bibirnya yang tebal juga terlihat menggumamkan sesuatu seperti gerutuan. Baekhyun memandang itu semua dari celah pintu kamarnya dengan takut-takut.

Kemudian Yoora-noona menjemputnya keluar dan berkata bahwa adiknya berhasil ia paksa untuk datang kemari. Baekhyun tak mendengarkan semua ocehan wanita itu dengan rinci karena matanya terpaku pada sosok tinggi di depan sana yang tengah memandanginya dengan mata melotot.

"Hentikan pelototanmu itu, Park! Matamu sudah seperti akan keluar saja."

Suara itu membuat si tinggi mengeluarkan deheman canggung.

Baekhyun bergerak dalam tundukan, sementara wanita itu berlalu pergi setelah berkata padanya untuk berkenalan dengan adiknya.

"Hai—" Suara dalam dan husky itu membuat bahu Baekhyun terlonjak pada tempatnya. Dia mendengar kekehan pelan dari seseorang di hadapannya, sehingga kepalanya ia angkat dengan takut-takut.

"Apa kau yang namanya Baekhyun?" Suara berat itu lagi mengalun rendah, sedag pemilik suara bergerak mendekat hingga kini mereka hanya berjarak beberapa centimeter saja.

"Y-ya…" Cicitnya pelan sekali. Langkahnya ia bawa mundur ketika sadar pria di depannya terlalu dekat dengannya.

Ia berubah ketakutan.

Apa pria itu akan menggigitnya? Apa ia akan dicakar? Apa tubuhnya akan—

GREP

"Jangan mundur lagi, Baekhyunie. Di belakangmu ada kursi." Beritahunya dengan tangan menggenggam lembut lengan yang lebih mungil.

Baekhyun mendongak ketakutan, pun dengan suaranya yang mengalun dalam getaran serupa. "L-lepaskan."

Kekehan itu mengalun lagi dengan lebih berani, membuat kepalanya mengongak sempurna pada sosok tinggi di hadapannya.

"Benar apa yang dikatakan noona, kau begitu menggemaskan!" Tangan yang besar dan kuat menangkup pipi tembam Baekhyun dengan kuat. Membuat kulit sensitif itu memerah, terlebih ketika jarinya ikut mencubiti pipinya dengan gemas.

"Aduh, bagaimana ini. Aku jadi ingin memakanmu!"

Seruan itu menghantarkan Baekhyun pada pelototan mata. Matanya telah memerah sedari tadi dengan lapisan kaca terlihat menyelimuti.

"J-ja-jangan makan Baekie…" Lirihannya pelan terdengar.

"Oh, ya ampun! Kau sungguh menggemaskan!" Pekikan dengan suara berat itu diikuti dengan tarikan yang Baekhyun rasakan hingga kemudian yang terjadi adalah tubuhnya yang sudah ada dalam pelukan tubuh tinggi itu.

"Jadi, Baekhyun. Perkenalkan, namaku Park Chanyeol. Calon suamimu."

Bisik pria Park itu pada telinga kiri si kecil yang tengah merengek meminta dilepaskan.

Baekhyun mendongakkan kepalanya dengan mata puppynya yang mengerjap pelan tanda kebingungan. "Suami?"

"Ung!" Sahutan dipersuarakannya dengan semangat.

Kemudian beberapa tahun setelahnya, Baekhyun akhirnya paham apa maksud kata suami itu.

Kedua orang tuanya berkata bahwa sekarang Chanyeol adalah seseorang yang akan menjaganya— menggantikan peran mereka.

Sebenarnya Baekhyun sudah paham jauh sebelum hari pernikahan mereka tiba. Baekhyun sudah dalam umur 20tahunannya, dimana di sekelilingnya banyak yang bercerita tentang pernikahan. Dia terkadang juga ikut menimbrung perkataan mereka dan menceritakan mengenai calon suaminya.

"Aku juga sudah punya calon suami…" Cicitnya malu-malu membuat seluruh atensi mengarah padanya.

"Benarkah, benarkah?"

"Siapa namanya?"

"Wah, Baekhyunie kita sudah besar!"

"Kau hebat sekali, Baekie~"

Suara antusias teman-temannya membuatnya memerah malu dengan kekehan pelan menyahut.

"Namanya Chanyeolie. Dia tampan, tinggi, dan berotot! Dan yang terpenting dari itu semua adalah, dia sayang sekali padaku. Hehehe."

Dan begitulah akhirnya mereka menikah hingga menempati rumah mereka sendiri setelahnya. Ketika Chanyeol sibuk bekerja, kakak keduanya, Yoona-noona, sering sekali berkunjung dengan membawa bahan masakan yang banyak untuk mengisi kulkasnya. Kakaknya itu mengajarinya apa hal-hal yang harus ia lakukan sebagai seorang suami. Tak jarang pula, Yoora-noona jugaikut berkunjung bersama kakaknya itu karena mereka telah menjadi akrab layaknya saudara kembar.

Ia diajari banyak hal oleh mereka. Memasak, membersihkan rumah, membersihkan piring, mencuci pakaian, menyiapkan air hangat untuk Chanyeol, merapikan baju dan juga menyiapkan baju untuk suaminya itu bekerja. Semua diajarkan padanya dengan penuh kesabaran.

Hingga setelah beberapa minggu, ia mampu menjalankan semuanya dengan sangat baik. Mereka selalu memuji masakannya yang enak dan semua hasil kerjanya yang begitu rapi. Jadi, kini Baekhyun sungguh tidak merasa lelah mengerjakan semua pekerjaan rumah itu.

Ia justru bersyukur dengan semuanya yang ia dapat dari Chanyeol. Mungkin jika pria itu tidak menikahinya, ia akan bekerja dengan keras di usianya dan jika dibandingkan, hal itu tentu jauh lebih berat juga melelahkan daripada melakukan kegiatan rumah tangga seperti ini.

Baekhyun juga berubah dewasa dan tak lagi bermanja-manja pada suaminya. Semua karna kehadiran sosok lain yang ia sadari lebih membutuhkan perhatian darinya.

Perubahannya sangat signifikan, seolah ia tak pernah menjadi Baekhyun yang manja dengan limpahan kasih sayang sebelumnya.

Kehamilan dilewatinya dengan sabar. Tubuh letih dan lelah tak menghentikannya untuk tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami seperti biasanya. Ia selalu menekankan pada dirinya untuk tidak mengidam yang aneh-aneh, karena takut merepotkan sang suami yang selalu terlihat lelah ketika pulang.

Ketika bayi dalam kandungannya lahir, Baekhyun selalu siaga terbangun pada malam hari karena si kecil yang menangis meminta susu. Dia bahkan langsung memastikan tangisan bayinya mereda dan tak ikut membangunkan Chanyeol yang terlelap nyenyak. Terkadang ia juga tidak tertidur demi menjaga kesayangannya itu yang sering sekali rewel.

Chanyeol tak mengetahui semua kesusahan yang dialaminya.

Hingga setelah sekian tahun lamanya, Chanyeol berubah ceroboh karena berfikir hamil dan memiliki anak tidaklah sesusah itu. Mereka kecolongan di usia Jiwon yang sebenarnya masih membutuhkan kasih sayang dari mereka, dan tak seharusnya itu terbagi.

Baekhyun tak ingin menyalahi Chanyeol saat melihat binar bahagia itu begitu nampak diperlihatkan. Suaminya begitu senang karena makhluk kecil yang dititipkan pada keluarga mereka, jadi kenapa ia tidak?

Hingga pada akhirnya, Baekhyun tidak memprotes apa pun selagi tangannya mengelus perutnya dengan begitu lembut. Mencoba berinteraksi dengan si kecil yang akhir-akhir ini sering sekali nakal.

Baekhyun tidak begitu ingat berapa tepatnya usia si kecil saat ini, tapi ini sudah sebulan semenjak ia keluar dari rumah sakit tempo lalu. Jadi dapat disimpulkannya sekarang sudah sekitar bulan ke-2. Dan keadaannya semakin memburuk saja.

Dalam beberapa hari terakhir ini, pusing sering menderanya dalam jumlah berlebih, menjadikan tubuhnya menjadi lemas bukan main. Dia berubah tak bisa melakukan apa pun selain berbaring dan memejamkan mata, meski tidak benar-benar tertidur.

Jiwon berubah pengertian dan tak lagi bermanja padanya ketika menyaksikan sendiri bagaimana pucat wajahnya dengan air mata yang mengalir deras. Itu terjadi kemarin, tepatnya setelah anaknya pulang ke dalam rumah dengan supir yang mengantar dan menyusulnya di kamar.

Chanyeol telah menyewa supir untuk mengantar-jemput Jiwon sejak sebulan lalu.

Dan ngomong-ngomong soal suaminya itu, ia berubah aneh akhir-akhir ini. Baekhyun tak ingin menaruh curiga pada prianya itu, tapi memang pada kenyataannya ia merasa ada jarak antara mereka dalam beberapa minggu ke belakang.

Awalnya hanya sekedar sang suami yang selalu pulang malam. Pria itu berkata ia lembur untuk menutupi kerugian perusahaan dan memperbaikinya seperti semula. Baekhyun hanya mengangguk kala itu, karena ia sendiri pun sebenarnya tidak mempertanyakan hal itu. Si mungil tahu suaminya adalah workaholic dan tak heran ia mampu bekerja seharian penuh tanpa istirahat.

Baekhyun hanya khawatir dengan kesehatan suaminya.

Setelah pulang hampir selalu pada pukul 11, Chanyeol beberapa kali didapatinya tidak pulang ke rumah meski telah ditunggunya hingga lewat pukul 1 pagi. Kemudian keesokan harinya pria itu akan pulang ketika petang menjelang dan berwajah lelah, membuatnya urung untuk bertanya. Baekhyun hanya tidak mau ia terkesan curiga, padahal ia tahu suaminya bekerja juga demi dirinya.

Seperti saat ini. Baekhyun tengah berbaring ketika angka 4 pada jam dinding ditunjuk oleh jarum pendek.

Badannya lemas bukan main dan kepalanya pusing dengan rasa berat yang mendera. Baekhyun berasumsi ini karena jadwal tidur dan makannya yang semakin tak teratur beberapa hari terakhir.

Dia menutup matanya dengan lengan kanan dan isakan pelan keluar dari bibirnya yang pucat.

Baekhyun merasa seluruh tubuhnya sakit tapi bahkan ia tidak memiliki siapa pun untuk mengeluh atau sekedar memeluknya. Dia tak ingin siapa pun saat ini kecuali Chanyeol. Dia membutuhkan suaminya itu.

Jadi, ketika pintu terbuka dengan bunyi yang terdengar jelas, Baekhyun justru mengeraskan tangisannya dan tidak menoleh barang sesenti. Juga saat kasurnya terasa bergoyang karena seseorang yang mendudukinya, ia mengacuhkannya.

"Hei, kenapa menangis, hm?" Suara dalam dan lembut itu menyentak dirinya dalam buncahan rasa bahagia.

Lengannya ia turunkan dan mata basahnya menangkap Chanyeol yang juga tengah menatapnya khawatir. "C-Chanyeol!" Tangisnya semakin kencang dengan rintihan kecil mengalun.

"Sstt, berhenti menangis, Baekhyun…" Chanyeol mengusap dahinya lembut sementara tangannya yang lain bergerak mengusap air matanya yang masih saja mengalir.

"Chanyeolie—hiks, aku merindukanmu, huhuhu—" Baekhyun menghambur ke pelukan pria tinggi itu dengan cepat dan lanjut sesenggukan disana.

"Ssh—Aku disini, sayang, jadi hentikan tangisanmu, hm?"

"T-tidak mau! Aku rindu Chanyeolie, baby juga, hiks,"

Chanyeol terkesiap mendengarnya. Rasa sesal menyusup dalam dirinya ketika mengingat si kecil di dalam sana.

"Chanyeolie, kenapa bau badanmu—"

"Oh, Baekhyun, aku harus mandi sekarang!" Chanyeol berubah panik dan melepas pelukan itu dengan terburu-buru. "Aku memiliki janji dengan client!"

Tungkainya ia paksa bergerak cepat mencapai kamar mandi dan menutup pintu dalam bantingan.

Baekhyun tergugu dengan mata mengerjap lemah. Lagi-lagi ia merasakan keanehan Chanyeol. Terlebih dengan bau pria itu yang juga berbeda. Pria itu bahkan baru saja pulang setelah semalam tidak pulang, tapi ia akan pergi lagi, huh?

Matanya kian terasa panas hingga ia lanjut menangis dalam diam. Tubuhnya yang lemas ia paksa berdiri tegak, lalu mulai melangkahkan kakinya dengan terseok ke arah kamar Jiwon.

Anaknya itu menyambut kedatangannya dengan bahagia. Ia dipeluk dengan begitu erat hingga tangisnya mendadak kian mengeras di atas bahu anak itu.

Baekhyun merasa jahat karena telah menelantarkan si kecil di dalam perutnya dengan tidak menjaga kondisi tubuhnya. Dan kini ia menyadari bahwa dia juga telah berlaku jahat pada si sulung yang tidak diurusnya sejak beberapa hari lalu.

"J-jiwon-ah, m-maaf-kan Papa—hiks, m-ma-maaf, sayang, huhuhu, maaf—"

"Papa menangis?!" Suara anak itu bergetar dalam tanya. Sedetik kemudian Baekhyun dapat mendengar suara tangisan mereka bersahutan.

"Jangan menangis, Pa, hiks. Jiwon tidak marah p-pada Papa!"

Kemudian Baekhyun mengangkat tubuh anaknya dengan tak bertenaga hingga hampir terjatuh karena tubuhnya yang lemas. Jiwon memekik dan beruntunglah mereka tidak terjatuh karena refleksnya yang masih berfungsi baik.

Tangis Baekhyun kian mengeras karena perasaannya yang kacau. Mereka berpelukan di atas kasur dengan isakan lelaki mungil itu yang lebih dominan. Hingga setelah lelah menangis, tak lama keduanya tertidur dengan masih berpelukan di atas kasur.

Tanpa mereka sadari, Chanyeol menyaksikan tangisan keduanya dari depan pintu.

Dia baru saja akan masuk, namun, deringan pada ponselnya menghentikan niatnya.

"Halo?"

'Oppa, kenapa lama sekali, sih?!' Suara kesal terdengar dari ujung sana membuatnya menghela nafas pelan.

"Sabar, sayang, aku akan tiba dalam 10 menit, oke?"

'Baiklah! Kutunggu di meja nomor 201, ya. Aku sudah membuat reservasi.'

"Hm, tunggu aku."

'Sampai nanti, oppa!'

"Ya, sayang."

Chanyeol menutup sambungan telepon dengan cepat sementara langkahnya ia tarik tergesa menuju mobilnya untuk segera pergi.

Dia hanya luput menyadari bahwa dari celah pintu kamar yang terbuka, Baekhyun menatapnya dengan sendu ketika ucapan sayang ia lantunkan dengan lembut kepada orang lain.

[***]

Baekhyun berubah tak bisa tidur lagi pada malam harinya. Pada pukul 1 dimana hari telah berganti, ia akhirnya memutuskan untuk beranjak dari sofa dan menuju ke kamarnya. Dia terduduk di atas ranjang dengan pandangan kosong menyorot tanpa fokus.

Tangannya bergerak menuju nakas dan membuka salah satu laci yang ada disana. Ia mengeluarkan obat tidur yang sering dikonsumsinya akhir-akhir ini. Dibukanya tutup tabung obat, kemudian ia menelan dua pil sekaligus dengan bantuan air putih.

Tak lama setelahnya ia tertidur dengan lelehan air mata yang mengalir dalam diam.

Lalu keesokan harinya, ia terbangun dengan hati yang kosong dalam suasana kamar yang dingin. Tangannya meraba pelan ponsel miliknya, dan mendapati tulisan 11:02 pada locksreen.

Obat tidur membuatnya terbangun sangat terlambat, hingga pikirannya pun luput mengkhawatirkan Jiwon yang harus diurusnya karena harus bersekolah. Ia berubah acuh tanpa tahu bahwa sebenarnya pagi tadi telah dibangunkan oleh si kecil yang juga terlambat bangun.

Dalam beberapa menit, matanya hanya mengerjap pelan dalam posisinya yang masih berbaring.

Kemudian, ia memaksakan tungkainya yang bergetar untuk bangun demi membersihkan tubuhnya.

Baekhyun mandi dengan menyempatkan diri untuk berendam dalam bath up dan menjernihkan pikirannya. Setelah berendam 1jam lamanya hingga hampir tertidur, dia merasakan tubuhnya menggigil hingga membuatnya berhenti pada kegiatannya itu.

Dengan keadaan telanjang, ia menghampiri cermin full body dan memperhatikan tubuhnya dengan seksama.

"Apa aku terlihat jelek sekarang?"

Kalimat tanyanya itu menghantarkan ia pada kekehan kering. "Tentu saja. Kau gendut dan tidak menarik lagi!"

Ia mendengus kesal saat mendapati matanya memanas lagi. Dan tanpa bisa ditahan, ia terisak pelan setelahnya. Tubuhnya ia bawa keluar setelah berpakaian utuh dan mendapati kamar dalam keadaan yang sunyi dan dingin karena hanya ada ia seorang.

Perasaannya sangat kacau dan keadaan hamilnya sungguh memperparah kodisinya saat ini. Mentalnya memburuk, sementara ia memiliki si kecil yang harus dijaganya. Dan itu tak hanya satu, tapi dua.

Baekhyun merasa bersalah pada keduanya, tapi kesesakan dalam hatinya benar-benar tidak bisa ia abaikan.

Dia bukannya tidak sadar dengan apa yang tengah terjadi pada keluarga kecilnya. Hanya saja ia tak ingin menyalahkan Chanyeol atas apa yang pria itu lakukan di belakangnya.

Semua adalah salahnya yang tak mampu membuat pria itu mempertahankan cintanya pada dirinya. Semua adalah salahnya yang mengacuhkan Jiwon disaat anak itu begitu membutuhkannya. Dan semua juga salahnya ketika ia justru ikut mengabaikan si jabang bayi yang bahkan masih terlalu rapuh di dalam sana.

Dan lagi-lagi hanya tangisan yang bisa dilakukannya.

[***]

Setelah melewati hari dalam kesendirian, keesokan harinya, Baekhyun terbangun dengan sentakan cepat hingga tubuhnya langsung terduduk. Matanya membulat lebar dan nafasnya memburu. Dia seolah dibangunkan paksa karena alam bawah sadarnya yang tidak dalam keadaan tenang.

Suaminya itu masih tidak menampakkan dirinya. Panggilan atau sekedar pesan pun sama sekali tak didapati Baekhyun pada ponselnya.

Alih-alih merasa marah karena tahu apa yang dilakukan pria itu, Baekhyun justru lebih merasa khawatir pada Chanyeol.

Bagaimana jika pria itu sakit karena kelelahan bekerja?

Bagaimana jika dia tidak pulang karena masalah perusahaan belum juga usai?

Apa pria itu bahkan makan dengan teratur?

Dan apakah Chanyeol tidak pulang karena malas bertemu dengannya?

Bagaimana jika pria itu berniat…. meninggalkannya?

'Semua adalah salahmu!'

Suara dalam pikirannya yang terakhir membuat perasaannya semakin kalut. Bagaimana jika suaminya itu memang akan meninggalkannya dan tidak akan pernah pulang?!

Lalu bagaimana dengan Jiwon? Dengan anak yang dikandungnya?!

Pikiran itu terus saja mengacaukan dirinya hingga sebuah keputusan menghampiri dirinya dengan cepat.

"Ya, aku harus mencarinya di kantor!" Dia harus menemukan pria itu dan mengajaknya pulang karena ia begitu merindukannya, hingga rasanya mati lebih baik.

Baekhyun seperti kesetanan setelah bangun dengan mata merah dan bergerak acak di dalam kamar. Rasa khawatir yang dimilikinya membuatnya berubah tak sabar, sehingga ia memakai jaket untuk menutupi piyamanya dengan secepat kilat. Bahkan ia tidak terpikirkan untuk mandi terlebih dahulu.

Kemudian setelah menimang sesaat, Baekhyun memutuskan untuk menyetir mobil sendiri karena ia tidak punya waktu untuk menelepon taxi dan menunggu taxi itu untuk mencapai rumah. Apalagi jika harus berjalan kaki ke arah jalan raya terlebih dahulu.

Dia tidak punya waktu untuk itu, bahkan hanya untuk sekedar mengingat bahwa sebenarnya dia sudah lama tidak menyetir.

Baekhyun menyambar kunci mobil yang dia temukan di laci setelah mengobrak-ngabriknya. Dicapainya garasi mobil yang sudah lama tak ia kunjungi dengan gerakan tergesa hingga hampir membuatnya tersandung beberapa kali.

Dia keluar dari kompleks perumahannya dengan menaikkan laju mobilnya. Membuat beberapa tetangga yang sedang menyiram tanaman terlonjak kaget ketika dilewatinya.

Baekhyun mencapai jalan raya sementara pikirannya semakin kacau hingga membuatnya pusing.

Tentu saja. Ia bahkan baru terbangun setelah tidur hanya dalam beberapa jam. Dan kini harus mengendarai mobil dengan keadaan tubuh yang lemas karena belum memasukkan apa pun sejak kemarin.

Tangannya berubah seperti jelly ketika ia memaksakan diri memegang setir kemudi. Dapat dirasakannya mobilnya berjalan dengan tidak stabil. Baekhyun baru ingat jika mobil ini terakhir digunakan sudah lama sekali. Bahkan kakinya tidak memiliki tenaga untuk menginjak rem ketika lagi-lagi hampir menabrak sesuatu di depannya.

Beruntung ia masih dapat menggerakkan tangannya yang sudah lemas dengan pelan.

Kepalanya berubah berdenyut ketika mendapati lalu lalang mobil yang melintas dengan cepat di depan matanya. Perutnya berubah mual tiba-tiba. Matanya yang berkunang juga sama sekali tidak membantu, sementara tangannya sudah tak memiliki tenaga untuk menurunkan kecepatan mobilnya. Dia memaksakan diri berkendara dengan menggunakan jalur kanan—dimana ia bisa menghentikan laju mobilnya nanti jika memang sudah tidak sanggup.

Tapi keputusannya tidak memperbaiki keadaan, ketika tangannya justru membelokkan setir terlalu dalam. Dapat dirasakannya tubuhnya terbanting kuat ke arah kanan dimana mobilnya telah menabrak pembatas jalan tanpa bisa dicegahnya. Kakinya ia paksa menekan rem dengan sisa tenaganya. Dan gerakan mendadak itu membuat badan mobilnya kehilangan keseimbangan.

BRAK

Tangan kirinya ia gunakan untuk melingkari perutnya demi melindungi segumpal darah di dalam sana.

Dapat dirasakannya mobil berputar 45 derajat sebelum suara tabrakan dari mobil lain adalah hal terakhir yang memasuki inderanya.

BRUK DUAGH BRAAKK

Mobil lain telah menghantam badan mobilnya dari arah belakang, membuat tubuhnya mendapatkan luka lebih banyak hingga kesadarannya yang hampir hilang justru tertahan pada kondisi itu.

"Akh!" Baekhyun mengerang merasakan perihnya luka pada tubuhnya.

Dan setelahnya, ia sudah tidak merasakan apa pun lagi pada tubuhnya yang berlumuran darah. Tapi Baekhyun masih sempat menggerakkan kedua tangannya untuk lagi-lagi memeluk perutnya. Hingga kemudian tubuhnya ambruk ke samping kiri dan menghantam pintu mobil dengan kaca yang pecah.

[The End of Chapter]

...

Feeling so bad for uri Baekhyunie :(

Maaf, ya, huhuhu. Aku lagi stress dan depresi nih gais, jadi hibur aku dengan review kelean dongzzz.

Hiks.