Broken-Winged Angel

A Chanbaek Fanfiction

BoysLove. YAOI. MPreg. Shounen-ai.

Rate : M

Main Cast : Byun Baekhyun x Park Chanyeol

The Other Casts : OC. Go find yourself!

— — —

Hari ini merupakan hari dimana Jiwon lahir 6 tahun yang lalu. Baekhyun dan Chanyeol merencanakan kejutan untuk anak itu ketika nanti ia pulang dari sekolahnya. Mereka sengaja tidak membuat birthday party karena merasa akan lebih menyenangkan jika mereka bertiga saja yang merayakan bersama, di samping Chanyeol yang tak ingin suaminya menjadi kelelahan. Lelaki hamil itu pasti akan tetap bersikeras membantu persiapannya meskipun ia menyewa orang untuk mengurusnya.

Jadilah ia membuat keputusan untuk merayakan secara sederhana saja.

Chanyeol baru saja berkata akan membeli kue dan peralatan kecil lainnya, tapi ucapan si mungil di depannya membuatnya urung pergi. "Tidak perlu, Chanyeolie. Aku sudah belajar membuat kue kemarin, hehehe." Yang berucap memamerkan gigi sejenak. "Oh iya! Aku juga sudah membeli semua peralatannya!"

Tuh, kan, benar apa katanya. Lelaki itu memang tidak bisa diam meski sudah diperingatkannya untuk beristrahat di kamar saja. Tapi bagaimana ia bisa memarahinya jika pemilik bibir tipis itu mengatakannya dengan mata berbinar bahagia dan juga tangan terkepal di udara? Coba beritahu apa yang bisa dilakukannya selain ikut tersenyum lebar.

"Terimakasih, sayangku~" Juga menghadiahi cubitan kecil di pipi yang tambah bulat itu.

"Sama-sama~" Dan mendapat bonus senyuman bulan sabit yang terlampau manis dari pemiliknya.

Rasanya Chanyeol bisa terkena diabetes di usianya yang masih muda.

"Ayo kita buat kuenya!" Dia berseru keras sekali dengan ikut mengangkat kepalan tangannya ke udara.

Yang kemudian disambut seruan lainnya yang tak kalah keras. "Kajja, kajja!"

Nyatanya semangat keduanya yang menggebu itu tak membuat pekerjaan mereka cepat selesai.

30 menit berkutat di dapur, tempat yang awalnya rapi itu kini justru berubah menjadi layaknya gudang penyimpanan tepung. Benda putih halus itu berserakan di mana-mana, tak ketinggalan cangkang telur yang juga berada tidak pada tempat seharusnya.

Tawa mereka terdengar bersautan sejak tadi.

"HAHAHA—Chanyeolie seperti badut! Putih semua~" Baekhyun menambahkan taburan tepung di wajah yang sudah putih itu, membuat si pemilik ikut tertawa oleh kejahilan si mungil.

"Hei, jangan ditambah lagi, nanti wajahku bisa seputih Sehun!" Chanyeol memprotes dengan nada main-main.

"Ck, benar sekali. Tapi itu lebih baik daripada hitam seperti Jongin, ahahaha~"

"Apa kau baru saja menghina Jongin?" Matanya memicing curiga.

"Eh, tidak, kok! Bukan seperti itu maksudku~ Tapi memang benar kulit dia hitam sekali, hehehe." Balas si mungil dengan nada cengengesan.

"Sekarang pilih satu. Kulaporkan ejekanmu padanya, atau kau yang mau mengatakannya sendiri?"

"Ung, pilihan yang sulit. Tapi aku pilih nomor dua saja. Jangan laporkan pada Jongin ya, Yeolie~ Hng, hng?" Baekhyun menangkup kedua tangannya di bawah dagu dan menggoyangkan bahunya manja dengan mata sabitnya melengkung indah.

Chanyeol dibuat kelabakan di tempatnya. "H-hei, jangan bertingkah seperti itu!"

"Eung, kenapa?" Mata sabit itu mengerjap berulang kali.

"Aku jadi ingin memakanmu, Baekie~"

"Yak! Yak! Hentikan, Yeolie!" Baekhyun berteriak kencang sekali ketika Chanyeol tanpa aba-aba menggigiti pipinya yang dipenuhi tepung. Terkadang lidah itu menjulur keluar dan menjilati pipinya layaknya ice cream.

Setelah puas dengan kegiatannya, Chanyeol melepas gigitannya. "Nah, sudah bersih!" Kemudian menatap hasil kerjanya dengan puas.

Baekhyun cemberut dan menghentakkan kaki kesal dengan mata merah, siap untuk menangis. "Sakit…" Tangannya memberi elusan pada pipinya yang memerah.

Chanyeol tak menanggapinya karena kini matanya beralih untuk melihat rambut si kecil yang terkena tepung terigu. "Tunggu disini sebentar." Kemudian tungkainya ia bawa menjauh meninggalkan Baekhyun yang mengubah tatapannya menjadi penasaran.

Beberapa menit setelahnya, ia kembali dengan membawa dua benda di tangan kanan.

"Aku akan mengikat rambutmu agar tidak terkena tepung lagi." Chanyeol berkata lembut di depan Baekhyun yang mendongak penasaran di depannya.

"Okie~"

Lalu tangannya dengan cekatan membersihkan tepung yang masih tertinggal di sana. Kemudian ia menyisir pelan poni Baekhyun yang memanjang dan menjadikannya satu di atas kepala. Tangan kanannya melilitkan karet untuk membuat rambutnya tetap berdiri.

Baekhyun hanya diam saja mendapat perlakuan itu. Tangannya ia angkat untuk memainkan rambutnya yang telah dikuncir oleh suaminya.

Sedangkan Chanyeol mencoba memundurkan langkahnya untuk melihat hasil karya itu. Ia menatapnya tanpa berkedip.

Baekhyun yang rambutnya telah ia kuncir ke atas membuat lelaki itu terlihat seperti apel. Terlebih dengan pipi bulatnya yang masih memerah, menjadikannya semakin manis saja. Dan tingkah menggemaskan sang pemilik juga tak luput dari pandangannya.

Bagaimana pemilik wajah lucu itu memainkan kuncirnya dengan tangan lentik yang ia miliki dan tatapan polosnya yang menyorot tanpa dosa, membuat Chanyeol kehilangan akal sehatnya.

"Baek?"

"Ung?" Yang dipanggil menatap Chanyeol dengan bibir bawah yang tanpa sadar ia majukan karena terlalu penasaran.

"Bagaimana kalau aku meminta hadiahku sekarang?"

"Hng? Hadiah? Tapi yang sedang ulang tahun itu 'kan Jiwon…"

"Apa kau lupa saat dulu di rumah sakit? Kau berjanji akan memberikanku hadiah." Chanyeol mencoba mengingatkan.

Baekhyun pun menggali ingatannya dengan kening berkerut. Tak lama setelah mengingatnya, rona merah menjalari pipinya tanpa ia sadari. "A-aku belum siap, b-ba-bagaimana kalau nanti malam…" Suaranya mencicit pelan di akhir kalimat.

Chanyeol mendengus kecewa tapi tak berniat memaksa lebih jauh. "Baiklah…"

Ia mencoba mengalihkan fokusnya dengan benda yang tersisa di tangannya. Itu adalah jepit rambut warna pink milik Baekhyun.

Poninya yang juga panjang, ia naikkan sehingga tertata ke atas. Kemudian dipasangkannya benda itu untuk menahannya disana.

"Jja! Sudah rapi! Sekarang saatnya kita membuatkan kue untuk Jiwonie~"

"Ay, ay, ay!"

Dan mereka pun melanjutkan kegiatan tertunda mereka setelah sebelumnya diisi dengan bermain saja.

[***]

Mereka telah siap dengan segala persiapannya. Dimulai dari property untuk kejutan nanti, termasuk roti ulang tahun yang berhasil mereka buat dengan hiasan indah di atasnya.

Indah untuk mereka, tapi sebenarnya tidak serapi itu jika diperhatikan. Hehehe.

Mereka berdiri menunggu di balik pintu. Ketika suara mobil terdengar berhenti di depan gerbang, barulah mereka mengambil roti yang diletakkan di meja.

Chanyeol yang memegang roti itu, sedang Baekhyun memegang terompet di kedua tangannya. Kepala mereka juga telah di pasangkan topi ulang tahun yang terdapat foto Jiwon. Itu semua hasil pekerjaan Baekhyun.

Jadi ketika pintu terbuka dan Jiwon terlihat akan menyerukan suaranya, mereka memotongnya dengan suara terompet yang dibunyikan Baekhyun.

Jiwon terlihat terkejut sekali, tapi kemudian anak itu tersenyum lebar.

"Saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnidaaa~ Saranghaneun Jiwonie~ Saengil chukka hamnida!~" Mereka bernyanyi bersama dengan kompak.

Jiwon mengikutinya dengan menepukkan kedua tangan kecilnya penuh semangat.

Baekhyun dan Chanyeol mendudukkan tubuh mereka dengan lutut sebagai tumpuan agar sejajar dengan Jiwon.

"Terimakasih Papa!" Serunya bahagia sekali, kemudian menghadiahi satu kecupan di bibir Baekhyun.

"Terimakasih juga Daddy!" Dan satu kecupan untuk Chanyeol.

"Sama-sama, sayang~" Keduanya menjawab dengan serempak.

"Jja, sekarang tiup lilinnya dulu." Chanyeol menyodorkan roti yang dibawanya ke hadapan si kecil. Dan Baekhyun ikut menambahkan, "Jangan lupa berdo'a dulu, Jiwonie~"

Jiwon mengangguk semangat lalu memejamkan matanya, berdo'a dengan tulus bagi kedua orang tuanya. Setelah selesai, ia segera meniupkan udara ke arah lilin yang berbentuk angka umurnya dengan kencang sekali. Chanyeol yang memegang rotinya dibuat tergelak karena kencangnya tiupan si kecil.

"Wah, rasanya Daddyakan terbang karena tiupanmu, Ji." Godanya setelah api di atas lilin mati dalam sekejap.

"Hihihi. Itu karena Jiwonie semangat sekali, Dad!"

Baekhyun dan Chanyeol tertawa mendengarnya.

"Ini, sayang~" Baekhyun menyodorkan kotak besar yang ia letakkan di belakangnya. "Hadiah untukmu~" Jelasnya setelah mendapat tatapan bingung.

"Uwaah, besar sekali!" Jiwon berseru riang dengan kaki kecilnya yang berlari menuju hadiahnya.

Anak itu dengan tergesa membuka hadiahnya. Baekhyun membantunya ketika ia melihat si kecil terlihat kesusahan karena terlalu bersemangat.

"Pelan-pelan, Ji." Tegur Chanyeol dengan terkekeh pelan.

Setelah hadiah itu terbuka dan menampilkan isinya, tangan kecil Jiwon meraih benda besar itu dengan terburu-buru. Diangkatnya hadiah itu agar terlepas dari kotak pembungkusnya. Alih-alih membuka plastik yang melingkupi hadiah di hadapannya, Jiwon malah beralih mengais-ngais sesuatu dari dalam kotak yang telah kosong.

Tindakannya membuat kernyitan tercetak di wajah kedua orang tuanya.

"Hei, apa yang kau cari, sayang?" Baekhyun kembali mendekati anaknya yang masih terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam kotak.

"Ini dia!" Jiwon menyahut dengan mengangkat kartu kecil yang dicarinya. "Surat dari Papa dan Daddy!"

Tingkahnya itu menimbulkan senyum gemas dari Baekhyun dan Chanyeol. Jiwon memang terlihat manja, tapi anak itu sangatlah lugu. Bukannya bersemangat dengan hadiah yang mereka berikan, anak itu justru lebih penasaran dari kartu ucapan yang mereka tulis.

Mereka hampir lupa bahwa si kecil Jiwon telah tumbuh cerdas dengan kemampuan membacanya.

"Apa boleh aku baca sekarang juga?" Jiwon menatap kedua orang tuanya bergantian dengan sorot penuh harap.

"Tentu saja, boleh~" Chanyeol yang menyahutnya lebih dulu.

"Yaay!" Serunya penuh kebahagiaan.

Jiwon membuka kartu itu dengan pelan dan membaca isinya dalam hati. Kartu itu terlipat menjadi dua bagian. Samping kanan adalah dari Papanya, sedang sisi yang lain milik Daddynya.

Ia memutuskan membaca dari kanan terlebih dahulu, karena isinya yang lebih sedikit.

Selamat ulang tahun, anak manjanya Papa!~ Semua do'a terbaik semoga terkabul untukmu, sayang. Tahu, tidak? Jiwon adalah hadiah terindah yang dikirim Tuhan untuk Papa. Papa bangga sekali memiliki Jiwonie! Tumbuhlah dengan menyebarkan kebahagiaan bagi semua orang, nak. Jangan terlalu cepat menjadi besar, ya? Papa masih ingin selalu memanjakan Jiwon :(

Meskipun sebentar lagi adikmu lahir, Jiwon tetaplah kebanggaan Papa yang saaaangat Papa sayangi. Berjanjilah untuk menjaga adikmu kelak, oke?

Dari : Papa yang sayang dengan Jiwonie~^^

Jiwon tidak tahu mengapa mendadak matanya terasa panas dan keinginannyaa untuk menangis tiba-tiba muncul. Dia tidak paham. Tapi matanya yang berkaca ia alihkan pada Papanya yang juga tengah menatapnya dengan linangan air mata yang berusaha dihapus.

Jiwon berlari memeluknya dan ikut menangis bersama dalam pelukan hangat Papanya. Ia berani bersumpah bahwa ini adalah pelukan terbaik yang ada di dunia.

"Papa—hiks, terimakasih telah menyayangi Jiwonie. Aku juga sayaaang sekali dengan, Papa! Huhuhu—Papa jangan menangis, hiks,"

Baekhyun tertawa pelan menanggapi kalimat itu. Bagaimana anak itu bisa menyuruhnya berhenti menangis sedangkan mulutnya sendiri juga tengah mengeluarkan isakan pelan?

"Papa menangis karena bahagia, sayang. Papa bangga memiliki Jiwonie, jadi berhentilah menangis juga, oke?"

Baekhyun melepas pelukan mereka dan menghapus air mata di pipi si kecil.

"Nah, sekarang coba baca milik Daddy!" Ia berseru riang untuk mengembalikan mood anaknya yang menurun.

"Okee!"

Jiwon beralih menatap kartu di tangannya bagian kiri. Terdapat tulisan tangan berantakan milik Daddynya hingga membuatnya terkikik pelan.

Setelahnya, ia mencoba membaca pesan itu dalam hati.

Selamat bertambah umur, jagoannya Daddy~ Daddy dan Papa selalu berdo'a yang terbaik untuk uri Jiwonie yang semakin dewasa… Jadi, cobalah untuk mengabulkan do'a kami, ya, sayang. Kami ingin Jiwonie menjadi anak yang berguna bagi semua orang, juga selalu menyebarkan energi positif agar bisa menjadi panutan yang baik untuk adikmu kelak. Jiwonie mau 'kan menjalankan semuanya?~

Tumbuhlah menjadi pria yang kuat, Ji. Suatu saat, Jiwonie akan menggantikan tugas Daddy untuk menjaga Papa. Apakah Jiwonie sering melihat Papa menangis? Kalau itu membuatmu begitu penasaran, Daddy akan memberitahumu satu rahasia.

Itu semua adalah karena Daddy, Ji. Kau tahu kan, kalau Daddy sangat sayang pada Papa? Tapi terkadang, Daddy tidak bisa menunjukkannya dengan baik, dengan cara yang benar. Maka Papa menjadi sedih hingga menangis seperti itu.

Oleh karenanya, Daddy punya permintaan padamu, sayang.

Ketika Papa menangis, itulah tugasmu untuk menghentikannya. Ketika Daddy tidak ada disana, kaulah yang harus memeluknya dan membuatnya tenang.

Dan nanti ketika adikmu lahir, Jiwonie harus berhenti bermanja pada Papa, sayang… Bukan karena Papa sudah tidak menyayangi Jiwon lagi, tapi Papa memiliki adik kecil yang harus dijaga karena ia akan sering menangis. Jiwon masih bisa bermanja pada Daddy, kok. Karena Papa pasti akan kelelahan menjaga adikmu nanti. Apa Jiwon mau melihat Papa sakit? Tidak, bukan?

Jadi, jaga keduanya dengan baik ya, sayang.

Bisakah kau kabulkan itu untuk Daddy, hm?

Karena Daddy tahu bahwa Jiwon anak yang baik dan tidak nakal.

Daddy sayang dengan Jiwonie!~~

Dari : Daddy Yeol.

Jiwon tidak tahu kalau pesan Daddynya akan sepanjang itu. Banyak juga kata-kata yang tidak dipahaminya. Tapi meski begitu, ia mendapati dirinya memiliki keinginan untuk menangis lebih keras lagi.

Jadi ketika melihat mata Daddynya yang memerah, ia segera menerjangnya dengan pelukan erat. Tangan kecilnya melilit leher itu dengan begitu kuat.

Sedang Chanyeol beralih mengusap punggung kecil itu dengan lembut.

"Daddy, hiks, terimakasih… Aku berjanji akan menjaga Papa dan adik bayi!"

Chanyeol terkekeh sebentar, "Terimakasih juga karena telah menjadi anak pintar, sayang."

Ia melepas pelukan keduanya dan memanggil Baekhyun yang hanya menyaksikan mereka dengan air mata yang mengalir pelan.

"Kemari, Baek.."

Baekhyun bergerak memeluk Jiwon lalu keduanya pun menangis bersama dengan suara tangisan lucu. Tingak keduanya membuat Chanyeol terkekeh gemas ketika melihatnya. Ia ikut memeluk kedua makhluk cengeng itu dengan erat.

"Hei, para kesayangan Daddy kenapa menangis, hm?" Bisiknya lembut di atas kepala Baekhyun.

Baekhyun hanya terdiam karena sibuk dengan tangisannya.

Dan Jiwon menjawabnya dengan lantang, "Karena aku sayang Papa dan Daddy!"

"Daddy juga menyayangimu, sayang~" Balas Chanyeol mendayu.

Baekhyun pun tak ingin kalah, jadi ia menghentikan tangisan konyolnya dan ikut berseru, "Papa juga sayang pada Jiwonie!~"

"Hihihi, kalau begitu Jiwonie jauuuh lebih sayang kalian~" Dan kikikan Jiwon menjadi pelengkap kebahagian mereka siang itu.

Tak ada do'a lain yang ingin mereka panjatkan selain kebahagiaan yang mereka harapkan selalu menyertai keluarga kecil mereka. Rintangan sebesar apa pun itu, mereka berjanji akan melaluinya bersama-sama. Mereka akan melewatinya dengan hati yang dipenuhi cinta, sehingga ego bahkan tak memiliki ruang untuk sekedar menempatinya.

[THE END OF STORY]

— — —

— — —

— — —

— — —

— — —

— — —

— — —

Bye bye.