Broken-Winged Angel

A Chanbaek Fanfiction

MPreg. BoysLove. YAOI. Shounen-ai.

Rate : M

Main Cast : Byun Baekhyun x Park Chanyeol

The Other Casts : OC. Go find yourself!

— — —

DEG DEG DEG

"Tidak—Hhhh,hah… Hah, haah!"

Baekhyun tersentak dalam tidurnya. Matanya terbuka lebar sedang mulutnya dalam kondisi serupa, meraup oksigen dengan begitu rakus. Diangkatnya tangan kanannya untuk menekan dadanya yang berdenyut ngilu karena detakannya yang menggila.

Dia menatap waspada pada seluruh ruangan dan yang didapatinya adalah tubuhnya yang terduduk di atas ranjang kamarnya. Nafasnya yang mulai teratur ia hembuskan dengan lega.

Syukurlah, semua hanya mimpi.

Baekhyun bergidik ngeri mengingat mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Mengingat tubuhnya yang berdarah dimana-mana, lalu mobilnya yang menabrak—

"Baekhyun-oppa?!"

Suara seorang perempuan menyerukan namanya dengan lantang, membuatnya menoleh cepat pada sumber suara.

"Kau sudah bangun? Syukurlah..." Nyatanya helaan nafas lega tak hanya miliknya saja, pun dengan yang gadis di depannya ini keluarkan dengan serupa.

"Y-Yeri? Kenapa kau bisa a-da di-sini?" Suaranya yang serak bertanya dalam patahan kata.

"Ceritanya panjaaang sekali! Bagaimana kondisi oppa? Apa sudah membaik? Atau masih merasa pusing? Mual? Adakah yang terasa sakit? Mungkinkah—"

Suara panik itu ia cegah dengan kalimat bingungnya. "Hei, memangnya aku kenapa?"

Yeri menghela nafasnya lagi dengan pelan demi meredakan kekhawatirannya. "Aku tidak tahu apakah oppa pingsan atau bagaimana, intinya kemarin ketika aku datang, wajah oppa sangat pucat dengan tubuh panas! Aku khawatir sekali sampai lupa menelepon Chanyeol-oppa, jadi aku menghubungi dokter sebagai gantinya."

"C-chanyeol?" Matanya mengerjap dengan lengkungan sendu ketika mengingat pria itu. Baekhyun ingat sekali bahwa ketika ia mendengar Chanyeol memanggil seseorang dengan sebutan sayang, ia yakin itu nyata dan bukan bagian dari mimpi buruknya. Pun dengan tingkah aneh pria itu akhir-akhir ini.

"Hm, hm. Dia baru saja ku hubungi tadi pagi dan berkata akan pulang sore nanti." Yeri beralih mengambil bubur dan menyodorkannya pada Baekhyun yang tengah menunduk sedih.

"Makanlah dulu, oppa. Setelah itu minumlah obat dari dokter. Beliau berkata kau tidak memasukkan apa pun sejak kemarin sehingga imunmu menjadi rendah. Apa kau lupa jika di dalam sini ada kehidupan lain yang harus kau jaga? Bagaimana bisa kau mengabaikan kesehatanmu?" Yeri memprotes dengan nada serius, berharap yang ia nasehati akan tahu letak kesalahannya yang bisa berakibat fatal bagi mereka.

"Maaf, aku sedang kacau, Yeri-ya." Tundukannya semakin dalam dengan buncahan rasa penyesalan pada si kecil yang luput ia pikirkan.

Yeri menghela nafas lalu dengan lembut menyuapi Baekhyun, karena tahu lelaki hamil itu tak memiliki tenaga.

"Minta maaflah pada baby, oppa. Lagipula semua bukan salahmu, tapi kesalahanku. Maafkan aku."

Yang diajak bicara mengerutkan kening dengan bingung. "Bagaimana bisa ini salahmu ketika kau bahkan tidak terlibat sama sekali, huh?" Baekhyun bertanya menanggapi setelah menelan suapan yang diberikan gadis di sampingnya.

"Habiskan ini dulu, setelah itu aku akan menjelaskan semuanya."

Ucapan itu membuat kening Baekhyun kian mengernyit dalam karena semakin bingung. Namun, pada akhirnya, ia hanya mengangguk patuh dan terus menerima suapan demi suapan yang disodorkan kepadanya.

Kemudian ia meminum obat dengan sedikit paksaan, hingga membuatnya mengernyit dalam. "Pahit sekali—huweek!"

Yeri tertawa melihatnya. "Aku tidak percaya oppa ku yang imut ini sudah akan memiliki 2 anak, hihihi."

"Hei, kau meremehkanku ya! Cobalah lebih keras dengan suamimu itu supaya kau bisa segera menyusulku!"

"Ck, si sibuk itu! Aku malas membahasnya!" Yeri menggerutu mengingat hubungannya dengan sang suami yang sedikit merenggang karena kesibukannya dalam menjadi pemimpin perusahaan.

"Hei, apa kalian sedang bertengkar?" Baekhyun bertanya penasaran.

"Hng! Dia sibuk sekali sampai-sampai aku harus meminjam Chanyeol-oppa darimu! Maafkan aku, ya, oppa~" Suaranya ia buat mendayu dengan lengkingan panjang, sedang tangannya ia bawa untuk memeluk tubuh Baekhyun di depannya.

"Eoh? Apa maksudmu?" Kalimat gadis itu lagi-lagi membuatnya bingung dan gagal paham hingga ia harus menuntut meminta penjelasan.

"Sebenarnya, kemarin Chanyeol-oppa datang padaku dengan menangis… Dia berkata padaku dengan terus terisak bahwa ia merasa bersalah padamu, oppa." Baekhyun tergugu mendengarnya. Motoriknya berubah kaku ketika membayangkan suaminya yang tegas itu berubah cengeng dikarenakan dirinya.

Melihat respon diam itu, membuat Yeri kembali melanjutkan ucapannya.

"Beberapa minggu yang lalu Chanyeol-oppa datang padaku. Ia bercerita mengenai kondisi perusahaan yang sedang kacau, jadilah aku menawarkan diri untuk membantunya. Perusahaan suamiku membantu memperbaiki keadaan perusahaannya, oppa, tapi yang kudapati adalah suamiku yang semakin sibuk bekerja hingga aku di abaikan!" Ia menyempatkan diri untuk cemberut karena akhir kalimatnya.

"Kemudian kami bertengkar dan aku mengadu pada Chanyeol-oppa. Dia jadi merasa bersalah dan setelahnya berjanji untuk menemaniku. Dia bilang ini juga bentuk rasa berterimakasihnya karena perusahaan mulai membaik. Maafkan dia, semua adalah salahku yang selalu mencari alasan agar Chanyeol-oppa menginap di rumah. Tapi aku berani bersumpah aku tidak menyuruhnya untuk melakukan apa pun!"

Yeri melirik takut-takut pada Baekhyun. dia tahu lelaki itu berhak marah padanya, tapi ia juga tidak sanggup jika harus dimusuhi oppa kesayangannya.

"Lanjutkan." Gadis itu mendengar suara lirihan yang memiliki getaran seolah sang pemilik tengah menahan sesuatu.

"Jadi kesimpulannya adalah, itulah yang dilakukan Chanyeol -oppa ketika dia tidak pulang. Aku juga kasian dengan keadaan dirinya yang selalu terlihat lelah, tapi aku justru berubah egois dengan terus ingin bermanja dengannya. Maafkan aku, oppa, aku lupa kalau kau tengah hamil dan lebih membutuhkan dirinya. Maafkan aku, aku benar-benar menyesal—

"Apa kau yang dipanggilnya sayang tempo hari di sambungan telepon?"

"Ya." Yeri menjawab dengan ketakutan. Lalu dianjutkannya lagi kalimatnya yang belum usai.

"—Tangisan Chanyeol-oppa kemarin sungguh mengejutkanku. Aku tidak tahu kalau kau dan Jiwon juga ikut tersakiti karena ulah kekanakanku. Dia terlihat sangat menyesal, namun harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebagai langkah terakhir penyelamatan perusahaan, sehingga dengan berat hati ia pergi ke luar kota dan menitipkanmu padaku."

Yeri masih menunduk ketika mengatakan semua kalimat penjelasan itu. Setelah beberapa saat, masih tidak ada respon apa pun sehingga ia memberanikan diri untuk melirik ke arah lawan bicaranya.

Didapatinya lelaki itu juga menunduk dalam menatap selimut. Matanya membulat terkejut saat mendapati beberapa tetes air mata terjatuh dengan deras.

"O-oppa—Oppa mengapa menangis?" Gadis itu berubah khawatir karena perkiraannya sungguh meleset. Ia pikir ia akan mendapat makian atau setidaknya sedikit nasihat dari Baekhyun, tapi lelaki itu justru menangis dalam diam.

Kemudian tubuhnya ia rasakan ditarik dengan cepat dan tahu-tahu, bahunya telah basah dengan cepat.

"H-hei, j-ja-jangan menangis," Suaranya ikut gemetar saat tangannya mengusap punggung rapuh itu. Air matanya ikut turun tanpa bisa ia cegah.

"Ye-yeri-ya, apa—apakah aku terlihat sangat ja-hat, hiks, Chanyeol, Chanyeolie—"

Tangisan Baekhyun semakin kencang hingga tak dapat menyelesaikan ucapannya.

"Tidak, tidak, semua salahku, kalian, hiks—tidak bersalah, tidak, apa pun!" Getaran suaranya menyahut cepat dengan kalimat yang berantakan.

"Chanyeolie melewati semuanya sen-dirian, dia pasti—hiks, pasti sangat kesulitan, ta-tapi aku justru tidak, tidak—huhuhu menemaninya."

"Dia pasti lelah sekali, tapi aku disini justru hanya diam dan menghabiskan waktu dengan menangis, hiks, menuduhnya berselingkuh, hiks—Aku pasti, jahat sekali, iya 'kan? Huhuhu—"

"Tidak, oppa pantas berpikiran seperti itu. Tapi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, oke? Sssttt, sudah, tidak apa." Badan mereka yang berpelukan ia ayunkan pelan, berharap ketenangan segera melingkupi tubuh mungil di rengkuhannya.

[***]

Setelah menenangkan Baekhyun dengan kata-kata semacam, 'semua salahku, bukan oppa yang bersalah', Yeri akhirnya bisa beristirahat ketika lelaki itu telah tertidur bekat obat yang diminumnya tadi.

Ia mengetikkan pesan untuk Chanyeol, dan pria itu berkata akan pulang pada pukul 4. Itu berarti masih ada waktu sekitar 4 jam untuknya menjaga Baekhyun.

Ngomong-ngomong, lelaki itu lebih tua darinya sekitar 2 tahun. Tapi Yeri merasa, mereka adalah seorang teman dimana polah pikir mereka sangatlah serupa. Terkadang gadis itu merasa bahwa ia justru menjadi seorang kakak karena oppanya yang lucu itu sangatlah polos dan kelembutan hatinya membuatnya mudah menangis.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Chanyeol. Pria itu dulunya merupakan incarannya yang letak rumahnya hanya beberapa meter dari miliknya. Beberapa tahun menjadi stalker, ia menurunkan rasa malunya dengan menembak pria itu di depan rumahnya.

Saat itu Chanyeol menolaknya dengan lembut, dan berkata, "Yeri-ya, kau masih kecil dan begitu menggemaskan. Jadi alangkah lebih baik kalau kau menjadi adikku saja. Oh, iya, aku juga sudah memiliki kekasih."

Saat itu juga Yeri merasakan matanya basah dan hatinya sakit untuk pertama kali selama masa remajanya.

Tapi rasa sakit itu seketika hilang ketika Chanyeol mempertemukannya dengan seorang lelaki mungil yang kata pria itu adalah teman barunya. Yeri menatap takjub pada sosok itu, sedang tungkainya ia bawa berlari menuju lelaki yang terlihat kecil itu.

"Waah, cantik sekali oppa! Dan ini—" Tangannya mencubit pipi gembil yang memerah itu dengan gemas, "—kenapa sangat menggemaskan! Oppa," Yeri menoleh pada Chanyeol di belakangnya, "—Apa aku boleh membawanya pulang?!" Nadanya memekik naik di akhir kalimat.

Matanya terus menatap penuh binar pada sosok yang tengah menunduk malu di depannya. Meski begitu, ia masih dapat melihat betapa cantik parasnya dengan pipi tembam dan tingkah malu-malu yang lucu.

"Kau harus memanggilnya oppa mulai sekarang dan boleh bermanin dengannya. Tapi kau dilarang keras menculiknya dariku!"

"Ah, waeee~~"

Mengingat hal itu membuat Yeri terkikik di tempatnya. Tapi kemudian tatapannya menyendu karena rasa bersalahnya pada sosok lugu itu. Tanpa sadar ia telah menyakitinya, baik secara batin maupun fisik. Lelaki hamil itu pasti sangat tertekan dengan pikiran buruknya pada sang suami.

Ia menghela nafas pelan sebelum berpikir sesuatu.

"Ah, lebih baik aku memasakkan Baekhyun-oppa sesuatu yang enak!"

Suara riangnya kembali, sementara kakinya ia gerakkan untuk melakukan kegiatan yang menjadi niatannya.

[***]

Baekhyun terbangun 3jam kemudian hingga membuatnya terkejut karena merasa tidur terlalu lama. Ia berfikir mungkin itu lebih baik, mengingat ia telah kehilangan jam tidurnya beberapa hari belakangan.

Ia memutuskan untuk membersihkan diri agar wajahnya yang pucat terlihat lebih segar. Setelah selesai dengan mandi, Baekhyun memilih pakaian hangat untuk membalut tubuhnya. Lalu ia segera keluar kamar hanya untuk mendapati keadaan rumah yang sepi.

Baekhyun menuju ke kamar Jiwon dan mendapati anaknya tidak ada di dalam sana. Jadilah ia berjalan tergesa untuk menggapai ponselnya di kamar, demi menghubungi seseorang dan menanyakan dimana anaknya. Langkahnya terhenti saat mendapati meja makan dalam keadaan terisi. Tubuhnya ia bawa kesana dan melihat apa saja yang ada di atasnya.

Sebuah note langsung saja menyita atensi Baekhyun.

'Apa tidurmu nyenyak, tuan puteri?'

Kalimat itu dibacanya dengan mata melebar tak terima hingga menuntunnya dalam gerutuan. "Ish, menyebalkan sekali!"

'Aku membuatkan semua ini untukmu, oppa~ Habiskan semuanya, oke? Dan jangan khawatirkan Jiwon karena si kecil kini sedang bersamaku untuk bermain kkkk~ Aku mengajaknya pergi agar kau bisa beristrirahat dan menyelesaikan masalahmu dengan Chanyeol-oppa. Oh ya, dia akan pulang jam 4 nanti jadi pastikan untuk berdandan yang cantik, arrachi ^^'

Baekhyun terkekeh pelan membacanya. "Terimakasih, Yeri-ya~" Tak lupa ucapan itu ia lirihkan dalam gumaman.

Dia menatap hidangan di atas meja dan akhirnya memutuskan untuk melahapnya dengan cepat. Makanan yang dibuatkan Yeri tidak terlalu banyak sebenarnya, jadi setelah ini Baekhyun berniat untuk memasak sesuatu lagi mengingat suaminya akan segera pulang.

Sambil melahap makanannya, Baekhyun memikirkan kiranya hidangan apa yang bisa dibuatnya dalam waktu 30menit. Setelah memutuskan, ia segera bergegas menuju dapur dan melaksanakan kegiatan kilatnya. Ia berusaha membuatnya secepat yang ia bisa karena ini sudah hampir pukul 4.

Untungnya, Baekhyun dapat menyelesaikannya tepat waktu. Waktu menunjukkan tepat pada jam 4, sehingga ia jadi terfikir mungkin saja masih ada waktu selama Chanyeol dalam perjalanan mencapai rumah.

Begitulah akhirnya ia melanjutkan kegiatannya dengan membersihkan rumah yang agak berantakan. Baekhyun bahkan lupa kapan terakhir kali ia membersihkannya.

Ia pikir kondisinya telah membaik karena telah meminum obat dan beristirahat penuh, tapi tiba-tiba saja rasa pusing itu mendera lagi. Tubuhnya berubah lemas karena ia paksakan terus bergerak kesana-kemari tanpa henti, hingga kakinya berubah menjadi jelly ketika ia akan mengepel lantai ruang keluarga.

Dapat dirasakannya tubuhnya oleng dan diperparah oleh kakinya yang tanpa sengaja menginjak lantai lincin.

Baekhyun telah memekik kencang, namun kemudian pinggangnya terasa disangga dengan sebuah tangan kokoh. Matanya telah melotot dan jantungnya berdegup kencang sekali, sebelum tangan itu bergerak mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di sofa terdekat.

Matanya yang melotot kian melebar karena terkejut bahwa Chanyeol telah di hadapannya dengan raut khawatir.

"Sayang, kau baik-baik saja?" Suara panik itu menyentak keterkejutannya dengan cepat.

"Chanyeolie?" Matanya berubah berkaca dengan cepat menatap sang suami yang tengah bersimpuh di depan tubuh terduduknya.

"Apa ada yang sakit? Hei, katakan padaku! Kenapa malah menangis?!" Chanyeol masih saja berujar panik menatap air mata yang telah mengalir deras di wajah pucat suaminya.

"Chanyeolie!" Baekhyun memekik sebelum menghamburkan diri menerjang Chanyeol dalam pelukan erat. Tubuh tinggi yang tidak siap itu menjadi terjatuh ke belakang sedang si kecil tak ingin peduli, lantas tetap merengkuh lehernya dengan erat.

"Hei, hei, Baekhyunie kenapa menangis, hm? Apa kakimu sakit? Katakanlah sesuatu…" Tangannya ia alihkan untuk merengkuh punggung bergetar di atasnya dan mengelusnya pelan.

"C-chanyeolie, hiks, maaf—maafkan aku! Maaf, maaf, maaf!" Baekhyun kian tersedu dalam dada suaminya dan tak bergerak meski tubuhnya telah diangkat untuk kembali terduduk di atas sofa tanpa melepaskan pelukan keduanya.

"Kenapa malah meminta maaf, sayang? Harusnya aku yang berkata seperti itu. Maaf karena telah mengabaikanmu belakangan ini, aku menyesal, tidak seharusnya—"

Perkataan maaf itu dipotongnya dengan tergesa, "Tidak, tidak, cukup, aku sudah tahu semuanya Chanyeol. Huhuhu—hiks, maafkan aku, maaf karena aku tidak ada di sisimu ketika kau kesusahan, kelelahan, hiks. A-aku kira, aku pikir perusahaan telah membaik, tanpa—tanpa tahu bahwa kau masih bekerja keras memperbaiki keadaan, maaf, huhu—"

Chanyeol tersenyum mendengar kalimat itu. Sungguh lucu dimana suaminya itu memaksakan diri untuk meminta maaf sementara isakannya masih tersisa hingga kalimatnya berantakan. Tapi Chanyeol tahu, ucapan itu begitu tulus.

"Tidak, tidak apa… Aku juga salah karena tidak memberitahumu mengenai hal itu. Pasti Yeri yang telah menceritakan semuanya padamu, ya? Ugh, anak itu nakal sekali. Tapi tidak masalah, sekarang semuanya sudah membaik. Perusahaan sudah baik-baik saja. Aku juga telah memastikan suami anak nakal itu untuk lebih memperhatikan istrinya. Jadi, sekarang, berhentilah menangis, hm?"

Chanyeol berusaha melepas lembut pelukan mereka, agar bisa menghapus air mata yang membasahi wajah kesayangannya. Tapi lelaki itu menggeleng keras dengan suara sesenggukan yang menggemaskan, "Tidak mau! Jangan d-dilepas! Aku rindu Chanyeolie~ Maafkan aku, ya…"

Chanyeol terkekeh mendengarnya. Bagaimana suara sengau itu masih saja mengucap maaf padanya membuatnya gemas sekali. Jadi, ia melepas paksa pelukan mereka tetap dengan penuh kelembutan. Lalu menangkup pipi yang semakin bulat itu, juga menatap mata si kecil yang basah dan memerah.

"Hei, sayang, bukankah kita begitu lucu?" Chanyeol bertanya dengan jarinya yang tengah bekerja menyengka air mata yang tersisa.

"Hng? Lucu?" Mata sabit di depannya mengerjap pelan karena kebingungan.

Chanyeol mengangguk. "Ya, lucu. Kita selalu saling meminta maaf setiap ada masalah seperti ini. Selalu saling menyalahkan diri sendiri. Padahal dalam beberapa waktu kita memiliki pemikiran untuk menyalahkan yang lainnya, tapi kita selalu menolaknya karena merasa itu tidaklah benar. Kau tau mengapa?"

Baekhyun berkedip pelan saat mendengarkan kalimat panjang Chanyeol dengan seksama, kemudian menggeleng ketika mendapat pertanyaan terakhir.

"Karena kita saling mencintai!" Seru Chanyeol dengan begitu riang.

Setelahnya mereka justru cuddling di atas sofa tanpa memikirkan makanan yang telah mendingin karena diabaikan oleh pemiliknya.

Dari hal ini, Baekhyun juga diam-diam menyetujui ucapan sang suami.

Sebuah pernikahan pastilah tidak selalu baik-baik saja. Sekali pun itu terjadi seperti keadaan mereka—dimana satu sama lain tidak pernah melimpahkan kesalahan ke lain pihak.

Kepercayaan itu mengalahkan kecurigaan yang timbul. Tapi terkadang kepercayaan itu seolah mengejeknya dengan kalimat,

'Apa yang kau percayai itu benar-benar merupakan fakta?'

Dengan keadaan yang terus memojokkannya, disitulah kesetiaan diuji.

Apakah kau akan mempercayai apa yang kau percayai, atau memihak pada fakta yang terlihat seolah nyata?

Semua adalah pilihan. Biarkan hati yang memilih dengan bantuan pikiran di sampingnya. Jangan biarkan emosi sesaat membutakan pilihanmu sehingga sesuatu yang hanya seolah itu terlihat menjadi nyata.

Kepercayaan adalah kunci. Dan kesetiaan menyertai. Juga jangan lupakan andil cinta di dalamnya.

Mencari kesalahan pada dirimu sendiri adalah yang utama. Baru kemudian kau akan memiliki hak untuk mencarinya dari yang lain.

[The End of Chapter]

Apa ini WKWKWKWK

Sok bijak banget najiszz.

Adakah yang ngerasa mual ato mau muntah baca ini? Kalo ada, segera beli kantong kresek dan jangan lupa beli test pack sekalian, sapa tau percobaannya berhasil hEheHE